Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB - 1


KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (1)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

01. Dari: Mellisa,
Namo Buddhaya,
Dengan menikah maka akan muncul suatu karma lagi yaitu kepada suami/istri serta
anak2, jika mengetahui hal tersebut, apakah kita dibenarkan untuk melakukan
pernikahan?
Terima kasih

Jawaban:
Munculnya karma karena perkawinan tidak hanya disebabkan oleh seseorang.
Artinya, kalau seseorang tidak menikah, maka karma yang harusnya muncul sebagai
pasangan hidup maupun anak bisa muncul ke kondisi pernikahan orang lain. Jadi,
tidak menikah bukan berarti menunda munculnya karma satu mahluk, melainkan
hanya menghindari, karena ia bisa muncul di tempat lain. Oleh karena itu, dalam
Dhamma, yang paling penting adalah melaksanakan yang terbaik yang mampu bisa
dikerjakan setiap saat. Artinya, apabila seseorang menikah, maka rawatlah keluarga
dan seluruh anggota keluarganya dengan sebaik-baiknya, karena itu menjadi ladang
untuk berkarma baik. Sedangkan, kalaupun tidak menikah, lakukanlah tugas harian
dengan sebaik-baiknya sehingga diri sendiri akan memberikan manfaat yang sebesarbesarnya
untuk lingkungan. Dan, sikap seperti ini merupakan ladang berbuat karma
baik pula.
Jadi, dengan demikian, mengembangkan karma baik bisa dilakukan dalam kehidupan
berumah tangga maupun tidak berumah tangga.
Semoga hal ini telah bisa dimengerti.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

02. Dari: Mellisa,
Namo Buddhaya,
Apakah perasaan yang kita rasakan terhadap sesuatu sama artinya dengan batin?
Bagaimanakan hal ini jika dikaitkan dengan konsep anatta?
Siapakah yang merasakan sesuatu?

Jawaban:
Dalam konsep Buddhis, batin terdiri dari perasaan, pikiran, ingatan serta kesadaran.
Jadi, dengan demikian sudah jelas bahwa perasaan adalah merupakan SALAH SATU
dari bagian batin, namun, batin bukan hanya berisikan perasaan.
Anatta adalah konsep bahwa segalanya tidak ada inti yang kekal, selalu berubah,
karena itu, perasaan tersebut juga selalu berubah. Kadang seseorang bisa merasakan
senang, tidak senang atau bahkan netral. Perasaan ini selalu berubah setiap saat, dan
hal inilah yang dalam pengertian Buddhis dikenal sebagai Anatta.
Dalam pandangan Buddhis, kehidupan ini tidak ada yang merasakan, tidak ada yang
dirasakan, yang ada hanyalah perasaan. Artinya, subyek dan obyek karena selalu
berubah, maka sesungguhnya segalanya tidak ada. Namun, karena perasaan itu selalu
berubah, maka, yang ada hanyalah perasaan tersebut.
Penjelasan atas pertanyaan ini memang membutuhkan waktu dan tempat yang sangat
luas. Namun, semoga dengan jawaban singkat yang masih memerlukan perenungan
panjang ini dapat dimengerti dengan baik.
Semoga demikianlah adanya.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

03. Dari: Ceria Salim, Jakarta
Apakah diperbolehkan dalam Buddha kalo kita melaksanakan mutih ( hanya makan
nasi putih dan minum air putih.
Mengenai vegetarian, kok fleksible sekali yach (mungkin krn Buddha sendiri
demokrat dan fleksible ke semua orang). padahal kan kita sebagai Buddhis harusnya
mengasihi sesama kita. (kok Buddhis banyak aliran spt agama Islam-Kristen-Katolik,
knapa tidak disatukan jadi 1 keluarga aja)
Smoga semua mahkluk berbahagia slalu sepanjang masa.

Jawaban:
Di dalam Agama Buddha, karena tradisi yang telah dipercaya boleh saja dikerjakan,
maka tentu saja mutih masih bisa dikerjakan sesuai dengan yang diniatkan. Hal ini
karena tujuan Agama Buddha adalah mencapai kesucian yaitu terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, sedangkan tradisi lebih banyak tidak
mengarahkan untuk mencapai kesucian tersebut. Jadi, dengan sederhana, bukan
karena cara makan seseorang bisa mencapai kesucian, namun hanyalah karena cara
berpikir.
Tentang Vegetarian, memang Sang Buddha tidak pernah mengharuskan, artinya,
siapapun yang ingin melatih bisa melaksanakannya, namun bukanlah keharusan. Hal
ini karena seperti pertanyaan sebelumnya, bahwa suci dan tidak suci bukanlah
tergantung karena makanan, melainkan dari cara berpikir seseorang. Pikiran adalah
pelopor segalanya.
Sedangkan terdapat beberapa aliran Agama Buddha dalam masyarakat adalah karena
Buddha Dhamma tidak menentang tradisi. Jadi, setiap kali Buddha Dhamma masuk
ke suatu kelompok masyarakat, maka tercampurlah dengan tradisi setempat. Oleh
karena itu, tampaknya Agama Buddha terdiri dari banyak kelompok, padahal, pada
dasarnya intinya sama yaitu Ajaran Sang Buddha untuk mengurangi ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Semoga sekarang Anda sudah tidak bingung lagi.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

04. Dari: Subhadevi, Surabaya
Namo Buddhaya,
Kalau kita telah melakukan suatu hal yang kita tahu bahwa itu adalah melanggar Sila
( misalnya melakukan pembunuhan terhadap mahluk hidup) tapi hal itu kita lakukan
dengan benar2 terpaksa karena mengganggu kesehatan, tapi kemudian kita selalu
"dihantui" akan akibat perbuatan tsb., apa yang harus kita lakukan ?
Karena bukankah "dihantui" tersebut sudah bisa mengkondisikan karma buruk kita
akan berbuah karena pikiran kita selalu mengarah kesana?
Apakah dengan hanya berbuat banyak kebaikan saja buah karma buruk yang
sebenarnya dari akibat perbuatan tersebut bisa "hilang" ?
Anumodana atas perhatiannya.
Namaskara, subhadevi

Jawaban:
Merasa bersalah atas kesalahan yang telah dilakukan adalah merupakan buah karma
buruk. Sedangkan, melakukan kesalahan itu sendiri adalah menanam karma buruk.
Namun, apabila kesalahan yang berupa pelanggaran sila itu dilakukan karena kondisi
terpaksa, seperti seorang prajurit yang menembak mati musuhnya di medan perang,
maka buah karma buruk yang akan diterimanya tidak sebesar kalau kesalahan itu
dilakukan bukan berdasarkan keterpaksaan.
Untuk mengatasi perbuatan buruk yang telah dilakukan, seseorang hendaknya lebih
banyak mengembangkan kebajikan dengan melakukan kerelaan, kemoralan dan
konsentrasi. Dengan demikian, ibarat segelas air yang berisikan garam sesendok,
apabila terus ditambah air, maka garam yang sesendok itu akan hilang rasa asinnya.
Garam adalah melambangkan kesalahan yang telah dilakukan, air adalah
melambangkan kebajikan yang dilakukan. Dengan menambah kebajikan tanpa kenal
putus asa, maka buah karma buruk yang telah dilakukan akan dapat lebih ringan
dirasakannya namun bukan berarti bisa 'hilang' begitu saja.
Semoga penjelasan singkat ini dapat lebih menenangkan perasaan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

05. Dari: Marduwati,
Saya merupakan penuntut di universiti.
Saya ditugaskan untuk menyediakan satu laporan mengenai konsep manusia dalam
Agama Buddha. Oleh itu, saya ingin mendapatkan sedikit maklumat mengenai
"konsep manusia dalam Agama Buddha".
Saya mohon kerja sama dari pihak tuan. terima kasih.

Jawaban:
Manusia dalam pengertian Buddhis terdiri dari badan dan batin. Sedangkan batin
terdiri dari perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran.
Manusia berasal dari suatu proses yang terjadinya bersamaan dengan proses
terjadinya dunia ini.
Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini,
mendapatkan kebahagiaan setelah meninggal dengan terlahir kembali di alam bahagia
yang dikenal sebagai surga atau bahkan mampu mengatasi proses kelahiran kembali
yang telah berulang-ulang ini dengan mengendalikan pikirannya agar dapat selalu
menyadari hidup adalah saat ini.
Pada umumnya, pikiran manusia selalu terpaku pada masa lalu atau masa depan
sehingga timbullah kegelisahan, ketakutan maupun kecemasan.
Dengan menyadari bahwa di masa lalu kita pernah hidup, namun sudah tidak hidup
lagi; pada masa yang akan datang kita akan hidup, namun belum tentu hidup; namun
pada saat inilah kita sesungguhnya yang hidup, maka manusia akan dapat hidup
tenang dan bahagia, terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Untuk mendapatkan kesadaran akan hidup saat ini, seseorang dapat melatih
konsentrasi pikirannya dalam meditasi.
Meditasi adalah memusatkan perhatian pada satu obyek, misalnya dengan mengamati
proses masuk dan keluarnya pernafasan. Apabila pikiran menyimpang dengan
memikirkan hal lain, maka hendaknya ia kembalikan pikirannya dengan memusatkan
perhatian pada obyek. Demikian seterusnya dilatih dengan rutin dan disiplin, maka
lama kelamaan ia akan mampu mengkonsentrasikan pikiran pada kegiatan yang
sedang dikerjakan, ucapan yang sedang dilakukan maupun segala sesuatu yang
sedang dipikirkan. Dengan demikian, manusia akan mencapai batin yang yang
tenang, bersih, sempurna, bebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin
sehingga ia tidak akan terlahirkan kembali.
Inilah secara sangat sangat singkat konsep manusia dalam pengertian Agama Buddha.
Semoga hal ini dapat dijadikan sedikit tambahan wawasan.
Untuk informasi lainnya, mungkin bisa mencari referensi umum yang banyak terdapat
di internet maupun buku-buku Agama Buddha lainnya.
Semoga sukses dan bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

06. Dari: Indra,
Apakah yang kita dapatkan jika kita bermeditasi dengan objek kasina (api)?
Apa perbedaannya antara meditasi dengan objek kasina dibandingkan meditasi
dengan objek nafas?
Jika bermeditasi pada pukul 23.00 malam apakah baik?
Ataukah tidak baik bagi kesehatan?
Bagaimanakah mengatasi rasa mengantuk saat bermeditasi?

Jawaban:
Meditasi dengan kasina adalah untuk memperkuat visualisasi seseorang. Apabila
seseorang telah mampu memusatkan perhatian pada visualisasinya, maka kemampuan
batin tertentu akan bisa dilakukan. Kemampuan batin ini sesuai dengan
kecenderungan yang telah dimilikinya dari berbagai kehidupan lampaunya.
Perbedaan obyek meditasi kasina dengan pernafasan adalah pada saat seseorang
setelah mengembangkan konsentrasi lalu akan ditingkatkan untuk mengembangkan
kesadaran dalam vipassana, maka orang yang biasa bermeditasi dengan obyek kasina
perlu mengganti obyeknya agar sesuai untuk meditasi perenungan atau vipassana.
Karena kasina pada umumnya hanya digunakan untuk meditasi konsentrasi atau
samatha. Sedangkan meditasi dengan obyek pernafasan dapat dipergunakan untuk
samatha maupun vipassana. Oleh karena itu, biasanya para guru meditasi
menganjurkan para muridnya untuk mengembangkan meditasi dengan obyek
pernafasan agar apabila ia ingin memperdalam samatha, hal ini akan bisa terus
ditingkatkan, namun, kalau ia ingin mengembangkan vipassana, ia juga tidak perlu
mengganti obyek meditasinya.
Meditasi pada tingkat pemula lebih disarankan pada pagi hari sekitar jam 3 sampai
dengan jam 5, namun, kalau sudah mahir, sebenarnya meditasi tidak tergantung
waktu. Bahkan, karena meditasi adalah mengembangkan konsentrasi yang bertujuan
untuk selalu menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan, diucapkan maupun
dilakukan, maka setiap saat adalah waktu yang tepat untuk bermeditasi tanpa
terganggu kesehatannya.
Selamat berlatih meditasi.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

07. Dari: Ervina, Banjarmasin
Namo Buddhaya.
Saya punya teman yang akan membuka suatu usaha yaitu menjual pakan ternak.
Apakah hal ini melanggar sila / bertentangan dengan 'melakukan Pekerjaan baik? '
Terima kasih atas jawaban Bhante.
Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitatta.
Metta cittena, Ervina.

Jawaban:
Menjual pakan ternak sejauh tidak melakukan pembunuhan belum bisa digolongkan
pelanggaran sila.
Kalau mengusahakan pembuatan pakan ternak yang membutuhkan bangkai mahluk
hidup sebagai campurannya, hal ini bisa dikategorikan pekerjaan yang sebaiknya
dihindari.
Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

08. Dari: Linda,
Namo Buddhaya,
Bagaimana caranya membersihkan pikiran kita dari kemarahan, karena seringkali
lingkungan kita sebagai penyebab kemarahan dan kebencian yang tak dapat kita
hindari?
Terima kasih

Jawaban:
Kemarahan akan timbul karena keinginan kita tidak sesuai dengan kenyataan.
Semakin besar perbedaan antara keinginan dan kenyataan, maka orang cenderung
akan makin marah.
Kalau sudah mengerti hal ini, untuk mengatasi kemarahan adalah dengan mengenali
keinginan sendiri sehingga bisa ditentukan: apakah memang sudah waktunya
keinginan itu diwujudkan, atau masih perlu usaha untuk mencapainya, atau mungkin
malah meninggalkan sama sekali keinginan tersebut, serta hal lainnya yang
berhubungan dengan keinginan tersebut.
Dengan mempelajari keinginan itu sendiri dan berusaha menyesuaikannya dengan
kenyataan yang ada, maka kemarahan akan bisa dikendalikan bahkan bisa
dilenyapkan.
Hal ini juga termasuk kemarahan terhadap lingkungan. Sesungguhnya lingkungan
tidak pernah membuat kita marah. Mereka adalah netral. Yang berbeda adalah sikap
batin atau pikiran kita dalam menghadapi kelakuan mereka. Kalau keinginan kita
terhadap mereka tidak sesuai dengan kenyataan, maka timbullah marah kita kepada
mereka. Kalau yang terjadi sebaliknya, maka kita akan tidak marah lagi.
Perbedaan keinginan ini bisa dikenali dari sikap kita menghadapi kesalahan yang
sama pada dua teman yang berbeda, misalnya. Kita akan bisa memaklumi kesalahan
yang dilakukan oleh teman yang kita sukai, namun, kita menjadi marah kepada teman
yang tidak kita sukai, padahal semua sikap itu untuk kesalahan yang serupa.
Dengan demikian, kesalahan adalah netral, yang berbeda adalah pikiran kita sendiri.
Agar dapat membersihkan pikiran dari kemarahan, yang utama adalah menyadari
bahwa kemarahan berasal dari keinginan kita sendiri, sehingga kita harus dapat
menguasai keinginan itu. Salah satu cara sederhana untuk menguasai kemarahan
adalah dengan sering mengembangkan pikiran cinta kasih. Pengembangkan pikiran
cinta kasih ini dapat dilatih dengan sering mengucapkan sebanyak mungkin dalam
hati kalimat:'Semoga semua mahluk berbahagia'. Semakin sering mengucapkan
kalimat itu akan mempercepat kemampuan seseorang untuk mengendalikan bawah
sadarnya sehingga tidak mudah marah
Hal ini bisa dicapai karena dengan sering mengucapkan kalimat cinta kasih tersebut,
pikiran juga secara bertahap akan terisi dengan cinta kasih. Dengan demikian, bila
ada orang yang tidak memenuhi harapan kita, maka lama kelamaan dalam pikiran
akan timbul secara otomatis kalimat:'Semoga dia bahagia dengan sikapnya itu.'
Semakin banyak bisa memaklumi perbedaan dan kekurangan setiap orang yang
berada di sekitar, maka semakin sabar pula sikap kita.
Oleh karena itu, mengendalikan kemarahan membutuhkan waktu dan keuletan untuk
mengatasi diri sendiri.
Semoga saran singkat ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan cinta kasih
sehingga menumbuhkan kesabaran.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

09. Dari: Erwin, Irvine, CA
Adakah seorang Arahat yang hidup pada saat sekarang ini?
Jika ada, siapakah Dia dan dimana Ia tinggal sekarang?
Karena saya belum pernah mendengar adanya Arahat kecuali dari kitab suci dan
pembicaraan orang lain.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Erwin

Jawaban:
Dikatakan dalam Dhamma ketika Sang Buddha ditanya oleh murid Beliau bahwa
apakah setelah Sang Buddha parinibbana (wafat) masih ada orang yang mencapai
kesucian (arahatta)? Sang Buddha menjawab bahwa selama masih ada orang yang
melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di dunia ini selalu ada orang yang
mencapai kesucian.
Oleh karena itu, saat ini pun, ketika ada orang yang melaksanakan Jalan Mulia
Berunsur Delapan, maka tentu ada orang yang telah mencapai kesucian.
Namun, informasi tentang siapa dan dimana beliau tidak bisa diberikan di sini karena
orang yang telah mencapai kesucian tidak akan mengumumkan dirinya yang telah
suci kepada masyarakat umum.
Oleh karena itu, sebaiknya seorang umat Buddha bukan bertujuan untuk MENCARI
orang yang telah mencapai kesucian, melainkan harus berjuang untuk MENCAPAI
kesucian itu sendiri dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh Jalan Mulia
Berunsur Delapan.
Dengan diri sendiri mencapai kesucian, maka di dunia ini akan bertambah satu orang
yang suci atau arahatta sebagai bukti sabda Sang Buddha sebelum mangkat tersebut.
Selamat berjuang mencapai kesucian.
Semoga berhasil.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

10. Dari: Demmy, USA
Namo Buddhaya,
Saya ingin bertanya ttg Homoseksual. Kebetulan semester ini saya sedang
mempelajari sosiology. Saya mendapati ada banyak para homoseksual yg membina
rumah tangga. Dalam arti pria A dan pria B telah menikah sah secara hukum.
Bagaimana agama Buddha menyikapi hal ini?
Apakah hal ini termasuk pelanggaran sila 3?

Jawaban:
Di dalam obyek pelanggaran sila ketiga disebutkan adalah saudara sekandung, anak
di bawah umur, anak di bawah perwalian, pasangan hidup orang lain dan juga mereka
yang melaksanakan sila, seperti para bhikkhu maupun samanera.
Di sana tidak disebutkan tentang pasangan yang sejenis sebagai obyek pelanggaran
sila ketiga ini.
Oleh karena itu, untuk menentukan sikap menghadapi pasangan homoseks,
diperlukan kajian khusus dari para pemuka umat Buddha sedunia agar tercapai
kesepakatan yang jelas.
Kesepakatan semacam ini sampai sekarang masih belum pernah ada
Semoga penjelasan sangat singkat ini dapat diterima dengan baik.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

11. Dari: Indra,
Namo Buddhaya
Bhante, apakah pikiran dan ingatan tersebut harus didukung oleh kesadaran?
Ataukah mereka berdiri sendiri? Seperti orang yang pingsan, tidak akan bisa berfikir
dan mengingat.
Terima kasih atas penjelasannya Bhante.

Jawaban:
Pikiran dan ingatan memang pada umumnya membutuhkan kesadaran untuk dapat
bekerja dengan baik. Namun, kenyataannya, kesadaran seseorang sangatlah lemah.
Banyak orang, tanpa harus pingsan terlebih dahulu telah melakukan sesuatu tanpa
disadarinya. Oleh karena itu, dalam Dhamma diajarkan sistem untuk mengembangkan
kesadaran yaitu dengan melatih meditasi. Semakin tinggi kesadaran seseorang
terhadap segala sesuatu yang dilakukan, diucapkan dan dipikirkan, maka semakin
mampu pula ia mengendalikan dirinya dari ketamakan, kebencian dan kegelapan
batin. Bahkan,orang yang telah mampu mengembangkan kesadarannya secara total
sehingga sepenuhnya menyadari segala gerak-gerik tubuh, ucapan maupun pikiran
sampai yang sekecil-kecilnya, orang ini disebut mencapai kesucian.
Semoga sekarang telah menjadi jelas permasalahan tentang kesadaran ini.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

12. Dari: Andy, Melbourne
Namo buddhaya!
Bhante saya ingin bertanya tentang perasaan malas yang datang pada waktu atthasila
atau baca paritta. Dulunya saya tiap hari baca paritta tapi sekarang udah mulai
berkurang, saya sadar kalo malas adalah salah satu rintangan cuma gimana cara
mengatasinya,tolong penjelasannya. Sukhi hotu.

Jawaban:
Rasa malas ada hal yang wajar dimiliki oleh setiap orang, apalagi kalau menghadapi
rutinitas kegiatan, misalnya saja pelaksanaan sila, pembacaan paritta maupun
berbagai kegiatan yang lain.
Untuk mengatasi hal itu, ada beberapa cara:
Pertama, harus disadari terlebih dahulu tujuan pelaksanaan kegiatan yang
membutuhkan rutinitas tersebut. Dengan menyadari tujuannya, maka walaupun
timbul rasa malas dlsb., selama tujuan belum tercapai, kegiatan itu harus tetap terus
dilaksanakan.
Kedua, mempunyai tekad dan disiplin untuk melaksanakan tugas yang bersifat
rutinitas tersebut. Karena itu, walaupun bosan, disiplin dan tekad itulah yang akan
bisa mengatasinya. Kemalasan dan kebosanan hanyalah bersifat sementara. Pada saat
ia muncul, kalau kita bertahan, maka pada berikutnya, ia sudah akan dapat
dikendalikan.
Ketiga, menyatakan tekad untuk melakukan suatu kegiatan yang bersifat rutin itu
kepada rekan terdekat agar apabila kemalasan muncul, ada teman atau orang terdekat
yang dapat mengingatkan dan memberi semangat kepada kita.
Tentu saja masih ada beberapa cara lainnya yang bisa disesuaikan dengan setiap
kondisi seseorang yang berbeda untuk membangkitkan semangat melakukan suatu
kegiatan.
Semoga salah satu cara ini dapat bermanfaat untuk mengatasi kemalasan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

13. Dari: Teguh, USA
Halo Bhante, ada pertanyan, apakah arti 'kesucian iman' itu?
Apakah itu larangan untuk berbuat jahat terhadap orang lain? Larangan untuk
berhubungan badan? Pikiran jorok? Atau bagaimana... saya terus terang bingung
sekali, nggak jelas, jadi kalo mau berbuat sesuatu nggak merasa enak, nggak enak
sama yang di Atas dan diri sendiri.
Sorry kalo katanya2 kotor, thanks atas tuntunannya.
Btw, ada alamat email personal nggak? Kalo mungkin saya mau omong2 ttg hal yang
lebih detail. Thanks.

Jawaban:
Dalam pengertian Buddhis, sebenarnya tidak ada istilah'kesucian iman', namun yang
ada dalam Buddha Dhamma adalah 'kesucian' yang artinya seseorang yang telah
berhasil meningkatkan kesadarannya secara maksimal sehingga segala sesuatu yang
dilakukan, diucapkan maupun dipikirkannya akan selalu disadari sehingga
terbebaslah ia dari segala bentuk ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Pengertian 'iman' juga tidak ada dalam konsep Buddhis karena segala sesuatu dalam
Agama Buddha tidak harus 'diimani' maupun dipercaya secara membuta, melainkan
perlu dibuktikan dalam perilaku sehari-hari. Keyakinan seorang umat Buddha dapat
timbul bukan karena mendengarkan kata-kata yang disampaikan orang yang
dipercayai maupun membaca buku yang dianggap suci. Keyakinan umat Buddha akan
timbul ketika ia telah membuktikan sendiri kebenaran Buddha Dhamma dalam
pelaksanaan di kehidupannya sehari-hari.
Untuk dapat melaksanakan Buddha Dhamma, maka seseorang sebagai langkah
awalnya hendaknya bertekad untuk melaksanakan lima latihan kemoralan yaitu tidak
membunuh, tidak mencuri, tidak berjinah, tidak berbohong serta tidak mabukmabukan.
Selain itu, sangat dianjurkan untuk umat Buddha melatih meditasi secara
rutin sebagai sarana berkonsentrasi dan mengendalikan pikiran. Apabila pikiran
terkendali, maka segala ucapan dan perbuatan pun secara otomatis akan dapat
dikendalikan sehingga kebajikan dilakukan berdasarkan kesadaran bukan karena
ketakutan kepada hal-hal yang di luar dirinya.
Namun, sebagai pokok dasar perilaku yang sederhana untuk dilaksanakan dalam
kehidupan sehari-hari agar terbebas dari ketakutan dan kebingungan, renungkan dan
kerjakanlah saran ini:Kalau diri sendiri tidak ingin disakiti, maka janganlah
menyakiti mahluk lain. Sebaliknya, kalau diri sendiri ingin berbahagia,
lakukanlah sesuatu agar mahluk lain juga mendapatkan kebahagiaan.
Sesungguhnya, segala sesuatu yang kita tanam, buahnya akan kita petik sendiri
juga. Penanam kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan,
Semoga masukan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga selalu bahagia.
Untuk email pribadi dengan saya, dapat dialamatkan ke webmaster maupun
samaggi_jaya@yahoo.com

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

14. Dari: Eiz, Jakarta
Namo Buddhaya.
Saya ingin bertanya, sebenarnya apakah benar bila ada yang mengatakan bahwa
"Sang Buddha atau Dewi Kwan Im menolong kita?" Banyak yang sering merasakan
hal tsb, misal saat mengalami kesulitan kemudian mengucapkan berkali2 Om Mani
Padme Hum atau yang lainnya.Tapi bukankah segala sesuatu terjadi krn Karma kita?
Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:
Dalam pengertian Agama Buddha, suka dan duka adalah buah karma yang kita miliki
atau hasil perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu, kalau dikatakan ada mahluk lain
yang bisa menolong seseorang, hal itu berarti orang tersebut memang telah
mempunyai timbunan karma baik yang telah matang sehingga berbuah dalam bentuk
kebahagiaan sesuai dengan yang ia harapkan dalam doanya.
Hal ini bisa dibandingkan dengan orang yang telah berdoa siang dan malam, namun
kehidupannya tidak juga selesai dari penderitaan. Tidak berhentinya penderitaan
orang yang rajin berdoa ini adalah karena ia memang belum cukup mempunyai
timbunan karma baik, sehingga berdoa sebanyak apapun juga, ia belum mendapatkan
kebahagiaan.
Karena itu, kebahagiaan yang seakan diberikan oleh mahluk lain itupun
sesungguhnya berasal dari buah kebajikan orang itu sendiri. Pertolongan mahluk
tersebut seolah berfungsi seperti karbit yang dipergunakan mempercepat kematangan
buah mangga. Kalau mangganya memang kondisinya mendukung, maka pastilah
buah tersebut akan segera matang. Namun, kalau mangganya belum sesuai
kondisinya untuk dikarbit, maka buah mangga itu malah akan membusuk. Jadi, semua
hasil tersebut tergantung buah mangga itu sendiri. Sama dengan kebahagiaan yang
seolah disebabkan karena jasa para mahluk itu sebenarnya timbul karena timbunan
kebajikan orang itu sendiri.
Semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi pendorong untuk terus
mengembangkan kebajikan tanpa harus menunggu pertolongan mahluk lain.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

15. Dari: Rosiana, Sydney
Namo Buddhaya,
Bhante, saya ada pertanyaan yg membuat saya bingung. Menurut ajaran Agama
Buddha, makhluk itu termasuk apa saja? Apakah makhluk yang tak terlihat dengan
mata manusia seperti bakteri atau virus itu termasuk makhluk?
Terima kasih atas jawabannya :)

Jawaban:
Dalam pengertian Buddha Dhamma, mahluk adalah merupakan paduan unsur yaitu
terdiri dari badan dan batin. Mahluk ini bisa merupakan mahluk tampak maupun
mahluk tak tampak. Namun, apapun bentuknya, yang paling penting adalah bahwa
dalam pengertian Buddhis, mahluk tersebut mempunyai NIAT. Karena dari niat inilah
suatu mahluk mengalami proses karma sehingga lahir kembali berulang-ulang sampai
suatu saat ia terlahir kembali sebagai manusia yang memiliki kesadaran untuk keluar
dari lingkaran kelahiran kembali.
Agar seseorang terlepas dari lingkaran kelahiran kembali, ia hendaknya selalu
berjuang dengan tekun dan penuh semangat untuk melaksanakan Jalan Mulia
Berunsur Delapan sehingga akhirnya batinnya terbebas dari ketamakan, kebencian
serta kegelapan batin. Kondisi inilah yang disebut pencapaian kesucian atau Nibbana
yaitu saat suatu mahluk sudah tidak terlahirkan kembali di alam manapun juga.
Semoga penjelasan ini dapat membantu mengenali berbagai bentuk mahluk di sekitar
kita.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

16. Dari: Indra,
Namo Buddhaya,
Bhante, jika kita mengambil milik orang lain tanpa diketahui pemiliknya, dan dalam
beberapa menit kita menyadari kalau itu adalah pelanggaran sila, dan kita langsung
mengembalikan tanpa diketahui pemiliknya. setelah itu kita merasa menyesal
Bhante. Jika ini termasuk dalam pelanggaran sila, bagaimanakah buah karmanya
Bhante?

Jawaban:
Mengambil barang yang bukan miliknya adalah merupakan pelanggaran sila yang
kedua yaitu latihan untuk mengendalikan diri dari pencurian.
Menyadari pencurian itu sebagai kesalahan dan kemudian mengembalikan barang itu
ke pemiliknya adalah merupakan kebajikan.
Penyesalan yang dirasakan kemudian adalah merupakan BUAH karma buruk yang
kita petik.
Dalam pengertian hukum Karma, seseorang berbuat baik maupun buruk tidak bisa
saling dikompensasikan. Oleh karena itu, mencuri barang adalah merupakan karma
buruk yang bila telah tiba saatnya buah keburukan itu akan dipetiknya. Sedangkan
pengembalian barang curian adalah merupakan karma baik yang juga akan dipetiknya
buahnya bila waktunya telah tiba. Sedangkan penyesalan yang dirasakan adalah buah
karma buruk yang mungkin telah pernah dilakukan beberapa waktu sebelumnya.
Dengan demikian, hendaknya kita bisa selalu menyadari segala perilaku melalui
badan, ucapan dan pikiran yang akan maupun sedang dikerjakan, sehingga ketiga
sumber karma ini akan bisa selalu diarahkan untuk mengembangkan kebajikan serta
menghindari kejahatan.
Semoga keterangan ini bermanfaat untuk lebih mantap dalam menentukan sikap
perilaku kita.

Salam metta,
B.Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

17. Dari: Rosiana, Sydney
Namo Budhaya,
Bhante, saya ada pertanyaan: Biasanya research (penelitian,terutama yg menyangkut
kesehatan manusia) itu memakai kelinci percobaan (misalnya, tikus).
Menurut saya, itu bisa menimbulkan karma buruk, benarkah itu Bhante? Tapi, kalau
dipikir-pikir lagi, tanpa ada nya penelitian dengan memakai kelinci percobaan,
banyak penyakit tidak ada obatnya, dan kemajuan teknologi tidak berkembang. Jadi
bagaimana baiknya itu, Bhante?
Terima kasih.
ps: saya kuliah di jurusan science yg lebih menjurus ke research

Jawaban:
Praktikum dengan menggunakan binatang sebagai percobaan dipandang dari Ajaran
Sang Buddha memang merupakan karma buruk. Namun, karma buruk ini tidak
sebesar kalau seseorang memperlakukan binatang itu sedemikian rupa hanya sekedar
untuk main-main serta memuaskan hati saja.
Jadi, berdasarkan perbedaan tujuan perbuatan itu, walaupun perlakuannya sama pada
obyek yang sama, akan menghasilkan buah karma yang berbeda.
Semoga dengan penjelasan ini sudah tidak timbul keraguan lagi dalam melakukan
berbagai penelitian yang mempergunakan mahluk hidup sejauh tujuannya untuk
mengembangkan kebajikan yang lebih besar. Apalagi kalau dalam kehidupan seharihari
juga dibarengi dengan sering melepaskan mahluk menderita. Misalnya dengan
membeli ikan di restoran namun bukan untuk dimasak, melainkan untuk dilepaskan
ke habitatnya.
Selamat belajar, semoga selalu sukses dan bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

18. Dari: Ferry Liang, Yogyakarta
Namo Buddhaya,
Romo saya mau bertanya, tentang vegetarian lagi. Saya ada baca tulisan Romo di
Buddhist Online, katanya kalau makan sayuran itu juga membunuh makhluk hidup.
Tapi saya berpikir kalau kita melihat mana yang paling baik, bukankah yang
bervegetarian itu merupakan hal yang paling baik. Selama kita masih hidup di dunia
dan belum mencapai nirvana kita khan tidak akan pernah bebas dari dosa karma. Tapi
khan kita bisa mengurangi karma buruk yang akan kita buat. Dan bila Romo
mengatakan bahwa Buddha tak melarang makan daging bukankah itu membuka
peluang bagi yang memang ingin makan daging? Walaupun sebenarnya Sang Buddha
tak pernah mengatakan boleh memakan daging?

Jawaban:
Dalam pandangan Agama Buddha, yang disebut sebagai melakukan pembunuhan
harus memenuhi beberapa persyaratannya yaitu:
1. Tahu adanya mahluk
2. Tahu bahwa mahluk itu masih hidup
3. Ada NIAT melakukan pembunuhan pada mahluk itu.
4. Pembunuhan dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung
5. Adanya korban yaitu mahluk itu terbunuh.
Kalau seseorang membeli daging di pasar dan memang binatang itu sudah mati bukan
karena pesanan kita, maka dalam Dhamma hal ini dikategorikan tidak melakukan
pembunuhan dan bukan karma buruk. Hal itu disebabkan karena kita tidak pernah
memiliki NIAT untuk membunuh binatang tersebut. Kita hanya makan bangkainya.
Dalam Dhamma juga disampaikan bahwa bukan karena makanan seseorang menjadi
suci atau tidak suci, melainkan dari cara berpikirnya. Seandainya memang ada orang
yang senang tidak makan daging, silahkan saja, karena hal ini juga baik sebagai salah
satu (bukan satu-satunya)latihan pengendalian diri.
Semoga penjelasan singkat ini dapat mempertebal keyakinan untuk mereka yang
ingin melatih tidak makan daging maupun tetap makan daging (baca:bangkai).
Karena sesungguhnya makanan hanyalah sekedar penyambung hidup agar seseorang
bisa lebih mengembangkan kesadaran pada perbuatan, ucapan maupun pikirannya
agar sesuai dengan Buddha Dhamma.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

19. Dari: Indra,
Namo Buddhaya,
Bhante, setiap orang yang bermeditasi akan memperoleh hasil yang berbeda2 dan
dalam jangka waktu yang berbeda2 pula. Apakah hal tersebut dipengaruhi oleh buah
karma yang diperbuatnya di masa lalu Bhante? (misalkan sama2 bermeditasi setiap
harinya)

Jawaban:
Hasil meditasi memang bisa berbeda karena adanya perbedaan timbunan karma
lampau yang dimiliki oleh orang per orang.
Orang yang dalam kehidupan lampaunya pernah berlatih meditasi secara tekun, pada
masa sekarang ia akan cenderung lebih cepat berhasil dalam bermeditasi
dibandingkan dengan orang yang belum pernah memiliki pengalaman meditasi di
kehidupan yang lalu. Namun tidak bisa diabaikan bahwa usaha yang giat, tekun dan
penuh semangat dalam bermeditasi juga sangat mempengaruhi hasil meditasi di masa
sekarang walaupun mungkin kehidupan lalunya ia kurang berpengalaman dalam
meditasi.Karena dalam Dhamma, suka dan duka kehidupan ini tidak hanya ditentukan
oleh karma lampau saja, melainkan juga usaha dan perjuangan kita di kehidupan yang
sekarang.
Semoga hal ini dapat dipergunakan untuk meningkatkan semangat agar selalu
bermeditasi walaupun mungkin belum mengetahui seberapa banyak timbunan karma
lampaunya dalam hal bermeditasi.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

20. Dari: Saparindi, Malang
Salam,
Ada sebuah kegamangan yang saya temui dalam komunitas Buddhist di Indonesia
yang selalu melarang umat Buddha untuk jangan / tidak berpolitik dengan alasan
bahwa politik itu kotor dan lain sebagainya, larangan ini saya banyak saya jumpai
dikalangan tokoh2 agama dan pelaku spiritual(bhikkhu).
Selanjutnya pertanyaan saya : bagaimana sebenarnya politik dalam Buddhisme itu
dijelaskan, dan bagaimana seharusnya umat Buddha di Indonesia dapat berkiprah dan
mempunyai nilai bagi bangsa ini? (terima kasih)

Jawaban:
Dalam Buddha Dhamma bisa dilihat bahwa sejak jaman Sang Buddha, Beliau telah
banyak bergaul dengan para raja. Beliau juga memberikan berbagai saran kepada raja,
misalnya saja tentang tujuh syarat kepemimpinan yang baik. Dalam Jataka juga
disebutkan tentang adanya sepuluh kewajiban seorang raja.
Dengan demikian, sebenarnya dalam Buddha Dhamma masalah politik atau ilmu
ketatanegaraan ini telah dikenal dan dipandang sebagai hal yang biasa saja. Politik
adalah netral. Kotor dan tidak kotor adalah tergantung dari pribadi orang yang
menjalankan politik itu sendiri.
Di masa sekarang, kita juga melihat adanya seorang Dalai Lama yang selain seorang
bhikkhu, beliau sekaligus juga sebagai pemimpin suatu negara. Sebagai pemimpin
negara, beliau pastilah juga berpolitik.
Karena itu, kalau di Indonesia terdapat kenyataan bahwa sebagian umat maupun para
tokoh agama Buddha kurang aktif berpolitik, hal itu disebabkan karena masalah
pribadinya, bukan karena agama Buddha nya. Kepasifan dalam berpolitik ini, salah
satunya, mungkin disebabkan karena adanya berbagai trauma yang timbul seiring
dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Karena itu, latar belakang
kepasifan inilah yang hendaknya bisa dimengerti terlebih dahulu agar bisa memahami
perilaku politik mereka.
Sedangkan kiprah sebagai warga negara yang memberikan makna kehidupan dalam
berbangsa dan bernegara bisa diwujudkan dalam berbagai aktifitas lainnya, misalnya
menciptakan lapangan pekerjaan dlsb. yang tentunya, kegiatan inipun bisa
dikategorikan sebagai aktifitas politik. Oleh karena itu, hendaknya bisa dilihat dan
difahami bahwa ternyata sedemikian luas aktifitas politik itu sendiri. Dengan
demikian, orang akan bisa melihat keberagaman tindakan untuk mewujudkan aspirasi
politiknya masing-masing.
Semoga masukan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

21. Dari: Saparindi, Malang
Salam,
Dlm beberapa kali berdiskusi dgn Bhante Uttamo saya sempat menyoalkan konsep
Ketuhanan yang diyakini Bhante Uttamo bahwa Tuhan dalam Agama Buddha itu
tetap ada walau memang sangat jauh berbeda dgn konsep agama lain. Dlm
kesempatan ini saya kembali menyoal tentang tuhan kembali dimana saya
berkeyakinan sekali bahwa ajaran buddha tidak pernah sama sekali mengajarkan
konsep Ketuhanan yang diartikan oleh berbagai kalangan termasuk Bhante Uttamo
yang sangat saya tidak setujui. Merujuk pada referensi terbaru saya dlm sebuah VCD
yang saya dapatkan di HERO supermarket tentang agama BUDDHA jelas disana
ditulis bahwa Agama Buddha tidak mengenal adanya TUHAN, dan sangat jelas sekali
disana Buddhisme memposisikan memang tidak berTUHAN. VCD ini diterbitkan
oleh BBC. Buat saya TUHAN hanya sekedar bualan orang primitif yang diperdaya
oleh kelemahan mental dan spiritual yang tidak mampu menopang dirinya sendiri
sehingga membangun yang namanya TUHAN. Demikianlah sedikit menyoal tentang
si TUHAN.

Jawaban:
Kepercayaan akan ada atau tidaknya Tuhan adalah merupakan hak setiap orang.
Namun, tentunya, orang yang tidak menyakini keberadaan Tuhan tidak akan bisa
memaksa orang lain untuk mengikuti pandangan dan keyakinannya tersebut,
demikian pula sebaliknya.
Dalam Buddha Dhamma, memang segalanya bisa dipandang dari sudut yang berbeda.
Dengan demikian, pendapat seseorang bisa saja tidak sama dengan pendapat orang
lain. Hal inilah yang membuat keberagaman dan keunikan yang ada dalam Ajaran
Sang Buddha. Dari berbagai keragaman ini, akan muncullah berbagai cara untuk
melaksanakan Ajaran Sang Buddha. Pelaksanaan Ajaran Sang Buddha secara
sungguh-sungguh inilah yang akan mengantarkan seseorang untuk mencapai kesucian
yaitu terbebasnya pikiran dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Ketika
seseorang telah mencapai kesucian, maka barulah timbul kesamaan universal. Hal ini
digambarkan dalam Dhamma sebagai air laut yang memiliki rasa asin yang merata
walaupun berasal dari berbagai aliran sungai. Demikian pula orang yang telah
mencapai kesucian, walaupun dengan menggunakan banyak jalan dan pengertian,
akhirnya akan mendapatkan satu pengertian yang universal.
Dengan kebebasan berpikir dalam memahami Ajaran Sang Buddha inilah yang
membuat Buddha Dhamma bertahan selama 3000 tahun di tengah berbagai lapisan
masyarakat dan kepercayaan.
Yang jelas, dalam Agama Buddha, seseorang mempercayai adanya Tuhan ataupun
tidak bukanlah syarat utama untuk mencapai kesucian. Kesucian akan dapat dicapai
seseorang apabila ia melaksanakan dengan sungguh-sungguh kerelaan, kemoralan
serta meditasi.
Semoga dengan penjelasan ini akan lebih menegaskan adanya keragaman pemahaman
dan kebebasan berpikir yang merupakan salah satu kelebihan Ajaran Sang Buddha.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

22. Dari: Soetrisno, Yogyakarta
Namo Buddhaya,Bhante.
Bagaimana tolok ukurnya,untuk membedakan Buddha Dhamma dengan
tradisi/kebudayaan. Bukankah didalam agama Buddha sendiri penuh/sarat dengan
ritual ?
Terima Kasih Bhante.

Jawaban:
Dalam Kitab Anguttara Nikaya IV, 280 disebutkan bahwa ada delapan cara untuk
menandai apakah sesuatu ajaran disebut sebagai Buddha Dhamma yaitu segala
sesuatu yang telah diajarkan oleh Sang Buddha atau tidak. Kedelapan cara tersebut
dapat diketahui dengan melihat tujuan dari ajaran itu. Suatu ajaran dapat
digolongkan sebagai Buddha Dhamma apabila ajaran tersebut bertujuan untuk:
1. Mengurangi rangsangan indria dan pikiran.
2. Membebaskan diri dari dukkha.
3. Menghindarkan diri dari pemupukan kekotoran batin.
4. Memberikan kepuasan pada yang sedikit.
5. Memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada apa yang telah dimiliki.
6. Meningkatkan semangat dalam berusaha.
7. Memberikan rasa mudah untuk dirawat dan dibantu.
8. Menimbulkan rasa suka untuk tinggal di tempat yang sepi khususnya bagi seorang
bhikkhu.
Demikianlah kedelapan tanda atau tolok ukur yang dapat dipergunakan untuk
membedakan Buddha Dhamma dengan berbagai tradisi yang telah ada dalam
masyarakat.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

23. Dari: Demmy, Ohio,USA
Namo Buddhaya,
Bhante saya ingin bertanya. Saya memiliki teman yg berasal dr China. Dia
menceritakan kepada saya, daging apapun dijual di China, bahkan janin manusia yg
belum jadi juga dpt dijumpai di pasar. Si pemakan hanya membeli janin tersebut dan
janin tsb ada bukan krn pesanannya. Apakah si pemakan akan mendapatkan karma
buruk atas tindakannya tsb? Ataukah hanya si pembunuh yg bertanggung jawab atas
karma buruk tsb, krn si pemakan hanya membeli bangkai saja?
Sebelum dan sesudah saya ucapkan
Terima Kasih
much metta,
Demmy

Jawaban:
Kalau masalah jual beli itu terjadi pada jenis mahluk lain misalnya kijang, maka jelas
yang menanam karma buruk di sini adalah si pembunuh janin kijang tersebut, bukan
si penjual ataupun si pembeli dan pemakannya.
Karena dalam Dhamma, karma adalah niat, dan hanya si pembunuh itulah yang
punya niat menghilangkan kehidupan mahluk lain, sedangkan si penjual dan pembeli
melakukan transaksi atas bangkai mahluk itu saja.
Namun, karena kasus ini terjadi pada janin manusia, maka dalam Dhamma hal ini
adalah merupakan tindakan yang tidak benar untuk semua fihak yaitu si pembunuh,
si penjual dan juga si pembeli serta si pemakan.
Pandangan tentang tindakan yang salah ini karena dalam Dhamma, memakan
manusia itu adalah merupakan kesalahan, khususnya bagi para bhikkhu. Sedangkan
untuk para umat, tindakan ini juga dianggap sebagai perilaku yang tidak bermoral.
Semoga sekarang sudah jelas posisi Buddha Dhamma dalam menyikapi masalah ini.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

24. Dari: Indra,
Namo Buddhaya,
Bhante, saya masih kurang begitu jelas tentang JIWA. Hidup kita terdiri dari nama
dan rupa, semuanya selalu berubah, tubuh yang terdiri dari 4 unsur, selalu berubah,
begitu juga dengan pikiran, ingatan kesadaran, perasaan, pencerapan, semuanya selalu
berubah. Jadi inti dari kehidupan kita ini sehingga dapat terus bertumimbal lahir itu
apa Bhante? Jika seseorang telah mencapai nibbana, berarti dia tidak akan tumimbal
lahir lagi. Jadi apakah yang mencapai nibbana itu? Apakah kesadarannya, apakah
pencerapannya, ataukah yang lain Bhante?

Jawaban:
Memang benar bahwa manusia terdiri dari badan serta batin. Batin manusia terdiri
dari empat unsur yaitu perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Kesemua unsur
pembentuk badan dan batin ini selalu berubah, tidak kekal (anicca). Kondisi yang
selalu berubah ini sudah merupakan hukum alam bahwa segala sesuatu yang
berbentuk adalah tidak kekal adanya. Karena ketidakkekalan itulah dalam Dhamma
dimengerti bahwa segala sesuatu juga tanpa inti yang kekal atau sering dikenal
dengan sebutan "tanpa aku" (anatta) atau dalam istilah sekarang disebut sebagai
'proses'.
Dengan demikian, karena segalanya hanya merupakan proses, maka dalam Dhamma
tidak dikenal istilah jiwa yang memiliki pengertian sebagai sesuatu dalam diri
manusia yang bersifat kekal abadi.
Adanya pengertian tidak kekal ini pula yang menyebabkan bahwa setiap mahluk pasti
akan mengalami kematian, namun, kematian adalah akhir dari suatu kehidupan untuk
memulai kehidupan yang baru. Satu mahluk setelah meninggal dari alam manusia
bisa terlahir di alam bahagia atau surga. Namun, karena tidak kekal, maka di alam
surga pun ada kematian, begitu pula dengan alam neraka. Terjadinya proses panjang
kelahiran kembali ke berbagai alam ini disebabkan karena masih adanya kemelekatan
dan keinginan pada diri mahluk tersebut.
Dalam proses kelahiran kembali, badan mengalami kematian dan batin yang terdiri
dari empat unsur itu dengan di dominasi oleh kesadaran yang kemudian diikuti oleh
ketiga unsur batin lainnya berpindah mencari badan yang baru. Jadi, singkatnya,
kesadaranlah yang selalu berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain.
Sedangkan ke tiga unsur batin yang lain pada saat proses kelahiran kembali bersifat
menjadi 'pengikut kesadaran' untuk mencari badan yang baru.
Dalam pencapaian Nibbana, kesadaran inilah yang kemudian berubah menjadi
bijaksana atau pannya. Setelah kesadaran menjadi bijaksana, maka hilanglah segala
bentuk kemelekatan, dan, kondisi untuk terlahir kembali sudah tidak ada lagi. Tanpa
adanya badan, maka ketiga unsur batin yang menjadi 'pengikut kesadaran' itu sudah
tidak aktif lagi. Dengan demikian, berhentilah proses kelahiran kembali yang telah
dijalani dalam waktu yang sangat lama sekali.
Semoga keterangan ini dapat memberikan tambahan wawasan dalam pencapaian
kesucian menurut Buddha Dhamma.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

25. Dari: Indra,
Namo Buddhaya,
Bhante, saya memiliki teman yang beragama lain. Dia sangat percaya adanya
TUHAN sebagai personal beserta kerajaan TUHAN. Dia juga mengaku memiliki
kemampuan untuk berbicara dengan TUHAN, dia juga pernah berkata bahwa
TUHAN menggunakan perantara dirinya (suara) untuk bercakap2 dan memberikan
ajaran kepada orang2 di sekitarnya. Hal tersebut membuat teman saya semakin terikat
dengan makhluk yang dapat menyelamatkan dosa manusia yang mereka sebut dengan
"TUHAN".
Saya ingin mendapat kejelasan dari hal ini Bhante, menurut Bhante, jika dilihat dari
kaca mata Buddhis, bagaimanakah hal ini bisa terjadi Bhante? (berbicara dengan
Tuhan).
Terimakasih atas jawabannya Bhante.

Jawaban:
Kegiatan bercakap-cakap dengan Tuhan kalau memang ada saksi atau pendengarnya,
berarti memang nyata akan adanya fihak lain yang dapat diajak berkomunikasi.
Namun, kalau proses percakapan itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri, serta orang
yang berada di sekitarnya tidak dapat ikut berpartisipasi dalam komunikasi itu, maka
hal ini mungkin saja terjadi karena ia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan
mahluk lain. Hanya saja, mahluk itu tidak harus dirujuk ataupun mempunyai
pengertian sebagai Tuhan, bisa saja salah satu dewa yang memang merupakan
penghuni alam surga yang dekat dengan manusia, atau bahkan salah satu dari mahluk
dari alam menderita. Hal ini dapat terjadi karena memang di sekitar alam manusia
tinggal dan hidup ini juga terdapat berbagai jenis mahluk lain yang tak tampak mata
biasa. Kadang, seseorang memang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan salah
satu di antara mereka. Adanya keterlibatan mahluk lain ini dengan anggapan bahwa
memang benar ada bentuk komunikasi tersebut.
Namun, bisa juga percakapan itu sebenarnya hanya terjadi dalam pikirannya sendiri
dan dengan dirinya sendiri namun si pelaku meyakini bahwa telah terjadi komunikasi
dengan mahluk lain di luar dirinya. Kalau penyebabnya adalah hal yang terakhir ini,
maka sebenarnya anggapan bahwa ia mampu berkomunikasi dengan mahluk lain itu
adalah merupakan perilaku yang cukup memprihatinkan dan perlu dikonsultasikan
dengan ahli medis yang berwenang.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

26. Dari: Yeny, Singaraja
Namo Budhaya.
Bhante saya ingin menanyakan, dalam masyarakat dikenal adanya santet atau ilmu
hitam. Bagaimana hal ini menurut agama Buddha?
Bhante apakah menjual daging/bangkai itu melanggar sila? Bukankah mereka
memotong atau membunuh mahluk tersebut untuk dijual karena kita yang mau
membeli? Apakah dalam hal ini kita juga melanggar sila?
Terima kasih.
sabbe satta bhavantu sukhitata

Jawaban:
Santet itu adalah penyalahgunaan kemampuan konsentrasi yang diperoleh dengan
meditasi untuk mempercepat kematangan karma buruk seseorang.
Jadi, andaikata si A menyantet si B agar sakit. Maka, sebenarnya si A
mengkondisikan agar karma buruk si B berbuah dalam bentuk sakit. Oleh karena itu,
apabila si B memang punya karma buruk yang akan matang, dengan santet tersebut, si
B akan jatuh sakit karenanya. Namun, kalau si B masih kuat karma baiknya, maka si
B walaupun di santet sebanyak dan selama apapun juga, si B tidak akan menderita
seperti yang diharapkan si penyantetnya.
Oleh karena itu, kemanjuran santet tergantung karma orang yang disantetnya pula.
Dengan menambah banyak kebajikan yaitu melakukan kerelaan, kemoralan serta
konsentrasi, maka seseorang akan sulit mendapatkan penderitaan karena ulah orang
lain dengan kekuatan santet.
Menjual daging atau bangkai dalam Dhamma disebut sebagai mata pencaharian yang
kurang sesuai karena cenderung bila banyak pembeli atau usahanya semakin maju, ia
akan semakin banyak pula memesan daging yang secara otomatis, ia semakin banyak
pula menyebabkan pembunuhan. Dengan demikian, semakin banyak binatang yang
mati karena pesanannya. Dalam hal ini, ia termasuk telah melanggar secara tidak
langsung sila pertama yaitu tidak melakukan pembunuhan.
Sedangkan untuk si pembeli, sejauh ia tidak memesan daging dan hanya sekedar
memilih bangkai yang sudah ada, memasak dan memakannya, dalam Dhamma
perbuatan ini tidak termasuk karma buruk.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

27. Dari: Yanto, Jambi
Namo Buddhaya, Bhante
Bhante, bagaimanakah pelaksanaan sila bagi nelayan? Di sisi lain ia melanggar
Pancasila Buddhis, dan disisi lain ia harus menghidupi keluarga.

Jawaban:
Dalam Dhamma, niat adalah karma. Karena itu, semakin seseorang terpaksa
melakukan suatu perbuatan, maka semakin kecil pula buah karma yang akan
diterimanya. Hal ini berlaku untuk semua perbuatan, baik maupun buruk.
Seorang umat Buddha memang dalam kehidupannya dianjurkan untuk melaksanakan
Pancasila Buddhis yang salah satunya adalah berisikan tekad untuk melatih diri
mengurangi pembunuhan. Namun, sebagai nelayan Buddhis, ia harus menangkap
ikan untuk menghidupi keluarganya. Apabila memang sudah tidak ada pekerjaan lain
yang bisa dipergunakan untuk mendukung kehidupan keluarganya, maka
sesungguhnya karma buruk yang dia lakukan adalah lebih kecil daripada orang yang
mencari ikan demi memuaskan kesenangan atau hobby saja.
Oleh karena itu, sebagai nelayan Buddhis, seperti yang banyak terdapat di pantai
Utara Pulau Jawa, mereka memang telah terpaksa melanggar sila pertama Pancasila
Buddhis, namun, hendaknya mereka tetap mempertahankan dengan sungguh-sungguh
pelaksanaan keempat sila lainnya. Selain itu, apabila ia memiliki kesempatan,
seringlah melakukan kebajikan dengan mengembangkan kerelaan, kemoralan serta
konsentrasi. Juga sebaiknya ia bertekad bahwa semoga dalam kehidupan ini pula ia
bisa menghindarkan diri dari pekerjaan yang membuatnya melanggar sila tersebut.
Tahap menghindarkan diri ini bisa diawali dengan hanya menyewakan kapalnya saja
ke nelayan yang lain sampai dengan alih professi.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

28. Dari: Pannasagara, Denpasar
Namo Buddhaya Bhante,
Mengapa tidak ada sampai sekarang secara nyata para dewa yang jaman Sang Buddha
hidup muncul di alam manusia ini untuk mengingatkan atau memberitahu yang mana
sebenarnya Ajaran Beliau yang benar (asli) mengingat umur mereka sangat panjang
dan tentu saja masih ingat dgn ajaran beliau?
Terimakasih sebelumnya atas jawabannya.

Jawaban:
Memang di dalam Dhamma disebutkan bahwa umur para dewa di alam surga jauh
berlipat dibandingkan dengan umur manusia. Oleh karena itu, pada saat ini sudah
pasti masih ada dewa yang kenal dan mengerti dengan baik Ajaran Sang Buddha.
Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru
sekejab saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia
ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati
manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.
Namun, kita hendaknya tidak kecil hati menemukan kenyataan ini. Sesungguhnya
Ajaran Sang Buddha tidak perlu harus diberitahukan oleh para dewa terlebih dahulu
untuk membuktikan kebenarannya. Sang Buddha sudah memberikan tuntunan dalam
Anguttara Nikaya IV, 280 yang menyebutkan bahwa Buddha Dhamma atau apapun
juga mereka adanya dapat disebut sebagai hal yang benar apabila bertujuan untuk:
1. Mengurangi rangsangan indria dan pikiran.
2. Membebaskan diri dari dukkha.
3. Menghindarkan diri dari pemupukan kekotoran batin.
4. Memberikan kepuasan pada yang sedikit.
5. Memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada apa yang telah dimiliki.
6. Meningkatkan semangat dalam berusaha.
7. Memberikan rasa mudah untuk dirawat dan dibantu.
8. Menimbulkan rasa suka untuk tinggal di tempat yang sepi khususnya bagi seorang
bhikkhu.
Dengan demikian, apabila Anda kebingungan untuk membedakan satu ajaran dengan
ajaran yang lain yang kesemuanya mengaku sebagai Ajaran Sang Buddha, maka
cobalah pergunakan 'rumus' di atas, semoga hal itu dapat membantu menguraikan
kebingungan Anda tersebut.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

29. Dari: Ferry Liang, Yogyakarta
Namo Budhaya,
Banthe, saya mau bertanya tentang meditasi.
Bagaimana cara kita menonaktifkan indra pendengaran dan sentuhan saat kita
bermeditasi?
Karena hal ini sangat sulit, jika ada paritta yang baik, tolong di beri tahu.
Terimakasih atas bimbingan Banthe
Sabbe Satta Bavanthu Sukittata

Jawaban:
Pada saat menenangkan diri dalam latihan meditasi, pelaksana meditasi pada awalnya
sering terganggu dengan berbagai obyek indria. Suara yang didengar telinga, rasa
yang diketahui oleh kulit, bau yang masuk melalui hidung dst. Hal ini adalah
merupakan hal yang normal. Bahkan dalam sebuah cerita kuno dikisahkan tentang
orang yang merusak ke lima indrianya agar bisa mendapatkan ketenangan. Ternyata
usaha itupun tetap gagal, karena ia masih mempunyai satu indria lagi yaitu pikiran.
Oleh karena itu, Anda tidak perlu gelisah dengan gangguan dari indria Anda. Itu akan
dapat diatasi secara otomatis apabila Anda sudah dapat memusatkan perhatian pada
obyek yang dipilih, misalnya memperhatikan masuk dan keluarnya pernafasan.
Apabila pada saat memperhatikan obyek terasa terganggu dengan masuknya obyek
indria dalam pikiran Anda, jangan hiraukan semua itu, terus perkuat perhatian pada
obyek. Lama kelamaan Anda akan bisa menguasai dan memusatkan pikiran pada
obyek, dengan demikian maka seluruh obyek indria yang lain itu tidak akan
mengganggu lagi. Meditasi menjadi tenang, pikiran hening dan bisa dilanjutkan ke
tahap meditasi yang selanjutnya.
Agar dapat mempercepat proses konsentrasi dalam meditasi, biasanya juga bisa
dengan mengkondisikan lingkungan agar tidak mengganggu usaha tersebut.
Misalnya, kalau suara yang dominan di sekitar tempat Anda melatih meditasi,
sebelum meditasi bisa Anda siapkan sepasang kapas telinga atau bahkan
menggunakan headphone agar telinga tidak terganggu karena adanya pendengaran
yang tidak diinginkan. Kalau ada nyamuk yang mengganggu, bisa juga menyiapkan
kelambu sebelum bermeditasi. Sehingga, kalau meditasi dilakukan di dalam kelambu,
maka Anda sudah aman dari nyamuk dan bisa segera memusatkan perhatian pada
obyek.
Paritta yang bisa dipergunakan untuk membantu konsentrasi biasanya dipilih paritta
yang sederhana dan pendek agar tidak mengkondisikan pelaksana meditasi menjadi
berpikir tentang paritta yang dibacanya. Paritta yang dipergunakan bisa hanya selalu
mengulang 'sabbe satta bhavantu sukhitatta' atau 'semoga semua mahluk
berbahagia."
Semoga saran ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan meditasi Anda.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

30. Dari: Lina, Ontario, Canada
Bhante, saya mempunyai seorang teman yang cukup tertarik dengan agama Buddha.
Tetapi dia ingin tahu, apakah tujuan akhir agama Buddha, saya jawab Nibbana. Lalu
dia bertanya lagi, apakah Nibbana sama dengan kematian abadi. Saya cukup bingung
menjawabnya, apakah Nibbana memang dapat diibaratkan seperti kematian abadi?
Terima kasih, Sabbe satta sukkhita hontu

Jawaban:
Memang benar bahwa tujuan akhir seorang umat Buddha adalah Nibbana. Namun,
Nibbana tidak harus dicapai ketika manusia sudah meninggal. Nibbana bisa dicapai
ketika manusia masih hidup di dunia. Sebagai salah satu contoh, Sang Buddha
mencapai Nibbana pada saat berusia 35 tahun dan Beliau terus hidup dan
mengajarkan Dhamma sampai usia 80 tahun. Walaupun Beliau mencapai Nibbana,
Beliau tidak langsung wafat. Pada saat usia 80 tahun, Beliau wafat dan sudah tidak
terlahir kembali, namun, hal ini tidak bisa disebut sebagai kematian abadi karena
Nibbana adalah 'tidak bersyarat' atau secara mudah disebut sebagai 'tidak
terceritakan'. Dalam Dhamma kondisi Nibbana ini dicontohkan dengan api lilin yang
mati karena ditiup. Api itu tidak bisa dikatakan pergi ataupun mati abadi, namun, api
yang ditiup menjadi padam adalah karena kondisi untuk hidup sudah tidak ada lagi.
Semoga jawaban ini dapat menambah wawasan Anda untuk memberikan keterangan
yang tepat bagi teman Anda tersebut.
Semoga bahagia,

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

31. Dari: Ferry Liang, Yogyakarta
Namo Buddhaya,
Banthe saya mau bertanya lagi..
Hidup selibat atau hidup tanpa menikah dalam arti kita membiara, bukankah
menjadikan makhluk lain yang memiliki kesempatan untuk terlahir menjadi manusia
menjadi hilang, dalam hal ini jika misalkan semua manusia hidup membiara. Dan
bukankah Sabda sang Buddha mengatakan bahwa semua sebab jodoh harus
diselesaikan dan Bila sebab jodoh itu telah muncul bukankah harus diselesaikan.
Hingga seperti Sang Buddha Ketika akan menjadi Buddha Sang Tathagata harus
menyelesaikan jodohnya dengan anak nya Rahula dan Istrinya. Jadi bagaimana
penjelasannya Banthe saya agak bingung apakah kita harus menyelesaikan sebab
jodoh kita dengan semua makhluk atau kita bisa langsung menjadi seorang biarawan?
terimakasih atas bimbingan Banthe
Sabbe Satta Bavanthu Sukittata
sadhu,sadhu

Jawaban:
Kalau seseorang menjalani hidup tanpa menikah, maka hubungan karma dengan
mahluk lain akan berubah bentuknya. Mahluk yang seharusnya menjadi anaknya,
mungkin nanti akan menjadi murid sekolah minggu binaannya yang paling
disayanginya. Atau, mungkin ada orang yang seharusnya karena karmanya menjadi
istri, kalau ia sudah menjadi viharawan, wanita itu mungkin malah menjadi sponsor
yang setia sampai tua. Jadi, perjalanan karma cukup banyak variasinya, tidak harus
melalui jalur perkawinan saja. Karena kalau semua hubungan karma yang sering
disebut sebagai 'jodoh' itu harus diselesaikan dengan jalur perkawinan, bagaimana
dengan orang yang sudah sedemikian banyak mengalami kelahiran kembali? Ia tentu
telah banyak pula memiliki ikatan dengan orang yang seharusnya menjadi pasangan
hidupnya. Apakah mereka semua kemudian harus diikat dalam perkawinan di
kehidupan yang sekarang? Kalau demikian, mungkin di dunia ini tidak akan ada lagi
orang yang mempunyai pasangan hidup satu orang saja. Hal ini bisa terjadi karena
kita semua sudah terlalu banyak mengalami proses kelahiran kembali dan mengikat
hubungan karma dengan banyak orang pula. Tentunya pandangan dengan tidak
menikah dapat menghilangkan kesempatan mahluk lain terlahir sebagai manusia
adalah pandangan yang tidak tepat.
Satu pandangan keliru lainnya yang sering muncul dalam masyarakat adalah
pengandaian tentang kemungkinan semua orang akan menjadi bhikkhu. Itu adalah hal
yang tidak mungkin. Sejak jaman Sang Buddha mengajar Dhamma sendiri, jumlah
bhikkhu tidak pernah lebih banyak daripada jumlah umatnya. Kalau memang jumlah
bhikkhu telah lebih banyak daripada jumlah umatnya, maka di India saat ini mungkin
sudah punah penduduknya. Ternyata kenyataan tidak demikian yang terjadi.
Dalam Agama Buddha, tidak semua umat Buddha pasti ataupun harus menjadi
bhikkhu. Menjadi bhikkhu hanyalah salah satu pilihan jalan hidup, namun bukan satusatunya
cara hidup. Ada umat Buddha yang mungkin senang tinggal di vihara
menjadi bhikkhu, namun, ada juga umat yang ingin tetap tinggal dalam masyarakat
dan membina rumah tangga. Tidak masalah. Semua pilihan cara hidup ini dibenarkan
dalam Dhamma, yang penting, orang hendaknya melaksanakan cara hidup yang
dipilihnya itu dengan baik dan bertanggung jawab. Kebebasan memilih jalan hidup
ini adalah merupakan salah satu keunikan Ajaran Sang Buddha.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia,

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

32. Dari: Pannasagara, Denpasar
Namo Buddhaya Bhante.
Kalau menurut Buddha Dhamma memory ada di bahagian mana di batin?
Kesadaran,atau pencerapan atau perasaan atau salah satu dari bentuk-bentuk pikiran?
Kalau di badan adakah salah satu organ kita yang dapat diacu sebagai tempat memory
kita? Saya membaca beberapa riset orang yang cangkok jantung dari orang lain
membawa kebiasaan/sifat/ dan juga ingat beberapa pengalaman dari pemberi jantung
tsb ketika masih hidup.
Terimakasih atas jawabannya

Jawaban:
Dalam Dhamma, manusia terdiri dari badan dan batin. Batin terdiri dari perasaan,
pikiran, ingatan dan kesadaran. Dari pengertian ini, bisa dimengerti bahwa memory
terletak pada ingatan atau dalam istilah Palinya di kenal dengan sannya.
Selain itu, dalam Dhamma tidak disebutkan letak batin tersebut pada organ tubuh
tertentu suatu mahluk, sehingga mungkin bisa saja terjadi kasus cangkok jantung
yang bisa mengakibatkan bertambahnya kebiasaan ataupun sifat dari donor pada yang
menerima cangkok tersebut.
Semoga keterangan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

33. Dari: Soetrisno, Yogyakarta
Namo Buddhaya.
Bhante,umat Buddha yang sudah menerima TIRATANA sebagai pelindung,apakah
ada keharusan/kewajiban untuk diwisuda/i menjadi upasakha/upasikha ?

Jawaban:
Seorang umat Buddha yang sudah menerima Tiratana sebagai pelindung dan jalan
hidupnya, maka ia secara otomatis sudah menjadi seorang upasaka kalau pria
ataupun upasika kalau wanita. Sesungguhnya seorang umat Buddha tidak ada
keharusan untuk mendapatkan visudhi sebagai upasaka atau upasika.
Hanya saja, berbeda dengan berbagai negara Buddhis yang memang tidak
memerlukan upacara visudhi upasaka atau upasika, di Indonesia karena adanya
lingkungan dari teman beragama lain yang mengenal istilah semacam 'baptis' maka
kemudian disusunlah upacara visudhi upasaka upasika tersebut.
Memang, ternyata di Indonesia, visudhi itu menjadi cukup bermanfaat bagi para umat
Buddha karena mereka merasakan adanya kesamaan dengan umat beragama yang
lain. Juga, karena pada saat visudhi ini biasanya umat mendapatkan nama Buddhis,
maka upasaka upasika itu akan bisa menjadikan nama Buddhisnya sebagai pedoman
hidupnya. Misalnya ia mendapatkan nama Buddhis: 'Sila Kumaro', maka dalam
kehidupannya sebagai seorang umat Buddha hendaknya ia menjadi seorang Pemuda
(Kumaro) yang selalu rajin melaksanakan kemoralan (Sila). Jadi, kemanapun ia pergi,
ia akan selalu ingat namanya dan menjaga perilakunya agar sesuai dengan pengertian
baik yang melekat pada namanya itu.
Selain itu, karena menjadi upasaka dan upasika telah dianggap mendapatkan 'baptis'
seperti di agama yang lain, maka kalau seorang umat Buddha mendapatkan
pertanyaan tentang Dhamma yang tidak dimengertinya, ia akan selalu berusaha untuk
mencari jawabannya. Ia merasa malu sebagai upasaka atau upasika tidak mengerti
akan Ajaran Sang Buddha. Secara bertahap, akan tumbuh dalam dirinya rasa
tanggung jawab moral untuk terus mempelajari dan melaksanakan Buddha Dhamma.
Inilah beberapa manfaat yang bisa diperoleh dengan melaksanakan visudhi upasaka
upasika yang hanya ada di Indonesia.
Semoga hal ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

34. Dari: Hendra, Jakarta
Namo Buddhaya
Banthe, saya sudah menikah tapi belum mendapat keturunan, andaikan saya tidak
mendapat keturunan, apakah ini merupakan karma baik atau merupakan karma
buruk?
Andaikan ini merupakan buah dari karma baik, maka akan saya terima dengan suka
cita, tapi andaikan ini merupakan buah dari karma buruk, adakah perbuatan baik yang
dapat saya lakukan untuk meredam buah dari karma buruk tersebut?
Karma apakah yang telah saya perbuat sehingga memungkinkan saya belum/tidak
mendapat keturunan..?
Demikian pertanyaan saya Banthe,mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan
Sabbe Satta Bhavantu Sukhittata
sadhu,sadhu,sadhu

Jawaban:
Perkawinan dalam pengertian Buddhis sebenarnya adalah merupakan persatuan dua
pribadi yang berbeda untuk saling memberikan kebahagiaan kepada pasangannya.
Dalam Sigalovada Sutta telah disebutkan berbagai macam kewajiban dasar sebagai
suami-istri agar dapat memberikan kebahagiaan kepada pasangannya tersebut. Dalam
sutta tersebut, tidak disebutkan adanya kewajiban memiliki keturunan ataupun anak.
Sebenarnya, melahirkan anak adalah merupakan konsekuensi logis suatu perkawinan,
namun bukan merupakan tujuan utama suatu perkawinan dibangun bersama. Oleh
karena itu, dalam janji perkawinan, tidak pernah diketemukan adanya janji yang
menyatakan bahwa kalau pasangan tidak mempunyai anak maka pasangan yang lain
berhak menceraikan ataupun mencari pasangan baru. Tidak ada janji perkawinan
seperti itu. Kalaupun ada pasangan yang memilih berpisah karena tidak memiliki
keturunan, hal itu disebabkan karena mereka lebih cenderung di dorong oleh
keakuannya yang tinggi, bukan karena menyadari tujuan perkawinan adalah untuk
memberikan kebahagiaan kepada pasangannya.
Kalau suatu pasangan yang sudah lama berkeluarga namun tidak mempunyai anak
sebagai konsekuensi logis perkawinan, maka hal ini akan disebut sebagai karma baik
atau buruk adalah tergantung dari sudut pandangnya sendiri. Tidak mempunyai
keturunan atau anak adalah suatu peristiwa yang netral. Dianggap karma baik
adalah karena hal itu memang sesuai dengan keinginan yang ada dalam dirinya.
Sedangkan, dianggap sebagai karma buruk juga karena memang mereka sendiri tidak
diharapkan kehadiran anak itu. Jadi, semuanya tergantung diri sendiri, khususnya
tergantung cara berpikir masing-masing pasangan.
Karena kondisi tidak mempunyai anak ini adalah hal yang netral, maka usaha yang
dilakukan pasangan untuk mempunyai anak lebih cenderung bersifat mengikuti tradisi
setempat daripada sesuai dengan Buddha Dhamma. Salah satu tradisi di masyarakat
ada yang menyarankan orang yang belum mempunyai anak untuk menjadikan anak
orang lain seolah sebagai anaknya sendiri. Anak itu diminta untuk memanggil mereka
sebagai 'ayah dan ibu' sedangkan kepada orangtuanya sendiri si anak bisa memanggil
'papa dan mama'. Hal ini bisa berlangsung sampai si anak tersebut berusia 17 tahun
atau lebih, sesuai dengan kesepakatan antar kedua orangtua. Dalam banyak kasus,
cara seperti ini dapat memberikan hasil yang positif.
Selain cara tradisi, ada juga pasangan yang mempergunakan cara medis yaitu dengan
mengikuti program bayi tabung yang banyak diadakan di berbagai rumah bersalin di
kota besar. Dengan mengikuti program ini, banyak pasangan juga dapat memperoleh
hasil yang sesuai dengan harapan mereka.
Namun, hal yang paling penting di sini adalah mempersiapkan pikiran sendiri bahwa
mempunyai keturunan bukanlah tujuan utama perkawinan. Anak hanyalah
konsekuensi logis suatu perkawinan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan kepuasan dan ketenangan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

35. Dari: Indra,
Namo Buddhaya, Bhante...
Kita tahu bahwa perbuatan buruk dapat dilakukan oleh perbuatan, ucapan, dan
pikiran. Jika kejahatan dilakukan oleh perbuatan (spt membunuh) dan oleh ucapan
(spt memfitnah)itu termasuk sebagai pelanggaran sila, tetapi perbuatan jahat yang
dilakukan oleh pikiran itu apakah juga termasuk pelanggaran sila? dan bagaimana
karma buruknya?
Misalnya ia berfikiran curiga, pikiran untuk menyakiti orang lain, atau pikiran yang
kotor (maaf. mesum atau cabul)
Jika ada orang yang selalu melakukan perbuatan buruk melalui pikiran,
bagaimanakah cara untuk mengatasinya, atau menghilangkannya Bhante?

Jawaban:
Dalam Dhamma dikenal adanya tiga saluran pembuat karma yaitu dengan badan,
ucapan, dan pikiran. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dipikirkan sudah termasuk
melakukan karma. Kalau memikirkan hal yang baik, misalnya ia akan menolong
orang, maka ia sudah menanam karma baik lewat pikirannya. Sedangkan, kalau ia
berpikir yang buruk, misalnya ia ingin memukul musuhnya, maka ia sudah
melakukan karma buruk melalui pikirannya.
Semua karma yang dilakukannya, baik dengan badan, ucapan maupun pikiran pasti
akan mendapatkan buah karmanya. Pelaku kebajikan akan mendapatkan
kebahagiaan,sedangkan pelaku kejahatan pasti akan mendapatkan penderitaan. Hanya
saja, bentuk dan jenis buah karma yang akan diterima oleh seseorang tidaklah mudah
untuk dibahas dan ditentukan. Seseorang yang berpikir negatif kepada orang lain,
tidak harus buah karmanya menjadikannya sering dipikir negatif pula oleh orang lain.
Belum tentu seperti itu. Buah karma yang diterima seseorang lebih cenderung bersifat
kumpulan dari berbagai perilakunya, bukan berbuah satu demi satu perbuatan.
Untuk mengatasi timbulnya pikiran yang buruk, orang hendaknya tekun melakukan
latihan kesadaran dalam konsentrasi yang sering disebut dengan latihan meditasi.
Latihlah konsentrasi secara rutin dengan merasakan masuk keluarnya pernafasan yang
melewati hidung selama paling sedikit 15 menit setiap pagi dan sore. Pusatkan
seluruh pikiran pada pengamatan proses masuk dan keluarnya pernafasan tersebut.
Apabila pikiran memikirkan hal yang lain, maka hendaknya hal itu segera disadari
dan dikembalikan kepada perhatian proses pernafasan tersebut. Lakukan hal ini terus
menerus. Lama kelamaan,waktu yang dipergunakan untuk mengamati proses
pernafasan akan lebih lama dibandingkan dengan pikiran memikirkan hal yang lain
itu. Kalau sudah demikian, konsentrasi pada nafas ini bisa dikembangkan menjadi
konsentrasi terhadap segala sesuatu yang sedang dikerjakan oleh badan, maupun
ucapan yang peningkatan latihan ini akan dibantu dengan pelaksanaan Pancasila
Buddhis. Bahkan, lama kelamaan, orang akan bisa memperhatikan timbul dan
tenggelamnya berbagai bentuk pikirannya sendiri. Pada saat seperti itulah, maka
orang akan bisa menghindarkan pikiran buruk yang muncul dan bisa mengembangkan
pikiran baik agar selalu muncul.
Sebelum orang mencapai tahap ini, adalah hal yang normal kalau dalam dirinya bisa
muncul pikiran buruk, yang memang bukan termasuk pelanggaran salah satu dari
kelima sila. Namun, yang penting, orang hendaknya bisa selalu mengendalikan
dirinya agar pikiran buruk itu tidak perlu dikatakan, apalagi dilakukan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

36. Dari: Djony Supardi, Toronto, Canada
Apakah beragama Buddha mempercayai adanya Tuhan?
Kalau percaya- ada - dimana dapat kita baca atau mendapatkan informasinya?.
Kalau percaya - tidak ada - kenapa?.
Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:
Masalah konsep Ketuhanan ini memang merupakan hal yang paling sering
dipertanyakan, khususnya untuk orang Indonesia yang terbiasa membicarakan dan
membahas pengertian Tuhan sejak masih kecil. Padahal, dalam pengertian Agama
Buddha, hal ini dipandang dari sudut yang sangat berbeda. Agar mendapatkan
gambaran yang lebih lengkap, website Samaggi Phala telah memuat buku yang
menjelaskan konsep Ketuhanan tersebut pada:
http://www.samaggiphala.
or.id/naskahdamma_dtl.php?id=70&cont=ketuhanan1.html&path=naskahdham
ma&multi=Y&hal=1&hmid=215
Silahkan baca dan pelajari dengan baik-baik artikel tersebut, semoga hal itu dapat
menjawab berbagai pertanyaan di atas.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

37. Dari: Dedy, Gresik
Saya pernah membaca buku 'Milinda Panha', di situ ada pertanyaan dari Raja Milinda
kepada Y.M. Nagasena tentang seberapa jauh jarak alam Brahma dari bumi. Bhante
Nagasena menjawab yang menurut interpretasi saya, jawaban tersebut seolah-oleh
alam Brahma berdimensi sama dengan bumi kita, karena di jawaban bhante Nagasena
disebutkan jaraknya.
Bagaimana penjelasan Bhante tentang hal ini?

Jawaban:
Sepintas kalau membaca dialog tersebut memang akan timbul pemikiran seperti yang
Anda sampaikan di atas. Benar sekali. Namun, sebaiknya, orang juga membaca secara
lengkap dialog tersebut dan direnungkan secara mendalam.
Dari memperhatikan keseluruhan dialog, maka akan dapat dimengerti bahwa menurut
penjelasan Bhante Nagasena, alam Brahma diibaratkan berada di tempat jauh yang
tidak terkira, namun bisa dengan cepat dicapai oleh orang tertentu. Hal ini seolah
menjelaskan kepada kita bahwa alam Brahma tersebut ada dalam perbedaan dimensi
ruang, yang tidak harus dibatasi dengan jarak, mungkin karena berbeda frekuensi atau
dimensinya. Dengan demikian, tampaknya alam itu sangat jauh, namun juga bisa
menjadi sangat dekat dengan alam manusia.
Agar lebih jelas dialog tersebut, akan dikutipkan di sini dari dari buku 'Perdebatan
Raja Milinda' terbitan Sangha Theravada Indonesia tahun 1995 halaman 28-29.
"Seberapa jauhkah alam Brahma itu?"
"Sangat jauh, O Baginda; dari alam Brahma sebongkah batu besar membutuhkan
waktu 4 bulan untuk mencapai tanah meskipun batu itu jatuh 48.000 league tiap hari."
"Tetapi, bagaimanakah seorang bhikkhu dapat begitu cepat pergi ke sana dengan
kekuatan kesaktiannya?"
"Dimanakah Baginda dilahirkan?
"Ada sebuah pulau bernama Alasanda; saya dilahirkan di sana."
"Berapa jauhnya dari sini?"
"Sekitar 200 league."
"Dapatkah Baginda mengingat apapun yang Baginda lakukan di sana?"
"Ya."
"Begitu cepatnya Baginda menempuh 200 league. Sama seperti itulah seorang
bhikkhu dapat mencapai alam Brahma dengan kekuatan kesaktiannya."
"Jika seseorang meninggal dunia dan kemudian terlahir di alam Brahma, serta pada
saat yang sama seseorang lain yang meninggal dunia dan kemudian terlahir di
Kashmir, siapakah yang akan sampai terlebih dahulu?"
"Berapa jauhkah kota kelahiran Baginda dari sini?"
"200 league."
"Dan berapa jauhkah Kashmir?"
"12 league."
"Manakah diantaranya yang lebih cepat Baginda ingat?"
"Keduanya sama, Yang Mulia."
"Demikian juga, O Baginda, orang-orang yang meninggal pada saat yang sama itu
akan terlahir pada saat yang sama pula."
Semoga dengan membaca kembali dan merenungkan secara mendalam kedua dialog
di atas akan dapat membantu memahami bahwa Alam Brahma tidak harus memiliki
dimensi ruang yang sama dengan bumi ini sehingga bisa terukur jaraknya.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

38. Dari: Dedy, Gresik
Sang Buddha pernah mengajarkan Abhidhamma di surga Tavatimsa kepada ibu
Beliau selama tiga bulan.
Yang menjadi pertanyaan saya, waktu tiga bulan tersebut adalah waktu di bumi atau
waktu di surga? Kalau di waktu di bumi, berarti di surganya cuma beberapa detik
saja, tetapi kalau waktu surga tidak mungkin menurut saya.
Tolong dijelaskan.

Jawaban:
Dalam Dhamma diketahui bahwa Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma di alam
surga Tavatimsa selama tiga bulan itu adalah menurut perhitungan waktu manusia di
bumi. Hal ini dapat dibaca dari buku "Riwayat Hidup Buddha Gotama" susunan
Maha Pandita S. Widyadharma tahun 1999 halaman 132. Untuk jelasnya akan
dikutipkan di sini sebagian isinya:
Tahun ke tujuh
Sang Buddha mengunjungi surga Tavatimsa. IbuNya, almarhumah Ratu Maya,
bersama para dewi lainnya diberi pelajaran Abhidhamma, selama tiga bulan Sang
Buddha bervassa di surga tersebut.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa para bhikkhu sebagai pengelana sejak
Sang Buddha masih hidup sampai sekarang, mempunyai tradisi untuk tiga bulan
selama masa penghujan tinggal di satu tempat hingga tibanya masa Kathina. Masa
yang dipergunakan untuk tinggal di satu tempat selama musim penghujan inilah yang
disebut masa vassa.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

39. Dari: Dedy, Gresik
1. Bhante, bagaimana pendapat Bhante tentang keberadaan Nyai Roro Kidul yang
sangat terkenal di tanah Jawa ini bila dijelaskan dengan konsep Buddhis. Apakah
beliau ini dewi atau mahluk lain?
2. Saya pernah melihat foto Bhante dan Bhante Dhammavijayo di Thailand yang
berpose dengan patung-patung lilin yang aslinya warna hitam tapi muncul di foto
terlihat berwarna kuning emas dan ada satu patung yang menoleh ke arah Bhante
padahal aslinya tidak.
Bagaimana hal tersebut bisa terjadi demikian?
3. Apakah 'hati' dan 'pikiran' itu sama?
4. Selama Bhante menjadi siswa Sang Buddha (memasuki Sangha), Ajaran Sang
Buddha yang sangat membuat Bhante terkesan adalah Ajaran tentang apa?

Jawaban:
1. Tentang Nyai Roro Kidul, menurut pendapat saya, beliau adalah termasuk mahluk
Asura yang tinggal dan berkuasa di lautan luas, yang dalam hal ini Samudra Hindia.
Hal ini dengan asumsi atau dugaan bahwa memang mahluk itu ada dan bukan hanya
sekedar cerita rakyat.
Dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan tentang perilaku beliau yang kadang terasa
kurang bijaksana untuk sebagian orang, misalnya saja mengkondisikan manusia
meninggal di laut. Hal ini adalah merupakan salah satu ciri yang menunjukkan bahwa
beliau bukanlah dewi.
2. Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab adanya perubahan bentuk patung
lilin yang ada difoto dengan aslinya. Kalau Anda mempunyai pendapat, silahkan
disampaikan kepada kami. Anumodana atas masukkannya.
3. Manusia dalam pengertian Buddhis terdiri dari badan dan batin. Batin terdiri dari
perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Jadi, pikiran adalah merupakan bagian dari
batin, sedangkan 'hati' adalah bagian dari anggota badan atau organ tubuh yang bisa
diterangkan fungsinya secara medis.
4. Ajaran Sang Buddha yang mengesankan bagi saya adalah tentang kebebasan
berpikir agar selalu terlebih dahulu merenungkan serta membuktikan suatu ajaran
walaupun hal itu disampaikan oleh orang yang dihormati sekalipun. Selain itu,
nasehat Sang Buddha tentang: "Jangan karena marah dan benci mengharap orang lain
celaka", juga merupakan sikap hidup yang sangat mengesankan untuk dijadikan
pedoman hidup.
Itulah beberapa jawaban yang kiranya dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

40. Dari: Hadi, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante,bagaimana karma seorang tentara dalam medan perang yang disatu sisi ia
harus membunuh musuhnya tetapi disisi lain ia harus membela negaranya.
Terima kasih

Jawaban:
Karma adalah niat, semakin terpaksa orang melakukan suatu kebajikan ataupun
keburukan, maka buah karma yang harus diterimanya pun menjadi semakin kecil.
Seorang tentara yang harus membunuh musuhnya demi membela negara dan terutama
mempertahankan dirinya adalah mempunyai karma buruk yang relatif lebih kecil
dibandingkan kalau ia membunuh musuhnya yang ia temui di jalan dekat rumahnya.
Pembunuhan di medan perang adalah karena terpaksa dilakukan, sedangkan
membunuh musuh di dekat rumahnya adalah merupakan perbuatan yang seharusnya
bisa dihindarkan. Namun, mungkin karena kebenciannya sudah amat tinggi, maka
pembunuhan musuh di dekat rumahnya itupun dilakukannya. Padahal, seharusnya
masih ada alternatif lain selain membunuh musuhnya itu. Inilah yang menyebabkan
karma buruknya lebih besar daripada membunuh musuh di medan perang.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

41. Dari: Hendra, Jakarta
Salam,
Saya dilahirkan dalam keluarga yang cukup, dimana saya bisa sekolah, makan, tidur
dengan cukup. Tetapi setelah saya memilih jalan hidup sbg seorang Buddhist, seolaholah
saya merasa menderita dalam batin. Saya mempunyai keinginan untuk
bervegetarian, hidup sederhana, membantu kegiatan dalam vihara,tetapi orang tua
saya melarangnya.
Kadang saya berpikir, mungkin saya dulu melakukan hal yang buruk sehingga kena
karmanya. Untuk membina diri saja, saya banyak hambatan. Kalau hambatan dari
luar mungkin saya bisa mengatasi, tetapi hambatan justru datang dari dalam keluarga.
Saya minta saran atau usul kepada Bhante, saya harus melakukan banyak amal apa
supaya dalam kegiatan kita membina diri dapat lancar tanpa menyinggung perasaan
orang tua atau keluarga.
Terima kasih.

Jawaban:
Mengenal Ajaran Sang Buddha dan berusaha melaksanakan dalam kehidupan seharihari
adalah merupakan perbuatan yang sangat baik dan terpuji. Namun, praktek
Dhamma ini hendaknya tidak membuat adanya penderitaan dalam batin sendiri
maupun orang lain. Kalau sampai terjadi demikian, maka tentulah pelaksanaan
Dhamma nya kurang sesuai atau tidak didasari kebijaksanaan. Artinya, dalam
melaksanakan Buddha Dhamma, seseorang hendaknya bisa selalu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, bukan hanya ingin memaksakan kehendak. Memang hal ini
perlu disesuaikan untuk setiap keadaan. Namun, pada prinsipnya, segala sesuatu yang
dikerjakan seseorang membutuhkan waktu untuk dimengerti oleh orang lain.
Ingin vegetarian, hidup sederhana serta banyak kegiatan sosial adalah baik, hanya
saja, kalau seseorang masih belum mandiri karena masih ikut dengan orangtua, maka
ada baiknya sebagai seorang anak mengikuti terlebih dahulu kemauan orangtuanya.
Keinginan yang akan dilakukan oleh anak bisa ditunda dahulu sampai dapat
memberikan kesenangan kepada orangtuanya terlebih dahulu. Kalau semua tugas dan
kewajiban untuk membahagiakan orangtua dan keluarga sudah selesai, maka bolehlah
pada waktu itu melakukan berbagai kegiatan seperti yang diinginkan.
Selama masih tinggal dan hidup bersama dengan orangtua, maka kegiatan praktek
Dhamma bisa dilakukan dengan cara yang lain, misalnya saja: berbakti kepada
orangtua, merawat dan membantu orangtua, mengenalkan Buddha Dhamma kepada
orangtua. Dengan sikap dan perilaku yang baik kepada orangtua ini, maka orangtua
lama kelamaan akan bisa memahami cara hidup anak. Kalau orangtua sudah bisa
memahami maka ada kemungkinan dalam waktu yang relatif singkat, orangtua akan
mengijinkan anaknya mempraktekkan Dhamma dalam bentuk vegetarian, hidup
sederhana maupun banyak melakukan kegiatan di vihara.
Semoga masukan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B.Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

42. Dari: Indra,
Namo Buddhaya, Bhante...,
saya ingin bertanya, apakah Buddhayana itu? Apakah sebagai sekte sendiri ataukah
campuran dari semua sekte? Kenapa ada vihara Buddhayana?
Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:
Pertanyaan ini sebaiknya ditanyakan langsung kepada para pengurus ataupun tokoh
Buddhayana di vihara Buddhayana yang Anda ketahui tersebut.
Kalau saya yang memberikan jawaban, mungkin malah bisa terjadi kekeliruan atau
ketidaklengkapan dalam memberikan informasinya.
Harap keterbatasan ini bisa dimaklumi.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

43. Dari: Susan, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante
Mengenai kelahiran kembali, apakah pada kelahiran kembali dapat terjadi pergantian
gender? Maksud saya, apakah pria bisa terlahir menjadi wanita atau sebaliknya? Di
cerita Buddhist cenderung kelahiran kembali itu pria menjadi pria dan begitu juga
dengan wanita.
Terima kasih, Bhante

Jawaban:
Dalam proses kelahiran kembali, satu mahluk mempunyai kemungkinan 50% untuk
menjadi pria ataupun wanita. Tidak ada keharusan bahwa mahluk yang pernah
dilahirkan sebagai pria akan terus menerus terlahir menjadi pria, ataupun sebaliknya.
Lahir sebagai pria atau wanita adalah tergantung karma yang dimiliki ketika ia dalam
proses awal kelahiran kembali. Pernah diterangkan dalam Dhamma bahwa penyebab
seseorang terlahir sebagai pria adalah karena ia mempunyai kesempatan untuk
memetik buah karma baik, sedangkan seseorang terlahir sebagai wanita adalah karena
ia mempunyai kesempatan untuk menanam karma baik. Hanya saja dalam Dhamma
terlahir sebagai pria atau wanita bukanlah hal yang penting. Hal yang paling penting
sebagai manusia adalah mempergunakan waktu dan kesempatan hidup baik sebagai
pria maupun wanita untuk mengembangkan kebajikan, mengurangi kejahatan dan
membersihkan pikiran dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin yang disebut
mencapai kesucian atau Nibbana.
Semoga keterangan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

44. Dari: Indra,
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin bertanya, apakah pencerapan itu? Apakah dia bagian dari batin kita?
Terima kasih atas jawabannya bhante...

Jawaban:
Manusia terdiri dari badan dan batin. Batin diterangkan dalam Dhamma terdiri dari
perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Kelima unsur inilah yang membentuk
manusia.
Istilah "pencerapan" sering untuk menerjemahkan bagian batin yang disebut dengan
sannya atau yang lebih dikenal sebagai 'ingatan'.
Jadi, pencerapan atau ingatan atau sannya ini adalah merupakan bagian dari batin
manusia.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

45. Dari: Dedy, Gresik
Namo Buddhaya,
Bhante, dengan meditasi katanya bisa melihat masa lampau ataupun masa depan.
Kalau benar seperti itu, sangatlah mungkin bagi seseorang yang meditasinya bagus
untuk mengecek balik keberadaaan Sang Buddha di masa lalu sebagai pembuktian
apakah keberadaan Sang Buddha hanya sebagai legenda "manusia ideal" ataukan
memang benar-benar ada. Begitu juga dengan keberadaan 'nabi' ex agama lain yang
diclaim sebagai mahluk suci saat ini bertumimbal larir di alam kehidupan yang mana?
Kalau hal ini benar, maka kitab suci Tipitaka benar-benar valid /terbukti? Karena
setahu saya di kitab suci agama lain tidak ada ajaran yang bisa dipakai untuk
membuktikan kebenaran kitab itu sendiri selagi kita masih hidup.
Sebelumnya, terima kasih.

Jawaban:
Meditasi yang pada dasarnya melatih konsentrasi pikiran memang dapat
menghasilkan beberapa kemungkinan kemampuan batin. Ada beberapa orang
memang mempunyai kemampuan untuk melihat kehidupan yang lampau dan juga
kehidupan yang akan datang sebagai 'hasil sampingan' latihan meditasi. Dikatakan
sebagai 'hasil sampingan' karena memang tujuan meditasi Buddhis bukanlah untuk
hanya 'sekedar' melihat kehidupan lampau maupun kehidupan yang akan datang saja.
Apabila dengan latihan meditasi, seseorang memang sudah bisa melihat kehidupan
lampau, ia akan memiliki kemungkinan untuk membuktikan kebenaran keberadaan
Sang Buddha sebagai tokoh sejarah yang memang benar-benar pernah ada di dunia
ini. Kemampuan meditasi seperti ini jelas juga bisa dipergunakan untuk melihat
kehidupan para 'nabi' di masa lalu maupun di alam kehidupannya yang sekarang.
Hanya saja, sekali lagi, hal itu bukanlah merupakan tujuan utama seorang umat
Buddha mempelajari dan melatih meditasi. Meditasi sesungguhnya adalah merupakan
sarana untuk melatih pikiran agar dapat lebih mudah dikendalikan dari berbagai
gerakan pikiran yang berdasarkan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Sedangkan untuk memiliki kemampuan agar dapat melihat kehidupan lalu, telah ada
beberapa metoda praktis yang diketemukan oleh orang-orang yang justru bukan umat
Buddha. Mereka telah membuktikan kebenaran Ajaran Sang Buddha tentang
kelahiran kembali. Salah satu buku tentang kelahiran kembali yang cukup terkenal
dewasa ini adalah "Panduan praktis untuk menyingkap kehidupan masa lalu"
yang disusun oleh Richard Webster seorang hipnoterapis dari Selandia Baru. Buku
yang sederhana namun bisa untuk membuktikan adanya kelahiran kembali untuk diri
kita sendiri maupun orang lain ini dengan mudah dapat diperoleh di toko buku
terkenal di sekitar tempat Anda tinggal dengan petunjuk katalog: "Past Life
Memories".
Sedangkan untuk melakukan pembuktian keberadaan Sang Buddha sebagai tokoh
sejarah telah ada pula VCD yang diterbitkan oleh BBC dari London dengan judul
Life of Buddha yang telah diberi teks Bahasa Indonesia. VCD ini juga dengan
mudah dapat diperoleh di toko VCD terdekat dengan tempat Anda tinggal.
Dengan demikian, orang sudah tidak perlu susah-susah lagi untuk mempelajari
meditasi guna mendapatkan pembuktian keberadaan Sang Buddha. BBC telah
melakukan pembuktian berdasarkan penyelidikan arkeologi yang valid dan bisa
dipercaya.
Silahkan Anda cari buku dan VCD tadi untuk menambah pengetahuan dan
pengalaman Anda.
Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

46. Dari: Dedy, Gresik
Namo Buddhaya,
Bhante, saya punya masalah dengan cara menagih hutang yang efektif dan sesuai
dengan Dhamma. Terus terang saya tidak punya bukti tertulis, hanya kepercayaan
saja kepada dia. Kebetulan dia sekarang lagi menghilang karena suatu kasus tapi
bukan karena kasus hutang saya. Dan sekarang saya cuma bisa berhubungan dengan
orangtuanya saja yang katanya anaknya memang ada ngomong soal hutang tersebut.
Orangtuanya menurut saya susah diajak kompromi. Dia selalu mencari alasan secara
halus. Padahal kondisinya menurut saya, Dia mampu membayar. Untuk Bhante
ketahui saya tidak pernah menempuh cara-cara yang keras. Karena saya yakin akan
Hukum Karma. Tapi sampai sekarang masih belum berhasil.
Mohon saran Bhante.

Jawaban:
Seorang umat Buddha mempunyai kewajiban untuk menagih hutang yang memang
telah menjadi haknya. Ketegasan menagih hutang ini bukan merupakan bentuk
kemelekatan pada uang yang dipinjamkan kepada orang lain, melainkan sebagai
bagian dari usaha untuk menjaga kekayaan yang telah dimiliki.
Dalam Dhamma telah diuraikan adanya beberapa penyebab yang dapat membuat
kekayaan seseorang menjadi hancur seperti yang disebutkan dalam Anguttara Nikaya
II, 40:
1. Barang /uang yang hilang tidak dicari
2. Barang rusak tidak diperbaiki
3. Boros menggunakan kekayaan
4. Memperkerjakan orang yang buruk silanya
Namun, karena Anda tidak mempunyai bukti tertulis yang akan memperkuat tagihan
Anda tersebut, maka hendaknya Anda mempergunakan cara kekeluargaan untuk
dapat menyelesaikan masalah piutang ini. Dekatilah orangtuanya baik-baik, minta
tolonglah kepada mereka untuk bisa membantu menyelesaikan masalah hutang
piutang anaknya tersebut. Walaupun orangtuanya kurang bisa diajak kompromi,
sebaiknya Anda bersikeras meminta hak Anda tersebut dengan tetap mempertahankan
prinsip kekeluargaan.
Namun, apabila usaha keras ini tidak juga bisa menyelesaikan masalahnya, maka
hendaknya ditempuh jalur yang lebih halus yang merupakan bagian dari tradisi
Buddhis, bukan menurut kitab suci Tipitaka. Cara yang halus ini adalah dengan
mengembangkan pikiran cinta kasih. Pengembangan pikiran cinta kasih ini bisa
dilakukan paling sedikit selama 15 menit setiap malam sebelum Anda tidur. Pada saat
akan tidur, pusatkan pikiran Anda untuk mengingat dengan baik detail wajah orang
yang mempunyai pinjaman tersebut. Setelah wajah itu jelas terbayang dalam pikiran
Anda, maka katakanlah dalam diri Anda kalimat:"Semoga ia bahagia. Semoga ia
bahagia. Semoga ia bahagia dengan mau dan mampu membayar hutangnya kepada
saya. Semoga ia bahagia. Semoga semua mahluk berbahagia."
Dengan sering mengucapkan kalimat ini sebelum tidur dan bahkan sesering mungkin
di sepanjang hari, semoga masalah ini dapat segera diselesaikan dengan membawa
kebaikan dan kebahagian untuk semua fihak. Semoga demikianlah adanya.
Semoga Anda selalu berbahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

47. Dari: Januarto, Pangkalpinang
Namo Buddhaya Bhante
Saya pernah membaca salah satu forum tanya jawab di salah satu website Buddhis
yang diasuh oleh Bhante juga. Pertanyaan yang saya baca itu mengenai anal sex
menurut pandangan agama Buddha.
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana pandangan agama Buddha terhadap hubungan
sejenis seperti kaum Gay atau lesbi apakah termasuk suatu perbuatan yang melanggar
sila.
Terima kasih atas jawabannya.
Namo Buddhaya

Jawaban:
Pancasila Buddhis adalah merupakan lima latihan kemoralan yang hendaknya
dilaksanakan setiap saat oleh para umat Buddha. Kelima latihan kemoralan itu adalah
latihan untuk tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berjinah, tidak bohong dan tidak
mabuk-mabukan. Khusus untuk pelaksanaan sila ketiga yaitu tidak melakukan
perjinahan, maka harus dikenali terlebih dahulu obyek perjinahan seperti yang
terdapat dalam Anggutara Nikaya V, 266 yang menyebutkan antara lain adalah:
1. Anak dibawah umur
2. Pasangan hidup orang lain
3. Orang hukuman
4. Saudara kandung
5. Orang yang melaksanakan sila (samanera, bhikkhu)
Sedangkan organ seksual yang dikenal dalam Dhamma adalah:
1. Mulut
2. Alat kelamin
3. Anus
Dengan mempergunakan salah satu atau lebih dari ketiga organ seksual ini kepada
obyek perjinahan yang telah disebutkan di atas, maka orang itu termasuk telah
melakukan pelanggaran sila ketiga.
Hubungan seksual yang dilakukan dengan anus atau lebih dikenal sebagai anal seks,
sejauh dilakukan dengan obyek yang bukan termasuk obyek pelanggaran seksual
yang telah disebutkan di atas, tidaklah tergolong pelanggaran sila ketiga.
Hubungan seks dengan sesama jenis kalau dilihat dari obyek pelanggaran seks di atas
memang tidak termasuk di dalamnya, hanya saja, untuk menentukan kriteria sebagai
pelanggaran sila ketiga ataupun bukan, hal ini tentunya perlu dilakukan studi kitab
suci Tipitaka yang lebih mendalam oleh para ahlinya. Kemudian, para pemuka agama
Buddha sedunia hendaknya dapat bersama-sama merumuskan pandangan Buddhis
berdasarkan Kitab Suci Tipitaka terhadap hubungan sesama jenis tersebut.
Semoga jawaban ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang pandangan
Dhamma terhadap hubungan sejenis.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

48. Dari: Joe, Surabaya
Bagaimana caranya kita merubah kecenderungan2 negatif yg ada pada kita?
Apakah kita akan terus menerus [ber-tumimbal-lahir], apakah tidak bisa kita
mengalami karma baik yg sifatnya memotong itu?
Kenapa karma buruk berat langsung memotong? Apa bisa dipotong kembali dengan
karma baik berat? terima kasih bhante.

Jawaban:
Untuk mengubah kecenderungan negatif yang dimiliki oleh seseorang hendaknya ia
rajin melatih diri dalam pelaksanaan kemoralan dan konsentrasi. Latihan kemoralan
adalah merupakan latihan untuk mengendalikan ucapan dan perbuatan badan. Latihan
kemoralan ini paling tidak, ada lima latihan dasar yang termasuk dalam Pancasila
Buddhis. Kelima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh, tidak
mencuri, tidak berjinah, tidak bohong dan tidak mabuk-mabukan.
Karena manusia melakukan suatu perbuatan bukan hanya dengan ucapan dan
badannya saja, melainkan juga melalui pikirannya, maka orang hendaknya juga
melatih konsentrasi agar pikirannya dapat dibebaskan pula dari kecenderungan
negatif yang telah ada. Sebenarnya kecenderungan negatif ini muncul karena pikiran
yang didasari dengan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Untuk bisa
mengenali segala gerak gerik pikiran itu, maka orang hendaknya secara rutin dan
disiplin melatih konsentrasi dengan obyek tertentu, misalnya mengamati proses
masuk dan keluarnya pernafasan. Apabila pikiran menyimpang dari obyek dan
memikirkan hal lain karena adanya ketamakan, kebencian atau kegelapan batin itu,
maka hendaknya hal ini segera disadari dan dikembalikan pada perhatian proses
pernafasan lagi. Demikian seterusnya.
Lama kelamaan, gerak gerik pikiran akan lebih mudah dikenali. Orang akan mampu
lebih lama memegang obyek konsentrasi. Kalau sudah mencapai tahap ini, maka
pikiran kemudian diarahkan untuk mengamati segala tindakan, ucapan maupun
pikiran itu sendiri. Kalau hal ini pun sudah mahir dikerjakannya, maka orang tersebut
akan bisa mengurangi dan bahkan melenyapkan segala kecenderungan negatif yang
dimilikinya. Orang yang sudah mampu menghilangkan sama sekali kecenderungan
negatif dari pikiran, ucapan dan perbuatan badannya, maka orang seperti itulah yang
disebut telah mencapai kesucian atau terbebas dari ketamakan, kebencian dan
kegelapan batin. Orang itu telah mencapai Nibbbana atau kesucian dalam Dhamma.
Apabila seseorang telah mencapai kesucian karena telah dapat melenyapkan
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin dari pikirannya, maka ia tidak akan
terlahir kembali di alam manapun juga. Kematiannya sebagai manusia saat ini adalah
merupakan kematian yang terakhir. Lingkaran kelahiran kembali telah dipatahkannya.
Inilah merupakan karma baik yang sangat berat yang tidak akan bisa digoyahkan oleh
segala bentuk karma lainnya. <BR
Oleh karena itu, dalam Dhamma dikenal adanya dua jenis karma yang sangat berat,
yaitu karma baik dan karma buruk.
Karma buruk yang paling berat sehingga buahnya akan langsung terlahir di alam
Neraka Avici atau Neraka yang paling menderita setelah kematiannya saat ini adalah:
1. Membunuh ayah
2. Membunuh ibu
3. Melukai seorang Buddha
4. Membunuh arahat
5. Memecah belah sangha
Sedangkan karma baik yang paling besar adalah:
1. Mencapai jhana dalam samatha bhavana atau meditasi ketenangan.
Pencapaian Jhana ini akan menyebabkan orang yang mencapainya langsung terlahir
di alam Brahma setelah kehidupannya sebagai manusia. Alam Brahma adalah
merupakan alam yang lebih tinggi dan bahagia daripada alam surga.
2. Mencapai Nibbana dengan vipassana bhavana atau meditasi perenungan untuk
mencapai kebijaksanaan.
Orang yang telah mencapai Nibbana ini tidak akan terlahirkan kembali setelah
kehidupan ini berakhir. Orang yang telah mencapai Nibbana telah mampu
melenyapkan ketamakan, kebencian dan kegelapan batinnya.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

49. Dari: Juni, Jakarta
Saya mau tanya nih.Kalau kita sedang ada kesulitan atau ada masalah bisakah
terselesaikan atau dapat membantu dengan cara berdana?
Kalau tempat sembahyang yang di klenteng2 itu agama Buddha atau Kong Hu Cu ya?
Saya kadang kebaktian di Vihara tapi kadang ke klenteng. Kadang saya merasa ada
muzizat yang saya peroleh apabila sembahyang di klenteng.
Dan bagaimana dengan ciam si di klenteng? Bisa dipercaya ngak ?
(ciam si adalah: batang2 bambu yang ada nomor dan dikocok2 waktu sembahyang
sampai keluar nomor tsb dan dari nomor itu kita bisa ambil arti dari kertas itu di
Vihara tsb).
Jadi bagaimana menurut Bhante ? Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:
Kesulitan dalam kehidupan ini timbul karena matangnya buah karma buruk yang
dimiliki oleh seseorang pada satu waktu tertentu. Oleh karena itu, di saat seseorang
sedang menghadapi kesulitan, memang sesuai kalau ia disarankan untuk banyak
melakukan kebajikan. Kebajikan dapat dilakukan dengan berdana, melatih kemoralan,
dan meditasi. Jadi, memang berdana adalah salah satu cara menambah kebajikan
untuk mengurangi kesulitan yang sedang dihadapi seseorang. Namun, berdana itu
bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi kesulitan. Orang yang sedang dalam
kesulitan, hendaknya juga melakukan kemoralan yaitu dengan melaksanakan
Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis adalah lima latihan untuk tidak membunuh,
tidak mencuri, tidak berjinah, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Lebih dari
itu, ia hendaknya juga melakukan latihan meditasi. Meditasi pada prinsipnya adalah
latihan untuk selalu menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Masa lalu, seseorang
memang pernah hidup, namun ia sudah tidak hidup lagi di waktu itu. Waktu yang lalu
adalah tinggal kenangan. Masa yang akan datang adalah merupakan harapan yang
belum tentu dijalani karena belum tentu seseorang akan hidup di masa datang itu.
Hidup adalah masa kini. Saat ini. Dengan memiliki kesadaran ini, maka orang akan
terbebas dari kesulitan.
Kesulitan dapat muncul karena adanya perbandingan antara rencana atau angan-angan
dengan kenyataan yang ada. Semakin jauh jarak angan-angan dengan kenyataan,
maka orang menganggap hal itu sebagai kesulitan yang semakin besar.
Selain mengembangkan ketiga kebajikan yaitu dana, kemoralan dan meditasi, dalam
menghadapi kesulitan, seseorang hendaknya juga mencari penyebab kesulitan itu bisa
timbul. Mungkin, kesulitan timbul karena menejemen hidup yang kurang tepat, kalau
demikian, hal itu hendaknya segera diperbaiki. Bisa juga, kesulitan timbul karena
lingkungan pergaulan yang keliru, kalau demikian, hal itu harus segera diatasi. Jadi,
pada intinya, carilah penyebab kesulitan itu, dan kemudian perbaiki serta hindari hal
itu agar di masa depan tidak ada kesulitan sejenis yang muncul kembali.
Kelenteng adalah merupakan tempat ibadah menurut tradisi Tiongkok. Kelenteng
yang di dalamnya terdapat arca Buddha atau para bodhisattva Buddhis lainnya dapat
disebut sebagai vihara. Sedangkan kelenteng yang tidak terdapat arca Buddha
maupun bodhisattva, mungkin kelenteng itu adalah merupakan tempat untuk kegiatan
ritual menurut tradisi Tiongkok.
Seorang umat Buddha bisa saja pergi ke kelenteng dan berdoa di sana. Tidak masalah,
apalagi kalau memang dapat memperoleh manfaatnya.
Penggunaan dan manfaat ciam si sebenarnya tergantung pada karma masing-masing
individu yang melakukannya. Kalau memang karma baiknya mendukung, maka ciam
si yang diperolehnya cenderung ke arah yang baik. Sebaliknya, kalau memang karma
buruknya yang lebih unggul, maka ciam si yang diperolehnya juga cenderung
memiliki arti buruk. Jadi, ketepatan ciam si tergantung pada karma orang yang
menggunakannya.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

50. Dari: Hadianto, Jakarta
Namo Buddhaya
Bhante,saya ingin bertanya:
1. Apakah dalam Tipitaka ada disebutkan tentang Buddha Amitabha?
Kalau ada,sutta apa yg menjelaskan tentang Amitabha?
2. Melafalkan nama Buddha atau Bodhisatva merupakan karma baik(bagi umat awam
seperti saya)?
3. Bolehkah kita bersujud di altar Buddha rupang mengatasnamakan almahum/ah
Ortu.
Trims,
semoga semua mahluk berbahagia.

Jawaban:
1. Dalam Tipitaka Pali yaitu kitab suci Agama Buddha dengan tradisi India yang saya
pelajari, saya belum menemukan nama atau istilah Buddha Amitabha itu. Mungkin,
nama Buddha Amitabha itu terdapat dalam Tripitaka Sanskerta yang dipergunakan
sebagai kitab suci Agama Buddha aliran Tiongkok.
Oleh karena itu, untuk memperoleh keterangan yang lebih jelas dan tepat, Anda dapat
menanyakan kembali hal ini kepada para tokoh umat Buddha yang menggunakan
tradisi Tiongkok tersebut.
2. Melafalkan sebanyak mungkin setiap hari nama Buddha ataupun Bodhisattva
adalah merupakan karma baik lewat ucapan, perbuatan dan pikiran. Hal ini karena
selama seseorang melafalkan nama suci tersebut, pikiran, ucapan dan perbuatannya
akan selalu diarahkan untuk hal-hal yang baik. Kalau pelafalan ini membutuhkan
waktu 15 menit setiap harinya, maka selama itu pula seseorang telah mengumpulkan
kebajikan lewat badan, ucapan dan pikiran. Kalau hal ini rutin dilakukannya, maka
dalam satu bulan yang terdiri dari 30 hari, ia telah melakukan kebajikan tersebut
selama 450 menit atau 7,5 jam berturut-turut.
Apabila kebiasaan ini dilakukannya dengan tekun selama bertahun-tahun, maka
tentunya akan cukup banyak kebajikan yang ditimbunnya. Dengan demikian,
timbunan kebajikan ini akan bermanfaat untuk membawa seseorang terlahir di alam
bahagia atau surga setelah kehidupannya ini.
3. Seseorang boleh saja bersujud di altar Sang Buddha atas nama orangtuanya yang
telah meninggal dunia. Hal ini adalah merupakan kebajikan ganda. Disebut kebajikan
ganda karena pertama, si pelaku sendiri yang akan mendapatkan buah kebajikan ini
Kemudian yang kedua, setelah bersujud, orang bisa melakukan pelimpahan jasa
dengan mengucapkan tekad: "Semoga dengan kebajikan ini akan memberikan
kebahagiaan untuk almarhum orangtua." Dengan kalimat tekad ini kalau almarhum
orangtua terlahir di sekitar anaknya, maka mereka akan berbahagia dan
mengkondisikan mereka menimbun karma baik lewat pikirannya sendiri. Semakin
banyak mereka dikondisikan untuk menimbun kebajikan lewat pikirannya, maka
semakin cepat pula mereka terlahir di alam yang lebih bahagia sesuai dengan
kebajikan yang telah dimilikinya. Inilah kebajikan yang kedua.
Kalau orangtua akhirnya tidak terlahir di sekitar anaknya lagi, maka sujud si anak atas
nama orangtua itu tetap merupakan kebajikan lewat badan, ucapan dan pikirannya
yang akan ia petik sendiri buah kebahagiaannya apabila waktunya telah tiba. Oleh
karena itu, melakukan kebajikan dengan bersujud ke altar Sang Buddha atas nama
almarhum orangtua tersebut tidak akan pernah kering dari manfaat dan kebajikan.
Lakukan terus hal ini dengan penuh semangat.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar