Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label Riwayat Singkat Guru Agung Buddha Sakyamuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riwayat Singkat Guru Agung Buddha Sakyamuni. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2011

Riwayat Singkat Guru Agung Buddha Sakyamuni

Riwayat Singkat
Guru Agung Buddha Sakyamuni



Raja Suddhodana Gautama dengan permaisurinya Dewi Mahamaya yang cantik jelita memerintah kerajaan di Kapilawastu bagian selatan pegunungan Himalaya dengan adil dan bijaksana. Walaupun telah menikah 20 tahun lamanya, tetapi belum dikarunia seorang putrapun. Sampai pada suatu malam, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih yang untuk kemudian permaisuri lalu mengandung.

Menurut adat kebiasaan yang berlaku, permaisuri harus melahirkan di rumah orang tuanya, sehingga pada saat akan melahirkan, pergilah Dewi Mahamaya ke istana orang tuanya di kerajaan Koliya. Dalam perjalanan, Dewi Mahamaya berhenti untuk beristirahat di taman Lumbini. Pada saat beristirahat, lahirlah putranya.

Semua orang merasa bahagia, bahkan langit dan bumi seolah-olah turut juga menyambut kegembiraannya atas kelahiran putra Baginda yang jatuh pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak (versi Buddhisme Mahayana, 566 SM hari ke - 8 bulan ke-4 menurut kalender lunar. Versi World Fellowship of Buddhist, bulan Mei tahun 623 SM).

Pada hari ke-lima kelahiran Pangeran, Baginda memberikan nama kepada putranya, Siddharta, yang berarti ‘tercapailah cita-citanya'. Dewi Mahamaya wafat seminggu setelah melahirkan putranya. Adiknya Dewi Mahaprajapati untuk kemudian diserahi tugas dan tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik Pangeran Siddharta.

Pada suatu hari, pertapa Asita yang berdiam di pegunungan dekat istana raja Suddhodana memperhatikan sinar yang memancar terang di istana dan memutuskan untuk mengunjungi istana. Baginda menyambut kedatangan pertapa Asita sambil memperlihatkan putranya. Begitu melihat Pangeran Siddharta, pertapa Asita menangis terharu sambil mengatakan, " Sayang sekali, hamba sudah tua, kelak hamba tidak akan sempat menerima ajaran Sang Buddha, oh ! " (Buddha berasal dari Budh, yang artinya kesadaran. Buddha berarti orang yang telah mencapai kesadaran sempurna). Baginda merasa terkejut dan meminta penjelasan lebih lanjut dari pertapa Asita yang menambahkan, " Kelak dia akan meninggalkan istana untuk pergi bertapa mencari kesadaran sempurna. Baginda seharusnya bahagia, karena Pangeran adalah Permata Dunia yang mampu membebaskan makhluk-makhluk dari penderitaan. Dia adalah cahaya abadi dunia yang tak kunjung padam ".

Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Pangeran Siddharta mendiami tiga istana, yaitu istana musim semi, musim hujan dan pancaroba. Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya Empat Kondisi yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Sehingga Pangeran Siddharta bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, " Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini ! ". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.

Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya . Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna.

Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magada untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi sungai Nairanjana yang mengalir dekat hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.

Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan, " Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu."

Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon Bodhi (Asetta) di hutan Gaya, sambil berprasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."

Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat itu. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur. Sekarang pertapa Gautama menjadi terang dan jernih, secerah sinar fajar yang menyingsing di ufuk timur. Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha [Sammasam-Buddha], tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika Beliau berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender Lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Beliau memancarkan enam sinar Buddha [Buddharasmi] dengan warna warni Biru yang berarti bhakti; Kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; Merah yang berarti kasih sayang dan welas-asih; Putih mengandung arti suci; Jingga berarti giat; dan campuran ke-lima sinar tersebut.

Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain : Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama [Dharmacakra Pravartana/Dhammacakka Pavattana], dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukanNya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan Empat Kebenaran Mulia.

Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, dimana Beliau mengetahui bahwa tiga bulan lagi Beliau akan Parinibbana.

Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon Sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswaNya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Khotbah Buddha Gautama terakhir mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswaNya, yang antara lain :

* Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha.
* Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup.
* Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi.
* Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran.
* Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang.
* Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan.
* Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha.
* Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia.
* Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani.
* Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna.
* Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran.
* Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha.
* Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.

Sang Buddha bersabda, "Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!" (Digha Nikaya II, 156)

Sifat Agung Sang Buddha

Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih [maitri/metta] dan Kasih Sayang [karuna] yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, " Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku." Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.

Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, dimana telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan-batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, Beliau telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu :

1. Berusaha menolong semua makhluk.

2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.

3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.

4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu

* Tubuh [kaya] : pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
* Ucapan [vak] : penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
* Pikiran [citta] : kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.

Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Bagaikan hujan yang jatuh tanpa membeda-bedakan, demikianlah Cinta Kasih seorang Buddha. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih SayangNya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai Pencerahan Sempurna. Sang Buddha adalah ayah dalam kasih sayang dan ibu dalam cinta kasih.

Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Beliau hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Beliau tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuhNya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.

Seorang Buddha memiliki sifat luhur antara lain :

1. Bertingkah laku baik;

2. Berpandangan hidup luhur;

3. Memiliki kebijaksanaan sempurna;

4. Memiliki kepandaian mengajar yang tiada bandingnya;

5. Memiliki cara menuntun dan membimbing manusia dalam mengamalkan Dharma.

Buddha Gautama memelihara semangatNya yang selalu tenang dan damai dengan melaksanakan meditasi. Sang Buddha membersihkan pikiran mereka dari kekotoran bathin dan menganugerahkan mereka kegembiraan dengan semangat tunggal yang sempurna. Jangkauan pikiran Sang Buddha melampaui jangkauan pikiran manusia biasa. Dengan kebijaksanaan yang sempurna, Buddha Gautama dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap ekstrim dan prasangka, serta memiliki kesederhanaan. Oleh karena itu Beliau dapat mengetahui dan mengerti pikiran dan perasaan semua orang dan dapat melihat yang ada dan yang terjadi di dunia dalam sekejap, sehingga mendapatkan julukan seorang yang telah Mencapai Pencerahan Sempurna [Sammasam-Buddha] dan Yang Maha Tahu [Sugata].

Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diriNya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Beliau dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendakiNya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbahNya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbahNya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

Buddha Gautama bersabda, " Hanya dengan jalan melalui kepercayaan, keyakinanlah, mereka akan dapat mengikuti ajaranKu. Karena itu setiap orang hendaknya mau mendengarkan ajaranKu, kemudian menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."

Wujud dan Kehadiran Buddha

Buddha tidak hanya dapat diketahui dengan hanya melihat wujud dan sifatNya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan mencapai Pencerahan Sempurna. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diriNya dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujudNya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujudNya atau sifatNya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.

Buddha di Rumah

Fu-hauzi adalah seorang pemuda yang berwatak tidak sopan terhadap ibunya yang sudah tua dan tinggal sendirian bersamanya. Fu-hauzi selain malas juga pemarah sekali, sehingga ibunya yang masih bekerja sendirian tersebut sering menjadi obyek amarahnya. Tetapi ibunya tetap sabar dan mengasihi anak tunggalnya tersebut.

Sampai suatu hari, pemuda ini mendapatkan khabar bahwa di seberang lautan dekat puncak gunung, terdapat seorang Buddha yang sangat sakti dimana setiap permintaan dapat dipenuhinya. Fu-hau-zi yang memang sifatnya malas, berminat untuk bertemu Buddha tersebut agar dapat langsung memperoleh kesaktian sehingga tidak perlu susah bekerja. Maka berangkatlah Fu-hauzi seorang diri yang tentunya tanpa pamit kepada ibunya.

Sampai di gunung seberang, dia bertemu dengan seorang bhikshu tua sederhana yang telah berjenggot, maka diapun bertanya , "Kakek tua, saya ingin bertemu dengan Buddha". Kakek tua tersebut yang mengetahui pemuda ini, menyahut, "Anak muda, sekarang Buddha itu sedang menunggu di rumahmu. Ciri-cirinya adalah berpakaian terbalik dan sandal yang terbalik yang akan menyambutmu di depan pintu rumahmu. Pergilah menemuinya karena dia telah lama menunggumu."

Merasa girang bahwa rupanya Buddha telah datang ke rumahnya dan menungguinya, maka Fu-hauzi segera pulang ke rumah sambil berpikir dalam hati, "Sungguh sakti Buddha tersebut, dan sungguh beruntung saya karena telah ditunggui oleh Buddha di rumah". Sesampai di depan pintu rumahnya, segera Fu-hauzi menggedor pintu dan memanggil nyaring ibunya untuk membukakan pintu. Ibunya yang sedang tidur siang, terkejut dan karena khawatir membuat anaknya marah serta senang juga mendengar anaknya telah kembali setelah pergi sekian lama tanpa permisi ,maka dengan tergopoh-gopoh ibu tua ini memakai baju terbalik dan sandal terbalik. Segera dibukakannya pintu rumah, pemuda ini melihat persis ciri seorang Buddha yang digambarkan oleh bhikshu tua di gunung seberang, yang malah menangis memeluknya. Segera Hauzi berlutut di depan ibunya dan sadar akan tabiat buruknya selama ini. Sejak itu Hauzi menjadi anak yang berbakti dan bekerja dengan rajin.

Demikianlah Buddha adalah Pencerahan Sempurna, sehingga tidak dapat dicari dari bentuk luar saja karena tidak berbentuk dan berwujud. Tubuh Buddha merupakan badan abadi yang perwujudanNya adalah Kebijaksanaan. Pencerahan Sempurna memperlihatkan diri sebagai cahaya kebijaksanaan yang membangkitkan orang ke dalam suatu kehidupan baru dan menyebabkan mereka terlahir di tanah Buddha.

Ajaran esoterik menguraikan Buddha memiliki tiga rangkap badan [Tri-Kaya], yaitu Dharma-Kaya, Sambogha-Kaya dan Nirmana-Kaya. Dharma-Kaya adalah sumbernya Dharma, dimana merupakan kesunyataan sebagai hakikat yang hakiki tanpa bentuk dan warna. Buddha sebagai perwujudan Dharma-Kaya selalu berada di seluruh alam semesta, tidak peduli apakah orang percaya atau tidak percaya pada keberadaanNya. Sambogha-Kaya merupakan sifat Agung Buddha yang merupakan gabungan Kasih Sayang dan Kebijaksanaan. Sambhogha-Kaya berwujud sebagai kekuatan atau cahaya yang hanya dapat dirasakan secara rohani, dan diwujudkan dalam bentuk simbol dari kelahiran dan kematian. Nirmana-Kaya merupakan Buddha Hidup atau Manusia Buddha yang berarti perwujudan fisik dari seorang Buddha, dalam usaha melaksanakan misiNya kepada manusia sebagaimana tercermin pada tubuh Buddha Gautama. Buddha Gautama dengan menggunakan perwujudan Nirmana-Kaya membimbing umat manusia, agar dapat terbebaskan dari penderitaan karena umur tua dan kematian. Dalam perwujudanNya sebagai Nirmana-kaya, terdapat Buddha Masa Lalu, Buddha Sekarang dan Buddha Yang Akan Datang. Buddha Masa Lalu adalah sebelum kehadiran Buddha Gautama, yaitu Buddha Kanogamana, Buddha Kakusundha dan Buddha Kassapa. Sedangkan Buddha Yang Akan datang sebagaimana sabda Buddha Gautama adalah Buddha Maitreya [Metteya], yang sekarang masih bertugas sebagai Bodhisattva dan berdiam di Tanah Suci Tusita. Buddha Gautama bersabda, bahwa Bodhisattva Maitreya akan menjadi Buddha Yang Akan Datang 5.000 tahun setelah Parinibbana Buddha Gautama, atau menurut perhitungan lain yaitu 5.670.000.000 tahun manusia.

Kehadiran seorang Buddha yang telah mencapai Pencerahan Sempurna untuk mengajarkan Dharma di dunia ini sangatlah jarang terjadi. Kehadiran Buddha di dunia ini, karena terpanggil oleh jeritan penderitaan umat manusia. Muncul dan hilangnya Buddha merupakan suatu kenyataan dari hukum sebab akibat yang saling bergantungan, namun Kebuddhaan selalu ada dan dalam keadaan yang sama. Untuk itu sebagai umat Buddha hendaknya selalu tetap pada Jalan Pencerahan Sempurna, sehingga dapat mencapai kebijaksanaan sempurna, dimana tidak terpengaruh oleh kehadiran Buddha. Bentuk asli Buddha pada hakekatnya tidak akan muncul atau lenyap. Buddha selalu ada di sekeliling kita, dan di dalam diri kita, namun sering kita tidak menyadarinya.

Buddha Gautama bersabda: "Sekarang Aku ingat, Ananda, ketika Aku masuk ke dalam kumpulan orang-orang penting, orang-orang religius, perumahtangga, orang-orang dari kepercayaan lain, dan beragam dewa; sebelum Aku duduk dan berbicara kepada mereka, Aku mengubah diriKu sendiri menjadi seperti mereka, berbicara seperti mereka. Tatkala Aku telah selesai membabarkan Ajaran, mereka sangat gembira. Namun, mereka tidak mengetahui siapa Aku, bahkan setelah Aku tiada!" (Mahaparinibbana-sutta)

Ketika kita menyatakan berlindung kepada Buddha (Buddhang Saranang Gacchami) berarti kita harus memiliki kepercayaan terhadap Sang Buddha dan mempertimbangkan ajaran-ajaranNya sebagai suatu hal yang terpenting dalam menjalani kehidupan ini.

pencerahan sidartha gautama bab 12 (end)

pencerahan sidartha gautama bab 12 (end)

Buddha Mengamati Dunia Makhluk-makhluk

Ketika Brahmà Sahampati telah mengajukan permohonan untuk mengajarkan Dhamma, dua kondisi, yaitu, bàhira Nidàna dan ajjhattika Nidàna telah terpenuhi, dan kemudian Beliau mengamati dunia makhluk-makhluk dengan sepasang Mata-Buddha (Buddha-cakkhu): Pengetahuan atas keinginan tersembunyi atau kecenderungan atau sebaliknya, sifat-sifat indria (Indriya-paropariyatta Nàna).



Perumpamaan empat jenis teratai

Dalam pengamatannya, Beliau melihat jelas berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda (seperti empat jenis bunga teratai): ada sebuah kolam yang berisi bunga teratai biru, merah, dan putih, empat jenis teratai ini—

(1) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, tumbuh dalam air, dan masih berada di bawah permukaan air,

(2) jenis bunga teratai tumbuh dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam persis di permukaan air,

(3) jenis bunga teratai yang hidup dalam air, berkembang dalam air, dan akhirnya diam tinggi di atas permukaan air, sama sekali tidak basah dan tidak ada air yang menempel di bunga teratai tersebut. (Dari ketiga jenis bunga teratai ini, teratai no. 3 yang berada tinggi di atas permukaan air akan mekar pada hari itu juga; teratai no. 2 yang berada persis di permukaan air akan mekar keesokan harinya, dan teratai no. 1 yang masih berada di bawah air, akan mekar pada hari ketiga).

(4) Selain tiga jenis teratai ini, ada teratai jenis keempat yang tidak akan muncul di atas permukaan air dan tidak akan mekar; teratai jenis ini adalah teratai sakit dan akhirnya hanya menjadi makanan bagi ikan dan kura-kura.

Bagaikan empat jenis teratai ini, ada makhluk-makhluk yang memiliki sedikit atau sama sekali tidak ada debu kilesa di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang memiliki banyak debu di mata kebijaksanaannya; makhluk-makhluk yang lima kelompok keyakinan, ketekunan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang tajam dan matang; makhluk-makhluk yang kelima kelompok tadi tumpul dan tidak matang; makhluk-makhluk yang memiliki watak-watak seperti keyakinan, dan lain-lain, cukup baik atau tidak cukup baik; makhluk-makhluk yang dapat dengan mudah memahami Dhamma yang diajarkan dan makhluk-makhluk yang tidak dapat memahami; makhluk-makhluk yang memandang hal-hal duniawi seperti kelompok kehidupan, semua bentuk kemelekatan, perbuatan jahat, kehendak-kehendak, dan tindakan yang akan menyebabkan kelahiran kembali, sebagai kelompok yang menakutkan dan berbahaya bagaikan musuh yang memegang pedang yang bersiap-siap untuk menyerang, dan makhluk-makhluk yang tidak memiliki pandangan seperti itu.

Setelah merenungkan dan melihat, Buddha memberikan persetujuan kepada Mahàbrahmà Sahampati dalam syair berikut:

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku tidak menutup pintu Magga bagi para dewa dan manusia untuk memasuki Nibbàna Abadi dan mencapai Kebebasan. (Pintu itu senantiasa terbuka). Semoga dewa dan manusia yang memiliki pendengaran yang baik (sotapasàda) memperlihatkan keyakinan terhadap-Ku.”

“O Mahàbrahmà Sahampati, Aku belum mengajarkan Dhamma mulia yang telah Kuperoleh kepada manusia, dewa, dan brahmà dalam beberapa hari ini. Hal ini karena pada waktu itu, dua Nidàna untuk mengajarkan Dhamma belum terpenuhi dan karena Aku melihat bahwa, bahkan jika Dhamma diajarkan, tidak akan bermanfaat bagi mereka, hanya melelahkan-Ku saja.”

Setelah itu, Mahàbrahmà Sahampati merasa sangat gembira dan berseru, “Buddha telah menyetujui untuk mengajarkan Dhamma!” Kemudian, setelah bersujud dan mengelilingi Buddha, ia menghilang dari tempat itu (dan pulang ke alam brahmà).

pencerahan sidartha gautama bab 11

pencerahan sidartha gautama bab 11

(6) Satu Minggu di Danau Mucalinda (Mucalinda-sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari merenungkan Dhamma di bawah pohon banyan ajapala, Buddha pindah ke pohon mucalinda (Barringtonia acutangula) di sebelah timur pohon Mahàbodhi. Di bawah pohon mucalinda, Buddha duduk bersila menikmati kebahagiaan Kearahattaan.



Raja Naga memayungi Sang Buddha dari hujan lebat di danau Mucalinda

Pada waktu itu turun hujan yang sangat lebat (hujan lebat sebelum memasuki musim hujan) selama tujuh hari. (Hujan seperti ini hanya terjadi pada dua peristiwa! Satu ketika munculnya raja dunia, dan satu lagi saat munculnya seorang Buddha.) Ketika turun hujan lebat, raja nàga yang sangat sakti dan sangat berkuasa, Mucalinda, yang memerintah alam nàga di bawah danau di sana berpikir, “Hujan lebat ini turun segera setelah Buddha berdiam di wilayahku. Baik sekali jika tempat kediaman Buddha dapat mudah ditemukan.” Raja nàga sangat sakti untuk menciptakan sebuah istana dengan tujuh jenis permata namun ia mempertimbangkan bahwa “Tidaklah sangat bermanfaat jika aku menciptakan sebuah istana besar dari permata dan mendanakannya kepada Buddha. Aku akan menyumbangkan tenagaku kepada Buddha dengan tubuhku.” Jadi ia mengubah tubuhnya menjadi besar dan melingkari tubuh Buddha dalam tujuh lingkaran dan memayungi kepala Buddha dengan kepalanya yang mengembang sehingga Buddha tidak diserang oleh dingin, panas, gigitan serangga seperti nyamuk, lalat, dan lain-lain.

(7) Satu Minggu di Bawah Pohon Ràjàyatana (Ràjàyatana sattàha)

Setelah menghabiskan tujuh hari menikmati kebahagiaan Arahatta di bawah pohon mucalinda dan ketika tiba minggu ke tujuh, Buddha beranjak dari tempat itu dan pindah ke pohon Ràjàyatana (Buchaniania latifolia) di sebelah selatan pohon Mahàbodhi dan duduk di bawah pohon menikmati kebahagiaan Kearahattaan selama tujuh hari.

Ketika telah berlalu empat puluh sembilan hari, pada hari Rabu, tanggal lima di bulan âsàëha, selagi berdiam di Ràjàyatana, Sakka datang dan mendanakan buah obat myrobalan (Terminalia citrina) karena ia mengetahui keinginan Buddha untuk mencuci muka dan membersihkan diri. Buddha menerima buah itu. Segera setelah Buddha mengambil buah tersebut, Buddha menjawab panggilan alam (buang air). Setelah itu Sakka memberikan pembersih gigi dari alam nàga, dan air dari Danau Anotatta (untuk mencuci muka). Buddha menggunakan pembersih gigi, membersihkan mulut-Nya dan mencuci muka, dengan air dari Danau Anotatta, dengan tetap duduk di bawah pohon Ràjàyatana.

Dua Pedagang Bersaudara, Tapussa dan Bhallika, Menerima Perlindungan Ganda



Seorang Dewa memberitahu Tapussa dan Bhallika keberadaan Buddha sementara empat dewa catummaharajika mempersembahkani Buddha mangkuk dibawah pohon Ket

Kemudian dua pedagang bersaudara, Tapussa dan Bhallika, sedang melakukan perjalanan dengan lima ratus kereta dari rumah mereka di Ukkalàjanapada menuju Majjhima-Desa untuk berdagang. Saat mereka tiba di jalan besar di dekat pohon Ràjàyatana, kereta-kereta itu berhenti seolah-olah rodanya tertahan oleh lumpur walaupun tanah di jalan tersebut rata dan tidak becek. Dan ketika mereka terheran-heran, “Apa penyebabnya?” dan berdiskusi, satu dewa laki-laki yang memiliki hubungan yang erat dengan kedua pedagang bersaudara tersebut dalam kehidupan lampau menampakkan dirinya secara fisik dari atas sebuah pohon dan berkata, “Anak muda, tidak lama setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha yang tenggelam dalam kebahagiaan Kearahattaan masih berdiam di bawah pohon Ràjàyatana saat ini tanpa makan selama empat puluh sembilan hari. Anak muda, berilah hormat kepada Buddha dengan memberikan dàna makanan. Ini akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kalian.”



Pedagang Tapussa dan Bhallika mempersembahkan Kue Nasi dan Gumpalan Madu pada Buddha

Mendengar hal ini, mereka menjadi sangat bergembira dan mempertimbangkan, “Butuh waktu lama untuk menanak nasi.” Mereka mendatangi Buddha dengan membawa kue nasi dan gumpalan makanan dari madu yang menjadi bekal mereka. Setelah mendekati Buddha, mereka dengan penuh hormat bersujud kepada-Nya, dan berdiam di tempat yang sesuai. “Yang Mulia, sudilah Yang Mulia menerima kue nasi kami dan gumpalan makanan madu. Penerimaan-Mu akan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam waktu yang lama kepada kami.”

Buddha bertanya-tanya, “Semua saudara-Ku, Buddha-Buddha masa lampau, tidak pernah menerima dàna makanan dengan tangan Mereka. Jadi, dengan apakah Aku harus menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu yang dipersembahkan oleh kedua pedagang bersaudara ini?” (Karena mangkuk tanah yang didanakan oleh Brahmà Ghatikàra sewaktu Beliau melepaskan keduniawian telah lenyap pada hari Beliau menerima nasi susu dari Sujàtà).

Mengetahui pikiran Buddha, empat raja dewa dari empat arah, yaitu: Dhataratta, Virulhaka, Virupakkha, dan Kuvera dengan hormat menyerahkan empat mangkuk terbuat dari batu zamrud. Tetapi Buddha menolak menerima mangkuk tersebut. Sekali lagi, empat raja dewa tersebut menyerahkan empat mangkuk dari batu (alami) berwarna hijau daun. Empat mangkuk ini diterima oleh Buddha. Dan karena welas asih-Nya kepada para raja dewa tersebut, Buddha menumpuk empat mangkuk tersebut dan berkehendak, “Semoga empat mangkuk ini menjadi satu.” Segera empat mangkuk tersebut melebur menjadi satu mangkuk bersegi empat.



Tapussa & Bhallika ; 2 Pedagang Ummat Pertama

Kemudian Buddha menerima kue nasi dan gumpalan makanan madu dengan mangkuk dan memakannya dan memberikan khotbah yang sesuai untuk kedua pedagang bersaudara tersebut. Kemudian kedua pedagang bersaudara tersebut menyatakan berlindung kepada Buddha dan Dhamma (karena Sangha belum terbentuk pada waktu itu), dan dengan demikian menjadi siswa yang hanya mengucapkan dua kata perlindungan (Devàcika-sarana) yang ditujukan kepada Buddha dan Dhamma, dengan mengucapkan,

“Kami menyatakan berlindung, Yang Mulia, kepada Buddha dan Dhamma” (Ete mayam bhante Bhagavàntam saranam gacchàma Dhamman ca). (Kedua bersaudara ini adalah siswa pertama yang menyatakan berlindung dengan mengucapkan kedua kata ini.)

Setelah itu kedua pedagang bersaudara mengajukan permohonan dengan berkata, “Buddha Yang Mulia, berikanlah sesuatu kepada kami berkat welas asih-Mu sebagai objek pemujaan kami selamanya.” Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan-Nya dan memberikan mereka relik dari rambut-Nya sesuai permintaan mereka. Kedua bersaudara tersebut sangat gembira menerima relik rambut Buddha, seolah-olah disiram air surga. Setelah menyelesaikan perdagangan, mereka kembali dan tiba di kota mereka Pukkharavati di distrik Ukkalà di mana mereka membangun cetiya untuk memuja relik rambut yang disimpan dalam peti emas.

BUDDHA MERENUNGKAN DHAMMA

Ketika itu, hari Kamis, tanggal enam bulan âsàlha, lima puluh hari setelah mencapai Kebuddhaan pada hari Rabu malam purnama bulan Vesàkha, setelah melewatkan Sattasattàha (empat puluh sembilan hari), Buddha bangkit dari duduk-Nya di bawah pohon Ràjàyatana, kemudian berjalan kembali menuju pohon banyan Ajapàla (gembala) dan berdiam di sana duduk bersila. Selanjutnya Buddha dalam kesunyian dan ketenangan merenungkan Kelompok Dhamma, Empat Kebenaran Mulia.

Selanjutnya, dua bait yang menakjubkan, yang belum pernah didengar sebelumnya, tiba-tiba muncul dengan jelas dalam batin Buddha, yaitu:

(1) Tidak ada manfaatnya mengajarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia kepada dewa dan manusia, yang telah Kuperoleh dengan usaha keras mengembangkan Kesempurnaan (Pàrami) pada saat ini di saat hanya ada perasaan welas asih-Ku yang merupakan penyebab internal (ajjhattika Nidàna) tetapi belum ada permohonan dari brahmà yang dipuja oleh dunia ini (Lokagaru), yang adalah penyebab eksternal (bàhira-Nidàna); Dhamma Empat Kebenaran Mulia ini tidaklah mudah dipahami dan sangatlah sulit bagi mereka yang diliputi oleh kejahatan dan terpengaruh keserakahan dan kebencian.

(2) Semua dewa dan manusia yang diliputi oleh kegelapan batin (avijjà), sehingga mereka tidak memiliki mata kebijaksanaan, terikat kepada kenikmatan indria (kàma-ràga), kelahiran yang berulang-ulang (bhava-ràga) dan pandangan salah (ditthi ràga), tidak akan dapat melihat Dhamma Empat Kebenaran Mulia, yang halus, dalam (bagaikan air yang tertahan di dalam tanah). Sulit terlihat (bagaikan biji mostar yang terhalang oleh Gunung Meru besar), kecil bagaikan sebuah atom, dan yang membawa menuju Nibbàna melawan arus sangsàra. (Pikiran seperti ini adalah wajar, dhammatà, yang terjadi pada semua Buddha).

Buddha yang merenungkan demikian merasa segan untuk mengajarkan Dhamma karena tiga alasan berikut: (1) batin makhluk-makhluk yang penuh dengan kotoran, (2) Dhamma yang sangat dalam, dan (3) Buddha sangat meninggikan Dhamma.

Mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan brahmà adalah suatu peristiwa yang wajar, dhammatà, bagi setiap Buddha. Alasan dari pengajaran Dhamma setelah permohonan dilakukan oleh brahmà adalah: di luar masa berkembangnya ajaran Buddha (sebelum munculnya Buddha), mereka yang taat dan bajik, apakah ia umat awam, petapa pengembara, samaõa atau brahmaõa, hanya memuja brahmà. Oleh karena itu, jika brahmà yang dihormati di dunia memperlihatkan penghormatan kepada Buddha dengan bersujud di depan Buddha, seluruh dunia juga akan berbuat serupa, memiliki keyakinan terhadap Buddha. Untuk alasan ini, adalah suatu kebiasaan dan kewajaran bagi Buddha untuk mengajarkan Dhamma hanya setelah permohonan diajukan oleh brahmà. Demikianlah, hanya setelah bàhira Nidàna, permohonan brahmà diajukan, Buddha bersedia mengajarkan Dhamma.

Brahmà Sahampati Memohon Pengajaran Dhamma

(Brahmà Sahampati yang agung adalah seorang Thera mulia bernama Sahaka pada masa Buddha Kassapa. Dalam kapasitasnya, ia berhasil mencapai Jhàna Pertama Råpàvacara dan karena ia meninggal dunia tanpa terjatuh dari Jhàna, ia terlahir di Alam Jhàna Pertama dan menjadi Mahàbrahmà yang memiliki umur kehidupan enam puluh empat antara kappa yang setara dengan satu asaïkhyeyya kappa. Ia disebut Brahmà Sahampati di alam brahmà tersebut. Saÿyutta Atthakatthà dan Sàrattha Tikà).

Ketika Buddha masih tidak berkeinginan untuk berusaha mengajarkan Dhamma, Mahàbrahmà Sahampati berpikir, “Nassati vata bho loko! Vinassati vata bho loko!” “O teman, dunia akan binasa! O teman, dunia akan binasa!” Buddha yang layak mendapat penghormatan oleh dewa dan manusia karena telah menembus pengetahuan semua Dhamma di dunia tidak sudi mengajarkan Dhamma!” Kemudian dalam sekejap, dengan kecepatan bagaikan seorang kuat yang merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, Brahmà Sahampati lenyap dari alam brahmà bersama-sama dengan sepuluh ribu Mahàbrahmà lainnya, muncul di hadapan Buddha. Pada waktu itu, Mahàbrahmà Sahampati meletakkan selendangnya (selendang brahmà) di bahu kirinya dan berlutut dengan lutut kanannya menyentuh tanah (duduk cara brahmà). Bersujud kepada Buddha dengan mengangkat kedua tangannya yang dirangkapkan dan berkata:



Maha Brahma Sahampati memohon agar Buddha sudi mengajarkan Dhamma pada semua makhluk

“Buddha yang agung, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Buddha agung yang memiliki bahasa yang baik, sudilah Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà. Ada banyak makhluk-makhluk yang memiliki sedikit debu kotoran di mata pengetahuan dan kebijaksanaan mereka. Jika makhluk-makhluk ini tidak berkesempatan mendengarkan Dhamma Buddha, mereka akan menderita kerugian besar karena tidak memperoleh Dhamma yang luar biasa Magga-Phala yang layak mereka dapatkan. Buddha yang mulia, akan terbukti bahwa ada dari mereka yang mampu memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”

Kemudian lagi, setelah mengucapkan dengan bahasa prosa biasa, Mahàbrahmà juga mengajukan permohonan dalam syair seperti berikut:

“Buddha yang agung, pada masa lampau sebelum kemunculan-Mu, di Negeri Magadha, terdapat ajaran salah yang tidak suci, yang diajarkan oleh enam guru berpandangan salah, seperti Påraõa Kassapa yang dinodai oleh lumpur kotoran. Dan oleh karena itu, sudilah membuka pintu gerbang Magga untuk memasuki Nibbàna yang abadi (yang tertutup sejak lenyapnya ajaran Buddha Kassapa). Izinkan semua makhluk mendengarkan Dhamma Empat Kebenaran Mulia yang terlihat jelas oleh-Mu yang bebas dari debu kilesa.

“Buddha yang mulia dan bijaksana, yang memiliki mata kebijaksanaan yang mampu melihat segala sesuatu! Bagaikan seorang yang memiliki pandangan mata yang tajam berdiri di puncak gunung dan melihat semua orang di sekelilingnya, demikian pula Engkau, Buddha yang mulia, karena telah terbebas dari kesedihan, naik ke menara Pa¤¤à dan melihat semua makhluk, manusia, dewa, dan brahmà, yang terjatuh ke dalam jurang kesedihan (karena dilindas oleh kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, dan lain-lain).

“Buddha yang mulia dan memiliki kecerdasan, yang hanya mengetahui kemenangan, tidak pernah kalah, dalam semua pertempuran! Bangunlah! Buddha yang mulia, yang bebas dari hutang kenikmatan indria, yang memiliki kebiasaan membebaskan makhluk-makhluk yang ingin mendengarkan dan mengikuti ajaran Buddha, dari perjalanan sulit berupa kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian dan bagaikan pemimpin rombongan, yang mengantar mereka dengan selamat menuju Nibbàna! Sudilah, mengembara di dunia ini dan mengumandangkan Dhamma dari Buddha yang agung, sudilah, mengajarkan Empat Kebenaran Mulia kepada semua makhluk manusia, dewa, dan brahmà. Buddha yang mulia, ada makhluk-makhluk yang dapat melihat dan memahami Dhamma yang Engkau ajarkan.”

pencerahan sidartha gautama bab 10

pencerahan sidartha gautama bab 10

(4) Satu Minggu di Rumah Emas (Ratanàghara-sattàha)

Ketika tiba di minggu keempat, Buddha merenungkan hukum tertinggi dari Abhidhammà Piñaka selagi duduk bersila di dalam rumah emas (Ratanàghara) yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà di sudut barat laut dari pohon Mahàbodhi.

Menurut Jinàlankàra Tikà, ketika Buddha duduk bersila di dalam rumah emas dan merenungkan Dhamma mengamati makhluk-makhluk yang layak ditolong, Beliau melihat jelas rangkaian praktik sila, samàdhi, dan pannà: makhluk-makhluk dewa, manusia, dan brahmà yang layak ditolong akan mencapai keadaan mulia Jalan dan Buahnya, Nibbàna, dengan menjalani sãla, memusatkan pikirannya melalui samàdhi, dan berusaha mengembangkan Pandangan Cerah melalui pannà; oleh karena itu Buddha pertama-tama merenungkan Vinaya Piñaka yang mengajarkan sila, kemudian Sutta Pitaka yang mengajarkan samàdhi, dan akhirnya Abhidhammà Pitaka yang mengajarkan pa¤¤à.

Ketika Beliau merenungkan Abhidhammà Pitaka, Beliau memulai pertama-tama dari enam ajaran-ajaran yang sederhana Dhammasàngani, Vibhanga, Dhàtukathà, Puggala Pannàtti, Kathà Vatthu, dan Yamaka; enam sinar tubuh-Nya tidak memancar karena Kemahatahuan-Nya yang sangat luas dan hukum-hukumnya (dalam ajaran tersebut) sangat terbatas; sinar tubuh-Nya tidak dapat dipancarkan. Namun ketika Beliau merenungkan ajaran yang ketujuh yang mencakup seluruh Patthàna dengan metode yang tidak terbatas (anantanaya samanta), Kemahatahuan-Nya berkesempatan untuk memperlihatkan kecemerlangannya (seperti ikan raksasa timingala, berukuran seribu yojanà, berkesempatan bermain-main di samudra.)

Ketika Buddha memusatkan pikiran-Nya pada titik yang paling halus dan dalam yang mencakup seluruh Patthàna dengan metode yang tidak terbatas, muncullah dalam batin Buddha kebahagiaan luar biasa. Karena kebahagiaan ini, darah-Nya menjadi murni, karena kemurnian darah-Nya, kulit-Nya juga menjadi bersih; karena kebersihan kulit-Nya, cahaya sebesar rumah atau sebesar gunung bersinar dari bagian depan tubuh-Nya dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah timur bagaikan Chaddanta, raja gajah, terbang di angkasa.

Demikian pula, cahaya bersinar dari bagian belakang tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah barat; cahaya bersinar dari sebelah kanan tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah selatan; cahaya bersinar dari sebelah kiri tubuh Buddha dan memancar hingga alam semesta yang tidak terhitung banyaknya di sebelah utara; dan dari telapak kaki-Nya memancar cahaya berwarna koral, mencapai angkasa luas setelah menembus daratan, air, dan udara; bagaikan rantai yang berhiaskan batu safir yang melingkar, demikian pula bola cahaya biru memancar satu demi satu dari kepala-Nya, mencapai angkasa di atasnya setelah melewati enam alam dewa dan dua puluh Alam Brahmà Kàmàvacara. Pada waktu itu tidak terhitung banyaknya makhluk di alam semesta yang tidak terhitung banyaknya memancarkan cahaya keemasan.

Catatan: Cahaya yang memancar dari tubuh Buddha pada hari Beliau merenungkan hukum Patthàna masih bergerak menuju alam semesta yang tidak terhitung banyaknya bahkan hingga hari ini dalam bentuk rantai zat-zat yang bersuhu (utuja-rupa).

(5) Satu Minggu di Bawah Pohon Banyan Ajapala

Setelah menghabiskan empat minggu (dua puluh delapan hari) di dekat pohon Mahàbodhi, pada minggu kelima, Buddha berjalan menuju pohon banyan ajapàla yang terletak di sebelah timur pohon Mahàbodhi dan tinggal selama tujuh hari di bawah pohon tersebut, merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti. (Pohon banyan ini disebut ajapàla karena pohon ini merupakan tempat berkumpulnya para gembala. Ajapàla nigrodha, pohon banyan di mana para gembala berteduh di bawahnya).

Pada waktu itu, seorang brahmana yang tidak diketahui nama dan sukunya, yang terlihat kasar dan angkuh, mendekati Buddha dan berbincang-bincang dengan Buddha. Setelah saling menyapa, si brahmana (kasar) berdiri di suatu tempat dan bertanya kepada Buddha:

“Yang Mulia Gotama, kebajikan apa yang membuat seorang brahmana menjadi brahmana yang sesungguhnya di dunia ini? Apa yang diperlukan untuk menjadi seorang yang mulia?”

Di sini, si brahmana kasar tidak akan dapat menembus Empat Kebenaran Mulia bahkan jika Buddha mengajarkannya. Benar bahwa mereka yang mendengar bait-bait Dhamma dari Buddha sebelum Buddha mengajarkan khotbah Dhammacakka akan beruntung hanya karena mendapat kesan pada batinnya, seperti dua pedagang bersaudara Tapussa dan Bhallika; tetapi mereka tidak akan dapat mencapai Jalan dan Buahnya melalui penembusan Empat Kebenaran Mulia. sekadar Dhamma bagi hal-hal yang alami (Sarattha Dipani òãkà). Karena si brahmana kasar tidak dapat menyerap Dhamma (bukan seorang yang dapat melihat Empat Kebenaran), Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepadanya. Tetapi, memahami maksud pertanyaan si brahmana, Buddha mengucapkan bait berikut:

“Seorang Arahanta yang disebut brahmana adalah ia yang telah menyingkirkan semua kejahatan; ia bebas dari segala kekerasan dan kekasaran; ia bebas dari noda kotoran batin; ia berusaha untuk mengembangkan meditasi; atau ia memiliki pikiran yang terkendali oleh moralitas; atau ia telah mencapai Nibbàna, lenyapnya secara total kelompok-kelompok batin dengan penembusan Empat Magga ¥àõa; atau ia telah mencapai tingkat Arahatta-Phala, puncak dari Empat Magga Nàna. Ia mempraktikkan latihan mulia Jalan menuju Nibbàna. Di dunia ini, di mana segalanya timbul dan lenyap, tidak ada satu pun dari lima kejahatan yang muncul (ussadà) dari salah satu objek indrianya, yaitu nafsu (rag’ussada), kebencian (dos’ussada), kebodohan (moh’ussada), kesombongan (man’ussada), pandangan salah (ditth’ussada). Arahanta tersebut disebut brahmana yang dengan berani mengatakan, “Sungguh benar, Aku adalah seorang brahmana sejati!”

(Apa yang dimaksudkan di sini adalah: Seseorang yang memiliki tujuh kebajikan layak disebut brahmana: (1) bebas dari kejahatan, (2) bebas dari kekerasan dan kekasaran, (3) bebas dari noda kotoran batin, (4) pengendalian diri melalui moralitas, (5) pencapaian Nibbàna, (6) telah menjalani praktik mulia Jalan, (7) tidak munculnya lima kejahatan (ussada).

Màra Mengaku Kalah

Màra telah mengikuti Buddha selama tujuh tahun untuk mencari kesempatan menemukan kesalahan Buddha, namun ia tidak mendapat kesempatan sedikit pun untuk melakukannya. Oleh karena itu ia mendekati Buddha ketika Buddha berdiam di bawah pohon banyan ajapala dan berkata:

“O Petapa Gotama, apakah Engkau termenung di dalam hutan ini karena Engkau diliputi kesedihan? Apakah Engkau mengalami kehilangan kekayaan bernilai ratusan ribu? Atau, apakah Engkau termenung di sini karena Engkau menginginkan kekayaan bernilai ratusan ribu? Atau, apakah Engkau termenung di dalam hutan ini karena telah melakukan kejahatan berat di sebuah desa atau kota dan tidak berani bertemu orang lain? Mengapa Engkau tidak bergaul dengan orang lain? Engkau sama sekali tidak memiliki teman!”

Buddha menjawab:

“O Màra, Aku telah mencabut dan menghancurkan semua penyebab kesedihan, Aku tidak melakukan kejahatan yang terkecil sekalipun; karena terbebas dari segala kekhawatiran, Aku tenggelam dalam dua Jhàna. Aku telah memotong keinginan akan kelahiran (bhavatanhà); Aku tidak memiliki kemelekatan apa pun; Aku tetap berbahagia dalam dua bentuk Jhàna. (Tidak seperti yang engkau pikirkan, Aku bukan datang ke sini karena kesedihan yang disebabkan oleh kehilangan kekayaan, atau karena keserakahan.)”

Màra berkata lagi:

“O Petapa Gotama, di dunia ini, beberapa orang dan petapa melekat kepada objek-objek kekayaannya seperti emas dan perak, dan objek kebutuhannya seperti jubah, dan lain-lain, dan berkata, “Ini milikku.” Jika batin-Mu melekat, seperti orang-orang dan petapa ini terhadap emas dan perak, dan lain-lain, terhadap jubah, dan lain-lain, Engkau tidak akan pernah dapat melarikan diri dari wilayah kekuasaanku di tiga alam.”

Buddha menjawab:

“O Màra, Aku tidak memiliki kemelekatan terhadap semua objek-objek kekayaan seperti emas, perak, dan lain-lain, dan terhadap objek kebutuhan seperti jubah, dan lain-lain, dan berkata “Ini milikku,” tidak seperti orang lain, Aku bukanlah seorang yang berkata “Ini milikku.” “O Màra, anggaplah Aku sebagai seorang yang demikian!, karena Aku telah meninggalkan tiga alam kehidupan, engkau tidak akan menemukan jejak-Ku di wilayah kekuasaanmu di tiga alam kehidupan (bhava), empat jenis kelahiran (yoni), lima bagian (gati), dan sembilan alam makhluk berperasaan.”

Màra berkata lagi:

“O Petapa Gotama, jika Engkau telah menemukan jalan menuju Nibbàna, pergilah sendiri. Mengapa Engkau ingin mengajarkannya kepada orang lain?”

Kemudian Buddha berkata:

“O Marà, (Sekeras apa pun engkau berusaha menghalangi Aku) Aku akan tetap mengajarkan kepada makhluk lain Jalan Benar menuju Nibbàna, jika Aku diminta untuk mengajarkan Jalan Benar dan Nibbàna, bebas dari kematian oleh dewa, manusia, dan brahmà, yang ingin mencapai Nibbàna, pantai seberang.”

Ketika berkata demikian, Màra, yang menjadi kehilangan akal bagaikan kepiting yang cangkangnya dipecahkan oleh anak-anak desa mengucapkan bait berikut (dan mengaku kalah):

“Buddha, bernama Gotama, keturunan raja besar terpilih (Mahàsammata)! (Sebuah perumpamaan bagaikan) burung gagak bodoh kelaparan melompat di delapan penjuru, mengelilingi sebutir batu yang mirip sebongkah lemak dan mencoba merobeknya dengan paruhnya, karena ia berpikir bahwa ia akan memperoleh lemak dan daging yang lembut dan rasanya pasti sangat lezat.”

“Tidak berhasil mendapatkan kelezatan batu itu, burung gagak bodoh itu pergi. Bagaikan burung gagak bodoh itu, karena gagal menikmati sedikit pun kelezatan meskipun ia telah berusaha merobek batu yang mirip sebongkah lemak tersebut, kami menyerah, merasa sedih, sangat sedih, dan hampir patah hati, karena tidak berhasil memperoleh apa pun yang diharapkan setelah mengganggu, menyakiti, dan menghalangi Engkau, Yang Mulia.”



Putri Màra Datang Merayu Buddha

Selanjutnya Màra merenungkan, “Walaupun aku telah mengikuti Buddha untuk mencari kesalahan-Nya, namun aku tidak berhasil menemukan kesalahan yang terkecil pun dari Pangeran Siddhattha yang dapat dicela. Sekarang, Pangeran Siddhattha telah lari dari kekuasaanku di tiga alam.” Demikianlah ia termenung dan merasa patah hati duduk jongkok sendirian di jalan utama tidak jauh dari Buddha dan membuat goresan enam belas garis di atas tanah yang menggambarkan enam belas kejadian. Arti dari enam belas garis itu adalah sebagai berikut:

(1) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kedermawanan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis pertama.

(2) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Moralitas dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedua.

(3) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Melepaskan keduniawian dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketiga.

(4) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kebijaksanaan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keempat.

(5) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Usaha dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kelima.

(6) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kesabaran dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keenam.

(7) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Kejujuran dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketujuh.

(8) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Tekad dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedelapan.

(9) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Cinta kasih dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesembilan.

(10) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Kesempurnaan Ketenangseimbangan dalam kehidupan lampauku. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesepuluh.

(11) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan mengenai pikiran dan kehendak makhluk-makhluk lain (indriyaparopariyatti Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kesebelas.

(12) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan mengenai sifat dan watak makhluk-makhluk lain (àsayànusaya Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kedua belas.

(13) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk mencapai Welas asih yang luar biasa (Mahàkarunàsamàpatti Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis ketiga belas.

(14) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh Kemampuan untuk melakukan Keajaiban Ganda (Yamaka-Pàtihàriya Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keempat belas.

(15) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh pengetahuan yang tanpa halangan (anàvarana Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis kelima belas.

(16) “Tidak seperti Pangeran Siddhattha ini, aku tidak memenuhi Sepuluh Kesempurnaan dalam kehidupan lampauku untuk memperoleh Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) yang tidak lazim bagi makhluk-makhluk biasa. Oleh karena itu, aku tidak dapat disamakan dengan Pangeran.” Dengan pikiran seperti ini, Màra menarik garis keenam belas.

Pada waktu itu, tiga putri Màra—Tanhà, Arati, dan Ràga—melihat ke sekeliling, berpikir, “Kita tidak melihat ayah kita (Màra). Di manakah ia sekarang?,” dan mereka melihatnya termenung berjongkok dan menggoreskan garis-garis di atas tanah, kemudian mereka segera mendekati ayah mereka dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau begitu bersedih dan patah hati?” “Putri-putriku,” jawab Màra, “Petapa Gotama ini telah lari dari kekuasaanku di tiga alam. Walaupun aku telah mengikutinya selama kurun waktu tujuh tahun untuk mencari kesalahan-Nya, namun aku tidak berhasil mendapat kesempatan sedikit pun untuk mencela-Nya. Oleh karena itulah aku begitu sedih dan patah hati.” “Ayah, jangan khawatir. Kami akan membujuk Petapa Gotama ini dan membawa-Nya ke hadapanmu, ayah,” janji tiga putri tersebut.

Kemudian Màra berkata, “Putriku, tidak seorang pun di dunia ini yang mampu membujuk Petapa Gotama ini. Petapa Gotama ini memiliki keyakinan yang sangat kokoh dan tidak tergoyahkan.” “Ayah, kami perempuan. Kami akan menjerat-Nya dengan nafsu dan segera membawa-Nya ke hadapanmu. Jangan kecewa dan bersedih.”



3 Putri Mara datang menggangg

Setelah berkata demikian, tiga putri ini mendekati Buddha dan berkata dengan nada membujuk, “Yang Mulia Petapa, izinkan kami melayani-Mu, bersujud dengan hormat di kaki-Mu dan memuaskan segala kebutuhan-Mu.” Buddha mengabaikan mereka, dan tetap menikmati kebahagiaan Nibbàna dalam Phala Samàpatti tanpa membuka mata-Nya.

Kemudian, tiga putri Màra berdiskusi, “Para laki-laki memiliki selera yang berbeda. Beberapa menyukai perempuan yang muda dan halus; yang lain menyukai perempuan yang sedang dalam tahap pertama kehidupannya. Yang lain lagi menyukai perempuan yang sedang dalam tahap pertengahan. Jadi mari kita menciptakan perempuan dalam berbagai usia dan memikat petapa ini.”

Demikianlah, masing-masing dari mereka menciptakan seratus perempuan (1) yang muda, (2) yang menjelang kehamilan, (3) yang telah melahirkan satu kali, (4) yang telah melahirkan dua kali, (5) yang dalam usia pertengahan, (6) yang dalam usia yang sangat dewasa dan matang, semuanya cantik-cantik.



Buddha menasehati ketiga putri Mara untuk berhenti melakukan usaha sia2 untuk menggoyahkan Beliau

Kemudian mereka mendekati Buddha enam kali dan merayu seperti sebelumnya, “Yang Mulia Petapa, izinkan kami melayani-Mu, bersujud dengan hormat di kaki-Mu, dan memuaskan segala kebutuhan-Mu.” Sama seperti sebelumnya, Buddha mengabaikan mereka, dan tetap menikmati kebahagiaan Nibbàna dalam Phala Samàpatti tanpa membuka mata-Nya.

Kemudian Buddha berkata, “Pergilah, dewi. Melihat manfaat apakah engkau mencoba menguji-Ku seperti ini? Perbuatan ini hendaknya dilakukan kepada mereka yang belum terbebas dari nafsu (ràga), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha). Sedangkan Aku, Aku telah melenyapkan nafsu, Aku telah melenyapkan kebencian, Aku telah melenyapkan kebodohan.” Kemudian Buddha mengucapkan dua bait berikut seperti yang terdapat dalam Dhammapada:

Yassa jitam nàvajiyati

Jitamassa no yàti kosi loke

Tam Buddhaÿananta gocaram

Apadam kena padena nessatha

Yassa jàlini visattikà

tanhà natthi kuhin ci netave

tam Buddhaÿananta gocaram

apadam kena padena nessatha.

“Buddha, yang telah menaklukkan kotoran batin, tidak ada lagi yang harus ditaklukkan. Tidak ada kotoran apa pun yang telah ditaklukkan mengikuti Buddha. Buddha yang memiliki ketidakterbatasan pemahaman melalui kebijaksanaan, yang tidak memiliki faktor-faktor kotoran seperti nafsu (ràga), dengan cara apakah engkau akan membawa-Nya.

Buddha yang tidak memiliki faktor-faktor seperti kemelekatan (taõhà), yang bagaikan jerat yang dapat menariknya ke dalam kelahiran kembali, yang memiliki sifat seperti racun yang ganas; atau yang dapat melekati segala hal. Buddha yang memiliki ketidakterbatasan pemahaman melalui kebijaksanaan, yang tidak memiliki faktor-faktor kotoran seperti nafsu, dengan cara apakah engkau akan membawa-Nya.”

Setelah mengucapkan puji-pujian terhadap Buddha mereka berkata, “Ayah kita berkata benar. Petapa Gotama ini, yang memiliki ciri-ciri seperti Arahaÿ dan Sugata, tidak dapat dibujuk dengan menggunakan nafsu,” mereka kembali ke ayah mereka, Màra.

Buddha Bertekad untuk Hidup Dalam Dhamma

Selagi Buddha berdiam selama seminggu di Ajapala, Ia berpikir, “Betapa menyedihkan hidup tanpa menghormati orang lain (tidak seorang pun yang dihormati). Siapa yang harus didekati dan dihormati oleh-Ku, seseorang yang telah melenyapkan semua kotoran, yang telah melenyapkan semua kajahatan?” Kemudian Beliau melanjutkan, “Aku harus menetap di dekat mereka yang lebih tinggi dari diri-Ku dalam hal Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan sehingga Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan-Ku yang masih belum lengkap dan belum mencukupi akan menjadi lengkap dan cukup.” Kemudian Buddha mencari dengan Kemahatahuan-Nya mereka yang lebih tinggi daripada-Nya dalam hal Moralitas, Konsentrasi, Kebijaksanaan, dan Kebebasan.

Melihat bahwa tidak ada makhluk yang demikian di tiga alam, Beliau berpikir, “Lebih baik Aku hanya hidup dengan menghormati Dhamma yang telah Kutembus.”

Pada waktu itu, mengetahui pikiran Buddha, Brahmà Sahampati tiba dalam sekejap di hadapan Buddha dan setelah meletakkan selendangnya di bahu kirinya dan menyentuh tanah dengan lutut kanannya, ia merangkapkan tangannya memberi hormat dan berkata, “Buddha Yang Agung, apa yang Engkau pikirkan adalah benar. Yang Mulia, Buddha-Buddha pada masa lampau hanya hidup dengan menghormati Dhamma. Buddha-Buddha pada masa depan hanya hidup dengan menghormati Dhamma. Buddha Agung, aku juga ingin agar Engkau menjadi Buddha masa sekarang yang hanya hidup dengan menghormati Dhamma.”

pencerahan sidartha gautama bab 9

pencerahan sidartha gautama bab 9

PENGHORMATAN OLEH PARA DEWA DAN BRAHMA



Penghormatan dari para Naga, Dewa, Brahma, atas pencapaian Pencerahan Sang Buddha

Pada waktu itu, Sakka sedang berdiri di Alam Dewa Tàvatimsa meniup kulit kerang Vijayuttara yang panjangnya 120 yojanà, untuk memanggil para dewa dan brahmà. Suara dari kulit kerang tersebut dapat terdengar hingga seluas sepuluh ribu yojanà. Sambil meniup kulit kerangnya terus menerus, Sakka berlari cepat menuju pohon Bodhi. (Bukan hanya Sakka dari alam semesta ini, tetapi semua Sakka dari sepuluh ribu alam semesta juga mendatangi Bodhisatta sambil meniup kulit kerang).

Mahà Brahmà datang dan memberi hormat dengan memegang payung putih yang ditinggalkannya di puncak Gunung Cakkavala dan memayungi Bodhisatta dari atas. (Semua Mahà Brahmà dari sepuluh ribu alam semesta datang berdiri memegang payung putih di tangan masing-masing, payung-payung tersebut saling bersentuhan sehingga tidak ada celah di antaranya.)

Suyama, raja dari Alam Dewa Yama datang dan berdiri di dekat Bodhisatta, memberi hormat dengan mengibaskan kipas dari ekor yak yang berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Suyama dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas dari ekor yak, memenuhi alam semesta ini.)

Santusita, raja Alam Dewa Tusita, juga datang dan memberi hormat dengan mengipasi Bodhisatta dengan kipas berhias batu delima berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Santusita dari sepuluh ribu alam semesta juga datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas berhiaskan batu delima, memenuhi alam semesta ini.)

Dewa Pancasikha datang, membawa harpa surgawi, Beluva, diiringi oleh sekelompok penari surgawi, dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan memainkan musik. (Semua penari surgawi dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan bermain musik.)

Selanjutnya, semua dewa dan dewi yang berdiam di sepuluh ribu alam semesta berkumpul di alam semesta ini dan memberi hormat dengan berdiri di tempat-tempat yang masih tersedia, beberapa dari mereka bahkan harus berdiri dengan berpegangan di tiang pintu gerbang. Beberapa berdiri di sekeliling bersama kelompoknya masing-masing, membawa berbagai persembahan yang terbuat dari tujuh jenis permata, beberapa membawa pohon pisang dari emas, beberapa membawa istana emas, beberapa membawa kebutan dari ekor yak, beberapa membawa tongkat (untuk mengendalikan gajah), beberapa membawa sepasang ikan, beberapa membawa bunga mawar, panggung bundar dari emas, mangkuk berisi air, kendi berisi air, kulit kerang, tongkat api, lampu minyak dengan tiang dari batu delima, cermin emas, cermin bertatahkan batu mulia, cermin dengan tujuh jenis permata, lampu minyak berhiaskan batu delima, kain-kain untuk bendera dan pita-pita, dan pohon-pohon harapan. Semua dewa dari sepuluh ribu alam semesta datang, terlihat penampilan para penari surgawi, dan memberi hormat dengan menarikan tarian surgawi, menyanyikan lagu-lagu surgawi, mempersembahkan bunga-bunga, wangi-wangian, dan bubuk dupa surgawi. Pada waktu itu, seluruh angkasa dipenuhi oleh bunga-bungaan dan wewangian surgawi seolah-olah seluruh semesta ditutupi oleh hujan lebat.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DI ANTARA TIGA ALAM

Ketika Bodhisatta mencapai Arahatta-Phala segera setelah mencapai Arahatta-Magga, batin-Nya menjadi sangat murni dan Beliau mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha), pemimpin tertinggi di tiga alam, dengan pencapaian Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) bersama-sama dengan Empat Kebenaran Mulia, Empat Pengetahuan Analitis (Patisambhidà Nàna), Enam Kebijaksanaan Tinggi (Assadhàrana Nàna), yang menjadikan Empat belas Kebijaksanaan seorang Buddha, dan Delapan belas kualitas (âvenika Dhamma), dan Empat Kebijaksanaan Berani (Vesàrajja Nàna). Bersamaan dengan tercapainya Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ), datanglah fajar. (Penembusan Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ) berarti tercapainya Kebuddhaan.)

BERDIAM DI TUJUH TEMPAT SETELAH PENCERAHAN-SEMPURNA

(1) Satu Minggu di Singgasana (Pallanka-sattàha)

Setelah mencapai Kebuddhaan, pada hari pertama bulan mulai memudar di bulan Vesàkha, Buddha mengucapkan seruan gembira (udàna), dan masih dengan postur duduk bersila di atas singgasana Aparàjita, Beliau berpikir:

“Untuk memperoleh singgasana ini, Aku telah mengembara dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, berkali-kali dengan cara yang unik. Selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, untuk memperoleh singgasana Aparàjita ini, berkali-kali Aku memenggal dan mendanakan kepala-Ku; berkali-kali Aku mencungkil dan mendanakan mata dan jantung-Ku; berkali-kali Aku mendanakan putra-Ku seperti Jàli, putri-Ku seperti Kanhajina, dan istri-Ku seperti Maddi kepada mereka yang memintanya untuk dijadikan budak. Dari atas singgasana inilah Aku secara total menaklukkan lima Màra. Sebuah singgasana yang sunguh-sungguh agung dan mulia. Selagi duduk di atas singgasana ini, semua keinginan-Ku, termasuk cita-cita untuk menjadi Buddha telah terkabulkan. Aku belum akan bangkit dari singgasana ini karena Aku berhutang banyak kepada singgasana ini.”

Demikianlah Buddha menghabiskan tujuh hari di atas singgasana tersebut berdiam dalam Jhàna Keempat yang membawa kepada tingkat Kearahattaan, pencapaian yang berjumlah lebih dari seratus ribu crore.

Berdiam dalam Jhàna Keempat sehari penuh pada hari pertama setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Buddha menikmati kebahagiaan Kebebasan, Vimutti (Kebahagiaan Kearahattaan). Selama jaga pertama malam itu, Beliau merenungkan hukum Paticcasamuppàda (Musabab Yang Saling Bergantung), “avijjà paccaya saïkhàrà,” Karena kebodohan (avijjà), tiga jenis bentukan-bentukan pikiran (saïkhàra), yaitu: pikiran baik (pu¤¤àbhisaïkhàra), pikiran buruk (apu¤¤àbhisaïkhàra), dan pikiran netral (ana¤jabhisaïkhàra) muncul. Dimulai dengan cara ini, Buddha meneruskan perenungan dengan urutan maju proses munculnya lingkaran penderitaan. Kemudian Beliau merenungkan, “avijjàya tv’eva asesaviràganirodho sangkhàra nirodho,” “Karena lenyapnya kebodohan dan tidak muncul kembali melalui Jalan Kearahattaan, tiga jenis bentukan-bentukan pikiran, yaitu: pikiran baik, pikiran buruk, dan pikiran netral juga lenyap (dan tidak muncul kembali).” Kemudian Buddha melanjutkan perenungan dengan urutan mundur proses lenyapnya lingkaran penderitaan.

Ketika Buddha terus-menerus merenungkan hukum ini dalam urutan maju dan urutan mundur, Beliau menjadi lebih memahami, lebih jelas dan lebih jelas lagi, proses munculnya penderitaan dalam saÿsàra dalam urutan maju, karena kebodohan yang menjadi penyebabnya, muncullah akibat yang tidak putus-putusnya berupa bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain; demikian pula Buddha juga memahami proses lenyapnya penderitaan saÿsàra dalam urutan mundur, bahwa, karena lenyapnya kebodohan dan lain-lain yang menjadi penyebabnya (tidak muncul kembali), sehingga

akibatnya juga lenyap yang merupakan lenyapnya bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain (dan tidak muncul kembali). Demikianlah, muncul terus-menerus dorongan-dorongan hati dalam batin Buddha seperti mahà-kiriya somanassasahagata nanasampayutta asa¤khàrika javana diawali dengan kepuasan dan kegembiraan, pãti dalam hati-Nya.

(2) Satu Minggu Menatap Pohon Bodhi (Animisa-sattàha)

(Tujuh hari selama Buddha menatap pohon Mahàbodhi dan singgasana Aparàjita tanpa mengedipkan mata-Nya disebut animisa sattàha).

Setelah mencapai Kebuddhaan dan menikmati kebahagiaan Kearahattaan (tanpa mengubah postur bersila-Nya selama duduk) Buddha tetap duduk di atas singgasana Aparàjita selama tujuh hari. Dalam batin beberapa dewa dan brahmà biasa (selain dewa dan brahmà yang mengetahui ciri-ciri Buddha karena mereka telah mengalami mencapai Jalan dan Buahnya dalam masa Buddha-Buddha sebelumnya) merasa ragu dan bertanya-tanya, “Buddha belum bangkit dari singgasana sampai saat ini. Selain dari ciri-ciri yang telah dimiliki-Nya, adakah ciri-ciri lain yang memungkinkan-Nya mencapai Kebuddhaan?”



Buddha menunjukkan Keajaiban-Ganda pertama kali kepada para Dewa yang masih ragu pada-Nya

Kemudian pada hari kedelapan (kedelapan setelah purnama) Buddha bangkit dari menikmati kebahagiaan Kearahattaan; mengetahui keraguan dewa dan brahmà tersebut, Buddha naik ke angkasa dan memperlihatkan Keajaiban Ganda (Yamaka-Patihariya) —air dan api untuk menghilangkan keraguan mereka.

(Keajaiban ganda yang diperlihatkan di Mahàbodhi ini, yang diperlihatkan pada pertemuan sanak saudara-Nya di Kota Kapilavatthu, yang diperlihatkan pada pertemuan para petapa telanjang Pathikaputta di Kota Vesàli―Semua Keajaiban Ganda ini sama dengan yang diperlihatkan di dekat pohon mangga di Kandamba. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut.)

Setelah menghilangkan keraguan para dewa dan brahmà dengan memperlihatkan Keajaiban Ganda air dan api, Buddha turun dari angkasa dan berdiri tegak bagaikan tiang emas di sebelah timur laut dari singgasana Aparàjita dan merenungkan, “Aku telah mencapai Kemahatahuan di atas singgasana Aparàjita ini,” Beliau menghabiskan tujuh hari tanpa berkedip menatap singgasana dan pohon Mahàbodhi di mana Beliau mencapai ‘Arahatta-Magga ¥àõa dan Sabba¤¤uta ¥àõa’ sebagai hasil dari Kesempurnaan yang Beliau penuhi selama kurun waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Tempat itu disebut Animisa Cetiya.

(3) Satu Minggu Berjalan (Cankama-sattàha)

Ketika tiba di minggu ketiga, Buddha menghabiskan tujuh hari, berjalan mondar-mandir di jalan setapak permata yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà dan berjalan dari timur ke barat antara singgasana Aparàjita dan cetiya ‘tatapan’; Pada saat itu Beliau merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti, meditasi dalam Buah Pencapaian. Tempat ini disebut Ratanàcankama Cetiya.

pencerahan sidartha gautama bab 8

pencerahan sidartha gautama bab 8

MARA MENYERANG DENGAN SEMBILAN JENIS PELURU



Mara menyerang dengan berbagai senjata kesaktiannya

Sewaktu Bodhisatta sedang merenungkan Sepuluh Kesempurnaan, Màra membuat rencana, “Dengan menembakkan sembilan jenis peluru. Aku akan memaksa Pangeran Siddhattha untuk melarikan diri.”

1. Pertama, ia melepaskan pusaran angin kencang. Tiba-tiba, angin timur, angin barat, angin selatan, dan angin utara bertiup kencang; dan meskipun angin ini mampu meruntuhkan puncak gunung yang berukuran setengah yojanà, satu yojanà, dua atau tiga yojanà, dan mampu mencabut pohon-pohon dan semak belukar di dalam hutan; dan mampu menghancurkan desa-desa dan kota-kota di sekitar sana, namun tidak mampu mendekati Bodhisatta dan bahkan tidak mampu menggerakkan ujung jubah-Nya karena keagungan dan kekuatan kebajikan Bodhisatta.
2. Dengan penuh harapan Màra berpikir:”Saat ini, Petapa Gotama pasti telah terbang tertiup oleh peluru, seperti yang kutembakkan dan menghantam gunung ‘Cakkavala’ dan hancur berkeping-keping.” Ia menjadi gusar melihat Bodhisatta duduk seperti semula, tidak tergoyahkan, tegak bagaikan tiang pintu gerbang. Kemudian ia merencanakan; “Aku akan membunuh-Nya dengan menenggelamkan-Nya di dalam arus air yang mengalir kencang.” Ia menciptakan awan mendung dalam sekejap dan hujan deras turun dengan segera. Bumi ini berubah menjadi lembah karena tekanan hujan yang diciptakan oleh Dewa Màra. Saat banjir ini, setelah mengikis dan menghanyutkan hutan-hutan, bukit, dan pohon-pohon, namun setelah mendekati Buddha, air ini tidak mampu membasahi bahkan sehelai benang pun dari jubah Bodhisatta; ia mengubah arah aliran-Nya dan mengalir ke tempat lain tanpa menyentuh Bodhisatta.
3. Menyaksikan fenomena ini, Màra merencanakan, “Aku akan mengubah Pangeran Siddhattha ini menjadi debu dengan menghujaninya dengan batu,” dan menciptakan hujan batu. Batu-batu berukuran sangat besar berjatuhan dari angkasa sebesar puncak gunung yang besar, sehingga menyebabkan kabut debu di mana-mana; namun begitu mendekati Bodhisatta, batu-batu ini berubah menjadi karangan bunga surgawi dan bola-bola bunga.
4. Setelah itu, dengan pikiran, “Aku akan menyebabkan kematian bagi Pangeran Siddhattha ini, aku akan membunuh-Nya, dan mengalahkan-Nya,” Ia melepaskan hujan senjata. Segala jenis lain-lain yang memancarkan asap dan api, datang dan melayang dari angkasa hanya untuk berubah menjadi karangan bunga, dan lain-lain, di sekeliling pohon Mahàbodhi.
5. Meskipun Màra berpikir, “Pangeran Siddhattha akan menjadi seperti tumpukan daging cincang,” Ia terkejut ketika melihat bahwa Pangeran Siddhattha tetap duduk seperti semula tanpa terganggu sedikit pun bagaikan gunung berlian besar. Jadi sekali lagi ia menciptakan hujan batu-batu yang menyala terbakar. Batu-batu menyala itu jatuh berkobar namun segera berubah menjadi bunga melati, dan lain-lain sewaktu mendekati Bodhisatta.
6. Setelah itu, Màra menciptakan hujan abu panas. Abu yang sangat panas bagaikan api turun dari langit namun berubah menjadi bubuk cendana sewaktu mencapai kaki Bodhisatta.
7. Lagi, ia menciptakan hujan pasir panas. Pasir dalam bentuk bubuk yang sangat halus turun dari angkasa dan jatuh di kaki Bodhisatta menjadi bunga-bunga surgawi.
8. Setelah itu, ia menciptakan hujan lumpur panas. Lumpur panas dengan kepulan asap dan api yang berkobar-kobar dari angkasa jatuh di kaki Bodhisatta setelah berubah menjadi pasta wangi-wangian surgawi.
9. Setelah itu, ia menciptakan kabut gelap dengan niat, “Aku akan membuat Pangeran Siddhattha melarikan diri dengan menakut-nakuti-Nya dengan kabut kegelapan.” Kegelapan yang diciptakan Màra bagaikan kegelapan yang dihasilkan oleh empat faktor yaitu: malam bulan muda, dengan langit yang ditutupi awan, di tengah-tengah hutan belantara, namun begitu mendekati Bodhisatta, kabut ini menghilang seperti kegelapan yang sirna dengan munculnya cahaya matahari.

(Di sini, mengetahui bahwa Màra menciptakan awan kegelapan, Bodhisatta memancarkan sinar dari tubuh-Nya yang berukuran seperti bulu-bulu badan-Nya. Harus dipahami, jaringan sinar-sinar inilah yang menghancurkan kegelapan total yang diciptakan oleh Màra dan yang menghasilkan cahaya gilang gemilang.)

DETIK-DETIK KEMENANGAN BODDHISATTA PETAPA GOTAMA ATAS MARA DAN PASUKANNYA



Senjata Mara yang ditujukan pada Boddhisatta berubah menjadi Teratai

Mara berusaha dengan keras untuk menaklukkan Boddhisatta Petapa Gotama dengan berbagai kesaktian dan tipu-dayanya. Namun Boddhisatta Petapa Gotama, dengan Welas-Asihnya, mampu mematahkan berbagai serangan yang dilancarkan oleh Mara.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi, panik serta marah, ia meneriakkan perintah (kepada pasukannya), “Mengapa kalian hanya berdiri diam di sana? Jangan biarkan Pangeran Siddhattha ini mencapai cita-cita-Nya menjadi Buddha; tangkap Dia, bunuh Dia, tusuk, dan hancurkan Dia. Jangan biarkan Dia melarikan diri.” Ia sendiri mendekati Bodhisatta, duduk di punggung Gajah Girimekhala, melambai-lambaikan sebatang anak panah, ia berkata kepada Bodhisatta, “O Pangeran Siddhattha, menjauhlah dari singgasana permata itu.” Pada saat itu, prajurit-prajurit Màra terlihat dalam wujud yang menakutkan, dan mengancam dengan tindakan-tindakan yang menakutkan.

Seorang ayah yang penuh welas asih tidak akan menunjukkan kemarahan sedikit pun kepada putranya yang nakal, bahkan sebaliknya ia akan merangkulnya, memangkunya dan menidurkannya di pangkuannya dengan cinta kasih dan welas asih seorang ayah terhadap anaknya. Demikian pula, Bodhisatta mulia memperlihatkan kesabaran terhadap semua perbuatan buruk dari Màra jahat, tidak sedikit pun merasa sedih; dan Beliau melihat Màra tanpa rasa takut tetapi dengan penuh cinta kasih dan welas asih.

Jika kumpulan jasa-jasa baik seluruh makhluk-makhluk di seluruh alam semesta yang tidak terhitung banyaknya ditempatkan di satu sisi dari sebuah timbangan kebijaksanaan dan kumpulan jasa-jasa baik yang Kulakukan dalam bentuk Pàramã, ditempatkan di sisi lainnya, kumpulan jasa-jasa baik dari seluruh makhluk tidak dapat menyamai bahkan seper dua ratus lima puluh enam (1/256) dari jasa-jasa baik yang dihasilkan dari satu Pàramã yang Kulakukan. Benar! Bahkan dalam kehidupan-Ku sebagai kelinci di alam binatang, Aku telah dengan sengaja melompat ke dalam kobaran api untuk memberikan daging-Ku yang telah matang dengan penuh kegembiraan ketika Aku melihat ia yang mengharapkan daging-Ku.

Màra tidak tahu, manusia seperti apakah Aku ini; bahwa Aku memiliki pribadi yang seperti ini dalam kehidupan ini adalah sebagai hasil dari kebajikan-kebajikan yang telah Kulakukan. Dan dia pikir Aku hanyalah manusia biasa.

Sebenarnya, Aku bukanlah manusia biasa berumur tujuh hari; Aku juga bukan raksasa, atau brahmà atau dewa. Aku dikandung dalam rahim seorang perempuan meskipun Aku bukan seorang manusia biasa berumur tujuh tahun untuk menunjukkan penderitaan karena usia tua, sakit, dan kematian dalam lingkaran kelahiran kepada semua makhluk.

Hei! Màra, meskipun Aku terlahir di alam manusia ini, Aku tidak sedikit pun ternoda oleh kondisi-kondisi makhluk-makhluk. Setelah mengatasi kondisi-kondisi ini yang tidak terbatas dan kotoran batin yang juga tidak terbatas, Aku memperoleh gelar si penakluk yang tidak terbatas (Anantajina). Bahkan selagi Aku duduk di singgasana tidak terlihat tanpa mengubah postur duduk bersila ini, Aku telah menghanguskan dan menyingkirkan semua kotoran batin; Aku telah benar-benar menjadi Buddha di antara manusia, dewa, dan brahmà. Dan Aku akan menolong semua makhluk dari aliran samsàra dan membawanya ke daratan tinggi Nibbàna. Engkau tidak mampu menahan-Ku; bukan urusanmu.

Hei! Màra, melihat bala tentaramu mendekat dari segala penjuru dengan kibaran bendera dan engkau yang menunggangi Gajah Girimekhala, Aku mendekat dan menghadapimu dengan kebijaksanaan dan bertempur dengan gagah berani. (Yang dimaksudkan di sini bukan mendekat secara fisik, tetapi dengan kekuatan kebijaksanaan). Engkau tidak dapat membuat-Ku bangkit atau pindah dari singgasana yang tidak terlihat ini; Aku akan melihat bahwa engkau tidak mampu melakukan hal ini.

Hei! Màra, bagaikan seorang kuat yang menggunakan sebuah batu besar menghancurkan semua kendi dan cangkir yang dibuat oleh seorang pengrajin tembikar, Aku akan menghancurkan dengan sebelah tangan dan tanpa bangkit dari tempat ini dan dengan kekuatan kebijaksanaan, sepuluh bala tentaramu berupa nafsu indria, kamaraga, (telah dijelaskan di atas) yang mana seluruh dunia akan mengaku kalah, Aku akan menghancurkannya dengan perasaan jijik; atau bala tentaramu yang mendekat yang sebesar dua belas yojanà ke depan, kiri dan kanan, sembilan yojanà ke atas mencapai batas alam semesta, Aku akan memukul mundur seluruh bala tentaramu hingga tidak satu pun yang tertinggal. Bahkan sejak saat ini, engkau dan seluruh bala tentaramu akan Kubuat menyerah bagaikan sekelompok burung-burung yang terbang jauh karena dilempar batu.

Hei! Màra, sebenarnya, jika Aku menginginkan (jika Aku ingin menjadi kecil), Aku dapat berjalan-jalan di dalam sebutir biji mostar. Jika Aku menginginkan (jika Aku ingin menjadi besar), Aku dapat menutupi seluruh alam semesta dengan tubuh-Ku (atthabhava).

Hei! Màra, Aku memiliki kekuatan untuk menghancur-leburkan engkau beserta seluruh bala tentaramu hanya dengan menjentikkan jari; namun Aku tidak akan merasakan sedikit pun kegembiraan dengan membunuh makhluk lain, karena itu adalah perbuatan salah.

Apa untungnya bagi-Ku jika Aku menggunakan senjata kekuatan fisik-Ku melawan Màra ini yang seukuran cacing tanah? Benar, Aku bahkan tidak menyukai berbicara dengan Màra jahat ini.

(Sebelum Bodhisatta mengucapkan kata-kata tegas ini, Màra bertanya, “O Pangeran Siddhattha, mengapa Engkau menduduki singgasana yang tidak terlihat milikku ini?” Bodhisatta menjawab, “Siapakah yang menjadi saksi bahwa singgasana yang tidak terlihat ini adalah milikmu?” Dewa Màra merentangkan tangannya dan berkata, “Apa gunanya mendatangkan saksi lain; semua prajurit Màra yang sekarang berada di depan-Mu adalah saksiku;” dan pada saat itu, banyak crore prajuritnya muncul bersamaan berseru “Aku saksinya, aku saksinya.” Kemudian Bodhisatta, untuk menahan pasukan Màra, mengucapkan bait berikut untuk mengungkapkan saksinya).

Hei! Màra, karena keinginan-Ku akan singgasana yang tidak terlihat ini, tidak ada dàna yang tidak Kuberikan; tidak ada sãla yang tidak Kupatuhi; tidak ada penyiksaan diri (dukkara) yang tidak Kupraktikkan, dalam banyak kehidupan di banyak alam. Hei! Màra, untuk Kesempurnaan Kedermawanan saja, yang telah Kulakukan dalam banyak kehidupan, bahkan dalam satu kehidupan sebagai Vessantara, ketika Aku melakukan dàna besar tujuh kali hingga mencapai dàna-Ku yang tertinggi dengan mendanakan Ratu Maddi, bumi ini berguncang tujuh kali. Sekarang Aku menduduki singgasana yang tidak terlihat ini untuk menaklukkan seluruh dunia, dan engkau bala tentara Màra datang menantang-Ku bertempur, mengapa bumi ini begitu tenang dan tidak berguncang?

Hei! Màra, engkau memerintahkan prajuritmu untuk memberikan kesaksian palsu; namun bumi ini tidak berniat apa-apa dan bersikap adil padamu maupun pada-Ku, bumi ini tidak memihak engkau maupun Aku, dan tidak bermaksud apa pun, bumi ini adalah saksi-Ku.” Setelah berkata demikian, Bodhisatta mengeluarkan tangan kanan-Nya dari balik jubah-Nya dan menunjuk bumi, bagaikan lintasan kilat yang menyambar dari celah awan.



Ibunda Bumi menyapu Mara dan tentaranya dengan berbagai bencana

Pada saat itu juga, bumi ini berputar cepat bagaikan roda tembikar dan berguncang dengan keras. Bunyi yang diakibatkan oleh bumi menggelegar di seluruh angkasa bagaikan guruh. Tujuh gunung yang mengelilingi Gunung Meru serta Pegunungan Himalaya juga bergemuruh terus menerus, Seluruh sepuluh alam semesta berguncang menakutkan dan mengeluarkan bunyi yang dahsyat, bergemeretak dan terdengar bunyi ledakan-ledakan bagaikan hutan bambu yang terbakar. Seluruh angkasa yang tidak berawan bergemuruh menakutkan bagaikan padi yang dipanggang dan meletus di dalam panci panas. Hujan percikan api yang sangat lebat bagaikan air terjun lahar dari gunung berapi, dan halilintar menyambar-nyambar. Màra, yang terperangkap di tengah-tengah bumi dan langit yang terus-menerus menggelegar, sangat ketakutan tanpa pertolongan dan perlindungan, menjatuhkan bendera pertempurannya dan melepaskan seribu senjatanya di tempat itu juga, kemudian lari tunggang langgang dengan kecepatan tinggi tanpa sempat melirik ke arah gajahnya ‘Girimekhala.’ Karena Màra menyerah, bala tentaranya porak poranda dan para prajuritnya juga menyerah, bubar dalam kekacauan ke segala penjuru bagaikan abu yang berhamburan tertiup badai; akhirnya mereka semua kembali ke Alam Dewa Vasavatti.

Demikianlah, dengan kemenangan atas Màra Vasavatti sebelum matahari tenggelam pada hari purnama di bulan Vesàkha, di tahun 103 Mahà Era, Bodhisatta menjadi penakluk semua alam, semua makhluk dan mencapai keadaan tanpa takut, tanpa bahaya, dan dengan selamat. Pada saat itu, melihat bala tentara Dewa Màra yang tercerai berai dan porak poranda, para dewa dan brahmà yang lari ketakutan saat datangnya Màra, bertanya-tanya, “Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Siapa yang kalah?” Menyaksikan peristiwa ini, mereka bersorak, “jayo hi Buddhassa sirimato ayam,” dan seterusnya. “Kabar baik, Màra telah ditaklukkan; Pangeran Siddhattha keluar sebagai pemenang; kita akan merayakan kemenangan-Nya.” Dikirim dari satu nàga ke nàga lain, dari satu garuda ke garuda lain, dari satu dewa ke dewa lain, dari satu brahmà ke brahmà lain; membawa bunga-bunga dan wangi-wangian, dan lain-lain di tangan masing-masing; mereka berkumpul di singgasana Mahàbodhi di mana Bodhisatta berdiam.

Kemenangan yang diserukan oleh bumi dan langit yang mati yang bergemuruh seolah-olah hidup, hanya dimiliki Buddha, yang karena Kemahatahuan-Nya memiliki segala pengetahuan akan Kebenaran sampai yang sekecil-kecilnya yang harus diketahui, yang merupakan gudang penyimpanan keagungan yang tiada bandingnya di sepuluh ribu alam semesta. Kemenangan ini dirayakan oleh manusia, dewa, dan Brahmà yang bergema menembus angkasa. Dan Màra yang jahat dan keji yang menderita hinaan kekalahan, mundur kocar kacir, takut akan kekuatan Buddha, dan dibutakan oleh kebodohan, mundur bersama bala tentaranya, seolah-olah dapat menyebabkan pergolakan di delapan penjuru permukaan bumi, yang memulai serangan dengan gertakan untuk merebut singgasana Puncak-Bodhi (Bodhimakuta Pallanka).

Demikianlah, pada hari kemenangan, pada hari purnama di bulan Vesàkha, tahun 103 Mahà Era, di tempat singgasana yang tidak terlihat di mana Kemahatahuan dicapai oleh Buddha, rombongan nàga, garuda, dewa, dan Brahma di alam surga, berbahagia dan bergembira dengan kemenangan Buddha, yang telah melatih sifat-sifat luar biasa seperti kelompok-kelompok perbuatan baik (silakhandha), menyerukan kemenangan yang bergema keras mencapai sepuluh ribu alam semesta.

Semua dewa dan brahmà yang berasal dari sepuluh ribu alam semesta berkumpul di depan Bodhisatta, bersujud di depan-Nya, memberi hormat dengan persembahan bunga-bungaan, wangi-wangian, menyanyikan puji-pujian dan menyampaikan penghormatan dalam berbagai cara.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DENGAN DITANDAI PENEMBUSAN TIGA PENGETAHUAN SEJATI (TEVIJJO)

Setelah memenangkan pertempuran melawan Màra Vasavattã yang juga dikenal dengan Devaputta Màra sebelum matahari terbenam pada hari purnama di bulan Vesàkha tahun 103 Mahà Era, Bodhisatta menembus tiga pengetahuan, (vijja) , dengan urutan sebagai berikut: Pengetahuan mengenai kehidupan-kehidupan lampau (Pubbenivasanussati Nàna) di jaga pertama malam itu; mata-dewa (Dibbacakkhu Nàna), di jaga pertengahan malam itu; dan pengetahuan akan padamnya perbuatan buruk (Asavakkhaya Nàna) di jaga terakhir malam itu, dan mencapai Kebuddhaan di jaga terakhir malam itu juga di malam purnama bulan Vesàkha

pencerahan sidartha gautama bab 7

pencerahan sidartha gautama bab 7

KEAJAIBAN CANGKIR EMAS PERTANDA PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN

Setelah memakan nasi susu ghana yang dipersembahkan oleh Sujàtà, Bodhisatta mengucapkan tekad sambil memegang cangkir, “Jika Aku akan mencapai Kebuddhaan hari ini, semoga cangkir emas ini mengalir ke hulu; jika Aku tidak mencapai Kebuddhaan hari ini, semoga cangkir emas ini mengalir ke hilir mengikuti arus sungai.” Kemudian Beliau meletakkan cangkir emas itu di atas air Sungai Neranjarà. Cangkir emas tersebut memotong arus air menuju ke tengah sungai dan kemudian mengambang dan mengalir ke hulu, dari sana dengan kecepatan seekor kuda tercepat berlari, sampai sejauh delapan puluh lengan dan tenggelam dalam pusaran air. Sewaktu mencapai istana raja nàga, Kàla, cangkir emas itu membentur tiga cangkir emas yang digunakan oleh tiga Buddha sebelumnya, yaitu Kakusandha, Konàgamana, dan Kassapa pada hari mereka akan mencapai Kebuddhaan, menghasilkan bunyi (logam yang beradu) ‘kili, kili’ dan akhirnya diam di bawah tiga cangkir emas tersebut.



Ketakjuban Raja Naga melihat mangkuk Boddhisatta

Mendengar bunyi tersebut, Raja Nàga Kàla berkata, “Baru kemarin seorang Buddha muncul, hari ini, seorang Buddha lain muncul lagi.” Dan kemudian ia bangkit dan mengucapkan kata-kata pujian dalam bait-bait. (Periode antara kemunculan Buddha Kassapa dan Buddha kita sangatlah lama, bumi kita ini telah tumbuh berkembang sebesar satu yojanà dan tiga gavuta selama periode ini, namun bagi Raja Nàga Kàla, periode ini sangatlah pendek sehingga ia menyebutnya hanya sebagai ‘kemarin’ dan ‘hari ini.’ )

Kemudian, Bodhisatta beristirahat di Hutan Sala di tepi Sungai Neranjarà yang diliputi oleh keharuman bunga-bunga, menghijau, dan indah dipandang. Kemudian Beliau melakukan meditasi ànapàna; setelah mencapai delapan Lokiya Jhàna dan lima Abhinnà, di kesejukan senja menjelang malam, Beliau berjalan di sepanjang jalan yang telah dihiasi oleh para dewa dan brahmà; setelah turun dan mandi di Sungai Neranjarà, Beliau berjalan menuju pohon Mahàbodhi melalui jalan yang dibuat oleh para dewa dan brahmà. Pada waktu itu, dewa-dewa nàga, yakkha, dan gandabbha memberi hormat kepada-Nya dengan persembahan bunga-bunga dan wangi-wangian surgawi. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu surgawi yang merdu. Sepuluh ribu alam semesta hampir seluruhnya tertutupi oleh bunga-bunga dan wangi-wangian surgawi, juga oleh sorak-sorai para dewa dan brahmà.



Boddhisatta menerima dana rumput2an dari Brahmana Sotthiya

Pada waktu itu Sotthiya, seorang brahmana pemotong rumput berjalan datang dari arah berlawanan membawa rumput-rumputan; mengetahui bahwa Bodhisatta menginginkan beberapa rumput, ia memberikan delapan ikat rumput. Bodhisatta membawa delapan ikat rumput tersebut pergi menuju Mahàbodhi dan berdiri di selatan pohon Mahàbodhi menghadap ke utara. Saat itu, bagian selatan dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian utara dari sepuluh ribu alam semesta naik hingga seolah-olah terbang ke Alam Bhavagga. Melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.” Jadi Beliau bergerak searah jarum jam, berjalan ke sebelah barat pohon Bodhi dan berdiri menghadap ke timur. Saat itu, bagian barat dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian timur alam semesta naik hingga seolah-olah menyentuh Alam Bhavagga, melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir lagi, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.” Jadi Beliau bergerak lagi searah jarum jam, berjalan ke sebelah utara pohon Bodhi dan berdiri menghadap ke selatan. Saat itu, bagian utara dari sepuluh ribu alam semesta turun hingga seolah-olah menyentuh Alam Mahà âvici; dan bagian selatan alam semesta naik hingga seolah-olah menyentuh Alam Bhavagga, melihat fenomena ini, Bodhisatta berpikir lagi, “Ini bukanlah tempat di mana Arahatta-Magga Nàna dan Subbannuta Nàna dapat ditembus.”

Kemudian Beliau bergerak mengelilingi pohon Bodhi, Beliau berjalan ke timur pohon Bodhi, menghadap ke barat.

Tempat di mana singgasana kemenangan, aparàjita, akan muncul di sebelah timur pohon Bodhi tetap utuh tidak berubah, sebagai tempat yang tidak akan ditinggalkan: avijahitatthàna, di mana singgasana semua Buddha muncul. Mengetahui bahwa “tempat ini pastilah tempat kemenangan di mana semua Buddha menghancurkan kotoran batin.” Kemudian Bodhisatta menebarkan delapan ikat rumput yang dibawa-Nya.

Begitu Beliau menebarkan delapan ikat rumput itu, rumput-rumput itu berubah menjadi singgasana permata yang besar, berukuran enam belas lengan, yang sangat indah yang tidak dapat dilukiskan dan diukir oleh pelukis dan pengukir yang paling ahli sekalipun, dan tercipta dalam bentuk yang sangat menakjubkan (dari sebuah singgasana permata).

Dengan bersandar pada pohon Bodhi, menghadap ke arah timur dengan pikiran terpusat, Bodhisatta berseru: ”Meskipun hanya kulit-Ku yang tersisa, meskipun hanya urat-Ku yang tersisa, meskipun hanya tulang-Ku yang tersisa, meskipun seluruh tubuh-Ku dan seluruh daging dan darah-Ku mengering, jika aku belum mencapai Kebuddhaan, Aku tidak akan mengubah postur-Ku dari duduk bersila seperti sekarang ini.”

Demikianlah dengan mengembangkan tekat atas empat faktor, Beliau duduk di atas singgasana permata yang tidak terlihat (aparàjita) dengan postur duduk bersila (postur menaklukkan musuh, bukan mengaku kalah), yang tidak dapat dihancurkan bahkan oleh ratusan petir yang menyerang bersamaan.

MENAKLUKKAN VASAVATTI MARA (DEVAPUTTA MARA) SEBELUM MATAHARI TERBENAM

Ketika Bodhisatta duduk di atas tempat duduk-Nya, aparàjita, yang tidak terlihat, di bawah pohon Bodhi, untuk menembus Sabbannuta Nàna, Sakka datang untuk memberikan penghormatan dan berdiri sambil meniup kulit kerang Vijayuttara. (Kulit kerang ini panjangnya 120 lengan dan ketika ditiup, suaranya baru menghilang setelah empat bulan). Dewa Pancasikha datang untuk memberikan hormat dan memainkan harpa Beluva. Dewa Suyama berdiri dan mengebutkan pengusir serangga dari ekor yak, Dewa Santusita berdiri mengibaskan kipas berhiaskan batu delima, dan Brahmà Sahampati berdiri memegang payung putih sepanjang tiga yojanà. Nàga Kàla tiba bersama delapan puluh ribu penari nàga perempuan dan berdiri memberi hormat dengan menyanyikan bait-bait pujian-pujian kepada Bodhisatta. Semua dewa dan brahmà dari sepuluh ribu alam semesta datang memberi hormat dengan mempersembahkan bunga-bungaan, wangi-wangian, dupa, dan menyanyikan ribuan lagu-lagu pujian.

Màra dari Alam Dewa Vasavatti, demi kesenangannya, terus menerus mengikuti Bodhisatta selama enam tahun dukkacariya, menunggu kesempatan saat Bodhisatta berpikiran jahat (micchà vitakka) seperti nafsu-nafsu indria (kàma vitakka), dan lain-lain, namun tidak berhasil menemukan penyimpangan dari pikiran bajik di dalam diri Bodhisatta. Màra berpikir, “Sekarang, Pangeran Siddhattha telah tiba di pohon Bodhi untuk mencapai Kebuddhaan. Saat ini, Beliau berusaha menjauhkan diri dari wilayah kekuasaanku (di tiga alam manusia, dewa, dan brahmà); Aku tidak dapat mengalahkannya sehingga Beliau berkesempatan untuk melarikan diri dari tiga alam yang berada di bawah kekuasaanku.” Dengan pikiran ini, ia pergi ke Alam Dewa Vasavatti dan mengumpulkan prajurit-prajurit mara, dan memerintahkan, “O Prajurit, ubah dirimu menjadi berbagai bentuk-bentuk untuk bertempur, dan masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda, dan cepat serang Pangeran Siddhattha seperti banjir besar.” Ia sendiri, mengikuti mereka dengan menunggangi gajah Girimekhala yang berukuran 150 yojanà dan menciptakan seribu tangan dari tubuhnya, masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda Bala tentara Màra yang mendekati Bodhisatta berjumlah sangat besar, barisannya mencapai dua belas yojanà di depan Màra, dua belas yojanà di sebelah kanan Màra, dua belas yojanà di sebelah kiri Màra, sembilan yojanà di atas Màra, dan di belakang mencapai hingga ujung dari sepuluh ribu alam semesta. Suara-suara yang menakutkan yang mengintimidasi, teriakan-teriakan dan sorak-sorai dari pasukan Màra dapat terdengar hingga sejauh seribu yojanà, bagaikan bunyi yang berasal dari bumi yang membelah. Màra yang memegang seribu senjata dengan seribu tangannya, dan prajuritnya yang tidak terhitung banyaknya yang masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda. Mengubah wujud mereka ke dalam bentuk yang sangat menakutkan, mendekati Bodhisatta untuk mengalahkan dan menghancurkan-Nya.



Mara dan bala-tentaranya menyerang Boddhisatta

Ketika bala tentara Màra sedang mendekati pohon Mahàbodhi. Tidak satu pun dewa yang dipimpin oleh Sakka yang datang untuk memberi penghormatan kepada Bodhisatta yang mampu menahan mereka; mereka lari tunggang langgang, Sakka lari dengan terompet kulit kerang Vijayuttara di punggungnya dan tetap berdiri di ujung sepuluh ribu alam semesta; Mahàbrahmà juga mencampakkan payung putihnya di tepi alam semesta, dan kembali ke alamnya; raja nàga juga, meninggalkan para penari nàganya dan masuk ke dalam tanah, pergi ke istana nàga yang disebut Manjerika, berukuran lima ratus yojanà, dan tidur dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya; tidak ada satu pun dewa dan brahmà yang berani berada di dekat-dekat Bodhisatta dan pohon Mahàbodhi. Pada waktu itu, Bodhisatta tetap duduk sendirian bagaikan brahmà yang menyendiri di dalam istananya.