Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB - 3

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (3)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

01. Dari: Rudi Hardjon Dhammaraja (Lim), Medan, Sumatera Utara
Namo Buddhaya,
Bhante dalam Ratana Sutta dinyatakan "Serta tak dapat melakukan enam kejahatan
berat" Apakah yang dimaksud dengan enam kejahatan berat tsb?
Dan dalam Pattidana "Makhluk2 yang berada di alam semesta .... terdiri dari lima,
satu atau empat bagian" Apakah itu lima, satu atau empat bagian?
Terima kasih atas jawaban Bhante.
Karena Bhante sudah sangat lama tidak berkunjung ke Vihara Mahasampatti, Kapan
Bhante akan berkunjung di Medan ?

Jawaban:
1. Enam kejahatan berat itu, dalam salah satu sumber dikatakan sebagai:
a. Membunuh ayah
b. Membunuh ibu
c. Melukai seorang Buddha
d. Membunuh Arahatta
e. Memecah belah Sangha
f. Mengajarkan yang Adhamma
2. Dalam Dhamma, mahluk pada umumnya terdiri dari lima bagian yaitu badan,
perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Namun, seperti yang telah disebutkan dalam
Ratana Sutta tersebut, terkadang dijumpai mahluk yang unsurnya kurang dari lima
bagian.
3. Tentang jadwal kunjungan saya ke Medan, sampai saat ini masih belum bisa
ditentukan. Semoga keterbatasan dapat dimaklumi.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

02. Dari: Ferry Liang, Yogyakarta
Namo Buddhaya,
Banthe, saya mau bertanya lagi ... terimakasih sebelumnya ...
Begini Banthe, apakah Sang Buddha pernah dan memang mempunyai murid yang tak
dapat melihat (buta)? Apakah orang yang tidak dapat melihat, dapat mencapai
pencerahan? Karena ada yang mengatakan bahwa "Sang Buddha memperoleh
pencerahan melalui inisiasi..." dan karena tidak dapat melihat maka orang yang tidak
dapat melihat tersebut tidak dapat mendapatkan inisiasi (bentuk cahaya, pancaran)
maka ia tak dapat mencapai kesempurnaan...
Atas penjelasan Banthe, saya ucapkan terimakasih.
Semoga semua makhluk berbahagia dan menambah saddha kami semua....
sadhu..sadhu....

Jawaban:
Pencerahan yang dimaksudkan dalam Dhamma adalah bersifat batin yaitu ketika
pikiran seseorang telah terbebas dari ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin.
Pencerahan batin ini tidak berhubungan dengan kelengkapan fisik. Oleh karena itu,
walaupun fisik seseorang mempunyai kekurangan, buta misalnya, ia masih memiliki
kesempatan yang sama untuk mencapai kesucian. Di jaman Sang Buddha memang
ada seorang bhikkhu yang buta dan mencapai kesucian.
Sang Buddha mencapai pencerahan adalah karena usaha dan perjuangan Beliau
sendiri tanpa melibatkan fihak lain. Oleh karena itu, pencerahan Sang Buddha jelas
tidak melalui inisiasi. Demikian pula dengan pencapaikan kesucian para murid Sang
Buddha, mereka semua juga tidak memerlukan orang lain untuk inisiasi. Semua
diperoleh dari hasil perjuangannya sendiri. Pengertian tentang hal ini dapat dibaca
pada:
Dhammapada XII,9:
Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh
diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorangpun yang dapat
mensucikan orang lain.
Dhammapada III, 11:
Bukan seorang ibu, ayah ataupun sanak keluarga lain yang dapat melakukan;
melainkan pikiran sendiri yang diarahkan dengan baik yang akan dapat mengangkat
derajat seseorang.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan kebahagiaan dan meningkatkan keyakinan
kita semua. Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

03. Dari: Vivi, Jakarta
Namo Budhaya,
Apakah kita bisa membuat karma seseorang menjadi lebih ringan dengan mendoakan
orang tersebut, misalnya kita mendoakan seorang penjahat yang belum bertobat.
Terima kasih

Jawaban:
Mendoakan orang lain adalah merupakan suatu kebajikan yang buah kebahagiaannya
akan dapat dirasakan oleh si pelaku kebajikan atau orang yang mendoakan.
Sedangkan, kalau doa itu ditujukan agar karma orang lain menjadi lebih ringan, atau
agar seseorang menjadi bertobat, mungkin hal ini agak sulit dicapai karena tobat atau
tidak tobat, segalanya tergantung pada keputusan pribadi orang tersebut, bukan
karena doa orang lain. Hal ini telah disebutkan dalam:
Dhammapada XII, 9: Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula
seseorang ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula
seseorang menjadi suci. Suci dan tidak suci tergantung diri sendiri; tak seorang pun
yang dapat mensucikan orang lain.
Semoga perenungan pada ayat Dhammapada ini akan dapat memberikan pengertian
yang benar.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

04. Dari: Yanti, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante saya ada beberapa pertanyaan titipan, semoga Bhante berkenan
u/menjawabnya.
Begini Bhante, kalo kita baca paritta di rumah kita sendiri, bolehkah terjemahan
parita "Semoga....... Anda Berbahagia" atau lain2x, diganti dengan kata
"Semoga.......SAYA Berbahagia" karena kita membaca sendirian.
Kalo boleh, apakah Parittanya juga dirubah?
Pertanyaan kedua adalah:
Karena saya sangat tertarik dengan dengan hal-hal yang berbau Hongsui, saya sangat
ingin mempelajarinya.
Apakah dalam agama Buddha itu diperbolehkan? Karena menurut hemat saya
manusia itu cenderung ingin hidupnya lebih baik dan lebih baik lagi, salah satu
usahanya adalah menyiasatin dengan Ilmu Tata Letak Hongsui.
Terima Kasih. Sebelumnya saya ucapkan.

Jawaban:
1. Memang ada beberapa paritta yang dalam penggunaannya dapat disesuaikan
dengan kebutuhan. Hal ini misalnya dengan menggantikan kata 'anda' menjadi 'saya'.
Namun, penggantian arti ini hendaknya juga disesuaikan dengan penggantian kata
dalam paritta yaitu dari kata 'te' yang artinya 'anda' menjadi 'me' yang artinya 'saya'.
Sebagai contoh, dapat diamati pada gatha berikut ini:
Bhavatu sabbamanggalang
Rakkhantu sabbadevata
Sabbabuddha/ dhamma/ sanghanubhavena
Sada sotthi bhavantu te / ME
Terjemahan:
Semoga semua berkah ada pada Anda
Semoga para dewa melindungi Anda
Dengan kekuatan semua Buddha/ Dhamma/ Sangha
Semoga kesejahteraan ada pada Anda / SAYA
2. Hongsui yang arti sesungguhnya adalah 'angin-air' itu sebenarnya merupakan
arsitektur Tiongkok Klasik. Dalam pandangan Buddhis, pengertian tentang hongsui
adalah termasuk tradisi yang masih diperbolehkan untuk dilakukan oleh para umat
Buddha yang mempercayainya. Namun hal yang penting diingat adalah bahwa ketika
seseorang mempercayai dan mempelajari suatu tradisi, ia hendaknya mengetahui
dengan jelas bahwa hal tersebut adalah tradisi, bukan Agama Buddha. Demikian pula
sebaliknya, ketika seseorang mempelajari Buddha Dhamma yang bertujuan untuk
membersihkan pikiran dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, hendaknya ia
tidak menganggapnya sebagai suatu tradisi belaka.
Semoga penjelasan ini bermanfaat dan memberikan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

05. Dari: Ming, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, saya adalah umat yang baru benar2 mendalami Buddhisme. Sekarang sedang
merintis usaha wiraswasta. Oleh karena baru merintis, saya tidak lagi mempunyai
kesempatan untuk ikut kebaktian di Vihara. Terlalu disibukkan oleh kegiatan usaha.
Tetapi saya sangat ingin belajar meditasi. Saya telah mencoba beberapa kali, tetapi
akhirnya timbul ketakutan karena pernah membaca bahwa orang bisa menjadi gila
karena salah metode meditasi. Padahal sebelum membaca artikel itu, saya merasa
tidak ada masalah dengan latihan saya. Hanya saja sepertinya saya masih harus
berlatih keras untuk mengendalikan pikiran yang tidak terfokus.
Pertanyaan saya: bolehkah apabila saya belajar meditasi sendiri dengan objek napas
yang keluar-masuk tanpa bimbingan?
Terimakasih, Bhante.

Jawaban:
Latihan meditasi adalah merupakan hal pokok dalam melaksanakan Ajaran Sang
Buddha. Latihan meditasi dapat menggunakan berbagai macam obyek. Salah satu
obyek yang banyak dianjurkan oleh para guru meditasi adalah memperhatikan proses
masuk dan keluarnya pernafasan. Timbulnya pandangan bahwa meditasi bisa
menjadikan seseorang menjadi gila adalah karena beberapa penyebab. Penyebab
utama, selain karena memang ia sudah punya kecenderungan gila, pikiran pelaku
meditasi tidak terfokus pada obyek yang telah dipilihnya. Pikirannya hanyut terlalu
jauh dengan berbagai bentuk pikiran yang muncul selama bermeditasi. Ia seakan
mampu mendengar suara tertentu, ia seakan dapat melihat berbagai mahluk dan
sebagainya. Padahal, sebagian besar pengalaman batin seperti itu disebabkan oleh
pikirannya sendiri. Kepastian tentang kebenaran yang ia rasakan ini sebaiknya
didiskusikan dengan orang yang berpengalaman bermeditasi.
Sebaliknya, apabila pelaku meditasi selalu berusaha dan akhirnya mampu
memusatkan perhatian pada obyek, ia tidak akan menjadi gila. 'Memusatkan
perhatian' yaitu ketika pelaku meditasi berusaha untuk terus memperhatikan obyek
terpilih misalnya masuk dan keluarnya pernafasan, walaupun adalah hal biasa kalau
pikirannya menyimpang memikirkan hal lain. Ia hendaknya segera menyadari
gerakan pikiran ini dan perhatiannya harus segera dikembalikan pada obyek. Ketika
pikirannya bergerak lagi, ia harus mewaspadainya dan mengembalikan perhatian pada
obyek. Demikian seterusnya. Pada prinsipnya, apapun pengalaman yang ia merasa
lihat, rasa, bau dan sebagainya, hendaknya segera dikembalikan pada obyek sehingga
pikirannya menjadi terpusat, jangan diikuti.
Setelah mahir memusatkan pikiran pada obyek selama yang ia sukai, maka ia dapat
mulai mengamati segala gerak gerik pikiran yang menyimpangkan perhatian pada
obyek tersebut. Artinya, apabila semula ia hanya memperhatikan proses masuk
keluarnya pernafasan saja, kini ia justru menjadikan segala gerak gerik pikiran
sebagai obyek meditasi. Ketika pikiran menyimpang, ia selalu waspada dan
menyadarinya. Ia akan mengerti bahwa gerak pikiran itu akan segera lenyap ketika
disadari. Ia juga akan mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya akan
menjadi lenyap ketika disadari. Suka, duka, sedih, kecewa, sakit dan penderitaan
semuanya menjadi lenyap ketika disadari. Ia akan mencapai tahap pemahaman bahwa
segala sesuatu di alam ini adalah tidak kekal, hanya timbul dan seketika itu pula
lenyap. Batinnya menjadi tenang dan bahagia. Ia terbebas dari kemelekatan. Ia
terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
Dengan menggunakan prinsip dasar meditasi seperti yang diuraikan di atas, pelaku
meditasi tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi gila. Hal ini karena pada
latihan tahap pertama ia selalu memusatkan perhatian pada obyek, sedangkan tahap
berikutnya, ia menyadari bahwa segala bentuk pikiran yang muncul akan segera
lenyap ketika diamati.
Memang, idealnya meditasi untuk tahap lanjutan membutuhkan bimbingan khusus
dari orang yang Anda anggap mampu untuk memberikan petunjuk. Apalagi di tengah
kesibukan, Anda dapat menyediakan waktu untuk berlatih meditasi di vihara, paling
sedikit 10 hari sampai dengan 14 hari dalam setahun. Kebiasaan ini akan dapat
meningkatkan kualitas meditasi Anda.
Semoga dengan keterangan ini akan membangkitkan semangat Anda untuk terus
melatih meditasi.
Semoga kemajuan dalam usaha dan meditasi akan menjadi milik Anda.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

06. Dari: Agus, Medan
Namo Buddhaya,
Saya ingin bertanya:
1. Bagaimana cara melaksanakan meditasi pernapasan dan metta bhavana?
2. Apa manfaat dari membaca paritta?
3. Apakah membaca paritta ada manfaatnya bila kita tidak mengetahui artinya?

Jawaban:
1. Meditasi pernafasan pada dasarnya adalah memperhatikan proses pernafasan yang
berjalan secara alamiah, seperti yang dilakukan setiap saat. Jadi, pelaku meditasi tidak
perlu mengatur pola irama masuk keluarnya pernafasan, demikian pula dengan posisi
lidah dan sebagainya. Pada prinsipnya, pelaku meditasi hendaknya menyadari dengan
tepat dan cermat saat nafas masuk dan keluar. Pikiran hendaknya dapat mengenali
saat nafas masuk dengan menyebutkan dalam hati kata: 'masuk' dan 'keluar' ketika
nafas keluar. Apabila pikiran menyimpang, hendaknya ia berusaha dengan tekun dan
penuh semangat untuk memusatkan kembali pada obyek. Lakukan usaha ini terus
menerus sampai pikiran dapat terpusat pada obyek selama waktu yang diinginkan.
Tahap inilah yang merupakan tanda keberhasilan awal latihan meditasi dengan obyek
pernafasan. Apabila telah mencapai tahap ini, maka pelaku meditasi disarankan untuk
menghubungi orang yang dianggap mampu dan berpengalaman dalam meditasi agar
mendapatkan pengarahan selanjutnya.
Pelaksanaan metta bhavana atau meditasi cinta kasih dapat menggunakan berbagai
macam obyek. Namun, dalam kesempatan ini hanya akan dikenalkan satu macam
obyek saja yang sederhana dan lebih mudah dilaksanakan. Obyek meditasi cinta kasih
ini adalah dengan mengucapkan dalam hati sebanyak mungkin selama duduk
bermeditasi kalimat: “semoga semua mahluk berbahagia”. Selama bermeditasi,
setiap pikiran memikirkan hal lain, hendaknya pelaku meditasi segera menyadari hal
ini dan segera memusatkan kembali perhatiannya pada pengucapkan kalimat tersebut.
Demikianlah hal ini dilakukan terus menerus dengan tekun dan bersemangat.
2/3. Membaca paritta yang sesungguhnya merupakan kotbah Sang Buddha, kalaupun
tidak mengerti artinya akan tetap dapat memberikan manfaat untuk si pembaca.
Selama membaca paritta, ia memiliki kesempatan berbuat baik melalui ucapan,
pikiran dan perbuatannya. Hal ini karena selama membaca paritta, seseorang akan
dapat memusatkan perhatian pada paritta yang sedang dibacanya sehingga pikiran
tidak banyak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal yang lain, demikian pula
dengan ucapan dan perbuatannya. Oleh karena itu, semakin banyak waktu yang
dipergunakan orang untuk membaca paritta setiap harinya, maka semakin banyak
pula kebajikan yang ia timbun melalui pikiran, ucapan dan perbuatannya. Apabila ia
membaca paritta selama 15 menit setiap hari, maka dalam satu bulan yang 30 hari, ia
telah melakukan kebajikan dengan ucapan, perbuatan dan pikiran selama 7,5 jam.
Kebajikan ini tentu akan semakin berlipat apabila kebiasaan membaca paritta tersebut
dilakukan rutin selama bertahun-tahun.
Namun, adalah hal yang jauh lebih baik apabila orang mengerti isi paritta yang
dibacanya. Hal ini karena isi paritta sebagian besar adalah kotbah Sang Buddha
tentang pelaksanaan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
selama ia membaca paritta, ia dapat pula merenungkan arti kotbah Sang Buddha
tersebut. Ia kemudian dapat bertekad untuk melaksanakan Ajaran Sang Buddha itu
dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan hasil perenungannya. Dengan
demikian, ia akan menjadi orang yang lebih baik dan terus bertambah baik setiap
harinya.
Dhammapada XI, 7:
Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi;
dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang.
Semoga hal ini dapat direnungkan.
Semoga hal ini dapat memberikan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

07. Dari: Adi, Surabaya
Namo Buddhaya,
1. Saya ingin bertanya bagaimanakah pendapat Bhante pribadi dan bagaimana sikap
Sangha Theravada terhadap perkembangan aliran Maitreya? Selain itu bagaimanakah
kebaikan dan kekurangan aliran ini menurut Bhante ?
2. Apakah Bhante pribadi setuju dengan pola vegetarian yang mereka terapkan?
3. Banyak umat aliran Buddhis lain yang mengatakan aliran Maitreya ini merupakan
aliran yang sesat karena Maitreya sendiri belum dilahirkan, bagaimana menurut
pendapat Bhante pribadi?
4. Apakah selama ini pernah ada pertemuan antara pihak Theravada dengan aliran
Maitreya? Bila pernah mengenai apa?
5. Menurut Bhante, apakah harus seseorang melakukan meditasi baru bisa mencapai
kesempurnaan ? Apakah tidak bisa dengan cara lain?
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban yang Bhante berikan, semoga ini
menjadi pelajaran Dhamma yang berguna terhadap kehidupan saya.

Jawaban:
1. Selama suatu aliran mengajarkan para pengikutnya untuk mengembangkan
kebajikan, mengurangi kejahatan dan juga membersihkan batin dari ketamakan,
kebencian serta kegelapan batin, maka aliran itu tentunya merupakan aliran yang
baik. Apapun nama aliran itu tidaklah menjadi masalah. Mengenai pandangan tentang
kebaikan dan kekurangan suatu aliran sesungguhnya tidak mudah ditentukan di sini
tanpa memberikan kesempatan para pemuka aliran itu menyampaikan pendapat dan
ajarannya terlebih dahulu. Sedangkan, sampai saat ini Sangha Theravada Indonesia
tidak mempunyai sikap khusus terhadap aliran Maitreya ini.
2. Pola hidup untuk tidak makan daging atau vegetarian ini bukan hanya dilakukan
oleh aliran Maitreya saja. Beberapa aliran Agama Buddha dan juga aliran lain pun
melakukannya pula. Hal ini tidaklah masalah. Sang Buddha juga memperkenankan
orang untuk vegetarian walaupun perilaku itu bukanlah menjadi keharusan umat
Buddha. Vegetarianisme ini adalah hal yang baik selama orang yang melakukannya
menyadari bahwa pola hidup yang ia pilih tersebut merupakan salah satu bentuk
latihan pengendalian diri. Ia mengendalikan diri dari keinginan dan nafsunya sendiri.
Pengendalian diri yang dapat digolongkan sebagai sila ini menjadi dasar untuk
mengembangkan batin dalam meditasi sehingga ia dapat terbebas dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin. Dengan demikian, setelah mengendalikan diri melalui
makanan, masih cukup banyak tahap yang harus dilalui seseorang untuk mencapai
kesucian. Oleh karena itu, hendaknya ia menyadari bahwa bukan karena pola makan
saja seseorang dapat mencapai kesucian. Jadi, ia tidak boleh memaksakan kehendak
agar semua orang mengikuti pola hidupnya ini. Apabila hal tersebut dapat
dilakukannya, maka vegetarianisme ini tentunya tidak membawa masalah untuk
dirinya sendiri maupun lingkungannya.
3. Sesat atau benarnya suatu aliran tentunya harus dilihat dari TUJUAN suatu aliran
didirikan. Kalau aliran itu bertujuan untuk:
a. Mengurangi rangsangan indria dan pikiran.
b. Membebaskan diri dari dukkha.
c. Menghindarkan diri dari pemupukan kekotoran batin.
d. Memberikan kepuasan pada yang sedikit.
e. Memberikan kepuasan dan kebahagiaan pada apa yang telah dimiliki.
f. Meningkatkan semangat dalam berusaha.
g. Memberikan rasa mudah untuk dirawat dan dibantu.
h. Menimbulkan rasa suka untuk tinggal di tempat yang sepi khususnya bagi seorang
bhikkhu. (Kitab Anguttara Nikaya IV, 280)
dan juga tidak bertentangan dengan Ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam
Brahmajala Sutta yang berisikan 64 Pandangan Salah, maka tentunya aliran tersebut
dapat diterima.
4. Selama ini, karena minimnya informasi yang saya miliki, tampaknya pertemuan
antar kedua LEMBAGA tersebut masih belum pernah diadakan. Namun, mungkin
saja pendapat saya ini masih kurang benar. Kalau memang keliru, silahkan
memberikan informasi yang lebih lengkap kepada saya. Anumodana.
Sedangkan kalau pertemuan antar UMAT Maitreya dan Theravada, kiranya sudah
banyak terjalin dalam masyarakat. Pertemuan dan persahabatan antar dua orang
dengan aliran yang berbeda adalah merupakan hal yang wajar dan manusiawi.
Seseorang mengikuti suatu aliran tertentu bukanlah menjadikannya sebagai orang
asing yang tidak boleh dihubungi ataupun disentuh. Seseorang memilih suatu aliran
adalah karena kecocokan pribadinya. Kalau memang ia merasa cocok dengan aliran
itu, biarkan saja hal itu terjadi karena pilihannya tersebut adalah merupakan urusan
pribadinya. Sedangkan, ia bergaul dan bersosialisasi adalah haknya. Keduanya tentu
harus dibedakan dengan jelas.
5. 'Kesempurnaan' yang dalam Buddha Dhamma diartikan sebagai batin terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, maka memang hanya dapat dicapai
dengan latihan meditasi yang tekun. Keberhasilan dalam latihan meditasi ini sangat
dipengaruhi oleh semangatnya untuk melakukan kerelaan (dana) dan kemoralan
(sila).
Semoga penjelasan berbagai hal ini dapat meningkatkan kualitas Dhamma kita
semua.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

08. Dari: Erwin, Irvine, USA
Namo Buddhaya,
Jika Nibbana itu adalah tidak berkondisi dan maka dari itu, ia tidak terceritakan (tak
bisa digambarkan dengan kata-kata), maka apakah warna, perasaan kecewa, sakit dan
gembira, serta rasa manis, asam, pedas dan pahit yang tak bisa terceritakan dengan
kata-kata, juga tidak berkondisi?
Terima kasih, Bhante.
Semoga semua makhluk berbahagia,

Jawaban:
Pengertian 'Tidak berkondisi' adalah tidak terpengaruh apapun juga, misalnya saja:
tidak bisa tua karena waktu, tidak bisa mati karena pengaruh cuaca yang ekstrim,
dlsb. Sedangkan 'Tidak bisa diceritakan' itu adalah SALAH SATU kualitas dari yang
'tidak berkondisi', namun bukan satu-satunya. Contoh tentang pengertian ini misalkan
seekor kambing yang salahsatu kualitasnya adalah berkaki empat, namun, tidak
semua mahluk berkaki empat adalah kambing. Demikian pula dengan yang 'tidak
terceritakan' bukan selalu 'tidak berkondisi'.
Jadi, warna, segala perasaan dsb itu memang keadaan yang 'tidak terceritakan', namun
ia masih berkondisi. Warna, misalnya, akan bisa pudar karena pengaruh cuaca;
kecewa bisa menjadi gembira setelah berlalu beberapa waktu lamanya. Jadi,
segalanya itu masih bisa berubah tergantung kondisinya. Hal ini yang menunjukkan
bahwa kesemuanya itu walaupun 'tidak terceritakan' bukanlah hal yang 'tidak
berkondisi' sebagaimana Nibbana. Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat
dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

09. Dari: Tonny W., Jakarta
Namo Buddhaya.
Bagaimana caranya melakukan vipassana dlm kehidupan sehari hari?

Jawaban:
Melaksanakan Vipassana Bhavana di vihara pada waktu-waktu tertentu adalah
merupakan latihan untuk membiasakan pikiran agar selalu sadar setiap saat. Namun,
hal yang lebih penting daripada itu justru pelaksanaannya dalam kehidupan seharihari.
Seseorang yang mengembangkan Vipassana dalam kehidupan sehari-harinya,
hendaknya selalu mengisi pikirannya dengan pertanyaan: SAAT INI SAYA
SEDANG APA? Dengan demikian, setiap ia bertindak, berbicara, dan berpikir, ia
akan selalu menyadarinya. Demikian pula, ketika ia sedang merasa sedih, bahagia,
marah dan sebagainya, hendaknya ia selalu menyadarinya. Dengan kesadaran total
inilah ia akan dapat memahami dengan jelas bahwa segala gerak gerik pikiran itu
akan selalu lenyap semuanya ketika disadari dan diamati. Ia akan menyadari dengan
bijaksana bahwa kehidupan ini tidak kekal, hanya proses tanpa inti. Segalanya timbul
dan tenggelam hanya karena pikirannya sendiri. Batinnya akan menjadi tenang
seimbang. Ia akan terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Inilah
yang menjadi tujuan akhir seorang umat Buddha. Semoga jawaban ini dapat
memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

10. Dari: Ervina, Banjarmasin
Namo Buddhaya,
Saya mau menanyakan:
1. Apakah fungsinya kita ke Vihara atau sering membaca paritta suci? Karena di
dalam Agama Buddha, keadaan seseorang bukan berdasarkan seringnya 'berdoa'
melainkan timbangan karma baik dan buruk.
2. Apakah ada perbedaan karma baik yang dihasilkan bila membaca paritta di Vihara
atau di rumah sendiri?
Anumodana atas jawaban Bhante.
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

Jawaban:
1. Memang benar bahwa semua perilaku atau karma sendiri itulah yang akan
menentukan kebahagiaan dan penderitaan seseorang. Justru itulah, pergi ke vihara
dan membaca paritta juga termasuk karma baik. Disebutkan dalam Manggala Sutta
bahwa "Mendengarkan dan berdiskusi Dhamma adalah Berkah Utama". Artinya,
seseorang pergi dan mengikuti kebaktian di vihara, ia sebenarnya mempunyai
kesempatan untuk mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Keduanya adalah
merupakan perilaku yang diajurkan dalam Buddha Dhamma. Hal ini karena ketika ia
sedang membaca paritta yang berisikan kotbah Sang Buddha, ia sesungguhnya sedang
mendengarkan Dhamma yang diuraikan oleh Sang Buddha. Kalaupun ia tidak
memahami isi paritta yang dibacanya karena keterbatasan bahasa, selama ia membaca
paritta, ia masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan kebajikan melalui
pikiran, ucapan serta perbuatannya. Apalagi bila ia telah dapat mengerti isi paritta
yang dibacanya, maka tentunya akan bangkit semangatnya untuk selalu memperbaiki
perilaku hidupnya sesuai dengan petunjuk Sang Buddha yang terdapat dalam paritta
tersebut. Inilah tambahan karma baik selain membaca paritta di saat kebaktian di
vihara. Dengan menambah kebajikan sebanyak yang mampu dikerjakan, seseorang
akan mempunyai kondisi untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini
maupun kehidupan yang selanjutnya.
2. Membaca paritta di manapun saja sebenarnya mempunyai 'nilai' karma baik yang
sama. Namun, dengan pergi dan mengikuti puja bakti di vihara, seseorang bukan
hanya punya kesempatan membaca paritta saja, namun, ia juga dapat mendengarkan
ceramah Dhamma yang diuraikan oleh Dhammaduta, ia juga bisa bersosialisasi
dengan sesama umat, ia juga bisa berlatih menyanyikan lagu Buddhis yang tentunya
juga menambah kesempatan berbuat baik lagi, serta berbagai kegiatan positif lainnya.
Dengan demikian, mengikuti puja bakti di vihara bukan hanya sekedar membaca
paritta, melainkan juga akan memperoleh kebajikan lainnya yang akan bermanfaat
untuk meningkatkan timbunan kebajikan yang dimilikinya.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

11. Dari: Connie, Serpong, Tangerang
Namo Buddhaya, Bhante
Pada sebuah page saya membaca tentang Buddhist Pilgrimage. Saya tertarik dengan
hal tersebut karena pada bulan Mei tahun lalu saya ke India untuk maksud tersebut
(dan sebelum pergi, saya sempat bertanya kepada Bhante mengenai segala sesuatu
yang perlu saya perhatikan bila "berziarah Buddhis" tersebut, semoga Bhante masih
ingat saya). Yang membuat saya tertarik dalam page yang saya baca itu adalah tulisan
ini:
"Pilgrimage means a journey to a holy or a sacred place. So the person who goes on
such a journey is known as a pilgrim. The Buddha told his chief attendant Ananda
that there are four places that a believer in the Dhamma should visit with respect.
They are; the Buddha's birthplace, place of enlightenment, the place of his first
sermon and the place where he passed away into Parinibbana (final enlightenment
and the end of rebirth). If any pilgrim should die along the pilgrimage route, because
of their good intention and their state of mind, they are sure to be reborn in deva loka
(heaven)". (Venerable Dhammarakkhita).
Benarkah demikian?
Terimakasih, Bhante.

Jawaban:
Memang dalam Mahaparinibbana Sutta diuraikan bahwa mereka yang telah
berkunjung ke empat tempat suci tersebut akan terlahir di alam surga. Hal ini juga
telah dijelaskan dalam kutipan di atas bahwa kunjungan orang ke empat tempat suci
di India itu sebenarnya berdasarkan pikiran baik sehingga akan menimbulkan
kebahagiaan untuk waktu yang lama. Dengan demikian, pada saat ia akan meninggal,
pikiran akhirnya adalah rasa bahagianya ketika mengunjungi keempat tempat suci
tersebut. Kondisi pikiran bahagia inilah yang akan menyebabkannya terlahir di alam
surga. Jadi, sebenarnya, penyebab seseorang terlahir di alam surga tersebut adalah
karena pikiran baik dan timbunan karma baik yang dimilikinya. Kunjungan ke empat
tempat suci di India itu adalah merupakan kondisi untuk membangkitkan pikiran baik
di saat menjelang kematian.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat dan meningkatkan keyakinan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

12. Dari: Andy, Melbourne
Namo Budhaya,
Bhante saya ada pertanyaan,
Apakah ada perbedaan diantara 'kewaspadaan' dan 'kesadaran', bagaimana cara
membedakannya? Terutama dalam bermeditasi...
anumodana atas jawabannya...
sukhi hotu

Jawaban:
Dalam bermeditasi dikenal adanya dua hal yang sangat berkaitan seperti yang
diuraikan dalam Anggutara Nikaya I, 95 dan Digha Nikaya III, 273 yaitu:
1. Sati atau Kesadaran yaitu kemampuan seseorang untuk mengembalikan perhatian
pada obyek meditasi yang telah ditentukan sebelum mulai bermeditasi. Apabila
pikiran bergerak menjauhi obyek, kesadaran akan berusaha untuk mengembalikannya
kepada obyek. Hal ini akan terus menerus dilakukan oleh orang yang sedang
meditasi.
2. Sampajannya atau kewaspadaan adalah kemampuan untuk mempertahankan
kesadaran yang telah dimiliki sebelumnya. Jadi, pada awalnya pikiran pelaku
meditasi selalu bergerak dan segera dikembalikan kepada obyek, namun, dalam tahap
ini, pikiran akan selalu terpusat pada obyek yang telah dipilihnya. Pelaku meditasi
dapat menentukan saat ia harus memegang maupun melepaskan obyek meditasi.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

13. Dari: Hadi, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Bhante yang menjawab pertanyaan saya mengenai Nibbana. Saya pribadi
sangat puas dengan jawaban Bhante.
Bhante,hal yang ingin saya tanyakan kali ini ialah mengenai meditasi, adapun
pertanyaan saya yaitu:
1.Apakah seseorang yang dalam masa hidupnya mencapai Jhana dalam meditasi
setelah kematiannya ia akan dilahirkan di alam Brahma
2.Apa benar di alam dewa masih terjadi peperangan?
3.Bhante,selama ini saya sering bermeditasi dan dalam kurun waktu 5 atau 10 menit
setelah memulai meditasi saya sering merasa mata saya seperti terhisap kedalam dan
tepat di tengah kening saya terasa ada tekanan dan saya melihat seperti memasuki
lorong berwarna biru tetapi kemudian lepas kembali. Apakah itu termasuk hambatan
atau mungkin Bhante mempunyai pendapat lain mengenai persoalan yang saya alami
ini?
(Saya sangat mengharapkan jawaban dari Bhante karena saya tidak mempunyai
pembimbing meditasi dan saya selalu mengalami hal tersebut selama meditasi)
Terima Kasih

Jawaban:
1. Seorang yang mencapai Jhana dalam bermeditasi, baik Rupa Jhana maupun Arupa
Jhana, setelah meninggal dunia ia akan terlahirkan kembali di Alam Brahma sesuai
dengan pencapaian Jhana-nya. Hal ini dapat dilihat pada:
TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN dari Website Samaggi Phala, Naskah
Dhamma.
2. Dalam salah satu sumber dikatakan bahwa ada beberapa penyebab kematian dewa
yaitu:
a. Karmanya telah habis
b. Kemarahan yang timbul dalam dirinya
c. Kelaparan yang dirasakannya
Dari ketiga penyebab kematian dewa tersebut dapatlah dimengerti bahwa tampaknya
peperangan tidak dikenal di alam dewa.
3. Agar mendapatkan kemajuan dalam bermeditasi, hendaknya pikiran tidak
mengikuti berbagai gejala badan tersebut. Pikiran hendaknya dikembalikan untuk
terus menerus memperhatikan obyek meditasi semula. Usahakanlah hal ini dengan
tekun dan penuh semangat. Namun, apabila hal ini sulit diatasi dan warna biru yang
sama tersebut selalu muncul setiap kali bermeditasi, ada baiknya warna biru tersebut
justru dijadikan sebagai obyek meditasi.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

14. Dari: Dharman, Jakarta
Namo Buddhaya,
Saya mau menanyakan apabila seorang Buddhis merokok apakah itu merupakan
perbuatan dosa atau hanya melanggar sila atau tidak sama sekali. Kalo melanggar
sila, yang ia langgar sila ke berapa?
Terima kasih atas perhatiannya.

Jawaban:
Merokok dalam Buddha Dhamma bukanlah termasuk larangan namun juga tidak
dianjurkan. Hanya saja, apabila seseorang menjadi kecanduan rokok sehingga
badannya merasa tidak nyaman kalau ia belum merokok, maka hal ini dapat
digolongkan sebagai kemelekatan yang akan dapat memperpanjang proses kelahiran
kembali. Oleh karena itu, biasanya seorang umat Buddha disarankan untuk tidak
merokok yang akan merugikannya dalam proses kelahiran kembali maupun
kesehatannya.
Semoga jawaban ini memberikan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

15. Dari: Yessie Natalia, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, bagaimana pandangan agama Buddha mengenai penerapan Feng Shui dalam
kehidupan kita sehari-hari? Sebagai contoh, menurut Feng Shui, rumah yang tusuk
sate sangat tidak baik bagi penghuninya, bagaimana kita menyiasati hal tersebut?
Terima kasih Bhante.

Jawaban:
Dalam Dhamma, segala suka dan duka yang dialami oleh manusia adalah bagian dari
buah karma yang dimilikinya. Kalaupun seseorang mempunyai rumah dengan
fengshui yang baik, apabila perilakunya buruk dan melanggar sila, maka kebahagiaan
akan jauh pula darinya. Sebaliknya, kalaupun fengshui rumahnya kurang baik, namun
perilaku penghuni rumahnya baik dalam ucapan, perbuatan dan pikirannya, maka
kebahagiaan akan tetap menjadi milik mereka.
Adanya pengaruh perbuatan yang jauh lebih kuat daripada pengaruh fengshui ini
dapat dilihat dengan melakukan pertukaran rumah orang sukses ber-fengshui baik
dengan rumah orang kurang sukses ber-fengshui kurang baik. Setelah keduanya
dipertukarkan rumahnya untuk waktu tertentu, maka belum tentu orang yang kurang
sukses itu menjadi sukses setelah menempati rumah yang ber-fengshui baik tersebut.
Sebaliknya, orang yang sudah sukses tersebut setelah beberapa lama tinggal di rumah
yang kurang baik fengshuinya, ia tidak juga menjadi orang yang menderita.
Segalanya tergantung pada karmanya masing-masing. Mempercayai fengshui adalah
baik karena hal itu merupakan seni arsitektur Tiongkok klasik, namun, hal yang
paling penting dalam kehidupan ini adalah memperbaiki perilaku, ucapan dan pikiran
agar selalu bertujuan untuk memberikan kebahagiaan bagi diri sendiri, lingkungan
maupun semua mahluk. Dengan banyaknya kebajikan yang dimiliki maka otomatis
orang akan mendapatkan kebahagiaan walaupun memiliki rumah dengan fengshui
yang kurang baik.
Sebagai perenungan:
Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak,
Maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu;
Tetapi apabila buah perbuatannya telah masak,
Maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.
(Dhammapada V, 10)
Semoga hal ini dapat memberikan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

16. Dari: Suharyono, USA
Namo Buddhaya, Bhante
Saya ingin menanyakan beberapa hal:
1. Pada zaman Sang Buddha, sering kita mendengar orang awam yang setelah
mendengar khotbah Sang Buddha, mencapai tingkat kesucian Sotapanna, Sakadagami
ataupun Arahat? Apakah sedemikian gampangnya setelah mendengarkan Dhamma
mereka langsung mencapai kesuciaan tanpa perlu melaksakan sila, meditasi ataupun
kebikkhuan dalam hidup mereka?
2. Dalam pengembangan dan penyebaran ajaran Sang Buddha, apakah sebaiknya
hanya dilakukan oleh para Bhikkhu saja ataupun umat Buddha biasa bisa turut aktif?
Yang saya khawatirkan apabila seorang umat Buddha biasa mengenalkan ajaran Sang
Buddha kepada orang lain, bisa saja orang lain menilai ajaran Sang Buddha tidak
sempurna dengan melihat contoh tindakan kita sebagai umat biasa yang masih sering
melakukan kesalahan dalam hidup.
Terima kasih banyak atas penerangan yang diberikan oleh Bhante.
Semoga semua makhluk berbahagia

Jawaban:
1. Kisah pencapaian kesucian yang tampaknya mudah itu adalah karena memang
bertujuan untuk menceritakan para murid Sang Buddha yang berhasil mencapai
kesucian, bukan mereka yang tidak berhasil. Kisah tersebut menjadi 'kesaksian'
mereka yang telah berhasil memetik manfaat Buddha Dhamma. Hal ini akan menjadi
pendorong semangat umat Buddha yang lain untuk melaksanakan Buddha Dhamma
agar mencapai kesucian pula.
Dari berbagai kisah keberhasilan pelaksanaan Buddha Dhamma tersebut, dapat pula
dipelajari bahwa pencapaian kesucian tidak semudah yang ditanyakan. Hal ini dapat
dilihat dari banyaknya orang yang mendengar kotbah Sang Buddha pada suatu saat,
namun hanya salah satu di antara mereka yang berhasil mencapai kesucian.
Peeristiwa ini termasuk pula pada kotbah pertama Sang Buddha kepada lima pertapa
di Taman Rusa Isipatana. Setelah mendengarkan kotbah Sang Buddha berjudul
Dhammacakkapavattana Sutta, maka 'hanya' satu orang saja yang berhasil mencapai
kesucian yaitu Y.M. Kondanna. Satu orang yang mencapai kesucian dari lima pertapa
ini apabila dihitung berdasarkan prosentase 'hanya' 20% saja. Sedangkan, tingkat
kesucian yang dicapai Y.M. Kondanna pada waktu itu adalah kesucian tingkat
pertama dari empat tingkat kesucian yaitu Sotapanna. Dengan demikian, pencapaian
kesucian setelah mendengar kotbah langsung Sang Buddha kepada mereka yang telah
lama menjadi pertapa dengan sila yang keras tersebut bila dihitung prosentasenya
adalah 4% saja. Dengan demikian, pencapaian kesucian tidaklah mudah.
2. Dalam pembinaan Buddha Dhamma kepada masyarakat, khususnya di Indonesia,
biasanya dilakukan oleh para bhikkhu dengan para umat yang dianggap mampu
membabarkan Dhamma. Hal ini karena jumlah bhikkhu yang sangat minim
dibandingkan dengan jumlah umat Buddha yang perlu mendapatkan uraian Dhamma.
Para pembabar Dhamma ini sering disebut sebagai Dhammaduta. Dari sekian banyak
Dhammaduta, memang mungkin saja ada yang perilakunya kurang sesuai Dhamma.
Hal ini adalah wajar karena para Dhammaduta, bahkan para bhikkhu sekalipun adalah
orang yang belum mencapai kesucian. Namun, sebagai umat Buddha hendaknya
dapat memaklumi hal ini. Apabila semua Dhammaduta ditunggu agar mencapai
kesucian terlebih dahulu sebelum mengajarkan Dhamma, maka bisa saja Buddha
Dhamma akan lebih cepat punah. Karena pencapaian kesucian membutuhkan waktu
yang relatif lama untuk setiap pribadi dalam mencapainya. Oleh karena itu, para umat
Buddha hendaknya mampu dengan bijaksana memisahkan antara Buddha Dhamma
yang diuraikan dengan perilaku pribadi Dhammaduta. Dengan demikian, para umat
akan mendapatkan manfaat mendengarkan Dhamma dan terbebas dari pikiran negatif
pada perilaku Dhammaduta.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

17. Dari: Suharyono, USA
Namo Buddhaya,
1. Dalam pandangan Buddhis, terlahir sebagai manusia adalah suatu keuntungan
untuk melatih Dhamma dan mewujudkan Nibbana. Apakah ini berarti terlahir di alam
yang lebih tinggi adalah suatu kesia-siaan karena tidak bisa berlatih Dhamma,
menanam kebajikan ato merealisasikan Nibbana?
2. Di website ini, saya membaca bahwa terlahir cantik, jelek, utuh atau cacat mungkin
disebabkan oleh turunan (hukum biologis), bukan semata-mata oleh perbuatan yang
baik atau buruk di masa lampau. Jikalau demikian, bagaimana cara kita
memperbaikinya apa yang kita alami yang dipengaruhi oleh hukum biologis tersebut?
Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang diberikan Bhante.
Semoga semua makhluk berbahagia

Jawaban:
1. Dalam salah satu sumber Dhamma dikatakan bahwa terlahir sebagai manusia akan
mendapatkan beberapa manfaat yaitu:
a. Melihat proses ketidakkekalan yang relatif cepat mulai dari kelahiran, remaja,
dewasa, tua, sakit dan mati.
b. Melihat cepatnya waktu yang dibutuhkan suatu karma untuk berbuah: berbuat baik
mendapatkan kebahagiaan.
d. Masih adanya Tipitaka sebagai sumber utama Buddha Dhamma.
e. Masih adanya lembaga Sangha yang merupakan keturunan dari Sangha yang
dibentuk oleh Sang Buddha.
Berbagai kelebihan ini tidak kesemuanya terdapat di alam kehidupan yang lain,
sekalipun di alam-alam surga dan Brahma. Oleh karenanya, seseorang hendaknya
mempergunakan kesempatan yang baik sebagai manusia ini untuk melaksanakan
Buddha Dhamma dengan mengurangi kejahatan, menambah kebajikan serta
mengembangkan kesadaran agar batinnya terbebas dari ketamakan, kebencian dan
kegelapan batin. Karena memang, sesungguhnya terlahir sebagai manusia adalah
peristiwa yang tidak mudah. Hal ini dikatakan dalam Dhammapada XIV, 4:
Sungguh sulit untuk dilahirkan sebagai manusia,
Sungguh sulit kehidupan manusia,
Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar (Dhamma),
Begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
Oleh karena itu, ketika seseorang sudah terlahir sebagai manusia di masa yang
mengenal kelahiran seorang Buddha dan juga dapat mempelajari Dhamma Nya,
hendaknya kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan untuk segera mengembangkan
kualitas batin semaksimal mungkin sesuai Buddha Dhamma agar dapat tercapai
tujuan akhir seorang umat Buddha yaitu Nibbana.
2. Seseorang terlahir dengan wajah cantik atau buruk memang akibat dari kondisi
genetik orangtuanya. Karena itu, wajar kalau orangtua yang cantik punya
kecenderungan untuk melahirkan anak yang cantik pula. Namun, tidak dapat
disangkal bahwa semua ini juga mendapat pengaruh dari karma lampau masingmasing.
Orang dengan karma lampau yang baik akan terkondisi untuk lahir di
lingkungan yang memungkinkan dia memiliki wajah yang cantik. Sebaliknya, orang
dengan karma lampau yang kurang baik juga akan terkondisi lahir di lingkungan yang
memungkinkan dia memiliki wajah kurang cantik.
Untuk memperbaiki penampilan agar seseorang yang cantik menjadi lebih cantik dan
yang kurang cantik dapat bertambah cantik, tentu membutuhkan berbagai macam
sarana, misalnya saja perawatan wajah, pendidikan kepribadian dan sebagainya.
Namun, satu hal yang sangat penting dan perlu diingat di sini adalah bahwa
hendaknya seseorang lebih mengutamakan kecantikan batin dibandingkan kecantikan
fisik. Seseorang disebut memiliki kecantikan batin apabila ia mampu mengendalikan
ucapan dan perbuatannya agar sesuai dengan Pancasila Buddhis. Pikirannya juga
berisikan cinta kasih kepada semua mahluk. Dengan demikian, kemanapun ia pergi,
ia akan selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan untuk lingkungannya.
Inilah sesungguhnya perilaku yang sangat penting dikerjakan oleh seorang umat
Buddha.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

18. Dari: Sugi, Semarang
Namo Buddhaya, Namo Buddhaya,
Bhante, di Agama Buddha kan ada 2 latihan meditasi Samatha dan Vipassana
Bhavana. Apakah perlu setelah mencapai Jhana lewat samatha baru seseorang
meditator Buddhist baru berlanjut ke Vipassana atau apakah boleh langsung saja
melatih Vipassana? Sebagai umat awam, apa saran metoda meditasi dari Bhante
untuk kita melatih meditasi tiap hari di rumah?
Anumodana

Jawaban:
Mengembangkan Vipassana dapat dikerjakan tanpa harus mencapai Jhana terlebih
dahulu. Namun, kalau seseorang hendak mencapai kesucian, maka hendaknya ia
mengembangkan Jhana terlebih dahulu sebelum Vipassana. Uraian tentang hal ini
dapat dijumpai pada kotbah Sang Buddha yang terdapat dalam
Mahamalunkhyaputtasuttam.
Sebagai seorang umat awam yang tinggal dalam masyarakat, ia sebaiknya
mengembangkan latihan konsentrasi setiap pagi dan sore dengan menggunakan obyek
pernafasan. Kemudian, sepanjang hari hendaknya selalu melatih kesadaran dengan
selalu mengucapkan pertanyaan dalam hati: SAAT INI SAYA SEDANG APA?
Dengan demikian, ia akan selalu menyadari pada saat bekerja, berjalan, berbicara dan
sebagainya.
Semoga saran ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

19. Dari: Susan, Bandung
Bhante,
Saya sekarang lagi hamil muda dan sejak hamil ini saya seringkali gampang marah
dengan orang/teman yg membuat saya kecewa. Seringkali saya terbangun dini hari
karena memikirkan hal2 yang telah mrk perbuat, yg membuat saya jadi emosi. Dan
rasanya kalo tidak menegur/bertengkar dgn mrk, rasanya kok saya belum puas/lega.
Bagaimana caranya mengendalikan/menghilangkan sifat buruk ini, Bhante? Krn saya
tau ini sangat buruk akibatnya untuk bayi yg saya kandung. Kalo ini berlanjut terus,
apa akibatnya untuk bayi saya? Apakah akan mempengaruhi karma bayi yg saya
kandung?
Terima kasih Bhante.

Jawaban:
Pertama kali, saya ucapkan 'selamat' atas kehamilan yang dialami. Semoga kehamilan
ini menjadi sarana untuk memperoleh keturunan yang baik dan memberikan
kebahagiaan untuk seluruh anggota keluarga.
Wanita yang sedang hamil memang mengalami perubahan hormon dalam tubuhnya
sehingga kadang emosi sulit dikendalikan. Oleh karena itu, untuk dapat
mengendalikan emosi tersebut, sebaiknya selama kehamilan memperbanyak
pembacaan paritta dan juga bermeditasi cinta kasih. Paritta yang biasa dibaca adalah
"paritta untuk kesehatan" ditambah dengan Anggulimala Paritta. Susunan paritta ini
dapat diperoleh dari buku "Paritta Suci" terbitan Sangha Theravada Indonesia yang
banyak terdapat di vihara binaan Sangha Theravada Indonesia.
Meditasi cinta kasih yang dilakukan setelah membaca paritta adalah dengan
mengucapkan dalam hati sebanyak mungkin:"Semoga semua mahluk berbahagia"
selama sekitar 15 menit atau lebih. Dengan demikian, maka emosi yang muncul dan
dorongan untuk bertengkar dapat sedikit demi sedikit tergantikan dengan pikiran
positif "Semoga semua mahluk berbahagia". Semakin banyak seseorang
mengucapkan kalimat tersebut, maka ketika pikiran buruk muncul dalam dirinya, ia
akan segera mengucapkan: "Semoga ia bahagia, semoga semua mahluk berbahagia".
Dengan demikian, batinnya menjadi lebih tenang dan sabar.
Semoga dengan usaha keras untuk mengendalikan diri ini akan memberikan manfaat
untuk diri sendiri, keluarga dan juga anak yang sedang dikandung.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

20. Dari: Finny, Bekasi
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante pengetahuan agama saya terus terang minim. saya ingin bertanya dengan
Bhante. Semoga Bhante dapat berkenan membantu menjelaskan beberapa hal.
1. Saya percaya akan adanya reinkarnasi. Dapatkah Bhante membantu saya
menjelaskan tingkatan reinkarnasi tersebut? Adakah buku / kitab yang menjelaskan
hal itu?
2. Saya lebih suka ke tepekong dari pada ke vihara karena kesibukan waktu usaha.
Apakah hal itu kurang baik bagi iman saya?
Terima kasih kiranya Bhante sudi menjawab.

Jawaban:
1. Adanya proses kelahiran kembali sangat berhubungan dengan Hukum Karma.
Seperti yang telah diketahui bahwa Hukum Karma apabila dilihat menurut WAKTU
(Pakakala Catukka) dibagi menjadi beberapa yaitu:
a. Ditta Dhammavedaniya Kamma yaitu Karma yang memberikan hasil dalam
KEHIDUPAN SEKARANG. Orang melakukan kebajikan maupun keburukan
yang akan langsung berbuah dalam kehidupan ini juga.
b. Uppajjavedaniya Kamma yaitu Karma yang memberikan hasil dalam
KEHIDUPAN MENDATANG, atau kehidupan 'tepat' setelah kematiannya
sekarang. Hal ini dapat terjadi pada orang yang melatih meditasi mencapai Jhana
yang akan mengkondisikannya langsung terlahir di alam Brahma setelah
meninggal.
c. Aparaparavedaniya Kamma yaitu Karma yang memberikan hasil dalam
KEHIDUPAN BERIKUT yaitu beberapa kehidupan setelah kehidupan ini. Jenis
karma ini dapat dijumpai pada orang yang mengembangkan kebajikan dan juga
meditasi sehingga mencapai Jhana, maka setelah buah pencapaian Jhana yaitu
terlahir di alam Brahma habis masanya, berikutnya ia akan terlahir di alam surga
karena buah kebajikan yang dimilikinya.
d. Ahosi Kamma yaitu Karma yang tidak menimbulkan akibat. Jenis perbuatan ini
seharusnya berbuah dalam kehidupan ini, namun karena ia telah meninggal dunia
terlebih dahulu, buah karma tersebut tidak sempat dirasakannya.
Karena adanya karma jenis b dan c di atas, maka satu mahluk sebagai konsekuensi
logisnya akan terlahir kembali di salah satu alam sesuai dengan buah perbuatan yang
pernah dilakukannya.
Salah satu sutta yang menjelaskan tentang kelahiran kembali tersebut adalah:
PAYASI SUTTA (http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=177)
Selain itu, juga terdapat sebuah buku tulisan Profesor Ian Stevenson, dari Fakultas
Psikologi Universitas Virginia berjudul "Twenty Cases Suggestive of Reincarnation
and Cases of Reincarnation Type". Beliau adalah seorang pakar ilmu kejiwaan yang
selama 25 tahun mempelajari kasus-kasus orang yang mampu mengingat kehidupan
sebelumnya. Hasil penelitiannya merupakan dukungan kuat bagi ajaran Buddha
mengenai kelahiran kembali.
2. Beribadah sendirian di berbagai tempat beribadatan yang ada di sekitar tempat
tinggal memang bisa saja dikerjakan. Hal ini juga akan memberikan kesempatan
untuk orang yang melakukannya mengembangkan kebajikan lewat ucapan, perbuatan
dan pikiran. Namun, apabila seseorang dapat mengikuti secara rutin puja bakti di
vihara, maka ia akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memperkuat
keyakinannya kepada Buddha Dhamma. Hal ini karena pada saat puja bakti di vihara
ia akan dapat mendengarkan uraian dan diskusi Dhamma. Selain itu, di vihara ia juga
akan mendapatkan banyak teman yang akan membangkitkan semangatnya untuk
mempelajari dan melaksanakan Buddha Dhamma. Karena, inti agama Buddha bukan
pada upacara dan tradisinya, melainkan pada pelaksanaan Ajaran Sang Buddha dalam
kehidupan sehari-hari.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

21. Dari: Rosie, Sydney
Namo Buddhaya,
Bhante, saya punya pertanyaan tentang aborsi. Apa tindakan aborsi itu sama dengan
pembunuhan, Bhante? Apakah aborsi diperbolehkan dalam ajaran Sang Buddha?
Terima kasih

Jawaban:
Dalam Buddha Dhamma kehamilan dihitung sejak bertemunya sel telur dengan
sperma. Karena pada saat itu, ada kemungkinan datangnya "kesadaran penerus" yang
akan membentuk batin bersamaan dengan sel telur dan sperma membentuk badan
suatu mahluk. Oleh karena itu, dalam Buddha Dhamma, seorang bayi yang baru saja
dilahirkan, ia sudah langsung berusia sekitar 9 bulan. Jadi, pada ulang tahun
pertamanya, bayi tersebut sebenarnya telah berusia lebih dari satu tahun, bahkan
hampir dua tahun.
Dengan demikian, melakukan aborsi walaupun dalam usia kehamilan yang masih
sangat muda, dalam Agama Buddha sudah termasuk pelanggaran sila pertama atau
pembunuhan dalam Pancasila Buddhis.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

22. Dari: Setyadi Irawan, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, setelah membaca jawaban Bhante dalam forum tanya jawab. Dalam satu
jawaban Bhante tentang bangkai yg tidak boleh dimakan oleh seorang bhikkhu jika
memenuhi salah satu dari 3 syarat juga disebutkan bangkai manusia dan berapa jenis
hewan.
Pertanyaan saya adalah jenis2 hewan apa saja yg bangkai-nya tidak boleh dimakan?
Mengenai meditasi, apakah ada ketentuan bagaimana sikap tubuh kita pada saat
melakukan meditasi? Apakah boleh seseorang melakukan meditasi dalam keadaan
berbaring? Dalam pengertian saya, meditasi adalah pemusatan pikiran sehingga tidak
ter-ombang-ambing, dengan pengertian tersebut tentunya sikap tubuh tidak dapat
dipaksakan.
Jika dalam meditasi kita merasakan kelelahan karena duduk terlalu lama, tentunya
pikiran pun akan berubah. Atau jika terlalu nyaman (berbaring), tentunya kita akan
tertidur. Bagaimana cara mengatasinya?

Jawaban:
Disebutkan dalam Mahavagga VI.23.10 - 15 beberapa jenis binatang yang tidak dapat
dimakan dagingnya oleh para bhikkhu yaitu:
1. Gajah
2. Kuda
3. Anjing
4. Ular (termasuk segala binatang melata, panjang dan tanpa kaki)
5. Singa
6. Harimau
7. Macan Tutul
8. Beruang
9. Hyena
Meditasi adalah merupakan salah satu hal pokok dalam pelaksanaan Ajaran Sang
Buddha. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa inti Ajaran Sang Buddha adalah
mengurangi kejahatan, menambah kebajikan dan membersihkan pikiran. Meditasi
adalah sarana tepat untuk membersihkan pikiran. Dalam melaksanakan meditasi, pada
prinsipnya orang hendaknya dapat duduk dengan tegak namun santai. Keterangan
lebih lengkap tentang hal ini dapat dibaca pada:
CARA BERMEDITASI yang terdapat pada:
Website Samaggi Phala, Naskah Dhamma.
(http://www.samaggiphala.
or.id/naskahdamma_dtl.php?id=21&cont=meditasi.html&path=naskahdhamma
&multi=T&hal=0&hmid=202)
Meditasi pada prinsipnya adalah selalu menyadari segala sesuatu yang sedang
dikerjakan, diucapkan dan juga dipikirkan. Oleh karena itu, latihan meditasi juga bisa
dilakukan sambil duduk, berjalan, berdiri dan juga berbaring.
Untuk posisi berbaring, biasanya menggunakan posisi yang dikenal sebagai "Buddha
berbaring" yaitu dengan berbaring pada sisi tubuh bagian kanan. Tangan kiri
diletakkan di sisi tubuh bagian kiri. Telapak tangan kanan dipergunakan untuk
menyangga kepala dengan bertumpu pada siku kanan. Dengan posisi ini, perhatian
dipusatkan pada obyek yang dipilih. Pada saat pelaksana meditasi merasa nyaman, ia
akan tetap terjaga kesadarannya. Apabila ia mengantuk atau hilang kesadarannya,
maka ia akan terguling ke depan ataupun ke belakang.
Dalam meningkatkan kualitas konsentrasi pikiran, memang membutuhkan kondisi
fisik yang mendukung. Kalau fisik merasa lelah, maka biasanya untuk para pemula,
hal ini akan mengganggu tingkat konsentrasinya. Oleh karena itu, mulailah latihan
meditasi duduk dengan 15 menit setiap harinya pagi dan sore. Kalau waktu 15 menit
sudah terasa kurang, maka dapat ditambah menjadi 30 menit atau 60 menit atau lebih.
Semoga saran singkat ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

23. Dari: Sakura, Jakarta
Ada beberapa pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya, dan menjadi dilema bagi
saya, antara lain:
1.Apakah akhirnya semua mahluk akan berhasil meraih kebahagiaan abadi / suci /
mencapai Nibbana seperti Sang Buddha?
Jika jawabannya Ya, maka berarti hanya tinggal masalah waktu, ada yang cepat ada
yang lambat.
Bisa berarti juga, kita semua bisa lebih tenang, sebab toh akhirnya semua menjadi
Happy-Ending.
Jika jawabannya Tidak, berarti sia-sia kita berusaha. Sebab toh tidak akan berhasil.
Berarti kita tidak akan pernah keluar dari proses tumimbal lahir.
2.Seseorang mempunyai sifat baik atau buruk karena akibat karmanya.
Si A terlahir berbudi luhur, krn dulu menabur hal baik, begitu juga sebaliknya si B
terlahir memiliki tabiat buruk, krn menabur karma buruk. Apakah ada jaminan Si A
akan terus menjadi baik, atau si B akan menjadi buruk selamanya?
Jika jawabannya Ada, maka si A akan terus baik, sedangkan si B akan terus menjadi
buruk
[TIDAK HAPPY ENDING BAGI SI B]
Jika jawabannya tidak, maka, si A bisa jadi buruk, atau baik si B akan bisa baik atau
buruk pula.
[TIDAK HAPPY ENDING JUGA, KRN TIDAK ADA JAMINAN]
Terima kasih, dan mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Jawaban:
1. Semua mahluk memang mempunyai potensi untuk mencapai Nibbana. Namun,
pencapaian ini bukan hanya ditunggu saja, melainkan HARUS DIPERJUANGKAN.
Dengan demikian, pencapaian Nibbana bukan masalah waktu, namun masalah
perjuangan. Mereka yang rajin berjuang mengembangkan kualitas batin agar terbebas
dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batinlah yang akan mencapai Nibbana.
Sedangkan untuk mereka yang tidak berjuang, hidup dalam kemalasan, maka ia akan
terus dan terus terlahirkan kembali. Bahkan, apabila bumi ini kiamat sekalipun, ia
masih terlahir di bumi yang lain sampai kesadarannya untuk berjuang muncul di satu
masa nanti.
2. Tidak akan pernah ada jaminan bahwa si A akan baik terus, demikian pula si B
akan buruk terus. Semuanya tergantung pada kesadarannya masing-masing untuk
terus menerus mengembangkan kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikirannya.
Si A apabila memiliki kesadaran berbuat kebajikan, maka ia bisa menjadi lebih baik
dan terus bertambah baik, namun apabila ia mempunyai kebiasaan melakukan
keburukan dan kejahatan, maka ia pun bisa berubah menjadi buruk. Sebaliknya, si B
apabila memiliki kesadaran untuk selalu berbuat baik, maka ia bisa menjadi orang
yang baik. Namun, kalau kesadaran berbuat baik ini tidak ada dalam dirinya, ia
bahkan dapat menjadi orang yang lebih buruk daripada sebelumnya. Jelas sudah
bahwa baik dan buruknya seseorang sangat tergantung pada kesadarannya masingmasing.
Semoga jawaban ini memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

24. Dari: Intan Chalik Wijaya, Medan
Namo Buddhaya.
1. Yang saya ketahui bahwa Buddha Maitreya itu kan ada kalo ajaran Sang Buddha
Gautama udah habis. Tapi sekarang Ajaran Sang Buddha Gautama kan belum hilang
kok udah keluar Ajaran Maitreya dan sekaligus wujudnya sudah dapat diketahui
sementara Buddha Maitreya kan belum lahir, kok bisa tahu wujudnya Buddha
Maitreya itu sesosok orang yang berperut besar dan dikelilingi harta emas dan dengan
wajah tertawa. Gimana yach...saya belum ngerti nih.
2. Dewi Kwan Im itu ada gak sih sebenarnya? Saya sih yakin dan percaya itu ada, tapi
ada segelintir orang yang bilang bahwa itu tidak ada, bahkan latar belakangnya pun
tidak ada seperti Buddha Gautama.
Tolong donk dijelaskan.

Jawaban:
1. Sang Buddha Gotama dalam salah satu kotbah Beliau memang pernah
menyebutkan adanya kelahiran Buddha Maitreya di bumi ini. Namun, karena Ajaran
semua Buddha adalah sama yaitu kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan
membersihkan batin dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, maka TIDAK
AKAN PERNAH ADA dua Buddha lahir dalam satu masa. Diterangkan dalam
Dhamma, Buddha Maitreya akan lahir setelah punahnya Ajaran Sang Buddha Gotama
termasuk berbagai macam perlengkapannya, misalnya bhikkhu, buku Dhamma,
vihara, umat dsb. Memang, saat ini Ajaran Sang Buddha Gotama masih ada dan
sangat mudah dijumpai dalam masyarakat, karena itu, jelas Buddha Maitreya belum
lahir. Beliau masih sebagai bodhisattva di Surga Tusita.
Masalah adanya Ajaran Buddha Maitreya dan juga perwujudan dari Buddha Maitreya
ini akan lebih tepat apabila ditanyakan langsung kepada para tokoh aliran Maitreya
tersebut. Mereka tentunya akan dapat memberikan keterangan yang memadai.
2. Dewi Kwan Im atau Avalokistesvara setahu saya TIDAK PERNAH disebutkan
dalam Tipitaka Pali yang dipergunakan Agama Buddha aliran Theravada. Nama
Avalokitesvara disebutkan dalam Tipitaka Sanskerta yang dipergunakan Agama
Buddha aliran Mahayana. Oleh karena itu, untuk mendapatkan penjelasan yang lebih
luas, mantap dan tepat, silahkan bertanya kepada para tokoh Agama Buddha
Mahayana.
Semoga jawaban ini tidaklah mengecewakan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

25. Dari: Kriswanto, Jakarta Barat
Namo Buddhaya Bhante,
Saya hendak bertanya, Saya sdh pernah membaca di BudhistOnline ttg anatta, tidak
ada obyek yg kekal fisik maupun batin. Tapi masih ada yg bingung. Pertanyaan saya :
1) Jika tidak ada obyek batin yg kekal maka apakah yg dilahirkan pada paticca
samupada? Kenapa org2 tertentu dapat melihat kelahiran yg lampau baik diri sendiri
dan org lain? Padahal obyek inti batin itu lenyap tidak kekal.
2) Bagaimana aplikasi anatta sehari2 ?
3) Bagaimana patokan dalam mengukur kadar pengertian anatta seseorang dan diri
sendiri ?
Sukhi Hottu
Terima kasih.

Jawaban:
1. Lahir batin suatu mahluk memang tidaklah kekal. Lahir batin selalu berubah
SETIAP SAAT. Badan akan selalu bertambah usianya; perasaan, pikiran, ingatan dan
kesadaran juga selalu berubah, berproses. Seseorang menjadi orang yang sama
sekaligus berbeda dengan dirinya beberapa tahun sebelumnya. Ia memiliki kesamaan
nama dan beberapa ciri lainnya, namun ia juga mempunyai perbedaan usia maupun
cara berpikirnya. Ia telah berproses.
Hal ini dapat disamakan dengan sungai yang mengalir. Sungai itu walaupun masih
bernama sama untuk waktu yang sangat lama, namun sungai itu selalu berubah setiap
saat, air yang mengalir selalu berganti sepanjang waktu.
Ketika seseorang terlahirkan kembali, maka sesungguhnya ia bukan sama persis
dengan dirinya di kehidupan yang sebelumnya, namun ia juga bukan orang yang
berbeda sama sekali. Ia telah berproses. Kematian telah menjadikan fisik suatu
mahluk di kehidupan yang sebelumnya menjadi rusak dan hancur, akan tetapi batin
yang masih belum mencapai kesucian akan terkondisi untuk lahir kembali. Apabila
batin tersebut telah terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, maka ia
sudah tidak akan terlahirkan kembali. Inilah salah satu bukti bahwa badan dan batin
suatu mahluk tidaklah kekal.
Kemampuan seseorang untuk melihat kehidupan yang lampau baik untuk diri sendiri
maupun orang lain bukanlah menjadi suatu tanda adanya kekekalan. Hal ini sama
dengan orang yang memiliki kemampuan untuk mengingat beberapa kejadian pada
dirinya dan keluarganya selama beberapa hari yang lalu. Ia mampu mengingat, namun
ia sudah tidak akan mampu lagi untuk kembali ke waktu yang lalu. Ia juga bukan
orang yang sama dengan ia yang waktu itu. Ia telah bertambah usianya. Ia telah
berubah cara berpikirnya dan berbagai kualitas diri lainnya. Ia telah berproses, bukan
menjadi orang yang sama persis, namun juga bukan menjadi orang yang berbeda
total. Apabila kemampuan mengingat kejadian diwaktu yang kemarin itu dapat terus
dikembangkan, maka ia akan memiliki kemampuan untuk mengingat kehidupan
lampau. Akan tetapi, semuanya hanya terbatas pada ingatan, kenangan, bukan pada
kenyataan. Padahal, ingatan juga bisa berubah, karena sekarang ingat, belum tentu
pada di kemudian hari, ia masih ingat hal itu. Ia akan selalu berproses.
2. Dalam kehidupan sehari-hari, pengertian anatta ini akan meningkatkan pemahaman
seseorang pada hakekat sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada dalam dirinya
maupun lingkungannya. Ia akan selalu menyadari bahwa dirinya dan juga
lingkungannya hanyalah suatu proses berkelanjutan. Dirinya yang sekarang hanyalah
kelanjutan proses dari yang kemarin, dan dirinya yang sekarang akan berproses untuk
yang akan datang. Proses ini terjadi SETIAP SAAT. Ketika ia telah mencapai
kesadaran seperti ini, batinnya menjadi seimbang. Ia menjadi bahagia. Ia terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Ia terbebas dari kemelekatan. Ia tidak
akan merasa gelisah lagi, karena ia sadar sempurna bahwa ia yang sekarang telah
berbeda dengan ia yang sebelumnya maupun yang akan datang. Hidup yang
sesungguhnya adalah saat ini.
3. Anatta yang tidak dapat dipisahkan dengan anicca dan dukkha adalah merupakan
pengertian dasar agar seseorang mencapai kesucian. Oleh karena itu, semakin
seseorang mengerti Anicca, Dukkha dan Anatta maka semakin berkurang pula tingkat
kemelekatannya kepada segala sesuatu. Batinnya akan semakin tenang dan bahagia.
Bahkan, pengertian yang maksimal akan Anicca, Dukkha dan Anatta akan membuat
seseorang mencapai kesucian.
Semoga dengan keterangan ini akan memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

26. Dari: Melyani, Mataram
Namo Buddhaya,
Bhante, banyak masyarakat yang menyimpulkan bahwa IMLEK merupakan hari raya
agama Buddha, tapi sesuai dengan yang saya ketahui, IMLEK bukanlah hari raya
agama Buddha. Bisakah saya diberikan jawaban yang tepat mengenai hubungan
sebenarnya antara IMLEK dengan agama Buddha.
Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:
Di seluruh dunia terdapat dua macam perhitungan penanggalan yang biasa dipakai
orang. Pertama dan yang telah dipergunakan sejak ribuan tahun sebelum masehi
adalah penanggalan berdasarkan waktu peredaran bulan mengelilingi bumi.
Penanggalan ini disebut sebagai Imlek (lunar calender). Sedangkan, sistem
perhitungan waktu kedua adalah berdasarkan waktu bumi mengelilingi matahari yang
disebut sebagai Yanglek (solar calender). Penanggalan Imlek ini banyak
dipergunakan di berbagai tempat, termasuk di Tiongkok. Penggunaan penanggalan
Imlek di Tiongkok mengalami penyesuaian sehubungan waktu peredaran bulan
mengelilingi bumi lebih cepat dibandingkan dengan waktu bumi mengelilingi
matahari. Penyesuaian perhitungan ini dengan cara menambahkan satu bulan yang
dikenal sebagai 'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan
setiap 5 (lima) tahun sekali. Dengan adanya penyesuaian ini maka penanggalan Imlek
yang dipergunakan di Tiongkok lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem
lunisolar).
Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek di Tiongkok dimulai sejak tahun 2637 SM,
sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama
pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah
He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM) yang pertama kali
mengenalkan penanggalan berdasarkan matahari, dan penetapan tahun barunya
bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM)
menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musim dingin. Kaisar
Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama
Khonghucu sebagai agama negara, dan penanggalan yang dianjurkan oleh Nabi
Khongcu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat maupun
pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu,
yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi
berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 2004, maka tahun
Imleknya menjadi 2004 + 551 = 2555. Karena dihitung sejak Nabi Khongcu lahir
maka tahun Imlek juga sering disebut sebagai Khongculek. Tahun Baru Khongcu
(Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T
Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi
Suei) 19 Februari (spring showers - hujan musim semi).
Dari kilasan sejarah penggunaan penanggalan Imlek tersebut, maka jelas sekali bahwa
Tahun Baru Imlek tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Agama Buddha. Akan
tetapi, sebagai seorang umat Buddha boleh saja merayakan Tahun Baru Imlek sesuai
dengan tradisi yang dianutnya. Terlebih lagi pemerintah Republik Indonesia pun telah
memberikan kesempatan kepada semua warganegaranya untuk merayakan Tahun
Baru Imlek. Kesempatan yang sangat baik ini telah dituangkan dalam KEPUTUSAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HARI
TAHUN BARU IMLEK tertanggal 9 April 2002.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan. Dan karena saat
ini sudah menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, maka dalam kesempatan ini pula
saya ucapkan:
Selamat Tahun Baru Imlek 2555/2004
Semoga semuanya selalu sehat, sukses dan bahagia di tahun Monyet ini.
Semoga demikianlah adanya.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

27. Dari: Levy Chandra, Rochester, NY
YM Bhante Uttamo Thera,
Saya ada pertanyaan mengenai cacat mental.
Ada orang orang yang memiliki kelainan di otaknya. Kelainan tersebut membuatnya
tidak menyadari apa yang dilakukannya. Bila orang orang tersebut berbuat karma
buruk, apakah akibat perbuatan buruknya?
Menurut beberapa ahli, mereka tidak menyadari bilamana perbuatan mereka
menyakiti makhluk lain. Saya kurang tahu apakan itu betul atau tidak.
Anumodana atas tanggapannya

Jawaban:
Orang yang cacat mental memang dalam Agama Buddha diterangkan sebagai orang
yang melakukan sesuatu perbuatan dengan niat, namun ia tidak menyadari akibat dari
tindakannya tersebut. Pandangan ini sama dengan pendapat para ahli tersebut.
Tentang perbuatan yang dilakukannya berdasarkan niat yang muncul, maka dalam
Buddha Dhamma, ia telah termasuk melakukan suatu karma. Namun, buah karma
yang akan diterimanya tidak dapat dengan mudah diterangkan di sini karena
berbuahnya suatu karma banyak bercampur dengan buah perbuatan dia yang lain.
Hanya seorang Sammasambuddha sajalah yang mampu melihat proses buah karma
dengan sangat jelas dari perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.
Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

28. Dari: Saparindi, Malang
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas jawaban Y.M. Bhante atas
pertanyaan saya lalu. Pertanyaan kali saya menyoal tentang konsep cinta kasih
universal yang dipunyai di teori Buddhisme yang mungkin sangat diagungkan oleh
sebagian komunitas Buddhis. Pertanyaan saya adalah bagaimana penerapan nilai2
tersebut dalam kehidupan ini terutama pada kalangan komunitas Buddhis sendiri yang
sangat mengagungkan teori tersebut, tapi dalam prakteknya masih sangat jauh sekali.
dimana pertentangan antar sekte, ego pribadi para tokoh atau pelaku spiritual
Buddhis(maaf), perebutan umat disana sini dan banyak lagi terutama konflik2 yang
berkepanjangan yang ada dikomunitas Buddhis Indonesia.

Jawaban:
Penerapan dasar Agama Buddha tentang cinta kasih universal itu dapat dilakukan
secara bertahap. Paling sederhana dimulai dengan sering mengucap dalam hati
"Semoga semua mahluk berbahagia". Semakin sering seseorang mengucapkan
kalimat itu, maka ia semakin mampu mengisi pikirannya dengan gelombang cinta
kasih. Dengan demikian, apabila timbul kejengkelan maupun perasaan yang tidak
menyenangkan, ia akan dapat mengatasinya dengan pikiran penuh cinta kasih
tersebut.
Selain sering mengucapkan dalam hati kalimat: "Semoga semua mahluk berbahagia",
seorang umat Buddha dapat mengembangkan cinta kasih dengan merefleksikan
perasaan cinta kasihnya yang biasa ia berikan kepada anggota keluarganya sendiri. Ia
tentu mampu menyayangi anaknya, maka pikirannya kemudian dikembangkan untuk
menyayangi lingkungan dan bahkan semua mahluk seperti ia menyayangi anaknya
sendiri. Pelaksanaan Dhamma ini tentu tidak mudah, namun hal ini bukan berarti
tidak mungkin. Menyayangi anak sendiri telah mampu dikerjakannya, maka tugasnya
sekarang adalah melatih untuk memperluas OBYEK cinta kasihnya. Jika ia berhasil
mencapai tahap ini, maka dengan batin penuh cinta kasih seperti ini ia akan dapat
selalu memberikan kebahagiaan dan kedamaian untuk semua mahluk yang tampak
maupun tidak tampak. Kepeduliannya kepada kesejahteraan semua mahluk akan
sangat besar, sebesar kepeduliannya pada kesejahteraan anaknya sendiri.
Tahap pengembangan cinta kasih yang lain adalah memberikan dirinya sendiri demi
kebahagiaan mahluk lain. Pemberian diri ini dapat bersifat fisik maupun batin.
Pemberian bersifat fisik, misalnya kerelaan berkorban - berdasarkan cinta kasih,
bukan kewajiban maupun tanggung jawab - seorang nahkoda kapal demi
menyelamatkan seluruh penumpangnya dari kapalnya yang tenggelam. Sedangkan
pemberian cinta kasih yang bersifat batin adalah kerelaan memaafkan fihak yang
bersalah kepadanya. Dengan selalu mampu memberikan maaf kepada siapapun juga,
maka hilanglah rasa benci dari batinnya. Dengan demikian, hilang pula segala
kegelisahan serta kecemasan dari hidupnya. Ia akan mampu selalu berkarya dalam
masyarakat tanpa membeda-bedakan antara orang yang disayang maupun dibenci.
Itulah beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk melatih mengembangkan cinta
kasih universal dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diingatkan di sini bahwa meskipun
Ajaran Sang Buddha sedemikian luhur dan agung, hal ini tidak menjamin seluruh
umat Buddha secara otomatis akan menjadi baik. Sang Buddha hanyalah penunjuk
jalan, para umat sendirilah yang harus melaksanakannya. Dengan demikian, kalau
dalam masyarakat terdapat perilaku umat Buddha yang kurang sesuai dengan Buddha
Dhamma, maka kenyataan ini adalah merupakan kesalahan pribadinya sendiri, bukan
kesalahan Ajaran Sang Buddha.
Pengertian ini diperoleh dengan merenungkan isi Dhammapada XX, 4:
Engkau sendirilah yang harus berusaha,
Para Tathagata (baca:Buddha) hanya menunjukkan Jalan.
Mereka yang tekun bersamadhi dan memasuki Jhana ini
Akan terbebas dari belenggu Mara.
Sesungguhnya, apabila seseorang telah mengetahui kekurangan yang ada pada diri
orang lain, maka hendaknya ia sendiri harus berusaha menjadi orang yang lebih baik
daripada mereka yang telah dicelanya. Dengan memiliki sikap seperti ini, maka dalam
masyarakat Buddhis akan bertambah orang baik yang melaksanakan Buddha
Dhamma yaitu dirinya sendiri.
Disebutkan dalam Dhammapada XII, 2:
Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan dirinya sendiri
dalam hal-hal yang patut,
dan selanjutnya melatih orang lain.
Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

29. Dari: Gunawan, Denpasar
Namo Buddhaya,
Bhante, apakah mendapatkan bunga dari uang yang di taruh di bank itu melanggar
sila? Kalau misalnya tidak, apakah membungakan uang (dengan bunga yang lebih
tinggi dari bank) itu melanggar sila? Terima kasih atas tanggapannya Bhante.

Jawaban:
Dalam Pancasila Buddhis tidak dijumpai bahwa membungakan uang di bank adalah
pelanggaran sila. Apalagi adanya bunga bank tersebut juga telah didukung undangundang
negara setempat serta disepakati bersama di sebagian besar negara di dunia.
Meskipun demikian, apabila seseorang memberikan pinjaman uang dengan bunga
yang jauh lebih tinggi daripada yang berlaku dalam suatu masyarakat lingkungannya,
seperti yang dilakukan para 'lintah darat', maka hal ini sebenarnya adalah merupakan
pemuasan salah satu kekotoran batin yaitu ketamakan. Buah dari banyaknya
ketamakan yang ditimbun adalah memperpanjang proses kelahiran kembalinya.
Semoga jawaban ini dapat dijadikan perenungan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

30. Dari: Suryo Hariono, Surabaya
1. Tentang kelahiran kembali versus konsep Anatta. Kalau yang dilahirkan itu
kesadaran penerus (Pattisandhi Vinnana), apakah juga membawa atau tidak watak,
sifat, karma yang lampau? Lalu bagaimana kaitannya dengan konsep Anatta? Dan
makhluk yang terlahir sekarang tentunya berbeda dengan yang terdahulu? Mohon
penjelasannya.
2. Dalam kaidah sains biologi dikatakan bahwa kehidupan berasal dari kehidupan
sebelumnya, sedangkan dalam dalam Dhamma dikatakan bahwa tujuan tertinggi umat
Buddha adalah Nibbana atau Nirwana, bagaimanakah relevansinya? Apakah bukan
dua hal yang kontradiksi?
3.Perihal Vibhava Tanha (suicide) khususnya kisah Boddhisatta Siddhatta, apakah
berbeda bunuh dirinya manusia biasa dengan calon Buddha? Bagaimana
Kammavipakanya? Lalu saya pernah mendengar kisah seorang Bhikkhu di jaman
Sang Buddha Gotama yang mencapai kesucian Arahat setelah beliau melakukan
bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri. Mohon penjelasan
4.Kehidupan Selibat atau membiara (pabbajita) apakah tidak bertentangan dengan
kodrat alami manusia? Mengingat secara fisik dan anatomis kita telah dilengkapi
dengan organ-organ reproduksi
Terima Kasih atas kesediaan Bhante menjawab pertanyaan ini.

Jawaban:
1. Dalam kelahiran kembali, watak, sifat serta beberapa kualitas lain suatu mahluk
yang terlahir akan dipengaruhi oleh kelahiran yang sebelumnya, meskipun demikian
ia tidak sama persis dengan sebelumnya. Ia telah berproses. Proses ini bahkan bukan
hanya terjadi antar kelahiran kembali, melainkan juga dalam kehidupan saat ini.
Seseorang dari satu detik ke detik yang berikutnya akan selalu mengalami perubahan,
paling tidak, ia telah bertambah usianya. Pengertian ini dapat digambarkan sebagai
sebatang lilin menyala. Nyala api lilin itu kelihatannya selalu sama dari awal sampai
dengan habisnya lilin, padahal sesungguhnya kondisi api itu selalu berbeda. Api yang
hidup karena bahan bakar lilin yang dicairkan tersebut selalu berproses. Demikian
pula dengan proses kehidupan dan kelahiran kembali. Sepintas suatu mahluk
dilahirkan dengan membawa pengaruh karma lampaunya, padahal ia telah berproses
dan menjadi mahluk yang berbeda. Kelahiran kembali menjadi mahluk yang telah
berproses ini justru sangat berkaitan erat dengan pengertian Anatta yaitu tidak ada inti
yang kekal.
2. Dalam Dhamma terdapat Hukum Sebab Akibat yang berbunyi: "Segala sesuatu
timbul karena satu 'sebab', di dalamnya pun terdapat 'sebab' yang membuat ia musnah
kembali". Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa dalam Buddha Dhamma
kehidupan memang berasal dari kehidupan sebelumnya seperti yang diungkapkan
oleh para ahli Biologi tersebut. Akan tetapi, apabila direnungkan dengan baik isi
Hukum Sebab dan Akibat tersebut tampaklah bahwa dalam Hukum itu sendiri telah
terkandung cara menghentikan proses kelahiran yang selalu berkesinambungan ini
yaitu dengan menghilangkan kondisi penyebabnya. Proses kelahiran kembali dapat
dihentikan ketika seseorang mencapai Nibbana. Kondisi tercapainya Nibbana adalah
lenyapnya ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
3. Disebutkan dalam Anguttara Nikaya II, 82 bahwa niat adalah karma. Oleh karena
itu, perbuatan yang sama akan dapat memberikan buah yang berbeda sesuai dengan
niat yang dimiliki. Demikian pula dengan bunuh diri yang dilakukan oleh orang biasa
tentunya akan berbeda dengan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang Bodhisattva.
Seorang Bodhisattva melakukan bunuh diri bukan karena berdasar kebencian,
melainkan justru karena niat untuk menolong mahluk yang sedang menderita.
Sedangkan, kasus bunuh diri pada bhikkhu di jaman Sang Buddha itu bermula dari
keinginan untuk mempergunakan rasa sakit yang dialami sebagai obyek meditasi.
Jadi, bukan bunuh diri untuk mencapai kesucian. Sedangkan, pada umumnya
seseorang melakukan bunuh diri adalah karena kebencian dan tidak tahan
menghadapi penderitaan hidup yang dialaminya. Semua perbuatan ini pasti
menimbulkan buah karma yang berbeda. Akan tetapi, pemahaman kamma vipaka ini
hanya bisa dilihat dengan jelas oleh seorang Sammasambuddha.
4. Manusia memang memiliki berbagai organ tubuh untuk mendukung kehidupannya.
Berbagai organ tubuh tersebut dibagi menjadi dua bagian. Pertama, organ tubuh yang
harus dipergunakan sebagai syarat dasar kehidupan. Organ tubuh ini tidak dapat
dipisahkan dari tubuhnya. Apabila dipisahkan, orang tersebut akan mengalami
kematian. Contoh organ tubuh jenis pertama ini adalah otak dan jantung.
Kedua, organ tubuh yang dipergunakan sebagai alat bantu proses kehidupan. Organ
tubuh ini dapat dipergunakan, namun dapat pula dihilangkan tanpa mengancam
kehidupan orang tersebut. Contoh organ jenis ini adalah mata, telinga, kaki dan
tangan.
Organ reproduksi adalah termasuk golongan yang kedua. Organ ini dapat
dipergunakan, namun dapat pula tidak dipergunakan. Apalagi, reproduksi hanyalah
salah satu dari berbagai fungsi yang dilakukannya.
Dalam Buddha Dhamma, pemilihan kehidupan sebagai perumah tangga atau
viharawan adalah merupakan hak, bukan keharusan. Dengan demikian, dalam
Buddha Dhamma tidak mengenal istilah 'kodrat', melainkan 'kehendak bebas'.
Apabila seseorang memilih hidup menjadi viharawan, ia tidak dapat dikatakan
melawan kodrat. Kalau memang disebut bertentangan dengan kodrat alami manusia,
lalu bagaimana dengan kodrat orang yang tidak mendapatkan pasangan hidup
walaupun sudah berusaha mencarinya? Kalau memang ini juga merupakan kodrat,
maka bisa juga menjadi viharawan sudah merupakan kodrat pula.
Semoga jawaban ini dapat memperluas wawasan dalam Dhamma.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

31. Dari: Tuwino Gunawan, Medan
Dulu saya disokong oleh mereka,
Sekarang saya akan menjadi penyokong bagi mereka,
Saya akan melakukan tugas yang dulu mereka kerjakan,
dan mempertahankan keluarga dan tradisinya,
Saya akan menjaga garis keturunan,
dan membuat diri saya bernilai bagi garis keturunan itu,
(Digha Nikaya 31)
Kasus : si A (suami) dan si B adalah sepasang suami istri. Pada catatan keluarga si B,
mereka pernah memilikki keponakan yang menderita suatu penyakit (saya lupa akan
nama penyakitnya, misalkan saja penyakit XYZ, dimana darah penderitanya akan
mengalami kesulitan membeku apabila terjadi luka, sehingga apabila terjadi luka luar
sedikit saja, akan dapat mengalami pendarahan yang sangat hebat, yang bisa
mengakibatkan kematian, dan biasanya umur si anak tidak akan mencapai 10 tahun)
hasil pemeriksaan genetika mereka, si A sehat2 saja, sedangkan si B membawa sifat
keturunan dari penyakit XYZ tersebut. sehingga apabila melahirkan anak,
kemungkinan anak mereka untuk menderita penyakit tersebut adalah: jika anak lelaki
kemungkinan 75:25, sedangkan jika anak perempuan, anaknya akan membawa sifat
keturunan dari penyakit XYZ tersebut 50:50. setelah si A dan si B berdiskusi, mereka
sepakat untuk tidak memiliki anak.
Pertanyaan :
1. Apakah tindakan si A dan si B dapat dibenarkan menurut pandangan agama
Buddha.
2. Menurut pendapat saya, mereka harus melahirkan anak, karena apapun yang
terjadi, itu merupakan karma mereka yang masak (baik karma si A, si B, maupun si
anak). Apakah pendapat saya dapat dibenarkan?
3. Saya sengaja mengutip Digha Nikaya 31, karena menurut saya, Sang Buddha
menganjurkan kita (perumah tangga) untuk menjaga keluarga (orang tua) dan garis
keturunan.
Terima kasih.

Jawaban:
1. Melahirkan anak dalam Buddha Dhamma bukanlah keharusan, melainkan
merupakan konsekuensi logis perkawinan. Sedangkan dengan melihat kemungkinan
kondisi anak yang akan dilahirkan, mereka kemudian memilih untuk tidak melahirkan
anak, hal ini dapat dibenarkan dalam Agama Buddha. Justru karena pandangan
Agama Buddha melihat kelahiran sebagai pilihan inilah yang menjadi dasar pasangan
umat Buddha dapat membatasi jumlah anggota keluarganya, bahkan bisa saja mereka
memutuskan untuk tidak memiliki anak sama sekali.
2. Menghadapi kasus ini, tentu banyak fihak akan mempunyai banyak pandangan
pula. Salah satu pandangan adalah tetap mengharuskan mereka mempunyai anak.
Pandangan tersebut bisa dan boleh saja. Namun, semua orang boleh berpendapat.
Keputusan terakhir tetap pada pasangan itu sendiri. Kalau memang mereka sanggup
menanggung segala kemungkinan yang terjadi pada diri anaknya, mereka tentu akan
menurut. Sebaliknya, kalau mereka tidak sanggup menanggung penderitaan akibat
anak yang akan dilahirkannya, maka orang hendaknya tetap menghormati pilihan
hidup mereka itu.
3. Dalam kutipan tersebut memang berisikan tugas sebagai seorang anak yaitu
membantu, merawat dan menjaga nama baik orangtua dengan menjaga perilakunya.
Sedangkan, menjaga garis keturunan bukan berarti harus punya keturunan, melainkan
'jadilah anak yang baik'. Dengan kebaikan perilaku seseorang, nama baik seluruh
keluarga juga dapat terangkat.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan wawasan baru.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

32. Dari: Riki, Jakarta
Hallo Bhante,
Saya mau tanya tentang latihan meditasi. Saya telah 2x mengikuti retret Tradisi
Vipassana dari U Ba Khin. Setelah hampir 2 bulan setelah retret, saya masih mencoba
latihan rutin tiap hari. Namun belakangan ini saya memang jarang meditasi lagi. Saya
boleh dibilang masih baru dalam vipassana dan target saya kadang terlalu tinggi
dalam kemauan untuk maju. Kadang saya merasa sangat kesal dengan pikiran dan
sankhara ini. Kadang jika pikiran atau sankhara muncul, saya berasa agak kecewa jika
tidak bisa kontrol. Kadang saya bisa merasakan ego saya sudah besar tapi sangat sulit
untuk menganalisa dan menyadari Anicca. Bener2 bisa putus asa kadang...
Pertanyaan saya:
1. Apakah ini wajar sebagai pemula?
2. Atau ini gara2 saya salah mempelajari tekniknya?
3. Apa nasehat Bhante untuk saya?

Jawaban:
1. Pikiran bukanlah seperti garis lurus yang dapat diperintah dengan mudah. Bukan
demikian. Satu contoh sederhana adalah proses tidur. Kalau dipaksa dan ditarget,
maka orang malah sulit untuk tidur. Tidur hanya bisa dicapai ketika seseorang
memenuhi berbagai kondisi awalnya, seperti tenang lahir dan batin.
Demikian pula dengan melatih meditasi, semakin berkeinginan untuk mendapatkan
kemajuan, semakin sulit pikiran dikendalikan. Lebih baik dijalani proses meditasi
yang dasar yaitu duduk dengan baik dan hanya memperhatikan obyek yang dipilih.
Segala bentuk pikiran termasuk keinginan untuk maju hendaknya dikendalikan dan
dipusatkan kembali pada obyek. Dengan cara demikian, maka meditasi justru akan
mendapatkan banyak kemajuan.
Memang, untuk seorang pemula adalah wajar memiliki keinginan menggebu
mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat, namun sadarilah bahwa hal
ini justru akan mematahkan semangat berlatih meditasi apabila mengalami kegagalan.
Patah semangat ini telah dialami dengan mulai jarang bermeditasi. Padahal, semakin
jarang bermeditasi, pikiran akan semakin sulit dikendalikan. Meditasi adalah
membiasakan diri mengendalikan pikiran. Dengan demikian, rutinitas dan ketekunan
berlatih sangatlah diperlukan.
2. Apabila seseorang melatih meditasi sendiri atau berdasarkan buku tertentu, kadang
memang bisa terjadi kekeliruan dalam memahami teknik meditasi tersebut. Akan
tetapi, guru dan teknik meditasi yang telah pernah dijalani itu adalah termasuk teknik
yang baik. Dengan demikian, teruskan saja latihan yang telah pernah dikerjakan.
Kuncinya justru pada pengendalian pikiran sendiri. Ikuti teknik itu setahap demi
setahap, maka kemajuan dalam meditasi akan dapat dicapai.
3. Keberhasilan melatih meditasi membutuhkan persyaratan dasar secara lahir dan
batin. Secara lahir, seseorang hendaknya selalu tekun dan disiplin berlatih, rutin
setiap hari dua kali berlatih meditasi. Gunakan tempat dan waktu yang sama.
Sedangkan secara batin, seorang yang melatih meditasi hendaknya selalu penuh
semangat untuk terus dan terus mengembalikan segala bentuk perasaan yang dialami
pada obyek yang dipilih. Dengan demikian, kebosanan, kejengkelan dsb, segera
sadari dan kembalikan pada obyek. Atau, amati segala bentuk perasaan tersebut
sehingga akhirnya akan lenyap sendiri. Dengan batin yang teguh dan terus
bersemangat untuk memegang obyek akan menjadi dasar keberhasilan meditasi.
Semoga saran singkat ini dapat memberikan manfaat.
Semoga berhasil dalam bermeditasi.
Semoga bahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

33. Dari: Kus, Jerman
Namo Budhaya Bhante,
Apakah sampai saat ini ada terjemahan yg lengkap dari Sutta-Pitaka dan
Abhidhamma-Pitaka ke dalam bahasa Indonesia (Buku, Web-site, dll)?
(Saya selama ini hanya membaca Isi Sutta-Pitaka dari "Samaggi-Phala"). Bila ada
dimana bisa didapatkannya?

Jawaban:
Sebagai umat Buddha, memang idealnya pernah melihat, apalagi pernah membaca
Tipitaka secara lengkap, yaitu Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan juga Abhidhamma
Pitaka. Sayangnya ketiga Pitaka tersebut belum ada yang lengkap diterbitkan dalam
bahasa Indonesia. Bahkan terjemahan dalam bahasa Inggris pun sampai sekarang
masih belum lengkap. Ketidaklengkapan Tipitaka dalam bahasa Inggris ini adalah
karena sedemikian banyak kitab yang harus diterjemahkan. Sampai saat ini, kitab
Tipitaka yang diterbitkan dalam bahasa Inggris 'baru' berjumlah 52 buku, masih ada
beberapa buku lagi yang harus diselesaikan.
Meskipun demikian, apabila memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai,
silahkan membuka beberapa website yang berisikan naskah Tipitaka yang agak
memdai dan lengkap. Website tersebut adalah:
1. Access to Insight (http://www.accesstoinsight.org/canon/index.html)
2. Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Tipitaka)
3. UK Online (http://web.ukonline.co.uk/buddhism/tipitaka.htm)
Meskipun tidak begitu banyak website yang dicantumkan di sini, semoga tetap dapat
memberikan manfaat. Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

34. Dari: Soetrisno, Yogyakarta
Namo Buddhaya
Bhante, yang dianggap mahluk TERkecil dan TERbesar dalam agama Buddha itu
namanya apa ?
Dan kalau kita memikirkan yang "TER" apakah itu yang dikatakan melekat oleh
konsep?

Jawaban:
Buddha Dhamma adalah Ajaran Sang Buddha yang akan menuntun mereka yang
melaksanakannya agar dapat terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
Dasar inilah yang menjadikan Agama Buddha tidak harus menjawab semua
pertanyaan yang ada. Bahkan dalam Anguttara Nikaya II, 46 diberikan beberapa cara
Sang Buddha menjawab pertanyaan. Keempat cara tersebut adalah:
1. Semua pertanyaan dijawab secara langsung.
2. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan kembali.
3. Pertanyaan yang diajukan tidak diberikan jawaban atau didiamkan.
4. Pertanyaan dijawab secara berbeda disesuaikan dengan si penanya.
Pertanyaan tentang mahluk terbesar dan terkecil adalah merupakan pertanyaan yang
tidak ada hubungannya dengan tujuan Buddha Dhamma yaitu kebebasan dari
ketamakan, kebencian serta gelapan batin. Oleh karena itu, pertanyaan tersebut tidak
diberikan jawaban. Hal ini bukan karena kemelekatan pada konsep, melainkan kurang
bermanfaat untuk perkembangan batin atau menuju ke kesucian.
Semoga hal ini dapat dimaklumi.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

35. Dari: Edy, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante ada yang ingin saya tanyakan mengenai, pelepasan hewan....
1. Bhante kalo misalnya saya melepaskan burung, tetapi misalnya harga seekor
burung pipit Rp. 3.000,-, dan saya tidak menawar sehingga langsung beli, apakah itu
disebut sebagai orang bodoh baik hati?
2. Seandainya saya fangsen tetapi saya mengambil ukuran uang sebagai patokan nilai
misalnya budget saya Rp. 24.000,- berarti saya hanya dapat membeli burung
sebanyak 8 ekor, (itu tidak ditawar). Lain halnya kalo saya tawar, apakah itu
diperbolehkan? Apakah ini juga disebut sebagai orang bodoh baik hati?
3. Bhante, seandainya kita fangsen burung dengan menggunakan paritta Sumanggala
Gatha II, lalu bertekad, semoga saya terbebas dari masalah kesehatan apa bisa, dan
boleh?
Terima kasih.

Jawaban:
1. Kebiasaan melepas mahluk adalah merupakan kebiasaan yang baik, apalagi kalau
memang mahluk itu pasti akan mengalami kematian, misalnya saja ikan lele di
warung lele. Demikian pula dengan melepaskan burung, hal ini dapat sering
dilakukan oleh seorang umat Buddha. Dalam masyarakat Buddhis sering berkembang
pengertian bahwa pada saat membeli mahluk yang akan dilepas, hendaknya tidak
ditawar lagi. Pendapat ini tentunya kurang tepat, apalagi kalau memang harga mahluk
itu jauh di atas harga rata-rata. Semuanya harus dilakukan dengan bijaksana.
2. Seseorang boleh saja mempergunakan nilai uang sebagai batas maksimal mahluk
yang akan dilepaskan. Justru dengan menawar harga mahluk tersebut, ia akan
mendapatkan mahluk yang lebih banyak lagi untuk dilepaskan. Dengan demikian,
akan banyak mahluk yang akan mendapatkan kebahagiaan daripada kalau tidak
ditawar. Inilah yang memang seharusnya umat Buddha kerjakan, dengan nilai uang
yang sama akan mendapatkan lebih banyak mahluk yang dibebaskan.
3 Pada saat melepaskan mahluk, seseorang dapat membaca paritta tersebut, atau
bahkan ditambahkan Karaniyametta Sutta, atau berbagai paritta yang lain. Kemudian,
orang juga dapat mengucapkan tekad bahwa seperti dalam hukum sebab dan akibat,
menanam padi akan tumbuh padi, maka pada saat ini menanam kebebasan semoga
dapat terbebas pula dari segala macam kesulitan dan kesakitan.
Bisa dan boleh saja orang mengucapkan tekad tersebut. Tidak masalah.
Semoga dengan segala niat baik yang telah dilakukan dapatlah memberikan kondisi
karma baik Anda berbuah sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga demikianlah adanya.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

36. Dari: Ming, Jakarta
Namo Buddhaya, Bhante
Terimakasih penjelasan Bhante atas pertanyaan saya terdahulu. Setiap pagi dan sore
saya membacakan paritta di depan altar. Yang ingin saya tanyakan, bolehkah saat
menjaga toko (saat sepi pengunjung) saya membacakan/mengulang paritta termasuk
Saccakiriya Gatha, Khanda Paritta, Atanatiya Paritta dan Abhaya Paritta? Saya juga
membacakan artinya dalam bahasa Indonesia seperti yang pernah Bhante sarankan
pada salah seorang peserta forum tanya jawab untuk membaca arti paritta dalam
bahasa Indonesia. Apakah benar paritta tersebut di atas hanya boleh dibacakan
dengan bimbingan Pandita atau Bhikkhu?
Terimakasih Bhante.

Jawaban:
Adalah sangat baik untuk sering membaca paritta karena kebiasaan ini selain
menambah kebajikan lewat ucapan, perbuatan serta pikiran juga akan dapat
meningkatkan kualitas batin kita sebagai umat Buddha. Waktu pembacaan paritta
hendaknya disesuaikan dengan perbedaan kesibukan yang dimiliki oleh setiap orang.
Biasanya orang membaca paritta pada pagi dan sore atau malam hari seperti yang
telah dikerjakan selama ini. Apabila ingin menambahkan waktu membaca paritta di
kala senggang pada saat menjaga toko, tentu saja hal ini tidak masalah sejauh tidak
mengganggu pekerjaan atau tanggung jawab yang dimiliki. Akan tetapi, hendaknya
dipikirkan terlebih dahulu apabila ditengah pembacaan paritta masuklah seorang
pembeli di toko. Apabila pembeli datang juga tidak mengganggu proses pembacaan
paritta yang sedang berlangsung, maka pembacaan paritta di toko tersebut tidak
masalah untuk dikerjakan ataupun dijadikan kebiasaan. Sedangkan, apabila datangnya
pembeli dapat mengganggu pembacaan paritta, maka lebih baik selama tidak ada
pembeli dalam hati mengucapkan sebanyak mungkin kalimat: 'Semoga semua mahluk
berbahagia'.
Pembacaan paritta yang sesungguhnya mengulang kotbah Sang Buddha tidak harus
selalu mendapatkan bimbingan dari pandita maupun bhikkhu. Seseorang dapat
membaca paritta di setiap waktu dan tempat.
Oleh karena itu, lanjutkan kebiasaan membaca paritta yang sangat baik tersebut.
Semoga dengan kebajikan yang sering dikerjakan dapatlah membuahkan kebaikan
dan kebahagiaan sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga demikianlah adanya.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

37. Dari: Intan Chalik Wijaya, Medan
Terima kasih sebelumnya atas jawaban dari pertanyaan saya yang lalu. Mengenai
Buddha Maitreya, sebelumnya sih saya udah bertanya dengan teman dekat saya yang
menganut ajaran Maitreya. Dia mengatakan bahwa Maitreya itu sebenarnya udah
pernah lahir, cuman katanya kan dia bodhisatva, dan arti bodhisatva itu sendiri kan
orang yang menunda pencapaian Penerangan Sempurna. Jadi katanya Buddha
Maitreya menunda pencapaian Penerangan Sempurna dan inilah saatnya dia muncul.
Saya sih tetap menghormati ajarannya meskipun saya gak yakin, karena saya
penganut Ajaran Buddha Gautama. Jadi mana mungkin saya sembah dua ajaran
Buddha sekaligus.
Jadi bagaimana menurut pendapat Banthe?
Dan secara pribadi apakah Bhante percaya dan yakin dengan adanya Buddha
Maitreya saat sekarang ini.
Saya pernah melihat vcd tentang kotbah Bhante Uttamo di Solo, tentang pelimpahan
jasa. Saya bawa cdnya ke rumah. Rumah saya di Rantau Prapat, kira2 5 jam dari
Medan. Setelah orang tua saya mendengar, ayah saya meminjamnya dan membawa
cdnya untuk dibuka di Vihara Buddha Jayanti (nama salah satu vihara di kota kami).
Setelah orang2 disana mendengarnya mereka berkata kepada ayah saya kalau mereka
menyukai kotbah yang Bhante bicarakan; maksudnya cara penyampaiannya yang
begitu rileks dan santai. Mereka mau mengundang Bhante untuk datang ke Rantau
Prapat.
Saya ingin bertanya: bagaimana prosedur mengundang Bhante ke kota kami?
Kadang2 saya kok merasa sepertinya keadaan yang saat itu saya alami sepertinya
sudah pernah saya alami. bahkan teman saya juga mengatakan demikian. Misalnya,
saya berada divihara dan sedang sembahyang, namun terlintas dipikiran saya bahwa
sepertinya ini sudah pernah saya alami dan keadaannya juga sama persis. Jadi
menurut Bhante ini apa sebabnya? Apakah ada hubungan dengan karma masa lalu
atau ada sesuatu dibalik rahasia ini.
Demikian saja pertanyaan dari saya.
Akhir kata saya ucapkan Selamat Hari Raya Imlek. Semoga Bhante sehat-sehat selalu
dan selalu berada dalam lindungan Buddha.
Terima kasih.

Jawaban:
Pandangan dan sikap Anda terhadap Ajaran Buddha Maitreya kiranya sudah cukup
baik. Sikap untuk dapat saling menghormat dengan penganut ajaran yang berbeda
dengan ajaran yang kita percayai adalah merupakan dasar untuk saling bersahabat
dalam masyarakat. Sesungguhnya hubungan dan persahabatan dalam masyarakat
hendaknya bukan ditentukan oleh agama maupun kepercayaan yang dianut seseorang.
Komunikasi yang baik hendaknya berdasarkan hubungan antar pribadi yang saling
membantu dan mengisi, apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya. Apabila
pola hidup ini dapat diterapkan, maka kemanapun seseorang pergi, dan bergaul, ia
akan selalu bergembira.
Pendapat saya pribadi tentang Buddha Maitreya ini sudah dijelaskan dalam jawaban
pertanyaan yang sebelumnya. Silahkan buka kembali. Paling tidak, saya akan
kutipkan sebagian di sini bahwa Buddha Maitreya memang belum dilahirkan di dunia
ini. Beliau masih sebagai bodhisattva di Surga Tusita.
Anumodana atas berita baik tentang manfaat VCD ceramah Pelimpahan Jasa, semoga
pembabaran Dhamma dalam VCD tersebut akan dapat menambah keyakinan para
umat Buddha di sana terhadap Buddha Dhamma serta meningkatkan kualitas
pelaksanaan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Anumodana pula atas undangan ceramah di Rantau Prapat, semoga pada suatu saat
nanti saya dapat berkunjung dan bertemu dengan para umat Buddha di sana. Untuk
itu, silahkan hubungi dan tanyakan berbagai persyaratannya kepada Ketua Bhikkhu
Daerah Pembinaan Sumatera Utara atau langsung ke Sekretariat Sangha Theravada
Indonesia di:
Wisma Sangha Theravada Indonesia
Jl. Margasatwa 9 ( Depan BBC )
Pondok Labu
Jakarta 12450
Tel. 0811 432250
Pengalaman pribadi yang merasakan seolah-olah pernah melakukan sesuatu yang
sama di masa lampau, sebenarnya berhubungan dengan kemampuan 'melihat
peristiwa yang akan datang' dalam bentuk mimpi. Jadi, mungkin kegiatan yang
dirasakan itu sudah beberapa kali dimimpikan sebelumnya. Penyebab lainnya, apabila
orang merasa pernah ke suatu gedung yang sudah cukup tua, maka ada kemungkinan
dalam kehidupan yang lalu, ia pernah juga pergi atau tinggal di tempat itu.
Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga dengan datangnya tahun yang baru ini juga akan
memberikan semangat dan kebahagiaan yang baru pula. Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

38. Dari: Eurika Winata, Surabaya
Namo Buddhaya
Ada beberapa pertanyaan yang akan saya tanyakan:
1. Apakah arti berdoa dalam Agama Buddha? Apakah berdoa itu berbicara kepada
Tuhan seperti dalam agama lain? Apakah manfaat kita berdoa?
2. Apa manfaat melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari?
3. Agama Buddha mengajarkan kita untuk tidak membenci orang lain, tapi kalau
orang itu membenci kita, apa yang harus kita lakukan? Nasehat apa yang harus kita
berikan?
Terima kasih.

Jawaban:
1. Di dalam Agama Buddha sebenarnya tidak mempergunakan istilah 'doa' melainkan
'Puja Bakti'. Puja bakti yang dimaksudkan di sini adalah bahwa ketika seorang umat
Buddha melakukan upacara ritual dengan membaca paritta, sesungguhnya ia sedang
mengulang kotbah Sang Buddha. Setelah melakukan pengulangan kotbah Sang
Buddha, umat hendaknya merenungkan dengan sungguh-sungguh arti kotbah
tersebut. Hasil perenungan akan kotbah Sang Buddha itu hendaknya dapat
dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman hidup. Dengan
demikian, semakin sering seorang umat melakukan puja bakti, maka semakin baik
pula prilakunya. Jadi, bertambahnya usia akan diiringi dengan bertambahnya
kebijaksanaannya pula.
2. Tujuan Buddha Dhamma atau Kebenaran yang merupakan Ajaran Sang Buddha
adalah untuk mengurangi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin yang menjadi
dasar prilaku kehidupan manusia. Seorang umat Buddha yang rajin melaksanakan
Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-harinya akan mendapatkan kebahagiaan.
Batinnya menjadi tenang, terbebas dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Ia
akan selalu bahagia di kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.
3. Buddha Dhamma memang mengajarkan umat manusia untuk tidak saling
membenci. Hal inilah yang harus dikerjakan oleh para umat Buddha yang baik.
Namun, dalam masyarakat tentu saja dapat dijumpai orang yang membenci kepada
kita. Untuk itu, seorang umat Buddha hendaknya merenungkan bahwa memancarkan
pikiran cinta kasih kepada semua mahluk termasuk mereka yang membenci adalah
merupakan kebajikan melalui pikiran; sedangkan, dibenci oleh orang adalah
merupakan buah karma buruk yang harus diterima. Oleh karena itu, kebencian
hendaknya bukan dibalas dengan kebencian, melainkan dengan cinta kasih. Hal ini
juga terdapat dalam Dhammapada XVII, 3:
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan
Kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan
Kalahkan kebohongan dengan kejujuran.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

39. Dari: Sarah Anggraeni, Surabaya
Namo Buddhaya
Saya memiliki beberapa pertanyaan:
1. Darimana asalnya Tuhan?
2. Dalam Agama Buddha disebut kalau Tuhan itu ada, terus mengapa ada orang yang
berdoa kepada dewa? Kenapa orang tidak berdoa pada Tuhan?
Terima kasih

Jawaban:
1. Pertanyaan tentang 'asal' Tuhan adalah merupakan pertanyaan yang cukup luar
biasa. Pada umumnya, orang akan bertanya tentang 'siapa' atau 'bagaimana' Tuhan.
Meskipun demikian, jawaban atas pertanyaan ini sudah terdapat dalam artikel:
KETUHANAN YANG MAHAESA dalam Samaggi Phala, Naskah Dhamma.
Silahkan baca dan teliti terlebih dahulu.
2. Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha memang tidak sama dengan berbagai
konsep Ketuhanan yang biasa dikenal dalam masyarakat. Oleh karena itu, setelah
membaca artikel yang disebutkan pada jawaban no. 1 itu, barulah dapat dimengerti
bahwa Tuhan dalam Agama Buddha bukanlah tempat orang meminta sesuatu,
melainkan menjadi tujuan hidup tertinggi seorang umat Buddha. Tuhan dalam Agama
Buddha adalah Nibbana atau Nirwana. Seorang umat Buddha untuk mencapai
Nibbana bukan dengan berdoa atau upacara saja, melainkan dengan perjuangan untuk
mengurangi kejahatan, menambah kebajikan dan menyucikan pikiran dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Oleh karena itu, dalam pengertian seorang umat Buddha, doa kepada para dewa
bukanlah berisikan permintaan kepada mereka, melainkan menjadikan mereka
sebagai panutan untuk kehidupan ini. Dengan demikian, seorang umat Buddha yang
menghormat kepada dewi welas asih berarti ia akan selalu melaksanakan prilaku cinta
kasih dalam kehidupan sehari-hari. Arca Buddha maupun para dewa lainnya adalah
sebagai lambang dan idola hidupnya.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

40. Dari: Johandi Poetra, Jakarta Timur
Namo Buddhaya,
Bhante, kamma buruk apakah yang dilakukan seseorang sehingga tidak bisa mencapai
jhana dalam meditasi samatha.

Jawaban:
Seseorang tidak dapat mencapai Jhana dalam bermeditasi biasanya adalah karena
kurang tekun dan uletnya dalam melatih meditasi. Oleh karena itu, pelaku meditasi
hendaknya berusaha dengan disiplin untuk melatih meditasi secara rutin pagi dan
malam. Biasakan berlatih meditasi minimal setengah jam setiap kali bermeditasi.
Lebih lama, tentunya akan lebih baik. Usahakan untuk mendapatkan bimbingan dari
orang yang dianggap mampu dan berpengalaman dalam meditasi. Kemudian,
gunakan waktu tertentu dalam satu tahun untuk bermeditasi secara intensif di vihara
yang menyediakan kesempatan untuk melatih meditasi.
Apabila beberapa kondisi ini dilakukan, maka pelaku meditasi dapat meningkatkan
kualitas batinnya untuk mencapai taraf meditasi sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga keterangan singkat ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

41. Dari: Melyani, mataram
Namo Buddhaya, Bhante,
Menyambung pertanyaan dari teman di Makassar tempo hari, ada beberapa hal yang
ingin saya tanyakan:
1. Bila semua yang ada di dunia ini adalah hasil proses bukan karena diciptakan,
maka bagaimana proses ini bisa terjadi? Apakah terjadi secara alami (bukan karena
diatur oleh sesuatu?)
2. Apakah wajar bila kita mengucapkan Paritta pada saat bersembahyang di
kelenteng, di mana terdapat banyak patung para dewa.
Mungkin ini dulu pertanyaan saya, semoga mendapat tanggapan yang bermanfaat.
Salam metta selalu.

Jawaban:
1. Proses sebab dan akibat alami yang menjadikan dunia dengan seluruh isinya ini
sudah tidak diketahui asal mulanya walaupun bukan berarti tidak ada. Hal ini karena
bumi terbentuk, kiamat dan terbentuk lagi untuk jumlah yang sudah tidak terhingga.
Oleh karena itu, di dalam Dhamma, usaha untuk mencari awal terjadinya seluruh
proses sebab dan akibat yang alami ini hanya akan menghabiskan waktu serta tidak
akan membawa kemajuan batin menuju ke kesucian. Sang Buddha hanya
menerangkan asal mula terjadinya dunia yang dihuni saat ini saja. Keterangan Sang
Buddha tersebut dapat dibaca dalam KEJADIAN BUMI DAN MANUSIA, dari
Website Samaggi Phala, Naskah Dhamma.
2. Membaca paritta yang berarti mengulang kotbah Sang Buddha dapat dilakukan di
manapun saja, termasuk di depan arca para dewa di kelenteng. Hal ini karena
pembacaan paritta adalah merupakan kebajikan untuk diri sendiri maupun mahluk
lain. Disebut sebagai 'kebajikan untuk diri sendiri' adalah karena selama membaca
paritta, seseorang akan mengarahkan ucapan, perbuatan dan pikirannya untuk
menghindari keburukan. Sedangkan, disebut sebagai 'kebajikan untuk mahluk lain'
adalah karena pembacaan paritta memungkinkan mahluk lain yang berada di sekitar
pembaca mendengar dan memahami kotbah Sang Buddha tersebut. Namun, apabila
seseorang kurang mempunyai kesempatan untuk membaca paritta secara lengkap,
maka disarankan agar lebih sering membaca dalam batin kalimat cinta kasih yaitu:
"Semoga semua mahluk berbahagia".
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

42. Dari: Suryo Hariono, Surabaya
Terimakasih saya ucapkan kepada Bhante Uttamo yang telah berkenan memberikan
jawaban atas pertanyaan yang telah saya ajukan. Kali ini ada beberapa hal tentang
yang hendak saya tanyakan mengenai pikiran, yaitu:
1. Konsep "Saya ada maka Saya Berpikir" dengan "Saya berpikir maka Saya ada"
(Filosof Dante). Sedangkan saya berpandangan bahwa "Saya tidak berpikir Saya ada"
atau "Saya berpikir bahwa Saya tidak pernah ada", terutama kalau dikaitkan dengan
konsep Anatta, mohon penjelasannya. Apakah Konsep saya ini salah?
2. Tentang "jati diri" versus pikiran, ada hal yang mengelitik pemikiran saya, yaitu
kondisi mental dan pikiran orang gila (sakit jiwa), bagaimana? dan kira-kira Karma
apa yang menyebabkan seseorang lahir sebagai orang gila (sakit jiwa)?
3.Mengenai perilaku dan keinginan bunuh diri (suicide) apakah benar akan menjadi
suatu kebiasaan, artinya jika seseorang melakukan bunuh diri pada kehidupannya
sekarang adalah juga yang bersangkutan dalam kehidupan terdahulunya juga telah
melakukan bunuh diri? dan sebaliknya.
4.Perihal Kelahiran kembali saya pernah membaca buku "Reinkarnasi" (terbitan BIP
Gramedia - 2003) tentang seorang yang selalu dilahirkan bersama pasangan hidupnya
sampai +/- 40 kali kelahiran dan selalu berakhir dengan tragis yaitu terbunuhnya
orang tersebut oleh pasangannya. Yang saya tanyakan bisakah kekuatan kebencian
menjadi sebab semua itu? ataukah justru kekuatan cinta kasih? Lebih kuat mana
antara kekuatan kebencian dengan kekuatan cinta kasih?
5.Menyambung pertanyaan No.4, kaitannya dengan Kehidupan Bodhisatta Siddhatta
bersama Devadatta yang selalu memusuhi Beliau. Padahal Sang Bodhisatta sendiri
tidak pernah menanggapinya alias bersikap netral, tetapi kenapa Beliau berdua selalu
bertemu dalam keadaan demikian? Bagaimana cara memutusnya? Mohon
penjelasannya.

Jawaban:
1. Memiliki konsep tentang 'diri sendiri' yang berbeda dengan pandangan yang sudah
ada dalam masyarakat adalah merupakan hal yang wajar. Namun, sesuai dengan
konsep Anatta yang ada dalam Buddha Dhamma, seorang umat Buddha hendaknya
melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah paduan unsur yang tanpa inti
kekal. Dengan demikian, yang disebut 'saya' hanyalah merupakan kesepakatan belaka
untuk menunjuk seonggok tumpukan tulang dan daging yang berisi kekotoran ini.
Penyebutan 'saya' hanyalah untuk membedakan dengan sebutan 'kamu' yang pada
hakekatnya semuanya hanyalah paduan unsur belaka. Jadi, semua sebutan itu
hanyalah kosong belaka. Bukan kebenaran sejati. Kalau semuanya hanyalah
merupakan kekosongan, maka siapa pula yang berpikir? Siapa yang ada dan tidak
ada? Sesungguhnya, dalam kehidupan ini, tidak ada yang berpikir, tidak ada pula
yang dipikir, yang ada hanyalah proses pikiran. Cobalah renungkan terlebih dahulu
hal yang sangat penting ini sebelum menentukan keberadaan atau ketidakberadaaan
sang aku.
2. Seseorang yang dianggap gila apabila ia memiliki niat untuk melakukan sesuatu
namun ia tidak menyadari akibat perbuatan yang dilakukannya. Dalam Dhamma,
orang gila karena mempunyai niat, maka ia juga telah melakukan karma yang baik
maupun buruk. Akan tetapi, karma penyebab seseorang terlahir sebagai orang gila
tidak mudah diuraikan di sini karena buah karma tersebut adalah merupakan
gabungan dari berbagai karma yang telah pernah dilakukan dalam banyak
kehidupannya yang lalu. Sebagai tambahan keterangan jawaban ini, silahkan buka
pada pertanyaan sejenis di: http://www.samaggi-phala.or.id/ftj_dtl.php?id=157
3. Dalam salah satu sumber Dhamma di luar Tipitaka memang pernah disebutkan
bahwa perilaku bunuh diri di salah satu kehidupan akan mengkondisikan ia terlahir di
lingkungan yang memungkinkan dia untuk bunuh diri kembali di berbagai kehidupan
yang akan datang.
4. Cinta dan benci memang akan mengkondisikan satu mahluk terlahir berdekatan
dengan yang lain. Hal ini karena dengan adanya cinta dan benci satu mahluk akan
mencari mahluk yang lainnya. Perasaan cinta diwujudkan dengan mencari mahluk
yang dicintainya agar dapat dibahagiakan. Perasaan benci akan mencari mahluk yang
tidak disukainya untuk disakiti lahir maupun batinnya. Kedua jenis perasaan yang
saling bertolak belakang ini sama besar kekuatannya. Seseorang yang meninggal
dengan memiliki salah satu perasaan tersebut akan dapat terlahir di sekitar obyek
perasaannya. Oleh karena itu, seseorang bisa timbul rasa cinta maupun benci pada
pandangan pertama. Hal ini adalah akibat dari karma lampau yang kuat. Untuk
mengatasi rasa benci yang timbul dari karma lampau, hendaknya seseorang selalu
memancarkan pikiran cinta kasih kepada obyek yang dibencinya. Karena kebencian
tidak akan berakhir dengan kebencian, melainkan dengan cinta kasih.
Dhammapada I, 5:
Kebencian tidak akan pernah berakhir
Apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi, kebencian akan berakhir
Apabila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum yang abadi.
5. Ikatan kelahiran yang selalu berdekatan antara Pangeran Siddhatta dan Devadatta
telah terputuskan ketika Pangeran Siddhatta mencapai kesucian dan menjadi seorang
Buddha.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

43. Dari: Suhardiman, Medan
Kami ada tugas sejarah mengenai Agama Buddha di Indonesia. Saya sangat minta
tolong untuk dijawab pertanyaan saya.
Pertanyaan sebagai berikut:
1. Kenapa didepan rumah peribadatan Umat Buddha (VIHARA) selalu ada patung
naga?
2. Kenapa Umat Buddha memuliakan Sidharta Gautama Buddha?
3. Kenapa umat Buddha identik dengan acara persembahan berupa sesaji didepan
rumahnya?
4. Kenapa umat Buddha memuliakan roh orang yang telah meninggal (nenek
moyang)?
5. Apa saja 3 peristiwa penting bagi umat Buddha?

Jawaban:
1. Dalam Tipitaka sebagai Kitab Suci Agama Buddha tidak pernah disebutkan
peraturan pembuatan tempat ibadah umat Buddha. Dengan demikian, rancang bangun
sebuah vihara sebagai tempat ibadah sepenuhnya tergantung pada kebijaksanaan para
pengurus vihara itu sendiri. Pada umumnya, vihara dibangun dengan menyesuaikan
kebutuhan para umat dan kebudayaan setempat. Oleh karena itu, pada kenyataannya
tidak selalu terdapat patung naga di depan vihara. Mungkin ada kerancuan pengertian
antara vihara dan kelenteng yang pada umumnya terdapat simbol naga di depannya.
Padahal, kelenteng tidak selalu berfungsi sebagai vihara, dan vihara tidak harus
berupa kelenteng. Sebagai contoh, Vihara Samaggi Jaya di Blitar juga tidak ada
patung naga di depan vihara. Demikian pula dengan sebagian besar vihara lainnya.
2. Siddharta Gautama yang terlahir sebagai seorang pangeran di Kapilavastu, India
tahun 623 SM adalah merupakan guru dan panutan para umat Buddha. Beliau
berdasarkan rasa welas asih atas penderitaan umat manusia telah meninggalkan
kenikmatan dunia untuk bertapa di hutan Uruvela selama enam tahun lamanya. Beliau
kemudian menemukan cara untuk mengatasi penderitaan manusia dengan melatih
sistematika pengendalian pikiran. Hal ini karena pikiran adalah merupakan sumber
suka dan duka manusia. Ajaran pokok Beliau yang dikenal dengan Empat
Kesunyataan Mulia dapat dilaksanakan oleh siapapun juga tanpa memandang
kedudukan, bangsa maupun budaya. Orang yang berhasil melaksanakan Empat
Kesunyataan Mulia akan mendapatkan ketenangan karena batin terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Orang yang sedemikian ini disebut telah
mencapai kesucian atau Nibbana yaitu mereka yang sudah tidak terlahirkan kembali.
Cinta kasih, keluhuran ajaran dan kemuliaan Sang Buddha Gotama inilah yang
menjadikan para umatnya menghormati Beliau sebagai Guru Agung. Beliau dipuja
dengan cara mengulang dan merenungkan Ajaran Beliau agar dapat dijadikan
pedoman hidup sehari-hari. Pemujaan sejati kepada Sang Buddha justru dengan
melaksanakan Ajaran Sang Buddha bukan pada upacara maupun sesajian.
3. Menjadi seorang umat Buddha bukan berarti terlepas sama sekali dari tradisi yang
semula telah dilaksanakannya sebagai bagian dari kebiasaan turun temurun yang
berlaku dalam masyarakatnya. Dengan demikian, seorang umat Buddha dapat juga
mempersembahkan berbagai makanan serta buah-buahan sebagai bentuk
penghormatan apabila memang hal itu telah menjadi tradisinya. Yang penting
dimengerti di sini adalah ketika mempersembahkan makanan serta buah-buahan,
batin mereka hendaknya merenungkan: "Saya mempersembahkan makanan dan buahbuahan
yang terbaik kepada Sang Guru Agung, dengan ini saya bertekad untuk
memberikan ucapan, perbuatan serta pikiran yang terbaik pula kepada masyarakat
luas." Dengan demikian, seorang umat Buddha bukan hanya sekedar
mempersembahkan makanan serta buah-buahan, melainkan menjadikan persembahan
itu sebagai lambang tekad dan semangatnya untuk merenungkan dan melaksanakan
Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
4. Seorang umat Buddha diajarkan oleh Sang Buddha untuk selalu memberikan
penghormatan dan kasih sayang kepada sesama mahluk baik ketika mereka masih
hidup maupun setelah mereka meninggal dunia. Ketika masih hidup, mereka dapat
diberikan kebahagiaan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran yang bermanfaat dan
membahagiakan mereka. Setelah meninggal dunia, jasa kebajikan mereka semasa
hidupnya hendaknya tetap dikenang. Setelah mengingat kebajikan para leluhur,
seorang umat Buddha hendaknya dapat melakukan pelimpahan jasa. Pelimpahan jasa
adalah melakukan kebajikan kepada mahluk lain atas nama mereka yang telah
meninggal. Jadi, seorang umat Buddha, misalnya, dapat mempersembahkan berbagai
kebutuhan pokok para anak yatim di panti asuhan atas nama para leluhur yang sudah
meninggal. Mereka juga dapat menjadi donor darah atas nama yang meninggal, atau
berbagai kebajikan lainnya yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, umat Buddha bukan meminta-minta keselamatan kepada para
leluhur yang sudah meninggal, melainkan berbuat baik atas nama mereka sebagai
bentuk peringatan bahwa bagaimanapun juga, para leluhur tersebut telah pernah
berjasa kepada generasi berikutnya, paling tidak, mereka telah menurunkan generasi
penerusnya.
5. Di dalam tradisi Buddhis, sebenarnya dalam satu tahun terdapat EMPAT peristiwa
penting yang diperingati dan dijadikan sebagai hari raya umat Buddha. Hari raya
pertama adalah pada saat purnama sidhi (bulan purnama) di bulan Magha yaitu
sekitar bulan Februari-Maret yang dikenal dengan Magha Puja. Magha Puja adalah
untuk memperingati pertama kali Sang Buddha memberikan peraturan dasar
kehidupan seorang bhikkhu.
Hari raya kedua adalah pada saat tepat purnama sidhi di bulan Waisak atau sekitar
bulan Mei-Juni. Peringatan Waisak di Indonesia telah dijadikan hari libur nasional.
Waisak adalah kesempatan untuk memperingati tiga peristiwa penting yang terjadi
dalam kehidupan Sang Buddha. Ketiga peristiwa penting tersebut adalah saat
Pangeran Siddhatta dilahirkan, saat Beliau mencapai kesucian atau menjadi seorang
Buddha yang disebut sebagai Buddha Gotama, dan saat Beliau mangkat atau
wafatnya Sang Buddha Gotama. Saat Waisak juga merupakan pergantian tahun
Buddhis. Perhitungan tahun Buddhis dimulai sejak Sang Buddha Gotama wafat, dan
Waisak yang akan dirayakan pada tanggal 3 Juni 2004 nanti adalah saat para umat
Buddha memasuki tahun Buddhis 2548.
Hari raya ketiga adalah pada saat purnama sidhi dibulan Asadha atau sekitar bulan
Juli-Oktober yang dikenal dengan Hari Asadha. Hari Asadha adalah untuk
memperingati pertama kali Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada lima pertama
di Taman Rusa Isipatana setelah Beliau mencapai kesucian. Sejak saat itu sampai
sekarang dan di masa datang, Buddha Dhamma dikenal oleh umat manusia, bahkan
para dewa sekalipun.
Hari raya keempat dirayakan selama satu bulan penuh mulai bulan Oktober sampai
dengan November yaitu Hari Raya Kathina. Hari Raya Kathina adalah akhir tiga
bulan masa penghujan di India. Selama masa perayaan Kathina, para umat Buddha
memiliki kesempatan untuk berkunjung ke banyak vihara dan mempersembahkan
berbagai kebutuhan para bhikkhu. Kesempatan Kathina adalah kesempatan untuk
berbuat baik sekaligus mendukung kelestarian Buddha Dhamma di alam semesta ini.
Itulah empat peristiwa penting yang biasanya dirayakan oleh seorang umat Buddha.
Sedangkan, apabila maksud pertanyaan di atas adalah tentang tiga peristiwa penting
untuk seorang umat Buddha, tentunya hal ini menjadi bersifat relatif. Artinya, semua
orang mempunyai sudut pandang sendiri mengenai hal yang penting dan tidak penting
dalam kehidupannya. Padahal dalam Buddha Dhamma urusan ini bukanlah sesuatu
yang harus dipermasalahkan. Paling penting dalam Agama Buddha, seorang umat
Buddha hendaknya dapat berjuang untuk melatih batinnya agar terbebas dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Inilah kondisi seorang umat Buddha
untuk mencapai kesucian atau Nibbana atau Nirwana yang merupakan tujuan akhir
seorang umat Buddha.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

44. Dari: Ariyadevi Asnah Mariani, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, saya pernah membaca "Kewajiban anak terhadap orang tuanya yang telah
meninggal adalah berbuat kebaikan dan menyalurkan jasa-jasa atas kebaikan itu
untuk almarhum orang tuanya. Bila ulang tahun kematian dari orang tuanya, membuat
dana dan kemudian mempersembahkan dana ini untuk kebahagiaan almarhum".
Pertanyaan saya adalah :
1. Jenis kebaikan apa saja yang bisa kita lakukan agar jasa tersebut bisa dilimpahkan
kepada almarhum orang tua ?
2. Bagaimana tata cara pelimpahan jasa yang sebaiknya kepada almarhum orang tua
setelah kita berbuat kebaikan ? Kami pernah didampingi oleh Bhante di vihara untuk
melakukan pelimpahan jasa setelah berdana. Apakah kami dapat melakukan sendiri
ataukah sebaiknya didampingi oleh Bhante ? Pertimbangan kami adalah agar tidak
merepotkan Bhante.
Terima kasih atas penjelasan Bhante

Jawaban:
1. Seorang umat Buddha diajarkan Sang Buddha untuk selalu menghormati
orangtuanya di kala masih hidup maupun setelah mereka meninggal dunia.
Dalam Sigalovada Sutta (Digha Nikaya III, 188) telah disebutkan tugas anak kepada
orangtuanya yaitu:
a. Merawat orangtua yang telah merawat dan melahirkannya
b. Membantu menyelesaikan berbagai tugas yang harus dikerjakan oleh orangtua
c. Menjaga nama baik keluarga
d. Menjaga prilaku yang baik dan sesuai agar orangtua mempercayai anak untuk
menerima warisan mereka
e. Melakukan pelimpahan jasa atas nama orangtua yang sudah meninggal dunia.
Pelimpahan jasa adalah melakukan perbuatan baik atas nama mereka yang sudah
meninggal dunia. Hal ini karena dalam pengertian Buddhis, seseorang yang sudah
meninggal dunia tidak dapat lagi diminta untuk memberikan keselamatan maupun
perlindungan kepada anggota keluarganya yang masih hidup. Perbuatan baik yang
dapat dilakukan adalah dengan melalui badan, ucapan dan juga pikiran.
Perbuatan melalui badan, dapat dilakukan misalnya dengan mendatangi panti asuhan,
panti jompo dan berbagai tempat sosial lainnya untuk berbuat baik di sana. Perbuatan
baik dapat dilakukan dengan menyerahkan berbagai kebutuhan penghuni di sana.
Kebajikan juga dapat dilakukan secara fisik, misalnya donor darah. Perbuatan baik
melalui badan ini dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang tak terhingga
banyaknya. Hal terpenting adalah segala perbuatan baik itu hendaknya dapat
memberikan kebahagiaan kepada lingkungannya.
Perbuatan baik melalui ucapan dapat dilakukan dengan banyak memberikan nasehat
maupun saran kepada mereka yang memerlukan pendapat dan saran kita. Kebajikan
melalui ucapan dapat dilakukan dengan mengucapkan berbagai perkataan yang
membawa kedamaian pendengarnya, bukan mengakibatkan kebencian maupun
permusuhan. Jenis kebajikan ini juga sangat banyak tak terkira.
Perbuatan baik melalui pikiran dapat diwujudkan dengan sering mengembangkan
pikiran cinta kasih. Pengembangan batin ini dilakukan dengan sering mengucapkan
dalam batin kalimat: "Semoga semua mahluk berbahagia". Semakin sering seseorang
mengucapkan kalimat ini, maka batinnya akan semakin tenang. Emosinya akan lebih
mudah dikendalikan. Pikirannya akan terbebas dari berbagai kebencian maupun
dendam yang menyiksa. Selain itu, kebajikan melalui pikiran juga dapat
dikembangkan melalui meditasi secara rutin setiap pagi dan sore, bahkan setiap saat
selalu menyadari segala yang dilakukan, diucapkan maupun dipikirkan.
Semua kebajikan ini dapat dilakukan setiap kesempatan, dengan demikian, apabila
malam hari menjelang tidur, orang dapat merenungkan berbagai kebajikan yang telah
dilakukannya sepanjang hari tersebut dan dilimpahkan segala jasa kebajikannya
kepada para leluhur, sanak keluarga yang sudah meninggal. Semoga dengan
kebajikan ini akan membuahkan kebahagiaan untuk mereka di alam kelahirannya
yang sekarang.
2. Tata upacara pelimpahan jasa dapat dilakukan berdasarkan tradisi setempat. Pada
prinsipnya, berbuat baiklah dengan ucapan, perbuatan dan pikiran untuk
limpahkanlah semua jasa kebajikannya kepada para leluhur. Adalah hal yang baik
apabila sekali-sekali ada seorang bhikkhu yang dapat membantu upacara pelimpahan
jasa ini. Namun, kehadiran seorang bhikkhu bukanlah menjadi keharusan dalam
pelimpahan jasa. Bahkan, seperti yang telah diuraikan pada jawaban di atas,
seseorang dapat melakukan pelimpahan jasa setiap malam menjelang tidur dengan
hanya mengucapkan tekad dalam batin.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

45. Dari: Sutisna Sunarwan, Cirebon
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin bertanya:
1. Paritta apa yang harus dibacakan saat kita menghadapi orang yang sedang
kesurupan ?
2. Apakah orang yang sudah meninggal arwahnya dapat merasuki salah satu anggota
keluarganya?
3. Apa yang kita lakukan apabila kita melihat makhluk halus?
Terima kasih atas penjelasan Bhante

Jawaban:
Pada prinsipnya dalam Buddha Dhamma mahluk halus adalah termasuk mahluk
hidup yang menderita sehingga perlu ditolong, bukan dimusuhi. Oleh karena itu,
apabila seorang umat Buddha bertemu dengan mahluk halus, hendaknya ia tidak
merasa takut dan bahkan dapat memancarkan pikiran penuh kasih sayang dengan
mengucap dalam hati: "Semoga semua mahluk berbahagia." Ulangi kalimat welas
asih ini sebanyak mungkin, maka mahluk halus akan menjadi tenang dan tidak
menimbulkan masalah lagi.
Mahluk halus memang kadang dapat "mempengaruhi" orang di sekitarnya, baik
anggota keluarganya maupun yang bukan keluarga, sehingga orang tersebut akan
bertindak dan berbicara menurut keinginan mahluk tersebut. Kondisi ini sering
disebut sebagai "kesurupan". Sebenarnya, istilah "kesurupan" atau "kemasukan" itu
adalah istilah yang kurang tepat, mengingat tubuh manusia bukanlah seperti sebuah
gelas kosong yang dapat diisi dan dimasuki suatu cairan atau benda. Istilah yang lebih
sesuai dengan kenyataan ini adalah "dipengaruhi". Jadi, menghadapi orang yang
sedang "dipengaruhi" mahluk halus, sebaiknya orang disekitarnya menanyakan
kepada mahluk halus tersebut dengan baik-baik tentang maksud dan tujuannya.
Biasanya mahluk itu akan menyampaikan sesuatu atau mengungkapkan kesulitan
tertentu yang sedang dihadapinya. Kalau memang masalah yang dihadapi mahluk
halus tersebut dapat dibantu, misalnya saja dengan memberitahukan keluarganya
bahwa dirinya telah meninggal dunia, maka ada baiknya seorang umat Buddha
dengan pikiran penuh kasih sayang berkenan membantu mereka. Dengan demikian,
mereka dapat berbahagia di alam kelahiran yang sekarang dan tidak lagi berusaha
"mempengaruhi" orang lagi karena masalahnya telah diselesaikan. Namun, kalau
memang mahluk itu agak sulit diajak komunikasi, umat Buddha secara sendirian
maupun berkelompok dapat membacakan Karaniyametta Sutta yaitu kotbah Sang
Buddha tentang pemancaran cinta kasih. Sutta ini memang disampaikan oleh Sang
Buddha dalam rangka memberikan pengertian kepada para mahluk halus agar tidak
mengganggu manusia. Biasanya, setelah dibacakan sutta tersebut, orang yang
"dipengaruhi" dapat tenang dan terbebas dari pengaruh mahluk halus.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan serta ketenangan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

46. Dari: Chandra Kurniawan, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante, ada yg ingin saya tanyakan adalah:
1. Dibagian mana dari kitab suci Tipitaka yg menceritakan ttg seorang Brahma yg
mengakui bahwa Sang Buddha Gautama ternyata lebih tinggi daripada dirinya
sendiri.
2. Dibagian mana dari kitab suci Tipitaka yg menceritakan ttg murid Sang Buddha yg
mempunyai kesaktian menutup matahari dgn telapak tangannya.
Dan apakah ada kumpulan2 kisah tentang murid2 Sang Buddha yg memiliki
kebijaksanaan maupun kesaktian (selain Y.A Sariputra & Y.A Monggalana)

Jawaban:
1. Dalam KEVADDHA SUTTA dari Digha Nikaya dapat dibaca bahwa Dewa Maha
Brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta,
pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari semua yang ada dan yang akan ada
ternyata mengakui pengetahuan Sang Buddha lebih tinggi dari dirinya sendiri. Sutta
yang menggemparkan ini dapat dibaca di Samaggi Phala, Tipitaka, Digha Nikaya.
Selain itu, dalam Majjhima Nikaya, Culayamaka Vagga 49, Brahmanimantanika
Sutta disebutkan bahwa Sang Buddha menceritakan kepada para bhikkhu bagaimana
Beliau pergi ke Surga Brahma untuk memberi pelajaran kepada Brahma Baka, yakni
salah satu alam Brahma, tentang ketidakbenaran pendapat tentang kekekalan.
2. Dari salah satu sumber Dhamma memang pernah diceritakan kemampuan seorang
pertapa untuk menghentikan bergesernya matahari agar tidak terbit pada waktunya.
Namun, tampaknya cerita ini bukan dari Tipitaka. Semoga hal ini dapat dimaklumi.
Sedangkan kumpulan kisah murid Sang Buddha yang memiliki kebijaksanaan
maupun kesaktian dapat dibaca dari:
Siswa-Siswa Utama Sang Buddha jilid 1 dan 2.
Penerbit: WANDANI (Wanita Theravada Indonesia)
Karena itu, apabila berminat mendapatkan buku tersebut, silahkan menghubungi
pengurus Wandani di vihara binaan Sangha Theravada Indonesia yang terdekat
dengan domisili Anda.
Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

47. Dari: Chandra K, Jakarta
Namo Budhaya,
Bhante ada yg ingin saya tanyakan adalah, apakah ada kitab suci dari agama non
Buddhis yg menceritakan / meramalkan kelahiran dari Pangeran Sidharta yg kelak
akan mencapai Penerangan Sempurna? Jika ada, apa nama kitab suci tsb dan dari
agama manakah itu? Apakah kita memiliki bukti kongkrit / tertulis yg menjelaskan
hal tsb diatas?

Jawaban:
Karena Agama Buddha adalah termasuk agama yang cukup tua dibandingkan dengan
agama-agama dunia lainnya, maka tentu saja agama yang lebih muda tidak akan bisa
meramalkan datangnya Sang Buddha sebelum agamanya itu sendiri muncul di dunia.
Karena itu, mungkin dalam kesempatan ini tidak dapat diberikan bukti tertulis adanya
ramalan semacam tersebut. Semoga hal ini dapat dimaklumi dan tidak
mengecewakan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

48. Dari: Subhadevi, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, dikatakan di dalam Dhamma bahwa judi sebaiknya tidak dilakukan meskipun
bukan karma buruk karena memupuk lobha. Bagaimana tentang jual beli saham, jual
beli valas ? Apakah termasuk jenis judi atau termasuk perdagangan / jual beli biasa
dimana ada untung dan rugi tergantung kepandaian pelaku melihat situasi pasar ?
Mohon Bhante berkenan menjelaskan, karena ada sebagian pendapat di dalam
masyarakat bahwa jual beli saham dan valas termasuk judi maka sebaiknya tidak
dilakukan.
Anumodana atas perhatiannya.

Jawaban:
Apabila suatu tindakan ekonomi lebih mementingkan untung-untungan yang bersifat
terlalu spekulatif, maka hal ini dapat dikategorikan sebagai perjudian yang perlu
dihindari oleh seorang umat Buddha. Dalam perdagangan biasa sekalipun apabila
seseorang menimbun barang dan berharap persediaan di pasar menurun sehingga
harga barang tersebut dapat melambung tinggi, dan pada saat itu barulah ia melepas
barang ke pasar, maka keuntungan besar yang ia dapatkan dengan cara spekulasi
seperti ini dapat dikategorikan sebagai hasil perjudian. Demikian pula dengan jual
beli valas dan saham, selama bersifat terlalu spekulatif, maka dapat dikategorikan
perjudian. Berbeda halnya kalau memang jual beli saham dan valas itu
menggantungkan kepandaian pelaku dan situasi pasar, hal ini dapat dikategorikan
sebagai perdagangan biasa yang dapat dilakukan oleh seorang umat Buddha.
Memang, kategori pembeda antara perdagangan dan perjudian ini relatif sangat tipis.
Semua tergantung motivasi atau niat awalnya melakukan suatu usaha ekonomi
tersebut.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

49. Dari: Franky W, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Terima kasih atas jawaban Bhante beberapa waktu yang lalu, saya ada beberapa
pertanyaan lagi mohon penjelasan Bhante lebih lanjut:
1. Jika kita berdoa untuk mengharap orang lain/diri sendiri bahagia, kepada siapakah
kita harus berdoa? Apakah diperbolehkan "meminta" sesuatu?
2. Beberapa minggu ini saya memulai bermeditasi yang saya lakukan setiap malam (1
kali sehari). Walau hanya 20 menit tapi rasanya lama sekali karena pikiran terus
mengembara selain itu ada ganguan dari rasa gatal, kesemutan dll. Yang ingin saya
tanyakan apakah perasaan "lama" & "gangguan" tsb juga terjadi pada meditator yang
telah mahir? Bagaimana perasaan meditator yang telah mahir melewati detik demi
detik? Apakah terasa "cepat" atau masih terasa "lama".
3. Apakah diijinkan mengirim email langsung kepada Bhante?
Terimakasih atas jawabannya.

Jawaban:
1. Doa dalam Agama Buddha memang bukan menjadi sarana untuk meminta-minta,
melainkan untuk merenungkan kotbah Sang Buddha dan berusaha melaksanakannya
dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, upacara ritual dalam Agama Buddha
biasanya dilaksanakan dengan pembacaan paritta atau mengulang kotbah Sang
Buddha. Dengan membaca paritta dan bermeditasi, seorang umat Buddha dikatakan
telah melakukan kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikirannya. Kebajikan ini
dapat diarahkan untuk berbuah dalam bentuk kebahagiaan yang sesuai dengan
keinginannya. Pada umumnya, tekad untuk mengarahkan kebajikan itu adalah:
"Semoga dengan kebaikan yang telah dilakukan sampai saat ini dapatlah
membuahkan kebahagiaan dalam bentuk.....Semoga semua mahluk berbahagia."
Ulangilah tekad ini beberapa kali, semoga dengan kebajikan yang telah dimiliki,
segala harapan dapat tercapai. Semoga demikianlah adanya.
2. Pelaku meditasi pada tingkat awal, karena pikirannya memang belum dapat
dipusatkan pada obyek, maka pada umumnya keenam indriya akan terasa sibuk.
Mata, telinga, kulit, hidung, perasaan dan pikirannya tidak pernah diam dalam waktu
yang relatif lama. Hal seperti ini adalah wajar. Justru tugas utama seorang pelaku
meditasi adalah mengembalikan perhatian dan konsentrasi pada obyek meditasi yang
telah dipilihnya. Dengan latihan rutin, disiplin dan penuh semangat, maka berbagai
kesibukan enam indriya tersebut dapat dikuasai secara bertahap sehingga akhirnya
batin menjadi tenang. Ketika batin telah tenang, maka meditasi sudah tidak lagi terasa
lama maupun terganggu apapun juga walaupun proses meditasi telah berlangsung
satu jam atau bahkan lebih.
3. Apabila ingin mengirimkan email secara langsung, hendaknya dialamatkan ke
samaggi_jaya@yahoo.com
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

50. Dari: Lina, Ontario, Canada
Namo Buddhaya,
Terima kasih sebelumnya untuk jawaban pertanyaan saya yg dulu.
Bhante, apakah boleh kita membuat 'altar kecil' (hanya satu patung Buddha kecil) di
dalam kamar tidur? Sebab saya di sini tidak mempunyai ruangan lain yg bisa saya
gunakan untuk baca paritta dan bermeditasi.
Seandainya boleh, apakah patung tersebut boleh saya letakkan di meja yg lebih
rendah dari meja belajar saya?
Terima kasih.

Jawaban:
Sebagai seorang umat Buddha adalah merupakan kebajikan apabila dapat melakukan
puja bakti secara rutin. Puja bakti sesungguhnya dapat dilaksanakan dengan
mempergunakan altar maupun tanpa altar sama sekali. Memang, idealnya apabila
memungkinkan, puja bakti dilakukan di depan altar sebagai alat bantu untuk
merenungkan berbagai sifat luhur Sang Buddha, Sang Guru Agung.
Menyusun sebuah altar dalam satu ruangan dengan tempat yang biasa dipergunakan
untuk tidur, apabila memang tidak ada alternatif lain, tentunya hal ini dapat saja
dikerjakan. Biasanya, sisi dinding yang terdapat altar tersebut, diusahakan untuk tidak
ada barang lain yang lebih tinggi daripada tinggi Buddharupang. Hal ini adalah
merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Sang Buddha. Sedangkan, pada
ketiga sisi dinding yang lain bisa saja diletakkan benda yang lebih tinggi daripada
arca Buddha. Oleh karena itu, meja belajar dapat tetap pada posisi sekarang apabila
meja itu terletak di sisi dinding yang berbeda dengan dinding yang dipergunakan
sebagai tempat altar.
Semoga dengan keterangan ini akan dapat meningkatkan semangat mengembangkan
kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran dengan sarana rajin membaca paritta
dan bermeditasi.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar