Check out the Latest Articles:

Selasa, 28 Februari 2012

Salah Pengertian Tentang Sangha




oleh: P. Sabar
Hingga saat ini masih juga terdapat kesalahpengertian di antara umat Buddha mengenai siapakah yang disebut Sangha itu dan siapakah para bhikkhu itu sebenarnya. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini rasanya perlu dijelaskan agar kesalahpengertian itu tidak berlarut-larut, karena bisa menimbulkan dampak yang negatif bagi para bhikkhu sebagai anggota Sangha.
Sangha adalah perhimpunan para bhikkhu. Kata Sangha bukan berarti semata-mata sebagai kelompok para bhikkhu, namun lebih berarti sebagai para bhikkhu yang berkumpul untuk menjalankan suatu tugas kegiatan tertentu.
Untuk melakukan suatu kegiatan tertentu maka Sangha baru sah jika minimal dihadiri oleh empat orang bhikkhu yang disebut catuvagga. Jadi kalau hanya ada tiga orang bhikkhu, maka itu bukan Sangha. Khusus untuk pentahbisan seorang bhikkhu (upasampada), maka Sangha minimal harus dihadiri oleh lima orang bhikkhu (pancavagga). Sedang untuk sidang pengadilan bagi seorang bhikkhu yang melakukan pelanggaran tertentu, maka Sangha baru sah jika dihadiri oleh minimal duapuluh orang bhikkhu (visativagga). Inilah yang sebenarnya disebut Sangha. Jadi kalau ada beberapa orang bhikkhu tinggal divihara, tetapi tidak melakukan sesuatu tugas, maka ini tak dapat disebut Sangha.
Sangha dalam hal ini ada dua macam, yaitu Sammuti Sangha dan Ariya Sangha. Sammuti Sangha yaitu perhimpunan para bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian. Sedangkan Ariya Sangha adalah perhimpunan orang-orang dan para bhikkhu yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (Sotapatti, Sakadagami, Anagami dan Arahat). Jadi sekalipun dia bukan seorang bhikkhu tetapi telah mencapai tingkat kesucian, maka dia adalah tergolong dalam Ariya Sangha. Ariya Sangha inilah yang termasuk dalam Tiga Perlindungan (Tisarana) dimana umat Buddha berlindung, termasuk para bhikkhu.
Panggilan Kepada Seorang Bhikkhu
Kesalahan yang sering teljadi adalah panggilan kepada para bhikkhu dengan kata 'Yang Ariya', padahal belum tentu bhikkhu yang dipanggil 'Yang Ariya' itu telah menjadi seorang Ariya (telah mencapai tingkat kesucian). Hal ini bisa menimbulkan dampak yang negatif bagi bhikkhu itu sendiri, sebab bhikkhu yang bersangkutan itu bisa menjadi sombong, kurang hati-hati sehingga banyak yang tergelincir alias lepas jubah. Panggilan 'Yang Ariya' ini nampaknya diambil dari bahasa asing 'Venerable', yang terjemahan ke dalam bahasa Indonesia mestinya cukup dengan kata 'Yang patut untuk dimuliakan'.

Begitu pula sebutan terhadap seorang samanera, sering kita dengar dengan kata-kata, 'Yang Luhur' yang nampaknya diterjemahkan dari bahasa asing 'Reverend', yang mestinya cukup diterjemahkan dengan kata, 'Yang terhormat'.
Panggilan kepada para bhikkhu dan samanera kiranya tak perlu secara berlebih-lebihan, tetapi sebaliknya secara wajar saja. Bagaimanakah sebaiknya panggilan kepada para bhikkhu atau samanera itu? Panggilan dengan menggunakan kata 'Bhante' kepada seorang bhikkhu, yang berarti guru, rasanya sudah cukup hormat. Sebaliknya memanggil seorang bhikkhu dengan menggunakan kata 'bhikkhu' rasanya kurang tepat, atau kurang akrab, sebab kata 'bhikkhu' bisa diartikan 'pengemis', padahal bhikkhu itu tidak mengemis, sekalipun seorang bhikkhu itu adalah seorang yang miskin harta.
Di lain pihak, panggilan kepada seorang bhikkhu yang jelas-jelas diketahui banyak melakukan pelanggaran vinaya dan tidak mau lepas jubah, wajar kalau dia dipanggil 'bhikkhu', yang berarti si pengemis. Sebab bhikkhu yang demikian adalah berarti melakukan penipuan terhadap masyarakat dan juga menipu diri sendiri.
Selanjutnya kita sering mendengar para samanera sering juga dipanggil dengan sebutan 'bhante'. Panggilan demikian adalah kurang tepat, karena samanera adalah murid/siswa yang belum mendapat upasampada, sedang 'bhante' berarti 'guru' yaitu sebutan bagi mereka yang telah mendapat upasampada. Kata samanera berasal dari kata 'samana' (pertapa) dan 'nera' (putera/kecil). Seorang samanera harus mengikuti bimbingan yang diberikan oleh guru/bhikkhu pembimbing (upajjhaya). Karena itu panggilan terhadap samanera cukup dengan kata 'samanera' yang berarti 'siswa'.***

Sumber:
Jalan Tengah No. 5/Tahun Ke I/9 Februari 1989; Yayasan Dhamma Dipa Arama; Jakarta.

Jumat, 24 Februari 2012

Inginkah Hidup Lebih Baik?


Kalau kita mau mencoba merenungkan lebih dalam, sesungguhnya semua manusia mempunyai persoalan kehidupan yang sama. Tidak peduli apakah ia beragama Buddha atau beragama lain, ia bangsa ini atau bangsa itu. Persoalan ketidakpuasan, kegagalan, kesedihan, putus asa, kejengkelan, kemarahan, kebencian, bukan hanya persoalan umat Buddha saja. Persoalan ini adalah persolan setiap orang, semua manusia. Demikian juga kerukunan, kesejukan hati, kebahagiaan, keberhasilan adalah harapan setiap orang.
Bukan saja mereka yang mempunyai cita-cita bisa hidup bahagia adalah keluarga yang harmonis, saling mengerti, bisa mengatasi kesulitan: tapi ini adalah harapan semua orang, harapan setiap orang, tidak peduli dia beragama apapun juga.
          Karena itu  sangat benar bila Sang Buddha dalam khotbahNya yang pertama dalam Kesunyataan yang pertama mengatakan bahwa: Kehidupan ini adalah dukkha. Kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan dimana kita harus berjuang dan berjuang untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Setiap orang mengakuinya walaupun tidak seterus-terang seperti Sang Buddha.
          Setiap orang, setiap agama meskipun secara tidak terus terang mengakui bahwa kehidupan ini bukanlah kenikmatan yang tertinggi. Kehidupan ini bukanlah suatu puncak, bukan suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Memang banyak orang yang sulit mengerti akan pernyataan Sang Buddha yang tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa: ‘ Kehidupan ini adalah dukkha, kehidupan ini adalah penderitaan’. Bagi mereka yang baru pertama kali belajar agama Buddha, sulit menerima pernyataan itu, bahkan orang menilai bahwa agama Buddha ini agama yang ‘pesimistis’, suatu agama yang memandang bahwa hidup ini adalah penderitaan. Tapi mau mengakui atau tidak mau mengakui, kenyataan adalah kenyataan.
          Apa yang kita perjuangkan, kita usahakan; Saudara memeluk suatu agama, berjuang dengan sungguh-sungguh, memperjuangkan agar kehidupan lebih baik, lebih teratur. Sesungguhnya mau tidak mau mengakui, kehidupan ini adalah tidak memuaskan. Kalau Saudara konsekwen, bahwa hidup ini adalah suatu puncak kebahagiaan, tentunya Saudara tidak perlu beragama lagi, tidak perlu berjuang dengan sengit, tidak perlu meningkatkan kehidupan saudara lagi, karena beranggapan kehidupan Saudara sudah baik.
          Secara langsung atau tdak langsung, setiap orang tanpa kecuali mengatakan  bahwa kehidupan ini bukan suatu tujuan, tetapi masih merupakan proses yang habis-habisan untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik, sehingga akhirnya mencapai suatu kebahagiaan sejati.
          Lalu mengapa kita harus menjalani kehidupan seperti ini, tunggang-langgang, pontang-panting, dengan segala macam suka-duka, kegagalan, keberhasilan, kekecewaan, kepuasan, dan sebagainya?
          Persoalan kehidupan yang kita jalani, kita tanggung ini sebabnya adalah karena kita ini dilahirkan. Ini adalah jawaban yang paling jitu yang diberikan oleh Sang Buddha.
          Apa sebab kita ini dilahirkan? Tidak mungkin sesuatu muncul dengan begitu saja, kalau segala sesuatu muncul dengan begitu saja tidak perlu kita bertanggung jawab.
          Kita dilahirkan karena kita terlalu cinta, kita melekat pada kehidupan kita ini. Mengapa kita bisa sampai melekat pada kehidupan kita ini?
          Karena kita semua mempuyai nafsu keinginan. Nafsu keinginan itu yang menyebabkan kita melekat, ketagihan. Kita melekat pada suasana yang kita sukai, pada orang-orang yang kita cintai, pada jasmani kita, kebahagiaan kita; kita melekat pada kehidupan ini, walaupun kita mengatakan bahwa kehidupan kita ini sungguh membuat kehidupan kita sengsara; tapi sebenarnya kita cinta pada kehidupan ini.
          Nafsu keinginan yang membuat kita melekat, melekat pada kehidupan ini sehingga pada saat kematian; kelahiran kembali akan terjadi kemudian.
          Mengapa kita sampai mempunyai nafsu keinginan, bisa timbul nafsu keinginan? Dari mana datangnya nafsu keinginan? Karena kita mempunyai perasaan, rasa itulah yang menimbulkan hawa nafsu. Timbul perasaan senang… Saudara ingin memiliki selamanya, kalau timbul perasaan tidak senang… Saudara akan menyingkirkannya habis-habisan. Hawa nafsu itulah yang membuat kita melekat pada apapun yang kita cintai, dan kemelekatan inilah yang memperpanjang proses kehidupan kita, sehingga sesudah kematian kita dilahirkan kembali.
          Apa sebab kita merasakan sesuatu? Mengapa kita merasakan ini nikmat, ini menyenangkan, itu tidak menyenangkan? Karena kita bisa kontak, kalau kita tidak bisa kontak tidak mungkin kita bisa menikmati sesuatu.
          Apa yang dimaksud dengan kontak ini,  mengapa kita bisa kontak dan dari mana datangnya kontak? Kita isa kontak karena kita memiliki enam indria. Kita punya mata, bisa melihat yang indah-indah, yang jorok, yang gemuk, yang kurus. Mata kontak dengan apa yang dilihat kemudian timbul rasa senang, rasa suka, dan kesenangan ini ingin terus dinikmati… dinikmati… dinikmati lagi… terus. Itulah nafsu keinginan dan inilah yang menyebabkan kita melekat pada kesenangan itu, pada kehidupan, sehingga menyebabkan kehidupan kita terus tersambung kembali sesudah kematian, terlahir kembali.
          Kita punya telinga bisa menikmati suara yang merdu, suara si dia, pujian, sanjungan atau celaan. Talinga kita kontak dengan bunyi kemudian timbul kesenangan, kenukmatan, dan ingin terus menikmatinya berulang-ulang, berulang-ulang, inilah nafsu keinginan dan ini menyebabkan kemelekatan yang muncul; karena mendengar, dan itulah yang menyebabkan kita dilahirkan kembali.
          Demikian juga hidung, kontak dengan apa yang bisa kita cium, ‘ini bau tengik, ini bau enak’. Mulut/lidah bisa kontak dengan apa yang kita rasakan, ‘ ini enak, ini tidak enak’; demikian pula dengan tubuh/kulit kita. Mata, telinga, hidung, mulut, tubuh dan keenam adalah pikiran kita.
          Pikiran akan kontak dengan apa saja yang bisa kita pikirkan yang menimbulkan kesenangan, kenikmatan yang terus ingin dinikmati, dinikmati lagi, ingin dilunasi, dicicipi, itu menjadikan timbulnya nafsu keinginan dan muncul kemelekatan yang akan menyambung kehidupan yang serba menyakitkan ini. Kemelekatan ini membelenggu kita, kemelekatan yang menyebakan kita tidak bebas. Saudara mungkin masih bisa bebas selama Saudara masih bisa memenuhi kemelekatan, ketagihan Saudara, tapi pada saat Saudara tidak bisa lagi mempunyai kesempatan untuk memenuhi tuntutan kemelekatan itu, saat itu Saudara akan merasakan kesengsaraan yang luar biasa. Betapa bahagaianya orang yang tidak melekat!
          Lalu apa yang menjadi persoalan utama? Berhati-hatilah, waspadalah Saudara pada saat keenam indria Saudara kontak dengan sasarannya. Kalau mata, telinga, hidung, mulut, tubuh, pikiran Saudara kontak cobalah berusaha berusaha kontak dengan wajar, melihat sebagaimana adanya dan bila pada saat kontak itu muncul, muncul kesadaran, maka Saudara akan menjadi orang yang bahagia. Kontak ini tidak akan membuahkan suatu ikatan yang baru. Inilah sesungguhnya yang seharusnya kita latih, bukan hanya setiap hari tapi setiap saat, setiap keenam indria kita kontak, karena itulah saat yang paling bahaya.
          Dalam suatu Dhammapada dikatakan, kalau ada orang yang bisa mengalahkan seribu musuh setiap hari, ia belum dapat disebut sebagai pahlawan besar, tapi bila seseorang bisa mengalahkan dirinya sendiri, barulah ia bisa disebut sebagai pahlawan yang besar.
          Mengapa kita mempunyai enam indria yang membuat kita bisa kontak dengan dunia luar sehingga kita mempunyai nafsu keinginan yang ingin terus kita puaskan sampai timbullah kemelekatan, dan kemelekatan inilah yang memperpanjang proses kehidupan kita setelah kematian?
          Ini disebabkan karena ada jasmani dan batin, sehingga keenam indria kita bisa kontak dengan sasarannya masing-masing; seandainya hanya ada jasmani tidak ada batin, tidak mungkin bisa terjadi kontak.
          Dan mengapa sampai ada jasmani dan batin? Jasmani dan batin ini muncul karena karma-karma kita yang lampau. Apa sebab kita memuat karma-karma yang tidak karuan, apa sebab kita melekat? Kalau kita telusuri lebih jauh? Akhirnya Sang Buddha menemukan jawabnya yaitu: kebodohan.
          Maka kewaspadaan akan menghantarkan kita pada kebebasan, alangkah bahagianya orang yang tidak terikat, mereka yang sudah merdeka, bebas, seperti layaknya orang yang sudah bangun diantara mereka yang masih bermimpi.
          Sering kali uraian seperti di atas ini diterjemahkan secara salah, ada yang mengatakan bahwa, apabila sudah belajar agama orang akan menjadi malas, segan mencari mata pencaharian, segan bersaing. Kalau Saudara setelah membaca uraian ini bersikap seperti itu, Saudara telah salah menterjemahkan uraian tersebut.
           Jangan terikat, jangan melekat, tidak sama dengan jangan bekerja> Jangan terikat, jangan melekat, tidak sama dengan harap Saudara menganggur sajas. Mari kita bekerja dengan giat, apakah kita sebagai kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, karyawan, wiraswastawan, selesaikan tugas kita dengan sebaik-baiknya. Mari kita membuat rumah tangga kita jauh lebih baik, lebih makmur, mari kita buat negara ini lebih maju.
          Carilah sebanyak-banyaknya, carilah dengan mata pencaharian yang baik dan benar, berusaha bagaimana produksi ini lebih banyak lagi. Tapi yang menjadi persoalan jangan terikat pada semua itu. Kalau Saudara terikat, pada saat mengalami perubahan, Saudara akan menjadi orang paling sengsara. Kerjakanlah semua itu dengan penuh kebijaksanaan.
          Kita siap maju, kita siap menjadi makmur, Saudara tidak dilarang untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dengan cara yang baik dan benar, tapi jangan terikat, jangan melekat pada apa yang Saudara dapatkan. Kalau misalnya suatu saat family, kenalan Saudara sakit, membutuhkan… Saudara harus rela melepaskan itu… bantulah mereka sedapat mungkin.
          Kita siap menjadi pemimpin, pengurus, ketua, direktur, manager, tapi jangan berkeinginan untuk terus selamanya memegangnya; suatu saat Saudara harus siap melepaskannya.
          Mari kita berjuang, selama kita masih kuat, masih sehat, sesuai dengan bidang kita masing-masing. Berjuang mati-matian, hidup hemat, tidak berfoya-foya, belajar Dhamma, membuat kehidupan ini lebih tinggi, dan jangan lupa siap melepas setiap saat.
          Sebagai umat Buddha kita harus menonjol, bukan menonjol dalam kekayaan tapi menonjol dalam hal melepaskan. Karena pada hakekatnya segala sesuatu termasuk badan jasmani ini sesungguhnya bukan milik kita, suatu saat kita harus melepaskannya untuk selama-lamanya. Inilah rahasia kehidupan kita.
          Tidak ada alasan untuk memperbesar keserakahan. Kita bekerja mati-matian, mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan cara yang benar, bukan berarti kita serakah selama apa yang kita dapatkan itu rela kita lepaskan untuk kepentingan orang banyak. Dan itulah salah satu cara untuk menaklukan diri sendiri, kalau Saudara dapat menaklukan diri sendiri, maka Saudara adalah seorang pahlawan yang besar. Pandanglah kehidupan ini sebagai mana adanya, sewajarnya, dalam proporsi yang sebenarnya.

                                                     Sumber asli:
                                                                                        Khotah Dhamma di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, 2 April 1989;
                                                                                        di sadur oleh: Nani Linda, SH.

Identitas Umat Buddha Di Abad XXI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvhuOLUMwwLvzZSaB54q2tdLj_pgS7OATtrQ1zRNHmM3gtxB3pVOXqHP-GTxEx6aoHQc32fi2lvjGyxnNMVBa17IXJvL1AT8UETAxYc7QpsQsl3a_UNhgLSzuDjDTnLA9m4iIGilvy6DuY/s1600/YM+Bhikkhu+Sri+Panyavaro+Maha+Thera.jpg

oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera
        Sudah menjadi kesepakatan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sekutu untuk mencapai kesejahteraan. Kemajuan dan perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi, Red.) menjadi tumpuan hampir semua orang untuk memerangi kemiskinan materi. Tetapi sebagai bangsa Timur yang cenderung melihat kemiskinan dalam dua dimensi, yaitu kemiskinan materi dan rohani; maka nilai-nilai keagamaan akan tetap mewarnai kehidupannya. Nilai-nilai keagamaan ini akan menghadapi kemiskinan rohani, dan pada saat yang sama memberikan nilai-nilai kemanusiaan kepada iptek. lptek memang sekutu, bukan seteru; dan juga bukan seteru agama.
        Nilai-nilai keagamaan akan menjadi penjaga agar iptek tidak menjelma menjadi kekuatan penghancur yang akan menghancurkan manusia itu sendiri, tetapi iptek mengabdi demi kesejahteraan.

Bahasa Ilmu Pengetahuan
        Kebutuhan akan ilmu pengetahuan adalah tuntutan nurani semua orang. Perkembangan dan penggunaannya merupakan fenomena yang tidak mungkin dihentikan atau dipungkiri. Ilmu pengetahuan dan juga teknologi tidak membedakan —atau mungkin tidak mempedulikan— bangsa, budaya, dan agama. Ia dikembangkan dan digunakan oleh semuanya. Ilmu pengetahuan berbicara dengan bahasa yang sama bagi semua orang, yaitu: penalaran sehat, penelitian, kebenaran, dan kebebasan. Ia berbicara dengan menumbuhkan pengertian, bukan keharusan dan juga bukan dengan ancaman.
        Yang menjadi ganjalan, dunia ilmu pengetahuan masih sulit menerima norma-norma agama yang tidak mudah dicerna oleh bahasa mereka. Sama sekali tidak bijaksana bila hal ini diatasi hanya dengan pernyataan bahwa iman memang bukan ilmu. Atau, keyakinan itu memang tidak masuk akal.
        Dalam dasawarsa terakhir abad XX ini para pemuka agama seharusnya tidak terlambat meletakkan jembatan emas antara iman dan ilmu. Kita memang sedikit pun tidak akan mengubah nilai-nilai iman sebagai kebenaran hakiki yang telah diberikan oleh agama, tetapi era ini mulai menuntut kita untuk menanamkan iman itu dengan bahasa ilmu. Manusia Timur di abad XXI nanti adalah manusia modern yang sepenuhnya harus mengembangkan dan menggunakan iptek, dan sepenuhnya beriman sesuai dengan ajaran agama.
        Buddha Gotama sebagai salah satu pendiri agama —penemu Dharma— telah meletakkan jembatan antara iman dan akal itu. Dharma ditemukan dengan pencapaian Penerangan Sempurna (Bodhi), bukan dengan akal. Tetapi, iman terhadap Dharma harus dibangkitkan dengan pengertian yang menggunakan penalaran sehat. Dengan demikian tidak ada alasan bagi dunia ilmu pengetahuan untuk menyatakan bahwa agama adalah penghambat ilmu-ilmu sekuler.

Nilai-nilai Universal
        Para rohaniwan harus berusaha mengetengahkan nilai-nilai keagamaan dengan bahasa ilmu bagi semuanya. Manusia modern akan melihat bahwa kemanusiaan, kebaikan dan kebenaran bisa didapat dari semuanya dan menjadi milik bersama. Sebagaimana ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan hanya oleh manusia tertentu, dan untuk manusia tertentu pula; maka agama yang mempunyai nilai-nilai universal itu harus mampu bertemu dengan ilmu pengetahuan dalam keuniversalannya.
        Dharma tidak menuntut umat Buddha harus menunjukkan identitasnya dengan upacara atau tatacara agamis. Tetapi identitas yang dipunyai adalah identitas menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya sebari-hari dan —sudah tentu— dalam pandangan hidupnya.
        Nilai-nilai keagamaan yang ditunjukkan Dharma itu adalah nilai-nilai universal. Seorang umat Buddha akan melihat bahwa nilai-nilai itu terdapat juga di semua agama. Hal ini bukan karena toleransi atau pencampur-adukkan, atau sinkretisme; tetapi memang merupakan salah satu keyakinan bahwa agama-agama mempunyai nilai-nilai universal. Nilai-nilai itu tidak mungkin ditinggalkan oleh manusia modern. Karena dengan meninggalkan nilai-nilai itu mereka akan kehilangan nilai-nilai yang sangat berharga bagi kehidupannya.
        Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi para pemuka agama untuk mampu mengetengahkan dengan penuh penalaran dan juga penuh kebebasan akan nilai-nilai: cinta-kasih, ketulusan, pengorbanan, kebersamaan, kejujuran, keuletan, kesabaran, ketabahan, kebaikan, keharmonian, kedamaian, serta kebahagiaan.

Menjadi Umat Dharma
        Bagi umat Buddha bukannya menjadi kebanggaan —apalagi tujuan— mengenalkan diri atau disebut sebagai seorang umat Buddha. Ia tidak sekadar mengenalkan diri atau diketahui sebagai seorang umat Buddha, tetapi ia harus selalu menerapkan identitas Dharma dalam kehidupannya.
        Umat Buddha modern mungkin tidak banyak membutuhkan upacara lagi, karena memang hal-hal itu tidak diharuskan oleh Dharma. Tetapi ia mengerti Dharma dengan baik. Ia beriman kepada Tuhan dengan pengertian benar (samma ditthi). Ia mempunyai waktu untuk bermeditasi. Ia hidup dengan nilai-nilai Dharma sebagai seorang warga negara di tengah-tengah masyarakat. Kehadirannya diterima dengan hangat oleh semua umat beragama. Manusia modern ini —mungkin— hanya akan dikenal sebagai umat Dharma atau umat Tuhan.***

Sumber:
BUDDHA CAKKHU No.24/XIII/92; Yayasan Dhammadipa Arama.