Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Belenggu Kehidupan

Belenggu Kehidupan

(The Prison of Life)

oleh: Ven. Buddhadasa Bhikkhu

Prakata

Belenggu Kehidupan
Kebebasan adalah Keselamatan dari Belenggu
Intisari Tunggal Agama Buddha
Temukan Itu di Dalam
Kehidupan itu sendiri adalah Belenggu
Naluri adalah Belenggu
Indera-indera adalah Belenggu
Takhyul adalah Belenggu
Lembaga-lembaga Suci adalah Belenggu
Guru-guru adalah Belenggu
Benda-benda Keramat adalah Belenggu
Kebaikan adalah Belenggu
Pandangan-pandangan adalah Belenggu
Kesucian adalah Belenggu Tertinggi
Kekosongan adalah Bukan Belenggu


Prakata

Ý

Buku kecil berjudul "Belenggu Kehidupan" ini merupakan terjemahan dari khotbah Achan Buddhadasa kepada orang-orang Barat yang datang untuk berlatih meditasi di Suan Mokkhabalarama, Chaiya, propinsi Suratthani, Thailand, pada bulan Februari 1988. Selama bulan tersebut, kondisi Achan kurang sehat, tetapi pada hari terakhir dari program meditasi tersebut ia merencanakan untuk memberikan intisari dari Dhamma dan dorongan semangat kepada para meditator —sebagai cerminan sikapnya yang ramah.

Khotbah ini, meskipun singkat, sangatlah bernilai dan penting karena ia mengarah langsung ke jantung agama Buddha, yaitu ketiada-melekatan atau bebas dari kemelekatan. Menghilangkan belenggu kehidupan yang tersisa dan kehidupan terhadap ketamakan dan pencengkeraman kepada kehidupan itu sendiri, kepada naluri-naluri, kepada reaksi-reaksi dari indera-indera, kepercayaan membuta dan takhyul, lembaga-lembaga suci, guru-guru, hal-hal yang suci, serta pandangan-pandangan pribadi. Than Achan menunjukkan bahwa bahkan kebajikan dan kesucian, yang dianggap tertinggi, juga dapat menjadi belenggu tertinggi. Sebelum seseorang sampai pada perealisasian bahwa kemelekatan terhadap 'diri' (attavadupadana) adalah penyebab dari penderitaan, pemenjaraan mental & spritual, dan sebelum seseorang sampai pada usaha keras untuk mengeliminasi kemelekatan tersebut, ia tidak akan dapat memperoleh kebebasan, yaitu pembebasan/keselamatan yang sejati, yang merupakan tujuan dari semua agama. Seseorang dapat mencapai pembebasan dengan belajar dan memahami sepenuhnya tentang kehidupan, melalui teknik-teknik konsentrasi, seperti perhatian pada pernafasan (anapanasati) yang mana merupakan meditasi yang nyaman, aman, dan efektif, yang digunakan oleh Sang Buddha, baik sebelum maupun sesudah Pencapaian Kebuddhaan Beliau.

Meskipun buku kecil ini tidak menjelaskan metode/teknik-teknik konsentrasi dengan mendetail, para pembaca dapat mempelajarinya dari buku lain karya Achan yang berjudul "Mindfulness with Breathing: Unveiling the Secrets of Life, A Manual for Serious Beginners", yang telah diterbitkan ke dalam bahasa Thai dan Inggris oleh The Vuddhidham Fund of The Dhamma Study & Practice Group.

Untuk penerbitan-ulang dari buku kecil dalam bahasa Inggris ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Ven. Bhikkhu Santikaro dari Suan Mokkhabaralarama, Chaiya, Suratthani, yang telah menerjemahkannya dari bahasa Thai ke bahasa Inggris, serta juga kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan-ulang ini.

Kami berharap bahwa khotbah di dalam buku kecil ini dapat bermanfaat bagi pencari kebenaran, yang mau menerimanya untuk dipraktekkan dengan sabar dan tekun di dalam hidupnya hingga mampu membebaskan diri mereka sendiri dari penderitaan, dari semua belenggu, sesuai dengan tujuan mereka.

Dengan metta,
The Dhamma Study & Practice Group


Belenggu Kehidupan

Ý

Hari ini, kita akan membahas tentang suatu hal yang disebut "penjara/belenggu". Ini akan membantu kita untuk memahami suatu hal yang disebut "Kehidupan" dengan lebih baik. Kemudian kita akan mengetahui Dhamma dengan lebih baik, yang akan menolong kita untuk menjalani kehidupan tanpa 'dukkha' (ketidak-puasan, kesakitan, kesengsaraan, penderitaan). Jadi siapkan batin/pikiran anda untuk mendengarkan dengan baik.

Di mana kondisi-kondisi dan tanda-tanda dari belenggu itu muncul, di sana terdapat pula dukkha. Anda harus menyelidiki bahwa semua bentuk dan jenis dukkha memiliki sifat-sifat yang membelenggu. Dengan terperangkap, terpenjara, terkunci, dan tenggelam di dalam kesulitan-kesulitan dan pertengkaran-pertengkaran, itu adalah sifat-sifat dari dukkha. Jika anda mengerti hal ini, anda akan memahami dengan lebih jelas arti dari apa yang kita sebut "Upadana". Di mana terdapat "Upadana", di sana juga terdapat belenggu. Hal "Upadana" itu sendiri menimbulkan kondisi-kondisi dari keterbelengguan.

Di mana terdapat upadana, di sana terdapat perbudakan. Perbudakan tersebut bisa jadi yang positif atau negatif, tetapi keduanya sama-sama mengikat. Dengan mengganggap benda-benda serta melekat kepada mereka sebagai "Saya" atau "Kepunyaan Saya", perbudakan terjadi. Bilamana terikat kepada sesuatu, kita berbelenggu di dalamnya, sama seperti terbelenggu di dalam penjara.

Semua prinsip Dhamma dari agama Buddha dapat diringkas menjadi sebagai berikut: Upadana adalah penyebab dari dukkha, dukkha adalah lahir dari upadana. Kita semua harus memahami hal upadana ini dengan baik. Untuk membuatnya mudah dimengerti, kita harus melihatnya dengan jelas sebagai sedang masuk penjara. Ia adalah penjara yang bersifat mental atau penjara bersifat spritual. Jadi kita datang untuk belajar Dhamma dan mengembangkan samadhi (kestabilan mental dan ketenangan) serta Vipassana (pandangan terang) untuk dapat menghancurkan upadana atau jika dikiaskan, adalah untuk menghancurkan penjara/belenggu yang saat ini menjerat kita.

Kita sekarang berbicara tentang penjara yang bersifat mental atau spritual, tetapi ia memiliki arti yang sama seperti penjara yang nyata. Ia mirip dengan penjara yang bersifat fisik di mana orang-orang terkurung di semua tempat di dunia ini. Tetapi sekarang kita berbicara semata-mata tentang penjara yang bersifat spritual. Penjara ini sedikit asing, atau luar biasa, di mana kita tidak dapat melihat hakikatnya dengan mata kita. Bahkan yang lebih luar biasa lagi adalah bahwa orang-orang dengan suka rela dikurung di dalam penjara ini. Orang-orang benar-benar dengan senang hati untuk pergi dan dikurung di dalam penjara spritual ini. Ini adalah aspek yang sangat aneh dari penjara spritual.


Kebebasan adalah Keselamatan dari Belenggu

Ý

Anda harus mengingat kata-kata ini: "keselamatan" atau "kebebasan" yang digunakan di dalam semua agama. Tujuan akhir dari semua agama adalah keselamatan dan kemerdekaan, atau apapun kata-kata yang paling sesuai untuk tiap-tiap bahasa. Tetapi semua kata ini memiliki arti yang sama, yaitu mendapatkan keselamatan. Semua agama mengajarkan tentang keselamatan. Lalu, dari apakah kita selamat? Kita selamat dari penjara spritual. Suatu hal yang anda semua inginkan dan butuhkan —bahkan pada saat ini juga— adalah apa yang disebut "Kebebasan" atau "Kemerdekaan", yang mana adalah terbebas dari penjara. Apakah itu penjara yang bersifat fisik atau materi, ataupun penjara yang bersifat mental dan spritual, artinya adalah sama. Dalam semua hal, kita menginginkan kemerdekaan.

Mereka yang kurang memiliki kebijaksanaan hanya dapat melihat dan takut kepada penjara fisikal atau material. Tetapi mereka yang memiliki kebijaksanaan (pañña) yang melihat dengan lebih dalam akan melihat betapa lebih mengerikan dan berbahayanya penjara spritual tersebut. Sungguh, kita dapat melihat bahwa hampir hanya beberapa gelintir orang yang terkurung di dalam penjara biasa, tetapi setiap orang di dunia ini terperangkap di dalam penjara spritual. Sebagai contoh, setiap orang dari kalian yang duduk di sini adalah bebas dari penjara yang biasa, tetapi kalian semua terkurung/terbelenggu di dalam penjara spritual. Yang membawa kita tertarik kepada Dhamma, untuk datang belajar Dhamma, melatih pengembangan batin, adalah tekanan dan paksaan karena terperangkap di dalam penjara spritual ini. Apakah anda merasakannya atau tidak, tidaklah penting. Ia memaksa kita —dengan cara apapun— untuk berjuang dan mencari jalan keluar dari hukuman penjara yang bersifat spritual ini. Dengan demikian, ia memaksa anda semua, apakah anda menyadarinya atau tidak, untuk menemukan kebebasan spritual. Oleh karena itu anda datang mencarinya ke sini dan tempat-tempat lainnya.

Meskipun yang memenjarakan kita adalah hanya satu hal yakni upadana, penjara ini berlagak dalam aneka ragam bentuk. Terdapat lusinan gaya dan jenis dari penjara/belenggu. Jika kita mempergunakan waktu kita untuk mempelajari setiap jenis penjara/belenggu, itu akan menolong kita untuk memahami fenomena ini dengan lebih baik, dan kita juga akan mengerti lebih baik tentang 'tanha' (keinginan) dan 'kilesa' (kekotoran batin), yang menurut ajaran agama Buddha, adalah sebagai penyebab dukkha. Kita akan mengerti persoalan dari dukkha jika kita mengerti persoalan dari penjara ini dengan jelas dan sepenuhnya.

Saya ingin menyarankan agar anda menggunakan kata "Upadana" daripada "kemelekatan" atau kata-kata yang lainnya. Kata-kata yang lainnya tersebut sering disalah-artikan. Anda mungkin tidak memahaminya dengan sepenuhnya pada saat ini, tetapi cobalah gunakan kata "Upadana" ini untuk membiasakan bibir anda, pikiran anda dan perasaan anda terhadapnya. Kita harus menyadari bahwa jantung dari agama Buddha adalah untuk menyapu bersih upadana. Jantung dari agama Buddha adalah untuk terbebas dari upadana, atau memotong habis akar-akarnya. Maka kemudian tiada lagi belenggu dan tiada lagi dukkha.

Anda harus mengambil arti dari kata-kata bahasa Inggris Attachment (kemelekatan), grasping (ketamakan), dan clinging (memegang dengan erat), kemudian gabungkan mereka untuk mendapatkan arti dari "Upadana". Adalah lebih baik bagi kita untuk menggunakan kata upadana. Artinya lebih luas dan itu akan memungkinkan kita untuk melihat ke dalam permasalahan ini dengan lebih dalam dan lebih luas.


Intisari Tunggal Agama Buddha

Ý

Bisa jadi hanya satu kata sederhana, tetapi Upadana adalah hal yang paling penting. Jantung dari ajaran agama Buddha adalah hanya untuk mencabut ke akar-akarnya atau memotong Upadana ini. Maka kemudian 'dukkha' akan habis. Cobalah mengerti bahwa ini adalah jantung dari semua agama Buddha, ia ditemukan di setiap aliran dan sekolah. Agama Buddha Theravada, Mahayana, Zen, Tibetan, apapun jenisnya dari agama Buddha yang engkau sukai, perbedaan mereka hanya pada nama atau upacara luar dan adat kebiasaan/prakteknya saja. Tetapi di dalam, mereka semua sama: memotong habis Upadana.

Janganlah bersedih, jangan merasa kecewa atau cemas, jangan menyusahkan diri sendiri dengan berpikir bahwa anda belum mampu mempelajari semua sekolah agama Buddha. Jangan kuatir atau gelisah jika anda belum dapat mempelajari agama Buddha di Tibet, di Srilanka, di Burma, di Cina atau di mana saja. Itu hanya membuang-buang waktu saja. Hanya ada satu intisari atau jantung dari semua itu, yaitu: melenyapkan "Upadana". Label-label Theravada, Mahayana, Zen, Tibetan, China menggambarkan hanya lapisan luarnya dari apa yang sesungguhnya sehingga kelihatannya seperti agama Buddha yang berbeda-beda. Jikalau terdapat perbedaan-perbedaan di antara mereka, itu semata-mata adalah pada permukaannya atau pada hal yang tidak penting, yakni pada rangkaian upacara-upacara ritualnya. Jantung persoalan yang sebenarnya, jantung dari semua agama Buddha, adalah sama di mana pun, yaitu: mencabut sampai ke akarnya dan memotong tuntas "Upadana". Jadi, pelajarilah satu hal ini saja. Janganlah membuang-buang waktu dengan bersedih dan berpikir bahwa anda belum mempelajari semua jenis agama Buddha yang berbeda-beda itu. Pelajarilah hal tunggal ini yaitu memotong Upadana, itu sudah cukup.

Jika anda sungguh-sungguh ingin mengetahui agama Buddha Mahayana seperti seorang yang ahli, maka anda harus pergi dan belajar bahasa Sansekerta. Anda mungkin menghabiskan hampir seluruh hidup anda dengan mempelajari bahasa Sansekerta, dan anda tetap saja tidak mengetahui apapun. Atau jika anda ingin mengetahui Zen dengan baik, maka anda harus belajar bahasa China. Menghabiskan seluruh hidup anda dengan belajar bahasa China dan pada akhirnya anda tetap tidak mengetahui Zen. Untuk mengetahui Vajrayana, agama Buddha tibet, anda harus belajar bahasa Tibet. Hanya mempelajari bahasanya saja akan menyita hampir seluruh hidupmu, dan anda juga belum dapat mempelajari apapun. Anda tetap belum mencapai jantung dari agama Buddha. Hal-hal ini hanyalah merupakan pikiran yang dangkal sebagai dampak perkembangan modern. Pahamilah jantung dari semuanya itu, dan pelajarilah bahwa satu hal ini: memotong Upadana. Maka kemudian anda akan mengetahui esensi atau intisari dari agama Buddha, apakah itu berlabel Mahayana, Theravada, Zen, atau Vajrayana. Apakah itu dari China, Jepang, Korea, atau darimana pun, itu semua ada dalam satu persoalan: memotong Upadana.

Bahkan pada satu sekolah dari agama Buddha Theravada pun terdapat bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Di sana terdapat pula berbagai cara yang berbeda dalam hal pengembangan batin. Terdapat jenis meditasi dari Burma, di mana mereka memperhatikan naik-turunnya perut. Juga terdapat jenis-jenis meditasi yang didasarkan pada mantra-mantra: "Samma Araham" dan "Buddho, Buddho", dan juga pada berbagai macam hal yang berbeda-beda. Tetapi jika itu benar, jantung dari tiap-tiap hal itu adalah selalu mempunyai kepentingan yang sama, yakni bertujuan untuk membasmi Upadana. jika ia tidak menuju pada penghapusan upadana, ia tidaklah hal yang sebenarnya/sejati. Dan ia juga tidak akan memberikan manfaat atau kegunaan. Mengapa tidak tertarik pada hal memotong upadana, atau jika berbicara secara kiasan, menghancurkan penjara/belenggu? jadi adalah terbaik jika kita membicarakan tentang penjara/belenggu ini.


Temukan Itu di Dalam

Ý

Berbicara yang paling benar, kita sesungguhnya tidak dapat mempelajarinya dari naskah-naskah, dari metode-metode/teknik-teknik, atau dari berbagai ajaran, jika kita ingin benar-benar berhasil. Untuk berhasil memperoleh manfaat yang sesungguhnya, kita harus mempelajarinya di dalam benda itu sendiri, yaitu belenggu yang sebenarnya. Pelajari dukkha yang ada di dalam dukkha itu sendiri, pada belenggu itu sendiri. Sehingga kita lebih baik mencari dan menemukan penjara ini, yang akan kita bicarakan.

Pada titik ini, kita dihadapkan pada 2 pilihan; apakah anda akan mempelajarinya dari luar atau dari dalam? Perbedaan ini amatlah penting. Sang Buddha berkata bahwa kita harus mempelajarinya dari dalam. Belajar yang dari luar adalah dari buku-buku, upacara-upacara, praktek-praktek, dan hal-hal sejenis itu. Apapun yang harus kita pelajari, Sang Tathagata telah menjelaskannya berhubungan dengan jasmani yang masih hidup ini. Yang berarti jasmani yang hidup dengan batin yang hidup, bukan yang telah mati. Di sanalah pelajaran yang sebenarnya berlangsung, jadi belajarlah di sana. Belajarlah dari yang di dalam, yang berarti belajarlah di dalam dirimu sendiri ketika anda masih hidup, sebelum anda mati. Belajar dari luar —belajar dari buku-buku dan segala upacara-upacara dan ritual yang beraneka macam— belumlah benar-benar mencapai nilai apapun. Jadi marilah kita pelajari di dalam. tolong diingat kata-kata ini: "Pelajari di dalam".

Latihan dalam samadhi dan vipassana (konsentrasi dan pandangan terang), yakni pengembangan perhatian dengan nafas (Anapanasati-bhavana) seperti yang kita lakukan di sini, adalah hal "belajar di dalam" tersebut. Untuk melakukan pelajaran di dalam ini akan membutuhkan agak banyak kesabaran dan ketahanan, tetapi tidak terlalu banyak. Sebenarnya, dibandingkan dengan beberapa hal yang dipraktekkan oleh orang-orang lain seperti misalnya olah raga tingkat tinggi, senam, dan akrobat, hal-hal terebut adalah lebih sulit dari pada latihan dalam samadhi dan vipassana. Orang-orang masih memiliki ketahanan yang cukup, kita akan mampu melatih samadhi dan vipassana melalui perhatian pada pernafasan. Beberapa orang tidak dapat melakukannya, dan mereka telah lari darinya. Kita harus memiliki cukup ketahanan untuk dapat melakukannya dengan baik, dan jika kita meneruskannya lebih jauh, maka kita akan mampu melakukannya dan kita akan memperoleh manfaat-manfaat yang semestinya. Jadi silakan siapkan dirimu untuk pelajaran di dalam ini dan lakukanlah dengan kesabaran dan ketahanan yang cukup.


Kehidupan itu sendiri adalah Belenggu

Ý

Dengan menggunakan kata kiasan, membuatnya lebih mudah bagi kita untuk mengertikan hal-hal yang sedang kita bahas. Jadi kita memanfaatkan mereka di sini dan hari ini kita membicarakannya bersama anda semua tentang masalah dari "Penjara/belenggu" ini. Belenggu yang pertama yang harus anda temukan dan lihat adalah kehidupan itu sendiri. Jika anda melihat kehidupan sebagai belenggu, dan melihat bahwa itu benar belenggu, maka kita harus mengatakan bahwa anda mengetahui kebenaran dari benda-benda/alam dengan cukup baik. Akan tetapi kebanyakan orang melihat kehidupan ini sebagai sesuatu yang menyenangkan, sebagai kesempatan untuk bersenang-senang, mereka berkeinginan untuk hidup demi kesenangan untuk bersenang-senang, mereka berkeinginan menjadi tergila-gila dan asyik dengan kehidupan. Mereka yang tergila-gila dan terkelabui oleh kehidupan adalah apa yang membuat mereka terperangkap di dalam belenggu/penjara.

Jika kita melihat kehidupan sebagai belenggu, maka kita harus melihat upadana di dalam kehidupan ini. Jika kita belum melihat upadana dalam hidup ini, maka kita tak akan melihat bahwa kehidupan adalah belenggu dan kita akan merasa puas atau senang berpikir bahwa kehidupan ini adalah surga adanya. Hal ini karena terdapat begitu banyak hal di dalamnya yang memuaskan kita, yang menipu kita dan mengikat kita, tetapi di dalamnya apapun kita temui hal yang memuaskan, yang cocok, yang menarik, dan mempesona, maka di sana akan terdapat pula upadana. Hal-hal itu menjadi belenggu. Bagaimanapun besarnya kita menyenangi sesuatu, ia pada akhirnya menjadi belenggu karena terdapat upadana. Ia adalah jenis upadana yang positif. Segera bila kita membenci sesuatu, atau tidak suka sesuatu, itu menjadi upadana yang negatif, yang juga merupakan belenggu yang sama. Dengan terpedaya dan tersesat, apakah oleh upadana yang positif atau yang negatif, keduanya adalah belenggu. Dan belenggu tersebut mengarahkan hidup ke dalam dukkha.

Sebagai tambahan, seseorang akan mampu melihat itu apabila terdapat upadana di dalam kehidupan, dan kemudian kehidupan menjadi sebuah belenggu. Dan dengan demikian, apabila tidak terdapat upadana, maka kehidupan bukanlah belenggu lagi. Anda dapat melihat hal ini sekarang juga, di sini, apakah terdapat atau tidak terdapat upadana di dalam hidupmu? "Apakah kehidupanku merupakan belenggu atau tidak? Apakah saya hidup di dalam belenggu upadana, atau tidak?" Tiap-tiap orang dari kalian harus melihat dengan hati-hati dan cermat ke dalam hati anda sendiri dan lihatlah dengan amat jelas apakah kehidupan adalah belenggu bagi anda atau tidak. Apakah anda memiliki belenggu atau tidak? Apakah anda hidup di dalam belenggu atau tidak? Kalau tidak, mengapa kita datang kemari untuk bermeditasi, mengembangkan batin? Pada hakikatnya, tujuan dan maksud sesungguhnya dari pengembangan batin adalah untuk menghancurkan belenggu-belenggu kita. Apakah pelajaran-pelajaran dan latihan-latihan anda berhasil, apakah anda dapat menghancurkan belenggu atau tidak, itu adalah persoalan yang lain. Namun demikian, tujuan dan maksud kita yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan belenggu dari kehidupan.

Perhatikan hal ini dengan teliti. Jika kita tidak mengenali "Upadana", kita terperangkap di dalam belenggu, bahkan tanpa kita mengenali belenggu tersebut. Kita terperangkap di dalam belenggu tanpa mengetahui belenggu itu. Lebih dari itu, kita merasa senang dan terpikat dengan belenggu itu, sama seperti kita terpikat dan merasa senang dengan kehidupan. Karena kita tergila-gila dan senang di dalam hidup, kita terperangkap di dalam penjara/belenggu kehidupan. Apakah yang kita akan lakukan agar tidak menjadi suatu belenggu? Ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab dengan sangat hati-hati dan benar.

Bagaimana kita harus hidup agar hidup itu tidak menjadi belenggu? Ini berarti bahwa biasanya, atau alamiahnya, kehidupan bukanlah belenggu, bahwa hanya kitalah yang membuatnya menjadi belenggu karena memiliki upadana. Disebabkan oleh ketidak-tahuan (kebodohan) kita sendiri, kegelapan batin kita sendiri, ketiadaan pengertian yang benar, kita memiliki upadana di dalam hidup. Kehidupan kemudian adalah belenggu, menjadi belenggu bagi kita. Dalam bahasa Thailand, kita mempunyai kalimat yang sederhana tetapi kritis, yaitu: "Som Nam Na Man", yang berarti sesuatu seperti "Ia melayanimu dengan benar (It serves you right)". Kehidupan bukanlah belenggu atau yang lainnya, tetapi karena kebodohan kita sendiri kita membuat upadana melalui ketidak-tahuan (Avijja) dan kemudian di sana terdapatlah belenggu. Yang dapat kita katakan: "Som Nam Na Man, ia melayanimu dengan benar".

Jika anda berhasil dalam berlatih anapanasati-bhavana (perhatian terhadap pernafasan untuk mengembangkan batin), anda akan memahami kehidupan dengan baik. Anda akan mengetahui upadana dengan baik dan anda tidak akan memiliki upadana lagi di dalam hal yang kita sebut "kehidupan" ini. Maka belenggu tidak terjadi; belenggu-belenggu apapun yang ada akan tersingkirkan dan lenyap. Arti ini memiliki nilai tertinggi, tetapi siapa yang mendapatkannya atau yang tidak mendapatkannya, itu adalah persoalan yang lain. Cobalah berusaha untuk mengerti kenyataan-kenyataan ini sebagaimana mestinya. Ini akan mendorong anda untuk mengisi diri anda sendiri dengan energi dan kesabaran untuk mampu menghancurkan belenggu/penjara tersebut.

Satu jalan/cara untuk melihat kepada hal ini adalah dengan memeriksa kenyataan-kenyataan bahwa kehidupan harus dijalankan sesuai dengan hukum alam; atau bahwa kita sendiri harus berjalan di atas garis yang sesuai dengan hukum alam. Kita harus mencari makan, harus bergerak/berolah raga, harus istirahat dan relax, harus bekerja untuk memelihara dan menopang kehidupan kita; kita harus melakukan hal-hal ini dan semua hal-hal lainnya yang anda ketahui dengan baik. Tidak melakukan hal-hal tersebut adalah tidak mungkin. Kita terpaksa atau harus melakukannya. Ini adalah belenggu juga. kenyataan bahwa kita harus selalu mengikuti hukum alam adalah suatu jenis belenggu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari belenggu ini?

Mengapa kita terperangkap di dalam penjara ini dan harus menjadi subyek dari hukum alam? Belenggu ini datang dari upadana kita dengan menganggap diri kita sendiri, atau menganggap sebagai kehidupan kita. Apabila terdapat upadana terhadap diri kita, maka "Aku", diri/ego lahir. "Aku" ini adalah selalu cemas, selalu gelisah, selalu kuatir dan merasa takut terhadap tugas-tugas alam ini, dan dengan demikian membuat mereka menderita. Kesulitan-kesulitan, problem-problem ini datang dari upadana. Jika kita tidak memiliki upadana dengan menganggap "Aku", maka tugas-tugas yang penting ini tidak lagi menjadi belenggu. Kita akan sanggup untuk memburu kebutuhan-kebutuhan hidup kita, mencari nafkah, serta melatih dan merawat jasmani, tanpa menjadi sengsara, karena kita tidak memiliki upadana terhadap kehidupan. Ini adalah sangat halus; yang merupakan misteri bagi kebanyakan orang. Ini adalah hal yang paling halus dari kebenaran alami. Bagaimanakah caranya kita hidup agar tiada "dukkha" yang terkait dengan kenyataan bahwa apapun di dalam kehidupan ini harus memainkan peran di dalam garis hukum alam?


Naluri adalah Belenggu

Ý

Belenggu berikutnya untuk dipertimbangkan adalah bahwa kita hidup di bawah pengaruh naluri. Kita berada di bawah kekuasaan naluri (insting). Semua benda hidup, apakah manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, memiliki naluri/insting. Naluri-naluri ini secara terus-menerus menekan kita untuk mengikuti perhatian-perhatian dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Ini khususnya nyata untuk naluri seksual atau reproduksi. Berapa banyak ia mengendalikan, mempertentangkan, menggiatkan, dan menyulitkan kita. Perasaan seksual dan dorongan reproduksi memeras kita, menindas kita, mengganggu kita dengan sangat luas; mereka memaksa kita melewati semua jenis kesulitan. Tetapi kita tidak dapat menyetop. Kadang-kadang kita lebih suka ia seperti ini. Anak-anak kita tumbuh dan menjadi dewasa hingga tahap di mana naluri seksual matang dengan sempurna dan kemudian sang anak terperangkap di dalam penjara/belenggu naluri seksual ini. Akhirnya, bahkan naluri untuk berpamer dapat mempengaruhi hidup kita. Banyak orang tidak akan berpikir bahwa hal ini adalah sebuah naluri, tetapi semua hewan memilikinya. Kebutuhan untuk memamerkan diri, untuk menyombongkan diri, untuk memperagakan diri adalah sebuah naluri/insting. Bahkan hewan-hewan memiliki kondisi untuk ingin memamerkan diri bahwa mereka adalah cantik, kuat, tangkas, atau apa saja. Bahkan naluri yang paling gila, paling tidak masuk akal ini adalah sebuah belenggu. Kita ingin memamerkan dan membanggakan diri. Jika itu bukan belenggu, ia tak akan memaksa dan menekan kita ke dalam keadaan yang paling minim. Bagaimanapun, sekarang ia memaksa kita untuk membeli pakaian indah, perhiasan cantik, sepatu cantik, dan bahkan banyak dari mereka juga! Mengapa kita harus memiliki banyak pakaian yang cantik dan banyak pasang sepatu yang cantik? Mengapa kita membutuhkan mereka semua? (Dan maaf, kita harus menyebut kaum wanita pada khususnya). Terdapat naluri untuk memamerkan diri dan ia adalah satu jenis belenggu. Karena orang-orang tidak dapat menahannya, mereka dipaksa untuk mengikuti naluri ini, menghabiskan semua jenis uang pada semua jenis barang. Naluri untuk memamerkan diri adalah yang paling lucu, yang paling menggelikan dari mereka semua. Ia tetap benar-benar adalah sebuah belenggu. Orang-orang tidak pernah memiliki cukup uang disebabkan oleh belenggu ini. Cobalah pertimbangkan dan renungkan dengan teliti tentang contoh-contoh naluri ini yang telah kita pelihara. Mereka adalah belenggu-belenggu.

Jika kita berpikir tentang hal ini, jika kita membuat perhitungan terhadap semua pengeluaran kita, kita akan menemukan bahwa sebagian orang menghabiskan lebih banyak uang pada pakaian, perhiasan, dan membuat diri mereka tetap cantik, daripada mereka habiskan untuk makanan. Lebih jauh, mereka ingin mendekor dan mempercantik rumahnya, yang semakin membengkakkan pengeluaran mereka. Dari semuanya, kedua hal tersebut adalah yang lebih banyak mereka keluarkan daripada makanan, yang merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan. Kita menghabiskan uang lebih banyak kepada benda-benda yang tidak penting di dalam hidup ini daripada kebutuhan-kebutuhan hidup, seperti makanan. Ini adalah salah satu lagi jalan orang terperangkap ke dalam belenggu yang bersifat naluriah.


Indera-indera adalah Belenggu

Ý

Selanjutnya, kita sampai pada belenggu yang paling menarik, yakni belenggu yang paling dekat dengan kita. Mereka adalah: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran: enam ayatana atau enam landasan indera. Mereka adalah belenggu juga. Cobalah lihat mereka dengan perlahan dan teliti. Dengarkan dengan seksama untuk dapat mengerti bagaimana mata kita, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran —keenam dari mereka— menjadi suatu belenggu.

Dalam bahasa Pali kita menyebut mereka: ayatana. Akar dari kata ini secara literatur berarti "alat untuk berkomunikasi dengan dunia luar", tempat-tempat,peralatan-peralatan, alat-alat, atau apa saja, untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan dunia luar. Kita sebut mereka "ayatana". Jika anda mau, pakai saja kata bahasa Pali "ayatana" ini. Kita tidak yakin untuk menyebut mereka apa dalam bahasa Inggris, mungkin "media rasa (sense media)". Semua keenam ayatana ini adalah belenggu.

Kita memiliki upadana terhadap kehidupan, menganggap diri kita sendiri, yang memiliki enam landasan indera ini untuk merasakan, untuk mengalami, untuk berkomunikasi, atau untuk mencicipi dan menerima obyek-obyek indera. Ketika terdapat upadana yang berkaitan dengan keenam landasan indera ini, kita melayani mereka, dan kita menjadi budak mereka. Sehingga kita melayani sang mata untuk memuaskan mata. Kita melayani telinga untuk memuaskan telinga. Kita melayani hidung untuk memuaskan hidung. Kita melayani lidah untuk memuaskan lidah. Kita melayani pikiran, indera mental, adalah untuk menenangkan dan kenyamanannya. Ini berarti bahwa semua tingkah laku kita adalah semata-mata untuk menghibur/menyenangkan ayatana ini. Apapun yang kita lakukan adalah demi keenam ayatana ini. Kita menyerah kepada mereka dan menjadi budak mereka. Kemudian, mereka menindas dan mengendalikan kita, tak ada yang dapat menghindari mereka. Kita menyebut ini sebagai "terperangkap di dalam belenggu ayatana".

Pikirkanlah apakah terdapat seseorang atau salah satu dari kalian, yang tidak diperbudak untuk melayani keenam ayatana ini. Dan anda melayani mereka dengan suka hati, bukankah demikian? Anda menahan berbagai penderitaan/kesukaran dan berusaha mati-matian untuk melayani mereka, selalu mencari jalan untuk membuat mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran menjadi nyaman dan senang, dengan berbagai cara. Jadi kita mesti mengakui bahwa kita diperbudak. Orang-orang yang kurang bijaksana pasti akan menjadi budak dari ayatana, dan akan tetap terperangkap di dalam belenggu ayatana ini. Melalui latihan yang benar dan sukses dari perhatian terhadap pernafasan, kita akan selamat dari belenggu tersebut. Jika kita melatih anapanasati dengan tidak benar dan tidak sempurna, kita akan tetap terperangkap di dalam belenggu ayatana untuk waktu yang tidak diketahui lamanya.


Takhyul adalah Belenggu

Ý

Untuk jenis belenggu berikutnya, kita ingin menyebut bahwa kita ditipu oleh hal yang disebut sebagai "Saiyasatr". Semua upacara atau formalitas yang mengandung takhyul dan kepercayaan-kepercayaan terhadap takhyul adalah saiyasatr. Semakin bodoh atau tidak tahu, semakin besar orang kurang memiliki pengertian yang benar, maka semakin besarlah seseorang terperangkap di dalam belenggu takhyul ini. Sekarang pendidikan dan ilmu penngetahuan (vidayasatr) telah berkembang, yang telah menuntun kepada pengertian yang lebih baik terhadap kebenaran-kebenaran alam, dan terhadap semua hal. Tetap saja, terdapat begitu banyak orang yang terperangkap di dalam belenggu takhyul ini. Ini adalah hal yang bersifat personal/pribadi. Sebagian orang terperangkap dengan amat sangat dan sebagian lagi tidak terlalu banyak. Orang-orang terperangkap dalam tingkatan dan jalan yang berbeda-beda, tetapi kita dapat mengatakan bahwa di sana tetap terdapat orang-orang yang terperangkap di dalam belenggu saiyasatr, terperangkap oleh ketakhyulan.

Meskipun pada umumnya takhyul ini telah berkurang banyak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, masih saja terdapat sedikit saiyasatr yang tertinggal di kuil-kuil dan gereja-gereja. Harap kami dimaafkan karena berkata demikian tetapi tempat di mana kita dapat menemukan ketakhyulan paling banyak adalah di dalam gereja-gereja, kuil-kuil, dan di tempat-tempat semacam itu. Di mana ada altar, di mana orang-orang menyembah dan bersembahyang maka di sana adalah tempat di mana "ilmu pengetahuan bagi seorang penidur" berlangsung. Takhyul, saiyasatr, adalah untuk orang-orang yang tidak sadar. Itu adalah untuk mereka yang tidak mengerti dengan benar, mereka yang diliputi oleh kegelapan/ketidak-tahuan. Kita diajarkan tentang hal-hal ini saat kita masih kanak-kanak, sebelum kita memiliki intelegensi dan kemampuan untuk dapat berpikir tentang hal itu.

Anak-anak percaya apapun yang mereka katakan, dan juga "orang-orang dewasa" mengajari mereka banyak hal-hal takhyul. Jika anda tetap berpikir bahwa angka 13 adalah angka sial, itu adalah saiyasatr. Anda masih tetap "tertidur". Masih terdapat banyak contoh dari takhyul ini, tetapi kita sebaiknya tidak menyebutkan mereka semua. Beberapa orang mungkin akan menjadi tersinggung. Hal-hal semacam ini adalah belenggu. Mengapa kita tidak cukup teliti untuk melihat mereka sebagaimana adanya. Bahkan angka "13" menjadi sebuah belenggu.

1) Saiya berarti "tidur. Satr (dari bahasa sansekerta: sastra, pengetahuan, senjata) berarti "ilmu pengetahuan" dan digunakan seperti akhiran "ology". Bersama-sama, mereka berarti "ilmu tidur" (sleepology) atau "ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tidur" (sleepy science).
2) Vidayasatr, berasal dari "vidaya", "pengetahuan, ilmu pengetahuan", dan "sastra".


Lembaga-lembaga Suci adalah Belenggu

Ý

Kita akan lanjutkan dengan lembaga-lembaga atau pendirian-pendirian yang dianggap suci dan keramat, atau yang terkenal dan kenamaan; atau hal-hal yang didesas-desuskan sebagai elit dan bergengsi, di mana setiap orang yang menjadi anggotanya adalah bergengsi juga. Terdapat banyak tempat-tempat dan lembaga-lembaga seperti itu di sekitar kita. Begitu seseorang terdaftar sebagai anggota pada asosiasi atau organisasi itu, lembaga atau pendirian itu, mereka mulai memiliki pikiran dan perasaan tentang hal itu. Mereka merasa bahwa "kita lebih baik daripada mereka", atau "kita adalah orang-orang yang benar dan yang lainnya adalah bodoh". Mereka memegang dan menggenggam tanpa sedikitpun berpikir kritis dan mempunyai pertimbangan. Dalam hal ini, lembaga itu, bahkan gereja itu (kita tak dapat menghindari untuk mengatakannya pula) menjadi sebuah belenggu. Jadi kami mohon kepada anda sekalian, janganlah berpikir bahwa Suan Mokkh adalah suatu lembaga suci atau keramat, kalau tidak, maka Suan Mokkh akan menjadi sebuah belenggu. Mohon, jangan jadikan Suan Mokkh sebagai belenggu anda. Anda harus berpikir secara bebas, memeriksa dengan teliti, mengevaluasi secara kritis. Pahamilah dan percayalah hanya pada apa yang benar-benar bermanfaat. Janganlah terbelenggu di dalam lembaga-lembaga bergengsi atau ternama tersebut.


Guru-guru adalah Belenggu

Ý

Sekarang kita beralih kepada yang disebut "ajahn" (guru, master), guru-guru terkenal yang namanya bergema jauh. Di Burma terdapat "sayadaw ini", di Thailand terdapat "Ajahn Itu", di Tibet ada "Lama ini dan itu", di China terdapat "Master siapa saja". Setiap tempat memiliki gurunya yang terkenal, yang namanya melambung ke sekitarnya. Apakah dalam lingkup nasional, regional, propinsi, atau lokal, di setiap tempat memiliki Guru Besarnya masing-masing. Kemudian orang-orang berpegang erat dan melekat kepada guru-guru mereka sebagai guru satu-satunya yang paling benar, yang paling baik, dan semua guru-guru lainnya adalah sepenuhnya salah. Mereka menolak untuk mendengar kepada guru-guru orang lainnya. Dan mereka tidak mempertimbangkan atau memeriksa ajaran-ajaran dari Ajahn-ajahn atau guru-guru mereka sendiri. Mereka terperangkap di dalam "Penjara Guru". Mereka menjadikan sang guru sebagai belenggu, dan mereka terperangkap di dalamnya. Itu adalah sebuah kemelekatan yang benar-benar menggelikan. Apakah itu guru besar atau guru kecil, upadana yang ada adalah sama. Mereka tetap membangun penjara/belenggu atas guru-guru mereka. Cobalah untuk tidak terperangkap di dalam penjara/belenggu ini.


Benda-benda Keramat adalah Belenggu

Ý

Belenggu berikutnya adalah kitab-kitab suci, yang dapat kita temukan di mana saja. Di antara orang-orang yang tidak memiliki cukup kebijaksanaan hal-hal ini sangatlah dilekati, dan semakinlah hal itu menjadi "Suci". Mereka bahkan menjadi setara atau dianggap sebagai pengganti Tuhan dan yang memilikimu. Seolah-olah hanya dengan membawa kitab-kitab suci, itu adalah sama dengan mendapatkan keselamatan yang sesungguhnya. Itu menyebabkan terdapat banyak jenis benda-benda suci, seperti: relics suci, air suci, dan semua jenis benda-benda suci. Berhati-hatilah dengan kata "Suci" ini. Ia akan menjadi belenggu sebelum anda mengetahuinya. Semakin suci sesuatu itu, semakin kuat ia membelenggu. Hati-hatilah terhadap apa yang disebut "Kekeramatan" atau "kesucian" tersebut.

Anda harus mengetahui bahwa tiada yang lebih suci/keramat daripada hukum Idappaccayata (hukum dari hal-hal yang berkondisi), kesucian tertinggi yang lebih tinggi daripada semua hal/benda. Apapun yang dikatakan suci karena dianggap oleh orang atau yang dibuat oleh orang-orang sendiri, adalah suci yang berisikan upadana. Di mana terdapat kesucian yang berisikan upadana, maka kesucian itu adalah belenggu. Hukum dari Idappaccayata adalah suci di dalam dirinya sendiri, tanpa membutuhkan kemelekatan-kemelekatan apapun. Ia tak memerlukan upadana. Ia telah mengendalikan segala sesuatu dan adalah benar-benar suci oleh dirinya sendiri. Berusahalah untuk tidak terperangkap di dalam belenggu dari hal-hal/benda-benda suci. Jangan membuat benda-benda suci menjadi belenggu bagi dirimu.


Kebaikan adalah Belenggu

Ý

Belenggu selanjutnya adalah satu hal yang sangat penting, satu hal yang menyebabkan semua segi persoalan. Belenggu ini adalah apa yang mereka sebut "kebajikan". Setiap orang senang "baik" dan mereka semua mengajarkan satu sama lain untuk berbuat baik. Kemudian mereka memuja apa yang mereka sebut "baik" itu. Tetapi begitu terdapat upadana yang bercampur di dalam apa yang mereka sebut baik itu, maka "baik" itu lalu menjadi belenggu. Anda harus memiliki hal-hal baik —memiliki kebaikan— tanpa memiliki upadana, maka "baik" tersebut tidak akan menjadi belenggu. Jika di sana terdapat upadana, ia menjadi belenggu. Seperti yang kita katakan, mereka menjadi gila terhadap kebajikan, mereka menjadi mabuk pada kebajikan, mereka tersesat di dalam kebajikan, hingga hal itu berubah menjadi problem. Jadi ekstra berhati-hatilah agar tidak membuat kebajikan menjadi belenggu. Tetapi tiada suatu apapun yang dapat kita lakukan untuk menolong sekarang, setiap orang terperangkap di dalam belenggu kebajikan —dengan membuta, terlena, terkurung di dalam belenggu kebajikan.

Jika anda adalah seorang Kristen, kami meminta agar anda memikirkan dan mempertimbangkan lebih banyak tentang ajaran dalam buku Genesis, di mana Tuhan melarang Adam dan Eva memakan buah dari Pohon Pengetahuan tentang Baik dan Jahat. Janganlah mencari dan memakannya, karena ia akan membawa kepada pengetahuan bagaimana untuk membedakan antara baik dan jahat. Kemudian ia melekat dengan upadana terhadap baik dan jahat itu. Maka kemudian baik dan jahat itu menjadi belenggu. Ajaran ini adalah sangat dalam dan baik, paling pandai dan bijaksana, tetapi tak seorang pun yang nampaknya memahaminya. Orang-orang tidak menunjukkan ketertarikan padanya dan tidak dapat menjadi orang Kristen yang benar. Jika mereka adalah orang-orang Kristen yang semestinya, mereka tidak akan memegang dengan upadana terhadap baik dan jahat. Kita seharusnya tidak membuat baik dan jahat tersebut menjadi belenggu. Ini berarti tidak terperangkap di dalam belenggu kebajikan.

Kita memakan buah tersebut dan menjadi tahu tentang baik dan jahat, kemudian terperangkap dan melekat di dalam semua kebaikan dan kejahatan itu. Kita telah memiliki problem-problem yang berkelanjutan sejak saat itu, yang kemudian ia disebut "Dosa asal", atau kadang-kadang "Dosa abadi". Ia menjadi belenggu yang mula-mula ini, belenggu yang kekal abadi. Berhati-hatilah: waspadalah agar tidak terperangkap di dalam belenggu yang mula-mula ini, belenggu yang kekal ini. Jangan pernah biarkan dirimu terperangkap di dalam penjara/belenggu ini.

Dengan terbelenggu di dalam kebajikan, atau dalam hal yang baik itu, seketika itu pula seseorang terperangkap untuk meneruskan lebih jauh pada semua jalan untuk mencapai kabajikan tertinggi. Maka kemudian kebajikan tertinggi itu akan menjadi belenggu tertinggi pula. Jika itu dikembangkan dalam cara ini, maka kemudian Tuhan akan menjadi belenggu tertinggi/terbesar. Semoga anda mengerti dan mengingat bahwa upadana membangun belenggu/penjara dalam cara ini.


Pandangan-pandangan adalah Belenggu

Ý

Belenggu selanjutnya adalah "ditthi" kita sendiri. Bahasa Pali "ditthi" sulit diterjemahkan. Pengetahuan, pikiran-pikiran, ide-ide, teori-teori, opini-opini, kepercayaan-kepercayaan, pengertian-pengertian semua ini adalah disebut "ditthi". Ditthi berarti semua pikiran pribadi kita, opini pribadi kita, teori-teori dan kepercayaan-kepercayaan pribadi kita. Ia tidak hanya opini-opini tertentu dan sedikit kepercayaan, tetapi ia semua dari mereka, semua pandangan-pandangan. Segala sesuatu yang kita alami kemudian kita memiliki pandangan, adalah disebut "ditthi". Kita terperangkap di dalam belenggu dari pandangan-pandangan kita sendiri. Ini adalah belenggu yang paling mengerikan/dahsyat, karena kita tidak sabar, terburu-buru, tergesa-gesa berlayar bersama pandangan-pandangan pribadi sendiri. Kita membalikkan badan kita dan menyia-nyiakan hal-hal yang semestinya memberikan manfaat kepada kita, karena batin kita telah tertutup terhadap segalanya kecuali ide-ide kita sendiri, kepercayaan-kepercayaan dan pandangan-pandangan kita sendiri. Oleh karena itu, pandangan-pandangan ini menjadi belenggu yang amat mengerikan yang mengikat kita dan mengurung kita ke dalam hanya satu jalan pemahaman. Berhati-hatilah terhadap belenggu dari ditthi diri sendiri ini.


Kesucian adalah Belenggu Tertinggi

Ý

Berikut kita beralih pada sebuah belenggu yang benar-benar aneh dan menakjubkan; anda dapat menyebutnya sebagai "belenggu tertinggi". Belenggu tertinggi adalah apa yang mereka sebut "tanpa kesalahan', atau "kemurnian/kesucian". Adalah sulit untuk benar-benar memahami apa yang mereka maksudkan dengan kata-kata ini. Kita mendengar semua jenis pembicaraan tentang ketanpa-kesalahan dan kesucian, tetapi orang-orang nampaknya tidak pernah mengerti atau mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Kesucian ini digenggam erat dan dilekati, yang dianggap sebagai ini dan itu, yang dipuja, yang digunakan untuk berpamer dan bersaing, untuk dibanggakan di mana-mana sebagai bagaimana sucinya "saya ini". Tetapi jika di sana terdapat upadana, itu semua hanyalah kesucian yang berisikan upadana, bukan kesucian yang asli. Terdapat banyak bentuk kesucian yang diterima dan dipegang erat-erat, seperti: perlunya dimandikan, membuat mantra/jampi-jampi, diupacarai dengan minyak suci, pemercikan atau penyiraman dengan air suci oleh yang dianggap mengetahui; atau berbagai bentuk ritual dan upacara yang amat banyak yang dilakukan demi "kesucian, kesucian". Kesucian ini adalah asli upadana, dan kesucian yang berisikan kemelekatan adalah belenggu. Janganlah tersesat dan berakhir di dalam belenggu yang bernama "kesucian" ini.

Ini adalah sesuatu yang menyedihkan untuk didlihat. Melekat kepada diri dengan amat sangat, kemudian melekat kepada kesucian yang juga sebesar itu, beberapa keyakinan religius bahkan bertindak lebih jauh lagi dengan mengajarkan beberapa kesucian yang abadi di mana beberapa jiwa kekal tinggal di dalam kekekalan. Semua hal tersebut datang dari keinginan dan kemelekatan kepada kesucian yang berisikan upadana, hingga seseorang terperangkap di dalam penjara/belenggu yang kekal. Itu semata-mata berakhir pada belenggu yang kekal.


Kekosongan adalah Bukan Belenggu

Ý

Ini adalah yang terakhir, belenggu terakhir. Bebas dari belenggu kesucian yang tertinggi, lolos dari belenggu tersuci, menuju kepada kekosongan yang bebas dari jiwa dan diri/inti. Tidak memiliki diri/inti, hidup bebas dari diri/inti, kosong dari diri/inti —dari perasaan terhadap diri/inti, kosong dari semua ide-ide dan pikiran-pikiran tentang diri/inti— adalah kesucian yang sebenarnya. Kesucian apapun yang benar-benar kekal, tidak akan menjadi belenggu dalam semua hal, kecuali kalau orang-orang salah mengerti dan menggenggam kepadanya sebagai suatu diri atau jiwa, maka dalam hal ini ia menjadi suatu belenggu lagi. Mari kita dengan tegas membebaskan secara mutlak konsep tentang diri, maka itu adalah kesucian yang sesungguhnya. Di sana tiada belenggu. Kekosongan adalah kesucian yang tanpa belenggu.

Jadi belenggu-belenggu yang sesungguhnya itu, kumpulan dari semua belenggu yang telah disebutkan di depan, adalah hal yang mereka sebut "Atta" (ini dalam bahasa Pali) yang berarti "diri", atau "jiwa". Diri sendiri adalah belenggu. Diri sendiri di sini adalah belenggu. Setiap jenis belenggu adalah termasuk di dalam ini, berasal dari kata-kata: "diri sendiri" atau "diriku sendiri". Menggenggam diri sebagai diri, dan kemudian sebagai milik sang diri, melekat kepada "aku" dan "milikku", ini adalah belenggu yang sebenarnya, jantung dan jiwa dari belenggu. Seluruh belenggu adalah berhimpun di dalam kata "atta". Patahkan kebodohan yang menciptakan "atta", bersama-sama dengan atta itu sendiri, maka semua belenggu akan lenyap. Jika anda berlatih anapanasati (perhatian pada pernafasan) dengan benar hingga benar-benar sukses dalam latihan itu —yang sejati, bukan keberhasilan yang dikirakan—, anda akan menghancurkan semua belenggu dengan total. Yakni, mnghancurkan atta, maka semua belenggu akan habis dan kita tidak akan pernah membangun belenggu apapun lagi. Semoga anda semua mengalami keberhasilan dalam menghancurkan belenggu-belenggu tersebut, yakni "atta", diri/inti.

Tujuan anapanasati adalah untuk melenyapkan semua bekas/sisa dari upadana yang berkenaan dengan diri/inti. Pemusnahan total dari kemelekatan terhadap diri/inti adalah pemadaman final dan sempurna dari dukkha, yang kemudian menjadi kebebasan, keselamatan. Tujuan tertinggi dari setiap agama adalah keselamatan, nilai dan manfaat yang berada di luar kata-kata. Jadi cobalah berusaha melakukan Anapanasati. Bila berlatih dengan benar, ini akan membawa kepada pembebasan dari atta. Saya telah berusaha dengan sebaik mungkin dan saya ingin melakukan apa saja yang dapat saya lakukan untuk menolong setiap orang memahami anapanasati dan mempraktekkannya dengan sukses, agar semua dari kita dapat bebas dari semua aspek belenggu manusia.***


Sumber:

The Prison of Life, Ven. Buddhadasa Bhikkhu, Ir. Lindawati. T (alih bahasa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar