Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Khotbah Dhamma 5 Februari 1989 Di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya

Khotbah Dhamma 5 Februari 1989 Di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya

oleh: Bhikkhu Jotidhammo

disadur oleh: Nani Linda, SH

Sudahkah anda mencoba melaksanakan atau memenuhi ajaran-ajaran agama yang anda anut, di dalam kehidupan beragama? Pernahkah anda merasa jemu, bosan dalam kehidupan beragama? Coba anda renungkan!

Sebagai umat Buddha yang baik, setiap hari Minggu anda datang ke vihara, mengikuti kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma; ini merupakan perwujudan dari kehidupan beragama. Namun bila anda ke vihara, mengikuti kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma, lalu hanya direnung-renung; O... masuk akal, benar, 'cengli'. Cukup hanya sampai di situ, selesai begitu saja; maka pasti yang anda dapatkan hanya kejemuan. Dan ini sering terjadi di dalam kehidupan beragama kita. Ini terjadi karena kita menerima agama hanya kebenaran (teori)nya saja, di sini kita baru sampai pada taraf pengertian. Kalau kita beragama hanya demikian, apalagi pengkhotbahnya selalu memberikan materi yang itu-itu saja, maka kejemuan akan timbul di dalam diri kita.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan agar kejemuan itu tidak timbul? Dalam kehidupan beragama hendaknya kita tidak berhenti sampai pada taraf pengertian saja, menerima kebenarannya hanya berdasarkan nalar, tetapi cobalah kita terapkan ajaran itu di dalam kehidupan sehari-hari. Ini disebut taraf penerapan. Sudah cukupkah sampai di situ? Tidak cukup! Pernah ada seorang umat yang menyatakan bahwa dia sudah menerapkan ajaran agama Buddha dalam kehidupan sehari-harinya; seperti berdana, melatih sila, dan bermeditasi. Tetapi kejemuan masih timbul di dalam dirinya. Mengapa kejemuan itu masih ada? Mengapa?

Penerapan memang tidak cukup, karena masih ada kekurangan bila kita berhenti pada taraf ini, yaitu kita tidak berusaha mengambil, memetik hikmahnya pengalaman dari penerapan tersebut. Hal ini sering dilupakan orang, padahal sangat penting. Apabila orang tidak bisa mengenali pengalaman-pengalaman dalam hidup beragamanya sendiri, pasti orang tersebut akan berpendapat bahwa agama sama sekali tidak bermanfaat bagi perkembangan dirinya.

Misalnya dalam melaksanakan Dana, Sila, dan Samadhi. Cobalah ambil pengalaman-pengalaman dari melaksanakan tiga hal tersebut. Seringkali orang berdana hanya karena ikut-ikutan saja, supaya tidak dikatakan pelit atau solider dengan teman. Atau bersamadhi, duduk bermeditasi sewaktu ikut kebaktian di vihara dan 'Meditasi selesai' ucap pemimpin kebaktian, ya... selesai, sudah beres. Lalu apa gunanya, apa manfaatnya semua hal itu? Apa?

Setiap orang beragama pasti mempunyai pengalaman-pengalaman dalam hidup beragamanya walaupun kecil, pasti ada. Pengalaman hidup beragama ini tidak diperoleh dengan berbincang-bincang, beradu pendapat tentang teori Dhamma, atau membaca buku-buku Dhamma. Tidak bisa! Semua itu semata-mata hanya menimbulkan pengertian, melulu pengertian. Mengerti ajaran Dhamma. Makin banyak membaca buku Dhamma, makin mengerti. Makin banyak pengetahuan Dhamma yang diperoleh, makin berpengetahuan Dhamma. Jadi makin berilmu agama Buddha.

Anda ingin hidup beragama Buddha atau berilmu agama Buddha? Kalau hanya ingin memiliki ilmu agama Buddha, anda cukup mempelajarinya, banyak-banyaklah membaca buku dan berdiskusi tentang agama Buddha, sekolah sampai di perguruan tinggi dalam bidang agama Buddha. Itu orang berilmu agama atau ahli agama Buddha. Dalam hal ini sebenarnya orang itu tidak perlu beragama Buddha. Orang yang beragama lain pun bisa menjadi ahli agama Buddha. Pernah ada seorang dosen IAIN yang ahli dalam bidang agama Buddha tetapi dia sendiri beragama Islam dan mengimani agamanya sendiri. Ia beragama lain namun juga dapat belajar ilmu agama Buddha.

Bagi kita yang datang ke vihara, ikut kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma, merupakan salah satu perwujudan dari hidup beragama, bukan hanya ingin berilmu agama saja; walaupun ilmu agama itu juga penting dan perlu. Kalau orang beragama tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang agamanya, dapat dikatakan seperti orang yang hendak pergi tetapi tidak tahu jalannya.

Jika kita ingin hidup beragama, hidup di dalam keagamaan, menjadi umat Buddha yang mempunyai keyakinan terhadap agama Buddha, maka kita harus menambah kemantapan keyakinan dengan mencari tahu, melihat pengalaman-pengalaman kehidupan beragama kita. Andaikata anda tidak dapat melihat pengalaman-pengalaman kehidupan beragama, maka keyakinan anda pun masih diragukan. Karena dalam diri anda belum ada memantapan bahwa hidup beragama itu ada manfaatnya, ada gunanya, ada untungnya, bukan biasa-biasa saja, dan tidak ada kelebihannya. Dan kelebihan itu bisa anda peroleh dengan melihat pengalaman-pengalaman anda dalam kehidupan beragama.

Misalnya anda datang ke vihara dan berpendapat, ya... biasa saja, datang atau tidak datang juga sama saja, hanya membuang-buang waktu saja. Ini disebabkan karena anda tidak pernah memetik pengalaman-pengalaman kehidupan beragama anda, maka anda tidak pernah melihat kelebihannya. Dan anda layaknya seperti ikut-ikutan atau membuang-buang waktu atau membuang-buang uang recehan saja. Melihat dan memetik pengalaman itu memang tidak bisa sekaligus, harus sedikit demi sedikit.

Kalau anda mau melihat, memetik pengalaman-pengalaman tersebut tentu agama akan berpengaruh bagi anda. Coba perhatikan bagaimana agama dapat mendatangkan manfaat bagi kita, bagaimana agama ini membentuk kepribadian kita? Dari sanalah dapat dilihat bahwa agama bermanfaat, berguna bagi hidup kita. Lalu ada yang bertanya, apakah agama bisa membentuk kepribadian kita? Bisa! Dengan usaha dan kemauan. Seperti para Arahat murid Sang Buddha, mereka telah berhasil membentuk kepribadiannya sehingga mencapai tingkat kesucian batin yang tertinggi, padahal mereka juga manusia biasa. Kalau anda tidak mengenali hal tersebut, maka hidup anda akan tetap begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan sampai kapan pun.

Tapi jangan digambarkan beragama itu kalau sedang susah, sedang mengalami kesulitan, sedang dirundung kemalangan, dirundung duka nestapa lalu datang ke vibara. Ini adalah hal yang keliru yang sudah salah kaprah di dalam masyarakat umum. Pengalaman dan manfaat apa yang diperoleh kalau ke vihara hanya pada waktu susah saja.

Contoh yang paling mudah dan melihat dan memetik pengalamam itu misalnya, bersembahyang, pasang lilin, pasang hio atau dupa. Coba anda rasakan apa manfaatnya? Batin yang tenang, batin yang betul-betul berbakti, menghormat; itulah sebuah pengalaman. Apalagi setelah itu anda membaca paritta dengan khusuk, perhatikan dengan sungguh-sungguh kata demi kata, resapkan, renungkan, dan coba perhatikan apa yang anda peroleh. Anda akan mendapatkan ketenangan, kedamaian, batin yang betul-betul sejuk sekali. Tetapi kalau anda tidak melihat, tidak memetik pengalaman dan melakukan hal ini, maka semua itu tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja.

Yang lain misalnya menjalankan Sila, katakanlah sila yang pertama, tidak membunuh. Dengan latihan ini maka dalam diri anda akan tumbuh dan berkembang rasa cinta kasih dan kasih sayang, bukan hanya terhadap semua makhluk tetapi lebih dari itu, yaitu timbul penghargaan yang besar terhadap kehidupan. Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha, menghargai, menghormati kehidupan yang memang penuh dengan penderitaan ini.

Pengalaman-pengalaman beragama tidak bisa setengah-setengah, anda tidak bisa memetik manfaatnya bila tidak melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati. Coba anda laksanakan, janganlah beragama itu hanya datang untuk rame-rame, kumpul- kumpul melakukan kegiatan. Kalau hanya begitu kehidupan beragama kita hanya akan menjadi aktivitas sosial, perkumpulan sosial, lembaga sosial, bukan lagi aktivitas beragama. Dengan memetik pengalaman, merasakan manfaatnya, itulah hidup beragama, hidup di dalam Dhamma.***


Sumber:

Jalan Tengah No. 7/Tahun Ke I/9 April 1989; Yayasan Dhamma Dipa Arama; Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar