Check out the Latest Articles:

Minggu, 29 Mei 2011

APAKAH KAMMA ITU ?

APAKAH KAMMA ITU ?

“Kehendak itu adalah Kamma”

Angguttara Nikaya

Kamma

Istilah Pali, Kamma, secara harafiah berarti perbuatan atau tidakan. Segala macam tindakan yang disengaja baik batin, ucapan maupun jasmani dipandang sebagai Kamma. Ia mencakup semua yang ada dalam istilah ini,”Pikiran, perkataan, dan tindakan.” Secara umum, semua perbuatan baik dan buruk membentuk Kamma. Dengan pengertian umum Kamma berarti semua kehendak baik dan buruk (kusala-akusala cetana). Tindakan yang dengan tak sadar, tak disengaja, atau tak disadari, walaupun secara teknis merupakan perbuatan, tindak membentuk Kamma, karena kehendak, faktor yang terpenting dalam menentukan Kamma, tidak ada1.

Sang Buddha berkata, ”Aku nyatakan O para Bhikkhu, bahwa kehendak(cetana) itulah Kamma, dengan kehendak seseorang bertindak melalui badan dan jasmani, ucapan, dan pikiran.”

Setiap perbuatan manusia yang dilandasi kehendak, kecuali oleh Buddha dan Arahat, disebut Kamma. Ada kekecualiaan dalam kasus para Buddha dan Arahat, karena mereka telah melampaui baik maupun buruk. Mereka telah menghancurkan baik ketidak tahuaan maupun nafsu keinginan pribadi tak lagi tumbuhg,” sepeti tercantum dalam Ratana Sutta. Ini bukan berarti para Buddha dan Arahat itu pasif. Mereka dengan tak menegenal lelah aktif berkerja untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sejati semua pihak. Perbuatan mereka, yang biasa diterima sebagai baik atau bermoral, tidak memberikan kekuatan untuk mereka sendiri. Dengan memahami segala sesuatu sebagai apa adanya, mereka akhirnya telah menghancurkan belenggu duniawi mereka, rantai sebab dan akibat.

Beberapa agama menyatakan ketidak-samaan ini karena Kamma, tetapi berbeda dengan agama Buddha, ketika mereka menyatakan bahwa tindakan yang tak disengaja pun harus dipandang sebagai Kamma.

Menurut mereka, “ secara tak sengaja membunuh ibunya sendiri merupakan satu kejahatan yang mengerikan. Orang yang membunuh atau yang dalam satu atau cara lain mengganggu mahkluk hidup tanpa sengaja, kesalahannya tidaklah lebih sedikit, bagaikan orang yang memegang api pasti terbakar.”2

Teori yang sangat mengherankan ini tidak diragukan lagi membawa kemustahilan.

“Si benih dan ibunya keduanya bersalah, menjadikan satu sama lain menderita. Lebih lanjut persamaan dengan api secara akal menyesatkan. Misalnya, seorang tak akan bersalah jika ia memerintahkan orang lain membunuh, karena orang tak akan terbakar jika meminta orang lain untuk meletakkan tangannya dalam api. Lebih lanjut tindakan yang tak disengaja akan lebih jelek akibatnya jika dibandingkan dengan tindakan salah yang disengaja, karena menurut perbandingan, orang yang menyentuh api tanpa mengetahui bahwa ia bersifat membakar mungkin terluka lebih parah dari pada orang yang mengetahuinya.

Dalam proses Kamma unsur terpenting adalah pikiran. Semua ucapan dan perbuatan kita di bentuk oleh pikiran atau kesadaran yang kita rasakan pada saat itu. “Jika pikiran tidak terjaga, tindakan jasmani tidak jterjaga, ucapan juga tak terjaga, buah pikiran juga tak terjaga. Jika pikiran terjaga, tindakan jasmani terjaga, ucapan juga terjaga, dan pikiran juga terjaga.”3

“Oleh pikiran dunia dikendalikan, oleh pikiran ia dibawa : dan setiap orang memiliki kedaulatan pikiran.”

“Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda (mengikuti) luku lembu penghela.”4

“Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran bersih, kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah terpisahkan.”5

Pikiran membatasi Kamma.

Kamma tidak harus berarti perbuatan masa lalu. Ia mencakup baik perbuatan masa lalu maupun saat ini. Jadi, pada satu sisi, kita merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita akan menerima hasil dari apa ynag telah kita lakukan, kita akan menerima hasil dari apa yang kita lakukan saat ini. Pada sisi lain, harus ditambahkan kita tidak seluruhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan, kita tidak sepenuhnya merupakan hasil dari apa yang telah kita lakukan saat ini. Saat ini tidak diragukan lagi adalah buah dari masa lalu dan asal-usul dari masa yang akan datang, tetapi saat ini tidak selalu merupakan petunjuk, baik dari masa lalu maupun masa yang akan datang – begitu rumit proses Kamma. Misalnya, seorang penjahat hari ini, dapat menjadi seorang mulia besok, seorang yang baik kemarin dapat menjadi seorang kejam hari ini.

Ini merupakan ajaran Kamma yang disampaikan seorang Ibu pada anaknya ketika ia berkata, “Berbuatlah baik dan kamu akan bahagia serta kami mencintaimu. Tetapi jika kamu nakal, kamu tak akan bahagia dan kami tidak akan mencintaimu.”

Suka menarik suka. Kebaikan mendapat kebaikan. Kejahatan mendapat kejahatan. Inilah hukum Kamma.

Secara ringkas Kamma merupakan hukum sebab dan akibat dalam dunia etika, tau beberapa orang barat cenderung mengatakan, “pengaruh perbuatan.”

Kamma dan Vipaka

Kamma adala perbuatan, dan Vipaka, buah atau hasil, merupakan reaksinya. Sama seperti setiap obyek ditemani bayangan, demikian pula setiap tindakan berkehendak pasti ditemani oleh akibat yang sesuai. Kamma seperti benih. Buah yang tumbuh dari pohon, merupakan Vipaka, akibat atau hasil. Karena Kamma bisa baik atau buruk, maka Vipaka, buah bisa baik atau buruk. Karena Kammaadalah mental, demikian pula Vipaka juga mental; ia dirasakan sebagai kebahagiaan atau berkah, ketidak-bahagiaan atau penderitaan sesuai dengan sifat benih Kamma. Anisamsa merupakan keuntungan keadaan materi yang seiring, seperti kesejahteraan, kesehatan dan usia panjang.

Jika Vipaka diikuti dengan keadaan materi yan tidak menguntukngkan, mereka dikenal sebagai adinava (akibat buruk), dan muncul sebagai kemiskinan, kejelekan, penyakit, pendek usia dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan Kamma adalah bentuk kesadaran duniawi yang baik dan buruk (kusala-akusala lokiya citta), serta Vipaka berarti hasil bentuk kesadaran duniawi (lokiya vipakacitta).

Menurut Abhidhamma6, Kamma membentuk 12 macam kesadaran buruk, 8 macam kesadaran, baik berkenaan dengan Alam Keindriaan (Kamavacara), 5 macam kesadaran baik, berkenaan dengan Alam Berbentuk (Rupavacara), dan 4 macam kesadaran baik, berkenaan dengan Alam Tak Berbentuk (Arupavacara).

Delapan macam kesadaran diatas duniawi (lokuttara) tidak dipandang sebagai Kamma, karena mereka cenderung mengikis akar Kamma. Pada mereka lebih banyak unsur kebijaksanaan (panna) sedangkan pada duniawi diliputi kehendak (cetana).

Sembilan macam kesadaran baik berkenan dengan Alam Berbentuk dan Alam Tidak Berbentuk merupakan 5 Rupavacara dan 4 Arupavacara Jhana (kegembiraan yang amat sangat) yang benar-benar bersifat mental murni.

Ucapan dan perbuatan disebabkan oleh 20 macam kesadaran duniawi. Tindakan verbal dilakukan oleh pikiran melalui ucapan. Tindakan jasmani dilakukan oleh pikiran melalui alat-alat tubuh. Tindakan mentalmurni tidak mempunyai alat kecuali pikiran.

Kedua puluh sembilan7 macam kesadaran ini disebut Kamma karena mereka memiliki kekuatan untuk memberikan akibat yang sesuai dengan sendirinya, bebas dari unsur luar apapun.

Kesadaran semacam itu yang dirasakan oleh seseorang sebagai akibat tak terelakkan dari pikiran baik dan buruknya, disebut hasil kesadaran berkenaan dengan Alam Keindriyaan. 5 macam hasil kesadaran berkenaan dengan Alam Tak Berbentuk disebut Vipaka atau buah Kamma.

Yang kita taburkan, begitulah akan kita petik di suatu tempat dan pada saat dalam kehidupan ini taua dalam kelahiran yang akan datang. Apa yang kita petik saat ini adalah apa yang telah kita taburkan baik saat ini maupun masa lampau.

Samyutta Nikaya8 menyebutkan,

“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan,

Begitulah buah yang Anda petik darinya.

Pembuat kebaikan (akan mengumpulkan) kebaikan,

Pembuat kekejaman, (memetik) kekejaman.

Taburkan benih, dan tanamlah dengan baik.

Anda akan menikmati buah darinya.”

Kamma merupakan hukum bagi dirinya yang bekerja di lapangan sendiri, tanpa campur tangan kekuasaan-pengatur yang manapun.

Didalam Kamma ada kecenderungan menghasilkan akibat yang sesuai. Sebab menghasilkan akibat-akibat menerangkan sebab. Biji menghasilkan buah, buah menerangkan biji, begitulah hubungan mereka. Demikianpula Kamma dan akibatnya.

“Akibat telah berkembang dalam sebabnya.”

Kebahagiaan dan penderitaan, yang biasa dialami umat manusia, merupakan akibat tak terelakkkan dari sebab. Dari sudut pandangan Buddhis mereka bukanlah hadiah dan hukuman yang diberikan oelh kekuatan istimewa, Mahatahu yang mengatur, untuk jiwa yang telah melakukan kebaikan atau kejahatan. Mereka berusaha menjelaskan segala sesuati dalam satu kehidupan sementara ini, serta satu kehidupan abadi pada masa yang akan datang, melupakan masa lalu , mungkin mempercayai pengadilan setelah kematian, dan mungkin memandang kebahagiaan dan penderitaan saat ini sebagai berkah dan kutukan yang di anugerah kan pada kreasinya oleh Dewa Pengatur yang Mahatahu dan Maha kuasa, yang duduk di surga diatas, yang mengawasi takdir kelompok manusia, Agama Buddha yang dengan tegas menolak ciptaan jiwa abadi yang semau-maunya, percaya pada hukum alam dan keadilan yang tak dapat dihentikan baik oleh Dewa Maha Kuasa maupun seorang Buddha yang penuh kasih sayang. Menurut hukum alam ini, tindakan membawa hadiah dan hukuman sendiri bagi pelaku, tidak menjadi persoalan apakah keadilan manusia menerima atau tidak.

Ada orang memperdebatkan hal-hal kecil begini, ”Jadi kalian umat Buddha juga memberi candu ajaran Kamma kepada yang miskin dengan mengatakan :

“Kamu dilahirkan miskin dalam kehidupan ini karena Kamma jahatmu yang lampau. Ia dilahirkan kaya karena Kamma baiknya yang lalu. Jadi puaslah dengan kesadaranmu, tetapi berbuatlah baik untuk menjadi kaya dalam kehidupannu yang akan datang.

“Kamu tertindas sekarang karena Kamma burukmu yang lalu. Itulah takdirmu. Bersabarlah dan tahanlah penderitaannmu dengan tenang. Berbuatlah baik sekarang. Kamu tentu dapat lebih baik dan bahagia dalam kehidupan setelah kematian ini.”

Ajaran Kamma Buddhis tidak mengajarkan pandangan fatalis begitu. Ataupun mempertahankan pengadilan setelah kematian. Sang Buddha yang penuh kasih sayang, yang tak mempunyai alasan rahasia pribadi. Tidak mengajarkan hukum Kamma untuk melindungi yang kaya dan menyenangkan yang miskin dengan menjanjikan kebahagiaan semu dalam kehidupan berikutnya.

Menurut ajaran Kamma Buddhis, seseorang tidak selalu dipaksa oleh keharusan kuat, karena Kamma bukanlah nasib atau takdir yang diberikan untuk kita oleh kekuatan tak dikenal yang misterius dengan tanpa daya kita harus menyerahkan diri kepadanya. Ia adalah perbuatan sendiri yang bereaksi pada diri sendiri yang bereaksi pada diri sendiri, dan oleh karena itu seseorang mempunyai kekuatan untuk membelokkannya, bergantung pada dirinya sendiri.

Sebab Kamma

Ketidak-tahuan (avijja) atau tidak memahami segala sesuatu sebagai mereka adanya, merupakan sebab utama. Bergantung pada ketidak-tahuaan timbul kegiatan Kamma (avijja paccaya samkhara).

Merupakan hal yang dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Paticca Samuppada (sebab musabab yang saling bergantungan).

Bergabung dengan ketidak-tahuan adalah napsu keinginan (tanha), akar Kamma yang lain. Perbuatan jahat dibentuk oleh kedua sebab ini. Semua perbuatan baik seornag duniawi (puthujjana), walaupun berhubungan dengan tiga akar kebajikan yaitu kedermawanan (alobha), kehendak (adosa) dan pengetahuan (amoha), tetap dipandang sebagai Kamma karena 2 akar ketidak-tahuan dan napsu keinginan melekat dalam dirinya. Jenis-jenis yang baik dari Jalan Kesadaran (maggacitta) diatas duniawi tidak dipandang sebagai Kamma karena mereka cenderung untuk menghacurkan kedua akar sebab.

Pelaku Kamma

Siapakah pelaku Kamma? Siapakah yang memetik buah Kamma?

“Apakah ia sejenis pertumbuhan jiwa?”

Menjawab pertanyaan yang halus ini, Y.A. Bhikkhu Budhaghosa menulis dalam Visuddhi Magga,

“Tak ada pelaku yang menjalankan perbuatan,

Ataupun seseorang merasakan buahnya,

Hanyalah suku cadang penunjang yang bergulir terus,

Inilah sesungguhnya yang betul.”9

Menurut agama Buddha ada dua kenyataan-terlihat dan mutlak. Kenyataan yang terlihat adalah kebenaran umum yang sesuai dengan kebiasaan (sammuti sacca). Kenyataan yang mutlak adalah kebenaran abstrak (paramattha sacca).

Misalnya, meja yang kita lihat merupakan kenyataan yang terlihat; dalam pengertian mutlak, meja disebut terdiri dari kekuatan sifat.

Untuk tujuan umum seorang ilmuwan akan menggunakan kata air, tetapi dalam laboratorium ia akan menggunakan H2O.

Sama halnya dengan tujuan konvensional perkataan pria, wanita, mahkluk, diri sendiri dan sebagainya, dipergunakan. Bentuk yang selalu mengalir yang disebut itu, terdiri dari perwujudan batin-jasmani yang terus-menerus berubah, tidak tetap sama, bahkan dalam 2 saat yang berturutan.

Oleh karena itu umat Buddha tidak percaya pada kesatuan yang tak berubah, tidak pula pada seorang pelaku kecuali perbuatan itu sendiri, tidak juga pada pengamat kecuali pengamat itu sendiri, juga tidak apada satu pelaku kesadaran di bailk bentuk kesadaran.

Lalu siapakah pelaku Kamma? Siapakah yang merasakan akibatnya?

Kehendak atau keinginan (cetana) itu sendirilah sipelaku.

Perasaan (vedana) itulah sendiri si penerima buah perbuatan. Kecuali keadaan murni mental (suddhakamma) ini tidaklah ada seorangpun yang menabur dan tidak ada seorangpun yang memetik.

Kata Y.A. Bhikkhu Budhagosa, tepat seperti dalam unsur materi yang diberi nama pohon, segera kapan pun setelah buah muncul, ia kemudian dikatakan “pohon menghasilkan buah” atau ‘jadi pohon itu berbuah’, demikian juga dalam hal ‘kelompok kehidupan’ (khandha) yang ada pada nama Dewa dan Manusia, jika kapanpun hasil kebahagiaan atau penderitaan muncul, lalu dikatakan,” bahwa Dewa atau Manusia bahagia atau menderita.9

Dalam hal ini umat Buddha sependapat dengan Prof. William James, tidak seperti Descartes, ketika ia menyatakan:

“Buah pikiran itu sendirilah si pemikir.”10

Dimanakah Kamma?

“Disimpan dalam jiwa,” tulis seseorang psiko-analisis tertentu,” tetapi biasanya tidak dapat dicapai dan hanya biasa dijangkauoleh beberapa orang saja, adalah seluruh catatan tanpa kecuali, dari setiap pengalaman yang sudah dilalui seseorang, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima.

Pikiran bawah sadar bukan hanya suatu catatan pengalaman milik seseorang yang tak dapat dihapus tetapi juga menerima kesan awal dan kecenderungan, yang jauh dari pada dikuasai seperti anggapan orang terhadap mereka, dalam manusia beradab aktif secara di bawah sadar yang mungkin muncul dengan kekuatan yang membingungkan pada saat yang tidak diharapkan.”

Seorang umat Buddha akan membuat pernyataan senada dengan perubahan penting. Tidak disimpan dalam jiwa manapun, karena tidak ada bukti tempat simpanan atau gudang semacam itu dalam mesin manusia yang rumit yang selalu berubah, tetapi bergantung pada kesinambungan atau aliran batin dan jasmani setiap pengalaman dari apa yang disebut manusia telah dilewati, setiap pengaruh dirasakan, setiap kesan diterima, setiap ciri khas-rohani manusia atau jahat dikembangkan. Secara ringkas seluruh kekuatan Kamma bergantung pada aliran batin yang selalu bergerak (citta santati) yang selalu mewujudkan diri dalam berbagai perwujudan pada saat muncul kesempatan.

“Dimanakah, Y.A. Guru, Kamma itu?” Raja Milinda bertanya kepada Y.A. Nagasena.

“O, Maharaja,” jawab Y.A. Bhikkhu Nagasena,” Kamma tidak dapat dikatakan, disimpan di suatu tempat dalam kesadaran yang mengalir atau pada bagian tubuh ini, tetapi bergantung pada pemikiran dan materi ia bersandar untuk mewujudkan diri pada saat yang tepat, seperti mangga tak dapat dikatakan disimpan di suatu tempat dalam pohon mangga, tetapi bergantung pada pohon mangga tempat mereka berbuah pada musim yang tepat.”11

Angin maupun api tidalah disimpan dalam tempat tertentu, demikian pula Kamma tidak disimpan dimanapun baik di dalam atau di luar tubuh.

Kamma merupakan kekuatan pribadi, dan dipancarkan dari satu kehidupan pada yang berikutnya. Ia memainkan peran penting dalam membentuk sifat dan menerangkan perwujudan mengagumkan para orang luar biasa, bayi ajaib dan sebagaianya. Pemahaman ajaran ini dengan jelas sangat penting demi kesejahteraan dunia.

Catatan :

1. Anguttara Nikaya III, 415; The expositor, bagian I,117; Atthasalini halaman 88.

2. Lihat Poussin, The Way to Nirvana, halaman 68.

3. Attasalini halaman 68; The Expositor, Bag. I halaman 91.

4. Dhammapada V.1

5. Dhammapada V.2

6. LIhat Compendium of Philosophy,-Abhidhammattha Sangaha, Bab. I; Manual of Abhidhamma, Bab I.

7. 20+5+4=29

8. Bag I, halaman 227; Kindred Sayings, bagian I halaman 293.

9. Paket II, halaman 602. Lihat Warren, Buddhism in Translation, halaman 248; The Path of Purity, iii halaman 728; Kammassa Karako Natthi – Vipakassa Ca Vedako; Suddhadhamma pavattanti-evetam samma dassanam.

10. Psychology, halaman 216.

11. Lihat Visuddhi magga, bab XVII.

Catatan ini disadur dari Buku Sang Buddha dan Ajaran-AjaranNya Bagian I oleh Alm.Ven NArada Mahathera, Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama, Jln Terusan Lembang 59 D Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar