Check out the Latest Articles:

Senin, 30 Mei 2011

KEBAJIKAN-KEBAJIKAN YANG PERLU DILAKUKAN (KUSALA DHAMMA)

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US ZH-CN X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

KEBAJIKAN-KEBAJIKAN YG PERLU DILAKUKAN (KUSALA DHAMMA)

&

Sepuluh (10)

Perenungan Pâramitâ (Buddhavaæsa 6)

April, 18. 2007. Jayaratano Bhikkhu

*Apabila seseorang berbuat baik, hendaklah ia mengulang-ulang perbuatannya itu dan membuat hatinya bergembira dalam perbuatannya itu. Sungguh membahagiakan akibat dari memupuk kebajikan.

*Perbuatan memberi (berdana) adalah langkah awal yang menjadi landasan dasar bagi semua jenis kebajikan lainnya, untuk berkembang ke arah tujuan yang luhur. Ada tiga faktor yang menentukan nilai kebajikan dalam berdana: 1. niat atau motivasi dari si pemberi dana, 2. tingkat kemurnian batin dari si penerima dana, 3. objek yang didanakan.

*Siapapun yg menghalangi dan menghambat niat orang lain untuk berdana berarti merugikan tiga pihak sekaligus yaitu si pemberi dana, si penerima dana dan dirinya sendiri. Si pemberi dana kehilangan kesempatan melakukan perbuatan baik, si penerima dana kehilangan kesempatan mendapatkan manfaat dari dana yang batal diberikan, si penghalang atau penghambat akan menerima buah penderitaan yg sesuai dgn benih perbuatan buruk yg merugikan itu.

*Meskipun seseorang dengan hati yang sujud dan tulus memberikan dan yang tertinggi, nilai kebajikan akan lebih besar bila ia mampu memegang teguh dan menjaga kemurnian moralitasnya yaitu menahan diri dari tindakan membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan (mencuri), perbuatan asusila, berkata dusta, dan mempergunakan obat atau zat yang melemahkan kesadaran (mabuk). Selanjutnya, meskipun seseorang mampu mengembangkan dan memancarkan cinta kasih universal, tanpa pamrih, tanpa diskriminasi, tanpa batas kepada semua makhluk di seluruh alam semesta. Selanjutnya, meskipun seseorang mengembangkan cinta kasih universal dalam batinnya, nilai kebajikan akan lebih besar apabila ia mampu merenungkan hakikat dari “KETIDAKKEKALAN SEGALA SESUATU” walaupun hanya untuk sesaat saja.

*Suatu persembahan atau pemberian menjadi murni karena dimurnikan oleh si pemberi sendiri apabila si pemberi itu luhur; menjadi murni karena dimurnikan oleh si penerima apabila si penerima itu luhur; menjadi murni karena dimurnikan oleh si pemberi dan penerima apabila keduanya luhur; dan sebaliknya tidak menjadi murni apabila keduanya tidak luhur.

*Delapan motivasi (niat) berdana:

1. memberi dengan kejengkelan, sbg cara menyinggung/menghina si penerima,

2. memberi karena dilandasi ketakutan,

3. memberi sbg bentuk membalas kebaikan yg pernah diterima sebelumnya,

4. memberi dengan harapan untuk memperoleh bantuan serupa di masa mendatang,

5. memberi dengan anggapan bahwa ini adalah perbuatan yang baik,

6. memberi dengan dorongan pikiran, “Aku memasak, sedangkan mereka tidak memasak. Tidaklah pantas bila aku yang memasak tidak memberi kepada mereka yang tidak memasak,”

7. memberi demi mendapatkan reputasi yang baik,

8. memberi dalam upaya melatih batin mengikis keserakahan, kekikiran dan egoisme.

Ada juga motivasi memberi yang didasarkan pada niat jahat. Ada juga yang memberi sebagai bentuk tradisi keluarga yang sudah berjalan lama. Ada juga yang memberi dengan keinginan agar terlahir di alam surga setelah kematian. Dari semua motivasi, dinyatakan bahwa yang terbaik adalah motivasi dalam upaya melatih diri mengikis kekotoran batin yaitu keserakahan (lobha).

*Moralitas adalah pondasi dasar kehidupan harmonis dgn manusia lain, antara manusia dgn makhluk lain dan antara manusia dgn dirinya sendiri.

*Seseorang yang menikmati sendiri apa yang enak dan memberikan apa yang tidak enak kepada orang lain adalah pendana yang seperti budak bagi pemberian yang dia serahkan. Orang yang mendanakan apa yang sama enaknya dengan yang dinikmatinya sendiri adalah orang yang seperti sahabat bagi pemberiannya itu. Orang yang berpuas diri dengan apapun yang dimilikinya tetapi memberikan yang enak bagi orang lain adalah pendana yg agung. Dialah seorang penguasa atas dana yg diberikannya itu.

*Seorang pendana yang mulia adalah orang yang berbahagia sebelum, selama dan sesudah memberikan dana. Sebelum berdana, ia berbahagia menantikan kesempatan melatih diri mengikis kekikiran. Selama berdana, ia berbahagia karena sedang memberikan manfaat kepada si penerima dana. Sesudah berdana, ia berbahagia dan puas hati karena telah melakukan perbuatan baik.

*Dana selayaknya diberikan; dengan sedemikian sehingga si penerima tidak merasa direndahkan atau dihina. Dengan pertimbangan yang sesuai dan dengan rasa hormat. Dengan tangannya sendiri. Barang-barang yang digunakan sebagai alat untuk membunuh atau menyakiti orang lain dan makhluk lain seperti senjata, racun, jala dan perangkap seharusnya tidak didanakan karena menyebabkan penderitaan, demikian pula dengan zat-zat yang memabukkan yang dapat merusak fisik dan mental makhluk lain.

*Jika di dalam menjalani kehidupan yang benar, seseorang hidup dengan sangat sederhana, menopang keluarganya sesuai dengan sarananya, tetapi ia tetap menganggap penting berdana walaupun sumbernya terbatas, maka kedermawanannya berharga lebih dari seribu pengorbanan.

*Berdana dengan keyakinan dan pemahaman yang benar akan hukum sebab akibat akan menghasilkan kekayaan dan keelokan. Berdana dengan disertai pemilihan objek dana yang tepat, seseorang akan memperoleh anak, istri, pegawai dan pelayan yang patuh, tahu tugas dan penuh pengertian. Berdana pada saat yang sesuai, seseorang bukan hanya akan memperoleh kekayaan tetapi juga terpenuhinya kebutuhan pada waktunya. Memberikan dana dengan niat tulus membantu orang lain akan menghasilkan kekayaan serta kecenderungan untuk menikmati kesenangan indria yang terbaik. Dengan memberikan dana tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain, seseorang akan terhindar dari mara bahaya.

*Bahkan membuang air bekas mencuci piring (alat makan) yang terdapat sisa-sisa makanan, sudah merupakan tindakan berjasa apabila diiringi dengan pikiran yang dermawan; “Semoga partikel-partikel makanan dalam air bekas cucian ini bisa bermanfaat bagi makhluk-makhluk yang dapat memakannya.” Jika demikian halnya maka betapa jauh lebih berjasanya memberi makan kepada manusia. Apalagi bila si penerima bukan hanya sekedar manusia biasa, tetapi manusia bermoral tinggi, maka manfaatnya menjadi berlipat ganda. Selanjutnya bila si penerima merupakan manusia luhur yang telah mencapai kesucian dengan membasmi kekotoran batin (kilesa) yaitu keserakahan, kebencian dan kegelapan batin, maka manfaatnya menjadi tidak ternilai dan tak terukur.

*Janganlah meremahkan perbuatan baik, dengan berpikir, “Pahala dari jasa kebajikan tidak akan datang kepada saya.” Sesungguhnya, setetes demi setetes air yang terus menerus jatuh bahkan dapat mengisi penuh sebuah tempayan. Sebagaimana para bijaksana, sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dgn jasa kebajikan.

*10 Cara menghasilkan jasa kebajikan :

1. dengan berdana atau memberi

2. dengan menjaga moralitas

3. dengan melatih memurnikan batin

4. dengan menghormat dan menghargai

5. dengan membantu, menolong dan

melayani

6. dengan mengajak makhluk lain

berbahagia (muditacitta) atas jasa

kebajikan yang telah dilakukan

7. dengan turut bergembira atas jasa

kebajikan orang lain (anumodana)

8. dengan menunjukkan Jalan Yang Benar

9. dengan mendengarkan Ajaran Yg Benar

10.dengan meluruskan pandangan keliru

Orang/pihak lain.

Sepuluh Perenungan Pāramitā (Buddhavaæsa 6)

1. Dāna : Semoga saya dermawan dan suka menolong sesama.

2. Sīla : Semoga saya disiplin, sopan santun dan berbudi pekerti halus. Semoga saya bersih dalam berusaha. Semoga pikiran, perkataan dan perbuatan jasmani ku bersih dan jujur.

3. Nekkhama : Semoga saya tidak hanya mengingat keuntungan diri sendiri atau kepunyaan diri sendiri saja tetapi semoga saya ingat juga kepada kepentingan dan kepunyaan orang lain.

4. Paññā : Semoga saya cerdas, bijaksana, dapat melihat semua hal

sebagaimana adanya dalam keadaan yang sebenarnya. Semoga saya memiliki

pri-kebenaran serta dapat memimpin orang lain dari kegelapan dan

kebodohan menuju penerangan.

5. Viriya : Semoga saya bersemangat, bertenaga, berdaya upaya, pantang

mundur. Semoga saya rajin bekerja sampai dengan tujuan. Semoga saya tidak

takut menempuh bahaya, berani menghadapi segala rintangan. Semoga saya

dapat membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan dengan sebaik-

baiknya, sebisa-bisanya dan dengan memuaskan.

6. Khanti : Semoga saya selalu sabar, dapat menahan kritikan dan menanggung

beban orang lain. Semoga saya dapat bertoleransi, melihat keindahan dan

kebaikan di dalam segala hal.

7.Sacca : Semoga saya suka berterus terang, selalu terbuka, jujur dan tidak

menutupi kesalahan maupun kebenaran. Semoga saya tidak menyimpang dari

jalan kebenaran.

8. Adiööhāna : Semoga saya berteguh hati, tidak mudah goyah dalam pendirian

dan kemauan. Semoga saya dapat berkuat hati bagai gajah, lembut bagai

selembar helai bunga, keras bagai batu karang serta berpendirian luhur.

9. Mettā : Semoga saya baik hati, suka bersahabat, simpatik dan penuh kasih

sayang pada semua makhluk, pada siapa pu dan pada apa pun.

10. Upekkhā : Semoga saya selalu tenang, tentram tidak cepat tersinggung,

penuh pengertian, berpikir luwes dan seimbang tidak berat sebelah, adil pada

apa pun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar