Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Namo Tassa

Namo Tassa

oleh: Bhikkhu Khantipalo

Sumber Asli: Voice Of Buddhism Vol.10; September-December 1973


Sangat sering terjadi bahwa hal-hal yang biasa dan sudah sangat dikenal malah terlewatkan, bila kita mencari pengetahuan baru. Demikian juga halnya dengan Dhamma. Arti mendasar dari ungkapan yang telah sering diucapkan seringkali menjadi rancu dan tenggelam karena ritualisme. Atau kalau tidak demikian, pencaharian pengetahuan tentang Agama Buddha semata-mata dilakukan sebagai latihan intelektual, sedangkan ajaran mendasar yang mampu memurnikan hati dilewatkan begitu saja.

Dalam artikel yang pendek ini, kita akan mengamati salah satu praktik Buddhis saja. Setiap hari, di seluruh dunia, segala bangsa yang menjadi umat Buddha menyatakan:

"Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa".

Mereka mengucapkannya sebagai penghormatan pada Guru Agung. Praktik ini sudah biasa dan telah ada semenjak zaman Sang Buddha. Bahkan para Brahmana yang tinggi hati pun merasa rendah karena kebajikan-kebajikan Yang Telah Tercerahkan. Setelah menanyakan arah di mana Sang Buddha berdiam, mereka berlutut dan bersujud di tanah, dengan tangan terkatup sebagai tanda penghormatan. Mereka mengucapkan:

"Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa".

Akan tetapi, sekarang ini banyak orang yang dengan ringan melakukan hal ini tanpa bakti; bahkan tanpa menyadari apa yang mereka lakukan. Meskipun mereka menguncarkan kata-kata itu dengan bakti yang dalam, sedikit sekali pengertian yang mereka miliki. Ada beberapa orang yang tidak mau melakukan hal ini karena mereka menganggapnya sebagai satu ritual yang hanya sesuai bagi orang yang buta huruf. Semua yang demikian itu bukanlah umat Buddha yang baik.

Kelompok pertama yang termasuk di situ adalah orang-orang yang menjadi Buddhis karena tradisi atau kebudayaan. Agama mereka hanya bersifat kebetulan, bersifat ritual dan tidak membawa mereka pada pengertian yang lebih dalam. Dapat dikatakan bahwa orang-orang ini hanya bertahan pada ornamen Buddhis, bukan pada inti-sarinya, yaitu Dhamma. Pikiran mereka kacau dan hati mereka tertutup oleh berbagai macam kekotoran batin.

Kelompok kedua sangat berbeda. Bila mereka melihat gambar atau patung Sang Buddha, satu keyakinan yang besar tumbuh dalam diri mereka dan mereka kemudian berkeinginan menghormat Sang Ti-Ratana. Dengan penuh bakti mereka menghormat Sang Guru Agung dengan:

"Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa".

Mengapa dikatakan bahwa orang-orang seperti ini belum benar-benar umat Buddha yang baik? Karena selain perasaan keyakinan yang mendalam, seorang Buddhis juga harus mengembangkan pengertian. Tanpa pengertian yang benar, keyakinannya mungkin akan menuju pada arah yang salah sehingga dia dapat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan jiwa Dhamma karena kebodohannya. Jadi Buddhis kelompok kedua ini, meskipun sudah lebih baik daripada yang pertama, tidak dapat dikatakan memenuhi persyaratan Buddhis yang baik.

Yang ketiga hanyalah mencari pelajaran akademis semata. Bagi mereka, Dhamma adalah suatu filsafat yang mengagumkan, suatu permainan mental, suatu latihan dalam abstraksi. Mereka tidak mau melatih diri dalam Dhamma, karena mereka tidak mampu menahan nafsu, dan tidak mau berusaha. Dengan peta yang luar biasa di genggaman, mereka mungkin tidak pemah berpikir untuk berjalan pada jalan ke kebahagiaan tersebut —Jalan Dhamma.

Seorang Buddhis yang baik adalah orang yang mengerti, berlatih dan penuh bakti. Hal itu dapat dijabarkan sebagai berikut:

PENGERTIAN

á â

PRAKTIK ß BHAKTI

Orang-orang ini, umat Buddha sejati, mengetahui bahwa ada makna dan manfaat dalam praktik-praktik yang sederhana dan sudah dikenal, seperti yang kita bicarakan ini.

Kini, setelah penjelasan di atas, marilah kita melihat kata 'Namo tassa...'. 'Namo' dapat diterjemahkan sebagai 'penghormatan'. Seseorang yang mengucapkan "Namo Tassa..." dengan benar, melakukannya dengan pengakuan bahwa ia hanya mempunyai sedikit pengetahuan, sedangkan Sang Buddha Yang Agung adalah benar-benar Yang Telah Tercerahkan. Orang seperti ini bersifat rendah hati dan mengetahui keterbatasannya. Ia mengakui bahwa ia membutuhkan bimbingan dari Sang Buddha sebagai penunjuk jalan yang sempuma pengalaman-Nya, dan ia bersedia menyingkirkan kesombongan. 'Namo' berarti melepaskan kecenderungan diri dan nafsu diri, serta melatih diri dalam jalan Buddha, Dhamma dan Sangha.

'Tassa Bhagavato' —'pada Yang Agung'. Ini menunjukkan pada siapa kita memberikan 'Namo' itu: yaitu pada orang yang kita sebut 'Lord', 'Yang Agung', 'Yang Terberkahi', atau tepatnya 'Yang Sempurna Dalam Berkah'. Bagi umat Buddha, Sang Buddha adalah 'Bhagavato' terutama karena sifat Beliau yang dipenuhi Welas Asih yang Luar Biasa. Selama 45 tahun Sang Buddha berkelana mengajarkan Dhamma diperuntukkan bagi siapa saja tanpa pilih kasih, karena Beliau memahami bahwa semua orang menderita walaupun dalam hal yang berbeda-beda, dan semua orang memerlukan berbagai aspek Dhamma. Obat Dhamma yang beliau berikan selalu sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Demikianlah Welas Asih Sang Buddha yang tanpa henti dan tiada bandingnya.

'Arahato' —'pada Yang Tertinggi'. Nilai seseorang diukur dari kemurnian hatinya. Kualitas seseorang bertambah sementara dia mempraktikkan Dhamma. Maka para Arahat memiliki kualitas tertinggi karena mereka telah memurnikan diri dari segala macam kekotoran batin. Arahat telah terbebas dari ketamakan, kebencian dan salah pandangan; hati mereka jernih dan murni. Itulah sebabnya Sang Buddha yang Agung dikatakan telah memiliki Kemurnian Agung.

'Sammasambuddhasa' —Telah Tercerahkan secara sempurna oleh diri sendiri'. Pencerahan itu bukan cuma pencerahan sebagian, bukan pencerahan yang belum mengungkapkan beberapa bagian Dhamma, melainkan pengalaman dari Kebenaran yang lengkap dan tertinggi yaitu Nibbana. Tidak ada seorang pun yang membantu Beliau untuk mencapai penemuan yang besar ini, yaitu Pencerahan Sempurna. Sang Buddha meninggalkan cara yang dilakukan oleh guru-guru tradisi Hindu sebelumnya, dan dengan usaha sendiri menemukan Jalan Tengah yang langsung menuju pada Pencerahan. Pencerahan Sempurna Beliau bukanlah berkat dari dewa, tetapi dicapai dengan usaha sendiri. Beliau menunjukkan apa yang dapat dicapai oleh seorang manusia yang berusaha sendiri dengan benar, dan di situlah letak kebesaran-Nya. Sang Buddha disebut sebagai pemilik Kebijaksanaan Agung.

Kita mengucapkan 'Namo' tiga kali, untuk memantapkan sati (perhatian/kewaspadaan) kita pada apa yang sedang kita lakukan atau untuk menghormati, pertama: Buddha yang lalu (Dipankara), kedua: Buddha yang akan datang (Ariya Metteyya) dan yang terakhir: Buddha yang sekarang (Gotama). Bila Anda mengatakan:

"Namo tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa".

lakukanlah dengan kebijaksanaan dan bakti karena hanya dengan begitu kata-kata Anda ada maknanya.***

Sumber:

PENGABDIAN TIADA HENTI, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia, Penerbit Buddhis Bodhi, 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar