Check out the Latest Articles:

Kamis, 16 Februari 2012

What Buddhist Believe

Nukilan Buku

Judul : What Buddhist Believe
Penulis : K. Sri Dhammananda
Penerbit : Buddhist Missionary Society
Jalan Berhala, Kuala Lumpur
Malaysia

Kebebasan Beragama

Ini adalah suatu agama bagi manusia untuk menempuh jalan kehidupan yang benar tanpa suatu prasangka keagamaan apa pun.

Agama Buddha tidak pernah menghalangi seseorang dari penyimakan serta penelaahan ajaran agama-agama lain. Dalam kenyataan, Sang Buddha menganjurkan para pengikut-Nya untuk mempelajari agama-agama lain dan memperbandingkan ajaran-Nya dengan yang lain. Beliau mengatakan bahwa apabila ada ajaran yang beralasan dan masuk akal dalam agama-agama lain, para pengikut-Nya bebas untuk menghormati ajaran tersebut. Orang-orang tertentu berusaha menyekap para penganutnya dalam kegelapan abadi untuk menaklukkan mereka. Para penganutnya bahkan tidak diperkenankan untuk menyentuh kitab-kitab agama lain. Mereka diinstruksikan supaya tidak mendengarkan ajaran agama lain. Mereka tidak boleh meragukan ajaran agamanya, betapa pun tidak meyakinkan. Semakin jauh para penganutnya diseret ke dalam kegelapan, semakin mudah mereka dihela seperti biri-biri. Jika seseorang di antara mereka membuka matanya dan melihat cahaya serta menyadari bahwa selama ini dirinya dalam kegelapan, dia akan dituturi bahwa setan telah merasuk dalam pikirannya. Orang-orang malang tidak diberi kesempatan untuk mempergunakan penalaran, pendidikan dan kecerdasannya. Mereka yang tertarik untuk mengganti pandangannya agaknya berpikir bahwa mereka tidak cukup sempurna untuk diperkenankan menggunakan kehendak bebasnya dalam menilai segala sesuatu bagi mereka sendiri. Namun, jika manusia tidak sempurna, mengapa pencipta adikodrati tidak dapat membuatnya sempurna? Tampaknya, segala kekuasaan dan kebijaksanaan yang diperlihatkan oleh pencipta adikodrati tidaklah dapat dimengerti.

. . .

Umat Buddha tidak pernah menganjurkan penganut agama lain untuk datang dan memeluk agamanya demi keuntungan materi. Agama Buddha juga tidak pernah berusaha mengeksploitasikan kemiskinan, kesakitan, kebuta-hurufan, dan kebodohan untuk menarik anggota baru. Sang Buddha menasihatkan mereka yang datang menjumpai-Nya bahwa mereka tidak seharusnya tergesa-gesa menerima ajaran-Nya. Beliau menganjurkan mereka untuk mempertimbangkan ajaran-Nya dengan cermat, dan memutuskan bagi mereka sendiri apakah ajaran-Nya praktis atau tidak bagi penggunaan mereka secara pribadi.

. . .


Surga dan Neraka

Konsep Buddhis tentang Surga dan neraka berbeda secara keseluruhan dengan agama-agama lain dalam artian umat Buddha menolak anggapan bahwa tempat-tempat ini bersifat kekal. Sangatlah tidak beralasan untuk mengutuk seseorang masuk ke dalam neraka abadi atas kelemahan-kelemahannya sebagai manusia, tetapi cukup beralasan untuk memberikan setiap kesempatan kepadanya. Dengan begitu, mereka yang masuk neraka mempunyai peluang untuk berjuang meningkatkan kehidupannya dan kemudian menimbun jasa atau mempunyai kesempatan untuk menuai jasa kebajikan yang diperbuat sebelumnya. Tidak ada kunci-kunci di pintu gerbang neraka. Neraka adalah suatu tempat yang bersifat sementara, dan tidak ada alasan bagi penghuninya untuk menderita di sana selamanya.

. . .


Sebab Pertama

Memang agak sulit bagi kita untuk mengerti bagaimana dunia ini terwujud tanpa adanya suatu sebab pertama (causa prima). Namun, jauh lebih sulit untuk mengerti bagaimana sebab pertama itu muncul pada mulanya.

Menurut Sang Buddha, tidaklah mungkin untuk dapat menemukan suatu sebab pertama dari kehidupan. Karena, dalam pengalaman umum, sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Dalam lingkaran sebab akibat, suatu sebab pertama tidaklah dapat diketahui. Berkenaan dengan asalmula yang mutlak dari kehidupan, Sang Buddha menyatakan: "Pengembaraan berulang-ulang dalam daur kelahiran dan kematian (Samsara) ini berlangsung tanpa suatu akhir yang dapat diketahui. Terkelabui oleh kedunguan dan terbelengu oleh keinginan rendah, permulaan pertama dari makhluk-makhluk ini tidaklah dapat dipahami." Arus kehidupan ini mengalir terus-menerus selama dipenuhi oleh air lumpur kedunguan dan keinginan rendah. Hanya apabila dua hal ini diputus, arus kehidupan berhenti mengalir, dan kelahiran kembali berhenti.

. . .

Atas pertanyaan bagaimana makhluk hidup terwujud tanpa suatu sebab pertama, jawaban seorang umat Buddha ialah bahwa tidak ada jawabannya karena pertanyaan itu sendiri hanyalah hasil pengertian manusia yang terbatas. Apabila kita mengerti hakikat waktu dan relativitas, kita tentu melihat bahwa tidak ada permulaannya. Ini hanya dapat ditunjukkan bahwa semua jawaban yang biasa atas pertanyaan itu cacat secara mendasar. Jika dianggap bahwa untuk adanya sesuatu harus ada pencipta yang ada sebelumnya, secara logis ini juga berarti bahwa pencipta itu sendiri harus mempunyai pencipta, dan seterusnya tanpa batas. Pada segi lain, jika pencipta itu dapat muncul tanpa suatu sebab pertama dalam wujud pencipta lain, semua argumentasi rontok ke tanah. Teori penciptaan bukannya menyelesaikan permasalahan malahan justru menambah pelik.

Karena itu, Agama Buddha tidak begitu menaruh perhatian pada teori asalmula Alam Semesta. Apakah dunia ini diciptakan oleh makhluk adikodrati ataupun muncul dengan sendirinya, ini tidaklah begitu berbeda bagi umat Buddha. Demikian pula apakah dunia ini berbatas ataupun nirbatas. Alih-alih mengikuti jalur spekulasi teoretis ini, Agama Buddha menasihatkan orang-orang untuk bekerja keras demi pencapaian keselamatan bagi mereka.


Sang Buddha bukan Atheis

Paham Atheisme berkaitan dengan ajaran materialistis yang tidak mengenal sesuatu melebihi apa yang terdapat di dunia ini.

Sang Buddha mencela penolakan terhadap pemujaan dan penglepasan, penolakan terhadap kewajiban moral dan sosial, dan penolakan terhadap kehidupan religius. Dengan tegas Beliau mengakui adanya nilai-nilai moral dan spiritual. Beliau menyambut keabsahan hukum moral. Hanya dalam satu pengertian Agama Buddha dapat dianggap atheistis, yaitu sejauh penolakannya terhadap eksistensi suatu Makhluk Adikuasa yang bertindak sebagai pencipta serta penakdir dunia ini. Akan tetapi, istilah `Atheisme' kerap membawa pada sejumlah nada peremehan atau pengertian yang sama sekali tidak dapat dipergunakan terhadap ajaran Sang Buddha. Mereka yang memakai istilah `Atheisme' sering menghubungkannya dengan ajaran materialistis yang tidak mengenal sesuatu melebihi dunia ini dalam hal kebahagiaan yang dilimpahkan. Agama Buddha tidaklah demikian.

Tidaklah benar untuk mengecap umat Buddha sebagai atheis, nihilis, pemuja berhala, orang kafir atau komunis hanya karena mereka tidak mempercayai Pencipta Adikodrati. Konsep ke-Tuhan-an dalam Agama Buddha berbeda dengan agama-agama lain. Perbedaan keyakinan tidak membenarkan penyebutan-nama atau kata-kata pemfitnahan.

Agama Buddha sepakat dengan agama-agama lain bahwa kebahagiaan sejati dan kebahagiaan akhir tidaklah dapat dijumpai dalam dunia material ini. Sang Buddha menambahkan bahwa kebahagiaan tersebut juga tidak dapat dijumpai dalam alam kehidupan adiduniawi yang lebih tinggi, yang disebut surga atau alam kedewaan. Sementara nilai-nilai spritual yang disokong oleh Agama Buddha mengarah pada suatu keadaan melebihi dunia ini (Nibbana), mereka tidak membuat suatu pemisahan antara `Yang di Sana' dan yang di sini dan sekarang. Mereka mempunyai akar yang kokoh dalam dunia itu sendiri, karena mereka mengarah pada penembusan tertinggi dalam kehidupan sekarang ini.


Bodhisatta

Bodhisatta adalah mereka yang sedang dalam proses pelatihan diri dalam meraih Pencerahan Agung.

Umat Theravada tidak sepakat dengan kepercayaan bahwa setiap makhluk harus menjadi Buddha untuk mencapai Nibbana. Dalam pandangan aliran Mahayana, disebutkan beberapa nama Buddha tertentu yang sesungguhnya bukan merupakan Buddha bersejarah (unhistorical Buddha). Karena tidak dilandasi dengan kenyataan bersejarah, umat Theravada tidak begitu mengacuhkannya, dan juga tidak memuja bodhisattva untuk memperoleh keselamatan bagi mereka. Mereka tidak mempercayai adanya bodhisattva yang mempunyai kekuasaan untuk menyelamatkan makhluk-makhluk lain. Para bodhisatta adalah mereka yang berusaha meraih Kebuddhaan melalui penyucian diri sendiri. Kecuali apabila sudah meraih Pencerahan, para bodhisatta tidaklah mampu menunjukkan jalan sejati bagi keselamatan makhluk-makhluk lain. Gagasan bahwa bodhisattva tertentu sedang menunggu di Sukhavati (Bumi Murni) tanpa mencapai Nibbana demi menolong semua makhluk yang berdoa kepadanya, adalah suatu praduga yang sangat asing bagi ajaran dasar Sang Buddha. Umat Buddha Theravada tidak sepakat dengan kepercayaan bahwa ada Buddha dan bodhisatta tertentu yang secara sukarela mangkal di Sukhavati tanpa mencapai Nibbana hingga semua makhluk berhasil memperoleh keselamatan. Apabila berbicara tentang makhluk hidup, orang-orang kebanyakannya hanya berpikir tentang makhluk hidup yang ada di planet ini. Mereka tidak menyadari bahwa di Alam Semesta ini ada planet dalam jumlah yang takterhitung, yang menurut Sang Buddha, terdapat makhluk-makhluk lain. Karena itu, merupakan suatu tugas yang takberakhir untuk menunggu hingga semua makhluk hidup mencapai Nibbana. Tugas ini jelaslah muskil karena, selama makhluk hidup masih diperbudak oleh kedunguan dan keinginan yang mementingkan diri sendiri, selama itu pula tidak ada akhir daur makhluk hidup.


Kearahatan

Pencapaian melalui jalan kearahatan tidaklah mementingkan diri sendiri.

Umat Buddha tertentu beranggapan bahwa mencari keselamatan dengan menjadi arahat adalah suatu motivasi yang mementingkan diri sendiri. Karena itu, mereka menyatakan bahwa setiap orang harus berusaha menjadi Buddha untuk menyelamatkan makhluk lain. Kepercayaan aneh ini sama sekali tidak mempunyai dasar dalam ajaran Sang Buddha. Sang Buddha tidak pernah menyebutkan bahwa beliau ingin menyelamatkan semua makhluk di dunia ini. Beliau memberikan bantuan hanya kepada mereka yang mau menerima jalan kehidupan yang benar. Dalam ajaran murni Sang Buddha, tidak ada sesuatu yang disebut "menyelamatkan makhluk lain". Sesuai dengan cara yang diperkenalkan-Nya, setiap orang harus berusaha dan berjuang untuk melatih diri sendiri dan menyucikan diri sendiri demi memperoleh keselamatan bagi diri sendiri.

Kepercayaan bahwa setiap orang harus menjadi Buddha untuk memperoleh keselamatan tidaklah terdapat dalam ajaran murni Sang Buddha. Ini tidaklah ubahnya seperti menuntut setiap orang menjadi dokter guna menyembuhkan penyakit orang-orang lain dan diri sendiri. Anjuran ini sangatlah tidak praktis. Jika ingin mengobati penyakitnya, orang-orang mempunyai kesempatan untuk memperoleh petunjuk medis dari seorang dokter yang memenuhi syarat. Namun, setiap orang tidaklah harus menunggu hingga menjadi dokter sebelum dapat menyembuhkan penyakitnya. Juga tidak ada perlunya bagi setiap orang untuk menjadi dokter. Tentu, mereka yang ingin menjadi dokter dapat melakukannya. Akan tetapi, ini membutuhkan kecerdasan serta keberanian, dan mereka harus mempunyai sarana untuk belajar di bidang kedokteran. Demikian pula, bukanlah suatu keharusan bagi setiap orang untuk menjadi Buddha demi memperoleh keselamatannya. Mereka yang ingin menjadi Buddha dapat melakukannya. Akan tetapi, dibutuhkan keberanian serta pengetahuan untuk mengorbankan kesenangan pribadi dan mengalami segala jenis penderitaan demi pencapaian Kebuddhaan. Karena itu, sangatlah tidak berdasar untuk mengatakan bahwa pencapaian Nibbana dengan menjadi arahat adalah suatu tindakan yang mementingkan diri sendiri.

Kebuddhaan, tak pelak lagi, adalah yang terbaik dan termulia dari ketiga cita-cita (Sammasambuddha, Pacceka Buddha, dan Arahat). Namun tidak semua orang mampu meraih cita-cita tertinggi ini. Tidak semua ilmuwan dapat menjadi Einsteins dan Newtons. Pasti ada juga ilmuwan di bawahnya yang menolong makhluk hidup di dunia ini sebatas kemampuannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar