Check out the Latest Articles:

Kamis, 23 Februari 2012

Ramalan vs Kamma


oleh: Subalaratano Thera
NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMASAMBUDDHASSA 'SUKHO PUÑÑASSA UCCAYO,"Kebahagiaan seseorang timbul akibat dari menumpuk jasa kebajikan"
        Dewasa ini seringkali Umat Buddha masih banyak yang sangat menggantungkan sikapnya kepada ramalan ahli nujum. Apalagi kalau umat Buddha yang masih awam dengan Buddha-Dhamma. Mereka umumnya belum mempunyai pengertian mendalam mengenai apa yang diajarkan oleh Buddha Gotama.
        Ternyata situasi kemajuan materi juga merupakan pendorong bagi suburnya praktek ramal meramal. Hal ini tidak lain karena manusia yang sedang mengejar materi biasanya lupa untuk membina batin atau menghayati ajaran Agama (Dhamma) secara benar. Masalah yang berkaitan dengan "kebatinan" diserahkan kepada para peramal.
        Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beberapa pemimpin negara maju di bidang materi juga masih terikat dan percaya kepada ramalan ahli nujum.
        Pada zaman dahulu raja-raja disamping memiliki penasihat pemerintahan juga biasanya memiliki penasihat batin yang tugasnya memberikan pendapat mengenai arti ramalan, mimpi atau kejadian-kejadian yang terjadi dan dianggap merupakan ramalan di masa yang akan datang.
        Buddha-Dhamma yang telah diwariskan oleh Buddha Gotama bukan menolak ramal meramal atau memojokkan para ahli nujum. Dengan membabarkan Hukum Kesunyataan Kamma, Buddha Gotama berusaha mendidik manusia agar lebih mandiri ketimbang bergantung kepada ramalan saja. Sebab manusia yang cara berpikirnya selalu tergantung kepada ramalan, tidak akan menjadi "manusia dewasa" meskipun umurnya sudah setengah abad sekalipun.
        Diperlukan suatu usaha bagi umat Buddha yang mau menjadi "manusia dewasa" bisa menempatkan soal ramal meramal ini pada tempat yang tepat bukan sebagai tujuan hidup.
        Dalam riwayat Buddha Gotama dapat kita baca bagaimana para peramal yang ahli dari Raja Sudhodana memberikan arti ramalan setelah melihat putra mahkota Kapilavasthu, yang kemudian menjadi Buddha Gotama. Mereka yang tergolong ahli masih tidak bisa memberikan ramalan yang tepat, tapi masih ada dua kemungkinan, yaitu bila pangeran menjadi raja akan menjadi Raja dunia, tapi bila pangeran menempuh hidup bertapa ia akan menjadi Orang Suci.
        Begitu pula ketika permaisuri Raja Bimbisara mengandung diramalkan oleh ahli ramalnya bahwa putra yang akan lahir nantinya akan menjadi musuh dari Raja Bimbisara. Agar tidak terjadi maka dibuat "kias" putra yang akan lahir diberi nama Ajatasathu artinya musuh tidak lahir. Kemudian hari ternyata "kias"nya kurang manjur, Ajatasathu benar-benar membunuh ayahnya secara tidak langsung. Tapi setelah Buddha Gotama memberikan ajaran Dhamma, barulah Ajatasathu menjadi raja yang baik.
        Dalam cerita mengenai Y.A. Angulimala, dikisahkan bahwa ketika beliau dilahirkan seluruh senjata di kerajaan Pasenadi Kosala bersinar gemerlapan. Menurut para ahli nujum anak yang lahir saat itu akan menimbulkan malapetaka. Maka ayahnya seorang bendaharawan memberi nama: Ahimsaka, artinya yang tidak menimbulkan kekerasan. Apa yang terjadi kemudian adalah karena fitnahan dari saudara seperguruannya Ahimsaka menjadi pembunuh yang kejam dan diberi nama Angulimala. Baru setelah mendapat wejangan Dhamma dari Buddha Gotama, beliau insyaf dan menjadi Bhikkhu yang dikemudian hari mencapai kesucian Arahat.
        Jadi jelas bahwa ilmu meramal itu memang ada, tetapi hendaknya janganlah umat Buddha beranggapan bahwa ramal meramal itu terlepas dari Hukum Kamma apalagi kalau mempertentangkannya.
        Ramalan itu hanya sebagian kecil mengungkapkan tentang proses Hukum Kamma. Maka Buddha Gotama tidak merasa perlu untuk mengajarkan ilmu tersebut, mengingat keterbatasan daya pikiran manusia yang masih penuh dengan kilesa (noda). Padahal bilamana kekotoran batin ini telah dilenyapkan maka kemampuan mengetahui yang akan terjadi bisa dimiliki. Seperti bila awan gelap telah dihembus angin, maka angkasa akan terlihat terang benderang.
        Dalam Sinsapa-sutta, jelas Buddha Gotama telah mengingatkan kita bahwa apa yang diajarkan oleh Beliau meskipun sangat sedikit yang sangat banyak tidak diajarkan. Tetapi yang sedikit ini adalah "jalan langsung" (ekayanamaggo) untuk merealisir Nibbana. Sedangkan yang sangat banyak termasuk di dalamnya segala ilmu ramal meramal, bila diajarkan bukan saja merupakan jalan berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir, malah bisa menyesatkan manusia masuk ke Apaya bhumi (alam menderita).
        Oleh karena itu umat Buddha dewasa ini hendaknya berhati-hati agar tidak salah mengerti mengingat dalam zaman materialistis orang sering "mencatut" nama Buddha untuk cari sesuap nasi. Maka banyak ilmu-ilmu ramal meramal dikait-kaitkan kepada nama Sang Buddha demi income yang berlimpah ruah.
        Dalam satu uraian cerita Perjalanan ke Barat (Seeyu kie), Siluman Monyet (Sun Go Kong) ketika belajar ilmu kepada Potecousu seorang Arahat ditanyakan mau belajar ilmu apa. Karena ada 36000 ilmu jalan samping dan hanya ada 1 ilmu jalan tengah. Siluman monyet bertanya mana ilmu yang menuju kepada keabadian (tidak mati), Arahat itu menjawab kalau mau abadi harus belajar ilmu jalan tengah, bukan ilmu-ilmu jalan samping yang jumlahnya sangat banyak. Ternyata Siluman Monyet itu memilih ilmu jalan tengah. Maka bilamana seekor monyet saja mau mencari jalan lurus mengapa manusia sukanya jalan serong saja, kan sayang sekali (ini kata pengarangnya lho).
        Mengingat bahwa ramal meramal dewasa ini sering membingungkan umat Buddha maka marilah kita letakkan di tempat yang tepat. Seperti seorang yang belum mengerti tentang listrik, karena setiap kali menghidupkan lampu selalu menekan saklar di tembok. Ia berpikir bahwa sumber listrik ada dalam saklar itu. Sumbernya arus listrik bukan pada saklar, tapi dibangkitkan oleh generator di tempat lain dan masih banyak lagi faktor-faktornya tidak begitu sederhana yang dibayangkan oleh yang tidak mengerti.
        Buddha-Dhamma tidak menolak seluruh ramalan, tapi menempatkannya sebagai suatu peta hidup, yang masih bisa berubah dan  bergantung kepada orangnya, bagaimana setelah diramalkan. Kalau orang diramalkan akan mendapat bahaya, ia pasip tidak mau berusaha berbuat kebajikan, maka bahaya itu dengan bebas akan menimpa dirinya. Seperti sudah tahu akan kehujanan, tidak mau cari payung pasti akan basah kuyup, tapi kalau punya payung meskipun kehujanan tidak sampai basah kuyup. Sebaliknya kalau dapat ramalan akan dapat rejeki besar, lalu pasip malahan malas bekerja pasti rejekinya juga tidak datang, kalau datang ya, tidak besar. Sebaliknya kalau berusaha giat dan tekun, maka rejeki pasti bisa berlimpah ruah.
        Maka jelaslah bahwa ramalan hanya mengungkapkan sebagian kecil proses Hukum Kamma dan Punnabbhava tidak bertentangan. Bila umat Buddha sudah memiliki keyakinan terhadap Hukum Kesunyataan ini yang disebut Kamma-niyama tidak perlu lagi ragu akan keabsahannya. Apalagi masih mau cari ramalan yang sebenarnya telah tercakup dalam uraian Y.A. Buddhagosa.
        Dilihat dari kekuatannya, Kamma (perbuatan) dibagi:
1. Garuka-kamma, yang memiliki kekuatan yang dasyat dan tahan lama.
2. Acinna-kamma atau Bahula-kamma, yang dilakukan berdasarkan kebiasaan yang rutin.
3. Asanna-kamma, yang dibuat menjelang sebelum kematian seseorang.
4. Katatta-kamma, yang bersifat mekanik dan memiliki dorongan kehendak yang lemah.
        Dipandang dari fungsinya, kamma (perbuatan) dibagi:
1. Janaka-kamma, berfungsi menentukan kelahiran.
2. Upathambhaka-kamma, berfungsi menambah atau mendorong hasil yang seharusnya diterima.
3. Upapilaka-kamma, berfungsi mcngurangi atau merendam hasil yang seharusnya diterima.
4. Upaghataka-kamma, berfungsi memotong atau melenyapkan hasil yang seharusnya diterima.
        Berdasarkan waktu masaknya, kamma (perbuatan) dibagi:
1. Ditthadhammavedaniya-kamma, yang dapat masak dalam kehidupan sekarang ini juga.
2. Uppajjavedaniya-kamma, yang masaknya dalam satu kehidupan yang akan datang.
3. Aparaparavedaniya-kamma, yang masaknya dua atau beberapa kehidupan yang akan datang.
4. Ahosi-kamma, telah habis masa kekuatannya sehingga tidak menghasilkan apa-apa lagi atau karena telah habis masa buahnya.
        Dengan demikian Buddha-Dhamma telah membabarkan prinsip dan Hukum Kamma sebagai suatu paramatha (kesunyataan mutlak) yang mengatur alam semerta ini termasuk isinya.
        Apakah manusia menerima atau tidak bukan masalah bagi Hukum kesunyataan itu. Seperti juga pada hukum fisika lainnya, kita melihat apakah manusia menerima atau tidak, hukum itu jalan terus tanpa menghentikan prosesnya.
        Semoga dalam saat kita kembali mengagungkanTri Suci Wesak 2534, kita semua akan tambah dalam menghayati Dhamma-Vinaya sehingga keyakinan makin kuat.
        Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua hidup sejahtera.***

Sumber:
BUDDHA CAKKHU No.17/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar