Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Jalan Ke Nibbana

Jalan Ke Nibbana

oleh: Ven. Nârada Mahâthera

Sumber Asli: Karya Tulis Ven.Nârada Mahâthera berjudul BUDDHISM IN A NUTSHELL

Bagaimana caranya untuk mencapai Nibbana? Dengan melaksanakan Delapan Faktor Jalan Utama, yaitu: Pengertian benar (Sammâ-ditthi), Pikiran benar (Sammâ-sankappa), Ucapan benar (Sammâ-vâcâ), Perbuatan benar (Sammâ-kammantâ), Penghidupan benar (Sammâ-âjiva), Usaha benar (Sammâ-vâyâma), Perhatian benar (Sammâ-sati), Konsentrasi benar (Sammâ-samâdhi).

Pengertian benar yang merupakan kunci utama agama Buddha, mencakup pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia. Mengerti dengan benar berarti memahami segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana nampaknya. Pada pokoknya ini menyatakan pengertian benar terhadap diri sendiri, karena seperti tertulis di dalam Rohitassa Sutta: "Empat Kebenaran Mulia tergantung pada tubuh ini yang panjangnya dua depa beserta kesadarannya". Dalam melaksanakan Delapan Faktor Jalan Utama, Pengertian Benar berada pada permulaan serta pada akhirnya. Tingkat minimal Pengertian Benar amat diperlukan pada permulaan karena hal itu memberi motivasi serta arah yang benar kepada tujuh faktor Jalan Utama lainnya. Pada tingkat akhir pelaksanaan pengertian benar masak menjadi kebijaksanaan pandangan terang sempurna (vipassanapañña), yang langsung membawa kepada tingkat-tingkat kesucian.

Pengertian benar mengakibatkan pemikiran benar. Karena itu, faktor kedua dari jalan utama ini (Sammâ-sankappa), mempunyai dua tujuan: Melenyapkan pikiran-pikiran jahat dan mengembangkan pikiran-pikiran baik. Dalam hubungan ini, pikiran benar terdiri dari tiga bagian, yaitu:

a. Nekkhamma; melepaskan diri dari kesenangan dunia dan sifat mementingkan diri sendiri yang berlawanan dengan kemelekatan, sifat mau menang sendiri.
b. Abyâpada; cinta kasih, itikad baik, atau kelemah-lembutan yang berlawanan dengan kebencian, itikad jahat, atau kemarahan.
c. Avihimsa; tidak kejam atau kasih sayang, yang berlawanan dengan kekejaman atau kebengisan.

Pikiran benar menimbulkan ucapan benar, faktor ketiga. Ucapan benar mencakup perbuatan untuk menahan diri dari berbohong, memfitnah, berkata kasar dan bicara yang tidak berguna.

Ucapan benar harus diikuti dengan perbuatan benar, yang meliputi perbuatan menahan diri dari pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pencurian dan perbuatan-perbuatan kelamin yang salah.

Dengan membersihkan pikiran, ucapan dan perbuatan pada tingkat awal, musafir spiritual berusaha memperbaiki penghidupannya dengan cara menahan diri dari lima macam perdagangan yang terlarang bagi seorang umat Buddha, yaitu: Memperdagangkan senjata, manusia, binatang-binatang untuk dibunuh, minuman keras, obat bius dan racun.

Bagi para Bhikkhu, penghidupan salah meliputi perbuatan-perbuatan munafik dan cara-cara yang tidak dibenarkan untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup seorang Bhikkhu.

Usaha benar, terdiri atas empat macam kegiatan yaitu: Usaha melenyapkan kejahatan yang telah timbul, usaha mencegah timbulnya kejahatan yang belum timbul, usaha membangkitkan kebajikan yang belum timbul dan usaha mengembangkan kebajikan yang telah timbul.

Perhatian benar, adalah kesadaran yang terus menerus terhadap jasmani, perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, serta obyek-obyek batin.

Usaha benar dan perhatian benar menimbulkan konsentrasi benar, yaitu manunggalnya pikiran pada satu obyek yang luhur, yang memuncak dalam Jhana.

Dari kedelapan faktor Jalan Utama ini, dua yang pertama dikelompokkan ke dalam bagian kebijaksanaan (pañña), tiga yang selanjutnya ke dalam bagian moral (sîla), dan tiga yang terakhir ke dalam bagian konsentrasi (samâdhi). Tetapi menurut urutan perkembangannya, rangkaian itu adalah sebagai berikut: Sîla, Samâdhi dan Pañña.

Moral (sîla) merupakan tingkatan pertama pada jalan yang menuju ke Nibbana ini. Dengan tidak membunuh atau melukai makhluk-makhluk hidup apapun, orang akan memiliki rasa belas kasihan dan cinta kasih terhadap semua makhluk, kepada makhluk yang paling kecil sekalipun yang merayap di bawah kakinya. Dengan menahan diri dari mencuri, ia akan berlaku jujur dalam semua usahanya. Dengan menahan diri dari persetubuhan yang tidak benar yang akan merendahkan derajat manusia, ia akan berlaku saleh. Dengan menahan diri dari ucapan salah, ia akan berbicara benar. Dengan menghindari minuman keras yang mengakibatkan kelalaian, ia akan waspada dan rajin.

Azas-azas dasar kelakuan bermoral ini amat penting bagi seseorang yang melangkahkan kakinya menuju ke Nibbana. Melanggar hal-hal tersebut di atas berarti menciptakan rintangan pada kemajuan batinnya sendiri. Pelaksanaan hal-hal tersebut berarti kemajuan yang mantap dan lancar sepanjang jalan itu.

Dengan mendisiplinkan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya seorang musafir spiritual akan maju lebih jauh.

Sewaktu ia maju dengan lambat tapi mantap dengan mendisiplinkan segala ucapan dan tingkah lakunya, serta mengendalikan indria-indrianya, kekuatan kamma dari siswa yang sedang berjuang ini mungkin akan mendorongnya untuk melepaskan kesenangan-kesenangan duniawi dan menempuh kehidupan sebagai bhikkhu. Kemudian dalam dirinya muncul pengertian bahwa:

"Kehidupan rumah tangga merupakan medan perjuangan. Penuh dengan kerja keras dan kebutuhan; Tetapi menjalani kehidupan tanpa berumah tangga adalah bebas seperti udara terbuka".

Namun demikian jangan salah tafsir bahwa setiap orang harus menjadi bhikkhu atau hidup membujang untuk mencapai tujuan akhir. Kemajuan-spiritual seseorang dipercepat dengan menjadi bhikkhu, walaupun sebagai umat awam ia dapat juga mencapi tingkat Arahat. Setelah mencapai tingkat kesucian ketiga, yaitu Anagami, seseorang menempuh hidup membujang. Setelah memperoleh pijakan teguh di atas fondasi moralitas, kemudian musafir spiritual yang telah memperoleh kemajuan tersebut mulai pelaksanaan yang lebih tinggi, yaitu pengendalian dan pengembangan batin (Samâdhi), tingkat kedua pada jalan ini.

Samâdhi adalah pemusatan pikiran pada satu obyek dengan mengesampingkan semua persoalan yang tidak perlu.

Terdapat berbagai macam obyek meditasi sesuai dengan watak masing-masing individu. Pemusatan pikiran pada pernafasan merupakan cara termudah untuk mencapai Samâdhi. Meditasi pada cinta kasih amat berguna karena hal itu mengakibatkan kedamaian dan kebahagiaan batin.

Pengembangan empat keadaan batin luhur: cinta kasih (Mettâ), belas kasihan (Karunâ), kegembiraan bersimpati (Muditâ), dan keseimbangan batin (Upekkhâ) amat dipuji oleh para bijaksana.

Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati obyek-obyek meditasi, ia harus memilih salah satu obyek yang paling cocok dengan wataknya. Setelah dapat memutuskan obyek yang akan dipilih, ia melakukan usaha terus menerus untuk memusatkan pikirannya sampai ia benar-benar tenggelam dan masuk ke dalamnya, sehingga semua bentuk pikiran lainnya tidak dapat menerobos ke dalam batinnya. Lima rintangan bagi kemajuan batin adalah: Keinginan indria, kebencian, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan, kekhawatiran, dan keragu-raguan.

Akhirnya ia mencapai pemusatan pikiran dan dengan kegembiraan yang tak dapat diterangkan, ia terserap dalam Jhâna, menikmati ketenangan dan kedamaian penunggalan pikiran.

Bilamana seseorang telah mencapai keadaan penunggalan pikiran ini, adalah mungkin baginya untuk mengembangkan lima kemampuan batin luar biasa (abhinna), yaitu: mata-dewa (Dibbacakkhu), telinga-dewa (Dibbasota), ingatan akan kelahiran-kelahiran lampau (Pubbenivâsânussati-nana), membaca-pikiran (Paracitta vijananâ), dan berbagai macam kemampuan-kemampuan batin lainnya (Iddhividha). Namun harus diingat bahwa kekuatan-kekuatan batin luar biasa ini tidak mutlak bagi pencapaian tingkat kesucian.

Walaupun sekarang pikiran telah bersih, tetapi masih ada kecendrungan-kecendrungan yang terpendam dalam batin. Karena dengan Samâdhi nafsu-nafsu hanya tertidur untuk sementara. Kekotoran-kekotoran batin itu dapat muncul pada saat-saat yang tak terduga.

Baik Sîla maupun Samâdhi amat berguna untuk membersihkan jalan dari rintangan-rintangan, tetapi hanya pandangan terang sajalah yang memungkinkan seseorang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya untuk akhirnya mencapai tujuan akhir dengan penghancuran nafsu-nafsu oleh Samâdhi. Inilah tingkat ketiga dan terakhir dari Sang Jalan yang menuju ke Nibbana.

Dengan batin yang telah terpusat, yang sekarang menyerupai sebuah kaca yang telah digosok, ia melihat ke dunia untuk mendapatkan pandangan benar tentang hidup. Ke manapun ia mengalihkan pandangannya, ia tidak melihat apapun selain Tiga Corak Umum kehidupan, yaitu: Anicca (ketidak-kekalan), Dukkha (penderitaan), dan Anattâ (tanpa pribadi kekal), yang merupakan gambar timbul yang tegas. Ia memahami bahwa kehidupan selalu berubah dan semua yang bersyarat itu tidak kekal adanya. Baik di surga ataupun di dunia ia tidak akan mendapatkan kebahagiaan sejati, karena setiap bentuk kesenangan hanyalah merupakan pendahulu bagi penderitaan. Karena itu, apa yang tidak kekal adalah tidak memuaskan dan di mana terdapat perubahan dan kesedihan, di sana tidak dapat ditemui adanya sesuatu yang kekal abadi.

Kemudian, di antara ketiga corak umum ini, ia memilih salah satu yang paling menarik baginya dan dengan tekun terus mengembangkan Pandangan Terang dalam jurusan yang telah dipilihnya, sampai saat-saat yang membahagiakan tiba kepadanya ketika ia dapat memahami Nibbana untuk pertama kali dalam hidupnya, setelah menghancurkan tiga belenggu: Pandangan salah tentang aku (Sakkâya ditthi), keragu-raguan (Vicikicchâ), serta kepercayaan bahwa upacara dan doa dapat membebaskan manusia dari penderitaan (Silabbata-paramasâ).

Pada tingkat ini ia disebut seorang Sotâpanna (Pemenang-arus), seorang yang telah memasuki arus yang akan membawanya ke Nibbana. Karena ia masih belum menghancurkan semua belenggu, maka paling banyak ia hanya akan dilahirkan kembali tujuh kali. Dengan mengumpulkan semangat baru sebagai akibat pandangan sekilas terhadap Nibbana, ia memperoleh kemajuan pesat dan mengembangkan Pandangan Terang yang lebih dalam sehingga mencapai tingkat kesucian kedua, Sakâdâgâmi (hanya kembali sekali) dengan melemahkan dua belenggu lagi, yaitu: keinginan indria (kâma-râga) dan itikad jahat (patigha). Ia disebut Sakâdâgâmi karena ia hanya akan dilahirkan sekali lagi seandainya ia masih belum mencapai tingkat kesucian terakhir, Arahat.

Pada tingkat kesucian tertinggi inilah, Anâgâmi (tak pernah kembali), ia dapat menghancurkan dua belenggu yang telah disebutkan di atas. Setelah itu, ia tidak akan kembali ke dunia ini atau ke alam dewa, karena ia tidak memiliki kesenangan-kesenangan indria lagi. Setelah meninggal dunia, ia terlahir kembali dalam "Alam Murni" (Suddhavasa), suatu alam brahma yang menyenangkan.

Sekarang dengan dorongan keberhasilan usahanya yang belum pernah terjadi sebelumnya, maka ia mengusahakan kemajuannya yang paling akhir dan menghancurkan seluruh sisa belenggu batin, yaitu: keinginan akan kelahiran kembali dalam alam-alam bentuk (rupa-râga) dan alam-alam tak berbentuk (arupa-râga), kesombongan (mâna), kegelisahan (uddhacca) kebodohan (avijjâ) dan menjadi seorang suci yang sempurna —Arahat.

Dengan segera ia menyadari bahwa apa yang harus dikerjakan telah dikerjakan, beban berat penderitaan telah diletakkan, semua bentuk kemelekatan telah dihancurkan, dan jalan ke Nibbâna telah ditempuh. Beliau Yang Mulia sekarang berdiri di atas ketinggian yang melebihi surga kediaman para dewa, jauh dari gejolak-gejolak nafsu dan kekotoran dunia, menikmati kebahagiaan Nibbâna yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.***


Sumber:

INTISARI AGAMA BUDDHA; Nârada Mahâthera; Sangha Theravada Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar