Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Cinta Kasih

Cinta Kasih

oleh: Y.A. Khantipalo

Sumber Asli: THE ESSENTIALS OF BUDDHIST PRACTICE; The Budhist Graduates Fellowship (BGF); Young Buddhist Association Of Malaysia

Dengan mengembangkan cinta kasih, banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Manfaat pertama yang dapat diperoleh dengan berlatih meditasi cinta kasih, adalah keterlepasan dari kemarahan. Pelajari dan renungkanlah dalam hati syair-syair Dhammapada di bawah ini:

"Barang siapa seperti sais menghentikan laju kereta perang yang dapat mengatasi amarahnya,
ia kunamakan sais sejati
yang lainnya hanya memegang tali kendali saja.
Jangan berkata kasar kepada siapapun
karena mereka akan membalasnya
sungguh menyakitkan kata-kata pembalasan yang akan berbalik menimpa dirimu.
Bila seperti gong pecah
engkau berdiam diri
tak ada lagi dendam dalam dirimu
di sini, Nibbana telah kau capai.
Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci
ia menghinaku, ia memukulku,
ia mengalahkanku, ia merampas milikku,
kebencian dalam diri mereka yang diracuni pikiran seperti itu, tak akan pernah berakhir.
Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran suci
ia menghinaku, ia memukulku
ia mengalahkanku, ia merampas milikku
kebencian dalam diri mereka yang telah bebas dari pikiran-pikiran seperti itu, akan segera berakhir.
Kemenangan melahirkan kebencian
yang kalah dalam penderitaan
berbahagialah orang yang hidupnya penuh kedamaian
tidak terikat pada menang dan kalah.
Meskipun seseorang dapat mengalahkan ribuan musuh dalam pertempuran
tetapi sesungguhnya orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri
Ialah penakluk terbesar".

Jika seseorang mendapat kesukaran karena kemarahannya, pelajarilah syair-syair ini dan dengan membacanya berulang-ulang. Syair-syair ini akan sangat berguna bagi pembacanya. Apabila syair-syair tersebut dianggap terlalu banyak, pelajari hanya satu atau dua saja. Dengan mengerti bahaya dari kemarahan dan manfaat dari pengendalian diri, akan terbentuk landasan yang kuat bagi pengembangan cinta kasih. Dalam usaha mengusir kemarahan, terlebih dahulu perlulah disadari betapa berbahayanya kemarahan dan begitu besar penderitaan yang diakibatkannya.

Metta bisa diterjemahkan sebagai keramah-tamahan, persahabatan, dan cinta kasih. Keramah-tamahan merupakan terjemahan harfiah yang tidak mnggambarkan kekuatan dan daya jangkau suatu praktek, dengan demikian digunakan istilah cinta kasih sebagai arti yang lebih tepat. Apa yang dimaksudkan di sini adalah jenis-jenis cinta yang dapat dikembangkan pada seluruh manusia tanpa keterikatan dan keinginan untuk menguasai mereka. Di mana ada keterikatan, cinta jadi terbatasi dan di luar batas-batas itu juga ada ketidak-sukaan dan ketidak-tahuan. Dalam istilah Buddhisnya: keterikatan = lobha (keserakahan), ketidak-sukaan = dosa (kebencian), dan ketidaktahuan = moha (kebodohan), tiga keadaan yang disebut tiga akar kejahatan. Sehingga tampaknya kemelekatan tanpa cinta kasih akan menumpuk penderitan. Ketika kemelekatan kehilangan cengkeramannya dalam hati, kemudian seseorang dapat mulai mengembangkan cinta kasih pada semua yang dahulunya tak berbeda, bahkan akhirnya menanamkannya pada orang-orang yang tidak disukai.

Tentu saja hal ini tak dapat dikerjakan dengan menanamkannya dalam hati: Hari ini saya harus mencintai musuh-musuh saya. Hal ini tidak praktis, karena karma yang dibuat berlandaskan pada ketidak-sukaan dan kebencian pada orang-orang akan meninggalkan jejak dalam hati. Lebih buruk lagi, seseorang dapat menjadi semacam orang yang telah yakin bahwa dirinya memancarkan cinta kasih yang berlimpah. Sementara yang lain melihatnya tidak lebih sebagai orang yang picik dan penuh kebencian. Itikad buruk tak dapat diubah dengan segera menjadi itikad baik. Untuk ini seseorang mesti mempunyai metode yang sesuai.

Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dipertimbangkan adalah metode yang digunakan selama duduk berlatih. Permulaan, dalam vihara, atau beberapa tempat yang tenang, dipersiapkan untuk meditasi. Hal ini dapat dikerjakan dengan menggunakan cara tradisional, yaitu setelah menyalakan lilin, dupa, dan persembahan bunga, kita lalu namaskara tiga kali untuk mengingatkan kita pada kebajikan dari Tri Ratna. Paritta dapat dibacakan dengan singkat dalam bahasa Pali atau bahasa Indonesia.

Di bawah ini adalah salah satu metode, dengan membacakan paritta yang akan sangat membantu:

Aham avero homi Semoga kami penuh dengan ketentraman... (diam)
Aham abyapajjho homi Semoga kita bebas dari penyakit... (diam)
Aham anigho homi Semoga kita terbebas dari penderitaan... (diam)
Sukhi attanam pariharami Semoga kita mempertahankan ke bahagiaan diri sendiri... (diam)
Sabbe satta Semoga semua makhluk... (diam)
avera hontu penuh dengan ketentraman... (diam)
Sabbe Satta Semoga semua makhluk... (diam)
abyapajjha hontu bebas dari penyakit... (diam)
Sabbe Satta Semoga semua makhluk... (diam)
anigha hontu terbebas dari penderitaan... (diam)
Sabbe satta Semoga semua makhluk... (diam)
sukhi attanam pariharantu dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri

Keseluruhan isi paritta harus dibacakan tanpa tergesa-gesa dan berhenti selama beberapa menit, pada kata 'diam'. Jumlah waktu yang sebenarnya akan tergantung pada berapa lama pikiran menyelami tiap elemen dari meditasi.

Latihan ini menekankan pada sesuatu yang amat penting, bahwa seseorang tidak dapat memancarkan cinta kasih pada makhluk hidup yang lain bila tidak ada cinta kasih dalam dirinya. Hal itu bagaikan seorang yang kikir, yang mengatakan bahwa ia akan memberikan satu milyar uang! Maka dari itu, Bhadanta Buddhaghosacariya memerintahkan bahwa pertama-tama seseorang harus meliputi dan memancarkan dirinya sendiri dengan cinta kasih. Seseorang harus merupakan orang yang benar-benar mencintai dirinya sendiri. Jika hal ini dianggap sebagai keegoisan bagi sebagian orang, maka pertimbangkanlah pesan ini, rekoleksi Raja Pasenadi dari Kosala: "Siapa yang mencintai dirinya sendiri? Siapa yang tidak mencintai dirinya sendiri? Mereka yang berperilaku salah, dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran, mereka tidak mencintai dirinya sendiri. Apa alasannya? Mereka bertindak pada dirinya sendiri seperti yang dilakukan seorang pembenci pada orang yang dibencinya. Oleh karena itulah mereka tidak mencintai dirinya sendiri. Tapi mereka yang berperilaku baik dalam perbuatannya adalah mencintai dirinya sendiri. Apa alasannya? Mereka memperlakukan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh seorang teman pada temannya yang lain. Karena itu mereka mencintai dirinya sendiri.

Bila seseorang ingin berlatih metta, seseorang harus mencintai, menyayangi dirinya sendiri, atau dalam arti yang lebih spesifik adalah mengendalikan diri dari egoisme. Konflik yang demikian menghabiskan energi dan membuat konsentrasi pikiran menjadi tak mungkin. Karenanya pertama-tama perlu untuk mempraktekkannya pada diri sendiri.

Pengulangan suatu kata mungkin dapat bennanfaat pula. Berulang kali mengucapkan "metta, metta...." kemungkinan tidak akan berhasil jika tidak mengerti bahasa Pali dan dalam bahasa Indonesia hanya ada satu kata yang benar-benar sesuai yaitu 'cinta'. Jika panggunaan kata ini dirasakan keberatan karena kata ini mengandung kelebihan arti dan juga digunakan untuk melukiskan keinginan akan kesenangan jasmani, cinta tersebut bukan cinta yang murni (bahasa Pali dengan jelas membedakan seks, dan kenikmatan pada umumnya, kesenangan —karma, dari cinta kasih yang bukan hanya keegoan dan pencarian kesenangan —metta). Maka kata cinta dapat diulang beberapa kali dalam hati dengan penuh konsentrasi. Jika metta telah ada dan menjadi kuat) hal itu diwujudkan sebagai kehangatan, perasaan menggembirakan dari rasa aman dalam hati atau menyebar dari hati keseluruh tubuh.

Di bawah ini disarankan, satu atau dua metode lain yang dapet digunakan. Pertama, bagi yang mereka yang visualisasinya baik, cobalah melihat kuntum bunga seroja putih dalam hatinya. Hal ini akan membuka dengan perlahan-lahan dan mengalirkan pancaran sinar keemasan melalui tubuh seseorang. Jenis visualisasi ini dimaksudkan untuk memulai pengembangan cinta kasih dalam diri seseorang, dan yang segera ditinggalkan begitu perasaan kuat yang dihubungkan dengan cinta kasih hadir dan mulai tetap.

Metoda lain yang dianjurkan oleh Phra Pannavaddha adalah mengkonsentrasikan pikiran pada apa yang tervisualisasi dalam hati dan kemudian memperhatikan dibuyarkannya semua hambatan dalam tubuh, sehingga tak satupun yang berada antara hati seseorang dengan kehidupan yang lainnya. Hal ini bisa menjadi metoda yang sesuai bagi sebagian orang, karena itu, penting untuk menemukan cara tertentu yang bekerja pada dirinya sendiri. Bermacam-macam metoda dianjurkan dalam risalah-risalah tertentu seperti 'Path of Purification' (Jalan Penyucian Diri) dan 'Path of Freedom' (Jalan Pembebasan), adalah cara-cara yang harus seseorang teliti dan coba, dan disesuaikan dengan bijaksana terhadap kebutuhan seseorang.

Metode yang umumnya dianjurkan akan diterangkan akan dlterangkan secara mendetail pada bab-bab lain, tetapi sekarang akan dijelaskan secara garis besarnya saja. Ketika persiapan meditasi telah diselesaikan, kemudian duduklah dalam sikap meditasi, padmasila atau setengah padma adalah yang terbaik tetapi jika perlu dudukiah pada tumit atau pada bangku, pertama-tama membawa pikiran pada Buddha sebagai guru Dhamma yang utama. Beliau mengajarkan Dhamma karena belas kasihan terhadap penderitaan manusia, meskipun ia tak perlu mengerjakan hal tersebut, tetapi peneranganNya sempurna. Rasa cinta kasihNya sungguh tak terkalahkan, ketika Sang Buddha sedang dibayangkan, kemudian ketika itu juga alihkan perhatian seseorang pada hatinya masing-masing dan mengembangkan cinta kasihnya pada saat itu sejenak dengan menggunakan cara-cara yang sesuai.

Kemudian ketika seseorang telah membangkitkan cinta kasihnya dalam hatinya, lalu bayangkanlah guru masing-masing, mungkin bhikkhu, biarawati atau pendeta. Jika seseorang tidak memiliki guru pribadi, bayangkanlah ibu atau ayah, yang menjadi langkah seseorang jika orangtua seseorang telah dilupakan atau membangkitkan kebencian dalam dirinya maka mereka tak seharusnya masih dipertimbangkan. Dalam hal ini seseorang harus mengingat kembali teman terdekat dengan siapa ia gembira, memikirkan mereka satu per satu dengan penuh pikiran dan perhatian. Umumnya seseorang harus berhati-hati dalam membayangkan orang-orang dengan siapa ia bersahabat jika hal itu memungkinkan usaha seseorang dan pengembangan mettanya berubah menjadi memabukkan. Hal yang memabukkan ini dinamakan musuh yang dekat dalam hatinya, sedangkan musuh yang jauh adalah kemalasan.

Dari teman-teman terdekat ini, seseorang mulai mengenang orang-orang yang ia kenal. Dalam membuat perubahan ini, kualitas metta seseorang tidak harus berubah. Keramah-tamahan yang sama harus diteruskan pada mereka dengan sama baiknya dan jika seseorang merasa cinta kasih tersebut berkurang kembalilah membayangkan teman.

ika sescorang berhasil memancarkan cinta kasih pada orang-orang ini, selanjutnya beralihlah pada orang-orang yang tak dikenalnya, yang disukai maupun yang tidak dan melakukan proses yang sama pada mereka.

Akhirnya, bahkan jika orang-orang netral ini telah diliputi oleh cinta kasih, kemudian bawalah pikiran pada mereka yang tidak disukai atau musuh, pada tahap ini perlu perhatian dengan sangat hati-hatinya sehingga cinta kasih seseorang tidak terganggu oleh tercampurnya pikiran-pikiran kemarahan dan perasaan-perasaan penuh kesakitan yang diikuti dengan kebencian. Pada saat ciri terakhir dalam tahap ini kembali pada refleksi terhadap teman-teman dan kemudian secara bertahap pendekatan dilakukan pada orang yang tidak disukai setahap demi setahap.

Yang harus dicoba oleh seseorang dalam tahap ini adalah mengubah kualitas dasar reaksi emosional seseorang pada setiap orang. Hal ini pasti menyebabkan suatu perubahan yang berarti pada jalan yang dilalui oleh seseorang —suatu masalah yang akan didiskusikan di bawah ini dalam bahasan mengenai kehidupan sehari-hari.

Metode pengembangan cinta kasih lain adalah berdasarkan pada alinea yang cukup singkat dalam sebuah sutta:

"Di sini seorang Bhikkhu diam dengan perasaan dipenuhi cinta kasih yang disebar-luaskan ke satu penjuru, demikian pula ke dua penjuru, demikian pula ke tiga penjuru, demikian pula ke empat penjuru, demikian juga ke atas, ke bawah, ke sekeliling dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk hidup seperti pada dirinya sendiri; ia diam dengan perasaan dilimpahi, diberkahi cinta kasih yang tak terbatas tanpa rasa permusuhan atau itikad buruk disebar-luaskan keseluruh dunia tanpa batas". (tr. Y.A.Nanamoli Thera, Wheel No.6)

Metode ini yang bisa disebut pula 'metode langsung', seperti pula metode-metode yang lain, membimbing pada pengembangan metta yang agung tanpa batas, yang disebut pula suatu keadaan tanpa batas. Hal ini adalah tidak mungkin di saat pikiran sedang berusaha mendapatkan konsentrasi mengatasi berbagai keinginan jasmani, namun hal ini dapat dilaksanakan pada saat pikiran telah melewati lima gangguan (lihat Wheel No. 26).

Praktek cinta kasih yang disebutkan diatas bisa digambarkan dalam 'percakapan cinta kasih yang mesti dijalankan':

"Seperti seorang ibu yang dengan seluruh jiwa raga melindungi anak tunggalnya,
Ia akan menjaga pikirannya bebas untuk setiap makhluk hidup.
Perasaan kasih pada dunia ini akan ia pelihara agar tetap lepas
ke atas, ke bawah dan ke seluruh penjuru
tanpa pamrih, tanpa kebencian dan tanpa lawan;"
(Bacaan Penunjang, Pali Text Society, tr. Y.A. Nanamoli Thera)

Sekarang kita tiba pada praktek tambahan metta dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang hanya dapat memancarkan metta pada saat meditasi, namun di lain saat masih memiliki wajah kusam, dan sifat-sifat buruk, pasti ada sesuatu yang salah. Orang seperti ini menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa meditasi metta-nya benar-benar menyebarkan cinta kasih ke seluruh penjuru dunia. Padahal kenyataannya ia tak dapat mengatasi situasi dimana perasaan egonya terancam tanpa kehilangan perasaan marah dan itikad buruk. Bukti meditasi seseorang terlihat dari kehidupan sehari-hari. Jika praktek metta telah betul-betul kuat maka bisa dipastikan bahwa hubungan orang itu dengan yang lain akan berjalan lancar dan tanpa agresivitas. Orang itu akan mempunyai banyak kawan hanya melalui praktek ini, karena cinta kasih mempersatukan umat manusia dan memungkinkan terbentuknya kehidupan yang harmonis tanpa konflik.

Demikianlah, jika latihan metta seseorang benar-benar berjalan baik, seseorang akan menjadi sangat sensitif terhadap pada situasi keengganan diperlihatkan orang lain. Hal itu sangat tidak disukai dan seseorang harus menghindarkan diri terlibat dari perdebatan dan pertengkaran, kecuali kalau ia benar-benar yakin bahwa dengan keikut-sertaannya perselisihan dapat didamaikan. Hati-hatilah untuk tidak terjebak oleh diri sendiri, hal tersebut mudah timbul ketika api kemarahan sedang membakar diri seseorang.

Untuk mencegah hal ini terjadi pada waktu tertentu atau pada saat-saat lain perasaan yang penuh kesadaran akan sangat berguna. Kemarahan didahului oleh perasaan-perasaan menyakitkan dan perasaan tersebut, yang ada dalam diri sendiri inilah yang harus diperhatikan, bukan orang-orang yang sedang marah tersebut. Jika perhatian diberikan pada perasaan 'ah! Perasaan menyakitkan perasaan menyakitkan!', kemarahan tidak akan muncul. Perasaan yang penuh kesadaran terjadi dalam keadaan pikiran yang baik, sementara kemarahan selalu suatu keadaan pikiran yang tak sehat, hal yang kedua itu tak dapat terjadi terus menerus. Di samping penuh kesadaran, puisi yang diberikan pada permulaan dari meditasi bisa juga dibacakan untuk diri sendiri.

Cara-cara lain yang sangat berguna dalam melatih diri sendiri dapat ditemukan dalam puisi di permulaan dan sutta yang dikutip di atas, beberapa keadaaan diberikan di sana, kebanyakan dipakai untuk para bhikkhu sehingga tidak perlu disebutkan disini tapi yang lain akan membantu juga bagi para pandita. Pada tiap orang harus didapatkan kemampuan untuk melatih diri sendiri, pikiran, pembicaraan, dan perbuatan dalam Dhamma. Selanjutnya tetaplah lurus, yang berarti melepaskan penyimpangan-penyimpangan dalam tubuh, perbuatan, dan pembicaraan, dan kemudian benar-benar lurus pada saat dilepaskan juga penyimpangan dalam pikiran. Tidak saja lembut hati, ramah tamah, mudah dinasihati, tidak merengut, tegar dan bersikaplah lembut, untuk apa memiliki metta jika tidak diperlihatkan dengan cara ini? Ketidak-sombongan yang mengikuti sifat-sifat lain sebagai pandangan yang luas tentang diri sendiri adalah lahan terbaik yang langka dimana kita menanam benih-benih metta. Juga sejauh hal ini cocok bagi kehidupan pandita, seseorang harus dipuaskan dengan sedikit memiliki banyak hal-hal tertentu dan keinginan untuk banyak hal hanya akan menimbulkan kepusingan dalam menjaga dan memeliharanya. 'Keakuan' nampaknya lebih diperkuat daripada cinta kasih, tapi hal ini tergantung dari karakter dan pekerjaannya.

Cinta kasih tak akan tumbuh dengan sendirinya, tetapi seperti semua aspek Dhamma, dikondisikan oleh berbagai faktor. Sifat suka menolong yang mendukung kondisi untuk tumbuhnya metta, seharusnya diterapkan dalam kehidupan seseorang. Hal-hal lain yang akan menolong adalah nasihat-nasihat yang diberikan teman-temannya atau ahli meditasi, sebaik dukungan yang orang dapatkan dengan hidup bersamanya atau sekurang-kurangnya mengunjungi orang-orang yang melatih Dhamma yang berharga ini.

Pada malam hari sebelum tidur, bermeditasilah selama beberapa menit. Meditasi yang dapat dilakukan pada saat ini adalah metta bhavana (terutama untuk orang-orang yang memiliki ketakutan akan kegelapan, malam atau sering bermimpi buruk). Dan meneruskan latihan itu seperti seorang yang berbaring dan diarahkan oleh metta untuk tidur. Ini adalah cara yang sangat pasti untuk mengalahkan ketakutan serta membuang gangguan-gangguan dan mimpi-mimpi buruk. Ini juga baik untuk bersantai sebelum tidur dan bukan sebaliknya memakan obat-obat yang membuat lengah.

Dalam Anguttara Nikaya Sutta disebutkan sebelas kemuliaan dari latihan metta, yaitu:

1. Tidur dengan gembira.
Tidur dengan mental yang sehat.
2. Bangun tidur dengan gembira.
Tidak bangun pada saat yang salah, bangun dengan segar, gembira, dan bergairah.
3. Tidak akan bermimpi buruk.
Tak satupun yang dapat menyebabkan penderitaan pada orang-orang yang perbuatan, bicara dan pikirannya sedang berlatih Dhamma, dengan sedikit atau tanpa masalah.
4. Menyayangi sesama.
Tidak menjengkelkan mereka, tidak membawa pertikaian. Dengan latihan metta bhavana seseorang akan membawa keharmonisan kemanapun ia pergi.
5. Menyayangi semua makhluk.
Berarti hantu-hantu dan makhluk yang tidak terlihat, yang tidak akan merugikan meditator sejak ia telah melindungi dirinya sendiri dengan perlindungan cinta kasih dengan baik sekali.
6. Dewa-dewa akan melindungi.
Pada saat pikirannya jadi lebih tenang dan lebih murni, keadaan itu menyerupai dewa-dewa yang mengetahui hal ini, yang menghendakinya sejahtera dan melindunginya dari bahaya.
7. Tak ada api atau senjata yang dapat mencelakainya.
Siapa yang akan menyerang orang yang telah memiliki cinta kasih yang begitu besar?
8. Pikiran jadi lebih mudah berkonsentrasi.
Karena hilangnya daya rusak yang kuat dan sejak cinta kasih membuka hambatan-hambatan yang disebabkan oleh benih-benih karma yang lampau.
9. Wajah selalu cerah
Tidak hanya berkembang dari kesehatan fisik yang baik, tapi juga dari kesehatan mental yang baik.
10. Seseorang mati dengan tenang.
Tak ada kedunguan atau ketakutan yang akan menyakiti seseorang yang pikirannya tertanam kuat dalam cinta kasih. Objek yang baik akan memastikan kelahiran yang baik sekali.
11. Seseorang mencapai Brahma (dunia tanpa suatu yang lebih tinggi).
Bahkan jika ia tidak menjadi Ariya (seorang yang dimuliakan dalam pandangan Dhamma), pada saat meninggalnya, ia yakin akan terlahir di alam halus dan seperti kehidupan dewa Brahma di sana yang dalam keadaan pikiran yang murni dan baik sekali, bahkan mungkin mengembangkan meditasinya.

Keseluruhan manfaat ini merupakan dorongan yang kuat dalam melatih cinta kasih. Pengarang berikut ini dalam tradisi Buddhis telah mengarang syair yang menekankan beberapa keuntungan dari pengembangan cinta kasih:

Saat jauh dari rumah,
makanan berlimpah,
banyak hal tergantung padanya.
Siapa yang tidak menghianati kawannya.
Ke seluruh dunia ia jelajahi,
Kota kecil, kota raja,
di mana-mana ia dipuja.
Mereka yang tidak menghianati kawannya,
tak ada kejahatan yang dapat menghancurkannya,
tak ada bangsawan yang memandang rendah,
semua musuhnya ia kuasai.
Mereka yang tidak mengkhianati kawannya,
orang lain dalam rumahnya tidak memperhatikan kemarahan,
kata sepakat menyambutnya,
teman-temannya semua baik.
Mereka yang tidak mengkhianati temannya,
setelah menghormati, ia dihormati,
setelah memuja, ia dipuja,
kemuliaan dan kemashyuran telah ia capai.
Mereka yang tidak mengkhianati kawannya,
bagaikan api yang menyala,
bagaikan cahaya dewa,
kemegahan tak pernah meninggalkannya.
mereka yang tidak mengkhianati kawannya,
ternak akan terus bertambah untuknya,
menumbuhkan ladang-ladang yang ia sebar,
buah-buahan yang ia tanam, ia makan.
Mereka yang tidak mengkhianati temannya,
Bagaikan gua atau gunung,
seperti pohon tumbang, karena itu wahai manusia!
dalam melintasi, mencapai tempat istirahat,
Mereka yang tidak mengkhianati kawannya,
Bagaikan karangan bunga, maka musim semi muncul,
Bagaikan angin yang berhembus pada pohon beringin,
musuh tidak dapat menaklukkannya,
Mereka yang tidak menghianati temannya

(Syair-syair manfaat dari Cinta Kasih)
Mettanisamsagatha

***


Sumber:

DHARMA KESEHARIAN; Pemuda Vihara Vimala Dharma (penerbit/penerjemah); Bandung; September 1990

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar