Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Bayang-bayang Kamma Lampau

Bayang-bayang Kamma Lampau

oleh Somdet Phra Ñâóasaævara
diterjemahkan oleh Dhammadhîro

Banyak orang yang masih mempercayai adanya figur penguasa. Dia dianggap sebagai makhluk yang berwenang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang melanggar larangannya, melimpahkan rezeki kepada mereka yang menuruti perintahnya, menciptakan marabahaya, dan sebagainya. Jalinan hubungan vertikal antara umat manusia dengan figur penguasa ini didasarkan pada perasaan takut dan bakti. Perasaan takut dan bakti kepadanyalah yang membuat orang menghindari kejahatan, dan melaksanakan kebajikan. Apabila pengaruh kepercayaan ini memudar, perasaan takut dan bakti umat manusia semakin menipis, maka kejahatan terus berkembang dan sebaliknya kebajikan menjadi merosot. Jadi, ajaran semacam ini hanya mampu memberikan hasil apabila umat manusia mau mempertebal perasaan takut dan perasaan bakti kepada figur penguasa.

Bertolak-belakang dengan kepercayaan di atas, Agama Buddha tidak pernah mempergunakan cara menakut-nakuti untuk menyelamatkan umatnya dari kejahatan. Tidak ada pula iming-iming atau bujukan untuk melakukan kebajikan. Sang Buddha senantiasa memberikan penekanan pada ajaran yang didasarkan pada keyakinan (saddha) dan kebijaksanaan (panna). Semua makhluk memiliki serta mewarisi kammanya masing-masing. Penderitaan atau kebahagiaan yang dialami adalah akibat kammanya masing-masing. Tidak dikenal adanya penguasa yang menjatuhkan hukuman atau melimpahkan pahala. Umat Buddha menghindari kejahatan bukanlah karena takut kepada siapa pun, dan melakukan kebajikan bukanlah untuk mengambil hati siapa pun. Suatu kejahatan dihindari karena pengertian bahwa ini secara alamiah mengakibatkan penderitaan, dan sebaliknya suatu kebajikan dikembangkan karena pengertian bahwa ini membuahkan kebahagiaan bagi diri pelakunya maupun orang lain. Jadi, pengertian terhadap hukum kamma-lah yang menjadi dasar bagi umat Buddha untuk menghindari kejahatan, dan melakukan kebajikan.

Naasnya, ada tidak sedikit orang yang memandang hukum kamma dari sisi yang kurang tepat. Mereka takut terhadap kamma, perasaan takut yang sama seperti yang dialaminya terhadap figur penguasa tersebut. Pada waktu memikirkan kamma, yang terbayang dalam benaknya adalah sesuatu yang menakutkan, menyeramkan --bagai algojo yang siap menjatuhkan hukuman. Kamma dipandang dari sisi yang negatif. Akan tetapi, bila seseorang memperoleh kebaikan dan kebahagiaan, ini dianggap sebagai suatu karuniah semata. Dalam pengertian orang umum, kamma tidak berpautan dengan hal-hal yang baik. Selain itu, orang tidak mengindahkan kamma atas tingkah lakunya pada saat sekarang, sebab kamma dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang diperbuat. Kamma menjadi suatu masa lampau yang menakutkan, yang takdapat dihindari dan tak diketahui kapan datangnya. Patut disayangkan bahwa banyak orang mempunyai pandangan salah seperti ini.

Sesungguhnya, Agama Buddha tidak pernah mengajar manusia untuk memahami kamma dalam pengertian yang salah semacam itu; tidak pernah mengajar orang untuk takut kepada kamma; sebagai budak kamma, atau berada di bawah kekuasaan kamma. Agama Buddha mengajarkan hukum kamma justru agar orang mampu berkuasa di atas kamma, agar dapat mengendalikan kammanya sendiri pada saat sekarang. Kamma adalah segala perbuatan yang sedang dilakukan orang tiap-tiap hari; tiap-tiap saat, yang dilandasi cetana atau kehendak. Apapun yang dilakukan, dikatakan atau dipikirkan seseorang, senantiasa terdapat hasrat atau kehendak hati yang mengawalinya. Dalam kehidupan sehari-hari, segala tindakan, ucapan dan pikiran yang diperbuat seseorang terjadi sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ini berarti banyak jenis kamma yang dilakukannya. Agama Buddha mengajarkan hukum kamma dengan tujuan-utama agar orang mengetahui serta merenungkan kamma pada saat sekarang; agar bisa membedakan apa yang baik dan jahat, apa yang pantas dan takpantas. Dengan begitu, ia dapat menghindari kamma buruk yang takpatut dilakukan, dan sebaliknya melaksanakan kamma baik yang patut diperbuatnya. Kejahatan itu dapat dihindari, dan kebajikan itu dapat dilakukan. Jika tidak, Sang Buddha tentu tidak akan menganjurkannya. Kejahatan akan mengakibatkan penderitaan, sebaliknya kebajikan membuahkan kebahagiaan. Perlu dipahami bahwa manusia mampu menguasai kammanya, mengendalikan segala perbuatan yang dilakukannya --melalui tindakan, ucapan maupun pikiran. Untuk dapat berkuasa di atas kammanya, seseorang harus senantiasa berada pada jalan Dhamma, berpegang teguh pada Dhamma, dan berpraktek selaras dengan Dhamma. Dengan begitu, kamma tidak lagi merupakan masa lampau yang menakutkan, melainkan perbuatan pada masa sekarang yang dapat digubah sedemikian rupa demi pencapaian Kebahagiaan Sejati dan Pembebasan Mutlak di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar