Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pentingnya Kasih Sayang —Karuna

Pentingnya Kasih Sayang —Karuna

oleh: Narada Mahathera

Sumber Asli: THE YOUNG BUDDHIST 1983 No.MC(P) 107/8/83

Karuna tanpa kekerasan atau kasih sayang adalah urutan ketiga dan terakhir dari SAMKAPPA. Karuna adalah sifat baik yang membuat hati menjadi lembut; tergetar melihat penderitaan makhluk lain. Karuna tidak hanya terbatas pada kesamaan agama dan bangsa atau umat manusia. Kasih sayang yang terbatas bukanlah karuna.

Ia yang memiliki Karuna bagaikan selembut bunga; ia tidak tega melihat penderitaan makhluk lain. Kadang-kadang ia mengorbankan hidupnya sendiri untuk meringankan penderitaan makhluk lain. Dalam semua cerita Jataka, Bodhisatta berusaha keras untuk selalu menolong mereka yang menderita dan susah, dan berusaha memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan segala cara yang memungkinkan. Dalam salah satu cerita Jataka diceritakan tentang Bodhisatta yang mengorbankan hidupnya untuk menolong singa betina dan anaknya yang menderita kelaparan. Ini merupakan contoh yang sangat terkenal.

Kasih sayang Buddhis yang benar adalah mengadakan persamaan diri sendiri dengan makhluk lain dan juga mau mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan makhluk lain. Bilamana ia memandang dirinya sendiri dengan cara demikian, egonya akan memudar dan ia membuat tidak ada perbedaan antara dirinya dengan makhluk lain. Ia membalas kejahatan dengan kebaikan dan memberikan pertolongan kepada mereka yang telah menyakitinya dengan tulus. "Dicaci maki, ia tidak balas mencaci maki; dipukul, ia tidak balas memukul; diganggu, ia tidak balas mengganggu". Kasih sayangnya tidak habis-habisnya, bagaikan bumi yang menderita dengan tidak berkata apapun, walaupun hal itu ditujukan kepadanya.

Bagaimana pun harus diakui, sangat sulit menemukan sifat semacam itu dalam dunia kejahatan, perang. Tetapi sifat demikian seharusnya menjadi pengecualian standard moral yang tinggi dan cita-cita agama Buddha. Karuna mempunyai sifat (lakkhana) seperti seorang ibu yang cenderung untuk berpikir, berkata dan berbuat untuk membebaskan beban penderitaan bayinya yang sakit. Ia mempunyai sifat (rasa) tidak tahan melihat penderitaan makhluk lain. Perwujudan (paccupattana) dari Karuna adalah bebas dari kekerasan dan kejahatan sama sekali. Penglihatan/rupa yang tidak berdaya, yang menyatakan kesedihan adalah kira-kira hal yang dapat dipergunakan untuk melatih KARUNA. Perwujudan Karuna adalah penghapusan segala bentuk kekejaman. Musuh langsung Karuna adalah kekejaman dan musuh yang tidak langsung adalah kesedihan.

KARUNA YANG TIDAK TERBATAS

Mettâ dalam Agama Buddha tertuju kepada orang kaya dan miskin. Karuna terutama sekali tertuju kepada orang kebanyakan yang miskin; Sang Buddha mengajarkan kepada para pengikut-Nya untuk mengangkat orang-orang yang rendah, menolong yang miskin, yang memerlukan bantuan dan dalam kesedihan, merawat yang sakit, menghibur mereka yang kehilangan, mengasihani mereka yang jahat, memberikan penerangan kepada mereka yang bodoh.

Kasih sayang adalah prinsip dasar bagi umat awam dan bhikkhu. Karena kehidupan sangat berharga untuk semua, maka seorang umat Buddha dianjurkan untuk mengembangkan kasih sayangnya terhadap semua makhluk hidup, sekalipun kecil, yang merangkak dengan kakinya, dan menahan diri dari membunuh atau melukai makhluk hidup apa saja. Apakah untuk meredakan nafsu keinginan atau sebagai pengisi waktu atau demi ilmu pengetahuan, tidak dibenaran untuk membunuh atau menyebabkan terbunuhnya makhluk hidup, baik dengan cara kasar atau halus. Raja Asoka menulis pada batu karang dan pilar, dengan mengatakan "Kehidupan tidak seharusnya berlangsung dengan mengorbankan makhluk hidup yang lain. Walaupun serangga, tidak seharusnya dibakar".

Karena bumi demikian bermurah hati, menyediakan kita macam-macam sayuran, dan makanan yang tidak berbahaya serta bergizi, untuk apa kita membunuh saudara-saudara kita yang dungu dengan tanpa kenal ampun, hanya untuk memuaskan diri sendiri, memakan daging mereka? Bilamanakah pembunuhan terhadap binatang disalahkan dalam agama Buddha? Tidak ada gunanya mengomentari kekejian pembunuhan makhluk hidup, baik secara pribadi maupun secara kolektif dengan alasan perdamaian atau demi agama.

Suatu paham ajaran yang senang perdamaian di India, menemukan suatu pernyataan yang sempurna dalam ajaran Sang Buddha. Ajaran Sang Buddha mengajarkan AHIMSA atau tanpa kekerasan terhadap semua makhluk. Agama Buddha melarang umatnya untuk memiliki, mengerjakan dan menjual senjata, membuat racun dan minuman keras, atau menjadi penjagal binatang.

Berbicara tentang ajaran Sang Buddha yang tanpa kekerasan, Aldous Huxley mengatakan:

"Dari semua agama-agama besar di dunia, hanya Agama Buddha yang mengajarkan tidak melakukan penganiayaan terhadap makhluk-makhluk dan harus menyelidiki terlebih dahulu terhadap segala sesuatu".

Bagi Umat Buddha, marah adalah sesuatu yang sangat memalukan.

BHIKKHU

Seorang bhikkhu seharusnya melatih dirinya dengan cinta kasih dan kasih sayang ini sampai sedemikian luas dan dalam, sehingga ia dilarang —menurut Vinaya— untuk menggali ataupun menyebabkan penggalian tanah. Ia menghindari merusak biji-biji dan tanaman yang hidup. Ia dilarang membuang sisa makanan walaupun hanya sedikit "ke atas tanah yang tidak berumput, atau ke dalam air yang tidak berbunga". Ia sama sekali tidak akan minum air tanpa disaring.

Sang Buddha menasehati murid-murid-Nya demikian:

"Oleh karena itu, O para bhikkhu, bagaimanapun orang berbicara tentang kamu apakah dalam masa Vassa atau pun bukan, apakah tepat ataupun tidak, apakah dengan sopan ataupun dengan kasar, apakah dengan bijaksana ataupun dengan bodoh, apakah dengan baik hati ataupun dengan perasaan iri hati; demikian O, para bhikkhu, kamu harus melatih dirimu sendiri: "Di dalam pikiran kita tidak ada celaan yang muncul, tidak ada kata-kata jahat keluar dari bibir kita. Kita harus tetap ramah dan ingin menghibur setiap orang, tidak merasa sakit hati atau dendam. Dan kita seharusnya memancarkan cinta kasih terus-menerus kepada semua orang; dan demikian seterusnya sampai cinta kasih yang terus-menerus ini terpancar ke seluruh dunia, berkembang terus sampai menjadi tidak terbatas; bebas dari rasa permusuhan/kebencian, bebas dari iri hati/kejahatan. Demikian kamu harus melatih dirimu sendiri".

DUNIA YANG RESAH

Hari ini, dunia yang resah akibat perang, yang mencapai puncak kemajuan materi, mengabaikan nilai-nilai moral dan sedang melacurkan ilmu pengetahuan. Hal ini mengakibatkan bencana dan penderitaan yang tidak dapat dilukiskan kepada berjuta-juta manusia, yang mengorbankan sesuatu yang sangat berharga, hidup pada altar "kekuatan alam". Hanya metta dan karuna yang dapat menciptakan perdamaian dan ketenangan bagi semua manusia. (Sy)***


Sumber:

BUDDHA CAKKHU No.16/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar