Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Hakekat Agama

Hakekat Agama

oleh: Buddhadasa Bhikkhu

Judul Asli: No Religion; Buddhadasa Bhikkhu; Sublime Life Mission, Bangkok



"Kenalilah dirimu sendiri". —Hal ini berarti bahwa di dalam dirimu secercah mutiara (Kebenaran Sejati) dapat ditemukan. Mengapa mengabaikannya? —Semua kosong adanya; Di dalam jiwa sekuntum teratai sedang mekar. Didalam teratai, —mutiara yang paling berharga; Seseorang seharusnya menemukan dan menyadari, bahwa Pencerahan dan Pengetahuan terdapat di dalam hati. Semuanya berasal dari pengenalan dirimu sendiri". (Buddhadâsa Bhikkhu).

Kerjakanlah segala sesuatu dengan pikiran yang kosong, dan lalu berikanlah semua hasil yang kita peroleh dengan pikiran yang kosong; Ambillah pikiran yang kosong sebagai makanan seperti halnya yang dilakukan orang suci; Dan Lho! Jiwa dan ragamu ternyata telah mati sejak semula.

Do work of all kinds with a mind that is void; And then to the voidness give all of the fruit; Take food of the voidness as do Holy Saints; And Lo! You are dead to yourself from the very Beginning.

Di saat saya berbicara seperti sekarang di sini, saya sama sekali bukanlah sedang memberikan kuliah atau khotbah, melainkan hanya menyajikan suatu ceramah yang tidak resmi. Saya berharap anda semua memahaminya dan kita dapat berbicara serta berkomunikasi satu sama lain tanpa formalitas sebab ceramah kita di sini adalah agak berbeda dan lain dari biasanya. Hal yang lain adalah bahwa saya hanya membicarakan masalah yang penting-penting; topik penting yang memerlukan perhatian yang besar; oleh karena itu, kalau anda tidak berhati-hati di saat mendengarnya, anda mungkin akan sulit mengikutinya dan barangkali anda akan sulit mengikutinya dan barangkali anda akan salah paham, terutama bagi anda yang belum pernah mendengar ceramah-ceramah saya sebelumnya yang ada hubungannya dengan ceramah sekarang. Sebenarnya sulit bagi saya agar pada setiap ceramah baru harus mempertahankan hubungannya dengan ceramah sebelumnya. Terakhir kali kita berbincang mengenai 'Sunya' (voidness=kekosongan)[1]. Kali ini saya bermaksud membicarakan "Hakekat Agama". Jika anda merasa agak aneh, atau jika anda merasa sulit memahaminya, maka ada baiknya apabila anda merenungkannya kembali sejenak. Anda tidak perlu segera mempercayai kebenarannya.
[1] Suñña (bhs.Pali) —kosong dari suatu inti yang kekal; jiwa yang tak terpolusi.

Pada pertemuan kali ini saya merasa ada sesuatu yang membuat kita agak sulit untuk saling mengerti satu sama lain, dan itu tak lain tak bukan adalah masalah bahasa itu sendiri. Bahasa yang lazim kita pergunakan disebut bahasa Awam; bahasa dari orang awam. Ini adalah salah satu jenis bahasa. Lalu ada bahasa yang dipakai oleh mereka yang mengerti kebenaran sejati (Dhamma), khususnya mereka yang mengenal dan mengerti kebenaran dengan pengertian yang dalam. Ini adalah jenis bahasa yang lain, yang kadang-kadang hanya diucapkan dalam beberapa kata, atau bahkan hanya beberapa suku kata, yang bisa membuat orang-orang awam yang mendengarnya merasa sangat asing (paradoks), sangat berlawanan dengan bahasa yang dipakai sehari-hari. Jadi perlu dicatat di sini bahwa ada dua bahasa yang dipakai selama ini: "Bahasa Awam" yang dipakai orang awam yang kurang mendalami Dharma, di mana mereka kurang menaruh perhatian terhadap segala hal kecuali hal-hal yang bersifat kebendaan; dan bahasa yang dipakai oleh mereka yang telah mengenal Kebenaran Tertinggi (Dhamma); yang merupakan bahasa yang berbeda. Kita akan menamakannya "Bahasa Dhamma"; Bahasa inti yang mengarahkan kita kepada inti kebenaran. Oleh karena itu anda harus bisa membedakan bahasa mana yang sedang kita pergunakan.

Mereka yang kurang memahami kebenaran sejati (Dhamma) yang memakai "Bahasa Awam", bahasa yang lazim dipakai orang awam. Dalam hal ini mereka yang telah mengerti kebenaran sejati (Dharma sejati) dapat memakai kedua bahasa tersebut. Mereka dapat memakai bahasa Awam dengan baik, begitu juga dengan bahasa Dhamma, terutama ketika mereka berbicara dengan seseorang yang juga telah mengenal kebenaran atau yang telah mengenal Dhamma. Pada saat itu hanya kebenaran sejati (Dhamma) yang didiskusikan dan bahasa Dhamma dipakai tersendiri, yang sulit dimengerti oleh orang awam. Bahasa Dhamma hanya dimengerti oleh mereka yang sudah mengerti kebenaran sejati. Lebih jauh lagi, bahasa Dhamma bahkan tidak memerlukan suara apapun. Sebagai contoh, jari telunjuk diarahkan atau alis mata dinaikkan[2] sudah merupakan arti dari suatu kebenaran sejati yang dapat dipahami. Oleh karena itu, saya meminta anda untuk selalu mengingat bahwa ada dua jenis bahasa yakni Bahasa Awam dan Bahasa Dhamma.
[2] Maksudnya adalah bahwa semua tindakan yang sewajarnya telah merupakan kebenaran sejati.

Sekarang marilah kita memperhatikan contoh berikut ini. Di dalam dunia yang penuh dengan kebodohan ini selalu timbul kesan adanya agama ini dan agama itu dan kesan bahwa agama-agama tersebut adalah berbeda, kadang-kadang berbeda bahkan sampai ke taraf permusuhan. Sebagai contoh, dia adalah umat Kristen, umat Islam, atau umat Buddha dan kita sering menganggapnya berbeda dan bertentangan atau bahkan musuh bebuyutan. Hal seperti ini sering dibicarakan orang. Dan karena adanya anggapan demikian, sering timbul permusuhan antar agama.

Jikalau seseorang sudah mengerti kebenaran sejati (dhamma) dari agama-agama, dia akan mengetahui bahwa semua agama adalah sama. Walaupun dia mungkin berkata bahwa ada agama Buddha, agama Kristen, agama Islam dan lain-lain, dia juga akan berkata bahwa agama-agama yang berbeda itu pada dasarnya sama. Bagaimanapun, kalau dia menggali dan mendalami pengertian Dhamma secara terus menerus, pada akhirnya dia akan sampai pada kebenaran absolut (Dhamma Tertinggi); dia akan menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang khusus yang dinamakan agama. Jadi tidak ada sesuatu yang sejati yang bernama agama Buddha, agama Kristen ataupun agama Islam. Oleh karena itu, bagaimana mereka dapat sama atau bertentangan? Oleh karena itu kata-kata: 'No Religion', sebenarnya adalah bahasa Dhamma yang menunjukkan 'Hakekat Agama' pada taraf yang tertinggi. Apakah ini dapat dimengerti atau tidak, tergantung kepada pendengarnya, dan ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran ataupun agama tertentu.

Saya sekarang mengambil contoh pada bahasa awam, bahasa yang bersifat materialistik. Mari kita mengambil air sebagai contoh. Seseorang yang tidak mengerti bahkan pada hal yang paling sederhanapun akan berpikir bahwa ada berbagai jenis air. Dia akan memandang berbagai jenis air ini seolah-olah tidak ada inti di dalamnya. Dia melihat ada air hujan, air sumur, air bawah tanah, air terowongan, air rawa-rawa, air selokan, air kotoran dan lain-lain. Orang awam ini akan bersikeras bahwa air-air tersebut adalah berbeda sama sekali. Ini terjadi karena pernilaiannya berdasarkan kriteria luarnya saja. Seseorang yang berpengetahuan, bagaimanapun juga akan mengetahui bahwa walau jenis apapun air tersebut, air murni dapat ditemukan atau disuling darinya. Kalau anda mengambil air hujan dan menyulingnya, anda akan mendapatkan air murni. Kalau anda mengambil air sungai dan menyulingnya, anda juga akan mendapatkan air murni, demikian juga air terowongan, air parit, dan lain-lain, jika anda menyulingnya, anda masih tetap bisa mendapatkan air yang murni.

Orang yang berpikir dengan cara ini akan mengerti bahwa semua jenis air yang berbeda itu adalah sama, sejauh yang menyangkut bahan dasarnya yaitu air. Bahan-bahan yang membuat air tidak murni dan kelihatan berbeda, bukanlah air. Bahan-bahan tersebut dapat bersatu dengan air, dan merobah sifat air, tetapi bahan tersebut masih tetap bukan air. Kalau kita memeriksa bahan-bahan yang mencemari air tersebut kita akan dapat melihat bahwa air tersebut pada setiap bentuk adalah sama. Pada bentuk apapun sifat dasar dari air adalah sama.

Sebagai kesimpulannya, walaupun terdapat banyak jenis air, mereka adalah sama sejauh menyangkut sifat dasar air. Kalau anda melihat setiap hal dari sudut pandang ini, anda dapat melihat bahwa semua agama adalah sama. Kalau pun agama-agama tersebut tanpak berbeda, itu adalah karena anda menilainya dengan dasar bentuk luarnya saja.

Kalau anda bahkan lebih cerdik, anda akan mengambil air itu dan memeriksanya lebih jauh. Lalu anda akan mengambil kesimpulan bahwa pada hakekatnya tidak ada unsur yang dinamakan 'air'; yang ada hanya dua bagian hidrogen dan satu bagian oksigen. Hidrogen dan oksigen bukanlah air. Bahan yang kita namakan air telah hilang dan lenyap. Sesudah itu yang tersisa hanyalah kekosongan (Sunya) yang pada kondisi tertentu berwujud sebagai suatu senyawa yang bernama 'air'.

Oleh karena itu menjadi lebih jelas bahwa semua bentuk dari air tersebut adalah sama. Dua bagian hidrogen dan satu bagian oksigen adalah sama di mana-mana; di langit, di tanah, atau di mana saja bentuk air dapat dijumpai. Dan seseorang yang sudah mengenal kebenaran sampai taraf ini, dapat memahami bahwa pada hakekatnya tidak ada benda yang disebut air. Dengan keadaan yang sama seseorang yang sudah mencapai kebenaran sejati akan melihat bahwa tidak ada hal yang khusus yang dinamakan 'agama'. Hanya ada satu jenis keadaan yang dapat anda namakan sesuka anda. Anda dapat menamakannya sebagai Dhamma, atau anda dapat menamakannya Kebenaran Sejati, tetapi anda tidak boleh mengkhususkan Dhamma atau Kebenaran Sejati sebagai milik agama Buddha, agama Kristen atau agama Islam saja; walau bagaimanapun, anda tidak boleh membatasinya dengan memberi nama sebagai milik suatu agama tertentu. Alasan dari pembagian agama Buddha, agama Kristen, agama Islam adalah karena kebenaran sejati masih belum dikenal; hanya bentuk luar yang dinilai, seperti halnya dengan air terowongan, air keruh dan lain-lain.

Buddha bermaksud agar kita mengerti dan dapat mengkaji bahwa tidak ada manusia atau individu yang benar-benar induviduil; yang ada hanyalah Dhamma, fenomena alamiah. Oleh karena itu kita seharusnya tidak boleh berpegang kepada kepercayaan bahwa agama ini dan agama lainnya adalah saling berbeda. Etiket agama Buddha diberikan sesudah perkembangannya, dan begitu juga dengan agama Kristen, agama Islam dan setiap agama lainnya. Tidak ada guru agama terkenal memberi nama ajaran sepanjang hidupnya mengenai bagaimana kita harus berprilaku di dalam hidup sehari-hari.

Semoga kita dapat mengerti hal-hal ini dengan benar. Ketika taraf kebenaran terakhir tercapai dan dikenal, lalu memahami bahwa bahkan tidak ada seorangpun yang benar-benar ada (mempunyai eksistensi), yang ada hanyalah alam, hanya ada Dhamma. Kita tidak dapat menganggap adanya benda-benda yang khusus, karena tidak ada benda sama sekali selain daripada Dhamma. Itu bukan milik orang Thai, Tionghoa, orang kulit hitam atau kulit putih, orang Barat ataupun orang Timur. Dan juga bukan milik umat Buddha, Kristen, Islam atau umat agama lainnya. Jadi cobalah mengenal Dhamma ini, anda akan mencapai inti dari semua agama dan semua benda-benda, dan akhirnya akan sampai pada terhentinya semua penderitaan.

Walaupun kita menamakan diri kita umat Buddha dan memeluk agama Buddha, tetapi kita masih belum mengenal kebenaran sejati dari agama Buddha, kita hanya mengenal aspek kecil dari agama Buddha kita sendiri. Walaupun kita adalah seorang bhikkhu atau seorang awam ataupun yang lainnya, kita hanya mengenal kulit luar dari agama kita sendiri, yang membuat kita menganggap adanya perbedaan antara agama yang satu dengan yang lainnya. Ini terjadi karena kita masih belum mengerti dan mengenal kebenaran sejati dan kita memandang rendah agama-agama lain dan hanya memuja dan menyokong agama kita sendiri serta berpikir bahwa diri kita sendiri adalah kelompok tersendiri. Orang luar bukanlah sahabat kita, mereka salah, hanya kita yang benar dan seterusnya dengan keadaan yang sama. Ini menunjukkan bahwa kita masih bodoh dan benar-benar sangat bodoh. Kita seperti bayi-bayi yang hanya mengenal mainannya. Ketika kita memperhatikan anak-anak kecil mandi dan menggosok-gosok tubuhnya dengan sabun, anak kecil tersebut hanya bisa menggosok seluruh bagian depan tubuhnya saja; dia tidak bisa menggosok bagian tubuhnya yang lain. Dia tidak pernah berpikir untuk membersihkan belakang telinganya atau sela-sela jari kakinya atau tempat-tempat lain yang seperti itu. Dia hanya menggosok bagian depan tubuhnya dengan bersemangat.

Dengan cara yang sama, kebanyakan pengikut Buddha hanya mengenal sedikit hal, seperti keinginan untuk mengambil dan mendapatkan sesuatu. Bahkan ketika mereka berdana ke vihara, ke bhikkhu dan sebagainya, para pemeluk agama itu hanya bertujuan untuk mendapatkan sesuatu, untuk mendapatkan lebih daripada yang mereka berikan. Ketika mereka berdana, beberapa orang mengharapkan sepuluh kali lipat dari yang telah mereka berikan, bahkan beratus-ratus dan beribu-ribu kali. Pada keadaan ini lebih tepat dikatakan bahwa orang-orang ini tidak mengerti sama sekali, mereka hanya memikirkan bagaimana caranya mengambil atau mendapatkan sesuatu. Ini bukan ajaran agama Buddha melainkan adalah tata cara tentang bagaimana mengambil dan mendapatkan sesuatu. Kalau mereka tidak mendapatkan sesuatu, mereka akan frustasi dan menderita. Agama Buddha yang benar adalah mengenal bagaimana menerima segala sesuatu tanpa adanya usaha atau keinginan untuk mendapatkannya; dan hanya mengambil apa yang memang seharusnya diambil. Jadi tidak ada frustasi dan penderitaan sama sekali.

Hal ini harus senantiasa kita perhatikan agar kita dapat mengenal inti dari agama Buddha. 'Ketidak-melekatan' (non-attachment) berarti tidak mencoba menggapai dan merebut sesuatu, tidak melekat dan memupuk kemelekatan terhadap segala sesuatu, bahkan tidak melekat kepada agama itu sendiri, sampai akhirnya kita menyadari bahwa pada hakekatnya tidak ada sesuatu yang khusus yang dinamakan Agama Buddha. Tegasnya, dalam keadaan demikian, kita sebenarnya telah berpendapat bahwa tidak ada Buddha, tidak ada Dhamma, tidak ada Sangha dalam arti yang biasa. Tetapi apabila kita mengatakan demikian dengan cara ini, tidak ada seorangpun yang mengerti; mereka akan terkejut dan mungkin takut karenanya.

Kalau orang itu mengerti, mereka akan melihat bahwa Buddha, Dhamma, dan Sangha adalah sama; mereka akan melihatnya sebagai Dhamma, atau sebagai kebenaran sejati atau sesuatu yang seperti ini. Mereka tidak akan merasa terpaksa untuk menggapai dan berpegang teguh kepadanya sebagai suatu hal atau ide yang istimewa; kebenaran sejati itu bukan bersifat individuil. Kebenaran sejati hanyalah Dhamma di dalam wujud murninya; di dalam wujud alamiahnya, atau apa saja yang anda namakan.

Tetapi banyak di antara kita tidak berani berpikir demikian, bahkan kita takut walau hanya untuk berpikir bahwa tidak ada agama, tidak ada Buddha, tidak ada Dhamma, tidak ada Sangha. Bahkan kalau orang-orang dipaksa untuk berpikir atau diberitahukan untuk berpikir dengan cara ini, mereka masih belum sanggup untuk mengerti. Seterusnya mereka mungkin akan mempunyai pandangan yang total menyimpang dan bereaksi berlawanan dengan apa yang seharusnya.

Oleh karena itu, sesudah Sang Buddha mencapai Maha Parinibbana, banyak muncul sistem baru dari praktek agama Buddha, dengan banyak bentuk-bentuk baru dengan berbagai taraf yang lebih rendah. Kalau seseorang ingin berdana supaya mendapat keuntungan besar kembali, ini dapat dibenarkan. Ini diatur sedemikian rupa supaya keuntungan tersebut dijadikan umpan untuk menarik orang-orang tersebut untuk memeluk agama sebagai langkah permulaan dan untuk menjaga mereka supaya jangan menyimpang dengan membiarkan mereka bergantung dengan sewajarnya dan melakukan perbuatan baik sebanyak mungkin pada awalnya. Dengan dasar tadi mereka akan terus melakukan perbuatan baik hingga tak lama kemudian mereka akan mengerti bahwa adalah tidak perlu untuk melekat kepadanya; mereka akan melihat bahwa setiap kemelekatan akhirnya pasti membawa ketidak-puasan dan penderitaan, dan oleh karena itu mereka secara berangsur-angsur akan menjauhinya dan meninggalkannya. Oleh sebab itu praktek Dhamma pada tahap paling awal adalah berdasarkan pengumpulan jasa-jasa kebaikan yang akan menyebabkan orang-orang mendapat sesuatu yang sangat memuaskan pada mulanya.

Langkah berikutnya dari cara Dhamma adalah mengajak kita secara sukarela hidup sederhana, tanpa tersesat ataupun keracunan dengan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada permasalahan dan kesadaran di dalam diri untuk menikmati keadaan dari kebahagiaan ini.

Taraf Dhamma yang lebih tinggi adalah tidak memiliki apapun untuk diri kita sendiri, semuanya sudah berlalu, tidak ada yang tersisa untuk dilaksanakan. Pikiran tidak lagi mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu, sehingga frustasi dan penderitaan pun tidak akan terjadi lagi karena telah tidak ada 'Aku' yang menderita. Lalu, seperti yang dikatakan dalam bahasa Awam, munculnya kebahagiaan yang sejati: Kebahagiaan yang sepenuhnya. Bagaimanapun kalau dikatakan di dalam bahasa Dhamma, tidak ada yang didapatkan, tidak ada yang dimiliki, tidak ada kesenangan, dan tidak ada penderitaan, tidak ada sesuatu pun sama sekali. Inilah yang dinamakan kekosongan (sunyata). Segala sesuatu masih ada, tetapi kesadaran tentang sesuatu tersebut sebagai milik suatu diri telah tidak ada (sunyata); oleh karena itu kita menamakannya 'kekosongan' (Sunyata).

Melihat setiap hal sebagai kekosongan adalah tidak mengkajinya dari aspek diri sendiri, atau setiap benda yang ada bukanlah milik sendiri. Kata 'kekosongan' di dalam bahasa awam dari orang-orang awam berarti tidak ada apa-apa sama sekali, tetapi di dalam bahasa Dhamma, kata 'kekosongan' berarti segala sesuatu itu ada, tetapi tidak ada kemelekatan terhadap segala sesuatu itu sebagai milik saya atau kepunyaan saya. Jadi segala sesuatu itu adalah kosong, bebas dari kemelekatan dan keterikatan sebagai milik saya atau kepunyaan saya.

Ketika kata 'kekosongan' digunakan pada cara ini berarti kekosongan di dalam bahasa Dhamma. Penggunaan kata 'kekosongan' dengan arti 'tidak ada sesuatu apapun' adalah bahasa materialisme, bahasa dari orang-orang awam sendiri. Ini adalah contoh lain dari perbedaan antara bahasa orang awam dan bahasa Dhamma. Kita harus selalu mengingat hal ini di dalam pikiran kita dan membedakan apakah kata-katanya termasuk bahasa orang awam atau bahasa Dhamma. Sebagai contoh, Buddha berkata: "Bunuhlah ayah dan ibumu dan anda akan mencapai Nibbana. Membunuh ayah dan ibu adalah perbuatan Akutannu[3], dan oleh karena itu anda akan mencapai Nibbana". Buddha tidak bermaksud bahwa kita harus mengartikannya secara harfiah dan benar-benar membunuh ayah dan ibu kita; Buddha bermaksud bahwa Avijja (kebodohan) adalah ayah dan Tanha (keinginan) adalah ibu. Kita tidak boleh terikat kepada mereka, tetapi kita harus menghancurkan mereka dan oleh karena itu kita akan mencapai Nibbana.
[3] A+kataññu —tidak tahu rasa terima kasih; Akata+ñu —seseorang yang telah mengenal Nibbâna.

Berbicara dengan gaya bahasa ini adalah menggunakan bahasa Dhamma di mana kebanyakan orang awam tidak akan sanggup memahaminya. Dia harus belajar dan mencoba memahaminya; dia harus berpikir dan merefleksikan hal ini sampai akhirnya dimengerti. Tetapi bagi orang suci, seseorang yang sudah menyelami Dhamma akan mengerti, walaupun hanya beberapa kata yang diucapkan, mereka akan mengerti tanpa sesuatu penjelasan. Menyadarkan pikiran hanya dengan satu kata sudah cukup membuat mereka mengerti; tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena mereka mengerti Dhamma.

Keadaan yang sama juga dijumpai pada kata 'lahir' dan 'mati'. Kata 'lahir' di dalam bahasa awam berarti lahir dari kandungan seorang ibu. Di dalam bahasa Dhamma, kata 'lahir' berarti lahirnya sebuah pikiran yang mengandung keterikatan terhadap segala sesuatu. Setiap saat kita membiarkan pikiran atau perasaan kita muncul dengan mengandung ketamakan dan kemelekatan (oleh ego dengan membayangkan 'Saya adalah...', 'Saya punya...', 'Saya berpikir...', 'Saya melakukan...', setiap pikiran mengandung unsur keakuan), unsur keakuan telah lahir seketika.

Sebagai contoh, bila kita berpikir sebagai seorang kriminal maka saat itu juga kita telah dilahirkan sebagai seorang kriminal. Beberapa waktu kemudian pikiran tersebut lenyap, dan di saat kita berpikir sebagai seorang manusia normal maka pada saat itu juga kita dilahirkan sebagai manusia normal kembali. Kalau beberapa saat kemudian kita mempunyai pikiran yang bodoh kita akan lahir sebagai orang bodoh. Kalau kita bertambah bodoh dalam berpikir maka kita akan dilahirkan tepatnya sebagai binatang. Ketika kemelekatan terasa kuat; ketika kemelekatan membakar di dalam diri kita dengan panas yang membara, maka kita telah dilahirkan sebagai penghuni neraka. Ketika kita lapar dan haus (apakah terhadap makanan atau minuman), sampai tahap dimana kita tidak pernah kenyang, maka kita telah terlahir sebagai setan kelaparan (peta/preta). Ketika kita terlalu berhati-hati dan takut tanpa alasan, maka kita telah lahir sebagai raksasa pengecut (asura). Oleh karena itu di dalam satu hari kita dapat dilahirkan dalam beberapa kali dengan keadaan yang berbeda-beda, karena kelahiran terjadi setiap saat bersamaan dengan munculnya kemelekatan terhadap ide-ide untuk menjadi sesuatu; maka setiap konsepsi dari 'Saya adalah...'. 'Saya akan...' dan sebagainya, akan menimbulkan suatu kelahiran. Oleh karena itu ketika anda menjumpai kata 'lahir' anda harus sangat berhati-hati.

'Kelahiran adalah penderitaan'. Maksudnya adalah kelahiran di dalam bentuk yang telah dilukiskan barusan akan menyebabkan penderitaan. Dengan kata lain, kalau anda membiarkan 'Aku' lahir di dalam setiap bentuk, penderitaan akan segera timbul. Kalau anda hidup dengan tenang tanpa adanya kesadaran bahwa segala sesuatu adalah milik diri sendiri, hanya ada kesadaran dan perasaan dari tanpa diri, maka hal itu adalah sama dengan tanpa kelahiran, dan oleh karena itu tidak akan menimbulkan penderitaan.

Ketika pikiran atau perasaan yang melibatkan kesadaran ego muncul maka penderitaan pun segera akan terjadi, dan penderitaan selalu menyesuaikan diri dengan konsep 'keakuan' yang khusus itu. Kalau 'Aku' itu adalah manusia, ia akan menderita seperti manusia. Kalau 'Aku' itu adalah malaikat, ia akan menderita seperti malaikat. Tergantung kepada variasi bentuk dari ketamakan dan kemelekatan terhadap ego. Jadi dapat dijumpai kelahiran sebagai penghuni neraka, binatang, setan kelaparan atau setan pengecut. Di dalam satu hari kita dapat mengalami banyak kelahiran atau berlusin-lusin kelahiran, dan setiap kelahiran di dalam bentuk-bentuk tersebut adalah tidak memuaskan, frustasi dan tidak dapat dipisahkan dari penderitaan. Kalau kita dapat menghancurkan proses kelahiran ini, Nibbana akan muncul.

Adalah tidak perlu membicarakan apa yang terjadi sesudah kematian. Apa gunanya membicarakan keadaan yang sudah dimakamkan di dalam tanah? Hal itu adalah tidak relevan dan sama sekali tidak perlu. Yang terpenting pada saat sekarang adalah menghadapi masalah dari tidak dilahirkan. Kalau anda dapat mengatasinya, anda tidak akan menderita lagi. Ketika tidak ada kelahiran yang berkelanjutan, maka juga tidak akan ada lagi kemelekatan terhadap diri sendiri. Ini adalah pembebasan dari ego, 'Aku' menjadi konsep yang kosong; itu adalah kekosongan. Itulah masalahnya. Keadaan itu adalah begitu sederhana. Pertanyaan akan hal-hal yang rumit seperti "Berapa lamakah waktu yang tersisa di dalam satu masa kehidupan kita" menjadi tidak berarti karena waktu sekarang dan masa depan menjadi tidak penting lagi di saat kita telah dapat mencegah kelahiran ego. Keadaan ini dapat dinamakan 'tidak dilahirkan'. Anda dapat menamakannya 'kematian' kalau nama itu yang terasa lebih cocok.

Jadi dapatlah kita lihat bahwa kata 'lahir' dan kata 'mati' mempunyai arti yang berlawanan di dalam bahasa awam dan bahasa Dhamma. Keadaan yang sama dijumpai pada kitab Injil agama lain, khususnya agama Kristen. Sebagai akibatnya, umat Kristen yang tidak mengerti kitab Injil mereka sendiri, seperti juga umat Buddha yang tidak mengerti Dhamma, ketika kedua kelompok berkumpul bersama, mereka akan berargumentasi mati-matian. Pertengkaran yang terjadi itu terasa sangat menggelikan, mereka berkelahi mati-matian.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mencoba mengerti lebih lanjut perbedaan bahasa awam dan bahasa Dhamma. Seperti yang saya katakan, keadaan yang sama dijumpai pada agama Kristen. Kita ketahui bahwa Yesus Kristus mengorbankan hidupnya untuk menebus dosa manusia. Yesus juga berkata "If you would enter life, keep the commandments". (Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah —Matius 19:17). Di sini ditunjukkan bahwa kata 'kehidupan' mempunyai arti yang jamak.

"He surrendered His life as a ransom for many". (Dia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang —Matius 20:28). Di sini kata 'Life' digunakan dalam bahasa awam: Dia menyerahkan diri untuk dibunuh oleh orang lain. Ini adalah arti normal dari kata 'Life' seperti yang dijumpai dalam bahasa awam. Kata 'Life' di dalam kalimat "If you would enter life, keep the commandments"; adalah identik dengan kata kehidupan yang menunjukkan kehidupan yang tidak mengenal kematian. Dengan ini anda dapat melihat bahwa bahkan kata sederhana seperti 'Life' dapat mempunyai 2 arti yang sangat berbeda. Di sini ada contoh lain.

Kata 'Mati' di dalam bahasa awam berarti mati benar-benar atau dibunuh, hal ini adalah jelas. Bagaimanapun, 'mati' di dalam bahasa Tuhan, seperti yang digunakan oleh Tuhan kepada Adam dan Hawa di Taman Eden, mempunyai arti yang berbeda. Tuhan memita Adam agar tidak memakan buah-buahan dari pohon tertentu. "Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati". (Kejadian 2:17). Akhirnya Adam dan Hawa memakan buah-buahan tersebut, tetapi kita mengetahui bahwa mereka tidak mati pada hari yang sama. Tubuh mereka tidak mati, tetapi mereka mati di dalam hal bahasa Dhamma, kematian spritual di mana jauh lebih kejam daripada dikubur di dalam peti mati. Dosa baru telah muncul di dalam pikiran mereka, besar dan kokoh seperti gunung Lanka, mereka mulai berpikir dualistik baik atau jahat, pria atau wanita, berpakaian atau telanjang, suami atau istri dan seterusnya. Sedemikian banyaknya sehingga pikiran mereka dipenuhi dengan penderitaan yang begitu hebat yang sangat sulit dilukiskan. Kesemua ini telah diturunkan kepada setiap orang pada saat ini. Sebagai akibatnya, kata-kata 'Dosa Asal' telah diberikan kepada pikiran dari pasangan suami-istri pertama yang mana kemudian diturunkan kepada semua anak cucunya sampai saat ini. Ini yang dinamakan oleh Tuhan di dalam kata 'mati'. "Di saat engkau memakan buah dari dualisme (dari 'pohon' yang membedakan subyek dengan obyek, baik atau jahat) itu, di saat itu pula engkau akan mati".

Itu adalah arti dari kata 'mati' di dalam bahasa Kristen dan mempunyai arti yang sama di dalam bahasa Buddha. Mengapa demikian? Karena sebenarnya semua itu merupakan ide dan kebenaran yang sama, yang membicarakan kebenaran tentang kemelekatan, kebenaran tentang dualisme; bahwa ketika pikiran dualistik muncul, maka penderitaan pun akan terjadi dan itu adalah sama halnya dengan mati; itu adalah kematian. Mati ketika semua kebaikan berakhir; berakhirnya kebahagiaan dan kedamaian; ketika semua kualitas yang berharga telah pergi, maka datanglah kematian. Di dalam hal Dhamma, setiap orang mati dan tetap tidak terkubur setiap saatnya.

Ini dinamakan kematian karena selalu ada perasaan frustasi dan depresi dalam taraf tertentu. Begitu juga rasa khawatir, kegelisahan dan kecemasan. Semakin cerdas dan pintar seseorang, semakin banyak kematian yang mungkin terjadi dan kematiannya semakin buruk. Lebih lanjut kita dapat mengatakan bahwa kematiannya telah istimewa dibandingkan dengan orang bodoh.

Anda harus berketetapan hati untuk tidak mati dan anda dapat menyesuaikannya dengan ajaran Buddha, dan juga dengan sifat obyektif agama Buddha. Jangan membiarkan hal itu mendominasi hati dan pikiran anda. Kita harus menolak untuk dikuasai keadaan semacam itu selama-lamanya. Anda harus selalu menyadari sifat dasar yang sebenarnya dari dhamma: bahwa di dalam kenyataannya tidak ada dualitas dari segala sesuatu; tidak ada kemenangan, tidak ada kekalahan; tidak ada kebahagiaan; tidak ada penderitaan; tidak ada kebaikan; tidak ada kejahatan, tidak ada dosa; tidak ada laki-laki, dan tidak ada wanita; bahwa secara absolut tidak ada sama sekali yang dapat dibagi dan dipisahkan di dalam kutub yang berlawanan. Dualisme ini adalah dasar dari semua kemelekatan. Jadi kita tidak boleh terikat ataupun tergantung pada pandangan dualistik ini. Jangan timbul kemelekatan! Cobalah untuk mengerti bahwa hal-hal ini tidak pernah dapat diraih dan dimiliki karena mereka senantiasa berubah; Mereka hanya bersifat relatif; seakan-akan ada hanya di dalam waktu-waktu tertentu saja. Coba jalankan usahamu dengan pikiran yang tidak terikat pada konsep ini. Bekerjalah dengan pikiran yang tidak terikat pada sesuatu dan bebas dari semua bentuk kemelekatan. Inilah yang dinamakan bekerja dengan pikiran yang kosong.

Anda harus melakukan setiap jenis pekerjaan dengan pikiran kosong, apakah di kantor ataupun di rumah. Bahkan istirahat dan rekreasi pun harus dilakukan dengan pikiran kosong, pikiran yang selalu tidak terikat dan bebas. Kalau anda bekerja dengan pikiran yang gelisah dan selalu tamak serta terikat pada sesuatu benda, ide atau lainnya, maka anda akan senantiasa dekat dengan penderitaan. Pikiran yang terlalu dibebani dengan kemelekatan adalah sama dengan penderitaan, dan anda tidak terelakkan lagi untuk dilahirkan di alam yang rendah (Apâya); lahir sebagai penghuni neraka, sebagai binatang, sebagai setan kelaparan atau sebagai asura akan terjadi pada saat itu juga. Ini adalah problema yang paling serius yang dihadapi manusia. Ini adalah dosa asal; inilah kematian di dalam bahasa Dhamma. Oleh karena itu, anda harus bekerja, dan hidup serta menjadi seseorang dengan pikiran yang tanpa kemelekatan. Anda tidak boleh tamak dan terikat atau tergantung terhadap segala sesuatu apapun.

Di halaman depan ada dijumpai puisi singkat yang berbunyi: "Kerjakanlah segala sesuatu dengan pikiran yang kosong".

Ada beberapa orang yang tidak dapat mengerti puisi ini sama sekali, dan mereka terus mengatakan bahwa penulisnya ini gila. Sebenarnya, puisi tersebut dapat dijelaskan dengan cara berikut ini.

Anda harus melakukan setiap pekerjaan dengan pikiran yang kosong. Bagaimanapun, banyak orang mempunyai pikiran yang resah dan gelisah yang selalu terikat dan berpindah-pindah dari satu obyek ke obyek yang lain. Ini menunjukkan tipe pikiran yang dipenuhi dengan awan hitam dari khayalan. Ini berarti bahwa pikiran mereka kacau dan suram serta merasa tidak aman. Kalau mereka bertahan terus dengan keadaan ini, mereka pasti akan menderita gangguan saraf untuk beberapa tahun kemudian ataupun menderita beberapa bentuk penyakit mental yang lain yang menyebabkan mereka harus terbaring di tempat tidur. Bahkan walaupun mereka cerdas dan berpengalaman dalam melaksanakan hal-hal penting yang memperoleh uang banyak, mereka masih akan tetap sakit karena gangguan saraf, sakit lambung, dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh gangguan pikiran, rasa tidak aman dan cemas (neurosis). Ini semua adalah hasil dari kemelekatan terhadap benda-benda seperti kemashyuran dan uang, serta terikat dengan hal-hal seperti untung dan rugi, bahagia dan derita, senang dan susah, pujian dan cacian dan sebagainya.

Semestinya anda tidak boleh lagi terlibat dengan hal-hal yang seperti ini. Bebaskanlah dirimu dari semua bentuk kemelekatan. Dengan ini pikiran anda akan kosong dan anda nantinya akan menjadi orang bijaksana karena pikiran anda akan jernih dan sangat tajam. Ketika pekerjaan anda dilakukan dengan pikiran kosong seperti ini, semua kebutuhan pun akan terpuaskan dengan tanpa ada sedikitpun perasaan frustasi maupun penderitaan. Kadang-kadang bahkan akan terasa suatu perasaan bahagia karena sudah mengenal Dhamma. Yang terbaik adalah dengan mempraktekkan Dhamma di setiap saat, dan jangan berpikir kepada hal-hal yang menyangkut kepada pembagian dari dua keadaan yang ekstrim seperti 'mempraktekkan Dhamma di vihara' di satu sisi dan 'melakukan pekerjaan di rumah' di sisi lain. Membedakan kedua keadaan tersebut adalah perbuatan yang bodoh. Ini adalah ciri khas dari cara berpikir orang awam.

Menurut Bahasa Dhamma, praktek Dhamma harus dilakukan di dalam tubuh dan pikiran. Pekerjaan dilakukan juga oleh tubuh dan pikiran. Mereka dilakukan pada tempat yang sama. Keduanya dilakukan pada benda yang sama. Praktek Dhamma adalah di dalam pekerjaan. Pekerjaan itu sendiri adalah praktek Dhamma. Dengan kata lain, melakukan setiap jenis pekerjaan tanpa kemelekatan adalah suatu cara mempraktekkan Dhamma.

Sebenarnya apakah anda sedang melatih pikiran untuk tidak terikat (meditasi) ataupun apakah anda sedang bekerja mencari nafkah, kalau anda melakukannya dengan pikiran kosong yang tidak terikat, maka anda sebenarnya telah mempraktekkan Dhamma, apakah anda di kantor, pabrik atau di manapun anda berada. Bekerja seperti ini tanpa melibatkan kemelekatan pikiran adalah yang dimaksudkan dengan pepatah 'Kerjakanlah segala sesuatu dengan pikiran yang kosong'.

Hasil dari keadaan ini akan membawa anda menikmati pekerjaan anda, dan pekerjaan itu tentunya akan terlaksana dengan baik karena pikiran anda sangat jernih dan tajam. Sebagai tambahan, tidak ada lagi penderitaan karena uang; segala kebutuhan pun akan terpuaskan seperti biasanya, dan kesemuanya ini terjadi tanpa adanya kemelekatan yang mengandung ketamakan dan keterikatan.

Baris kedua dari puisi tersebut adalah 'Dan lalu berikanlah semua hasil yang kita peroleh dengan pikiran yang kosong'. Ketika pekerjaan anda membuahkan hasil dalam bentuk uang, ketenaran dan lainnya seperti itu, anda harus memberikan semua yang kita capai dengan pikiran kosong. Jangan bertindak bodoh seperti menggapai dan terikat kepada ide bahwa hal-hal ini adalah 'Kepunyaan saya', bahwa 'Ini adalah sukses saya', atau 'Saya yang paling superior', atau yang lainnya. Inilah yang diartikan sebagai ketidak-melekatan terhadap hasil pekerjaan kita.

Kebanyakan orang tertipu oleh keadaan ini. Mereka membiarkan diri mereka terikat kepada rasa kesuksesan dan hasil yang dicapai. Ini menambah noda pada keinginan pikiran yang gelap dan buruk (kilesa). Sedikit saja kita tidak berhati-hati, maka hanya di dalam waktu sekejab penderitaan akan segera terjadi sesuai dengan beratnya kemelekatan dan kecemasan. Sebenarnya, itu adalah sakit yang dialami secara mental, sakit secara spritual selalu terjadi. Di dalam waktu yang tak lama, penyakit muncul di badan juga. Beberapa orang mengalami gangguan saraf atau gila, yang lainnya mengalami beberapa variasi dari neurosis yang cukup sering dijumpai pada saat ini, bahkan dijumpai pada orang-orang terkenal, berpengetahuan, kaya dan sebagainya. Semua ini adalah hasil dari kenyataan bahwa manusia di dunia ini telah salah paham dan sangat terikat dengan pandangan mereka sendiri.

Kita tidak harus berpikir bahwa ajaran tentang ketidak-melekatan hanya dijumpai di dalam agama Buddha. Sebenarnya ajaran tentang ketidak-melekatan dapat dijumpai di setiap agama. Bagaimanapun, hal ini biasanya dinyatakan di dalam Bahasa Dhamma. Artinya sangat dalam dan jauh melebihi permukaannya. Hal ini tidaklah mudah dilihat dan sering sulit dimengerti dengan benar oleh pemuka agama yang bersangkutan. Saya tidak bermaksud menghina, tetapi saya merasa bahwa banyak di antara mereka masih belum mengerti agama mereka sendiri. Sebagai contoh, kita menjumpai di dalam kitab Injil yang berkata: 'Biarkan mereka yang mempunyai istri hidup seakan-akan mereka tidak mempunyai istri, dan mereka yang berdukacita hidup seakan-akan tidak berdukacita dan mereka yang gembira hidup seakan-akan tidak gembira dan mereka yang membeli seakan-akan tidak ada yang dibeli', dan masih ada lagi dengan nada yang sama. Kalimat ini dijumpai pada bagian terakhir dari kitab Injil, anda dapat membacanya sendiri. Hal ini dapat dimengerti dengan cara yang sama seperti dasar tema kita dari ketidak-melekatan. Jadi kalau anda mempunyai istri, jangan terikat dengan rasa mempunyai istri. Kalau anda sedih atau menderita, jangan merasakan bahwa kesedihan itu ada, dan jangan bersedih.

Sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya kebanyakan orang didominasi oleh hal-hal ini. Mereka membiarkan diri mereka sangat menderita karena hal-hal ini sampai akhirnya mereka menjadi gila dan memusuhi diri mereka sendiri atau bermusuhan satu sama lainnya. Apapun yang seharusnya kita lakukan, dan bagaimanapun hal itu harus dilakukan, kita harus bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Kita harus bersikap seolah-oleh penderitaan tidak pernah ada, dan oleh karena itu kita harus bersikap wajar seperti biasanya. Kita membeli barang tanpa mendapat sesuatu, yang berarti kita tidak pernah terikat kepada apa yang kita beli. Kita membelinya, tetapi kita harus bersikap seolah-olah kita tidak membelinya karena kita tidak memberikan kelahiran dari pikiran bahwa kita memiliki sesuatu.

Itulah yang dimaksudkan dengan membeli dan hidup seolah-olah anda tidak memiliki sesuatu. Tetapi kalau anda mendiskusikan kalimat ini dengan beberapa umat Kristen, anda akan melihat bahwa ada di antara mereka yang tidak mengerti sama sekali. Bahkan ada pendeta yang menjadi guru agama gagal memahami secara tepat bagaimana bertindak menurut keadaan itu. Ketika mereka membicarakan hal itu, ada yang artinya menjadi tidak jelas, dan tidak ada interpretasi yang praktis mengenai kalimat tersebut.

Mereka menjelaskan, tetapi penjelasan mereka selalu di luar intinya. Mereka hanya menjelaskannya secara tidak langsung dan tidak pernah memberikan pengertian apapun dari kalimat tersebut. Sebenarnya kalimat ini mempunyai arti yang sama dengan 'Kerjakanlah segala sesuatu dengan pikiran yang kosong dan lalu berikanlah semua hasil yang kita peroleh dengan pikiran yang kosong'.

Baris ketiga dari puisi tersebut adalah: 'Ambillah pikiran yang kosong sebagai makanan seperti halnya yang dilakukan orang suci'. Di sini, beberapa orang selalu bertanya 'Apa yang kita makan...?; Kalau segala sesuatu adalah kosong dan diberikan kepada kekosongan, apa yang kita makan...?' Jawabannya adalah memakan makanan yang berasal dari kekosongan, dengan cara yang sama juga dilakukan oleh orang suci. Masalahnya adalah sekarang anda telah bekerja dengan pikiran yang kosong dan merobah segala keuntungan kepada kekosongan, dan kekosongan akan menumpuk dan terpelihara dengan aman. Ketika waktunya makan, makanlah beberapa dari timbunan kekosongan.

Seandainya anda bekerja dan mendapat satu juta rupiah. Anda menyimpannya di Bank. Hal itu harus seperti diberikan kepada kekosongan. Anda tidak boleh terikat kepadanya atau bahkan berpikir tentang hal tersebut. Jangan berpikir "Itu adalah milik saya! Itu kepunyaan saya!", dengan demikian anda tidak akan terikat kepadanya. Ketika anda menggunakannya sebagai biaya hidup, lakukanlah juga dengan pikiran yang kosong. Anda hanya menggunakan uang tersebut untuk membeli makanan atau hal lainnya. Itulah yang dimaksud dengan 'Ambillah pikiran yang kosong sebagai makanan seperti halnya yang dilakukan orang suci'.

Di dalam baris ini 'orang suci' berarti seseorang yang sudah mengerti, seseorang yang sudah mencapai pencerahan. Diri kita sendirilah yang harus mengambil makanan seperti halnya yang dilakukan orang suci. Buddha makan, semua orang yang mencapai pencerahan makan. Ini tidak berarti bahwa seseorang yang sudah menjadi Buddha tidak perlu memakan makanan, tetapi dari siapapun makanan tersebut diperoleh, mereka selalu memakan makanan kekosongan, mereka makan tanpa adanya perasaan memiliki atau kemelekatan dan tanpa memperdulikan apa atau berapa banyak makanan yang mereka makan. Dan mereka cukup makan, bahkan lebih dari yang mereka sanggup. Ini yang berarti 'Ambillah pikiran yang kosong sebagai makanan seperti halnya yang dilakukan orang suci'.[4]
[4] Para bhikkhu di jaman Sang Buddha dan di beberapa negara Buddhis sekarang makan dari hasil pemberian orang-orang dan memakan makanan apapun yang diberikan kepadanya dengan penuh penghargaan. Mereka tidak mulai makan setelah pukul 12 siang dan selalu berwaspada bahwa seseorang memakan makanan hanya karena kebutuhan untuk hidup, bukan untuk kenikmatan. Mereka selalu menekankan bahwa makan adalah untuk hidup yang berguna bagi diri sendiri dan sekaligus untuk orang banyak.

Kita dapat seperti itu. Ketika anda memberikan semua hasil kerja anda kepada kekosongan, hasil kerja kita tidak hilang. Secara fisiknya hasil kerja kita masih tetap ada di sana. Di suatu tempat di dunia ini hasil karya kita ada dan terlindung dengan aman, dan Hukum Semesta akan melindungi hasil pekerjaan kita. Kalau seseorang mencoba merampasnya, anda dapat mempertahankan hal anda di pengadilan... dan lakukan juga dengan pikiran yang kosong. Anda tidak perlu merasa tertekan. Hanya dengan sikap yang tidak melekat, anda akan dapat berargumentasi kasusmu dengan baik. Anda tidak perlu menciptakan masalah yang tidak perlu bagi dirimu sendiri. Masalahnya tidak akan terlihat kacau atau membingungkan, dan anda akan dapat mempertahankan hak anda dengan efisiensi maksimum.

Berbicara lebih jauh lagi, bahkan kalau anda terlibat di dalam kasus penuntutan, anda diharap dapat menahan diri dan sadar terhadap diri sendiri setiap saat. Berhati-hatilah dan jangan sampai timbul kemelekatan atau emosional. Dengan kata lain, pertama pastikanlah bahwa pikiran anda sudah kosong, lalu argumentasilah dan pertahankanlah kasus tersebut sampai selesai. Dengan cara itu anda akan lebih beruntung, dan anda dapat lebih ahli dan pintar berdebat. Hal ini tentu akan membawa anda kepada kemenangan karena anda lebih pintar dari yang lainnya.

Kalau anda merasa perlu menghardik dan barangkali menggunakan bahasa yang kasar, lakukanlah, tetapi lakukanlah dengan pikiran yang kosong. Hal ini mungkin terdengar lucu dan tidak praktis, tetapi hal ini benar-benar mungkin dilakukan. Semua ini adalah implikasi dari bekerja dengan pikiran kosong; dengan sepenuh hati memberikan semua yang anda dapat kepada kekosongan, dan selalu memakan makanan dari gudang kekosongan.

Baris terakhir dari puisi berbunyi: 'Dan Lho! Jiwa dan ragamu ternyata telah mati sejak semula'. Anda telah mati di dalam dirimu; bahwa diri 'anda' yang bersemayam di dalam telah pergi sejak semula. Ini berarti bahwa ketika anda pergi ke masa lalu dan merefleksikannya dengan kejernihan, maka kesadaran dan kebijaksanaan anda akan mengerti bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang berada; tidak terdapat 'anda' yang sebenarnya (tak ada individuil, yang ada hanyalah dividual).[5] Anda akan melihat hanya ada lima proses komponen (Panca-Khandha)[6] atau enam indera yang beroperasi[7], atau anda dapat menamakannya 18 konstituen (Dhatu)[8] atau sederhananya sebagai fenomena alamiah.
[5] Tidak memandang 'diri' sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri melainkan hanya sebagai suatu persenyawaan komponen-komponen 'Panca-Khandha'.
[6] Panca-Khandha (5 komponen kehidupan), yaitu komponen badan jasmani, perasaan , pencerapan, bentuk-bentuk pikiran dan kesadaran.
[7] Yaitu kesan-kesan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, dan kesan-kesan bathin.
[8] Yaitu keenam unsur (organ) indera beserta keenam bentuk obyek yang dapat berkontak dengannya, dan keenam kesadaran akibat kontak indera dengan obyek-obyeknya.

Walaupun kita mungkin terikat pada fenomena-fenomena ini, mempercayai mereka sebagai bagian dari diri kita sendiri, keadaan ini sebenarnya sudah tidak demikian. 'Diri' itu sudah mati sejak dari awal: tak ada 'Aku', tak ada 'Kepunyaan Aku'.

Sebelumnya kita telah dikacaukan dengan pikiran 'Aku', dan kita telah keracunan. Kita menjadi terikat pada ide bahwa sebenarnya ada 'diri' itu dan bahwa 'diri' itu dapat memiliki benda-benda. Sekarang kita mengerti kebenaran sejatinya, bahwa tidak ada 'Aku', tidak ada 'Kepunyaan aku', tak ada yang dapat menjadi 'Aku'. 'Sang Aku' telah mati sejak semula hingga sekarang, dan akan terus mati sampai masa yang akan datang. Jangan sekali-kali berpikir berdasarkan konsep 'Aku'.

Jadi anda tidak perlu mengartikan bahwa anda harus membunuh dirimu secara fisik. Itu adalah tidak perlu. Itu hanyalah badan, lapisan luarnya saja.

'Diri' ini atau 'ego' ini, hanyalah konsep mental yang diciptakan untuk berkomunikasi; Diri ini tidak ada yang permanen. Hanya ada proses yang terus berobah di mana secara salah sering dianggap sebagai keadaan yang tetap. Jangan biarkan pikiran atau perasaan berdasarkan 'Aku' atau 'Kepunyaan Aku' muncul, dan itu sudah berakhir. Itulah yang terjadi. Tubuh ini adalah tidak penting; tubuh ini hanya terdiri dari 5 proses komponen (Pañca-khandha). Mereka adalah murni secara alamiahnya; mereka adalah tanpa polusi keinginan (kilesa-tanhâ). Mereka tidak terikat pada apapun, juga mereka bukan dasar dari kemelekatan (Upâdâna). Konsep mental yang sudah terpolusi (kilesa) itulah yang bertanggung jawab atas kemelekatan. Jadi kita harus mencoba mencegah timbulnya kelahiran mereka.

Cobalah untuk tidak membiarkan kondisi-kondisi yang membangkitkan mereka itu timbul. Dengan cara ini anda dapat memaksa 'diri'mu mati. Atau anda 'mati' karena melalui seluruh polusi. Jangan biarkan ego yang melekat mempengaruhi pikiran dan perasaan anda; jangan biarkan kesadaran anda dibentuk oleh 'Aku' dan 'Kepunyaan aku', dan itu adalah apa yang dinamakan kematian di dalam bahasa Dhamma. Jadi tidak ada sesuatu apapun yang dapat dipikirkan sebagai 'Aku' dan tidak ada sesuatu apapun yang dapat dianggap sebagai 'Kepunyaan aku', jadi di mana penderitaan dapat terjadi? Penderitaan yang terjadi pada diri 'Aku' menjadi dapat terlihat dengan jelas; bahwa memiliki 'Aku' dan 'Kepunyaan aku' adalah akar yang sebenarnya dari penderitaan. Mencabut akarnya itu adalah merupakan obat yang sebenarnya. Janganlah memusatkan pikiran kita hanya pada pencarian yang sia-sia untuk sedikit kebahagiaan, menyimpannya dan kemudian menyembunyikannya. Kalau anda memegang kebahagiaan dan kemudian terikat kepadanya, kebahagiaan itu akan segera menjadi ketidak-bahagiaan, satu cara lagi untuk menderita.

Orang bodoh selalu melekat ke satu bentuk atau bentuk lain dari setiap benda. Sebagai akibatnya, benda-benda yang diinginkan telah berobah menjadi penyebab dari penderitaan. Kebaikan juga berobah menjadi penderitaan. Pujian, ketenaran, kehormatan dan sejenisnya, semuanya telah berobah ke dalam bentuk-bentuk penderitaan apabila anda mencoba menggapai dan tergantung padanya. Semuanya menjadi tidak memuaskan karena adanya ketamakan dan kemelekatan, dan semuanya adalah sama yakni penderitaan. Apakah baik atau jahat, kebajikan atau dosa, kebahagiaan atau penderitaan, untung atau rugi, semua konsep dualistik ini segera menjadi penyebab penderitaan ketika anda melekat ke satu atau bentuk lainnya.

Bila anda cukup bijaksana untuk tidak melekat pada setiap bentuk dualisme, anda tidak akan menderita lagi karena benda-benda ini, baik atau buruk, bahagia atau derita, kebajikan atau dosa, semuanya akan terlihat sebagai fenomena alamiah, bagian yang alamiah dari alam semesta. Mereka semua secara alamiahnya adalah kosong. Jadi tidak ada lagi penderitaan yang melekat padanya.

Ini adalah konsekuensi dari hasil 'tidak memiliki ego', ketidak-melekatan terhadap 'diri sendiri', yang tidak berhubungan dengan segala sesuatu apapun yang berdasarkan 'Aku'. Anda dapat menggunakan 'Aku' dan 'Kepunyaan aku', tetapi dengan membatasi mereka di luar saja. Jangan biarkan mereka muncul di dalam pikiran atau hati, seperti St.Paulus berkata: "Biarkan mereka yang mempunyai istri hidup seolah-olah tanpa istri, dan mereka yang berdukacita seolah-olah tidak". Beberapa contoh lain seperti itu sampai akhirnya 'mereka yang membeli seolah-olah tidak membeli'.

Ini berarti secara luarnya kita harus bersikap seperti orang lain: makan seperti biasanya makan, bekerja seperti biasanya bekerja, berbicara seperti mereka biasanya berbicara. Ini menyatakan secara tidak langsung dengan bahasa mereka. "Itu adalah rumah saya", " Ini adalah kepunyaan saya", itu adalah baik untuk tujuan pembicaraan. Tetapi di dalam pikiran hal itu tidak boleh terjadi. Praktekkan hidup seperti ini. Itu dinamakan 'Lain di mulut lain di pikiran'. Bagaimanapun, akhirnya hal ini dapat disesuaikan dan dipakai untuk orang yang mempraktekkan Dhamma. Hal itu seperti di luar membicarakan satu hal, tetapi di dalam pikiran hal tersebut sudah berbeda.

Sebagai contoh, dari luar dia adalah orang yang kaya, mempunyai keluarga, terhormat, terkenal dan lain sebagainya yang seperti itu. Tetapi, bagaimanapun juga di dalam hatinya dia tidak memiliki sesuatu apapun. Di dalam pikirannya dia tidak memiliki sesuatu. Ini yang dinamakan 'Lain di mulut lain di pikiran', atau dengan kata lain, dari luar tampak seperti ini, tetapi di dalam keadaannya sudah berbeda.

Jadi anda dapat melihat, bahwa dengan menggunakan pengertian ini, pepatah yang bernada negatif dapat berobah menjadi ekspresi yang sangat luar biasa, walaupun dalam kenyataannya kita sering berpikir bahwa artinya menyimpang karena seperti bernada penipuan dan ketidak-jujuran, di mana kita selalu diajarkan untuk selalu jujur dan tegas di dalam kata dan pikiran. Tetapi itu adalah bahasa awam, bukan bahasa Dhamma. Orang awam sering berbicara seperti itu, tetapi ketika hal itu menjadi bahasa Buddha, kita harus hidup sesuai dengan pepatah 'Lain di mulut lain di pikiran'. Dengan kata lain, di luar tampak seperti ini tetapi di dalam keadaannya sudah berbeda. Di luar kita memiliki semua benda yang dimiliki orang lain, tetapi di dalam pikiran, kita tidak mempunyai apa-apa. Jadi ingatlah pepatah ini tetapi tentunya di dalam bahasa Dhamma, bukan dalam bahasa awam.

Dengan keadaan yang sama, Buddha mengajarkan kita untuk tidak menonjolkan diri, dan Yesus Kristus menekankan hal ini bahkan lebih dalam. Ada banyak halaman di kitab Injil yang membicarakan hal ini. Dalam khotbahnya di gunung (Matius 6:1-6, 16-18), Yesus membicarakan bagaimana bila kita mempraktekkan kesalehan, lakukanlah secara rahasia, tidak perlu membiarkan orang lain mengetahuinya, kalau anda ingin orang lain mengetahuinya, itu berarti anda ingin menonjolkan diri, dan itu adalah kemelekatan. Beliau menasehatkan pengikutnya bahwa ketika melihat sabat, mereka harus menaruh tepung dan parfum seperti biasanya dan tidak perlu membiarkan orang lain mengetahui bahwa mereka sedang melihat sabat, dan tetap mentaati hari sabat (hari istirahat). Yesus mengajarkan dan menekankan hal ini dalam banyak cara yang lain (selama khotbahnya). Beliau berkata: Jikalau anda memuja Tuhan, tidak perlu membiarkan orang lain melihatnya. Kalau anda ingin berderma atau memberi sumbangan untuk beramal, lakukanlah secara rahasia, tidak perlu membiarkan orang lain mengetahui siapa pemberinya.

Thema dasar ajaran ini adalah ketidak-melekatan, Yesus ingin menunjukkan bahwa bertindak dengan cara non-egoistik seperti ini akan membantu menghancurkan kekotoran bathin (kilesa). Dalam hal ini anda harus menyadari bahwa memberi sesuatu seperti yang dianjurkan agama tanpa membiarkan orang lain mengetahuinya dapat menghapus polusi (kilesa) dari pikiran si pemberi. Ada peribahasa populer yang berbunyi: "Menusukkan daun emas di punggung patung". Ini dapat diartikan dengan dua cara. Orang bodoh akan mengartikan bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, menusukkan daun emas di punggung patung tidak akan mendapatkan kehormatan atau sesuatu yang bernilai. Di sisi lain, orang bijaksana menyadari bahwa menusukkan daun emas di punggung patung adalah hal yang ideal. Dia tidak ingin dikenal atau diketahui oleh masyarakat. Dalam hal ini dia mendapat lebih banyak kebajikan daripada dia menusukkan daun emas di muka atau di depan patung.

Oleh karena itu, "Menusukkan daun emas di punggung patung" dan "Mempraktekkan kesalehan secara rahasia" mempunyai arti yang sama. Hal ini menghancurkan semua kemelekatan di setiap waktu tanpa memerlukan orang lain mengetahuinya; terus mencabut akar kemelekatan sampai akhirnya anda tidak berkata ada sesuatu apapun; tidak ada 'Aku', tak ada kebaikan, tak ada kejahatan, tidak ada kebajikan, tidak ada dosa, tidak ada kebahagiaan, tidak ada penderitaan, sampai akhirnya bahkan tidak ada jenis-jenis agama (tidak ada sesuatu apapun yang perlu dijadikan sandaran atau digapai) dan ini adalah tingkat tertinggi dari ketidak-melekatan.

Sekarang marilah kita memperhatikan fakta bahwa ketidak-melekatan adalah Dhamma tertinggi, merupakan sesuatu yang menakjubkan, bernilai dan luar biasa. Ini adalah jantung dari setiap agama. Ini adalah inti dari Dhamma. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, maka Tuhan akan dijumpai di sini.

Hal ini sangat baik karena siapapun yang ingin mendapatkannya dapat melakukannya tanpa investasi apapun; tidak ada uang yang diperlukan, bahkan satu sen pun. Menurut bahasa awam tidak ada yang dapat diperoleh tanpa ada investasi. Kalau anda mendengar bahasa awam, kamu akan mendengar bahwa kalau anda ingin mendapatkan kebajikan ataupun sejenisnya anda harus membayar dalam bentuk uang atau benda. Kalau anda mendengar bahasa Dhamma, bagaimanapun, adalah cukup berbeda. Sang Buddha berkata bahwa pencapaian Nibbana adalah cuma-cuma. Ini berarti bahwa kita dapat mencapai Nibbana tanpa harus menanamkan uang apapun. Yesus berkata dengan hal yang sama. Tidak kurang dari tiga kali beliau berkata bahwa meminum air kehidupan tanpa membayar apapun. Dan lalu beliau berkata bahwa untuk memasuki hidup yang kekal adalah berarti mencapai keadaan di mana kita bersatu dengan Tuhan dan oleh karena itu tidak pernah mati.

"Dan barang siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma", (Wahyu 22:17). Khotbah Yesus ini adalah identik dengan apa yang dikatakan Sang Buddha. Buddha berkata bahwa jalan kesucian, buah kesucian dan Nibbana adalah cuma-cuma, tak ada yang perlu ditanamkan. Kita hidup menurut Delapan Jalan Utama, yang berarti kita membuang ini dan membuang itu. Hal itu berarti membuang semuanya dan tidak mengambil sesuatu apapun. Adalah tidak perlu membayar sesuatu untuk dapat hidup dengan cara ini, dan anda dapat menjalani Jalan Kesucian, Buah Kesucian dan Nibbana.

Ini adalah cara di mana anda dapat memasuki Nibbana tanpa membayar sesuatu apapun. Dalam kenyataannya walaupun orang-orang menghabiskan banyak uang untuk membeli Nibbana, hal ini adalah tindakan yang sia-sia. Hal ini seperti menanam uang untuk pergi ke surga. Hal ini sangat menggelikan dan kedua hal ini tidak ada hubungannya satu sama lain. Sebenarnya kedua hal tersebut tidak dapat dibandingkan. Kalau anda ingin berderma itu harus dilakukan dengan sepenuh hati untuk banyak orang. Nibbana adalah perhatian kita yang pertama dan itu tidak memerlukan uang.

Lalu mengapa kita berdana? Hal ini untuk membantu manusia lain untuk mencapai hal-hal yang kemudian disadari bahwa semuanya itu sebenarnya tidak memerlukan penanaman uang. Oleh karena itu kita menyumbang uang untuk membangun vihara dan sekolah yang bertujuan membantu teman lainnya untuk menjalani jalan yang benar, untuk menempuh jalan sampai akhirnya mereka mencapai keadaan yang tidak memerlukan penanaman uang yang mana kita namakan Nibbana.

Oleh karena itu, bagi anda-anda yang berencana mendapatkan kebajikan dengan kekuatan dana dinasehatkan untuk merubah jalan pikiran tersebut, karena hal itu tidak saja berbahaya, melainkan juga akan lebih banyak menyebabkan kerugian daripada keuntungan. Anda tidak hanya akan gagal untuk mendapatkan keuntungan, anda bahkan tidak akan mendapatkan nilai uang anda kembali. Dan ketika tidak ada keuntungan bahkan tidak ada perubahan seperti yang diharapkan, maka terasa hanya ada kerugian. Bertindak seperti itu adalah berlawanan dengan kata-kata Buddha. Buddha berkata, "Itu adalah cuma-cuma". Yesus menambahkan lagi "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma". (Matius 10:8). Nampaknya Buddha tidak pernah berbicara seperti ini, tetapi kita dapat mengatakan dari pengertian ajarannya, bahwa Buddha sudah membicarakan hal ini. Kalau yang didapat itu cuma-cuma, anda harus memberikan kepada yang lainnya dengan cuma-cuma juga. Jangan enggan dan malas. Jangan mengharapkan terima kasih atau hadiah dari murid kepada gurunya. Semua ini adalah tidak wajar. Ketika anda mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma, berikanlah secara cuma-cuma. Oleh karena itu Dhamma adalah sesuatu yang didapat secara cuma-cuma. Sekali anda mendapatkannya anda harus menyerahkannya kepada teman lain secara cuma-cuma juga. Jangan membuat percekcokan tentang hal ini dan jangan mengharapkan apapun sebagai balasannya.

Ketika anda berdana untuk agama, itu adalah untuk tujuan yang berbeda. Hal ini tidak ada hubungannya dengan anda dalam pencapaian Nibbana. Sebenarnya, hal ini akan menolong orang yang sesat untuk melihat jalan yang benar, dan akhirnya sampai kepada hal yang cuma-cuma. Pada akhirnya mereka juga akan mendapatkan benda berharga yang cuma-cuma. Jadi tidak ada kontradiksi di dalamnya.

Kalau anda mengkaji dengan hati-hati, anda akan melihat bahwa benda berharga ini, benda yang paling bernilai di antara benda-benda bernilai yang dapat diperoleh secara cuma-cuma dinamakan Nibbana, atau apa saja yang ingin anda namakan. Yesus menamakannya kehidupan. Keadaan kita ini sekarang tidak bisa dianggap sebagai kehidupan tetapi kita menamakannya kematian. Setiap orang mati dan mereka tidak mencapai Tuhan, tidak mencapai Yang Esa. Kalau anda mengikuti ajaran Yesus anda akan lahir segera, karena adalah perlu untuk dilahirkan kembali (melihat kerajaan Allah). Anda mesti mati terlebih dahulu, dan lalu dilahirkan sebagai manusia baru. Ketika anda dilahirkan sebagai manusia baru anda lahir dalam kehidupan kekal di mana itu adalah kehidupan yang sebenarnya (Yohannes 3:3-8).

Buddha berbicara dengan gaya yang sama. Beliau berkata bahwa jika anda tidak mengetahui bahwa keadaan ini seperti mati, anda akan menderita. Kita mesti mengerti secara jelas, kita mesti mencapai pencerahan dan bangun ke dunia yang baru. Lalu penderitaan akan berakhir. Tetapi kita mesti menyadari dan mengerti kondisi kita sebelum kita dapat bebas.

Apa yang terjadi di masa lalu telah mati, penderitaan dan kematian, karena 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku'. Sekarang kita dilahirkan di kehidupan baru yang kekal, kehidupan Nibbana, kehidupan yang tidak ada kematiannya, keadaan yang tidak pernah mati. Ini adalah berakhirnya 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku'. Kata 'Dilahirkan Kembali' berarti sebuah kehidupan tanpa ego, tidak ada 'Aku', kehidupan yang tidak akan mati. Lima proses komponen (Panca-Khandha) sekarang telah dimurnikan dan dinamakan proses komponen yang murni (Visudhi Khandha). Itu berarti pikiran dan badan tidak lagi menjadi tuan rumah tempat kotoran pikiran dan kemelekatan. Sebelum mencapai keadaan ini, kelima proses komponen secara terus menerus digapai dan dilekati oleh 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku' dan oleh karena itu sering ternoda oleh kemelekatan yang merusak. Itu adalah kematian; Kematian yang selalu muncul. Ketika keinginan yang terpolusi dan kemelekatan pergi seluruhnya, kita akan dilahirkan di dunia yang suci. Kelahiran di dunia yang suci itu adalah pernyataan bahasa awam. Kalau hal itu menurut bahasa Dhamma, hal itu dinamakan 'musnahnya Sang Aku'. Yang tertinggal hanyalah kekosongan, yang dinamakan Nibbana.

Kalau kita berbicara di dalam bahasa awam seperti yang dilakukan Yesus Kristus, kita mengatakan bahwa seseorang dilahirkan di dunia orang suci dan orang itu hidup kekal di Kerajaan Allah. Itu adalah bahasa awam. Ketika hal itu diterjemahkan ke dalam bahasa Dhamma artinya sama. Satu bahasa membicarakan 'Kelahiran', ketika bahasa yang lain membicarakan tentang 'Punah Seluruhnya'. Hanya kata-katanya yang berbeda. Di dalam bahasa awam kita menamakannya kelahiran kembali; Dalam pengertian bahasa Dhamma kita menamakannya sebagai pemadaman ke-Aku-an.

Oleh karena itu marilah kita hidup dengan kekosongan, hidup dengan menyiramkan air ke api dan memadamkan panasnya sebuah kehidupan dan memasuki suatu kehidupan lain yang sejuk. Kalau anda terbakar anda mati. Seseorang yang panas di dalam jiwanya adalah seperti penghuni neraka, binatang, setan kelaparan, asura. Orang yang demikian selalu mati. Kemelekatan terhadap 'Aku' belum padam. Egonya masih belum dapat dihancurkan; Egonya masak dan mendidih di dalamnya karena panasnya api kemelekatan. Hal ini harus diatasi sehingga dapat menjadi reda dan sejuk kembali.

Agar lebih mudah dimengerti, anda harus memahami dan mengingat bahwa kata Nibbana secara literaturnya berarti menjadi semakin sejuk, dan semakin sejuk. Pada waktu jaman Sang Buddha di India kata ini sering diucapkan di rumah-rumah, di jalan-jalan, dan di setiap tempat. Kata 'Nibbana' adalah kata yang sering diucapkan sehari-hari. Ketika sesuatu yang panas menjadi dingin mereka menggunakan kata 'Nibbana' untuk melukiskannya. Mereka akan berkata, "Kari ini sudah Nibbana mari kita memakannya".

Jadi anda dapat melihat bahwa kata 'Nibbana' merupakan kata yang diucapkan sehari-hari. Kata itu mempunyai arti peredaan setiap hal yang panas. Sebagai contoh, kalau batu bara yang panas menjadi dingin kembali, kita dapat mengatakan bahwa batu bara itu telah Nibbana.

Seandainya kita mengkajinya lebih lanjut dan menggunakan kata ini terhadap binatang. Kata tersebut dapat digunakan pada binatang yang sudah tidak ganas. Ini menunjukkan dinginnya binatang yang sebelumnya panas, ganas dan bertemperatur tinggi yang oleh karena itu adalah berbahaya terhadap manusia. Kalau gajah liar atau sapi liar dilatih dengan baik sehingga akhirnya keliaran dan keganasannya tidak dijumpai lagi, maka kita dapat menamakannya 'Nibbana', yang berarti binatang tersebut telah dingin.

Sekarang marilah kita menggunakan contoh manusia. Ketika manusia sedang panas seperti penghuni neraka, kita dapat mengatakan bahwa dia masih panas dan belum mencapai Nibbana. Sesudah dia menemukan cara mempraktekkan Dhamma untuk mendinginkan dirinya; dia mencapai 'Nibbana'. Kemudian dia akan 'Nibbana', 'Nibbana' dan 'Nibbana' sampai akhirnya mencapai Nibbana yang sempurna, Nibbana total dingin yang absolut.

Bahkan sekarang ada Nibbana di antara kita dalam beberapa tingkat, itulah sebabnya mengapa anda dapat duduk dan mendengarkan dengan tenang. Apabila api menyala di dalam anda sekarang, anda tidak dapat duduk tenang di sini. Oleh karena itu kita harus mengerti bahwa Nibbana berhubungan dengan kita di setiap saat, seperti udara yang kita hirup dan kita keluarkan. Kalau tidak demikian apabila Nibbana tidak muncul sama sekali kita semua akan gila dan mati karena 'kepanasan'. Sebenarnya, Nibbana berhubungan erat dengan kita dengan cara yang positip hampir di setiap saat. Kadang-kaang Nibbana dapat hilang sementara, jadi dapat dikatakan, ketika nafsu kita bergelora atau sedang terdapat keinginan yang jelek dalam segala bentuk, atau ketika kita sedang mengkhayal, maka hal itu berarti Nibbana telah hilang. Bagaimanapun, ketika nafsu jahat, keinginan jelek dan delusi tidak muncul di pikiran kita, kita mengalami taraf kecil dari Nibbana, terasa Nibbana yang sejenak. Karena Nibbana yang sepintas dan berulang ini yang dapat kita rasakan ketika tidak di bawah pengaruh nafsu jahat, keinginan jelek, dan delusi, maka kita tidak menjadi gila dan mati. Kita dapat hidup dengan tenang dan baik dengan adanya efek dari Nibbana dan oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada Nibbana melalui tindakan untuk mendapatkan Nibbana yang lebih banyak dan lebih lama dengan bertambah tenang dan dingin melalui penghancuran dari 'Aku' secara berangsur-angsur.

Menyingkirkan 'Aku' berarti tidak memperbesar keberadaannya dengan menyombongkan diri, tetapi kita menguranginya dengan mengembangkan disiplin diri sendiri dan tidak melawan bentuk-bentuk sosial yang sudah ada. Kurangilah, kurangilah sampai akhirnya tidak ada yang tersisa. Ketika 'Aku' telah pergi selamanya, anda akan mendapatkan hal terbaik yang mungkin dicapai manusia.

Ketika anda bertengkar dengan sombong atau keras kepala, ini menunjukkan bahwa anda telah kehilangan hubungan dengan Nibbana pada saat itu; anda telah gila. Oleh karena itu, seseorang yang bertengkar dan mengganggu orang lain atau kehilangan kesabaran terhadap orang lain di setiap saat, tidak tergantung apakah masalah itu adalah masalah biasa atau masalah agama, maka mereka adalah gila; mereka bukan manusia. Merendahkan dirimu ke taraf pertengkaran adalah perbuatan yang jelek. Jadi, seperti yang dibicarakan sebelumnya, orang yang berpikir bahwa ada banyak agama, dan agama lain adalah berbeda dan bertentangan dengan agama mereka, dan menyebabkan permusuhan, penganiayaan, dan saling menghancurkan adalah orang yang paling bodoh.

Ketika agama dianggap sebagai petentangan dan konflik, manusia menjadi bermusuhan sebagai akibatnya. Setiap orang berpikir "Kita adalah benar, mereka salah; mereka salah, kita benar", dan seterusnya, lalu timbul pertengkaran dan perkelahian. Ini membuktikan bahwa orang-orang demikian adalah sangat bodoh. Apa yang mereka pertengkarkan hanyalah kulit luarnya saja. Setiap orang harus menyadari ini, itu hanyalah bentuk luar saja, bukan inti dalamnya. Ketika orang-orang berpengetahuan dan bijaksana berkumpul bersama membicarakan masalah inti mengenai agama, mereka menyadari bahwa semua agama adalah sama. Walaupun bentuk luarnya berbeda, mereka mengetahui bahwa inti dasarnya adalah sama di dalam semua hal. Inti dasar adalah sama walau bagaimanapun berbeda bentuk luarnya, seperti yang kita analogikan mengenai jenis-jenis air. Sifat alamiah yang murni selalu sama, walau bagaimana busuk ataupun kotornya bentuk luarnya. Itu bukanlah air yang kotor, itu adalah bahan lain yang tercampur dengan air yang membuatnya kotor. Kita tidak harus membawa bahan pencemar tersebut. Ketika kita membawanya, itu berarti kita meminum air kotor; itu berarti kita telah menelan kotoran, air seni atau sampah buangan atau yang lainnya dan tidak meminum air murni.

Ketika terjadi pertengkaran, apakah di antara orang awam atau antara bhikkhu atau orang baru, itu berarti orang-orang tersebut sedang makan kotoran, polusi dari 'Aku'. Ini tidak seharusnya terjadi. Hal ini harus dihentikan. Jangan menyombongkan dirimu dengan ego dan menciptakan konflik kesombongan ini. Itu berarti membiarkan hal semakin memburuk. Anda harus mencoba menenangkan masalah ini dan bersikap setenang mungkin.

Adalah bodoh bahwa semakin tua seseorang, semakin kuat egonya. Saya minta maaf, karena saya berbicara sangat terus terang. Mengapa ini bisa terjadi? Karena orang tua banyak yang sudah terbiasa dengan kemelekatan, kemelekatan berakumulasi dan tertimbun di dalam diri mereka sejalan dengan usia mereka. Mereka mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan dan mereka menyombongkan egonya dan berbuat seolah-olah berkuasa atas anak-anaknya. "Anakku! Bagaimana anda lakukan itu tanpa permisi dariku". Ketika mereka mempunyai cucu mereka bahkan semakin menyombongkan diri. Oleh karena itu, orang tua lebih sering terobsesi dengan 'Aku' dan 'Kepunyaanku' daripada anak-anak mereka.

Kalau anda kembali ke masa kanak-kanak, anda akan mendapatkan bahwa anak kecil hanya mempunyai sangat sedikit 'rasa memiliki untuk diri sendiri'. Sangat sulit untuk menemukan jejak ego ketika anak masih di dalam kandungan, sangat sulit ditemukan adanya kesadaran dari 'Saya adalah...' atau 'Saya mempunyai...' Bagaimanapun, sesudah seseorang dewasa dan menjadi seorang ayah atau seorang ibu, dan kemudian seorang kakek atau seorang nenek, perasaan kuat dari 'diri sendiri' lebih berkembang dan lebih merasuk ke dalam jiwa. 'Aku' dan 'Kepunyaanku' menjadi akar di dalam perasaan dan bentuk pikiran dengan banyak cara dan bentuk. Dan hal itu terlekat kuat dan sangat sulit dilepaskan.

Oleh karena itu anda sebagai orang tua haruslah sangat berhati-hati dan waspada; anda seharusnya mencoba kembali ke masa anak-anak lagi. Ini adalah proses hidup menurut Dhamma, itu adalah jalan yang menuju kekosongan; itu adalah jalan dari ketidak-melekatan. Sebaliknya, anda akan jauh dari Buddha dan Nibbana ketika anda bertambah tua dan kurang berwaspada.

Sebenarnya semakin tua usia kita seharusnya semakin dekat ke Buddha. Dengan bahasa lain, "Semakin bertambah usia seharusnya menjadi semakin muda. Semakin tua anda seharusnya menjadi semakin muda". Kalau anda bertambah tua anda seharusnya menjadi periang dan terlihat cerah dan segar. Jangan biarkan dirimu kering dan mati, atau berangsur-angsur layu.

Setiap orang seharusnya menjadi cerah dan periang ketika dia semakin tua, dan semakin dekat ke Buddha, Dhamma dan Sangha, dan mereka mengenal lebih banyak mengenai Dhamma. Semakin berhasil kita membuat api di dalam diri mengecil, semakin dingin kita. Semakin dingin kita, kita akan merasa bertambah segar dan riang; semakin cerah dan hidup. Ketika kita sudah dingin absolut, kita akan sangat cerah dan riang. Oleh karena itu, semakin tua, kita harus kelihatan semakin muda dan semakin riang dan cerah.

Aktifitas fisik yang hidup dan corak pemuda yang segar adalah hal yang berbeda sama sekali. Dalam bahasa Dhamma, hidup segar menunjukkan kecerahan spritual, bersemangat dan tenang. Itu berarti semakin dekat ke Dhamma, semakin banyak kita menyerapnya. Oleh karena itu, hawa panas padam, dan kedinginan mengembang dan membungkus kita. Akibatnya kita merasa bertambah segar, hidup dan riang. Jadi biarkan semua orang tua menjadi segar dan hidup. Biarkan kita semua menjadi semakin muda, atau apa saja yang kita ingin ungkapkan. Biarkan dia berkembang di dalam diri kita dan masalah pertengkaran dan perkelahian tidak akan terjadi lagi.

Yang lebih jelek daripada pertengkaran adalah 'pemujian diri sendiri dan menghina yang lain' dan semua hal lainnya termasuk percekcokan yang keji dan memfitnah. Umat Buddha tidak boleh bersikap demikian. Kalau mereka bersikap seperti itu mereka bukan umat Buddha sejati. Hanya dengan mengatakan bahwa kita beragama Buddha tak berarti apa-apa. Tak ada orang yang akan percaya pada orang yang demikian. Menganggap dirimu beragama Buddha karena adanya sertifikat kelahiran atau sebagai hasil dari tanda pendaftaran di vihara adalah tidak berguna. Itu tidaklah cukup. Kita harus menjadi umat Buddha sejati dalam arti kata yang sebenarnya. Itu berarti melemahkan dan mengurangi 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku' supaya menjadi dingin dan oleh karena itu semakin dekat ke Nibbana. Jadi adalah jelas bahwa kita harus menjauhkan diri dari perbuatan memfitnah dan mencaci maki, mencari-cari kesalahan dan mengganggu orang lain. Dengan kata lain, hentikanlah semua bentuk pemujian diri sendiri dan menghina orang lain.

Orang yang terikat pada sikap tersebut sangat sulit benar untuk mencari kelas yang sesuai untuk mereka. Tingkat pertama? Taman Kanak-kanak? Itu masih terlalu tinggi, masih ada beberapa kelas yang lebih rendah untuk orang-orang yang bersikap demikian. Jadi adalah sulit untuk mengatakan di kelas mana mereka seharusnya sesuai untuk belajar. Umat Buddha yang saleh tidak boleh bersikap demikian. Bahkan umat yang berada di taman kanak-kanak yang belum mencapai kelas I SD mengetahui lebih baik untuk tidak bersikap demikian. Mereka mengetahui bahwa sikap demikian adalah dilahirkan dari nafsu yang membara dan tidak ada hubungannya dengan Dhamma atau agama Buddha.

Ketika kita naik kelas yang lebih tinggi SMP dan SMA, tidak ada lagi 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku'. Sebenarnya adalah kosong dari 'diri sendiri' tidak ada 'Aku', tidak ada 'Kamu', tidak ada 'Dia', tidak ada 'Kita', tidak ada 'Mereka' dan tidak ada agama Buddha, tidak ada agama Islam, karena bagaimana mereka dapat muncul bila sudah tidak ada lagi 'Kita', tidak ada lagi 'Mereka', tidak ada lagi 'Seorangpun!' Tidak ada apa-apa selain Dhamma Suddhadhamma-Pavattanti; hanya fenomena murni dengan perubahan yang terus menerus dan tetap. Hanya ada alam. Hanya itulah fenomena aktif yang terus berubah atau fenomena impasif yang terus berobah, tergantung apakah termasuk Sankhata Dhamma atau Asankhata Dhamma[9].
[9] Sankhata Dhamma adalah keadaan bersyarat dan kemelekatan sehingga timbul kelahiran dan kematian yang tak ada hentinya. Asankhata Dhamma adalah keadaan tak bersyarat (mutlak), tak berbentuk, dan tak berasal. Asankhata Dhamma sering disamakan dengan Nibbana.

Seseorang yang berada di tingkat yang lebih tinggi mengerti keadaan ini. Seseorang yang masih berada di Taman kanak-kanak, SD, maupun SMP seharusnya juga telah mengerti keadaan ini dan mencoba mempraktekkannya (ketidak-melekatan terhadap 'Aku' dan 'Kepunyaan Aku').

Jadi jangan biarkan pikiranmu gelap dan terdelusi. Jangan mengganggu dan menggoda orang lain. Jangan menghina, menyalahkan dan memfitnah. Jangan bertengkar, marah atau memuji diri sendiri dan menghina yang lain, atau hal lain sejenisnya. Sikap yang demikian adalah tidak dapat ditoleransi. Itu berarti kita tidak dapat digolongkan ke dalam sebuah kelas karena kita sudah terlalu rendah dan tentunya bukan anggota keluarga Buddhis.

Oleh karena itu memulai dari hal ketika seseorang terikat oleh ini atau itu, seseorang berangsur-angsur mengurangi kemelekatannya sampai akhirnya seseorang tidak terikat pada apa-apa lagi. Tidak ada suatu apapun. Semua adalah tanpa 'Aku', tanpa 'Kepunyaanku'. Kita harus mengerti bahwa pada dasarnya semua adalah kosong, tidak perduli apakah itu pikiran atau tubuh. Lihatlah inti dalamnya dan semuanya adalah kosong. Tidak ada kemelekatan di sana, kemelekatan baru saja timbul untuk kemudian lenyap.

Hal itu dapat kita bandingkan dengan 'Air' di mana aslinya adalah murni dan bersih. Air yang ada di awan berada dalam keadaan murni, tetapi ketika air jatuh melalui atmosfir, air akan membawa partikel kecil debu dan menjadi air hujan yang terkontaminasi. Ketika air jatuh ke botol dan tercampur dengan kotoran di sana dan menjadi lebih kotor lagi. Kalau air jatuh ke sumur, danau dan terowongan, menjadi lebih kotor dan tercampur kuman-kuman. Air bahkan dapat menjadi busuk yang dapat ditemukan di parit-parit dan selokan-selokan. Kita seharusnya menyadari bahwa elemen yang kotor bukan air dan tidak ada hubungannya dengan sifat alamiah dari air.

Supaya mengenal sifat dasar dari pikiran dan badan, lihatlah secara dekat ke pikiran ketika berada dalam bentuk alamiahnya, yang berarti pada waktu belum terkontaminasi dengan kotoran-kotoran. Seperti dirimu sendiri, 'Aku' yang mengerti semua jenis benda, seperti apa yang baik dan jahat, sesuatu yang kotor seperti bahan-bahan yang mencemari air dan membuatnya keruh dan terpolusi. Tubuh dan pikiran tidak kotor, tetapi oleh karena kebodohan dan kurangnya kewaspadaan, pikiran yang jahat mersuk ke dalam dan mencemarinya.

Lalu mengapa kita mesti mengambil segala ketidak-murnian ini membentuk 'ego' dari kita dan menamakannya sebagai 'Aku' atau 'Kepunyaanku' dan yakin bahwa sebenarnya semuanya itu merupakan 'diri' kita yang sebenarnya? Semua itu bukanlah 'diri' kita yang sebenarnya; Semua itu hanyalah debu-debu kotoran yang mewarnai hidup kita. Anggapan bahwa segala debu dan kotoran itu adalah merupakan 'diri' kita yang sebenarnya adalah hal yang sangat menggelikan dan menyedihkan.

Jadi, jiwa dan pikiran yang jernih dan bijaksana; jiwa yang telah mencapai kemurnian dan pencerahan adalah merupakan Sang Buddha itu sendiri. Jiwa seperti itu tidak akan mengambil segala debu dan kotoran itu sebagai suatu 'diri'.

Jika kita mesti memiliki suatu 'diri', biarkanlah 'Sang Aku' yang besar itu menerima kekosongan sebagai 'Aku' yang sebenarnya; 'Sang Aku' yang terbebas dari segala polusi apapun. Bila kita terbebas dari segala polusi tersebut, maka tidak akan ada kemelekatan dan tidak akan ada kelahiran. Walaupun di mulut kita berkata "Saya adalah...", atau "Saya memiliki...", jiwa di dalam diri kita tidak akan merasa terikat pada bentuk ataupun milik apapun. Mulut adalah mulut, dan jiwa adalah sesuatu yang lain. Saya harap anda-anda sekalian ini memahami pandangan tentang hidup yang seperti ini.

Semua yang dibicarakan adalah hanya auntuk kalangan kita sendiri. Apabila kita sedang berada di forum yang umum, maka mungkin kita tidak boleh berkata demikian. Hal ini mungkin akan menimbulkan kesulitan besar. Tetapi ini hanyalah pembicaraan informal di dalam kalangan kecil. Pembicaraan ini diekspresikan demikian karena kita termasuk orang-orang yang mudah memahaminya. Sebenarnya, sangat diharapkan bahwa kamu dapat mengikuti dan memikirkannya dengan serius. Apabila anda memahaminya dan setuju dengan cara pikir dan pandangannya, barulah anda mencoba untuk hidup sesuai dengannya. Tanpa memerlukan waktu yang lama, anda mungkin akan beranjak lebih jauh ke atas; ke tingkat pemahaman kesunyataan yang lebih tinggi dan terbebas dari segala penderitaan; hingga kemudian kita dapat melakukan segala kegiatan kita dengan jiwa yang bersih dan pikiran yang kosong, serta dapat memberikan semua hasil yang kita peroleh kembali kepada kekosongan. Kita akan mampu memakan makanan dari kekosongan dan kita mampu untuk 'mati' secara sempurna sejak semula. Dan itu merupakan akhir segalanya. Akhir dari seorang yang semula masih terikat, walau sebagai seorang 'Buddhis' sekalipun.

Apabila di dalam bahasa awam kita sering mendengar pepatah kata, "Janganlah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh untuk terlahir dan hidup sebagai manusia dan sebagai makhluk yang berkesempatan mengerti mata Dhamma", maka di dalam bahasa Dhamma ada ungkapan, "Inilah akhir dari segala-galanya, tiada lagi yang tersisa. Kehidupan ini terasa abadi, karena tiada lagi kelahiran, usia tua, sakit dan mati".***

Sumber:

HAKEKAT AGAMA; Y.A.Bhikkhu Buddhadâsa; dr.Joko Budiman Jong (alih bahasa); Upa.Bun Tek Siong (editor); Penerbit Pundarika —Perpustakaan Vihara Borobudur Medan, 1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar