Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label H.H Somdet Phra Nyanasamvara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label H.H Somdet Phra Nyanasamvara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Bayang-bayang Kamma Lampau

Bayang-bayang Kamma Lampau

oleh Somdet Phra Ñâóasaævara
diterjemahkan oleh Dhammadhîro

Banyak orang yang masih mempercayai adanya figur penguasa. Dia dianggap sebagai makhluk yang berwenang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang melanggar larangannya, melimpahkan rezeki kepada mereka yang menuruti perintahnya, menciptakan marabahaya, dan sebagainya. Jalinan hubungan vertikal antara umat manusia dengan figur penguasa ini didasarkan pada perasaan takut dan bakti. Perasaan takut dan bakti kepadanyalah yang membuat orang menghindari kejahatan, dan melaksanakan kebajikan. Apabila pengaruh kepercayaan ini memudar, perasaan takut dan bakti umat manusia semakin menipis, maka kejahatan terus berkembang dan sebaliknya kebajikan menjadi merosot. Jadi, ajaran semacam ini hanya mampu memberikan hasil apabila umat manusia mau mempertebal perasaan takut dan perasaan bakti kepada figur penguasa.

Bertolak-belakang dengan kepercayaan di atas, Agama Buddha tidak pernah mempergunakan cara menakut-nakuti untuk menyelamatkan umatnya dari kejahatan. Tidak ada pula iming-iming atau bujukan untuk melakukan kebajikan. Sang Buddha senantiasa memberikan penekanan pada ajaran yang didasarkan pada keyakinan (saddha) dan kebijaksanaan (panna). Semua makhluk memiliki serta mewarisi kammanya masing-masing. Penderitaan atau kebahagiaan yang dialami adalah akibat kammanya masing-masing. Tidak dikenal adanya penguasa yang menjatuhkan hukuman atau melimpahkan pahala. Umat Buddha menghindari kejahatan bukanlah karena takut kepada siapa pun, dan melakukan kebajikan bukanlah untuk mengambil hati siapa pun. Suatu kejahatan dihindari karena pengertian bahwa ini secara alamiah mengakibatkan penderitaan, dan sebaliknya suatu kebajikan dikembangkan karena pengertian bahwa ini membuahkan kebahagiaan bagi diri pelakunya maupun orang lain. Jadi, pengertian terhadap hukum kamma-lah yang menjadi dasar bagi umat Buddha untuk menghindari kejahatan, dan melakukan kebajikan.

Naasnya, ada tidak sedikit orang yang memandang hukum kamma dari sisi yang kurang tepat. Mereka takut terhadap kamma, perasaan takut yang sama seperti yang dialaminya terhadap figur penguasa tersebut. Pada waktu memikirkan kamma, yang terbayang dalam benaknya adalah sesuatu yang menakutkan, menyeramkan --bagai algojo yang siap menjatuhkan hukuman. Kamma dipandang dari sisi yang negatif. Akan tetapi, bila seseorang memperoleh kebaikan dan kebahagiaan, ini dianggap sebagai suatu karuniah semata. Dalam pengertian orang umum, kamma tidak berpautan dengan hal-hal yang baik. Selain itu, orang tidak mengindahkan kamma atas tingkah lakunya pada saat sekarang, sebab kamma dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang diperbuat. Kamma menjadi suatu masa lampau yang menakutkan, yang takdapat dihindari dan tak diketahui kapan datangnya. Patut disayangkan bahwa banyak orang mempunyai pandangan salah seperti ini.

Sesungguhnya, Agama Buddha tidak pernah mengajar manusia untuk memahami kamma dalam pengertian yang salah semacam itu; tidak pernah mengajar orang untuk takut kepada kamma; sebagai budak kamma, atau berada di bawah kekuasaan kamma. Agama Buddha mengajarkan hukum kamma justru agar orang mampu berkuasa di atas kamma, agar dapat mengendalikan kammanya sendiri pada saat sekarang. Kamma adalah segala perbuatan yang sedang dilakukan orang tiap-tiap hari; tiap-tiap saat, yang dilandasi cetana atau kehendak. Apapun yang dilakukan, dikatakan atau dipikirkan seseorang, senantiasa terdapat hasrat atau kehendak hati yang mengawalinya. Dalam kehidupan sehari-hari, segala tindakan, ucapan dan pikiran yang diperbuat seseorang terjadi sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ini berarti banyak jenis kamma yang dilakukannya. Agama Buddha mengajarkan hukum kamma dengan tujuan-utama agar orang mengetahui serta merenungkan kamma pada saat sekarang; agar bisa membedakan apa yang baik dan jahat, apa yang pantas dan takpantas. Dengan begitu, ia dapat menghindari kamma buruk yang takpatut dilakukan, dan sebaliknya melaksanakan kamma baik yang patut diperbuatnya. Kejahatan itu dapat dihindari, dan kebajikan itu dapat dilakukan. Jika tidak, Sang Buddha tentu tidak akan menganjurkannya. Kejahatan akan mengakibatkan penderitaan, sebaliknya kebajikan membuahkan kebahagiaan. Perlu dipahami bahwa manusia mampu menguasai kammanya, mengendalikan segala perbuatan yang dilakukannya --melalui tindakan, ucapan maupun pikiran. Untuk dapat berkuasa di atas kammanya, seseorang harus senantiasa berada pada jalan Dhamma, berpegang teguh pada Dhamma, dan berpraktek selaras dengan Dhamma. Dengan begitu, kamma tidak lagi merupakan masa lampau yang menakutkan, melainkan perbuatan pada masa sekarang yang dapat digubah sedemikian rupa demi pencapaian Kebahagiaan Sejati dan Pembebasan Mutlak di masa mendatang.

Ulasan Tentang Meditasi

Ulasan Tentang Meditasi

oleh: Somdet Phra Nyanasamvara

Sumber Asli: SELECTED ARTICLES ON BUDDHISM, Mahamakut Rajavidyalaya Press, Wat Bovoranives Vihara, Bangkok, Thailand, 1989

"Tiada konsentrasi dapat muncul pada seseorang yang tak memiliki kebijaksanaan, tiada pula kebijaksanaan dapat muncul pada seseorang yang tak memiliki konsentrasi. Siapapun yang memiliki konsentrasi dan kebijaksanaan, ia sesungguhnya berada pada Pembebasan (Nibbana)".

Saat ini anda sekalian berkumpul di sini untuk mendengarkan Dhamma, dengan pokok bahasan tentang Meditasi. Namun, sebelum menjelaskan tentang meditasi, perlu diketahui bahwa untuk dapat mendengarkan Dhamma di dunia ini adalah tidak mudah, karena terlalu banyak rintangannya yang muncul baik dari dalam (batin) dan dari faktor-faktor luar di lingkungan kita. Beruntunglah anda tidak terpengaruh oleh rintangan-rintangan tersebut dan dapat datang untuk duduk dengan tenang di sini untuk memetik keuntungan dari kesempatan mendengarkan Dhamma ini. Karena alasan ini, anda harus berusaha untuk mengambil manfaat dari khotbah ini sambil mendengarkan kalimat-kalimat sederhana ini yang mengacu pada ajaran Sang Buddha. Jika anda dapat melakukan hal tersebut, maka Dhamma kemudian dapat masuk ke dalam hatimu dan menjadi penuntun dalam hidupmu. Janganlah anda berpikir bahwa Dhamma adalah sebuah dogma keagamaan atau doktrin, tetapi sebaliknya, Dhamma dapat ditemukan dan dilihat pada kejadian sehari-hari dalam kehidupan kita —yang merupakan suatu kenyataan.

Meditasi —sesuai dengan cuplikan kalimat Dhammapada yang disebutkan di atas—, mengingatkan kita tentang adanya hubungan timbal balik antara meditasi dengan kebijaksanaan sebagai faktor-faktor yang tak terpisahkan; sama seperti dunia modern ini dengan teknologi, akan selalu dalam keterkaitan. Sang Buddha mengajarkan kita bagaimana caranya mengembangkan meditasi dan kebijaksanaan atau teknologi untuk mencapai Nibbana, Pembebasan Mutlak. Ini bukan berarti hanya untuk berjuang mencapai Pembebasan Mutlak, tetapi juga dimaksudkan bahwa setiap orang mesti menyelesaikan semua tugas-tugas yang diperlukan, tak peduli apakah itu yang kasar, halus, yang ilmiah atau teknologi, untuk memecahkan semua masalah yang timbul di sepanjang hidup kita.

Beberapa penerjemahan istilah "Meditasi" dari bahasa Pali, adalah sangat kurang tepat —seperti apa yang dimaksudkan dalam bahasa Pali. Padankata yang terdekat untuk beberapa darinya adalah: Pengembangan Batin, pemusatan pada satu titik, ketenangan, konsentrasi tercerap, atau bisa juga dikatakan sebagai teknologi untuk mencapai kebijaksanaan dan kedamaian/ketenangan. Hal itu dapat direalisasi oleh batin dan pikiran yang dalam kondisi diam dan stabil. Batin setiap orang adalah selalu berpikir tentang sesuatu. Kadang-kadang kita berpikir dengan sangat dalam, serius, dan diam, dimana dapat dikatakan bahwa kita sedang bermeditasi pada suatu rencana atau risalat. Oleh karena itu, meditasi adalah pendekatan psikologi kepada kebiasaan batin, latihan batin, dan pemurnian batin.

Pada zaman modern ini, pertumbuhan ekonomi melalui kesempatan-kesempatan perkembangan bisnis/perdagangan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tetapi itu hanyalah sebagian, bukan gambaran yang komplit/seluruhnya.

Jika kita merencanakan mendirikan struktur bangunan tinggi dengan stabil tetapi tidak mempertimbangkan pondasinya, apa yang akan terjadi? Pertama kita harus memperhatikan scope total/keseluruhan dari proyek tersebut, dan kemudian memutuskan pondasi tipe apa yang dibutuhkan untuk mendukung struktur tersebut. Semakin tinggi yang kita inginkan, semakin dalam kita harus membuat pondasinya. Bangunan ini mirip dengan ekonomi dan kemakmuran masyarakat, dalam pada mana tipe pertumbuhannya bergantung pada kepandaian, inisiatif, dan kreativitas sebagai sistem pondasi yang tersembunyi.

Anda sekarang belajar untuk menjadi ahli dalam bidang konstruksi bangunan tetapi apakah perhitungan pondasi anda mampu menyelesaikan rencana bangunan yang cocok dengan berbagai tipe tanah? Apakah anda yakin bahwa bangunan tersebut nanti tak akan ambruk karena kesalahan dalam analisa struktur?

Banyak orang yang pandai dalam teknologi untuk mencapai kemakmuran di luar, tetapi ia juga harus pandai dalam teknologi untuk kemakmuran di dalam. Sumber dari kemakmuran di dalam, sumber dari motivasi, kepandaian, kreativitas, intuisi, pengertian, kebahagiaan, kedamaian dan kebijaksanaan, adalah ladang dari kesadaran yang utuh, yang ada di dalam diri kita semua.

Apabila beberapa daun sebuah pohon nampak coklat dan kering, apakah kita akan mengecat mereka agar menjadi hijau? Atau apakah kita memberikan air pada akarnya? Jika kita ingin merawat pohon secara keseluruhannya, kita harus melihat atau memperhatikan air tumbuh-tumbuhan yang di dalam —yang tak kelihatan—, yang mengalir di seluruh pohon tersebut, dimana elemen-elemen penopang hidupnya diserap melalui akar. Hanya dengan memberikan air pada akarnya barulah kita dapat menikmati buah dari pohon tersebut. Sama juga dengan kehidupan dari pohon tersebut, adalah daun bisnis, daun pemerintahan, daun pendidikan, daun keluarga, dan lain-lain. Janganlah mencoba untuk mengecat mereka. Tetapi sebaliknya tujulah kepada akar dari problem tersebut dan pastikan bahwa telah dipenuhinya makanan yang tepat. Untuk merawat kehidupan kita, kita harus melihat ke dalam nilai dari kehidupan, ladang dari kesadaran yang utuh untuk memekarkan "pohon" kehidupan kita.

Kehidupan mempunyai 3 ladang: ladang di luar, ladang di dalam, dan ladang yang transenden. Kesadaran di luar, atau perbuatan; kesadaran di dalam, atau pikiran; dan kesadaran yang sukar dipahami. Kesadaran yang di dalam adalah pengembangan kebajikan. Perbuatan di luar adalah untuk semua kemakmuran yang bermanfaat. Kesadaran transenden adalah ke stabilan yang tak terbatas, kedamaian, kesempurnaan, dan Pembebasan Mutlak.

Kesadaran yang utuh adalah dasar dari hidup yang utuh. Bila kesadaran bangkit, penuh, dan terang, maka pikiran akan menjadi sangat pandai, dan siap digunakan; dan perbuatan/tindakan akan menjadi efisien, menyenangkan, dan bermanfaat.

Ketika kesadaran menyatu dengan Dhamma, Hukum Alam, maka secara langsung setiap gerak dari pikiran dan perbuatan akan sesuai dengan Dhamma. Keharmonian dengan Dhamma ini memberikan sarana untuk mencapai kemajuan yang cepat dan efisien, untuk kebaikan semua orang. Problem-problem, ketergantungan, kekhayalan, dan ketidak-bahagiaan terjadi bila kita tidak menerapkan Dhamma dalam hidup kita sehari-hari.

Apakah anda pernah mengalami problem-problem tersebut? Apa yang benar? Apa yang terbaik untuk dilakukan? Dalam hidup kita, apakah tepat mengambil tindakan dengan mengecat daun agar hijau? Adakah suatu teknologi yang dapat membuat gerak-gerik intuisi, perasaan, pikiran, dan perbuatan agar berguna, bermanfaat, dan benar? Benar berarti untuk kesejahteraan semua orang, sesuai dengan Dhamma. Salah berarti pelanggaran terhadap Dhamma.

Dhamma menyediakan kesejahteraan, kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kebebasan kepada mereka yang mengikuti dan mempraktikkan Dhamma dalam pola hidup dan dalam perbuatan mereka. Beruntunglah bagi kita bahwa ada teknologi untuk memurnikan ladang dari perbuatan, pikiran, dan kesadaran, untuk menghasilkan perbuatan benar di dalam masyarakat.

Berikut ini adalah 4 sifat kebajikan yang harus dikembangkan oleh semua makhluk hidup:

1. Memelihara kejujuran dan ketulusan hati serta tekun melakukan hal-hal yang bermanfaat dan benar.
2. Memiliki pengendalian diri serta pengetahuan untuk mengendalikan pikiran, yang menjamin tingkah-lakunya berada dalam kejujuran dan kebaikan.
3. Memiliki kesabaran, mampu menahan diri dan hemat serta sederhana agar tidak melanggar keadaan yang sebenarnya/kejujuran tanpa menghiraukan pertimbangan yang sehat.
4. Membuang semua sifat jahat atau kejahatan dan ketidak-jujuran, serta mau mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan yang lebih besar (bangsa) dan dunia ini —jika mungkin.

Dengan adanya 4 kebajikan ini di dalam batin, seseorang akan mampu melaksanakan 5 aturan dasar (pancasila) dengan mudah, yaitu; menahan diri dari perbuatan menghancurkan kehidupan makhluk lain, dari mengambil barang yang tidak diberikan, dari perbuatan asusila, dari perkataan bohong, dan dari semua makanan atau minuman keras yang menyebabkan kelengahan.

Setiap hari kita mengisi waktu dengan melakukan berbagai hal. Untuk jasmani, kita mandi, makan, olahraga, dan istirahat. Untuk pikiran, kita bersekolah, bermain, melihat, mendengar, dan belajar. Untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat, kita bekerja, bepergian, membuat keputusan, berharap, dan berencana. Bagaimana kalau kita mengesampingkan beberapa menit setiap hari untuk bermeditasi, menuju ke sumber dari semua hal-hal ini. Sebuah sungai tanpa sumber akan mengering. Demi kesuksesan di luar yang lebih besar, kita membutuhkan kesuksesan di dalam yang lebih besar pula.

Semua perbedaan yang terdapat pada pohon-pohon adalah disebabkan oleh pemeliharaan yang tepat terhadap air yang ada di dalam. Kita hanya melakukan satu hal, menyirami akarnya untuk memberikan makanan kepada ribuan bunga, daun, dan cabang-cabang secara alamiah. Dengan melakukan satu hal, semua aspek kehidupan menjadi subur secara alamiah.

Buatlah agar kesadaran kita menjadi tak terbatas (luas), murni, tenang, damai, penuh, kosong, bersih, terang, bersatu, sendiri, sepenuhnya di dalam rumah (batin), sadar dan waspada sepenuhnya. Dengan dasar dari ketenangan ini, semua yang baik menjadi mungkin, setiap hal dapat diketahui dengan sebagaimana adanya, juga terhadap apa yang akan terjadi; dan seseorang akan memperoleh perlindungan penuh dari Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah teknologi dari kesadaran atau meditasi. beberapa menit, katakanlah 10 sampai 15 atau 20 menit setiap pagi dan sore mesti dikesampingkan untuk kembali kepada sumber dari semua kegiatanmu. Manfaatnya akan benar-benar terasa. Setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan Dhamma pasti akan menemui kesuksesan.

Teknologi dari kesadaran —kembali kepada sumber—, adalah dasar dari teknologi berpikir dan bertindak. Apabila ladang pikiran dan perbuatan tidak murni, maka membersihkan mental setiap hari melalui meditasi adalah sangat perlu dan menjadi kewajiban masyarakat (semua orang). Dalam pada itu, kita harus hati-hati dalam menjunjung tinggi kebiasaan-kebiasaan baik dan nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat.

Intisari/pokok dari Samadhi atau Meditasi dalam Buddhisme adalah ketenangan murni dari batin bersama dengan keseimbangan dari kebijaksanaan, tanpa kecurigaan-kecurigaan atau prasangka-prasangka. Semua rintangan batin (nafsu keinginan, itikad jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekuatiran, serta keragu-raguan) adalah penghalang menuju ketenangan batin, yang mencegah terjadinya samadhi (konsentrasi) di dalam batin; dan mencegah batin untuk menggunakan kebijaksanaannya. Latihan menenangkan mereka adalah disebut "MEDITASI". Sang Buddha mengajarkan banyak teknik meditasi, akan tetapi hanya satu di antaranya yang akan dibicarakan di sini, yang diambil dari kotbah agung tentang Satipatthana, yang disebut Membangkitkan Kesadaran. Tahap pertama dari hal tersebut adalah Perhatian pada Nafas yang masuk dan keluar.

Postur —seperti yang diajarkan di situ— adalah duduk bersila, badan tegak dan duduk dengan perhatian penuh. Jika posisi duduk bersila tidak nyaman, anda boleh mengambil posisi lain atau boleh duduk di kursi, tetapi badan tetap tegak.

Setelah persiapan ini dipenuhi, anda harus mengembangkan perhatian penuh, dan mengarahkan pikiran untuk pertama-tama melihat kepada jasmani. Bagian yang mana dari jasmani yang harus diamati pertama? Yaitu aktivitas bernafas. Dengan cara berikut Sang Buddha mengajarkan apa yang harus anda lakukan:

- Menarik nafas panjang, anda tahu: saya menarik nafas panjang.
- Mengeluarkan nafas panjang, anda tahu: saya mengeluarkan nafas panjang.
- Menarik nafas pendek, anda tahu: saya menarik nafas pendek.
- Mengeluarkan nafas pendek, anda tahu: saya mengeluarkan nafas pendek.
- Dengan merasakan seluruh tubuh, saya akan mengambil nafas: demikianlah anda melatih diri anda.
- Dengan merasakan seluruh tubuh, saya akan mengeluarkan nafas: demikianlah anda melatih diri anda.
- Dengan menenangkan gerakan-gerakan tubuh, saya akan menarik nafas: demikianlah anda melatih diri anda.
- Dengan menenangkan gerakan-gerakan tubuh, saya akan mengeluarkan nafas: demikianlah anda melatih diri anda.

Sama seperti seorang pengemudi yang cakap, atau seorang pelatih pengemudi, pada belokan yang panjang, ia tahu: "Saya berbelok panjang", atau belokan pendek, tahu: "Saya berbelok pendek". Dalam cara demikian, meditator yang berpengalaman menyadari nafasnya.

Anapanasati, atau pengembangan perhatian/kesadaran pada proses pernafasan adalah tidak sulit. Seseorang hanya perlu menyatukan pikiran dan mengarahkan perhatian pada lubang hidung atau bibir sebelah atas, kemudian udara itu sendiri dan kegiatan bernafas tersebut akan membangkitkan kesadaran anda.

Anda dapat mengetahui: "Saya bernafas", dengan maksud adalah setuhan atau kontak dari udara pada lubang hidung atau bibir atas. Dan anda dapat mengetahui: "Saya sedang menarik nafas", dengan maksud adalah satu aksi dari menarik udara ke dalam paru-paru. Dan: "Saya sedang mengeluarkan nafas", dengan maksud adalah mengeluarkan udara dari paru-paru. Pada saat menarik nafas masuk, udara yang memasuki jasmani pertama-tama akan kontak dengan lubang hidung atau bibir atas, dan pada saat mengeluarkan nafas, udara yang keluar juga akan kontak pada titik yang sama. Oleh karena itu, anda harus membayangkan bahwa anda berdiri pada satu titik tersebut, dan memperhatikan aliran udara yang masuk dan keluar sepanjang waktu.

Pada awal mulanya, pikiran akan kacau, seperti suatu arus yang amat cepat. Untuk menenangkan pikiran yang liar dan bertingkah itu, anda harus menemukan satu bantuan/pegangan, sama seperti sebuah kemudi yang digunakan untuk membantu/menopang sebuah kapal pada arus yang cepat/deras. Satu sistem pembantu/penopang tersebut adalah mengulangi kata "Bud-dho", pada saat aktivitas tersebut menjadi; menarik nafas: "Bud", dan mengeluarkan nafas: "dho", atau bagi mereka yang tak memerlukan pembantu/penopang ini, dapat menggunakan perhatian pada nafas itu sendiri.

Dengan ketekunan, mempunyai pengertian jelas, sadar dan waspada, serta mampu mengatasi nafsu-nafsu keinginan dan penolakan/kebencian terhadap dunia ini, anda dapat mencapai ketenangan yang murni. Dengan ketenangan/keseimbangan, kenetralan yang muncul dari kebijaksanaan yang murni, maka anda dapat memiliki pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Memahami kebijaksanaan terhadap Empat Kesunyataan Mulia, anda dapat mencapai kebahagiaan sejati tentang hidup, yang merupakan kedamaian sejati di dunia ini.

Bila anda mengembangkan latihan meditasi dengan pengertian jelas dan kebijaksanaan, anda akan sanggup merealisai dunia ini sebagaimana ia sesungguhnya. Ini kita sebut Empat Kesunyataan Mulia: Penderitaan, Penyebab Penderitaan, Lenyapnya Penderitaan, dan Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan.

Melalui kebijaksanaan Pandangan Terang jalan menuju lenyapnya dukkha, Jalan Mulia Berunsur Delapan, anda akan mengembangkan pengertian jelas tentang hidup dan mencapai Nibbana. Kebijaksanaan dan praktik meditasi adalah tak dapat dipisahkan, seperti disebutkan pada awal kutipan di atas.

Saya mengajak anda sekarang untuk menyatukan hati dan pikiran pada penyadaran yang penting ini, serta bermeditasi dengan teknologi hebat dari kebijaksanaan untuk mencapai sumber sejati dari hidup sehingga akar dari hidup ini dapat dirawat, menjadikan anda mampu tiba pada "pemekaran" serta menghasilkan "buah-buah" yang besar.

Semoga anda terbekahi dan sukses dalam usaha perjuangan anda.***


Sumber:

Mutiara Dhamma V, Ir. Lindawati T. (Editor), pt. Indografika Utama, Denpasar-Bali, 1993

ARTI BERLINDUNG


Arti Berlindung

oleh: Somdet Phra Ñanasamvara

Judul asli: Meaning of Refuge, Diambil dari Buku: FAITH IN BUDDHISM, Karya: H.H. Somdet Phra Ñanasamvara, Penerbit: Wat Bovoranives Vihara Bangkok, Thailand.

Harus dipahami bahwa Agama Buddha tidak bertujuan untuk membuat kita menyembah Sang Buddha sebagai makhluk surgawi dengan kekuatan-kekuatan supranormal. Agama Buddha lebih bertujuan untuk membuat kita memuliakan; Sang Buddha sebagai Buddha sejati (yang benar-benar telah tercerahkan oleh diri-Nya sendiri dan kemudian mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain), untuk membuat kita memuliakan Dhamma sejati (yang dibabarkan oleh Sang Buddha), dan memuliakan Sangha sejati (Komunitas orang-orang yang berlatih). Tiga Perlindungan ini nyata dan dapat diandalkan.

Sebagian orang mungkin meragukan Ajaran Sang Buddha, sehubungan dengan Dhamma yang menyatakan; "Diri ini adalah pelindung bagi diri sendiri" dengan pernyataan tiga perlindungan terhadap; Buddha, Dhamma dan Sangha. Ada syair yang mengokohkan tiga perlindungan itu dan menyangkal perlindungan lain. Syair itu berbunyi:

"Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Buddha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Dhamma-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
"Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Sangha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi".

Jika orang mendengar sepintas, tampaknya ketiga hal ini saling berlawanan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian.

Pertama, marilah kita lihat secara jelas ketiga obyek itu. Walaupun berbeda dalam pengertian materi, namun memiliki esensi yang sama; karena ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sang Buddha mewujudkan Dhamma, dan Dhamma ini dilestarikan oleh Sangha, sedangkan Sangha adalah murid-murid Sang Buddha; jadi ketiganya saling berhubungan. Ibarat tiga tiang kayu yang saling menyangga. Jika orang berlindung pada salah satunya, otomatis dia bergantung pada ketiganya. Dalam pengertian lain, Sang Buddha adalah perlindungan tertinggi; demikian juga Dhamma dan Sangha, sesuai dengan sifat-sifat khususnya masing-masing. Penghafalan kitab suci hanya merupakan ungkapan sederhana; tiada perlindungan lain selain Sang Buddha, tiada perlindungan lain selain Dhamma, tiada perlindungan lain selain Sangha.

Di sini, kita sampai pada masalah: apakah ini berlawanan dengan ajaran untuk berlindung pada diri sendiri? Sebenarnya, ketiga perlindungan ini disebut "sarana", sedangkan perlindungan pada diri sendiri disebut "natha", namun tidak perlu kita menyelidiki asal kata dari bahasa Palinya. Ajaran-ajaran ini tidak berlawanan, justru sebenarnya sangat sesuai. Seandainya kita membandingkan kehidupan kita dengan suatu perjalanan; kita mengambil perlindungan pada Sang Buddha sebagai pemandu, pada Dhamma sebagai jalan, pada Sangha sebagai orang-orang yang terus berjalan untuk menunjukkan jalan, dan pada diri sendiri kita sendiri sebagai musafir. Di sini, "diri" berarti diri kita sendiri, yang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Sejak lahir kita sudah harus berlindung pada diri sendiri.

Marilah kita renungkan hal ini sejenak, seorang anak memang tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri; ayah atau ibunya harus selalu membantu menopangnya. Tetapi dalam hal yang paling penting anak itu justru harus bergantung pada dirinya sendiri. Orang tua menyediakan makanan dan mereka hanya dapat meletakkan makanan itu di mulut si anak. Lalu anak itu sendirilah yang harus mengunyah dan menelannya; tubuhnya harus menerima dan mencernanya. Dalam mengunyah dan menelan makanan, si anak harus bergantung pada dirinya sendiri. Begitu juga dalam hal belajar; si anak mungkin bergantung pada orang tuanya untuk mencari sekolah dan membayar uang sekolah, tetapi dia sendirilah yang harus belajar. Dia tidak dapat bergantung pada ibunya, ayahnya, atau siapa pun juga, agar belajar dan mencari ilmu baginya, sementara dia duduk santai berpangku tangan. Belajar untuk memperoleh pengetahuan membutuhkan ketergantungan pada diri sendiri, pada sendiri, dan pada kekuatan intelegensinya sendiri. Inilah yang disebut berlindung pada diri sendiri. Tatapi bagaimana orang dapat berlindung pada diri sendiri agar tidak menjadi malas dan tidak gagal? Orang harus berlatih sesuai dengan ajaran dan petunjuk Sang Buddha, yang mengajarkan kepada kita untuk berjuang dengan gigih sampai berhasil. Inilah yang disebut berlindung pada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha; yaitu, merenungkan ketiganya dan berlatih sesuai dengan itu semua. Ketiganya dapat menjadi perlindungan bagi diri sendiri; demikian juga orang dapat berlindung pada diri sendiri.

Barangkali akan timbul pertanyaan; pada saat ini, di manakah Sang Buddha bersemayam? Murid-murid yang mempelajari sejarah Buddhis akan menjawab: pada saat ini, yang ada hanyalah Dhamma dan Vinaya (Peraturan) yang dicetuskan oleh Sang Buddha ketika Beliau masih hidup. Dhamma dan Vinaya sebagai wakil Guru Agung pernyataan tersebut dibuat ketika Beliau akan meninggal dunia (parinibbana). Tetapi beberapa murid Dhamma lain mungkin berusaha membuat orang lain berpikir dengan menjawab: "Sang Buddha mencapai Dhamma yang Kekal (amatadhamma), maka Beliau tidak dapat mati". Jadi sekarang inipun, Sang Buddha masih ada dan akan tetap ada selamanya. Di manakah Beliau bersemayam? Beliau ada di dalam Dhamma yang Kekal. Beberapa murid Dhamma lainnya mungkin akan mengacu pada bukti yang terdapat di kitab suci; di sana tidak disebutkan apakah Sang Buddha dan para Arahat meninggal dan lenyap, atau meninggal untuk dilahirkan lagi. Hal ini disebabkan karena yang mati adalah khandha (indriya) atau khandha tubuh (khandha-kaya). Sang Buddha dan para Arahat bukanlah khandha. Bila dikatakan bahwa mereka meninggal dan lenyap, atau meninggal dan apa pun sebutannya, semua itu tidaklah benar. Murid-murid Dhamma masih mempertahankan bahwa bila Sang Buddha dikatakan ada dan kekal, ini bukannya tanpa dasar. Jika orang ingin melihat Buddha pada saat ini atau kapanpun, dia harus bertekad untuk mempraktekkan Ajaran Buddha. Dia harus melatih pikiran untuk konsentrasi, melatih pemahaman Dhamma, dan kemudian dia akan dapat melihat Sang Buddha sendiri. Sang Buddha telah memastikan bahwa: "Siapa pun yang melihat Dhamma, berarti melihat Buddha". Kesaksian ini menyatakan bahwa Sang Buddha ada dan dapat benar-benar dilihat. Karena itu, memutuskan Sang Buddha sebagai pelindung, seperti yang terungkap dalam syair: "Pada Sang Buddha-lah saya berlindung" bukan berarti berlindung dalam kekosongan karena Sang Buddha sudah tidak ada. Sang Buddha benar-benar merupakan perlindungan sejati.

Metode latihan yang digunakan untuk berlindung pada Sang Buddha adalah dengan merenungkan sifat-sifat luhur yang dimiliki Sang Buddha. Atau dapat merenungkan dengan cara: Sang Buddha benar-benar telah tercerahkan, benar-benar suci, dan memiliki welas asih sejati. Beliau akan muncul dalam sifat-sifat luhur tersebut. Maka kesepian dan rasa takut akan lenyap dari pikiran seseorang. Atau jika orang merasa cemas dan tertekan, suasana hati yang demikian akan segera lenyap. frustasi mental akan lenyap; lalu akan tampak jelas cara terbaik untuk memecahkan masalah. Inilah kekuatan Buddha sejati. Yang penting adalah mempertahankan Sang Buddha dalam pikiran seseorang sebagai perlindungan sejati. Maka Sang Buddha kemudian akan muncul sebagai perlindungan bagi seseorang. Pikiran yang memiliki perlindungan itu akan bersifat hangat dan tidak kesepian; kuat dan tidak lemah; berani dan tidak takut; murni, tidak menderita dan tidak keruh. Pikiran itu cenderung memunculkan pandangan benar. Bilamana orang telah melatih konsentrasi dan pemahaman Dhamma sehingga dia dapat melihat Dhamma, maka dia akan melihat Sang Buddha dengan jelas dan jernih. Sang Buddha dan Ajaran-Nya, nyata dan dapat menjadi perlindungan yang dapat diandalkan bagi siapa pun di dunia ini.***


Sumber:

Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia, Penerbit Buddhis Bodhi, 1996