Check out the Latest Articles:

Jumat, 24 Februari 2012

Berkah Kehidupan



oleh: YM Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera
       


 Kalau suatu keluarga sudah lama belum mempunyai putra, kemudian lahir seorang putra, maka keluarga ini merasa mendapat berkah. Tetapi, ada suatu keluarga yang lain, yang merasa sial, karena anak pertamanya adalah wanita. Mereka berpendapat anak wanita hanya ikut-ikutan saja. Kalau nanti suami masuk sorga, sang istri ikut; kalau masuk neraka tersangkut. wanita harganya hanya separo laki-laki. Adapula suatu keluarga, yang meskipun anak pertamanya wanita, tetapi karena anaknya lahir pada hari dan bulan yang baik, maka mereka merasa anak tersebut adalah berkah bagi hidupnya. Menurut keluarga ini, anak yang lahir pada hari dan bulan baik, meskipun wanita, kelak pasti mampu mengangkat derajat orang tuanya.
Berlainan dengan hal tersbut di atas, berkah akan menjadi lain bila terjadi di dunia keuntungan. Suatu hari pedagang sayur merasa mendapatkan keuntungan. Suatu hari pedagang sayur merasa mendapatkan berkah, karena hari itu keuntungan Rp. 5.000,- sudah masuk kedalam kantong. Keuntungan ini dua kali lipat bila dibandingkan pada hari-hari biasa. Tetapi, si pedagang roti hari itu merasa sial. Baginya keuntungan bersih Rp. 5.000,- sehari hampir tidak pernah dialami. Paling kecil Rp. 25.000,- sehari. Sebenarnya, keduanya mendapatkan keuntungan dengan jumlah yang sama, tetapi yang pertama merasa mendapatkan berkah, sedangkan yang kedua merasa sial.
Demikian juga umat Buddha. Bila umat Buddha mengikuti upacara, puja bakti, atau peringatan-peringatan hari suci lainnya, akan merasa menerima berkah kalau mendapat percikan air paritta. Apakah benar air paritta adalah berkah, dan mereka yang tidak hadir atau tidak mendapatkan air paritat adalah tidak mendapatkan berkah? Sesungguhnya persoalan berkah ini sudah ada sejak zaman sang Buddha. Pernah masyarakat pada waktu itu memberikan tentang berkah. Kelompok yang satu mempunyai pandangan lain dengan kelompok yang lain. Orang yang satu mempunyai pengertian berbeda dengan yang lainnya. Dikisahkan bahwa persolan berkah yang sesungguhnya itu menjadi ramai dibicarakan sampai 12 tahun lamanya. Tidak ada kesepakatan yang dicapai. Sampai-sampai di dalam kitab suci dicatat, persoalan berkah masuk juga ke alam dewa. Mereka memperdebatkan juga dengan sengit, apakah berkah itu?
Akhirnya, persoalan berkah ini sampai kepada Sang Buddha. Kepada Beliau yang sempurna pengetahuannya, yang telah menemukan dan mencapai jalan Ketuhanan. Yang telah menunjukkan kepada kita tentang adanya Yang Mutlak, Yang Esa, sehingga tumbuh harapan dan  keyakinan bagi kita untuk bisa bebas dari lingkaran penderiataan ini. Sang Buddha memberi jawaban tentang persoalan berkah ini dengan sangat unik. Suatu jawaban yang tidak pernah kita duiga-duga sebelumnya. Sang Buddha sama sekali tidak pernah memberi jawaban demikian:
  “O, air yang sudah disembahyangkan, dan kemudian dipercikan kepadamu, itulah berkah!”
 Atau:
 “Mempunyai anak yang lahir pada hari ini atau itu, dalam bulan ini atau itu; itulah yang Ku-nyatakan berkah!”
Tetapi Sang Buddha memberikan jawaban tentang berkah, bahkan utama, pada bagian pertama sekali dalam kotbah Beliau tentang berkah adalah demikian:

 “Tidak bergaul dengan orang bodoh
 Bergaul dengan mereka yang bijaksana
 Menghormati mereka yang patut dihormati
 Itulah Berkah Utama”
 
 Manggala Sutta atau kotbah tentang Berkah yang diberikan Sang Buddha tersebut berisi uraian berkah dari yang paling rendah sampai ke berkah yang paling tinggi. Pertama sekali Sang Buddha menunjukkan bahwa, tidak bergaul dengan orang-orang bodoh adalah berkah.  Siapakah sesungguhnya orang-orang bodoh itu?Yang dimaksud dengan orang bodoh adalah; yang menganggap bahwa membunuh, mencuri, berzina bukan perbuatan jahat.  Mereka-mereka menganggap bahwa perbuatan baik dan jahat sama sekali tidak berakibat. Mereka-mereka inilah orang-orang bodoh yang harus kita hindari. manusia tidak lepas dari pengaruh sekelilingnya,. Kita pun belum mencapai kesucian

Kalau kita selalu bergaul dengan orang-orang yang tidak memperdulikan moral, maka kita bisa ikut menjadi tidak bermoral. memang sudah seharusnya kita sayang kepada mereka. Kita perlu menuntun kehidupan mereka ke arah yang benar. Tetapi kita harus ingat  juga;bahwa   bukannya tidak mungkin kita terpengaruh oleh cara -cara hidup mereka. oleh karena itu, kita harus menjaga diri dengan baik pada saat berhubungan dengan mereka yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Janganlah kita menganggap bahwa kita adalah orang yang sama sekali tidak bisa terpengaruh.
Selanjutnya dinyatakan dalam Manggala Sutta bahwa, mempunyai kesempatan bergaul dengan orang-orang yang bijaksana adalah berkah. Orang bijaksana selalu memberi semangat kepada kita pada waktu kita lupa. Bergaul dengan orang yang bijaksana akan memberi manfaat besar bagi kehidupan kita. Kemudian kalimat selanjutnya: Bisa memberi penghormatan kepada mereka yang sudah selayaknya dihormati adalah berkah.

Dalam bagian selanjutnya, Sang Buddah menyatakan demikin :
 “ Hidup di negara yang tepat
 Mempunyai kebajikan dalam hidup yang lampau
 Menuntun diri ke arah yang benar
 Itulah Berkah Utama”
 
 Hidup di negara yang tepat adalah suatu berkah. Apakah yang dimaksud dengan negara yang tepat, yang merupakan berkah itu? Negara yang merupakan berkah, adalah bila di negara itu hidup ajaran Dharma, hidup ajaran agama. Sebaliknya, bila seseorang hidup di suatu negara yang tidak memperhatikan dan bahkan melarang kehidupan beragama. Negara yang rakyatnya harus menganggap bahwa kehidupan ini tidak ada akibat atau pertanggungan jawab lagi atas perbuatan-perbuatan kita. Di negara yang tidak bisa menghayati ajaran agama, ajaran Dharma, untuk mencapai kebahagiaan lahir dan keluhuran batin. Maka berarti hidup di negara yang tidak memungkinkan seseorang menempuh jalan untuk mengakhiri penderitaan.

Berbahagialah kita yang lahir di tanah air ini, di negara Indonesia, dimana Pancasila menjadi landasan berdirinya kemerdekaan. Di negara Pancasila, Ketuhanan Yng Maha Esa diletakkan di tempat utama, bukan disisihkan. Disini kehidupan beragama, ajaran agama, ajaran Dharma, tumbuh dengan, baik , bahkan pemerintah memberikan perhatian sangat besar. Kehidupan keagamaan adalah kehidupan yang membentuk manusia berketuhanan.  Di negara yang berketuhanan kita mendapatkan kesempatan menghayati Dharma. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa memperkuat harapan bagi umat Buddha, memperkuat, keyakinan umat Buddha untuk mencapai kebebasan mutlak. Sebaliknya di suatu negara yang Ketuhananya disisihkan, bahkan dimusuhi, maka harapan umat Buddha dibuat suram dan keyakinan mereka untuk bebas dari penderitaan dihancurkan.  Itulah sebabnya Sang Buddha menunjukkan kepada kita, bahwa hidup di negara yang tepat ( Patirupadesavaso), di negara di mana ajaran agama, ajaran Dharma hidup dengan baik adalah merupakan berkah.  Bagi umat Buddha negara merdeka, negara Pancasila kita ini, adalah negara yang membawa berkah utama. Dan sesungguhnya atas Pancasila itulah yang membuat negara ini memenuhi definisi Dharma untuk tepat  disebut sebagai: Negara Berkah Utama.
Selanjutnya marilah kita ikuti jawaban Sang Buddha tentang apakah berkah utama yang lain. hal tersebut dapat dilihat pada penjelasan di bawah:
 “Memiliki pengetahuan dan kertrampilan
 Terlatih baik dalam tata susila
 Ramah tamah dalam ucapan
 Itulah Berkah Utama

  Membantu ibu dan ayah
  Mendukung anak dan istri
  Bekerja tanpa cela
  Itulah Berkah Utama

 Berdana dan hidup sesuai Dharma
 Menolong sanak saudara
 Bekerja tanpa cela
 Itulah Berkah Utama

  Menjahui, tak melakukan kejahatan
  Menghindari minuman keras
  Tekun melaksanakan Dharma
  Itulah Berkah Utama

 Selalu hormat dan rendah hati
 Merasa puas dan terima kasih
 Mendengarkan Dharma pada saat yang sesuai
 Itulah Berkah Utama

  Sabar, rendah hati bila diperingatkan
  Mengunjungi para Samana
  Membahas Dharma pada saat yang sesuai
  Itulah Berkah Utama

 Bersemangat, menjalani hidup suci
 Menembus Empat Kebenaran Ariya
 Serta mencapai kebebasan sejati
 Itulah Berkah Utama

  Meskipun tergoda hal-hal duniawi
  Namun batin tak tergoyahkan
  Tiada susaah, tanpa noda, penuh damai
  Itulah Berkah Utama.”

 Dari jawaban Sang Buddha di atas, akan terlihat bahwa memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan adalah termasuk memiliki pengetahuan sempit, yang malas menuntut ilmu, yang tidak mempunyai ketrampilan, adalah orang-orang yang tidak memiliki berkah Utama. Sang Buddha sendiri menunjukkan bahwa pengetahuan dan ketrampilan adalah berkah utama. Dan memang pengetahuan dan ketrampilan adalah salah satu syarat untuk berhasilnya pembangunan lahir-batin kita.  Sejak dahulu Sang Buddha mengingatkan kepada kita untuk mempunyai berkah dalam kehidupan ini, salah satunya adalah dengan menuntut ilmu seluas mungkin dan mempunyai ketrampilan.
 Jadi tidak benar, kalau ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa agama Buddha mengajarkan hal-hal yang serba supra-natural, acuh tak acuh dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, bahwkan menyuruh umatnya untuk menjadi petapa di hutan -hutan . Hal ini sama sekali tidak benar.

Selanjutnya Sang Buddha pun menyatakan: Orang, yang bisa memberikan bantuan kepada ibu dan ayah yang bisa memberikan bantuan kepada ibu dan ayah, selalu memenuhi kewajiban kepada anak dan istri, atau suami, bekerja bebas dari pertentangan : adalah juga berkah Utama.
 Lebih tinggi lagi, Sang Buddha menunjukkan: kalau kita mempunyai kerendahan hati, kalau bisa mempunyai kerendahan hati, kalau bisa mempunyai rasa puas dan tahu berterima kasih; inilah berkah utama. Jadi sebaliknya, orang yang tinggi hati, sombong adalah orang yang tidak memiliki berkah. Orang yang keserakahannya besar, yang tidak mengenal puas, artinya:selalu menuntut hasil jauh lebih besar dari usaha yang dilakukan ;orang itu tidak memiliki berkah.

Sang Buddha menunjukkan: orang yang sabar adalah orang memiliki berkah utama. Orang yang bersemangat adalah orang memiliki berkah utama. Hidup dalam kerukunan dan persatuan adalah kebahagian, tetapi orang yang mengusahakan persatuan dan kerukunan serta orang yang mempunyai tapo, artinya: semangat untuk membangun kerukunan dan persatuan adalah orang yang memiliki berkah utama.
Akhirnya Sang Buddha menyatakan: mencapai kebebasan dari lingkaran penderitaan, tiada susah, tanpa noda dan penuh damai, inilah berkah utama tertinggi. Kalau diperinci, terdapat 38 berkah utama dan, pada penutup Kotbah tentang Berkah yang terkenal itu, Sang Buddha mengatakan:
Karena dengan mengusahakan hal-hal itu
Manusia tak terkalahkandi mnanapun juga
Serta berjalan aman ke man saja
Itulah Berkah Utama mereka.

Dengan berkah kehidupan ini, marilah kita bangun kehidupan kita masing-masing lahir dan batin. Karena dengan mulai membangun keluarga dan masyarakat di mana kita hidup secara bersama-sama. Sungguh bahagia, dapat membangun lahir dan batin dalam Berkah Utama ini.***

Sumber:
Kumpulan Dhammadesana Sri Paññavaro Thera Jilid 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar