Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Anatta

Anatta

oleh: Ven. Nârada Mahâthera

Sumber Asli: Karya Tulis Ven.Nârada Mahâthera berjudul BUDDHISM IN A NUTSHELL

Ajaran agama Buddha tentang tumimbal lahir ini harus dibedakan dari teori reinkarnasi yang menyatakan perpindahan roh dan kelahiran kembali yang tetap. Agama Buddha menolak adanya suatu roh kekal atau yang tidak berubah, yang diciptakan oleh dewa yang maha kuasa atau yang keluar dari zat ilahi (paramatma).

Bila roh yang dianggap sebagai inti manusia itu bersifat langgeng, maka tak akan terjadi suatu perkembangan ataupun kemunduran. Di samping itu, orang tidak dapat mengerti mengapa "Berbagai roh dibentuk berbeda pada mulanya".

Suatu roh yang kekal memang diperlukan untuk membuktikan adanya kebahagiaan kekal dalam surga yang abadi dan siksaan tanpa akhir dalam neraka abadi. Kalau tidak, lalu apa yang dihukum dalam neraka dan apa yang dinikmati dalam surga?

Perlu diperhatikan pendapat Bertrand Russell, "Perbedaan lama antara roh dan tubuh telah usai, karena materi telah kehilangan kepadatannya seperti batin kehilangan spiritualitasnya. Psikologi (ilmu jiwa) sudah menjadi ilmiah. Dalam psikologi modern kepercayaan akan kekekalan tidak mendapat suatu dukungan dari ilmu pengetahuan".

Umat Buddha setuju dengan Bertrand Russell yang menyatakan: "Jelas terdapat beberapa alasan dimana aku sekarang merupakan orang sama dengan aku kemarin; dan menggunakan contoh yang lebih jelas, bila aku melihat seseorang dan mendengar ia bicara, maka terdapat suatu pengertian dimana 'aku' yang melihat adalah sama dengan 'aku' yang mendengar".

Sampai sekarang para ilmuwan percaya akan suatu atom yang tak dapat dibagi dan tak dapat dihancurkan. "Untuk alasan-alasan yang memadai, para ahli fisika mereduksi atom menjadi serangkaian gerakan. Untuk alasan yang sama, para ahli ilmu jiwa menemukan bahwa batin tidak memiliki identitas apapun yang tetap selain serangkaian kejadian yang terikat satu sama lain dalam hubungan-hubungan yang erat. Karena itu, pertanyaan kekekalan, berubah menjadi pertanyaan apakah terdapat hubungan antara kejadian-kejadian sewaktu kita masih hidup dan kejadian-kejadian yang terjadi setelah kita mati".

Seperti yang dikatakan C.E.M. Joad di dalam buku The Meaning of Life, "Semenjak itu materi hancur di depan mata kita. Materi tidak lagi padat; tidak lagi kekal, tidak lagi ditentukan oleh hukum kausal dan yang paling penting dari semuanya, materi tidak lagi dikenal".

Nampaknya, apa yang disebut atom itu dapat dibagi dan dihancurkan. Elektron dan proton yang membentuk atom dapat bertabrakan dan saling menghancurkan selama kelangsungan hidup mereka. Bagaimanapun juga hidup ini lebih menyerupai gelombang yang tak mempunyai batas-batas tetap yang berada dalam proses perubahan terus menerus dalam bentuk dan kedudukannya daripada menyerupai suatu benda yang tetap. Bishop Berkeley mengatakan bahwa apa yang disebut atom ini merupakan fiksi metafisik karena beranggapan bahwa di sana terdapat suatu inti spiritual yang disebut roh.

Hume, misalnya melihat ke dalam kesadaran dan mengerti bahwa tak ada sesuatu apapun kecuali keadaan-keadaan batin yang cepat berlalu dan menyimpulkan bahwa apa yang dianggap "ego kekal" itu sesungguhnya tidak ada.

Ia berkata, "Ada beberapa ahli filsafat yang membayangkan bahwa setiap saat kita sadar akan yang kita sebut 'diri kita', bahwa kita merasakan adanya dan kelangsungannya dalam hidup, sehingga kita yakin dengan kesempurnaan identitas dan sederhanaannya. Bagiku sendiri, bilamana aku mencoba memasuki keadaan yang paling dalam dari apa yang kusebut 'diriku', aku selalu terbentur pada berbagai persepsi tentang ini atau itu: tentang panas atau dingin, terang atau gelap, cinta atau benci, susah atau senang. Aku tak pernah menemukan diriku sendiri... dan tak melihat apapun selain persepsi semata... juga aku tidak mengerti syarat apalagi yang dapat menjadikan diriku seorang dengan pribadi yang sempurna".

Bergson menyatakan, "Seluruh kesadaran merupakan kehidupan baru dan suatu keadaan kesadaran bukanlah suatu keadaan tetap yang tak berubah. Kesadaran adalah suatu perubahan tanpa akhir. Bila perubahan berakhir, kesadaran karena kesadaran itu sendiri adalah perubahan".

Mengenai pertanyaan tentang roh ini, Prof. James menyatakan: "Teori roh merupakan suatu kebohongan sempurna, sejauh berkenaan dengan pembuktian fakta-fakta pengalaman kesadaran yang sesungguhnya. Sedemikian jauh, tak seorangpun dapat dipaksa untuk menyetujuinya demi alasan-alasan ilmiah". Sebagai kesimpulan tulisannya yang menarik tentang roh, ia berkata: "Dan dalam buku ini jalan keluar sementara yang telah kita capai harus menjadi kata akhir: Pikiran itu sendiri adalah sang pemikir."

Watson, seorang ahli ilmu jiwa terkenal, menyatakan: "Tak seorangpun pernah menyentuh sebuah roh atau pernah melihatnya dalam sebuah tabung-uji atau dengan cara apa pun pernah berhubungan dengannya sebagaimana ia berilubungan dengan obyek-obyek lainnya dalam pengalaman sehari-hari. Namun demikian, meragukan adanya roh sama dengan menjadi orang sesat, atau bahkan kemungkinan besar akan membuatnya kehilangan kepala. Sampai saat ini, orang yang mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat sekali pun tidak berani mempersoalkannya".

Sang Buddha telah mengetahui fakta-fakta ini sekitar 2.500 tahun yang lalu. Menurut agama Buddha, kesadaran tidak lain hanyalah suatu gabungan kompleks batin yang cepat berlalu. Satu unit kesadaran terdiri dari tiga fase: timbul (upâdâ), berkembang (thiti), dan lenyap (bhanga).

Segera setelah fase-lenyap dari satu saat pikiran berakhir, terjadilah fase-timbul pada saat pikiran berikutnya. Setiap kesadaran dari proses kehidupan yang selalu berubah ini, setelah berlalu, akan memindahkan seluruh tenaganya, seluruh rekaman kesan-kesan yang tak dapat dihapus pada kesadaran penerusnya. Setiap kesadaran baru terdiri kesadaran pendahulunya ditambah kesadaran yang baru. Karena itu, terdapat suatu aliran kesadaran terus menerus seperti arus sungai. Saat pikiran berikutnya tidak persis sama seperti pendahulunya, karena apa yang membentuknya tidak sama ataupun sama sekali berbeda. Ia merupakan kelanjutan tenaga karma yang sama, sehingga terdapat persamaan dalam proses.

Setiap saat terjadi kelahiran, akan terjadi kematian. Timbulnya satu saat pikiran berarti lenyapnya saat pikiran lain dan sebaliknya. Dalam perjalanan satu saat kehidupan terjadi tumimbal-lahir sementara tanpa roh.

Hal tersebut tidak seharusnya dipahami bahwa kesadaran dipotong menjadi bagian-bagian yang dirangkaikan bersama seperti sebuah kereta atau rantai. Tetapi sebaliknya, "Kesadaran mengalir terus menerus ibarat sebuah sungai, yang terus menerus menerima pertambahan arus dari anak sungai indria dan selalu membagikan kepada dunia pikiran-pikiran yang telah dikumpulkan di sepanjang jalan. Kesadaran memiliki kelahiran sebagai mata airnya dan kematian sebagai muaranya. Arus kesadaran itu berlangsung demikian cepatnya sehingga tak ada ukuran apa pun yang dapat dipergunakan untuk mengukurnya walaupun hanya secara perkiraan. Akan tetapi, para komentator berpendapat bahwa lamanya waktu dari satu gerakan pikiran kira-kira satu perjuta bagian dari waktu yang diperlukan oleh cahaya kilat.

Di sini kita dapatkan suatu penjajaran dari keadaan kesadaran yang begitu cepat berlalu, bertentangan dengan anggapan sebagian orang. Sekali kesadaran telah lenyap, ia tak akan kembali lagi serupa dengan apa yang telah lenyap sebelumnya. Tetapi kita orang duniawi yang diliputi oleh kebodohan, salah mengerti karena apa yang nampaknya tetap ini dianggap sebagai sesuatu yang kekal dan malah menganggap bahwa kesadaran yang selalu berubah ini sebagai suatu roh yang tidak berubah, suatu attâ, sebagai pelaku dan wadah dari semua perbuatan.

"Apa yang disebut makhluk itu adalah misalnya seperti cahaya kilat yang berubah menjadi rangkaian bunga api yang saling susul menyusul dengan kecepatan luar biasa, sehingga mata manusia tidak dapat melihatnya satu persatu. Seperti roda kereta yang terletak di atas tanah pada satu titik, demikian pula makhluk-makhluk hanya hidup selama satu saat pikiran. Kehidupan selalu berada dalam saat sekarang dan selalu tenggelam ke dalam masa lalu yang tak dapat terulang kembali. Keadaan kita di masa yang akan datang ditentukan oleh saat pikiran sekarang ini".

Orang mungkin akan bertanya: "Bila tak ada roh kekal, apakah yang dilahirkan kembali?" Ya, sebenarnya tak ada sesuatu yang dilahirkan kembali. Bila kehidupan berakhir, tenaga kamma mewujudkan dirinya kembali dalam bentuk lain. Seperti yang dinyatakan oleh Bhikkhu Silacara: "Dengan tak terlihat ia pergi kemana terdapat kondisi-kondisi yang sesuai bagi perwujudannya kembali. Di sini ia memperlihatkan dirinya sebagai semut kecil atau cacing, di sana ia memunculkan dirinya dalam bentuk kehidupan dewa atau pemimpin dewa yang mulia dan agung. Bila satu bentuk perwujudannya berakhir, segera ia pergi di mana terdapat kondisi yang sesuai, di sana ia menampakkan dirinya lagi dalam nama dan rupa yang lain".

Kelahiran berarti timbulnya fenomena psiko-fisik. Kematian hanya merupakan akhir sementara dari fenomena psiko-fisik yang tidak langgeng ini.

Sama seperti timbulnya suatu keadaan yang disyarati oleh keadaan sebelumnya sebagai sebabnya, begitu pula munculnya fenomena psiko-fisik disyarati oleh sebab-sebab sebelum kelahirannya. Seperti proses satu jangka kehidupan adalah mungkin tanpa suatu inti kekal yang berlalu dari satu saat pikiran ke saat pikiran yang lainnya, begitu pula satu rangkaian proses kehidupan juga mungkin tanpa suatu roh kekal yang berpindah dari satu kehidupan ke lain kehidupan.

Agama Buddha tidak menolak sama sekali adanya sesuatu kepribadian dalam suatu pengertian empiris. Agama Buddha hanya bermaksud menunjukkan bahwa roh kekal tidak ada dalam suatu pengertian mutlak. Istilah filsafat Buddhis bagi seorang individu adalah Santana, yaitu arus atau kelangsungan, yang mencakup unsur-unsur rohani dan jasmani. Kekuatan kamma masing-masing individu merupakan unsur-unsur batin dan jasmani. Arus atau kelangsungan fenomena psiko-fisik yang tak terputus-putus ini disyarati oleh kamma dan tidak terbatas hanya pada kehidupan sekarang, tetapi memiliki sumbernya pada masa lampau tanpa awal serta kelangsungan pada masa yang akan datang.***


Sumber:

INTISARI AGAMA BUDDHA; Nârada Mahâthera; Sangha Theravada Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar