Check out the Latest Articles:

Jumat, 24 Februari 2012

Inginkah Hidup Lebih Baik?


Kalau kita mau mencoba merenungkan lebih dalam, sesungguhnya semua manusia mempunyai persoalan kehidupan yang sama. Tidak peduli apakah ia beragama Buddha atau beragama lain, ia bangsa ini atau bangsa itu. Persoalan ketidakpuasan, kegagalan, kesedihan, putus asa, kejengkelan, kemarahan, kebencian, bukan hanya persoalan umat Buddha saja. Persoalan ini adalah persolan setiap orang, semua manusia. Demikian juga kerukunan, kesejukan hati, kebahagiaan, keberhasilan adalah harapan setiap orang.
Bukan saja mereka yang mempunyai cita-cita bisa hidup bahagia adalah keluarga yang harmonis, saling mengerti, bisa mengatasi kesulitan: tapi ini adalah harapan semua orang, harapan setiap orang, tidak peduli dia beragama apapun juga.
          Karena itu  sangat benar bila Sang Buddha dalam khotbahNya yang pertama dalam Kesunyataan yang pertama mengatakan bahwa: Kehidupan ini adalah dukkha. Kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan dimana kita harus berjuang dan berjuang untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Setiap orang mengakuinya walaupun tidak seterus-terang seperti Sang Buddha.
          Setiap orang, setiap agama meskipun secara tidak terus terang mengakui bahwa kehidupan ini bukanlah kenikmatan yang tertinggi. Kehidupan ini bukanlah suatu puncak, bukan suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Memang banyak orang yang sulit mengerti akan pernyataan Sang Buddha yang tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa: ‘ Kehidupan ini adalah dukkha, kehidupan ini adalah penderitaan’. Bagi mereka yang baru pertama kali belajar agama Buddha, sulit menerima pernyataan itu, bahkan orang menilai bahwa agama Buddha ini agama yang ‘pesimistis’, suatu agama yang memandang bahwa hidup ini adalah penderitaan. Tapi mau mengakui atau tidak mau mengakui, kenyataan adalah kenyataan.
          Apa yang kita perjuangkan, kita usahakan; Saudara memeluk suatu agama, berjuang dengan sungguh-sungguh, memperjuangkan agar kehidupan lebih baik, lebih teratur. Sesungguhnya mau tidak mau mengakui, kehidupan ini adalah tidak memuaskan. Kalau Saudara konsekwen, bahwa hidup ini adalah suatu puncak kebahagiaan, tentunya Saudara tidak perlu beragama lagi, tidak perlu berjuang dengan sengit, tidak perlu meningkatkan kehidupan saudara lagi, karena beranggapan kehidupan Saudara sudah baik.
          Secara langsung atau tdak langsung, setiap orang tanpa kecuali mengatakan  bahwa kehidupan ini bukan suatu tujuan, tetapi masih merupakan proses yang habis-habisan untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik, sehingga akhirnya mencapai suatu kebahagiaan sejati.
          Lalu mengapa kita harus menjalani kehidupan seperti ini, tunggang-langgang, pontang-panting, dengan segala macam suka-duka, kegagalan, keberhasilan, kekecewaan, kepuasan, dan sebagainya?
          Persoalan kehidupan yang kita jalani, kita tanggung ini sebabnya adalah karena kita ini dilahirkan. Ini adalah jawaban yang paling jitu yang diberikan oleh Sang Buddha.
          Apa sebab kita ini dilahirkan? Tidak mungkin sesuatu muncul dengan begitu saja, kalau segala sesuatu muncul dengan begitu saja tidak perlu kita bertanggung jawab.
          Kita dilahirkan karena kita terlalu cinta, kita melekat pada kehidupan kita ini. Mengapa kita bisa sampai melekat pada kehidupan kita ini?
          Karena kita semua mempuyai nafsu keinginan. Nafsu keinginan itu yang menyebabkan kita melekat, ketagihan. Kita melekat pada suasana yang kita sukai, pada orang-orang yang kita cintai, pada jasmani kita, kebahagiaan kita; kita melekat pada kehidupan ini, walaupun kita mengatakan bahwa kehidupan kita ini sungguh membuat kehidupan kita sengsara; tapi sebenarnya kita cinta pada kehidupan ini.
          Nafsu keinginan yang membuat kita melekat, melekat pada kehidupan ini sehingga pada saat kematian; kelahiran kembali akan terjadi kemudian.
          Mengapa kita sampai mempunyai nafsu keinginan, bisa timbul nafsu keinginan? Dari mana datangnya nafsu keinginan? Karena kita mempunyai perasaan, rasa itulah yang menimbulkan hawa nafsu. Timbul perasaan senang… Saudara ingin memiliki selamanya, kalau timbul perasaan tidak senang… Saudara akan menyingkirkannya habis-habisan. Hawa nafsu itulah yang membuat kita melekat pada apapun yang kita cintai, dan kemelekatan inilah yang memperpanjang proses kehidupan kita, sehingga sesudah kematian kita dilahirkan kembali.
          Apa sebab kita merasakan sesuatu? Mengapa kita merasakan ini nikmat, ini menyenangkan, itu tidak menyenangkan? Karena kita bisa kontak, kalau kita tidak bisa kontak tidak mungkin kita bisa menikmati sesuatu.
          Apa yang dimaksud dengan kontak ini,  mengapa kita bisa kontak dan dari mana datangnya kontak? Kita isa kontak karena kita memiliki enam indria. Kita punya mata, bisa melihat yang indah-indah, yang jorok, yang gemuk, yang kurus. Mata kontak dengan apa yang dilihat kemudian timbul rasa senang, rasa suka, dan kesenangan ini ingin terus dinikmati… dinikmati… dinikmati lagi… terus. Itulah nafsu keinginan dan inilah yang menyebabkan kita melekat pada kesenangan itu, pada kehidupan, sehingga menyebabkan kehidupan kita terus tersambung kembali sesudah kematian, terlahir kembali.
          Kita punya telinga bisa menikmati suara yang merdu, suara si dia, pujian, sanjungan atau celaan. Talinga kita kontak dengan bunyi kemudian timbul kesenangan, kenukmatan, dan ingin terus menikmatinya berulang-ulang, berulang-ulang, inilah nafsu keinginan dan ini menyebabkan kemelekatan yang muncul; karena mendengar, dan itulah yang menyebabkan kita dilahirkan kembali.
          Demikian juga hidung, kontak dengan apa yang bisa kita cium, ‘ini bau tengik, ini bau enak’. Mulut/lidah bisa kontak dengan apa yang kita rasakan, ‘ ini enak, ini tidak enak’; demikian pula dengan tubuh/kulit kita. Mata, telinga, hidung, mulut, tubuh dan keenam adalah pikiran kita.
          Pikiran akan kontak dengan apa saja yang bisa kita pikirkan yang menimbulkan kesenangan, kenikmatan yang terus ingin dinikmati, dinikmati lagi, ingin dilunasi, dicicipi, itu menjadikan timbulnya nafsu keinginan dan muncul kemelekatan yang akan menyambung kehidupan yang serba menyakitkan ini. Kemelekatan ini membelenggu kita, kemelekatan yang menyebakan kita tidak bebas. Saudara mungkin masih bisa bebas selama Saudara masih bisa memenuhi kemelekatan, ketagihan Saudara, tapi pada saat Saudara tidak bisa lagi mempunyai kesempatan untuk memenuhi tuntutan kemelekatan itu, saat itu Saudara akan merasakan kesengsaraan yang luar biasa. Betapa bahagaianya orang yang tidak melekat!
          Lalu apa yang menjadi persoalan utama? Berhati-hatilah, waspadalah Saudara pada saat keenam indria Saudara kontak dengan sasarannya. Kalau mata, telinga, hidung, mulut, tubuh, pikiran Saudara kontak cobalah berusaha berusaha kontak dengan wajar, melihat sebagaimana adanya dan bila pada saat kontak itu muncul, muncul kesadaran, maka Saudara akan menjadi orang yang bahagia. Kontak ini tidak akan membuahkan suatu ikatan yang baru. Inilah sesungguhnya yang seharusnya kita latih, bukan hanya setiap hari tapi setiap saat, setiap keenam indria kita kontak, karena itulah saat yang paling bahaya.
          Dalam suatu Dhammapada dikatakan, kalau ada orang yang bisa mengalahkan seribu musuh setiap hari, ia belum dapat disebut sebagai pahlawan besar, tapi bila seseorang bisa mengalahkan dirinya sendiri, barulah ia bisa disebut sebagai pahlawan yang besar.
          Mengapa kita mempunyai enam indria yang membuat kita bisa kontak dengan dunia luar sehingga kita mempunyai nafsu keinginan yang ingin terus kita puaskan sampai timbullah kemelekatan, dan kemelekatan inilah yang memperpanjang proses kehidupan kita setelah kematian?
          Ini disebabkan karena ada jasmani dan batin, sehingga keenam indria kita bisa kontak dengan sasarannya masing-masing; seandainya hanya ada jasmani tidak ada batin, tidak mungkin bisa terjadi kontak.
          Dan mengapa sampai ada jasmani dan batin? Jasmani dan batin ini muncul karena karma-karma kita yang lampau. Apa sebab kita memuat karma-karma yang tidak karuan, apa sebab kita melekat? Kalau kita telusuri lebih jauh? Akhirnya Sang Buddha menemukan jawabnya yaitu: kebodohan.
          Maka kewaspadaan akan menghantarkan kita pada kebebasan, alangkah bahagianya orang yang tidak terikat, mereka yang sudah merdeka, bebas, seperti layaknya orang yang sudah bangun diantara mereka yang masih bermimpi.
          Sering kali uraian seperti di atas ini diterjemahkan secara salah, ada yang mengatakan bahwa, apabila sudah belajar agama orang akan menjadi malas, segan mencari mata pencaharian, segan bersaing. Kalau Saudara setelah membaca uraian ini bersikap seperti itu, Saudara telah salah menterjemahkan uraian tersebut.
           Jangan terikat, jangan melekat, tidak sama dengan jangan bekerja> Jangan terikat, jangan melekat, tidak sama dengan harap Saudara menganggur sajas. Mari kita bekerja dengan giat, apakah kita sebagai kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, karyawan, wiraswastawan, selesaikan tugas kita dengan sebaik-baiknya. Mari kita membuat rumah tangga kita jauh lebih baik, lebih makmur, mari kita buat negara ini lebih maju.
          Carilah sebanyak-banyaknya, carilah dengan mata pencaharian yang baik dan benar, berusaha bagaimana produksi ini lebih banyak lagi. Tapi yang menjadi persoalan jangan terikat pada semua itu. Kalau Saudara terikat, pada saat mengalami perubahan, Saudara akan menjadi orang paling sengsara. Kerjakanlah semua itu dengan penuh kebijaksanaan.
          Kita siap maju, kita siap menjadi makmur, Saudara tidak dilarang untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dengan cara yang baik dan benar, tapi jangan terikat, jangan melekat pada apa yang Saudara dapatkan. Kalau misalnya suatu saat family, kenalan Saudara sakit, membutuhkan… Saudara harus rela melepaskan itu… bantulah mereka sedapat mungkin.
          Kita siap menjadi pemimpin, pengurus, ketua, direktur, manager, tapi jangan berkeinginan untuk terus selamanya memegangnya; suatu saat Saudara harus siap melepaskannya.
          Mari kita berjuang, selama kita masih kuat, masih sehat, sesuai dengan bidang kita masing-masing. Berjuang mati-matian, hidup hemat, tidak berfoya-foya, belajar Dhamma, membuat kehidupan ini lebih tinggi, dan jangan lupa siap melepas setiap saat.
          Sebagai umat Buddha kita harus menonjol, bukan menonjol dalam kekayaan tapi menonjol dalam hal melepaskan. Karena pada hakekatnya segala sesuatu termasuk badan jasmani ini sesungguhnya bukan milik kita, suatu saat kita harus melepaskannya untuk selama-lamanya. Inilah rahasia kehidupan kita.
          Tidak ada alasan untuk memperbesar keserakahan. Kita bekerja mati-matian, mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan cara yang benar, bukan berarti kita serakah selama apa yang kita dapatkan itu rela kita lepaskan untuk kepentingan orang banyak. Dan itulah salah satu cara untuk menaklukan diri sendiri, kalau Saudara dapat menaklukan diri sendiri, maka Saudara adalah seorang pahlawan yang besar. Pandanglah kehidupan ini sebagai mana adanya, sewajarnya, dalam proporsi yang sebenarnya.

                                                     Sumber asli:
                                                                                        Khotah Dhamma di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, 2 April 1989;
                                                                                        di sadur oleh: Nani Linda, SH.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar