Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia

Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia

oleh: YM Bhikkhu Girirakkhito Mahathera

Sumber Asli: Kaset Khotbah Dhamma

Kalau kita perhatikan perjuangan bangsa Indonesia mulai zaman perjuangan kemerdekaan sampai sekarang, maka terasa sekali kemajuan pembangunannya, terutama pembangunan di bidang fisik, seperti jembatan yang panjang-panjang, pabrik-pabrik, jalan-jalan tol, dsb. Pemerintah telah berhasil memasyarakatkan olahraga. Kalau dulu tidak ada yang berolahraga. Olahraga mereka adalah mencangkul, bekerja, bercocok tanam, dsb. Tetapi sekarang sudah maju. Begitu pula, pemerintah telah berhasil memasyarakatkan pendidikan, dan menjadikan masyarakat semua terdidik. Sekarang kalau kita mencari sarjana-sarjana, sudah banyak. Kalau dulu, yang namanya dokter itu bisa dihitung dengan jari. Demikian juga dengan sarjana-sarjana yang lain.

Tetapi, mohon maaf kalau saya mengatakan bahwa mungkin kita, pemerintah, belum berhasil memasyarakatkan moral etik, atau moral etik itu memasyarakat. Kenapa saya katakan demikian? Karena memang pembangunan di bidang moral etik —mental spiritual— ini, terutama yang disebut Kebebasan Akhir, adalah perjuangan yang paling tinggi bagi cita-cita kemanusiaan. Kalau dulu orang belajar agama itu amat sugguh-sungguh. Mereka pergi ke hutan-hutan mencari pertapa, mencari "Sang Guru" istilahnya, dan kemudian mereka menjadi "nyantrik" atau mengabdi. Itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak banyak! Karena cita-cita agama itu luar biasa tingginya; bahkan mungkin merupakan cita-cita yang terakhir bagi cita-cita kemanusiaan. Apa sebab? Sebab menurut ajaran agama, kita menjadi manusia ini berusaha mencapai 3 tingkat kebahagiaan.

Kebahagiaan yang pertama disebut Amisa-Sukha, yaitu kebahagiaan yang disebabkan oleh kondisi materi. Makanan cukup, punya rumah, punya penghasilan cukup, anak-istri terjamin, pendidikan anak-anak terjamin, biaya untuk obat terjamin, pokoknya sejahtera. Itu namanya Amisa-sukha. Tetapi ini harus ditingkatkan lagi untuk mancapai Niramisa-Sukha, yaitu kebahagiaan tanpa tergantung kepada materi. Ini tentu lebih sulit lagi. Namun manusia harus bisa memperjuangkan kebahagiaan tingkat menengah ini. Jadi, nanti kalau mendapat penghasilan yang hanya sekedar cukup, lalu bisa tidak susah, tidak iri hati, tidak cemburu, tidak sakit hati, tidak memusuhi orang yang kaya, dan sebagainya. Karena dengan tercapainya Niramisa-sukha di dalam hati, itu sudah menjamin bahwa kita akan menikmati kebahagiaan tanpa tergantung pada materi.

Namun menurut ajaran agama, kebahagiaan tingkat menengah ini pun masih harus ditingkatkan. Apakah itu? Itu disebut Parama-Sukha, yaitu kebahagiaan yang tidak bisa balik kembali menjadi penderitaan. Itulah Nibbana.

Jadi cita-cita agama itu adalah, kalau agama Hindu adalah mencapai Moksa dan agama Buddha adalah untuk mencapai Nibbana, maka itu adalah cita-cita yang luar biasa. Sekarang itulah yang harus dimasyarakatkan oleh para rohaniwan Buddha, Hindu, atau yang lainnya. Mungkin para rohaniwannya saja belum mencapai apa-apa, sekarang harus memimpin atau menggembleng umatnya supaya berjuang mencapai status kemerdekaan batin yang demikian tinggi nilainya.

Oleh karena itulah, saya menghimbau agar kita dapat mencapai kualitas diri seperti yang diuraikan tadi. Untuk itu kita harus berjuang. Perjuangan kita sebagai rakyat Indonesia adalah disamping meningkatkan disiplin, mematuhi dan menaati ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan agama yang kita anut, maka sekaligus juga menaati, mematuhi, dan mengamalkan apa yang menjadi cita-cita pembangunan bangsa. Oleh karena itu kita mengetahui, mempelajari, dan mengerti seluk-beluk pembangunan, peraturan-peraturan yang ada di Indonesia, perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, hukum yang berlaku sah; semuanya ini harus ditaati dengan penuh disiplin. Dengan demikian kita akan berhasil menjadi sumber daya manusia yang berkualitas untuk dapat membantu pembangunan bangsa seutuhnya.

Tentunya kalau pembangunan bangsa Indonesia, mengharapkan semua umat beragama meningkatkan ketrampilan kerja, etos kerja, disiplin kerja, mungkin masih perlu hidup sederhana, agar hutang-hutang atau kekurangan-kekurangan yang ada bisa ditutup. Sebab kalau penghasilan atau gaji naik, tetapi cara hidup tidak sederhana maka tetap akan kurang saja. Kalau cara hidup tidak terpimpin, maka kantong-kantong kemiskinan tetap akan hadir di kalangan bangsa kita, bangsa Indonesia.

Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas kemanusiaan ini?

Sebenarnya manusia ini disebut Lima Kelompok Kehidupan;


Yang kepertama disebut kelompok Jasmani,
Yang kedua disebut kelompok Perasaan,
Yang ketiga disebut kelompok Pikiran,
Yang keempat disebut kelompok Ingatan,
Yang kelima disebut kelompok Kesadaran.

Jadi satu komponen atau satu kelompok adalah jasmani, tetapi 4 kelompok lainnya itu terdiri atas kelompok batin. Sekarang kita telah maju dalam memberikan santunan kepada jasmani: pakaian sudah cukup, rumah sudah punya, sarana-sarana kesejahteraan sudah punya; tetapi kita lupa memberikan santunan kepada 4 komponen lainnya, yaitu: perasaan, pikiran, ingatan, dan kesadaran. Bukan hanya dengan diberi pelajaran ilmu pengetahuan, itu tidak cukup, tetapi harus diberikan DHARMA, singkatnya. Oleh karena itu, Dharma sering sekali dipakai sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit, sama seperti obat yang diberikan oleh dokter untuk menyembuhkan penyakit pasiennya.

Jadi, Sang Buddha Gotama diumpamakan sebagai dokter, Dharma diumpamakan sebagai obat, dan kita ini yang sakit. Apanya yang sakit? Mental yang sakit! Kita jangan tersinggung bila dikatakan demikian. Secara global saja kita lihat tentang dekadensi moral. Kita bangga dengan hasil kemajuan pembangunan di bidang fisik, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi; tetapi di bidang moral etik ini kita nilai belum berhasil. Karena ini memang perjuangan akhir dari perjuangan yang maha berat dan maha dahsyat.

Namun meskipun demikian, karena kita harus memasyarakatkan ajaran Dharma dan Dharma ini harus memasyarakat, maka masyarakat harus mengetahui Dharma. Dan Dharma sebagai obat itu harus dimakan dengan amat rajin setiap hari. Kalau saya sekarang sakit kencing manis, itu harus disuntik dengan insulin setiap hari. Kalau tidak maka akan kumat, begitu ibaratnya. Jadi Dharma ini adalah sebagai obat, sebagai jamu, atau sebagai injeksi. Kita harus memberikan santapan Dharma, injeksi Dharma atau obat Dharma ini kepada penyakit pikiran. Penyakit pikiran adalah: kelobhaan, keserakahan, mencari kekayaan dengan hantam-kromo, kebencian, iri hati, sakit hati, cemburu, saling sikut, pandangan salah tentang hidup dan kehidupan ini, kebodohan, kemelekatan, ego, dsb. Itu penyakit! kalau itu masih bercokol di dalam batin, maka manusia akan selalu dirundung kesusahan dan penderitaan. Sebab kebahagiaan itu letaknya di dalam hati/batin, bukan di dalam materi. Biarpun saudara kaya-raya, makmur sekali, tetapi kalau pikiran saudara masih banyak kelobhaan, kebencian, ketidaktahuan, kemelekatan, dan keakuan, maka saudara jangan tersinggung kalau dikatakan sakit.

Agama Buddha mempunyai satu metode untuk menyembuhkan penyakit pikiran ini. Untuk menyembuhkan penyakit pikiran itu luar biasa beratnya. Kadang-kadang seumur hidup diberikan obat Dharma, juga tidak bisa sembuh. Namun ada orang yang diberikan Dharma hanya beberapa bulan saja, lalu sudah sembuh, mencapai Nibbana.

Dari mana datangnya penyakit ini? Agama Buddha menyakini adanya Hukum Punarbhava atau Tumimbal-Lahir. Jadi kita lahir sekarang ini, menjadi manusia, itu disebabkan oleh kekuatan karma yang lampau, yang lazim disebut: Karmic Energy atau Tenaga Karma. Dalam tenaga karma ini tersimpan semua kecenderungan perbuatan atau pikiran yang kita lakukan pada kehidupan yang lampau. Itu semuanya tertimbun-timbun —dia tidak hilang begitu saja, tetapi tertimbun—, dan kita bawa lahir. Setelah lahir, lalu tersimpan di bawah sadar. Dan sekarang tinggal menunggu kondisi saja, kalau kondisinya mengizinkan, maka penyakit itu akan muncul. Kalau orang mempunyai penyakit malaria, begitu ia minum es atau yang asem-asem, malarianya akan kumat. Kalau seorang pecandu judi begitu ia lewat dan mampir ke tempat judi, maka dia akan bermain judi, dan seterusnya. Begitulah bahaya laten daripada penyakit yang tertimbun di bawah sadar ini.

Makanya manusia walaupun beragama, sering sekali melanggar. Mengapa melanggar? Karena didorong oleh kecenderungan hatinya yang tersimpan di bawah sadar, yang di dalam bahasa agama Buddha disebut "Bhavanga Citta" atau pikiran di bawah sadar. Itu menggoda sekali, merayu sekali. Maka sering sekali terjadi orang beragama, tetapi tetap melakukan penyimpangan dan kesalahan.

Kita tidak usah menutup-nutupi atau malu-malu, bahwa kejahatan sekarang —dekadensi moral—, sudah cukup mengkhawatirkan. Kejahatan mulai dari yang kasar, makin halus, makin terselubung, makin lihai, makin canggih. Kalau jaman dulu tidak ada yang disebut kejahatan "kerah-putih", apalagi yang disebut kejahatan berdasi; sekarang muncul. Dan di waktu yang akan datang entah kejahatan apalagi yang muncul. Ebtanas bisa dijual, skripsi bisa dijual. Bayangkan! Pokoknya dekadensi moral itu mungkin sudah terjadi di mana-mana. Mungkin itu yang disinyalir, sehingga sekarang kita harus meningkatkan kualitas moral etik, meningkatkan iman/ketaqwaan. Tetapi ini harus berbarengan dengan kesejahteraan dan kecukupan materi, sarana kehidupan. Jadi saling kait-mengkait.

Kemudian, untuk dapat meraih Niramisa-Sukha atau kebahagiaan tanpa tergantung kepada materi, bahkan kalau bisa mencapai Parama-Sukha atau kebahagiaan yang tidak bisa berbalik menjadi susah, maka obat atau injeksi Dharma itulah yang akan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada pada pikiran kita. Mula-mula "obat" Dharma akan menjadikan batin kita mencapai tingkat penyembuhan yang kepertama, yang disebut: YATHABUTHA NYANA DASSANA VISUDDHI. Jadi, penyakit yang paling pertama harus dihapus adalah pandangan keliru tentang hidup dan kehidupan ini. Kalau kita menganggap kehidupan kita ini kekal, itu keliru. Kalau kita menganggap hidup ini penuh dengan kebahagiaan, juga keliru, pandangan salah. Kalau kita memandang hidup ini adalah milikku, kepunyaanku, serta melekat kepada segala sesuatu —yang secara kebenaran konvensional/biasa kita anggap milik—, itu namanya penyakit. Jadi itu yang pertama harus disembuhkan.

Janganlah menganggap hidup ini kekal, karena semuanya selalu berubah. Tidak ada yang hidup terus, semuanya akan hancur. Kita pun akan mati semuanya. Kekayaan adalah tidak kekal. Kita boleh menimbun kekayaan untuk keperluan hidup sekarang ini, tetapi tidak mungkin bisa dibawa mati. Maka oleh karena itu, kita siap untuk berpisah dengan kekayaan, dengan istri, suami, anak, dengan pangkat, kedudukan, rumah, dan segala milik, sebab itu sudah hukum alam, semuanya akan berubah dan hancur. Maka dari itu kita harus berusaha agar tidak punya pandangan keliru. Kalau pandangan keliru ini sudah bisa diatasi, berarti obat Dharma sudah mulai makan, sudah mulai menyembuhkan batin kita dalam tahap yang pertama.

Kalau kita terus-menerus menggunakan obat Dharma ini, maka lambat laun penyembuhan tingkat kedua akan tercapai, yaitu yang disebut: NIBBIDA. Batin kita tidak lagi begitu melekat kepada apa yang kita senangi, atau apa yang pernah kita gila-gilai. Kalau dulu kita berebut, saling sikut, berani bunuh-membunuh untuk apa saja, apakah rezeki, kedudukan, dll, kita berebut, sekarang kita mulai mengalah, mulai mengkerut, mulai mundur setapak. Diumpamakan seperti bulu ayam, kalau dekat dengan api, dia mengkerut.

Kemudian kalau terus-menerus makan "obat" Dharma, maka tingkat kesembuhan yang ketiga akan tercapai, yaitu: VIRAGA. "Vi" artinya bersih; "Raga" artinya nafsu. Jadi pikiran sudah mulai bersih dari nafsu-nafsu, kemelekatan, kebencian. Mulai bersih, tetapi belum bersih betul.

Tapi kalau terus melatih diri, terus melakukan aturan-aturan agama dengan disiplin sekali, dan mengembangkan pengertian Dharma yang lebih tinggi lagi, akhirnya batin akan mencapai kesembuhan tingkat keempat, yang disebut VISUDDHI. Visuddhi barulah sudah bersih, bersih dari noda-noda, dari cacad-cacad, dari pelanggaran-pelanggaran, dan sebagainya. Kalau kebersihan itu dipertahankan lagi dan terus makan obat Dharma, maka akan tercapai kesembuhan batin tingkat kelima, yang disebut: VIMUTTI. Vimutti artinya merdeka, batin yang merdeka. Kalau sebelumnya batin kita sama seperti dulu bangsa Indonesia yang sedang dijajah. Pikiran ini dijajah oleh kelobhaan, kebencian, keserakahan, iri-hati, mudah tersinggung, mudah sakit hati, mudah tidak puas, mudah goyah; itu namanya batin dijajah, dikuasai oleh dualisme. Kalau senang, kita berjingkrak-jingkrak. Kalau rugi/susah, kita gantung diri. Kalau pacaran kita merasa bahagia, kalau ditinggal pacar, minum "Baygon"………!

Akhirnya kalau terus makan obat Dharma ini, akhirnya batin akan mencapai tingkat kesembuhan yang keenam, yang disebut: SANTI, yakni Damai. Pikiran yang damai itu luar biasa bahagianya. Setelah itu, baru kemudian mencapai tingkat kesembuhan yang ketujuh atau tarakhir, dinamakan mencapai NIBBANA. Luar biasa!

Saya kira untuk mencapai Nibbida atau kesembuhan tingkat kedua saja saudara belum, bahkan kesembuhan yang kepertama saja itu mungkin masih harus berjuang dengan ulet sekali. Jadi sekarang kualitas mental kita ini masih lemah sekali. Lemah bagaikan bayi yang masih kecil. Kalau tidak dirawat, "bayi" kualitas diri ini akan hancur, mati. Maka oleh karena itu kualitas diri yang masih bayi ini harus dirawat betul. Siapakah yang harus merawat bayi ini? Bayi dirawat oleh ibu dan ayah. Ibu dari bayi kualitas diri ini adalah kesadaran (sati). Sedangkan sang ayah adalah kewaspadaan (sampajanna). Jadi kualitas diri ini harus dirawat oleh kesadaran dari kewaspadaan. Bagaimana caranya? Bayi ini harus diberi makanan yang sehat, berupa ajaran-ajaran Dharma. Ajaran Dharma adalah luas sekali! Bukan hanya sembahyang saja, bukan hanya upacara saja, bukan! Santapan Dharma artinya mengubah pandangan keliru, dari takhayul menjadi mempunyai pandangan yang benar tentang Dharma, tentang hakekat hidup dan kehidupan ini. Mengapa kita hidup? Dari mana asalnya kita hidup? Dan sesudahnya hidup, kemana kita mesti menuju? Kemana cita-cita kita? Itu harus kita ketahui. Jadi kalau hidup ini berasal dari tenaga karma, maka asal mula tenaga karma inilah yang harus kita garap, harus kita eliminir racun-racunnya. Apa racunnya, apa generatornya? Generator dari Karmic Energy ini adalah keakuan, kemelekatan, dan ketidaktahuan.

Dan kemudian jangan lupa bahwa kita beruntung sekali bisa hidup/lahir sebagai manusia, karena dengan modal kemanusiaan ini kita mendapat fasilitas belajar untuk mencapai Nibbana. Semuanya sangat cukup di dunia ini, karena di dunia ada baik, ada buruk, dan ada yang netral. Sedangkan di neraka loka, hanya ada penderitaan saja, sehingga tidak mungkin belajar. Di sorga loka, juga tidak mungkin belajar karena di sana hanya bersenang-senang saja kondisinya. Mungkin saja bisa lupa dengan Kesunyataan atau Kebenaran Tertinggi. Tapi di dunia ini memang fasilitas untuk belajar Dharma itu cukup luas dan lengkap. Maka dikatakan bahwa para Buddha lahir ke dunia sebagai manusia, dan dengan kemanusiaannya ini mereka berjuang untuk mencapai keadaan yang lebih sempurna, dan menjadi manusia sempurna.

Itulah manfaat Dharma bagi kita. Manusia bukanlah hewan. Kalau hewan tidak punya kesadaran dan akal sehat, tidak punya kemauan baik dan tidak punya usaha yang begitu mantap seperti manusia. Jadi, menjadi manusia itu beruntung, dan keuntungan ini untuk belajar Dharma. Dan, hidup ini singkat sekali; kalau kita meninggal, maka Dharma akan menjadi petunjuk jalan, pelindung, penyelamat, penuntun, dan pembimbing kepada orang yang telah meninggal itu. Itulah pentingnya Dharma. Jadi kalau kita mati, Dharma yang akan dibawa, batin yang akan dibawa, bukan materi. Materi akan ditinggalkan.

Sehubungan dengan pembangunan bangsa, sebagai umat beragama sekaligus sebagai rakyat Indonesia kita harus melaksanakan Dharma, yaitu ajaran-ajaran dan aturan-aturan yang diberikan oleh Sang Buddha dengan penuh disiplin; begitu pula disiplin mematuhi, mempelajari seluk-beluk pembangunan dan aturan/perundang-undangan, serta hukum yang berlaku sah. Kalau kita sudah berdisplin, kita masih harus menyongkong perjuangan ini dengan mengadakan kontrol. Kontrol ini ada 3 macam, yaitu Inner-kontrol, Sosial-kontrol, dan Formal-kontrol.

Inner-kontrol yaitu kontrol dari dalam. Kita sudah sadar, sudah waspada, tetapi masih harus dikontrol, jangan sampai lalai. Inner-kontrol ini ada beberapa macam: pertama, kita yakin akan Hukum Karma, hukum sebab-akibat. Bahwa setiap karma atau perbuatan, tidak terlepas dari Hukum Sebab-akibat, yang nantinya akan memberikan buah atau akibat kepada semua perbuatan baik dan buruk. Kita tidak bisa bersembunyi darinya, tidak di dalam goa, di bawah laut, atau lari ke luar planet. Kemudian yang kedua, malu berbuat salah, bertobat berbuat salah, menyesal berbuat salah; dan takut akan akibat dari kesalahan yang kita lakukan.

Sosial-kontrol, yaitu memasyarakatkan Dharma kepada khalayak ramai, supaya mereka tahu mana benar-salah, baik-buruk, berguna-tidak berguna, bermanfaat-tidak bermanfaat. Jangan sampai kita menjadi padi, tetapi padi kosong; telur, tetapi telur busuk; sumur, tetapi sumur yang kering-kerontang; manusia, tetapi manusia yang tidak berguna. Jadi kita harus menjadi manusia yang berguna. Maka oleh karena itu, sosial kontrol ini memasyarakatkan Dharma, sehingga semua tahu Dharma. Jadi semuanya cenderung untuk taat kepada ajaran dan aturan.

Formal-kontrol, ini tentu tugas dan kewajiban para pejabat, para penguasa, penegak peradilan, penegak hukum, dan penegak-penegak yang lainnya. Mereka itu adalah formal kontrol. Mereka itu harus seperti pohon pengayom yang tinggi, tegak lurus, dan rindang daunnya, sehingga mampu menjadi pengayom. Jadi rakyat bisa berteduh di bawah pohon yang rindang ini, pohon yang berbuah lebat, bunganya harum semerbak. Rakyat yang berteduh di bawahnya dari terik matahari akan merasa sejuk dan nyaman. Dan mereka, karena pohon ini lebih tinggi, tak bisa memanjat dan menghabiskan buah, bunga, atau daun-daunnya. Tetapi kalau pohonnya condong 25 derajat, maka anak-anak nakal akan naik, buahnya dibikin habis. Kalau yang masak-masak sudah habis, maka yang muda-muda dijadikan rujak. Kemudian kambing-kambing rakus juga naik, dihabiskan daun dari yang muda-muda dulu, kemudian yang tua-tua juga habis. Lalu pohon itu tidak sanggup lagi menjadi pengayom atau peneduh.

Berbicara tentang pembangunan kualitas diri dan kualitas manusia ini, saya rasa semua lapisan —dari atas, menengah, sampai ke bawah—, yang pejabat, yang rohaniwan, yang rakyat, semuanya harus serentak membangun kualitas moral etik, kualitas kemanusiaan ini secara sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian barulah kita dapat berharap bangsa Indonesia akan menjadi satu bangsa yang berhasil sukses melakukan pembangunan di segala bidang.***


Sumber:

Mutiara Dhamma V, Ir. Lindawati T. (Editor), pt. Indografika Utama, Denpasar-Bali, 1993

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar