Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB - 2

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (2)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

01. Dari: Ferry Liang, Yogyakarta
Sukhitta Hontu
Bhante saya mau tanya:
1. Dalam Buddhis, salam yang benar itu kita mengucapkan 'Namo Buddhaya' atau
'Sukkita Hontu'?
2. Saya mau minta objek yang paling baik untuk meditasi. Dalam hal emosi atau
tentang mengatasi masalah cinta agar saya bisa memahami cinta dengan benar,
dengan kebijaksanaan.
Terimakasih atas bantuan Banthe untuk diri saya. Sabbe Satta Bavanthu sukitata

Jawaban:
1. Salam Buddhis yang diucapkan bila seorang umat Buddha bertemu dengan umat
Buddha yang lainnya dapat mempergunakan keduanya, sama saja.
Kalau seseorang mempergunakan 'Namo Buddhaya', maka orang tersebut mengajak
orang yang berada dihadapannya untuk 'marilah memuji para Buddha', maka salam
ini bisa dijawab dengan mengucapkan 'Namo Buddhaya' pula.
Sedangkan bila seseorang mengucapkan salam 'Sukhi hotu' yang sering
diterjemahkan secara bebas sebagai 'Semoga Anda berbahagia', maka karena
seseorang diharapkan berbahagia, ia pun dapat membalas dengan kalimat yang sama.
Jadi, kedua salam Buddhis tersebuta bisa dipergunakan secara bergantian. Sama saja.
2. Sebenarnya para guru meditasi lebih suka menyarankan orang-orang yang belajar
meditasi untuk menggunakan obyek netral yaitu mengamati proses masuk dan
keluarnya pernafasan. Obyek ini banyak disarankan para guru meditasi karena
pengamatan pada nafas akan sangat membantu seseorang untuk mengembangkan
meditasi ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan mempergunakan obyek pernafasan,
seseorang bisa mengembangkan latihan konsentrasi dalam samatha bhavana. Namun,
kalau ia ingin meningkatkan kemampuan meditasinya, ia bisa terus dengan obyek
yang sama untuk melatih meditasi perenungan agar dapat mencapai kebijaksanaan
dengan vipassana bhavana.
Sedangkan obyek-obyek meditasi yang lain cenderung hanya dapat dipergunakan
untuk salah satu jenis meditasi, dan tidak bisa dipergunakan untuk jenis meditasi yang
lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya, Anda pun mempergunakan obyek pengamatan
dan perhatian pada proses pernafasan yang selalu ikut kemanapun seseorang pergi
sebagai obyek meditasi Anda.
Selamat berlatih meditasi.
Semoga Anda mendapatkan kemajuan batin sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

02. Dari: Erwin, Irvine, USA
Namo Buddhaya, Bhante
Belum lama ini saya berbincang-bincang dg teman saya mengenai kemajuan
teknologi yang pesat terjadi di dunia ini. Dan ketika kami membicarakan ttg cloning
binatang yang berhasil dilakukan oleh para ilmuwan, teman saya bertanya bagaimana
sekarang ttg cloning manusia menurut agama Buddha?
Apakah itu sesuatu yang salah atau benar? Memiliki karma baik atau buruk atau
netral? Sedangkan yang saya tahu dari agama lain, cloning binatang tidaklah salah,
namun cloning manusia adalah kesalahan besar.
Semoga semua makhluk berbahagia,
Terima Kasih,
Erwin

Jawaban:
Agama Buddha adalah Ajaran yang mengarahkan seseorang yang tekun
melaksanakan Buddha Dhamma agar dapat melakukan perbaikan moral dalam
perilaku hidupnya sehari-hari.
Seseorang disebut telah memiliki moral yang baik apabila orang tersebut mampu
mengendalikan ucapan, perbuatan dan pikirannya sehingga terbebas dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Agama Buddha melihat kemajuan teknologi apapun juga, termasuk kloning binatang
maupun manusia adalah hal yang netral. Namun, tujuan pelaksanaan kloning itulah
yang harus dipertanyakan sejak awal percobaan tersebut dilakukan. Kalau memang
tujuan diadakannya kloning itu adalah untuk hal yang bersifat positif, maka hal itu
tidak ada masalah, bahkan merupakan karma baik untuk si pelaku. Namun, kalau
tujuannya untuk hal yang buruk, maka si pelaku telah melakukan karma buruk.
Suatu perbuatan disebut sebagai perbuatan yang baik kalau keempat syarat di bawah
ini dipenuhi semuanya secara bersamaan. Keempat syarat itu adalah:
1. Apabila perbuatan itu dilakukan akan dapat memberikan kebahagiaan untuk si
pelakunya.
2. Perbuatan itu juga memberikan kebahagiaan untuk orang atau mahluk yang
menjadi obyek tindakan tersebut.
3. Perbuatan itu juga memberikan kebahagiaan kepada banyak fihak yang ada di
sekitar obyek perbuatan tersebut.
4. Perbuatan itu hendaknya tidak bertentangan dengan tujuan Buddha Dhamma yaitu
untuk mengurangi ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Apabila suatu perbuatan dapat memenuhi keempat syarat di atas secara bersamaan,
maka perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan baik.
Pandangan Agama Buddha melihat segalanya sebagai hal yang netral kecuali orang
yang melakukan tindakan itu. Hal ini dapat dicontohkan dengan orang yang
menggunakan senjata api. Senjata api dalam Dhamma adalah netral. Ia hanya alat.
Ketika senjata api dipergunakan untuk membunuh, maka sebenarnya yang salah
adalah orang yang mempergunakannya bukan senjata apinya. Orang inilah yang harus
diperbaiki moralnya. Namun, perbaikan moral ini tentunya bukan dengan
memberikan tuntutan agar dilakukan penutupan pabrik senjata api. Bukan demikian.
Agama Buddha justru memberikan pengajaran moral agar walaupun seseorang selalu
menggenggam senjata api, ia tidak akan menyalahgunakannya.
Demikian pula dengan kloning, semuanya tergantung pada tujuan orang yang
melakukannya. Dengan tujuan yang buruk, maka orang itu telah melakukan karma
buruk. Sedangkan kalau orang itu bertujuan baik, maka orang itu pun telah kelakukan
karma baik pula.
Semoga penjelasan ini dapat menghilangkan kebingungan yang ada.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

03. Dari: Ferry, Sidoarjo
Namo Buddhaya,
Bhante, bagaimanakah cara kerjanya koq seseorang bisa terkena 'pelet'?
Apakah ada paritta-paritta di dalam agama Buddha yang dapat digunakan untuk
menangkal/menyembuhkan orang yang terkena 'pelet'?
Apa yang harus dilakukan agar seseorang terhindar dari 'pelet' yang dikirim/dilakukan
orang lain?
Salam Metta

Jawaban:
Pelet sering diartikan sebagai kekuatan konsentrasi pikiran atau bahkan menggunakan
bantuan kekuatan mahluk halus yang dikirimkan oleh seseorang untuk membuat
orang yang diarahnya menjadi senang atau cinta dengan dirinya ataupun dengan
orang lain yang dimaksudkannya. Seseorang bisa terkena pelet, pada prinsipnya,
adalah karena ia kurang melatih pikirannya dalam berkonsentrasi atau bermeditasi.
Selain itu, karma buruk yang dimiliki juga sedang berbuah pada saat kekuatan pelet
itu dilancarkan.
Untuk menangkal, menghindari maupun menyembuhkan kekuatan pelet dapat
dipergunakan beberapa cara.
Pertama, orang hendaknya memperbanyak kebajikan dengan mengembangkan
kerelaan. Kerelaan ini dapat dilakukan dengan cara menolong orang lain atau mahluk
yang sedang menderita. Menolong orang dapat mempergunakan materi yang dimiliki
maupun dengan tenaga dan ucapannya. Sedangkan menolong mahluk lainnya,
misalnya saja, hewan yang sedang menderita dapat dilakukan dengan
membebaskannya dari penderitaan. Pembebasan ini dapat dilakukan dengan
menyelamatkan hewan tertentu dari kematian akibat dipotong atau dibunuh dan
mengembalikannya ke habitat semula. Apabila hewan itu adalah ikan, ia bisa
dilepaskan kembali ke sungai atau laut. Apabila hewan itu adalah burung, ia dapat
dibebaskan ke udara terbuka.
Kedua, orang hendaknya selain mengembangkan kerelaan, ia juga melatih kemoralan.
Latihan kemoralan yang menjadi dasar dalam Ajaran Sang Buddha adalah
melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis adalah berisikan latihan untuk
tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berjinah, tidak bohong dan tidak mabukKumpulan
mabukan. Kalau dapat, usahakanlah melaksanakan secara rutin seminggu sekali
Delapan Sila atau Atthasila. Delapan Sila ini pada dasarnya melaksanakan Pancasila
Buddhis dengan tambahan tiga sila lainnya yaitu tidak makan setelah tengah hari
sampai dengan keesokan harinya, tidak menyenangkan diri dengan mempergunakan
wangi-wangian maupun nonton hiburan serta tidak duduk dan berbaring di tempat
yang mewah atau tinggi. Tinggi tempat berbaring biasanya diukur dari lantai sampai
dengan sprei yang dipergunakan, maksimal 40 cm. Selain melatih lima atau delapan
sila tersebut, seseorang hendaknya juga sering membaca paritta, khususnya membaca
Karaniyametta Sutta, atau Kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih. Karena dengan
kekuatan cinta kasihlah, kekuatan yang tidak baik bisa dikurangi atau bahkan
dilenyapkan.
Ketiga, orang hendaknya berusaha melatih meditasi dengan berkonsentrasi pada
obyek tertentu. Obyek meditasi biasanya adalah memperhatikan proses masuk dan
keluarnya pernafasan. Latihan meditasi ini dapat dilakukan paling sedikit 2 kali
sehari, setiap pagi dan sore, selama sekitar 15 menit atau lebih. Selama latihan
meditasi, seseorang hendaknya berusaha duduk tenang dengan tidak membiarkan
pikirannya bergerak ke mana-mana kecuali hanya memusatkan perhatian pada proses
masuk dan keluarnya pernafasan.
Semakin banyak seseorang melatih ketiga bentuk kebajikan ini, maka semakin
banyak pula timbunan kebajikan yang dimilikinya. Timbunan kebajikan inilah yang
akan membuat seseorang sulit terkena pelet. Terlebih lagi apabila seseorang banyak
melatih meditasi, maka kekuatan pelet semakin sulit mengenai dirinya.
Sebagai tambahan, dalam tradisi masyarakat juga dikenal cara menghindarkan diri
dari kekuatan pelet yaitu, selain melakukan ketiga hal yang telah disebutkan di atas,
sebaiknya orang tidak terlalu mudah menerima pemberian makanan dan minuman
dari orang yang tidak dikenal atau dicurigai akan mengirimkan kekuatan pelet. Selain
makanan dan minuman sebagai sarana mengirimkan kekuatan pelet dikenal pula
beberapa sarana lain yaitu foto diri, tanggal lahir, pakaian bekas, potongan kuku atau
rambut dan berbagai hal lainnya.
Namun, kembali lagi pada prinsip awal, bahwa seseorang dapat terhindar dari segala
kekuatan buruk yang akan menimpa dirinya itu sangat tergantung pada timbunan
kekuatan karma baik dan latihan kesadarannya dengan membiasakan diri bermeditasi.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

04. Dari: Indra,
Namo Buddhaya,
Bhante, saya pernah membaca tentang bhikkhu yang berpikiran buruk dan menuduh
Y.M. Moggalana dan Sariputta melakukan hal yang buruk, di hadapan Sang Buddha,
sehingga ia terlahir di Neraka Paduma (lotus).
Saya ingin bertanya, apakah Neraka Paduma itu sama dengan Avici?
Manakah yang lebih lama, antara Neraka Avici dengan Paduma? terimakasih Bhante

Jawaban:
Neraka yang paling menderita dan paling lama dalam Dhamma adalah Neraka Avici.
Mahluk yang terlahir di Neraka Avici ini adalah mereka yang telah melakukan salah
satu atau lebih lima kesalahan paling besar dalam Dhamma yaitu:
1. Membunuh ayah
2. Membunuh ibu
3. Melukai seorang Buddha
4. Membunuh arahat
5. Memecah belah Sangha
Menghina Arahat ataupun berpikiran buruk kepada Arahat tidak termasuk dalam lima
kesalahan besar tersebut.
Semoga jawaban ini dapat memperjelas hal yang ditanyakan tersebut.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

05. Dari: Ichen, Tangerang
Namo Buddhaya Bhante..
Bhante apakah dalam Tradisi Theravada ada di kenal upacara pelepasan mahluk,
kalau ada bagaimana dan kapan upacara tersebut di laksanakan.
Bila kita ingin mengadakan, apakah perlu hadir anggota sangha?
Adakah paritta tertentu yang di khususkan untuk upacara ini.
Terima kasih bhante....

Jawaban:
Timbulnya tradisi pelepasan mahluk yang dilakukan oleh para umat Buddha ini salah
satu sebabnya adalah karena mengikuti cara hidup yang telah pernah dilakukan oleh
Pangeran Siddhattha sewaktu beliau masih kecil. Diceritakan bahwa beliau menolong
seekor burung belibis yang jatuh dari udara dan terluka karena panah Devadatta.
Setelah luka itu diobati, burung belibis tersebut dilepaskan kembali ke hutan.
Pelepasan mahluk yang merupakan kebajikan dalam Dhamma ini dapat dilakukan
oleh umat Buddha setiap saat. Tidak ada waktu dan saat khusus untuk melepaskan
mahluk. Kebajikan sesungguhnya tidak harus dibatasi oleh waktu dan ruang.
Pada saat pelepasan mahluk, tidak harus mengundang anggota Sangha untuk
melakukan upacara. Namun, kalau memang kebetulan ada kesempatan bersama
dengan anggota Sangha, hal itu juga merupakan kebaikan untuk semua fihak.
Paritta yang pada umumnya dipergunakan dalam kesempatan melepaskan mahluk
adalah Karaniyametta Sutta atau Kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih. Kadang
ada pula orang yang menambahkan dengan membaca Abhaya Paritta yaitu paritta
agar seseorang terbebas dari bahaya.
Semoga keterangan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

06. Dari: Linda, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante Uttamo
Hal yang ingin saya tanyakan adalah:
1. Tumbuh-tumbuhan (tanaman) adalah benda hidup, apabila kita menanam mereka
lalu mereka mati karena (misal) kita lupa memberi air ataupun pupuk, apakah ini bisa
disebut sebagai karma buruk?
2. Saya pernah dengar bahwa terjadinya suatu mahluk hidup ada macam-macam
diantaranya:
a. Begitu ia meninggal ia langsung bertumimbal lahir sesuai karmanya sehingga dapat
diartikan jarak waktunya sepersekian detik.
b. Tapi ada yang menunggu, sehingga pada saat adanya pertemuan sperma dan ovum
sebenarnya ia sudah ada namun karena gandabha yg cocok belum meninggal shg si
calon bakal ini ada tp posisinya menunggu (dlm arti kata ibunya tetap hamil) dan
apabila ternyata gandabha yg ditunggu tidak jadi makanya si ibu bisa keguguran...
apakah benar menurut Buddhis?
Terima kasih...Mettacittena

Jawaban:
1. Tumbuhan memang dikategorikan sebagai benda hidup. Oleh karenanya, ketika
seseorang memotong ataupun lupa memberi pupuk sehingga tanaman itu mati, ia
tidak termasuk melakukan karma buruk. Karma buruk akan terjadi apabila obyek
perbuatan buruk itu adalah mahluk hidup, bukan benda hidup.
2. Dalam Dhamma, cara kelahiran kembali dikenal dengan melalui:
a. kandungan
b. telur
c. kelembaban
d. spontan
Agar terlahir sebagai manusia, satu mahluk setelah meninggal dari kehidupan yang
sebelumnya, ia akan langsung terlahir kembali dalam kandungan ibu untuk
dilahirkan sembilan bulan kemudian. Sedangkan, seorang ibu keguguran
kandungannya dapat terjadi karena mungkin anak yang telah dikandungnya itu habis
karmanya dan akan terlahir di alam yang lainnya.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

07. Dari: Rosiana, Sydney
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ada pertanyaan, menurut ajaran agama Buddha, penjualan racun tikus ato
baygon dan sejenisnya itu termasuk jenis pekerjaan yg benar tidak?
Terima kasih, Bhante

Jawaban:
Dalam Anguttara Nikaya III, 208 dikenal adanya lima bentuk perdagangan yang
disarankan tidak dilakukan oleh para upasaka maupun upasika. Kelima usaha itu
adalah:
1. Memperdagangkan barang-barang yang dipergunakan untuk membunuh mahluk
hidup.
2. Memperdagangkan manusia (perdagangan budak).
3. Memperdagangkan binatang yang akan disembelih untuk makanan.
4. Memperdagangkan minuman keras yang memabukan.
5. Memperdagangkan racun.
Dari kelima bentuk usaha yang telah disebutkan, maka tentunya sudah dapat
disimpulkan jawaban atas pertanyaan di atas.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

08. Dari: Subhadevi, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, kalau karena kita perhatian kepada seseorang ( keluarga, teman), kita kuatir
dia menjadi orang bodoh yang baik hati ( karena selalu membantu orang lain tanpa
memperhatikan kondisi diri sendiri), sehingga kita melarang dia melakukan pekerjaan
tersebut ( membantu orang )
Apakah hal ini termasuk karma buruk?
Anumodana atas perhatiannya.
Namaskara,
subhadevi

Jawaban:
Kalau melihat orang yang berbuat baik tanpa kebijaksanaan sehingga bisa dikatakan
sebagai orang bodoh yang baik hati, sebagai sahabat, tentu saja perlu
mengingatkannya. Namun, mengingatkan seseorang bukanlah berarti melarangnya
berbuat baik. Melarang seseorang untuk berbuat baik dalam Dhamma dianggap
sebagai perbuatan yang tidak tepat.
Dalam Anggutara Nikaya I, 161, dikatakan bahwa orang yang menghalang-halangi
seseorang melakukan kebajikan telah melakukan tiga kesalahan yaitu:
1. Menghalangi pembuat kebajikan berbuat kebaikan.
2. Menghalangi obyek atau penerima kebajikan untuk mendapatkan yang seharusnya
ia peroleh.
3. Merusak dirinya sendiri dengan kekejiannya.
Oleh karena itu, lebih baik orang yang kurang bijaksana tersebut diingatkan semampu
yang dapat dilakukan. Kalau memang ia sudah tidak lagi dapat diingatkan, cobalah
menggunakan orang yang ia percayai untuk memberikannya kebijaksanaan. Namun,
kalau kedua usaha ini masih tetap tidak memberikan manfaat, maka berikanlah waktu
yang cukup untuk dia menjadi lebih bijaksana sendiri berdasarkan pengalaman
hidupnya.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

09. Dari: Henry, Surabaya
Namo Buddhaya,
Banthe saya mo nanya nich
1) bagaimana cara menghindari perasaan takut yang berlebihan?
2) bisakah seseorang menjadi Buddha tanpa harus menjadi Bhikkhu? misalnya: dia
berbuat baik terus sampai semua karma buruk nya lunas.
3) Terima kasih

Jawaban:
1. Rasa takut akan muncul apabila pikiran tidak bersama-sama dengan badan di satu
saat dan satu tempat. Jadi, badan berada di saat dan tempat ini, namun pikiran
mungkin memikirkan masa lalu ataupun masa yang akan datang. Oleh karena itu,
kalau diperhatikan, ketakutan akan muncul apabila seseorang ingat pengalaman masa
lalu yang menegangkan dan takut kalau di masa depan pengalaman pahit itu akan
terulang lagi. Untuk dapat mengatasi perasaaan takut ini, orang dapat selalu
menanyakan pada dirinya sendiri: Saat ini saya sedang apa? Ulangi terus sesering
mungkin pertanyaan ini dalam batin, khususnya apabila perasaan takut itu muncul.
Lama kelamaan orang akan dapat menyadari bahwa rasa takut itu timbul dari
pikirannya sendiri.
Apabila ia sudah bisa memusatkan pikirannya pada hidup saat ini, ia sudah dapat
menyatukan badan dan pikirannya, maka ketakutan itu akan lenyap. Orang akan
selalu siap menghadapi segalanya sebagai suatu kenyataan. Hidupnya tidak lagi
dalam bayangan masa lalu maupun yang akan datang.
2. Seseorang dapat menjadi seorang Buddha atau orang yang telah mencapai kesucian
tanpa harus menjadi bhikkhu terlebih dahulu. Dalam pengertian Buddhis, seseorang
dapat mencapai kesucian adalah dengan mengikis habis ketamakan, kebencian dan
kegelapan batinnya. Pengikisan tiga akar perbuatan ini bukan hanya dilakukan dengan
berbuat baik terus menerus saja, melainkan juga harus mengembangkan konsentrasi
dengan bermeditasi. Meditasi pada awalnya adalah melatih pemusatan perhatian pada
obyek yang dipilih, misalnya proses masuk keluarnya pernafasan. Kemudian, kalau
tingkat ini sudah tercapai, pikiran telah terpusat, maka ia dapat melatih
memperhatikan segala ucapan, perbuatan dan pikirannya. Apabila semua gerak-gerik
pikiran, segala perbuatan dan ucapan dapat selalu disadari, maka ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin akan dapat dikikis sedikit demi sedikit. Apabila ia
telah dapat mengikis ketiganya secara keseluruhan, maka orang itu disebut telah
mencapai kesucian, menjadi seorang Buddha. Dan, tahap ini dapat dicapai sewaktu ia
masih hidup dalam masyarakat umum, tidak harus ia menjadi seorang bhikkhu
terlebih dahulu.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

10. Dari: Thanutammo, Amsterdam
Bhante, ada pendapat mengatakan bahwa sebelum kita mengerti syarat pewujudan
Cetasika (yang 52)maka belum waktunya untuk melakukan samatha maupun
vipassana, sebab pengalaman samadhinya bisa malah memperkuat rasa Atta. Untuk
bisa melihat Anatta kita perlu mengerti syarat terbentuknya cetasika terdahulu. Itu
yang dimaksud dengan samma ditthi.
Bagaimana pendapat Achaarn?

Jawaban:
Melatih meditasi sesungguhnya tidak harus memerlukan teori yang berlebihan. Hal
ini dapat dilihat dari riwayat hidup Pangeran Siddhattha. Pada waktu beliau berusia
tujuh tahun, beliau sudah dapat mencapai salah satu puncak meditasi samatha yaitu
Jhana. Jadi, sesungguhnya semakin banyak teori yang dipelajari dalam meditasi,
seseorang biasanya akan semakin sulit memusatkan pikiran pada obyek yang telah
dipilihnya sendiri.
Setelah orang berhasil memegang obyek meditasi dan menguasai pikirannya, maka ia
dapat melanjutkan latihan meditasinya untuk selalu menyadari segala yang ia lakukan
dengan badan, ucapan maupun pikirannya. Apabila ia telah mampu selalu menyadari
pikirannya tanpa jeda, maka ia akan terbebas dari ketamakan, kebencian dan
kegelapan batin yang secara otomatis pula ia akan terbebas dari atta karena ia telah
melihat anatta dengan jelas.
Timbulnya pandangan seperti yang ada dalam pertanyaan di atas, mungkin saja
muncul dari orang yang merasakan manfaat dengan mengerti banyak teori terlebih
dahulu sebelum melatih meditasi. Mungkin saja demikian. Sekarang dengan
banyaknya cara bermeditasi, orang hendaknya bisa memilih cara yang paling sesuai
untuk dirinya sendiri agar dapat mengembangkan batinnya masing-masing.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

11. Dari: Hery Gunawan, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante
Saya ingin bertanya Bhante sbb:
1. Selama ini yang saya tahu pelimpahan jasa selalu kepada yang telah meninggal
(untuk leluhur), bisakah perbuatan baik yang telah kita lakukan selama ini, kita
limpahkan kepada yang masih hidup dengan tujuan agar kehidupan orang tersebut
bisa lebih baik (sehat, rejeki lebih banyak, dlsbnya).
2. Apakah kita kalau mau meletakkan Buddha Rupang di rumah kita, harus Buddha
Rupang yang telah diberkati?
Kemudian apakah ada persyaratan dan posisi menghadap tertentu ?
3. Apakah perlu kita memperbaiki makam leluhur kita yang telah lama tidak terawat
dan tidak diperhatikan ? Maksud saya, makam tsb diangkat, kemudian dikremasikan
saja. Menurut orang tertentu, kalau memang mau melakukan kremasi atas leluhur kita
yang telah dimakamkan lama, harus hati2, karena ini akan berdampak kepada anak
cucu yang masih hidup sekarang ini.
Bagaimana pendapat Bhante, dan kalau memang baik dilakukan, apa persyaratannya
dan gunanya.

Jawaban:
1. Pelimpahan jasa yang diajarkan dalam Dhamma adalah dengan melakukan
kebajikan untuk mereka yang telah meninggal, bukan untuk mereka yang masih
hidup. Oleh karena itu, berdasarkan kebutuhan tersebut, secara tradisi ada pula orang
yang melakukan pelimpahan jasa untuk mereka yang masih hidup. Caranya adalah
dengan melakukan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi, kemudian ia bertekad:
"Semoga dengan kebajikan yang telah dilakukan pada hari ini akan dapat
memberikan kebahagiaan kepada SAYA dalam bentuk: kesehatan,kekuatan dan
kebahagiaan untuk saya maupun orangtua saya. Semoga semua mahluk berbahagia.
Semoga demikianlah adanya.
2. Mempunyai dan meletakkan Buddharupang di tempat yang terhormat adalah
merupakan salah satu hal yang baik dilakukan oleh seorang umat Buddha.
Buddharupang yang diletakkan di cetiya atau altar dengan menghadap kemana pun
arahnya tidak harus dilakukan pemberkahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan
karena seorang umat Buddha menganggap Buddharupang adalah sebagai lambang
kasih sayang maupun perjuangan Sang Buddha. Namun, pada saat meletakkan
Buddharupang di cetiya ingin mengundang teman-teman ataupun bhikkhu membaca
paritta, hal ini tentu saja cukup baik dan biasa dilakukan pula oleh umat Buddha.
Hanya saja, upacara seperti itu bukanlah suatu keharusan.
3. Merawat makam leluhur adalah merupakan hal yang baik dilakukan oleh seorang
umat Buddha. Mereka yang telah meninggal sesungguhnya tetap dijadikan obyek
penghormatan seperti ketika mereka masih hidup. Penghormatan kepada yang telah
meninggal diwujudkan dalam bentuk melakukan kebajikan atas nama almarhum.
Sedangkan untuk membongkar makam dan mengkremasi leluhur, secara Buddhis, hal
itu dapat dilakukan setiap saat. Tidak ada waktu khusus. Namun, secara tradisi
setempat, kadang hal ini akan dipermasalahkan. Oleh karena itu, agar tidak
bermasalah, cobalah menanyakan saran atas rencana pembongkaran dan kremasi
jenasah ini kepada orangtua yang mengerti tradisi setempat. Dengan demikian, segala
usaha yang dilakukan nantinya tidak akan mendapat kritikan di masa depan.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

12. Dari: Susan, Jakarta
Bhante, saya sering fotokopi buku untuk referensi yang saya butuhkan saat
mendatang. Sekarang saya baru tahu perbuatan tersebut melanggar sila ke 2. Saya
memutuskan lebih baik tidak menguasai ilmu dari buku bajakan yang tentunya akan
saya lupakan pada kehidupan mendatang, dibanding mendapat akibat kamma buruk
yang terus ikut di tiap kehidupan. Pertanyaan saya:
1. Ketika membeli barang bajakan (buku, vcd, cd atau program komputer) saya telah
melanggar sila ke 2, apakah tiap kali saya menggunakan barang bajakan tersebut saya
melanggar sila juga?
2. Bagaimana bila barang bajakan tersebut adalah pemberian, apakah saya melanggar
sila bila saya menerima dan menggunakannya?
Beberapa barang bajakan tersebut saya butuhkan dan saya sulit (menahan diri) untuk
tidak memakainya walau sudah bertekad tidak membeli barang bajakan lagi.
Terima kasih, Bhante.

Jawaban:
Pada prinsipnya, membeli dan menggunakan barang bajakan adalah merupakan
pelanggaran sila yang kedua yaitu pencurian. Oleh karena itu, orang hendaknya dapat
berjuang sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik ini
Hal ini juga senada dengan pemberlakuan undang-undang Hak Cipta di Indonesia.
Anumodana, apabila Anda telah mempunyai kesadaran untuk tidak melakukannya
lagi. Semoga kesadaran yang baik ini dapat bertahan untuk waktu yang lama sehingga
membuahkan kebahagiaan dalam kehidupan Anda saat ini maupun di masa
mendatang.
1. Sesuai dengan prinsip pelanggaran sila yang telah disebutkan di atas, maka
penggunaan barang bajakan itu pun termasuk pelanggaran sila. Namun, hal ini
hendaknya disesuaikan dengan beberapa agreement yang biasanya ada sewaktu install
suatu program. Kadang, program tertentu memang boleh dicopy sebagai back up bila
CD aslinya rusak. Kalau demikian, maka mengkopi CD program untuk kebutuhan
sendiri tidaklah masalah. Demikian pula, ada program yang boleh diperbanyak asal
tidak dipergunakan secara komersil, sehingga penggunaan program tertentu yang
tidak berhubungan dengan materi, masih bisa dilakukan.
2. Barang bajakan, walaupun merupakan pemberian adalah tetap barang bajakan,
tidak berubah status menjadi 'pemberian' sehingga dapat dipergunakan secara bebas.
Masalah kesulitan menahan diri untuk tidak memakainya, hal itu adalah masalah
tekad pribadi yang secara bertahap dapat diperbaiki jika rajin berusaha.
Semoga keterangan ini dapat bermanfaat.
Anumodana atas niatnya untuk tidak menggunakan barang bajakan. Semoga selalu
bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

13. Dari: Joni Prasetiyo, San Francisco
Bhante, sebelumnya saya minta maaf kalo pertanyaan saya kurang sopan.
Saya ada pertanyaan mengenai vegetarianisme. Menurut ajaran Buddha (Aliran
Theravada) selama kita membeli daging di pasar dan memasaknya, hal itu bukanlah
tindakan yang salah. Hal ini saya analogikan dengan hal berikut: Ada seseorang yang
mata pencahariannya adalah merampok, tidak jarang dalam menjalankan aksinya
perampok tersebut harus membunuh korbannya. Perampok tersebut selalu
menjalankan aksinya di kota lain. Setelah merampas harta benda korbannya,
perampok tersebut menjualnya di pasar gelap dengan harga yang miring. Kita
asumsikan bahwa banyak orang yang tahu bahwa dia perampok, tapi semua diam saja
bahkan banyak orang yang jadi pelanggannya karena memang harganya yang miring.
Pertanyaan saya:
1. Menurut ajaran Theravada berarti saya tidak salah kalo membeli barang hasil
perampokan tersebut, karena toh saya bukan yang memesan. Barang tersebut sudah
ada di pasar gelap.
2. Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan bahwa menjadi vegetarian tidak akan
mengurangi pembunuhan. Mengacu pada analogi perampok tadi, kalo semua orang
sadar bahwa benda tersebut berasal dari orang yang terampas haknya, sehingga
mereka tidak mau membeli lagi, pada akhirnya perampok tersebut akan berhenti
merampok, karena dia tidak bisa menjual hasil rampokannya lagi sehingga tidak ada
insentif baginya untuk meneruskan mata pencahariannya. Memang betul hanya
dengan beberapa umat Buddhis menjadi vegetarian tidak akan membuat perubahan
yang signifikan, tetapi bukankah lebih baik kalo kita memulai berbuat baik dari kita
sendiri dulu?
3. Apakah kalo saya tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa daging berasal dari
"perampokan terhadap hewan" berarti batin saya masih kotor?
Demikian pertanyaan dari saya.
Semoga semua mahkluk berbahagia.

Jawaban:
Dalam Dhamma, memang niat adalah yang menentukan karma seseorang. Karena
tidak berniat melakukan pembunuhan, maka seseorang dinyatakan tidak bersalah
untuk memakan daging yang ia beli sebagai bangkai di pasar. Persamaan logika
tentang barang curian itu kelihatannya memang masuk akal, namun, hendaknya
dimengerti pula bahwa perilaku dalam Dhamma tidak pernah melanggar hukum yang
berlaku di suatu negara. Tidak adanya pelanggaran hukum negara inilah yang
membuat Sang Buddha dengan 'aman' mengajar Dhamma selama 45 tahun tanpa ada
permusuhan dari rakyat maupun raja.
Menurut hukum yang berlaku di suatu negara, membeli barang hasil rampokan adalah
merupakan pelanggaran, maka hal ini tidak bisa pula dilakukan oleh seorang umat
Buddha.
Apabila suatu ketika nanti ada negara yang memberlakukan larangan membeli
bangkai hewan di pasar, maka seorang umat Buddha juga tidak boleh membeli
bangkai lagi di pasar. Membeli bangkai di pasar pada saat itu akan menjadi salah
menurut Dhamma.
Dengan demikian, ukuran yang dipergunakan oleh seorang umat Buddha dalam
tindakan agar sesuai Dhamma adalah ukuran Buddha Dhamma dan juga sekaligus
ukuran tempat ia tinggal. Singkatnya, perbuatan seseorang hendaknya ditimbang
dengan Hukum Dhamma dan juga Hukum Negara.
2. Tidak menyetujui dengan pendapat bahwa 'menjadi vegetarian tidak akan
mengurangi pembunuhan' tidak masalah, karena semua orang tentu mempunyai latar
belakang pemikirannya sendiri. Dari latar belakang pemikirannya sendiri itulah orang
akan menentukan sikap dan perbuatannya. Kalau seseorang tidak atau belum
menyetujui pendapat itu, tentu saja ia akan melakukan perbuatan yang sesuai dengan
ketidaksetujuannya itu. Mungkin, ia akan menjadi vegetarian. Hal itu tidak ada
masalah. Hal itu juga baik, paling tidak untuk mengurangi keinginan pada makanan
yang berasal dari daging.
3. Kalau dalam pikiran seseorang muncul anggapan bahwa makan daging adalah
merupakan "perampokan terhadap hewan" maka tentunya ia tidak akan makan
daging, dan hal itu yang menjadi dasar untuk perilaku yang dipilihnya. Pandangan itu
tentunya bukan merupakan kekotoran batin, melainkan merupakan rasionalisasi dasar
suatu perbuatan.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

14. Dari: Ervina,
Namo Buddhaya,
Bhante Uttamo, saya mau bertanya :
1. tentang ciam-si yang telah Bhante jelaskan pada pertanyaan Sdri.Juni Jkt. berarti
ciam-si yang keluar merupakan sesuatu yang dapat dipercaya, karena Bhante
mengatakan bahwa hasil ciam-si tersebut tergantung dari karma. Misalnya orang yang
baik bila melakukan ciam-si berarti yang keluar cenderung ke arah yang baik ?
2. Apabila kita melakukan suatu perbuatan baik tetapi dalam pikiran kita terdapat
suatu pikiran bahwa dengan melakukan perbuatan ini maka kita akan mendapat hasil
yang baik. Apakah hal ini berarti kita melakukan dengan pamrih?
Terima Kasih atas Jawaban Bhante.
Mettacittena,
Ervina

Jawaban:
1. Hasil ciam si memang banyak tergantung dari karma yang dimiliki oleh orang yang
menarik ciam si tersebut. Kemungkinan kebenaran ciam si adalah 50% artinya, ciam
si bisa salah dan juga bisa benar. Semua tergantung pada diri si penarik ciam si
sendiri.
Misalnya dalam ciam si disebutkan bahwa ia akan menjadi orang sukses, namun,
karena ia hanya bermalas-malasan dan tidak bekerja, maka ia tentu saja tidak menjadi
orang yang sukses. Sebaliknya, dalam ciam si disebutkan bahwa seseorang tidak akan
sukses dalam usaha, namun ia ternyata sangat rajin berusaha, maka ada kemungkinan
ia akhirnya menjadi orang yang sukses dan hal ini berlawanan dengan ciam si yang
pernah diperolehnya.
2. Melakukan kebajikan dengan memikirkan hasilnya adalah merupakan perbuatan
berpamrih. Namun, selama seseorang belum mencapai kesucian maka pikirannya
pasti masih diliputi dengan ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Selama itu
pula segala yang ia ucapkan, lakukan dan pikirkan akan selalu berpamrih.
Seorang ibu yang merawat anaknya dengan baik, bila suatu ketika menjumpai
anaknya tidak sesuai dengan harapannya, tidak jarang ia akan berkata berdasarkan
pamrihnya:"Sudah dirawat baik-baik, masih juga nakal". Ungkapan ini adalah
merupakan hal yang wajar. Hal yang penting diketahui dalam Dhamma adalah bahwa
pamrih yang ada itu hendaknya diarahkan untuk kebaikan. Dan, seiring dengan
pelaksanaan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, khususnya meditasi vipassana,
maka ketamakan, kebencian dan kegelapan batin akan dapat mulai dikurangi dari
pikirannya. Ketika ketiganya sudah bersih dari pikiran, orang itu mencapai kesucian.
Pada saat mencapai kesucian, maka semua tindakan, ucapan dan pikirannya tidak
akan ada pamrihnya lagi.
Semoga keterangan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

15. Dari: Rita, Klungkung
Namo Buddhaya,
Bhante saya mo tanya: sebagai umat Buddha, saya juga percaya dengan ucapan2
paranormal. Keluarga kami pun percaya akan kejadian2 yang menimpa pada keadaan
rumah kami seperti: antar sesama saudara sering tidak akur, selalu berselisih paham,
tidak puas, dan sebagainya. Terutama perasaan iri hati antar saudara. Bahkan rumah
kami pun sudah dibersihkan oleh paranormal tsb.
Apa sebaiknya yang harus kami lakukan dan bagaimana caranya untuk
menghilangkan perasaan iri hati sesama saudara.
Saya merasa sedih dengan keadaan keluarga, kasihan mama yang belakangan ini
tambah stress apalagi mama saya adalah "Single Parent" karena papa saya sudah
almarhum sejak 03 April 1989.
Terima Kasih (Anumodana),Ita.

Jawaban:
Seseorang dapat bertemu dan berkumpul bersama dengan orang lain sebagai anggota
keluarga adalah merupakan buah dari karma yang telah dilakukannya dalam
kehidupan yang lampau. Karma yang menjadi dasar pertemuan tersebut dapat
disebabkan oleh perasaaan cinta kasih maupun kebencian. Apabila seseorang
berkumpul dengan orang lain sebagai anggota keluarga karena perasaan cinta kasih,
maka hubungan mereka akan selalu damai dan tidak pernah ada masalah maupun
perselisihan di antara mereka. Sedangkan, kalau karma yang menjadi dasar pertemuan
mereka adalah karena perasaan yang penuh kebencian, maka mereka akan mengalami
kesulitan untuk hidup tenang dan damai. Mereka cenderung suka bertengkar atau
bahkan berkelahi.
Untuk mengatasi masalah yang timbul karena kebencian yang menjadi dasar
berkumpul sebagai keluarga, maka anggota keluarga yang telah sadar dan akan segera
menghentikan perselisihan ini hendaknya lebih sering memancarkan pikiran cinta
kasih kepada orang-orang di lingkungannya, khususnya kepada para anggota keluarga
yang bermusuhan tersebut. Prinsip dasar untuk mengatasi permasalahan dengan
pengembangan pikiran cinta kasih ini karena sesungguhnya kebencian tidak akan
berakhir dengan kebencian, melainkan dengan cinta kasih. Pengembangan cinta kasih
ini dapat dilakukan dengan sering mengucapkan dalam hati:"Semoga dia bahagia,
semoga semua mahluk berbahagia."
Dengan rutin berusaha mengembangkan pikiran cinta kasih seperti itu, maka besar
kemungkinan hubungan antar anggota keluarga yang semula banyak pertengkaran
maupun iri hati tersebut akan menjadi lebih baik. Bahkan, tidak mustahil dapat
tercipta kedamaian di antara sesama anggota keluarga.
Semoga saran ini dapat bermanfaat untuk menimbulkan ketenangan dan kedamaian
antar sesama anggota keluarga.
Semoga demikianlah adanya.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

16. Dari: Ketut Suwara, Singaraja
Namo Buddhaya
Bhante, bagaimana caranya agar vihara kami ( vihara Giri Mangala, desa Alasangker)
bisa di serahkan kepada sangha (STI), sedangkan hingga saat ini kami belum
mendapatkan formulir penyerahannya.
Kalau memang ada formulir tersebut bagaimana cara mendapatkannya? Hal ini saya
tanyakan karena banyak umat di desa Alasangker ingin agar di vihara ada bhikkhu
tinggal disana.
Anumodana
Ketut Suwara
Desa Alasangker, Singaraja, Bali

Jawaban:
Proses penyerahan suatu vihara kepada Sangha Theravada Indonesia sampai saat ini
tidak menggunakan "formulir penyerahan" seperti yang disebutkan itu. Apabila suatu
vihara oleh umat Buddha akan diserahkan kepada Sangha Theravada Indonesia, maka
pengurus vihara tersebut hendaknya segera menghubungi Ketua Bhikkhu Daerah
Pembinaan setempat. Ketua Bhikkhu tersebut nanti akan menerangkan prosedur
penyerahan vihara sesuai dengan keinginan umat Buddha setempat.
Sebagai tambahan, walaupun telah dilakukan penyerahan sebuah vihara, belum tentu
ada seorang bhikkhu yang tinggal di vihara tersebut. Hal ini mengingat jumlah para
bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia sangat terbatas dibandingkan dengan
banyaknya vihara yang ada dalam suatu daerah pembinaan. Harap keterbatasan ini
dapat dimaklumi.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

17. Dari: Diana, Surabaya
Namo Buddhaya,Bhante.
Bagaimana cara mengubah sifat kita yang sering ragu-ragu dalam mengambil
keputusan dan sering berpikiran pesimis.

Jawaban:
Sifat ragu dalam diri seseorang dapat muncul karena ia kurang mendapatkan
informasi berkaitan dengan hal yang akan dikerjakannya. Selain itu, ia juga kurang
mengerti dengan pasti batas kemampuan dirinya sendiri.
Untuk mengatasi perasaan ragu ini: Pertama, ia hendaknya lebih banyak mencari
informasi atas pekerjaan yang akan dilakukannya.
Kedua, hendaknya ia juga lebih sering merenungkan berbagai pekerjaan yang telah
berhasil ia lakukan selama ini. Semakin banyak ia dapat mengingat keberhasilannya
menyelesaikan suatu masalah, maka semakin tipislah keraguan atas diri sendiri.
Sebaliknya, ia hendaknya juga mengingat kegagalan yang telah dialaminya untuk
dicari penyebabnya sehingga bisa diperbaiki dengan berbagai usaha di waktu
sekarang.
Dengan selalu melihat penyebab keberhasilan yang telah dikerjakan untuk diulang
dan dikembangkan serta penyebab kekurangan untuk diatasi, maka secara perlahan
akan tumbuhlah rasa percaya dirinya. Setelah ia memiliki keyakinan pada
kemampuan dirinya sendiri, maka ia pun akan lebih bersemangat untuk mengerjakan
segala sesuatu. Keraguannya menjadi berkurang, bahkan hilang sama sekali. Apabila
ia telah mencapai tahap perkembangan batin seperti ini, maka selain keraguan, sikap
pesimistis pun bisa dikurangi bahkan dihilangkan juga.
Selamat berkarya dan mengingat keberhasilan karya yang telah dikerjakan.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

18. Dari: Susan, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante
Mengenai Athasila, mendengarkan Paritta yang dibuat seperti lagu pada saat
menjalankan Athasila melanggar sila tidak?
Bila tidak memungkinkan tempat tidur rendah, bagaimana?
Naik taksi termasuk pelanggaran menghindari tempat duduk tinggi dan mewah tidak?
Terima kasih, Bhante.

Jawaban:
Membaca paritta yang dilagukan pada saat melaksanakan Atthasila dapat
dikategorikan bukan pelanggaran sila. Bahkan ada sebagian orang yang menyatakan
bahwa menyanyikan lagu Buddhis itupun bukan pelanggaran sila sewaktu ia sedang
melaksanakan Atthasila. Hal ini karena paritta maupun lagu Buddhis berisikan
sebagian dari Ajaran Sang Buddha.
Kalau seseorang yang melaksanakan Atthasila dan dia menyanyikan lagu cinta
ataupun lagu yang tidak ada hubungannya dengan Ajaran Sang Buddha, maka pada
saat itu orang tersebut telah melakukan pelanggaran salah satu sila yang terdapat
dalam Atthasila yaitu latihan untuk menghindari nyanyi-nyanyian.
Tidur di tempat yang rendah, kalau memang tidak memungkinkan, biasanya dapat
diatasi dengan memasang busa tidur di lantai. Namun, kalau hal ini juga tidak
memungkinkan untuk dilakukan, maka ia dapat saja berbaring di tempat biasanya
yang ia pergunakan tidur sejauh tempat tidur itu bukan barang yang termasuk relatif
mewah.
Orang yang melaksanakan Atthasila masih tetap bisa menumpang taksi merek apapun
juga. Tidak ada masalah.
Semoga jawaban ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

19. Dari: Indra, Ujungpandang
Namo Buddhaya...
Bhante, jika kita melihat orang yang memberikan dana kepada makhluk lain, dan diri
kita merasa bahagia atau senang. Apakah kita sedang menanam karma baik ataukah
menuai karma baik?
Ataukah tidak ada karma, karena bukan kita yang memberikan dana.
Terima kasih atas jawabannya Bhante.

Jawaban:
Kebahagiaan ketika melihat orang lain melakukan kebajikan, dalam Dhamma disebut
sebagai mudita citta yang merupakan tanaman karma baik melalui pikiran. Oleh
karena itu, selain seseorang sering melakukan kebajikan kepada mahluk lain,
sebaiknya ia juga selalu menumbuhkan kebahagiaan dengan melihat maupun
mendengar orang lain melakukan kebajikan. Kikislah rasa iri hati dan cemburu
melihat keberhasilan dan kebahagiaan mahluk lain. Semua karma baik yang
dilakukan ini akan dapat membuahkan kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan yang
diharapkan.
Semoga selalu bahagia.

salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

20. Dari: Dedy, Gresik
Namo Buddhaya, Bhante
1.Bhante pernah mengatakan bahwa seorang arahat tidak akan diumumkan. Tapi
kenapa di buku-buku Buddhis sering diceritakan siswa Sang Buddha yang mencapai
Arahat?
Atas dasar apa sehingga "kesucian" tidak boleh diumumkan?
Karena hal itu menurut saya menjadi sesuatu yang baik karena hal itu sebagai bukti
kebenaran Ajaran Sang Buddha dan bisa menjadi stimulan untuk umat Buddha sendiri
atau umat lain dalam menjalani Ajaran Sang Buddha di masa sekarang.
2.Tolong Bhante jelaskan arti dari "MOHA" atau KEBODOHAN, salah satu dari 3
akar kejahatan dalam diri manusia.
3.Di rumah-rumah kita sering dikotori oleh rumah laba-laba. Bagaimana sikap kita
menyikapi hal ini? Kalau kita tetap membersihkannya berarti mengganggu
ketenangan / kehidupan si laba-laba. Apakah itu karma buruk?
4.Menurut Sang Buddha, bumi ini bukanlah satu-satunya tapi ada banyak bumi yang
lain. Pertanyaan saya apakah sekarang ini di bumi yang lain tersebut juga mempunyai
Sammasambuddha?
Sebelumnya, terima kasih Bhante.

Jawaban:
1. Dalam banyak kisah siswa Sang Buddha, memang disebutkan tentang pencapaian
kondisi batin seseorang yang telah menjadi Arahat. "Pengumuman" ini dilakukan oleh
Sang Buddha sendiri ataupun para muridNya yang sebelumnya telah mencapai
tingkat Arahat pula. Jadi, pencapaian tingkat Arahat bukanlah diumumkan oleh diri
sendiri maupun oleh orang yang belum mencapai kesucian sama sekali. Bahkan,
orang yang mencapai kesucian dibawah tingkat Arahat sekalipun tidak akan mampu
mengetahui bahwa seseorang telah mencapai tingkat Arahat ataupun belum.
Adanya peraturan untuk tidak dengan sembarangan mengumumkan kondisi batin
yang telah mencapai tingkat Arahat ini adalah agar dapat menghindari pernyataan
palsu dari orang yang mengaku dirinya telah mencapai tingkat arahat. Peraturan ini
juga untuk menghindari penyalahgunaan status arahat tersebut dalam masyarakat
Buddhis. Kesemua batasan ini dilakukan demi mempertahankan keluhuran Buddha
Sasana itu sendiri.
Memang bisa saja "pengumuman" kondisi kearahatan itu dapat menjadikan umat
lebih bersemangat dalam melaksanakan Dhamma. Namun sesungguhnya,
melaksanakan Buddha Dhamma bukan tergantung seberapa tinggi pencapaian batin
orang lain. Praktek Dhamma yang serius adalah usaha diri sendiri agar mampu
mengendalikan pikirannya sehingga ia dapat mencapai tingkat Arahat itu sendiri.
2. Disebutkan dalam Digha Nikaya III, 273 bahwa 'Moha' adalah ketidaktahuan atau
mengetahui secara salah.
3. Salah satu tujuan pelaksanaan Buddha Dhamma adalah untuk menjadi orang baik
yang bijaksana. Oleh karena itu, membersihkan rumah laba-laba dengan membunuh
mahluknya adalah merupakan karma buruk. Namun, hal ini bisa dihindari dengan
memindahkan laba-laba itu ke tempat lain, ke kebun misalnya, sehingga ia dapat
membuat rumahnya dengan bebas tanpa harus mengotori rumah kita.
4. Memang bumi yang dihuni manusia ini bukanlah satu-satunya di alam semesta ini.
Dalam Dhamma disebutkan bahwa ada kemungkinan bumi yang lain juga terdapat
seorang Buddha atau lebih, namun, hal ini tidak selalu demikian. Disebutkan bahwa
ada bumi yang sama sekali tidak terdapat seorang Buddha pun yang terlahir di sana
sejak bumi itu terbentuk sampai dengan kiamatnya. Sedangkan bumi yang kita
tinggali bersama ini sudah terlahir empat orang Buddha, termasuk Buddha Gotama
yang keempat, dan masih ada Buddha yang akan datang dengan nama Metteya atau
Maitreya. Buddha Maitreya ini akan muncul dan mencapai kesucian di bumi ini
apabila Ajaran Buddha Gotama yang sekarang sudah punah untuk waktu yang lama.
Setelah Buddha Maitreya muncul untuk waktu yang lama, barulah bumi kita ini akan
kiamat. Kiamatnya bumi ini bukan akhir segalanya, namun merupakan awal
terbentuknya bumi ini kembali. Hal ini kiranya sangat sesuai dengan bunyi Hukum
Kekekalan Energi yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak
dapat dimusnahkan pula.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

21. Dari: Saparindi, Malang
Merujuk pada pertanyaan saya tentang konsep Tuhan yang lalu, pada prinsipnya saya
setuju sekali dan sangat setuju dengan pendapat Bhante.
Berarti disini saya perlu memposisikan bahwa sebenarnya ajaran / teori Buddha
Gotama adalah benar tidak mengupas hal ini. Dan apa yang selalu didengungkan di
ayat Udana bukanlah konsep Ketuhanan dlm Agama Buddha (tapi bagi yang
mengartikan hal tersebut juga konsep Ketuhanan juga ga apa2), buat saya ini menjadi
perdebatan yang menarik walaupun mungkin saya termasuk orang yang bodoh untuk
larut terlalu dalam memperdebatkan Tuhan yang tak bermakna ini.
Proses yang saya lakukan ini hanyalah kegelisahan saya bahwa nantinya faham
mengenai konsep yang ditawarkan ini adalah konsep pembodohan yang tidak lebih
dari keinginan untuk memposisikan Buddhisme akan keberadaan Tuhan itu sendiri.
Hanya karena pengaruh dari luar lalu kita latah untuk ikut mengabsorbsinya, walau
dengan makna yang sangat berbeda sekali.
salam metta

Jawaban:
Anda memang boleh saja memahami konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha
seperti itu, tidak masalah. Sekali lagi, hal yang paling penting dalam Buddha
Dhamma adalah melaksanakan Dhamma dengan sungguh-sungguh sehingga
seseorang akan terbebas dari ketamakan, kebencian maupun kegelapan batin.
Dalam masyarakat Buddhis di Indonesia dapat dibaca sebuah buku yang menguraikan
konsep Ketuhanan dalam agama Buddha dengan judul:
Ketuhanan Yang Mahaesa Dalam Agama Buddha.
(http://www.samaggiphala.
or.id/naskahdamma_dtl.php?id=70&cont=ketuhanan1.html&path=naskahdham
ma&multi=Y&hal=1&hmid=215
Buku yang sangat bermanfaat ini dapat dibaca dalam website Samaggi Phala ini.
Semoga penjelasan tambahan ini dapat lebih meningkatkan pelaksanaan Dhamma
Anda.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

22. Dari: Demmy, Ohio
Namo Buddhaya,
1. Bhante,di forum tanya jawab sebelumnya disebutkan bahwa Buddha Amitabha
tidak ada dlm Tipitaka(Pali), lalu bagaiman dengan Buddha Maitreya, apakah dlm
Tipitaka pernah ada disebutkan ttg Buddha Maitreya ini.
2. Semasa hidup Sang Buddha, pernahkah Sang Buddha menganjurkan muridNya
untuk berbakti kepada orang tua?
Bagaimanakah cara yang tepat untuk seorang anak berbakti kepada orang
tuanya(terutama ibu yg telah mengandung dan melahirkan)?
Saya merasa di zaman sekarang ini tidak mungkin bagi seorang anak utk bisa setiap
saat menjaga orang tuanya di hari tua.
Terima Kasih Bhante

Jawaban:
1. Dalam Tipitaka Pali telah disebutkan bahwa pada planet bumi yang kita tinggali ini
sejak terbentuk sampai dengan kiamat nanti akan terdapat lima orang Buddha. Telah
ada empat Buddha yang terlahirkan. Buddha Gotama adalah Buddha yang keempat.
Setelah Ajaran Buddha Gotama nanti musnah dan dilupakan orang, tidak ada lagi
vihara maupun Dhamma, maka barulah pada saat itu muncul Buddha Metteya atau
Buddha Maitreya. Setelah Buddha Maitreya mengajar Dhamma yaitu Empat
Kesunyataan Mulia untuk waktu yang cukup lama, banyak orang akan mencapai
kesucian. Kemudian, pada saat itu barulah bumi ini mengalami kiamat. Kiamat atau
kehancuran bumi ini akan menjadi awal terbentuknya kembali bumi ini dalam waktu
yang sangat lama.
2. Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188 menguraikan cara menghormat
orangtua. Dalam uraian Dhamma yang dikenal dengan Sigalovada Sutta ini
disebutkan bahwa tugas anak kepada orangtua adalah:
1. Merawat orangtua
2. Membantu menyelesaikan urusan orangtua
3. Menjaga nama baik orangtua
4. Menjaga perilaku, ucapan dan pikiran agar menjadi anak yang berbudi sehingga
layak menerima warisan
5. Melakukan upacara pelimpahan jasa atau berbuat baik atas nama orangtua apabila
mereka telah meninggal dunia
Dengan demikian, untuk anak yang mungkin kurang memiliki kesempatan untuk
selalu bersama dengan orangtuanya, ia dapat berbakti dengan cara menjaga
perilakunya agar ia tidak memalukan orangtua. Memiliki anak yang baik dan sukses
akan menjadi kebahagiaan serta kebanggaan orangtua, serta masih banyak cara lain
untuk berbakti ketika orangtua masih hidup.
Sedangkan, kalau orangtua telah meninggal dunia, walaupun di tempat yang jauh,
anak tetap dapat melakukan kebajikan atas nama orangtuanya.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

23. Dari: Khantiko, Mataram
Namo Buddhaya,
Bhante ada yang bertanya demikian:
Bagaimana penjelasan mengenai 'hati' dan 'pikiran' seperti yang terdapat dalam
Ovadapatimokkha (Sucikan hati dan pikiran).
Apakah keduanya berbeda atau sama.
Anumodana atas jawabannya Bhante.

Jawaban:
Sebenarnya ada banyak versi terjemahan Ovadapatimokkha tersebut yang beredar di
masyarakat. Kadang terdapat perbedaan pada setiap terjemahan ini. Perbedaan ini
dapat timbul karena adanya perbedaan latar belakang pengetahuan bahasa Pali yang
dimiliki penerjemah.
Salah satu terjemahan yang bisa dipakai di sini adalah dari Kitab Suci
DHAMMAPADA yang diterbitkan oleh Yayasan Dhammadipa Arama, cetakan
keenam, tahun 1994. Disebutkan dalam Buddha Vagga 5 bahwa:
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan dan
membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Dari syair yang dikutipkan di atas, kiranya sudah jelas jawaban atas pertanyaan yang
dimaksudkan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

24. Dari: Hadi, Jakarta
Namo Buddhaya
Bhante, menurut Agama Buddha setelah seseorang meninggal,org tersebut langsung
bereinkarnasi menurut karmanya. Akan tetapi saya menemui banyak kasus yang
dimana orang yang sudah meninggal tersebut masih berada disekitar rumahnya
selama 7 hari,misalnya melakukan rutinitas dia sehari-hari seperti mencuci,berjalan
dll(ada yang pernah mengatakan pernah melihat secara sekelibat dan kebanyakan
menyatakan telah mendengar).
Pertanyaan saya ialah:
1.apakah ada dunia atau dimensi perantara sebelum seseorang menunggu untuk
bereinkarnasi.
2.Bhante,saya terkadang terlalu kuatir dengan salah satu anggota keluarga saya yang
gampang terpengaruh oleh orang lain,yang dimana kebanyakan pengaruh dari temantemannya
tersebut kebanyakan tidak baik.
Pada dasarnya anggota keluarga yang saya maksud ini baik hati. Cuma gampang
terpengaruh aja.Bhante,bagaimana menyadarkan orang ini karena saya udah banyak
kali berusaha untuk menyadarkan akan tetapi tidak bisa.
Saya cuma takut kelakuannya akan membuat ia menderita utk yang akan datang dan
yang paling menguatirkan saya ialah ia akan terlahir di alam yang menderita.Bisakah
dengan memohon kesadaran di depan Altar Buddha utknya. Atau bisakah bhante
memberikan solusi terbaik untuk hal ini.
Terima kasih

Jawaban:
1. Dalam Dhamma disebutkan bahwa seseorang setelah meninggal dunia akan segera
terlahir kembali. Ia bisa terlahir lewat kandungan manusia kembali sehingga lahir
sembilan bulan kemudian. Ia juga bisa terlahir melalui telur. Ia juga bisa terlahir
dengan kondisi kelembaban. Ia juga bisa terlahir spontan di alam Peta, misalnya.
Orang yang telah meninggal dan sering terlihat di rumahnya itu adalah orang yang
sudah terlahir kembali di alam Peta. Kelahiran di alam Peta tersebut mungkin bisa
untuk jangka waktu tujuh hari, bisa juga lebih, bahkan bisa bertahun-tahun sampai
ratusan tahun lamanya. Batas waktu suatu mahluk hidup di alam Peta adalah sesuai
dengan karma yang ia miliki. Kalau karma yang mendukungnya untuk hidup di alam
Peta sudah selesai, maka mahluk itu akan segera terlahir kembali di alam lain yang
sesuai dengan karma berikutnya yang ia miliki.
2. Memberikan nasehat dan saran perbaikan untuk orang yang membutuhkan memang
satu perbuatan mulia, apalagi ia adalah sanak saudara sendiri. Namun, setiap orang
mempunyai cara yang berbeda untuk didekati. Pada umumnya, seseorang semakin
merasa dekat secara batin, ia akan semakin mudah diberi pengertian. Kalau sampai
saat ini ia masih belum mau menerima saran dan masukan yang diberikan, mungkin
cara yang dipergunakan masih belum sesuai untuknya. Cobalah untuk terus menjalin
hubungan batin dengannya sehingga akhirnya ia akan membuka batinnya untuk
menerima saran yang baik tersebut.
Bersamaan waktu dengan itu, cobalah direnungkan baik-baik, siapakah orang yang
ada di sekitarnya yang nasehatnya mau ia dengar. Kalau orangnya sudah diketahui,
minta tolonglah kepadanya untuk memberikan nasehat kepadanya. Karena orang itu
biasanya didengar nasehatnya, maka ia cenderung akan lebih mau terbuka batinnya.
Sehubungan dengan adanya pengaruh lingkungan yang kurang baik, mungkin bisa
juga diperlukan cara untuk memisahkannya dari lingkungan yang sekarang. Ada
banyak cara untuk ini. Ia bisa dikirim ke sekolah di kota lain atau bahkan negara lain.
Ia juga bisa diarahkan untuk bekerja di kota lain. Prinsipnya, dengan
memindahkannya dari kota tempat tinggalnya sekarang, biasanya pengaruh
lingkungan itu akan berubah pula. Ia mungkin dapat menjadi lebih baik.
Semoga saran ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

25. Dari: Franky, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Saya sering mendengar "meditasi jalan", apakah Bhante dapat menjelaskan lebih
lanjut mengenai apa dan bagaimana "meditasi jalan"?
Apakah manfaatnya sama dengan meditasi biasa (memperhatikan keluar masuknya
nafas)?

Jawaban:
Meditasi adalah usaha untuk melatih perhatian pada segala gerak gerik pikiran yang
nantinya akan terwujud pada ucapan dan gerakan badan. Pada umumnya, meditasi
dilakukan sambil duduk diam dan memperhatikan obyek yang dipilih. Obyek
meditasi biasanya adalah merasakan proses masuk dan keluarnya pernafasan. Apabila
pikiran menyimpang ke hal lain, pikiran hendaknya segera dipusatkan kembali ke
obyek meditasi. Sebanyak pikiran menyimpang, sebanyak itu pula pikiran harus
dikembalikan pada obyek meditasi.
Karena meditasi adalah merupakan latihan pemusatan pikiran, maka hendaknya
dilatih dengan tekun dan rutin. Orang yang rajin berlatih meditasi, paling tidak dua
kali dalam sehari, pikiran akan lebih mudah dikendalikan. Setelah pikiran terkendali,
maka obyek meditasi tidak harus hanya memperhatikan proses pernafasan saja. Ia
hendaknya juga mampu memusatkan perhatian pada segala hal yang diucapkan
maupun dilakukan. Ketika ia sedang berbicara, ia memusatkan perhatian pada
pembicaraannya. Ketika ia sedang membaca, ia menjadikan bacaan sebagai obyek
meditasi. Ketika ia sedang bekerja, ia menjadikan pekerjaannya sebagai obyek
meditasi. Ketika ia sedang berjalan, ia menjadikan gerakan kaki, ayunan tangan dlsb.
sebagai obyek meditasi. Dengan demikian, ia akan selalu sadar setiap saat. Ia sadar
sedang duduk. Ia sadar sedang berdiri. Ia sadar sedang berjalan. Ia sadar sedang
berbaring. Memiliki kesadaran setiap saat inilah yang menjadi tujuan bermeditasi.
Dengan selalu sadar setiap saat, orang itu akan dapat terbebas dari ketakutan,
kegelisahan maupun kecemasan. Batinnya akan menjadi tenang seimbang. Ia akan
merasakan kebahagiaan dan kedamaian.
Semoga jawaban ini memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

26. Dari: HANS, Taipei
Namo Buddhaya,
saya ingin bertanya apakah kalau dunia ini hancur( kiamat), apakah masih ada Surga
ato Neraka?
Kalo Surga dan Neraka pun hancur, kemanakah kehidupan2 yang ada di kedua dunia
tersebut?
Xie Xie Banthe

Jawaban:
Kiamat adalah merupakan proses wajar sebagai konsekuensi logis adanya proses
terbentuknya bumi, maka pasti ada kiamat bumi ini pula.
Kalaupun surga dan neraka ikut hancur bersamaan dengan kiamat bumi ini, maka
mahluk yang ada di alam-alam itu akan dapat terlahir kembali di tata surya yang lain.
Dalam pengertian Buddhis, tata surya di alam semesta bukan hanya satu, melainkan
tak terhingga, demikian pula dengan bumi serta surga nerakanya.
Semoga jawaban ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

27. Dari: Suriyano Suryo Hariono, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, ada beberapa pertanyaan yang hendak saya tanyakan, yaitu:
1. Tentang istilah " Pencerahan Sempurna" dengan " Penerangan Sempurna" mana
yang lebih tepat pemakaiannya.
Mencapai "Penerangan/Pencerahan Sempurna " itu apa maksudnya?
2. Bagaimanakah cara pembuktian bahwa seseorang telah mencapainya dan cara yang
tepat menjelaskan ke umat/orang lain ?
3. Saya pernah mendengar cerita bahwa Boddhisattha Siddhatta mengalami sengsara
selama 6 (enam) tahun untuk mencapai Bodhi, disebabkan dalam kehidupan yang
lampau Beliau pernah ikut berbahagia atas hasil tangkapan ikan yang melimpah oleh
jaring nelayan? Benarkah?
Mohon penjelasannya.
Anumodana atas perhatian dan tanggapannya.
Semoga Bhante selalu sehat dan bahagia
salam metta,
Suryo

Jawaban:
1. Kedua istilah itu dapat dipakai secara bersamaan. Istilah yang satu tidak lebih tepat
daripada istilah yang lainnya. Keduanya mempunyai makna yang sama yaitu untuk
menyebutkan keadaan batin orang yang telah mencapai kesucian. Meskipun
demikian, istilah ini biasanya hanya dipergunakan untuk menggambarkan kondisi
Sang Buddha yang telah mencapai kesucian. Sedangkan, selain Sang Buddha
biasanya cukup disebut sebagai orang yang telah 'mencapai kesucian' saja. Adapun
pengertian "penerangan atau pencerahan" ialah batin seseorang yang telah memahami
dengan jelas bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, dukkha dan tanpa inti yang
kekal. Dengan adanya pemahaman ini, maka ia sudah tidak ada lagi kemelekatan.
Tidak ada lagi dalam batinnya rasa ingin terus bersama dengan yang disayangi dan
merasa kecewa karena berpisah dengan yang dicintai. Ia juga tidak lagi menderita
karena merasa berkumpul dengan yang dibenci. Setelah batin mencapai pencerahan,
ia menyadari bahwa segala perasaan suka dan duka itu adalah merupakan produk
pikirannya sendiri.
2. Untuk dapat mengetahui seseorang telah mencapai kesucian ataupun belum, hal ini
bisa dilihat dan diperhatikan dari dari banyaknya 'belenggu batin' yang telah
dipatahkannya. Memang hal ini agak sulit untuk dilihat secara awam, namun, paling
tidak beberapa hal yang diuraikan ini akan dapat dijadikan semacam pedoman umum.
Adapun 'belenggu batin' tersebut adalah:
1. Sakkayaditthi = Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal
2. Vicikiccha = Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya
3. Silabbataparamasa = Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat
membebaskan manusia dari penderitaan
Orang yang telah mematahkan ketiga belenggu ini disebut sebagai Sotapanna yang
akan terlahir kembali maksimal tujuh kali lagi.
4. Kamaraga = Nafsu Indriya
5. Vyapada = Benci, keinginan tidak baik
Orang yang telah mematahkan ketiga belenggu yang pertama (1,2,3) dan melemahkan
kedua belenggu lainnya (4,5) adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian
Sakadagami yang hanya sekali lagi dilahirkan kembali.
Sedangkan, orang yang telah mematahkan kelima belenggu di atas (1,2,3,4,5) adalah
orang yang telah mencapai tingkat kesucian Anagami yang tidak akan terlahir
kembali di alam manusia. Ia akan terlahir di sorga Suddhavasa dan disitu ia akan
mencapai tingkat kesucian Arahat
6. Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk
7. Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk
8. Mana = Ketinggian hati yang halus
9. Uddhacca = Batin yang belum seimbang benar
10. Avijja = Kegelapan bathin
Orang yang telah mematahkan kesepuluh belenggu inilah yang disebut sebagai
Arahat, atau yang telah mencapai Pencerahan. Ia tidak akan terlahir kembali di alam
manapun juga.
Dengan memahami adanya sepuluh belenggu inilah orang akan dapat secara
sederhana memperkirakan seseorang pelaksana Dhamma telah mencapai kesucian
ataupun belum. Selain itu, pemahaman ini akan dapat membantu untuk menerangkan
secara sepintas tentang kondisi seseorang yang telah mencapai kesucian kepada orang
lain.
3. Memang pernah dijumpai dalam salah satu keterangan bahwa Bodhisatta
membutuhkan waktu enam tahun bermeditasi di hutan Uruvela sebelum mencapai
kesucian sebagai bagian dari buah karma yang Beliau harus terima. Buah karma ini
sehubungan dengan kejadian pada beberapa kehidupan yang lalu ketika beliau merasa
bahagia, ber mudita citta atas keberhasilan para nelayan mendapatkan hasil panen
yang besar. Mudita Citta adalah kondisi pikiran ketika seseorang berbahagia melihat
mahluk lain berbahagia. Padahal, pada saat itu memang para nelayan sedang
berbahagia, hanya saja, obyek kebahagiaannya adalah merupakan penderitaan mahluk
lain.
Semoga berbagai keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

28. Dari: Handoko Halim, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bagaimana pandangan Buddhis tentang bisnis MLM yang sedang marak. Karena
yang sebagian orang mengatakan Bisnis MLM sangat membantu seseorang untuk
membangun bisnis-nya sendiri, tapi sebagian lagi menganggap Bisnis MLM
menjerumuskan orang banyak.
Terima kasih atas perhatiannya.
Sabbe Sattha Bhavantu Sukkhi Tattha.

Jawaban:
Suatu bisnis selama bukan merupakan usaha yang bersifat menipu. Bisnis itu dapat
diuraikan dengan kejujuran dan dapat dimengerti oleh orang yang akan mengikutinya,
maka sebenarnya hal ini tidak ada masalah. Apalagi, orang yang menjadi peserta
bisnis ini melakukannya berdasarkan pengertian dan kebijaksanaannya sendiri.
Kalaupun ia masih meragukan bisnis MLM ini, ia masih punya banyak kesempatan
untuk bertanya dan mempertimbangkannya. Jadi, dalam Dhamma, segalanya adalah
tergantung pada niat awalnya. Kalau memang bisnis ini niat awalnya untuk saling
membantu, maka tentunya bisnis ini dapat dikerjakan dan tidak masalah. Sebaliknya,
kalau niat awalnya adalah memang untuk memperdaya orang yang tidak mengerti,
maka hal ini dapat dikelompokkan sebagai usaha yang salah dan mengkondisikan
orang melakukan karma buruk.
Semoga pengertian ini dapat menambah wawasan Anda.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

29. Dari: Linda Hiu, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante Uttamo
Hal yang ingin ditanyakan adalah:
1. Bolehkah kita melakukan Sangha Dana kepada orang yang masih hidup? Dan
berupa apakah dana yang dipersembahkan?
2. Menurut Buddhis apakah diperbolehkan memasang hio pada saat (maaf)
menstruasi?

Jawaban:
1. Sanghadana dapat diartikan sebagai perbuatan baik dalam bentuk berdana kepada
Sangha. Sanghadana ini dapat dilakukan atas nama orang yang telah meninggal
maupun orang yang masih hidup. Tidak ada masalah. Sebab, segala buah kebajikan
yang dilakukan akan kembali kepada mereka yang mempunyai gagasan untuk berbuat
baik tersebut.
Sedangkan dana yang dapat dipersembahkan kepada Sangha biasanya berupa empat
kebutuhan pokok anggota Sangha. Keempat kebutuhan pokok itu adalah sandang
berupa jubah dan perlengkapannya, pangan yaitu makanan yang sesuai, papan adalah
merupakan tempat tinggal bhikkhu dan juga obat-obatan. Memberikan salah satu atau
bahkan keempat kebutuhan pokok tersebut dapat dilakukan setiap saat. Karena
dengan memberikan keempat kebutuhan pokok itu, seseorang bukan hanya
memberikan Sanghadana, melainkan juga Dhammadana karena ia telah mendukung
keberadaan Sangha. Mendukung keberadaan atau kelestarian Sangha ini juga dapat
berarti mendukung kelestarian Buddha Dhamma yang merupakan kebajikan tertinggi.
Disebutkan dalam Dhammapada XXIV, 21 bahwa Pemberian Kebenaran
(Dhammadana) mengalahkan segenap pemberian lainnya.
Di masa kini, banyak umat yang mempersembahkan keempat kebutuhan pokok
tersebut dalam bentuk uang. Hal ini dapat dilakukan sejauh orang tersebut
mempersembahkan uang dengan pikiran berdana empat kebutuhan pokok itu.
2. Mensturasi yang merupakan proses alam pada diri seorang wanita dianggap dalam
Dhamma sebagai hal yang wajar. Biasa saja. Dengan demikian, seorang wanita yang
sedang mensturasi dapat saja melakukan kegiatan rutin keagamaannya seperti puja
bakti di vihara, memasang dupa dan lilin, memimpin puja bakti, mempersembahkan
Sanghadana dan bahkan membersihkan Buddharupang pun tidak ada masalah. Tidak
ada batasannya sama sekali.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat untuk para wanita Buddhis
dimanapu berada.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

30. Dari: Guntur, Aliso viejo,USA
Bhante, saya punya pertanyaan.
Dalam pandangan hukum karma, kenapa ada wanita yang tidak bisa hamil? Apakah
karma masa lalu yang dilakukan oleh wanita tersebut sehingga menjadikannya tidak
bisa hamil?
Apakah ada paritta untuk menetralisirkan karma buruk tersebut, sehingga wanita
tersebut bisa hamil kembali?

Jawaban:
Seorang wanita belum bisa hamil atau bahkan sama sekali tidak bisa hamil dapat
terjadi karena berbagai sebab. Mungkin saja pada kehidupan lalunya ia tidak begitu
suka dengan kehamilan ataupun keberadaan anak-anak disekitarnya. Kuatnya rasa
ketidaksukaan ini adalah merupakan niat di bawah sadar untuk tidak mempunyai
keturunan. Niat itu dapat terbawa dalam kehidupan sekarang. Kuatnya niat itu pula
yang membuatnya sulit hamil. Namun, tentu saja hal itu bukan satu-satunya penyebab
kesulitan kehamilannya. Masih banyak kemungkinan karma lainnya sebagai
penyebab kondisi sulit hamil tersebut. Karma ini dapat berasal dari kehidupannya
yang lalu, maupun kehidupannya yang sekarang.
Untuk dapat mengatasinya, secara tradisi biasanya disarankan agar wanita itu bersama
dengan suaminya mengangkat anak terlebih dahulu untuk beberapa tahun lamanya.
Anak angkat ini, bisa saja adalah keponakannya sendiri. Selama masa pengangkatan
anak tersebut, suami istri disarankan pula untuk sering berkunjung ke berbagai panti
asuhan anak yatim piatu agar dapat berbuat kebajikan di sana. Kadang, dengan cara
tradisi ini, karma baik keluarga tersebut dapat berbuah dalam bentuk mendapatkan
keturunan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

31. Dari: Subhadevi, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, dalam kehidupan sehari-hari kita dianjurkan untuk waspada dalam pergaulan
/ hati-hati memilih teman / rekan kerja, saya rasa ini akan mengakibatkan kita
melakukan karma buruk melalui pikiran (jangan-jangan dia begini, hati-hati dengan
dia, jangan sampai tertipu dlsb., padahal kan belum tentu dia demikian).
Menurut Buddha Dhamma apa yang harus kita lakukan (pikirkan) agar kita bisa tetap
waspada tetapi tidak melakukan karma buruk melalui pikiran?
Anumodana atas perhatiannya. Namaskara,
Subhadevi

Jawaban:
Mewaspadai orang di sekitar memanglah merupakan hal yang cukup penting
dilakukan dalam kehidupan ini. Hanya saja, sikap demikian ini hendaknya tidak
disalahartikan bahwa seseorang telah berpikir buruk tentang orang lain. Seseorang
yang waspada adalah orang yang tidak mengkondisikan karma buruk menimpa
dirinya. Ia tidak harus berpikir buruk tentang orang lain. Hal ini dapat diibaratkan
seperti seorang pramugari yang selalu memperagakan tentang teknik penyelamatan
dalam keadaan darurat pada setiap penerbangan. Peragaan ini bukan berarti ia
mengharap terjadinya kecelakaan pesawat, melainkan ia selalu mempersiapkan diri
dari segala kemungkinan yang terburuk. Jadi, pikirannya tetap positif, bukan negatif.
Dengan demikian, ia tidak menanam karma buruk melalui pikiran.
Oleh karena itu, sikap berhati-hati terhadap lingkungan adalah hal yang wajar.
Bahkan dalam Dhamma dikatakan: Tidak bergaul dengan orang yang tidak
bijaksana, itulah Berkah Utama. Dan agar seseorang dapat menentukan teman
pergaulannya sebagai orang bijaksana atau tidak, tentunya diperlukan pengamatan
dan kewaspadaan untuk waktu yang relatif cukup lama.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

32. Dari: Affandi, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, mohon petunjuk agar saya dapat menyelesaikan permasalahan saya dengan
kedua orang tua saya. Masalah yang terjadi adalah adanya perbedaan pendapat dari
kedua orang tua yang tidak bisa dituruti, mengingat hal tersebut sangat tidak sesuai
dengan keinginan kita karena tidak sesuai dengan kondisi/peraturan yang akan
berlaku.
Dan menurut ajaran Agama Buddha bahwa menentang perintah kedua orang tua
adalah berat karma yg diterima.
Bagaimana menyelesaikan permasalahan ini dengan mengambil jalan tengah?
Sedangkan kami sebagai anak telah berusaha menjelaskan secara baik-baik akan
tetapi selalu di tentang dengan cacian dan umpatan.
Oleh sebab itu dengan sangat, saya memohon agar Bhante membantu saya
memberikan petunjuk agar saya dapat dengan bijaksana bisa menjelaskan pendapat /
jalan keluar yang terbaik kepada kedua orang tua saya.
Atas bantuannya, saya ucapkan terima kasih banyak.
Sabbe satta bhavantu sukhitata.

Jawaban:
Menentang pendapat orangtua memang merupakan suatu karma buruk, walaupun
bukan karma buruk yang paling berat. Namun, hal ini bukan berarti seorang anak
sama sekali tidak boleh menentang pendapat orangtuanya. Mengemukakan sikap
yang bertentangan dengan pendapat orangtua ini sangatlah tergantung pada CARA
pengungkapannya.
Dalam kondisi seperti ini, cara mengungkapkan perbedaan pendapat anak terhadap
orangtua dapat meniru cara yang telah dilakukan Sang Buddha beberapa ribu tahun
yang lalu. Dalam membabarkan Dhamma kepada semua lapisan masyarakat, Beliau
mempergunakan berbagai pertanyaan sebagai cara penyampaian dan pengajaran
Dhamma. Dengan memberikan banyak pertanyaan yang perlu dijawab oleh
pendengarNya, Sang Buddha telah mengajak pendengarNya untuk berpikir, bukan
hanya sekedar menerima suatu Ajaran. Sang Buddha menjadikan para pendengarNya
sebagai mitra untuk diajak maju batinnya, bukan hanya sekedar obyek yang
mendengarkan. Sang Buddha mampu mengubah pernyataan menjadi pertanyaan
untuk dapat mengarahkan orang agar berubah pola pikirnya tanpa harus merasa
digurui.
Cara seperti inilah yang kiranya amat tepat untuk dilakukan oleh seorang anak untuk
menyampaikan pendapat kepada orangtuanya. Dengan menggunakan pertanyaan
yang terarah, seseorang bahkan dapat memberikan pengertian kepada berbagai
lapisan masyarakat, dari berbagai tingkat pengetahuan.
Selain itu, dapat pula menggunakan pengaruh orang ketiga. Orang ketiga adalah
orang yang biasanya kata-katanya didengar dan dituruti oleh orangtua ataupun orang
yang akan diarahkan. Apabila sudah bertemu dengan orang ketiga tersebut, minta
tolonglah kepadanya untuk menyampaikan pendapat yang berbeda tersebut. Dengan
bantuan fihak ketiga tersebut, diharapkan orangtua dapat sedikit demi sedikit terbuka
pikirannya dan mau memikirkan jalan keluar yang memberikan manfaat untuk semua
fihak.
Semoga dengan menggunakan kedua cara ini Anda akan dapat menyampaikan
pendapat yang berbeda tersebut kepada orangtua.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

33. Dari: Joni Prasetiyo, San Francisco
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ada pertanyaan mengenai jawaban Bhante atas pertanyaan saya sebelumnya
mengenai vegetarian.
1. Negara melarang pembelian barang curian karena obyek penderitanya adalah
manusia yang mana mereka memperjuangkan nasibnya.....sedangkan hewan, tidak
ada kemampuan untuk berbicara sehingga ketidakadilan yang diterimanya tidak
pernah tersuarakan.
Pertanyaan saya, mengapa Agama Buddha berpegang pada aturan yang buat sesama
manusia, mengapa bukan pada ketidakadilan itu sendiri ?
Saya yakin kalo hewan bisa berbicara, mereka pasti memperjuangkan nasibnya dan
pada akhirnya pasti negara akan membuat hukum untuk itu.
2. Sangat tidak adil kalau karma dalam membunuh hewan itu ditimpakan hanya pada
pembunuhnya saja, bukan pemakannya juga. Pembunuh tersebut mempunyai niat
membunuh karena situasi disekitarnya menunjangnya (adanya keuntungan). Dalam
hal ini masyarakat non vegetarianlah yang membuat umpan sehingga terciptanya
penjagal-penjagal. Kecuali kalo pembunuh hewan tersebut hanya untuk kesenangan
dirinya, saya sangat setuju kalo karmanya hanya ditanggung dirinya. Bagaimana
menurut Bhante?
3. Apa Sang Buddha dulu semasa hidupnya pernah membeli daging di pasar? Setahu
saya, Beliau selalu menerima derma dari pengikutnya....menurut saya alasan Beliau
makan daging pada saat itu karena Beliau tidak mau membuat repot pengikutnya.
Saya sangat mengerti bahwa menjadi vegetarian bukanlah jaminan bahwa orang
tersebut adalah orang baik. Saya hanya ingin tahu mengapa Sang Buddha yang selalu
mengajarkan kasih sayang terhadap semua mahkluk tapi aliran Theravada
menghalalkan makan daging? Bahkan pada suatu acara kebaktian Theravada yang
saya hadiri beberapa tahun lalu, bhikkhu-penceramahnya pada saat itu mencibir
vegetarianisme.
Mohon tanggapannya Bhante dan terima kasih sebelumnya.
Semoga semua mahluk berbahagia.

Jawaban:
1. Dalam Dhamma, aturan untuk memperbolehkan seseorang mengkonsumsi daging
hewan bukanlah berdasarkan karena hewan tidak dapat menyuarakan keberatannya
seperti yang disebutkan dalam pertanyaan. Bukan demikian. Dasar yang
dipergunakan untuk seseorang dapat memakan daging atau bangkai hewan adalah
karena berhubungan dengan Hukum Karma.
Dalam Dhamma dikatakan bahwa karma adalah niat. Oleh karena itu, suatu
perbuatan dikatakan sebagai pembunuhan apabila perbuatan tersebut memenuhi
SEMUA persyaratan seperti yang disebutkan di bawah ini, yaitu:
1. Adanya mahluk
2. Mengetahui bahwa mahluk itu masih hidup
3. Ada NIAT untuk melakukan pembunuhan
4. Pembunuhan dilaksanakan
5. Mahluk yang semula hidup, kemudian menjadi bangkai
Membeli daging di pasar dan mengkonsumsinya dapat dilakukan oleh seorang umat
Buddha karena memang ia tidak pernah ada niat untuk melakukan pembunuhan. Ia
membeli daging ataupun tidak, binatang itu telah mati terbunuh. Jadi, masalahnya
bukan pada keadilan, namun, pada timbulnya niat membunuh atau tidak.
Sedangkan, untuk para bhikkhu, bangkai suatu mahluk tidak bisa dikonsumsi, apabila
terpenuhi salah satu dari syarat ini, yaitu:
1. Mendengar
2. Melihat atau
3. Ragu-ragu binatang itu dibunuh untuknya (Majjhima Nikaya I, 369)
Selama suatu bangkai terbebas dari ketiga syarat ini, kecuali bangkai manusia dan
beberapa jenis binatang tertentu, maka bangkai tersebut dapat dikonsumsi oleh para
bhikkhu tanpa beban adanya karma buruk.
2. Karma adalah niat. Suatu perbuatan yang dilakukan tanpa adanya niat, tidak dapat
disebut sebagai karma. Karena membeli bangkai di pasar tidak disertai dengan niat
memesan pembunuhan mahluk tertentu, maka ia tidak melakukan karma buruk. Ia
hanya membeli bangkai yang sudah ada di pasar. Ia tidak akan kecewa kalaupun pada
hari itu persediaan daging di pasar sudah habis. Ia tidak akan memesan daging untuk
keesokan harinya.
Sedangkan kalau ingin mencari fihak yang harus dipersalahkan dalam lingkaran
antara penjagal dan pembeli, tentunya hal ini akan menimbulkan perbedaan pendapat
yang tidak ada habisnya. Kedua kelompok ini timbul dalam masyarakat karena
adanya hukum sebab dan akibat. Mencari fihak yang salah agar dapat dikatakan adil
adalah sama dengan mencari jawaban antara telur dan ayam, manakah yang terlebih
dahulu ada. Hal ini akan memancing perdebatan yang tidak pernah dapat diselesaikan.
Sesungguhnya tujuan Buddha Dhamma adalah untuk mengubah cara berpikir agar
seseorang dapat terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Perubahan
cara berpikir ini tidak dipengaruhi oleh makanan. Hal ini tentunya telah Anda ketahui
pula. Disebutkan dalam Dhammapada X, 13: bukan dengan cara telanjang, rambut
dijalin, badan kotor berlumpur, berpuasa, berbaring di tanah, melumuri tubuh
dengan debu, atupun berjongkok di atas tumit, seseorang yang belum bebas dari
keragu-raguan dapat mensucikan diri. Dengan demikian, seseorang bisa saja tidak
sependapat dengan pandangan dalam Dhamma tersebut dan kemudian melaksanakan
vegetarian. Hal itu bukanlah masalah. Sebaliknya, apabila ada orang yang sependapat
dengan pandangan di atas dan ia tidak vegetarian, hal itupun bisa dibenarkan.
Pemilihan suatu sikap hidup tersebut adalah berdasarkan kecocokan. Satu fihak tidak
dapat memaksakan pendapat kepada fihak lainnya.
3. Kehidupan seorang bhikkhu memang ditunjang oleh para umatnya. Oleh karena
itu, seorang bhikkhu memang tidak diperkenankan berbelanja sendiri di pasar.
Namun, patut pula direnungkan bahwa Sang Buddha tidak mengharuskan para
bhikkhu vegetarian, tentunya karena pada waktu itu telah banyak bangkai dijual di
pasar. Sang Buddha tidak mengkritik orang yang membeli bangkai di pasar.
Sebaliknya, Sang Buddha juga tidak memuji seseorang yang vegetarian. Sang Buddha
pada hakekatnya menyatakan bahwa apabila seorang bhikkhu hendak menjalankan
vegetarian, silahkan saja, namun hal itu bukanlah merupakan keharusan maupun
peraturan kebhikkhuan. Jadi, sebenarnya, memang membeli dan memakan bangkai
bukanlah hal yang penting dalam Dhamma. Masalah paling pokok adalah pada
pengendalikan pikiran, bukan pada makanan.
Sedangkan, kalau ada bhikkhu Theravada yang dianggap mencibir vegetarianisme,
hal itu adalah merupakan pandangan dia pribadi, bukan merupakan pandangan suatu
lembaga Theravada tertentu. Semoga hal ini dapat dibedakan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan pengertian baru.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

34. Dari: Juni, Jakarta
Saya mau tanya bhante,
Anak saya (bayi) pernah kagetan (sesekali tangannya bergetar dan matanya
membelalak ketika mendengar sedikit suara yg agak keras), sepanjang malam
menangis dan selalu maunya digendong. Keesokan harinya saya bawa ke orang yg
bisa menyembuhkan(saya nggak tahu apa namanya tempat itu; dibilang 'shinshe'
sptnya bukan dan dibilang 'tepekong' juga bukan, orang itu bisa juga seperti orang
kesurupan) tapi untuk menyembuhkan anak saya dia hanya memasang dupa dan anak
saya disembayangi. Aneh bin ajaib anak itu memang sembuh sejak saat itu.
Saya mau tanya, apakah orang itu memang menyembuhkan atau suatu kebetulan aja
ya?
Bagaimana menurut Bhante?
Terima kasih.

Jawaban:
Cara pengobatan seperti yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut memang bisa
saja terjadi. Namun, keberhasilan suatu cara pengobatan tergantung pada timbunan
karma baik yang dimiliki oleh si anak itu sendiri. Kalau memang karma baiknya
mencukupi, maka orang 'pandai' itu tinggal mematangkan karma baik milik si 'pasien'
tersebut sehingga ia mendapatkan kesembuhan. Namun, kalau si 'pasien' belum
mempunyai timbunan karma baik yang cukup, di bawa kemanapun juga, didoakan
siapapun juga, ia tidak akan sembuh. Hal ini dapat diibaratkan sebagai buah mangga
yang akan masak dalam waktu tujuh hari. Apabila diletakkan di sekitar zat kimia
tertentu, maka buah mangga itu akan masak lebih cepat. Mangga itu akan matang
dalam waktu tiga hari, empat hari lebih cepat dari seharusnya. Namun, keberhasilan
cara ini tergantung pada kondisi buah mangga itu sendiri. Kalau kondisi mangga itu
masih terlalu muda, maka direndam zat itu selama berhari-haripun, tidak akan
membuat mangga muda itu matang, bahkan mungkin mangga itu menjadi busuk.
Sedangkan, dari sudut si orang 'pandai' atau paranormal, kalau memang ia pribadi
yang mampu menyembuhkan 'pasien'nya, maka 100 orang sakit yang dibawa
menjumpainya, kesemuanya pasti mendapatkan kesembuhan. Namun, kenyataannya
tentu tidak demikian mudahnya. Di antara orang yang diobatinya memang ada yang
sembuh. Namun, tentunya ada di antara mereka yang tetap sakit, atau bahkan
meninggal dunia. Semua hasil ini tergantung pada kondisi karma baik si 'pasien'
sendiri. Makin banyak karma baik yang dimiliki, makin cepat pula 'pasien' itu
mendapatkan kesembuhan sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

35. Dari: Pannasagara, Denpasar
Namo Buddhaya Bhante
Dalam Dhamma dikatakan ada Nibbana, rupa(28), citta(121) dan cetasika(52).
Pertanyaan saya:
1.Berapa citta yg ada disetiap manusia? Apakah satu citta yg berubah sesuai
kemunculannya atau memang ada banyak di satu manusia?
2.Kalau manusia mencapai kesucian apa yg terjadi? Apakah sankharanya habis atau
cittanya transform menjadi suci.
Terimakasih Bhante.
Salam Hormat.

Jawaban:
1. Citta apabila diartikan sebagai keadaan yang mengetahui, menerima, mengingat,
dan memikir obyek, maka citta hanya satu saja setiap saat pada tiap manusia.
Namun apabila dihitung menurut 'keadaan yang diketahui' dan 'bagian yang diketahui'
maka citta itu menjadi banyak, yaitu mengetahui dalam hal nafsu keinginan yang baik
dan tidak baik, mengetahui dalam hal Rupa Jhana (Jhana Bermateri atau tingkat
ketenangan batin bermateri), mengetahui dalam hal Arupa Jhana (Jhana tidak
Bermateri atau tingkat ketenangan batin yang tidak bermateri), mengetahui dalam hal
Nibbana dan lain-lain.
Jadi, bila dihitung secara terperinci, maka citta ada 89 atau 121 macam yang dibagi
menjadi empat bagian yaitu:
1. Kamavacaracitta 54 (=54 macam Kesadaran/pikiran yang berkelana di 11 Kama
Bhumi atau Kama Loka)
2. Rupavacaracitta 15 (=15 macam Kesadaran/pikiran yang mencapai obyek
Rupajhana atau kesadaran/pikiran yang berkelana di 16 Rupa Bhumi / Rupa Loka)
3. Arupavacaracitta12 (=12 macam Kesadaran/pikiran baik yang mencapai
Arupajhana atau kesadaran/pikiran baik yang berkelana di 4 Arupa Bhumi / Arupa
Loka)
4. Lokuttaracittacitta 8 atau 40 (=8 atau 40 macam kesadaran/pikiran di atas duniawi
atau di atas ketiga alam itu, Kamaloka, Rupaloka, dan Arupaloka)
2. Seseorang mencapai kesucian tertinggi sebagai Arahatta apabila batinnya telah
terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
Selama ia masih hidup, badannya masih tetap ada. Kondisi ini disebut sebagai Saupadisesa
Nibbana.
Apabila ia telah meninggal dunia, maka badan dan batinnya tidak terlahirkan kembali.
Kondisi ini disebut sebagai An-upadisesa Nibbana.
Semoga penjelasan singkat ini dapat memberikan sedikit gambaran.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

36. Dari: Tommy, Denpasar
Namo Buddhaya Bhante,
Pada suatu hari saya pernah didatangi oleh seekor belalang yg kaki2nya telah patah,
tdk tau apa penyebabnya. Apakah saya harus membunuh belalang tersebut atau
membiarkan dia tetap hidup? Karena saya merasa kasihan terhadap penderitaan
belalang tersebut. Tapi pada waktu itu saya membiarkan belalang itu tetap hidup,
salah kah saya?
Terima kasih atas jawaban dari Bhante.

Jawaban:
Sesungguhnya ketika menjumpai kondisi mahluk yang menderita seperti itu,
seseorang dapat mengambil salah satu sikap dari beberapa alternatif berikut ini:
Pertama, ia dapat menolong semampu yang dapat dikerjakannya terhadap mahluk
menderita itu. Sikap ini adalah merupakan kebajikan, karma baik.
Kedua, ia dapat membiarkan mahluk itu tetap menderita tanpa usaha sedikitpun untuk
menolongnya. Keputusan ini akan membuatnya kehilangan kesempatan untuk berbuat
baik kepada mahluk yang sedang menderita.
Ketiga, ia akan membunuhnya dengan alasan memperpendek waktu penderitaannya.
Perilaku yang terakhir ini adalah sama dengan menanam karma buruk. Dikatakan
sebagai karma buruk karena dalam Dhamma, pembunuhan adalah tetap pembunuhan,
apapun alasan yang dikemukakannya.
Keputusan untuk menentukan sikap yang harus diambil dalam menghadapi situasi
seperti itu tidak akan sama pada setiap orang. Semua tindakan yang dilakukan
tergantung pada kebijaksanan masing-masing orang.
Semoga jawaban ini dapat memberikan kejelasan dalam mengambil suatu sikap
nantinya.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

37. Dari: Suharyono, USA
Namo Buddhaya,
Kenapa Sang Buddha mengajarkan kita lebih pada pengendalian pikiran kita dari
pada pengendalian mata kita? Bukankah mata lebih merupakan salah satu faktor
pendorong timbulnya karma ataupun tanha? Contohnya kalo kita belom pernah
melihat gajah, maka dalam pikiran kita tidak bisa membayangkan gajah itu bentuknya
gimana. Demikian halnya kalo kita melihat tayangan di tv, bukankah semua
gambaran itu akan masuk ke dalam pikiran kita dan menjadi faktor pembentuk watak
/ pola pikiran kita? Sering kita melihat anak kecil kepingin meniru jagoan film yang
dilihatnya, ataupun seorang anak jadi pintar berbohong dan anak itu mengaku
belajarnya dari tayangan di TV.
Mohon diberi penjelasannya oleh Bhante.
Terima kasih banyak.
Sabbe Sattha Bhavantu Sukhitata

Jawaban:
Sepintas kelihatannya pendapat itu memang benar. Namun, dalam Dhamma dikenal
adanya ENAM INDRIYA, yaitu mata, telinga, hidung, mulut, kulit dan PIKIRAN.
Jadi, walaupun semua indria luar ini dirusak, mata dibutakan, misalnya, pikiran akan
tetap bekerja. Demikian pula dengan indria yang lainnya. Oleh karena itu, pikiran
memang sebagai sumber pengendalian diri. Kalau pikiran seseorang sedang tidak
terkonsentrasi, maka walaupun mata melihat suatu benda, ia tidak dapat mengenali
benda itu. Kondisi seperti ini dapat dilihat pada orang yang sedang melamun. Telinga
pun juga akan kehilangan fungsi untuk mendengar kalau pikiran orang yang
memilikinya sedang terkonsentrasi pada hal lain. Demikian pula dengan indriya
lainnya. Itulah sebabnya dalam Dhamma pikiran adalah merupakan hal yang paling
pokok. Suka dan duka yang dialami seseorang, kebaikan dan kejahatan seseorang
adalah produk pikirannya sendiri. Hal ini disebutkan dalam Dhammapada I: Pikiran
adalah pelopor segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan
akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan
bendanya.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

38. Dari: Purnomo, Jakarta
Apa kunci ajaran Dhamma yang bila kita pegang terus dalam kehidupan mampu
melewati semua masalah?

Jawaban:
MENERIMA KENYATAAN sebagaimana adanya bahwa kehidupan berisikan
perubahan.
Carilah SEBAB kenyataan yang sedang dialami, baik kenyataan yang
membahagiakan maupun yang menyedihkan.
Tingkatkanlah penyebab kenyataan yang membahagiakan. Perbaiki penyebab
kenyataan yang menyedihkan.
Maka, semua masalah akan dapat dilewati.
Kebahagiaan akan dapat dirasakan untuk waktu yang lama.
Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

39. Dari: Lily, Jakarta
Bhante,
Jika tiap kali saya ke Vihara, saya tidak dapat ikut kebaktian, melainkan menjalankan
kewajiban saya sebagai pengurus bursa (bagian penjualan), apakah hal ini salah?

Jawaban:
Sebenarnya mendapatkan tugas menjaga bursa sehingga tidak mengikuti kebaktian
adalah tidak salah, melainkan kurang sesuai dengan tujuan ke vihara yaitu beribadah.
Oleh karena itu, hal ini perlu dicari beberapa solusinya, yaitu:
1.Menambah jumlah petugas bursa. Dengan demikian, setiap petugas dapat menjaga
bursa secara bergantian. Minggu ini mungkin si A, minggu berikutnya si B, dst. Bisa
jadi dengan cara seperti ini, setiap orang hanya sekali sebulan terkena tugas menjaga
bursa sehingga tidak ikut puja bakti. Sedangkan di waktu ia bebas tugas, ia dapat
dengan sungguh-sungguh mengikuti puja bakti yang sedang berlangsung.
2.Bursa ditutup selama kebaktian. Artinya, selama puja bakti berlangsung, transaksi
bursa di hentikan sama sekali. Untuk orang yang memerlukan barang dari bursa,
hendaknya ia mencarikan sebelum dan sesudah kebaktian. Kebijakan ini akan
memberikan kesempatan kepada semua petugas untuk mengikuti puja bakti.
3. Pengurus vihara membayar orang secara professional untuk mengelola bursa.
Inilah sebagian dari beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh pengurus vihara.
Mungkin masih banyak alternatif lainnya yang sesuai dengan kondisi vihara setempat.
Semoga hal ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

40. Dari: Hendy, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai:
1. Beberapa minggu ini saya mengalami susah tidur, lalu saya mencoba membaca
paritta, sekitar jam 12-2 subuh. Paritta yang saya baca sama dengan yang dilakukan
dihari minggu pagi, apakah ada paritta lain yang boleh dibaca atau tidak dibaca?
2. Bhante, ada beberapa mitos yang saya dengar, katanya kalau meditasi malam
sekitar antara jam 1-2 subuh bisa kerasukan makhluk halus? Mohon diklarifikasi
supaya saya mendapat informasi yang benar.

Jawaban:
1. Ketika seseorang mengalami kesulitan tidur, ia dapat mengisi waktu jaganya
dengan membaca paritta. Hal ini adalah merupakan kebiasaan yang sangat baik.
Adapun susunan paritta yang dibaca dapat mengikuti tuntunan Kebaktian Umum pada
buku Paritta Suci. Tuntunan Kebaktian Umum ini biasanya dipergunakan sewaktu
kebaktian umum Hari Minggu. Atau, dapat pula menambahkan berbagai paritta yang
ada di buku Paritta Suci tersebut. Penambahan ini dapat dilakukan sesuai dengan
kondisi saat itu. Tiap orang dapat membaca paritta yang berlainan. Tidak masalah.
Namun, akan lebih baik lagi kalau sewaktu membaca paritta, juga membacakan arti
paritta. Dengan demikian, orang tidak hanya mahir membaca paritta, melainkan juga
mengerti isi paritta yang dibacanya, dan dapat melaksanakannya dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Memang dalam masyarakat sering beredar mitos semacam itu. Orang yang dapat
kerasukan mahluk halus sewaktu bermeditasi sesungguhnya bukan karena waktu
latihannya yang keliru, melainkan karena kurangnya tingkat kesadaran yang
dimilikinya. Apabila setiap orang yang melatih meditasi selalu tekun dan bersemangat
untuk menyadari bahwa: SAAT INI SAYA SEDANG APA? Ia selalu sadar bahwa
saat ini ia sedang duduk. Saat ini ia sedang berdiri. Saat ini ia sedang berjalan. Saat
ini ia sedang berbicara. Saat ini ia sedang diam. Saat ini ia sedang bergembira. Saat
ini ia sedang gelisah, dst. Maka, orang yang setiap saat selalu terjaga kesadarannya ini
tidak akan pernah kerasukan mahluk halus. Ia sudah tidak memiliki rasa takut lagi. Ia
sudah tidak memiliki batas waktu latihan meditasi. Ia SETIAP SAAT selalu dalam
konsentrasi meditasi. Kesadaran setiap saat inilah yang menjadi tujuan meditasi
Buddhis.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan kemantapan dalam melatih meditasi untuk
mengembangkan kesadaran.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

41. Dari: Andi, Jakarta
Salam Hormat Bhante,
Bhante, didalam pekerjaan ada keyakinan terutama di lingkungan masyarakat
Tionghoa, bahwa setiap orang mempunyai "jodoh" untuk masing-masing pekerjaan.
Ada orang yang jual elektronik dan bisa berhasil, sedang orang lain tidak berhasil,
tapi ketika dia berjualan bahan bangunan malah berhasil.
Untuk itu bagaimana pendapat Bhante mengenai "jodoh" didalam pekerjaan ini, dan
bagaimana kita menemukan "jodoh" ini? Apa tergantung dari "SHIO" seseorang?

Jawaban:
Memang ada kepercayaan dalam masyarakat bahwa keberhasilan suatu pekerjaan
dapat ditentukan berdasarkan 'jodoh' setiap orang. Kepercayaan ini adalah merupakan
tradisi, bukan Agama Buddha. Titik tolak menentukan pekerjaan yang sesuai untuk
masing-masing orang biasanya dengan melihat shio, tanggal lahir, bentuk wajah
orang tersebut dan masih banyak cara lainnya.
Seorang umat Buddha selain mempelajari dan melaksanakan Buddha Dhamma, ia
masih dapat pula mengikuti dan melaksanakan tradisi yang dimilikinya. Namun,
hendaknya ia dengan jelas dapat membedakan perilaku yang memang ada dalam
Buddha Dhamma atau dalam tradisi. Dengan demikian, ia tidak akan menjadikan
tradisi sebagai Buddha Dhamma, maupun sebaliknya.
Sedangkan dalam Dhamma, seseorang bisa sukses dalam usaha adalah karena adanya:
1. Rasa senang pada usaha yang dikerjakannya.
2. Bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan.
3. Berhati-hati dalam bekerja dan
4. Selalu mengadakan evaluasi atas hasil kerja yang dilakukannya. Kalau hasilnya
buruk, ia akan mencari sebab keburukannya dan memperbaikinya di masa mendatang.
Sebaliknya, apabila hasilnya baik, ia juga akan mencari sebabnya untuk dapat
ditingkatkan di masa mendatang. Dengan demikian, ia akan selalu meningkatkan
berbagai hal positif dalam dirinya dan memperbaiki banyak hal negatif yang ia miliki.
Ia akan selalu meningkat dan mendapatkan kebahagiaan.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

42. Dari: Vera_Bali, Denpasar_Pupuan
Bhante...
Kenapa Agama Buddha itu enak didengar tetapi susah untuk dipraktekkan? Apa sich
kendalanya?
Anumodana Bhante...

Jawaban:
Memang sesungguhnya Dhamma indah pada awalnya, indah pada pertengahannya
dan indah pada akhirnya. Dhamma juga indah untuk didengarkan. Dhamma indah
untuk diucapkan. Namun, Dhamma sulit untuk dilaksanakan. Timbulnya kesulitan ini
karena melaksanakan Dhamma berarti mengurangi ketamakan, kebencian dan
kegelapan batin nya sendiri. Dengan demikian, seseorang yang melaksanakan
Dhamma dengan sungguh-sungguh berarti ia berusaha memperbaiki dirinya sendiri.
Ia akan selalu mengendalikan dirinya dari segala nafsu yang timbul. Hal inilah yang
menjadi titik kesulitannya. Kebanyakan orang tidak ingin berpisah dengan
'keakuannya'.
Seseorang dapat saja menekan orang lain untuk melakukan sesuatu berdasarkan
kekuasaannya. Namun, orang tidak dapat menekan dirinya sendiri walaupun ia
seorang penguasa. Orang sering terkalahkan oleh 'keakuan'nya sendiri. Namun, kalau
orang itu mau sedikit demi sedikit berjuang, maka 'keakuan'nya juga semakin menipis
sehingga akhirnya hilanglah ketamakan, kebencian dan kegelapan batinnya. Orang
yang demikian inilah yang telah mencapai kesucian.
Usaha dan perjuangan untuk mencapai kesucian memang tidak mudah, namun bukan
berarti tidak mungkin. Semua itu dapat dikerjakan kalau ada kemauan untuk
mengalahkan diri sendiri.
Dhammapada VIII, 4: Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh
dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah
orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.
Tidak mudah memang.
Namun, apabila seseorang dapat memulainya sekarang, maka ia telah melakukan
perjalanan selangkah. Bukankah perjalanan satu kilometer juga dimulai dengan
selangkah?
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

43. Dari: Robin, Makassar
Namo Buddhaya,
Bhante, saya ada beberapa pertanyaan, mohon Bhante memberi petunjuk.
1.Bhante, ada buku berjudul 'Hukum Karma Dan Cara Memperbaiki Nasib'. Buku
tersebut sangat bagus. Dalam buku disebutkan, KALAU TIDAK SALAH, bahwa
".....kita sebagai ciptaan Tuhan...".
Pertanyaan saya, bukankah dalam Agama Buddha diajarkan bahwa manusia tidak
diciptakan?
Mohon Bhante menjelaskan.
2.Bhante, apakah baik, apabila kita rajin bersembahyang? Misalnya pergi ke
Kelenteng.
Jika kita minta tolong kepada Dewa, apakah permintaan kita bisa dikabulkan, Bhante?
3.Bhante,saya minta maaf sebesar-besarnya karena pertanyaan yang ketiga ini
mungkin kurang sopan didengar.
Begini Bhante, di dalam mobil teman saya ada sebuah gantungan di kaca spion
tengah bergambar Dewi Kwan Im. Teman saya dan pacarnya (maaf), biasanya
berciuman di dalam mobil. Apakah perbuatan mereka tersebut adalah kesalahan?
Apakah mereka telah berbuat dosa terhadap Dewi Kwan Im?
Kadang kala teman saya takut dan pusing karena teman saya sangat takut telah
berbuat dosa terhadap Dewi Kwan Im.
Apabila mereka telah berbuat salah terhadap Dewa, apa yang mesti dilakukan agar
kesalahan mereka itu bisa terampuni?
4.Bhante, bagaimana cara mengendalikan emosi agar orang tidak cepat emosi?
Terima Kasih Bhante.

Jawaban:
1. Buku tersebut mungkin disusun dan diterbitkan oleh Agama Buddha yang berasal
dari tradisi lain. Dalam salah satu tradisi Buddhis, memang ada yang mempunyai
kepercayaan bahwa manusia diciptakan. Hanya saja, dalam Kitab Suci Tipitaka sudah
dijelaskan bahwa manusia bukanlah diciptakan, melainkan hasil dari suatu proses
yang membutuhkan waktu lama.
Karena banyaknya buku sejenis yang beredar di masyarakat, hendaknya para umat
dan simpatisan Buddhis sewaktu membaca buku-buku tersebut dapat memahami dan
membedakannya dengan baik. Pemahaman yang baik ini akan menghindarkan orang
dari kesalahpengertian akan inti Ajaran Sang Buddha. Dengan demikian, orang akan
dapat memetik manfaat dari suatu buku tanpa harus mengalami kebingungan karena
menemukan pertentangan dengan Kitab Suci Tipitaka.
2. Rajin sembahyang atau membaca paritta adalah merupakan kebajikan. Hal ini
karena selama seseorang bersembahyang, pikiran, ucapan dan perbuatannya
diarahkan menuju ke hal yang baik. Dengan demikian, makin semakin sering
seseorang bersembahyang, akan semakin banyak pula ia menimbun kebajikan.
Namun, sembahyang dalam Agama Buddha bukanlah meminta-minta. Sembahyang
dalam Agama Buddha adalah mengulang kotbah Sang Buddha dan berusaha mengerti
isi kotbah tersebut. Setelah memahami makna kotbah Sang Buddha, ia hendaknya
melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga ia akan mendapatkan
kebahagiaan lahir dan batin.
Daripada memohon kepada para Dewa atau para penghuni surga lainnya, sebenarnya
lebih baik para umat Buddha setiap saat selalu menambah kebajikan lewat ucapan,
perbuatan dan pikiran. Karena suka dan duka yang ia rasakan adalah tergantung pada
timbunan kebajikannya sendiri, bukan karena kekuasaan para dewa. Kalau memang
karma baik yang dimilikinya sudah saatnya berbuah, maka para dewa yang
merupakan penghuni surga itu hanya dapat mengkondisikan karma baiknya berbuah
lebih cepat lagi sesuai dengan yang diharapkan. Namun, kalau timbunan karma
baiknya masih belum mencukupi, siapapun juga tidak akan dapat menolong orang itu,
termasuk para dewa. Jadi, segalanya tergantung pada karma baiknya sendiri.
Perbedaan saat berbuahnya karma baik inilah yang menjadi alasan seseorang dapat
dianggap terkabul doanya, sedangkan orang lain yang melakukan hal yang sama
merasa tidak terkabul doanya.
3. Berciuman di masa pacaran pada masa sekarang dianggap sebagai suatu hal yang
wajar. Namun, berciuman bila dipandang dari pengertian Dhamma dapat digolongkan
sebagai pelanggaran sila ketiga dari Pancasila Buddhis. Sila ketiga Pancasila Buddhis
menggolongkan organ seksual adalah:
1. Mulut
2. Alat kelamin dan
3. Anus
Penggunaan salah satu dari organ seksual di atas kepada orang yang bukan pasangan
hidupnya, dapat dikatakan sebagai pelanggaran sila ketiga. Oleh karena itu,
sebenarnya karma buruk bukan berasal dari adanya gantungan di kaca spion,
melainkan berasal dari perbuatan itu sendiri. Gantungan itu adalah sekedar benda.
Gantungan dengan bentuk apapun juga tidak akan menjadikan perilaku seseorang di
hadapannya salah atau benar. Salah atau benar tergantung pada perilakunya sendiri.
Oleh karena itu, agar mereka dapat terbebas dari beban pikiran yang dapat
menimbulkan stress maupun pusing, hendaknya mereka bertekad menghentikan
perbuatannya itu. Mereka dapat melanjutkan perbuatan itu setelah keduanya menjadi
suami istri, bukan lagi semasa pacaran.
4. Emosi adalah merupakan ekspresi pikiran seseorang yang berisikan ketamakan
maupun kebencian. Munculnya semua ekspresi ketamakan dan kebencian ini karena
adanya kegelapan batin yaitu tidak memahami bahwa segalanya selalu berubah.
Ketika seseorang tidak ingin berpisah dengan yang dicintainya, sedangkan hal itu
pasti harus terjadi, maka timbullah emosi kesedihan. Demikian pula sebaliknya,
ketika seseorang harus bertemu dengan yang dibencinya karena ia tidak akan dapat
selalu menghindarinya, maka timbullah emosi kemarahan.
Oleh karena itu, agar seseorang dapat mengendalikan emosinya, ia hendaknya selalu
menyadari bahwa segala sesuatu selalu berubah. Hal yang menyenangkan pasti akan
berpisah darinya, sedangkan hal yang tidak menyenangkan juga akan muncul dalam
kehidupannya. Semua perubahan ini dapat muncul dan tenggelam seiring dengan
adanya perubahan waktu. Dengan mampu menyadari bahwa segalanya berubah, ia
akan dapat menerima segala perubahan sebagai kenyataan. Dengan mampu menerima
segala perubahan sebagai kenyataan, batinnya akan menjadi tenang. Emosi yang
selalu bergolak akan dapat dikendalikan. Setelah mampu menerima kenyataan
sebagaimana adanya, ia hendaknya berusaha mencari sebab berpisahnya dengan yang
dicinta dan berkumpulnya dengan yang dibenci. Apabila ia telah mengetahui
penyebab keduanya itu terjadi, ia dapat meningkatkan penyebab berkumpulnya
dengan yang dicinta, dan mencegah sebab berkumpulnya dengan yang dibenci.
Dengan demikian, setiap saat ia akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya agar
selalu bahagia dan terus berbahagia.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

44. Dari: Lie Ching, Medan
Namo Buddhaya Bhante,
Apa yang dimaksud dengan ketagihan akan penjelmaan (Bhava Tanha) dan ketagihan
akan pemusnahan diri (Vibhava Tanha)?
Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:
Bhava Tanha adalah keinginan terus menerus untuk melanjutkan kehidupan dalam
alam kehidupan sekarang ataupun untuk dapat terlahir kembali di alam kehidupan
berbahagia di masa yang akan datang. Timbulnya keinginan untuk selalu hidup ini
bisa terjadi karena adanya kemelekatan atau belum siap menghadapi kematian yang
akan selalu datang setiap waktu.
Vibhava Tanha adalah keinginan untuk tidak berada di dalam alam kehidupan
sekarang (ingin mati) karena mengalami kejemuan atau kebosanan, atau adanya
keinginan untuk tidak dilahirkan kembali di dalam alam kehidupan tertentu yang lain.
Keinginan untuk tidak hidup ini sering terjadi dalam diri orang yang sedang tertimpa
kesulitan. Karena beban kesulitan yang sangat berat, kadang orang sampai berniat
membunuh dirinya sendiri. Ia merasa bahwa kematian akan dapat menyelesaikan
masalah.
Semoga pengertian yang singkat ini dapat direnungkan dan difahami.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

45. Dari: Thanuttammo, Amsterdam
Bhante Uttamo,
Terimakasih atas penerangannya terdahulu tentang penting atau tidaknya memahami
terlebih dahulu "bahwa setiap citta dan cetasika itu timbul dan tenggelam dengan
sendirinya apabila persyaratannya hadir" sebelum melatih samatha atau vipassana
bhavana.
Pertanyaan berikutnya adalah kelanjutan dari penerangan Bhante, yakni bahwa dalam
kamathana itu sulit menghindari rasa "aku" sebab yogi senantiasa dihadapi situasi
sulit dimana yogi kemudian berpikir dari rasa "aku" untuk bisa mengimbangi
percobaan. Contoh soal: aku harus bisa meletakan Sati sebagai tiang soko bagi
faktor2 indrya yang lain kalau tidak, nanti bisa ngantuk, males, geregetan, bimbang
dsb. Atau aku harus bisa mencapai ekagata, padahal Sati maupun Ekagata timbul dan
tenggelam karena persyaratan dan bukan atas kemauan Yogi.
Demikianpun dengan Nyana dalam vipassana, bukankah karena tidak ada pengertian
tentang syarat timbul dan tenggelamnya Cetasika, maka seorang Yogi disekitar Nyana
ke 4 bisa berfikir bahwa misinya sudah tercapai, padahal baru kena rimpilannya Piti,
Sukha dan Upekha dan lain2 keadaan jiwa?
Lalu dimana letak pentingnya Abhidhamma dan kapan seorang yogi harus mengenal
Dhamma lebih dalam? Dalam praktek sedikit sekali Ajar yang memberi penerangan
tentang Cetasika atau Citta, janana, javana dsb. Kemudian kalau seorang yogi
beruntung bisa mendekati upacara samadhi, terkadang timbul kemampuan2 aneh
yang justru bisa memperkuat rasa "kemampuan diri". Kalau kemudian Ajar hanya
mengatakan tinggalkan dan jangan melekat, yogi kemudian bingung dengan apa yang
didapatkannya. Bukankah ini berarti bahwa yogi harus mengerti pokok2 dari
Abhidhamma juga?
Mohon penerangannya.
Salam metta.

Jawaban:
Seperti yang telah disebutkan dalam pertanyaan di atas bahwa dengan adanya
'keakuan' akan membuat pelaku meditasi semakin sulit memusatkan perhatian pada
obyek. Pikirannya akan selalu sibuk 'berdiskusi' sehingga kemajuan batin sulit
diperoleh. Keakuan ini dapat muncul karena pelaku meditasi masih belum
sepenuhnya mampu memusatkan perhatian pada obyek. Ia masih memberikan
peluang pada pikirannya untuk memikirkan hal lain. Gerak gerik pikiran sungguh
amat halus. Ketika memperhatikan obyek, untuk pelaku meditasi pemula, sulit
melihat saat tepat pikirannya mulai bergoyang. Ia baru menyadari gerak pikirannya
tersebut setelah beberapa saat pikiran meninggalkan obyek. Latihan memperhatikan
dan menyadari pikiran agar selalu menetap pada satu obyek yang dipilih ini adalah
merupakan tahap awal bermeditasi. Untuk dapat mencapai tahap ini, bukan teori
panjang yang diperlukan, justru kesederhanaan pikiran. Pelaku meditasi cukup hanya
mengetahui cara duduk dan obyek meditasi yang akan dijadikan sarana
mengendalikan pikiran agar tidak bergerak-gerak. Kemudian, selama bermeditasi, ia
hendaknya selalu berusaha memusatkan pikirannya pada obyek yang dipilih.
Setelah ia mampu memusatkan perhatian sehingga pikirannya tidak bergerak-gerak
lagi maka ia dapat melanjutkan ke tahap meditasi berikutnya. Apabila pada tahap
awal ia harus selalu berusaha memusatkan perhatian pada obyek meditasi yang
dipilih, maka pada tahap berikutnya, apabila pikirannya bergoyang, ia hanya
menyadari, mengenali dan mengamatinya. Ia akan mengerti bahwa ketika pikiran
bergerak dan disadari, maka gerak pikiran itu akan lenyap. Batin menjadi tenang
kembali. Ketika pikirannya kembali bergerak, disadari, lenyap dan tenang kembali.
Demikian seterusnya. Ia menyadari bahwa setiap kali gerak pikirannya muncul dan
diamati, maka gerakan itu akan lenyap kembali. Ia akan menyadari bahwa segalanya
tidak kekal. Ia bahkan menyadari bahwa badan, perasaan, pikiran, ingatan dan
kesadaran adalah tidak kekal. Ketika ia menyadari sepenuhnya bahwa kelimanya
tidak kekal, ia juga akan menyadari bahwa segalanya hanya dukkha dan tanpa inti
yang kekal. Pada saat itulah orang akan mencapai kebebasan dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Mengenai pengajaran Abhidhamma, apabila memperhatikan riwayat Sang Buddha 45
tahun mengajar Dhamma, pengajaran Abhidhamma dilakukan Sang Buddha hanya
sekali saja. Pengajaran Abhidhamma itupun dilakukan oleh Sang Buddha untuk ibu
Beliau yang sudah terlahir di surga. Sedangkan, untuk para bhikkhu maupun para
umat, sepertinya tidak dijumpai Ajaran Sang Buddha tentang Abhidhamma. Dengan
demikian, dapatlah disimpulkan sepintas bahwa pengertian Abhidhamma bukanlah
penunjang keberhasilan seseorang untuk mencapai kesucian. Kalau seandainya
pengetahuan Abhidhamma ini merupakan faktor yang penting untuk menunjang
pencapaian kesucian seseorang, maka pastilah Abhidhamma akan banyak diuraikan
Sang Buddha di berbagai kesempatan.
Oleh karena itu, para guru meditasi sering menyampaikan bahwa pengalaman dalam
bermeditasi untuk mengamati segala sesuatu yang ada dalam diri sehingga
mengetahui dengan tepat saat kemunculan dan lenyapnya pikiran itulah yang akan
menjadi guru sejati untuk seseorang mencapai kesucian.
Semoga hal ini dapat dimengerti.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

46. Dari: Sartono Njoo, Los Angeles
Namo Buddhaya
Bhante, dalam sejarah Buddhism Theravada, nama-nama seperti:
1. YA Athisa Dipangkara
2. YA Nagarjuna
3. YA Dharmakirti(Serlingpa Dharmakirti)
juga dikenal maupun diakui sebagai anggota sangha?

Jawaban:
1. Y.M. Atissa Dipangkara yang dilahirkan di Bengal, India adalah merupakan guru
besar yang sangat terkenal di Universitas Nalanda. Beliau yang membawa garis
silsilah Kadampa ke Tibet. Beliau mendapatkan Janji Bodhisattva dan Ajaran dari
Lama Serlingpa Dhammakirti. Ketika beliau mengenalkan Dharma ke Tibet atas
permintaan Raja Lhade, Lama Yeshe Öd and Jangchub Öd, maka beliau mengajar
Dhamma selama 13 tahun. Banyak murid beliau yang terkenal, termasuk Geshe Drom
Tonpa. Selanjutnya, untuk membahagiakan raja, beliau juga menulis sebuah naskah
yang dikenal sebagai: "the Lamp for the Path to Enlightenment". Beliau juga pernah
berguru di Swarnadwipa (Sriwijaya) selama 20 tahun lamanya. Karena perjuangan
dan semangat belajar beliau yang tidak pernah kenal putus asa, maka beliau kemudian
menjadi salah satu mutiara dunia.
2. Y.M. Nagarjuna hidup pada masa abad pertama sampai dengan kedua masehi.
Beliau terlahir sebagai keturunan brahmana di Vidarbha (Beda) India Selatan dengan
nama Siddhipada. Beliau sangat rajin mempelajari dan melaksanakan Dhamma di
bawah asuhan Saraha yang juga dikenal sebagai Rahulabhadra. Karena keberhasilan
beliau, maka beliau diangkat sebagai Kepala Vihara Nalanda. Nagarjuna sebagai
seorang filosof yang sangat cerdas menyusun "the Middle Path of the voidness
(sunyata) of all phenomena" yang berisikan: "bahwa segalanya bukan ada
(eternalism) maupun tidak ada (nihilism)". Pandangan beliau diringkas menjadi:
"samsara sama dengan nirvana". Gagasan-gagasan beliau yang tajam kemudian
dikenal sebagai aliran Madhyamika yang sering disebut sebagai Centrism. Pandangan
itu kemudian sejak abad ke empat belas diikuti oleh banyak aliran Gelugpa dari
Buddhisme Tibet.
3. Y.M. Serlingpa Chokyi Drakpa, atau dalam bahasa Sanskrit dikenal sebagai
Suvarnadvipi Dharmakirti adalah seorang guru yang sangat bijaksana dari Indonesia.
Nama besar beliau yang hidup di jaman kerajaan Sriwijaya ini dikenal sampai ke
Tibet. Bahkan banyak guru besar Agama Buddha dari India dan Tibet yang belajar
kepadanya. Salah satu murid terkenalnya adalah Yang Mulia Atissa Dipangkara dari
India.
Apabila memperhatikan gambaran singkat ketiga tokoh di atas, maka jelaskan bahwa
mereka bertiga adalah merupakan tokoh terkemuka Agama Buddha di tingkat dunia.
Ketiganya adalah merupakan harta tak ternilai dalam sejarah perkembangan dan
pelestarian Buddha Dhamma.
Dalam pandangan Theravada, seseorang menjadi anggota sangha atau tidak bukan
dilihat dari kesediaannya menjadi anggota Sangha Theravada ataupun membabarkan
Dhamma menurut Tipitaka Pali, melainkan berdasarkan terpenuhinya berbagai
persyaratan penabhisan bhikkhu sesuai dengan yang telah digariskan dalam Tipitaka.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

47. Dari: Linda Hiu, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante Uttamo
Saya ingin bertanya mengenai : Paritta apa yang harus saya bacakan pada saat saya
ingin "Fang Sen"?

Jawaban:
Pada saat seseorang melakukan fangsen atau melepaskan mahluk hidup untuk
kembali ke habitatnya, seseorang dapat membacakan Karaniyametta Sutta atau
Abhaya Paritta. Akan tetapi, hal yang lebih penting daripada membaca paritta
tersebut adalah melakukan perenungan akan Hukum Karma:
"Sesuai dengan Hukum Karma, mereka yang menanam kebajikan akan mendapatkan
kebahagiaan, semoga dengan membebaskan mahluk ini akan dapat memberikan
kebahagiaan untuk para mahluk yang dibebaskan. Semoga dengan memberikan
kebahagiaan kepada mahluk lain ini akan dapat membuahkan kebahagiaan untuk diri
sendiri. Semoga kita semua terbebas dari segala ketakutan, kegelisahan maupun
berbagai hal yang buruk lainnya. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga
demikianlah adanya."
Semoga hal ini dapat dimengerti.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

48. Dari: Hadi, Jakarta
Bhante,saya ada beberapa pertanyaan?
1. Apa itu Nibbana?
2. Apa benar Nibbana merupakan kekosongan, yang berarti tidak ada apa-apa. Karena
ada beberapa aliran dalam Agama Buddha yang selalu menjelaskan bahwa tujuan
akhir kita ialah kekosongan.
3. Bila benar tujuan akhir kita ialah ketiada apa-apa, untuk apa lagi kita bersusah
payah mencapai Nibbana, toh hasilnya ga ada.
4. Apakah dengan mencapai Nibbana, kita masih bisa melihat, mendengar, merasakan
dan berpikir?
Jawaban:
1. Ada beberapa pengertian tentang Nibbana, antara lain:
a. Nibbana adalah keadaan yang terbebas dari tanha (sumber:
Abhidhammatthasangaha)
b. Nibbana adalah keadaan ketenangan yang timbul dengan terbebasnya dari tanha
(Sumber: Paramatthadipanitika)
c. Nibbana adalah kebahagiaan yang terbebas dari kilesa (Sumber: Visudhimagga)
d. Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi (Sumber: Visudhimagga)
Seseorang disebut telah mencapai Nibbana apabila batinnya telah terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Membebaskan batin dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin ini dilakukan dengan melaksanakan Jalan Mulia
Berunsur Delapan.
Pencapaian Nibbana ketika seseorang masih hidup disebut sebagai Sa-Upadisesa
Nibbana (=Padamnya kilesa secara total, namun lima kelompok kehidupan masih
ada). Sedangkan ketika orang yang telah mencapai kesucian itu meninggal, maka
pencapaiannya disebut sebagai An-Upadisesa Nibbana (=Padamnya kilesa secara
total dan juga padamnya lima kelompok kehidupan).
2. Nibbana sering pula disebut sebagai Asankhata Dhamma atau Dhamma yang tidak
bersyarat. Salah satu kualitas 'tidak bersyarat' adalah "tidak dapat diceritakan". Segala
usaha untuk menceritakan Nibbana sebenarnya akan menjadikan timbulnya
pandangan keliru tentang Nibbana. Hal ini dapat disamakan dengan usaha manusia
untuk menceritakan rasa durian kepada mereka yang belum pernah makan durian.
Sebaik apapun seseorang menceritakan rasa durian itu, orang yang mendengarkannya
tidak akan pernah bisa memahaminya dengan pasti. Orang tersebut baru akan
mengerti yang dimaksudkan apabila ia telah mencicipi durian. Demikian pula dengan
Nibbana, hanya bisa diketahui dengan pasti oleh mereka yang telah mengalaminya.
Oleh karena itu, salah satu prinsip Dhamma adalah ehipassiko yaitu datang dan
buktikan, bukan datang dan percayalah.
Adanya pengertian 'kekosongan' yang timbul dalam masyarakat karena dalam
Dhamma dikatakan bahwa segalanya adalah merupakan paduan unsur. Disebut
sebagai 'rumah' bukan karena atap, bukan karena dinding, jendela maupun lantainya,
namun karena keseluruhan atau paduan unsurnya. Jadi, istilah 'rumah' hanyalah
kesepakatan bersama untuk mempermudah komunikasi. Jadi, pengertian 'rumah' itu
adalah kekosongan.
Timbulnya 'warna' sesungguhnya hanyalah merupakan perbedaan frekuensi
gelombang cahaya yang diterima oleh otak manusia. Warna 'putih' adalah karena
memantulkan seluruh gelombang cahaya yang datang. Warna 'hitam' adalah karena
menyerap seluruh gelombang cahaya yang ada. Adanya perbedaan warna yang
dimengerti manusia adalah karena otak menangkap berbagai perbedaan frekuensi
gelombang cahaya. 'Warna' itu adalah kekosongan, hanya kesepakatan bersama.
Demikian pula dengan perbedaan nama hari. Apakah yang membedakan bahwa hari
ini disebut hari 'Senin' sedangkan yang lain disebut hari 'Selasa' dan seterusnya?
Semua perbedaan itu muncul karena adanya kesepakatan. Hari 'Senin' dan 'Selasa'
tidak dapat dibedakan secara fisik. Setiap hari matahari tetap terbit dari Timur dan
tenggelam di Barat. Jadi, adanya perbedaan hari inipun hanyalah kekosongan, hanya
kesepakatan.
Dengan demikian, contoh-contoh ini dapat dilanjutkan sampai jumlah yang tidak
terbatas, sebab segala yang terpikir dan yang tidak terpikirkan sesungguhnya
hanyalah paduan unsur, yang selalu berproses dan hanya berdasarkan kesepakatan
belaka. Pemahaman menyeluruh bahwa segalanya hanyalah proses yang tidak kekal
inilah yang membuat seseorang terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan
batin. Pemahaman inilah yang melenyapkan kemelekatan dalam diri seseorang. Inilah
yang disebut pencapaian kesucian atau Nibbana. Dengan demikian, Nibbana sendiri
selama masih bisa dibicarakan dan belum dialami hanyalah merupakan konsep
sebagai kesepakatan. Inilah yang banyak dimengerti sebagai kekosongan.
3. Dari penjelasan pertanyaan nomor 2 jelaslah bahwa kekosongan yang dimaksud
bukannya tidak ada apa-apa, melainkan mengetahui dengan jelas dan pasti bahwa
segalanya hanyalah kesepakatan bersama. Dengan timbulnya pengertian yang benar
akan hakekat segala sesuatu yang ada, maka seseorang justru akan timbul
kebijaksanaannya. Ia akan mengerti dengan jelas bahwa suka dan duka diakibatkan
karena permainan pikirannya sendiri yang belum terbebas dari ketamakan, kebencian
dan kegelapan batin. Ketika kesadaran akan hal ini telah timbul, maka kebahagiaan
akan selalu ia rasakan. Inilah buah dari kesucian atau Nibbana yang dikatakan sebagai
'kebahagiaan tertinggi'. Kiranya, semua mahluk tentu menginginkan kebahagiaan.
Dan, pencapaian kesucian atau Nibbana itulah sarana untuk mencapai kebahagiaan
tertinggi.
4. Seseorang yang telah mencapai Nibbana secara fisik sulit dibedakan dengan orang
yang belum mencapai Nibbana. Namun, secara batin, ia yang telah mencapai
kesucian sungguh sangat berbeda. Orang yang telah mencapai kesucian, batinnya
selalu tenang dalam menghadapi segala gejolak suka dan duka kehidupan ini.
Batinnya telah terlepas dari kemelekatan sehingga ia selalu sadar setiap saat bahwa
segalanya hanyalah kesepakatan belaka.
Orang yang telah mencapai Nibbana bukan kemudian menjadi orang yang aneh dan
tidak bereaksi pada lingkungan. Tidak demikian. Pandangan ini jelas tidak benar.
Sebagai contoh nyata akan hal ini adalah perilaku Sang Buddha sendiri. Beliau
mencapai Nibbana pada usia 35 tahun pada saat Beliau mencapai kesucian di bawah
Pohon Bodhi. Sejak itu, Beliau dengan kewajaranNya terus berjuang membabarkan
Dhamma dengan penuh semangat. Beliau tidak menjadi orang yang aneh dan pasif.
Demikian pula dengan setiap orang yang telah mencapai kesucian. Mereka semua
tetap wajar sebagaimana manusia pada umumnya. Perbedaannya dengan manusia
biasa adalah pada cara berpikir mereka. Cara berpikir mereka telah terbebas dari
kemelekatan.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

49. Dari: Ketut Suwara, Singaraja
Bhante kenapa ya setiap ketemu teman tertentu saya sering dianggap santai terhadap
setiap persoalan, padahal saya dalam menghadapi persoalan saya selalu memikirkan
dengan tenang. Tapi orang kok bilang saya ini rilek aja.

Jawaban:
Sikap setiap orang dalam menghadapi suatu masalah tentunya selalu berbeda.
Perbedaan sikap ini dapat muncul karena adanya berbagai alasan misalnya latar
belakang pengalaman dan sudut pandang. Oleh karena itu, kalau ada orang
mengkritik sikap yang telah biasa dilakukan dalam menghadapi suatu masalah,
sebaiknya:
1. Biarkan saja, karena semua orang dapat memandang dari sudut yang berbeda.
2. Cobalah meneliti diri sendiri, mungkin memang perlu diadakan perubahan sedikit
pada cara menghadapi suatu permasalahan agar dapat lebih ditingkatkan
efektifitasnya. Hal ini juga perlu dipikirkan karena teman yang baik adalah mereka
yang mau memberikan kritik membangun demi peningkatan kualitas diri sahabatnya.
Semoga hal ini dapat dijadikan renungan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

50. Dari: Franky W, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante saya mohon petunjuk bagaimana sikap kita jika bernamaskara di Vihara di
depan patung Buddha. Pantaskah kita "meminta" sesuatu untuk kita atau orang lain
pada saat kita bernamaskara? Saya juga menanyakan hal yang sama jika kita
bernamaskara di depan patung Bodhisattva (misalnya Kuan Im Po Sat)?
Apakah kita pantas untuk meminta sesuatu kepada Buddha, Bodhisatva, Para Dewa
atau makhluk suci lain? Apakah ini yang dinamakan "Pengertian Benar" dari Jalan
Berunsur Delapan?
Terima kasih atas jawabannya. Salam Metta

Jawaban:
Dalam pengertian Agama Buddha, seseorang mendapatkan kebahagiaan adalah
karena buah kebajikan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, apabila seseorang
ingin mendapatkan kebahagiaan, hendaknya ia memperbanyak kebajikan melalui
ucapan, perbuatan dan pikirannya bukan hanya dengan memohon kepada siapapun
dan apapun.
Bernamaskara di depan Buddharupang maupun rupang yang lain adalah untuk
menetapkan tekad, bahwa kalau para 'tokoh' pujaan yang dijadikan arca itu dapat
melakukan kebajikan dalam kehidupan mereka, maka sebagai umatnya, hendaknya ia
juga meniru perbuatan mereka dalam kehidupannya sehari-hari.
Misalnya bersujud di depan Buddharupang, maka cobalah untuk merenungkan salah
satu kualitas hidup Sang Buddha yang dengan penuh semangat mengajarkan Dhamma
kepada semua mahluk selama 45 tahun. Dengan perenungan ini, sebagai umatNya
yang baik, hendaknya ia bertanya kepada diri sendiri, sudahkah ada usahanya untuk
mengenalkan Buddha Dhamma pada lingkungannya? Jika belum, maka tentunya saat
ini adalah merupakan kesempatan baik baginya untuk melakukannya. Dengan
memperbanyak kebajikan seperti inilah, kebahagiaan yang diharapkan akan dapat
diperolehnya.
Demikian pula ketika menghadapi arca para bodhisattva, cobalah untuk
merenungkan, kalau para bodhisattva telah mampu mengembangkan cinta kasih
dalam kehidupannya, maka sebagai umatnya, apakah yang telah kita lakukan untuk
membahagiakan lingkungan? Kalau kebajikan dan pengembangan kasih sayang ini
masih belum dilakukan, tentunya belum terlambat untuk memulainya sekarang juga.
Dengan selalu menjadikan Sang Buddha dan para bodhisattva sebagai contoh nyata
pelaku kebajikan untuk ditiru dalam kehidupan kehidupan sehari-hari, sesungguhnya
seorang umat Buddha telah melaksanakan Patipati Puja yaitu melakukan
penghormatan dengan melaksanakan Ajaran Sang Buddha. Penghormatan yang tidak
berisi permintaan ini adalah merupakan penghormatan tertinggi dalam Buddha
Dhamma. Sedangkan, selama orang hanya menghormat dengan bunga, dupa dan lilin
saja maka ia barulah melakukan Amisa Puja yang nilainya belum terlalu
tinggi.(Anguttara Nikaya I, 93; Digha Nikaya II, 38)
Oleh karena itu, sebaiknya ketika seseorang sedang bernamaskara atau bersujud
kepada Buddharupang maupun yang lain, dalam hati mengucapkan:
Buddhang/Dhammang/Sanghang Saranang Gacchami bukan meminta ataupun
memohon. Permohonan kepada arca apapun juga sebenarnya dalam dikatakan sebagai
'menyembah berhala'. Semoga pengetahuan akan dua jenis penghormatan ini dapat
mengubah pola pikir para umat dan simpatisan Buddhis agar dapat selalu
meningkatkan bakti kepada Sang Buddha dengan meningkatkan kualitas perbuatan,
ucapan maupun pikirannya sesuai dengan Ajaran Sang Buddha.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar