Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Sangha

Sangha

oleh: Ven. S. Dhammika

Judul Asli: The Order Of Monks And Nuns; diambil dari buku THE BUDDHA AND HIS DISCIPLES; Buddha Dhamma Mandala Society, Singapore (penerbit)

Selama berabad-abad, agama di India telah terbagi menjadi dua gerakan yang berbeda, yaitu tradisi Brahmana ortodox dan tradisi (samana) non-ortodox. Para brahmana mengajarkan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan cara menjadi anak dan ayah yang baik, dan dengan cara taat melaksanakan ritual-ritual tertentu. Para brahmana sendiri menikah, biasanya mempunyai beberapa istri, terpelajar dalam bidang pengetahuan duniawi dan kesucian, serta mencari nafkah bagi diri dan keluarganya. Mereka hidup dari uang yang mereka terima setelah melaksanakan ritual yang dianggap mutlak perlu untuk kemakmuran dalam kehidupan di dunia ini maupun di surga kelak. Sebaliknya, tradisi Samana mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan cara memahami dan mengubah pikiran. Untuk menopang usaha ini maka meninggalkan keluarga dan kewajiban sosial dianggap sangat membantu, karena hal ini membebaskan seseorang dari gangguan yang tidak perlu. Pengalaman dalam berbagai latihan yoga, latihan meditasi, dan juga praktek menyiksa diri merupakan hal yang umum dalam gerakan ini. Tradisi ini diprakarsai oleh para pertapa (samana, paribbajaka, muni, tapasa, dll.) yang hidup sendiri; di tengah hutan, di gua, di gunung, untuk menghindari masyarakat dan hukum-hukumnya. Beberapa pertapa hidup telanjang, dan sebagian besar memakai pakaian sederhana, biasanya berwarna kuning, warna yang memberi identitas bagi orang-orang yang meninggalkan kehidupan duniawi. Di India, warna kuning adalah warna kematian atau warna perpisahan dengan keduniawian, karena daun berubah menjadi kuning sebelum gugur dari pohonnya. Ketika Pangeran Siddhatta meninggalkan kehidupan duniawi, tampaknya secara otomatis beliau menganggap bahwa tradisi pertapa lebih bisa membawanya kepada kebenaran daripada tradisi Brahmana.

Setelah menjadi Buddha, Beliau melihat perlunya ada persaudaraan para pertapa untuk membantu orang-orang lain mencapai penerangan dan untuk mentransmisikan Dhamma melewati ruang dan waktu. Karena itu, seperti para guru yang lain, Beliau mendirikan bhikkhu sangha (komunitas para bhikkhu), suatu perkumpulan otonomi yang sah, yang mempunyai hukum dan peraturannya sendiri. Sementara selama berabad-abad, kerajaan-kerajaan besar berdiri dan runtuh, Sangha tetap bertahan dan berkembang, bertindak sebagai saksi tentang cara menjalankan Dhamma, dan sebagai medium untuk penyebaran peradaban di Asia.

Untuk menjadi samanera di Sangha Bhikkhu, yang dibutuhkan hanyalah mendatangi seorang bhikkhu, dan memohon untuk diterima. Kesadaran yang menyebabkan keputusan untuk meninggalkan kehidupan duniawi ini seringkali muncul setelah mendengarkan ajaran Buddha dan biasanya diungkapkan demikian: "Kehidupan berkeluarga adalah terkungkung dan berdebu, meninggalkannya berarti kebebasan. Tidaklah mudah bagi perumah tangga untuk menjalani kehidupan yang sempurna dan sepenuhnya murni, yang bersinar bagaikan kerang conch. Tidakkah sebaiknya aku mencukur rambut dan jenggotku, mengenakan kain kuning dan pergi meninggalkan kehidupan berumah menuju ke kehidupan tak-berumah?" Setelah ia mencukur gundul rambutnya dan memakai kain kuning, ia harus menjalani kehidupan dengan Sepuluh Aturan. Sang Buddha bahkan mengijinkan anak-anak kecil untuk menjadi samanera. Setelah samanera itu menerima latihan yang cukup dan setidak-tidaknya telah berusia dua puluh tahun, ia dapat menerima upasampada (penahbisan penuh) untuk menjadi bhikkhu. Untuk melaksanakan ini, ia harus mendatangi kelompok yang minimal terdiri dari lima bhikkhu, yang dihormati karena pengetahuan dan kebajikannya. Samanera ini akan diberi sebelas pertanyaan untuk mengetahui apakah dia cocok menjadi bhikkhu, apa alasannya menjadi bhikkhu, dan apakah telah siap menjadi bhikkhu.

1. Apakah kamu bebas dari penyakit?
2. Apakah kamu seorang manusia?
3. Apakah kamu seorang pria?
4. Apakah kamu seorang pria yang bebas?
5. Apakah kamu bebas dari hutang?
6. Apakah kamu memiliki tangung jawab terhadap raja/pemerintah?
7. Apakah kamu mendapat ijin dari orang tua?
8. Apakah kamu berumur setidak-tidaknya dua puluh tahun?
9. Apakah kamu mempunyai mangkuk dan jubah?
10. Siapa namamu?
11. Siapa nama gurumu?

Jika samanera ini menjawab semua pertanyaan ini dengan baik, dia dapat memohon pentahbisan selama tiga kali. Jika tidak ada yang berkeberatan, dia sudah dianggap menjadi bhikkhu.

Para bhikkhu Buddhis dikenal dan menyebut diri mereka sebagai Putra Sakya (Sakyaputta). Seorang bhikkhu dapat menggunakan apapun yang dimiliki komunitas vihara secara bersama-sama, tetapi ia sendiri hanya boleh memiliki 8 kebutuhan pokok (atthapirika), yaitu:

1. jubah luar (uttara sanga civara)
2. jubah dalam (antaravasaka civara)
3. jubah atas (sanghati civara)
4. mangkok makanan untuk tempat menerima dana makanan
5. pisau cukur
6. benang dan jarum
7. ikat pinggang
8. saringan air untuk menyaring air dan menghindari binatang-binatang kecil.

Seorang bhikkhu diharapkan membawa semua miliknya jika dia bepergian 'seperti burung yang hanya berbekal sayap kemana pun dia pergi'.

Jika orang-orang hendak memberikan sesuatu pada seorang bhikkhu, ia hanya dapat menerima makanan atau salah satu dari delapan kebutuhan pokok itu. Sedangkan yang lainnya, misalnya tanah, bangunan, kain, atau biji-bijian, dsb., hanya dapat diterima atas nama seluruh komunitas dan menjadi milik bersama. Pada waktu menjadi bhikkhu, ia harus mengikuti Patimokkha, dua ratus dua puluh tujuh aturan (sila), yang mengatur disiplin dan fungsi Sangha. Peraturan ini dibagi menjadi delapan kelompok sesuai dengan hukuman yang dijatuhkan bila terjadi pelanggaran. Aturan yang terpenting adalah empat Parajika. Jika dilanggar maka otomatis bhikkhu ini dikeluarkan dari Sangha dan tidak bisa lagi ditahbiskan di kemudian hari. Yang termasuk Parajika adalah:

1. hubungan sex.
2. pencurian.
3. pembunuhan.
4. penipuan dengan mengatakan bahwa dia mempunyai kemampuan paranormal atau pencapaian spritual.

Arti harfiah kata parajika adalah 'terkalahkan'. Jadi jika melanggarnya berarti orang itu telah dikalahkan oleh nafsunya, kebenciannya, dan kesombongannya. Aturan penting yang lain adalah tiga belas Sanghadisesa. Jika melanggarnya, orang tersebut harus melakukan pengakuan. Juga Nissaggiya Pacittiya, tiga puluh aturan yang berkaitan dengan pemilikan, yang jika dilanggar akan berakibat pelepasan hak milik. Aturan-aturan (sila) lainnya mengatur etika, penyelesaian perselisihan dan administrasi. Aturan-aturan ini, yang semuanya tertulis di Vinaya Pitaka, dimaksudkan untuk menjaga disiplin dan menyelesaikan masalah-masalah yang selalu timbul dalam kehidupan bersama.

Sebagaimana layaknya pertapa, para bhikkhu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertemu dengan banyak orang yang dapat diajari Dhamma. Juga merupakan jaminan bahwa mereka tidak dapat mengumpulkan kekayaan. Tetapi, salah satu aturan menyebutkan bahwa para bhikkhu harus menetap dan tinggal di satu tempat selama tiga bulan pada musim hujan (vassa). Waktu menetap ini amat diperlukan karena bepergian pada musim hujan sangat sulit. Para bhikkhu memanfaatkan masa vassa sebagai kesempatan untuk membina diri dan lingkungan setempat. Berapa banyak vassa seorang bhikkhu, itu menunjukkan kematangan dan pengalamannya. Jika bertemu dengan bhikkhu lain, mereka akan saling bertanya: "Berapa vassa, yang sudah Anda jalani?"

Untuk menjaga disiplin dan memperkuat nilai-nilai dalam Sangha, para bhikkhu perlu hidup bersama di mana setiap orang berperan serta. Daerah-daerah tertentu ditandai (yang disebut sima) dan semua bhikkhu yang hidup bersama di daerah tersebut akan berkumpul sebulan dua kali. Pertemuan ini disebut Uposatha. Patimokkha dibacakan pada waktu itu, pelanggaran disiplin harus diakui, kemudian hukuman dijatuhkan. Masalah-masalah yang berhubungan dengan komunitas diselesaikan dan tentu saja Dhamma didiskusikan. Jika keputusan harus dibuat, setiap bhikkhu dapat memberikan pendapatnya dan mempunyai hak untuk menentukan keputusan. Uposatha mempunyai peran penting dalam menentukan identitas Sangha, memperkuat persaudaraan, terutama dalam mempertahankan dan menyebarkan Dhamma.

Pada mulanya tidak ada biarawan wanita, tetapi setelah Dhamma semakin dikenal dan berkembang luas, para wanita mulai tertarik untuk menjalani kehidupan vihara. Waktu Sang Buddha berkunjung ke Kapilavatthu, setelah ayahanda-Nya wafat, Maha Pajapati Gotami, ibu angkat Beliau, mendekati dan bertanya apakah ia bisa ditahbiskan. Sang Buddha menolak dan Maha Pajapati Gotami pergi sambil menangis. Setelah Sang Buddha meninggalkan Kapilavatthu menuju Vesali, Gotami mencukur rambutnya dan memakai jubah kuning menyusul ke Vesali. Sesampainya di sana, dengan tubuh penuh debu, kaki yang bengkak dan terluka, serta berurai air mata, Pajapati Gotami memohon pada Bhante Ananda untuk mendekati Sang Buddha dan memohonkan pentahbisan kepada Sang Buddha sekali lagi. Dan sekali lagi ia ditolak. Ananda yang merasa kasihan kepada Maha Pajapati Gotami itu lalu memutuskan untuk memohon bagi Pajapati Gotami. Mula-mula Bhante Ananda bertanya kepada Sang Buddha: "Apakah wanita mempunyai kemampuan spiritual yang sama dengan pria?" Sang Buddha menjawab: "Jika wanita meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani kehidupan tak-berumah di dalam Dhamma dan mengikuti disiplin yang diajarkan oleh Thatagata, mereka akan mampu mewujudkan buah dari Yang Memenangkan Arus (Sotapati), Yang Kembali Sekali Lagi (Sakadagami), Yang Tak Lagi Kembali (Anagami), dan Arahat". Kemudian Ananda memohon agar Sang Buddha mempertimbangkan bantuan yang telah diberikan oleh ibu angkat-Nya itu pada Sang Buddha. "Bhante, jika wanita dapat mencapai kesucian sama seperti pria, dan mengingat bahwa Maha Pajapati Gotami telah banyak melayani Bhante —ia adalah bibi Bhante, ibu angkat Bhante, perawat Bhante, ia memberi Bhante susu dan menimang Bhante ketika ibunda Bhante wafat— selayaknyalah bila wanita diijinkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani kehidupan tak-berumah di dalam Dhamma dan mengikuti disiplin yang diajarkan oleh Tatagatha".

Akhirnya Sang Buddha setuju, dengan syarat bahwa bhikkhuni harus mengikuti aturan-aturan khusus. Aturan-aturan khusus untuk mereka adalah:

1. Bhikkhuni harus menghormati bhikkhu.
2. Bhikkhuni harus menjalani masa vassa, pada musim hujan di tempat yang terpisah dari bhikkhu.
3. Bhikkhuni harus bertanya kepada bhikkhu mengenai tanggal untuk mengadakan Uposatha dan tentang pengajaran Dhamma.
4. Jika bhikkhuni melakukan kesalahan, ia harus mengakuinya di hadapan sangha bhikkhu dan sangha bhikkhuni.
5. Jika bhikkhuni melanggar peraturan, ia harus menjalani hukuman di hadapan para bhikkhu dan bhikkhuni.
6. Bhikkhuni harus ditahbiskan oleh sangha bhikkhu dan sangha bhikkhuni.
7. Bhikkhuni tidak boleh memarahi atau memaki bhikkhu.
8. Bhikkhuni tidak boleh menasehati bhikkhu.

Maha Pajapati Gotami menerima peraturan tambahan ini, dan Ordo Biarawati Buddhis (Sangha Bhikkhuni) pun terbentuk.

Sang Buddha telah mengetahui bahwa dengan adanya pria dan wanita bersama maka kehidupan selibat yang merupakan aspek kehidupan vihara yang penting, akan menjadi sulit. Di kemudian hari Sang Buddha bersabda bahwa karena adanya bhikkhu dan bhikkhuni, peraturan kehidupan selibat murni ini hanya akan bertahan selama 500 tahun. Cukup menarik bahwa perkiraan Sang Buddha terbukti tepat. Pada abad VII, sekelompok bhikkhu mulai menikah sejalan dengan keadaan yang berubah. Hal ini perlahan-lahan mengakibatkan keruntuhan Agama Buddha di India. Untungnya, di banyak negara lain sekarang ini para bhikkhu dan bhikkhuni/anagarini tetap mempraktekkan kehidupan selibat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan vihara.***


Sumber:

PENGABDIAN TIADA HENTI, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia, Penerbit Buddhis Bodhi, 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar