Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Tujuan Pengembangan Insight

Tujuan Pengembangan Insight

oleh: YM Bhikkhu Girirakkhito Mahathera

Sumber Asli: Khotbah Dhamma di Denpasar Tgl. 29 Desember 1993

Saat ini tampak jelas para umat mulai serius mengembangkan Dhamma di dalam diri sendiri. Dan kemudian tentu kehausan itu akan dilanjutkan dengan usaha dan daya upaya untuk menerapkan ajaran-ajaran Dhamma di dalam diri masing-masing. Sesungguhnya kita belajar Dhamma adalah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam, lingkungan, keadaan, dan kondisi-kondisi yang ada. Sebagai individu, manusia, kita tidak jemu-jemu menghadapi situasi/kondisi yang berubah-ubah, yang perubahannya terus berlangsung tanpa pernah berhenti; dan kita harus senantiasa berusaha untuk menjadi harmonis dengan keadaan, lingkungan, dan kondisi yang ada. Justru agama seakan-akan mempunyai harga mati dalam upaya menjadikan diri kita agar selalu selaras, seimbang, dan harmoni dengan alam maupun dengan lingkungan. Jadi agama tidak lagi berpikir atau mencoba membantah atau mengoreksi kebenaran ajaran agama yang diyakini tiap-tiap umat, meskipun Sang Buddha mengatakan bahwa silakan periksa, pelajari, dan teliti; kalau cocok boleh dipakai terus, kalau tidak, ya ditinggalkan. Dari berbagai disiplin ilmu sudah sepakat mengatakan bahwa agama seakan-akan sudah —kalau seperti barang—, punya harga mati, harga pas, tidak ada tawar-menawar lagi. Memang demikian. Agama Buddha, Sang Guru Agung Buddha Gautama, menjelaskan tentang manusia itu, yang terdiri atas kelompok jasmani, kelompok perasaan, kelompok pikiran, kelompok ingatan, dan kelompok kesadaran. Proses dari tiap-tiap kelompok itu terjadi di dalam diri kita, yang berada di tengah-tengah alam semesta atau dunia ini, yang senantiasa berubah. Tahun 1900-an dengan sekarang tahun 1994-an itu keadaannya sudah berubah.

Sementara itu, dari perkembangan berbagai disiplin ilmu kini mulai gencar mempertanyakan apakah agama sudah bisa memenuhi keperluan hidup manusia dalam segala aspeknya? Misalnya, apakah agama sanggup membuat kesejahteraan, kemajuan dalam kehidupan manusia yang begitu banyak aspeknya? Sekarang penduduk Indonesia jumlahnya sudah semakin banyak, era globalisasi sudah demikian gencar, keterbukaan Indonesia dalam beberapa bidang sudah tampak jelas sekali. Namun kita harus mengakui bahwa sampai sekarang Pemerintah Indonesia belum mampu mengatur manusia yang demikian banyak itu. Lain halnya dengan negara tetangga kita, Singapura, dimana penduduknya relatif sedikit, kemudian pendidikan hidup yang berdisiplin itu sudah sejak lama sekali ditanamkan, serta masyarakatnya dalam kondisi yang kemakmurannya hampir merata. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang sopir di sana, berapa gaji seorang sopir di sana, yaitu 1500 Dolar Singapura. Kalau dikurskan, sekitar satu setengah juta Rupiah. Kalau di sini, tidak ada gaji yang sedemikian itu. Karena dengan 1500 Dolar itu baru memenuhi standar kehidupan yang normal di sana, walaupun tidak mewah, tetapi tidak miskin. Mereka mampu untuk sewa listrik, beli air untuk minum, mandi, cuci, dan sebagainya. Dengan demikian mereka dapat hidup layak. Begitulah keadaannya, dan kalau kita lihat disiplinnya memang sudah maju sekali, terutama kebersihannya. Kalau kita bandingkan dengan di sini tentu jauh sekali. Mereka di sana sudah bisa menyesuaikan diri dengan peraturan dan hukum yang berlaku sah, yang tentunya sesuai dengan ajaran agama yang mereka peluk; juga belajar harmonis dengan hukum-hukum alam yang diajarkan oleh agama mereka masing-masing.

Oleh karena itu, tiap ajaran agama mempunyai peraturan, yang umum, yang pokok, kemudian yang tambahan. Semuanya adalah untuk menjadikan kita harmonis, seimbang, selaras, dan tidak konflik dengan kepentingan bersama, terutama dengan alam. Kalau misalnya alam kondisinya panas terik, lalu kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang panas terik itu, sehingga kita menjadi menderita, kemudian mengeluh, tidak tahan, dan gelisah; itu berarti bahwa kita belum mampu harmonis dan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.

Saya kira gejala ini sangat nyata kelihatan di kalangan kita umat Buddha, sehingga tatkala di suatu waktu ada pertemuan dari orang-orang tertentu di suatu tempat, kelihatan sekali bahwa batin para umat di sana tidak harmonis, tidak seimbang; pokoknya minimal "dislike" dalam hati. Karena orang-orang yang hadir di sana, mereka itu adalah kritikus-kritikus bhikkhu yang getol sekali. Mereka itu seakan-akan menjadi polisinya bhikkhu, begitulah. Sebenarnya bhikkhu itu tidak punya "CPM", tetapi kalau militer punya CPM. CPM itu diangkat dengan resmi oleh yang berwenang dan dididik; pun cara ngeprit pelanggaran yang ada tidak sembarangan, tetapi mengerti aturannya. Tetapi orang-orang ini rupa-rupanya mereka belajar Dhamma Vinaya, kemudian merasa mengerti, namun bersekutu dengan belum tercapainya keseimbangan batin, dengan belum tercapainya keharmonisan kejiwaan; sehingga mereka menjadi kritikus-kritikus yang kadang-kadang menimbulkan akibat-akibat yang minimal dapat menjadi konflik. Kadang-kadang mereka megerti "KUHP”-nya bhikkhu —kitab "KUHP"-nya bhikkhu adalah Vinaya. Mungkin dia menghafal, apalagi yang pernah menjadi bhikkhu, kemudian lepas jubah, itu mereka tahu. Lalu kemampuan menghafal peraturan itu dijadikan atau menjadikan dirinya CPM sukarela yang tanpa "beslit", begitulah kira-kira.

Pengembangan Insight atau Pandangan Terang melalui latihan-latihan Vipassana itu bukan bertujuan untuk menjadikan kita pintar mengerti Dhamma, lalu kemudian untuk berdebat, untuk melihat kesalahan orang lain, untuk memojokkan orang lain, atau untuk memamerkan pengertian benarnya masing-masing. Bukan begitu maksudnya. Justru dengan Vipassana atau mengerti Dhamma itu, adalah agar kita bisa mengatur batin kita supaya bisa tetap segera harmonis, seimbang, selaras, dan tak ada konflik dengan keadaan, lingkungan, hukum alam, serta kondisi-kondisi yang ada.

Itulah topik yang ingin saya perbincangkan dan bahas di sini, sebagai suatu injeksi, yang mudah-mudahan dapat lebih menyembuhkan penyakit-penyakit yang kurang perlu ada di dalam batin kita sekalian.

Jadi sekarang, kita mesti berupaya membuat persaudaraan kita di dalam Buddha Dhamma ini agar benar-benar bisa mengenyam dan menikmati ketentraman, kedamaian, keharmonisan, dan keselarasan; kemudian bisa dengan cepat mengeliminir kesalah-fahaman, konflik, dan sebangsanya. Berusaha untuk secepat kilat bisa menuntaskan semua problem, dengan kata lain kita akhirnya dapat muncul menjadi pribadi-pribadi yang sanggup menjadi "problem solver". Kita tahu "How to solve the problem of life". Itulah kiranya tujuan yang kita gantungkan dalam cita-cita kita. Dan kalau batin kita sudah dewasa maka "like & dislike" itu bisa diturunkan, dikurangi. Itu merupakan ciri-ciri satu hasil yang kita raih. Bagaimana pun kikuknya saudara anggap orang lain menyalahi aturan, apakah Dhamma, apakah Vinaya, kalau seseorang sudah mempunyai insight, dia tidak lagi usil menjadi polisi. Tidak! Karena apa? Karena dia memaklumi bahwa dunia adalah dunia, sorga adalah sorga, neraka adalah neraka, dunia yang campuran baik dan buruk adalah dunia yang campuran baik dan buruk. Itulah kondisi dunia. Jadi kalau kita belum mengerti, —isi dunia saja belum mengerti—, kita tinggal di dunia, bergaul dengan kawan-kawan yang masih duniawi, dan kondisi duniawi ada yang baik dan ada buruk; lalu kita masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang baik dan buruknya, kapan kita bisa meningkat?

Perlu diingat dan diketahui bahwa memiliki kualitas mental yang memadai amatlah penting untuk menghadapi kejadian, problem, kondisi, situasi yang berubah-ubah dan sangat rawan itu. Pejabat pemerintah harus mempunyai kualitas mental yang tangguh. Para rohaniwan agama juga harus mempunyai kualitas mental yang memadai. Tidak boleh sepihak. Kemudian kualitas mental masyarakat juga harus ditingkatkan. Kita jangan malu mengakui bahwa kualitas mental kita, kualitas disiplin, ketaatan dengan peraturan, masih jauh daripada apa yang disebut baik. Maka oleh karena itu, kita harus terus berusaha meningkatkan kedewasaan kualitas mental ini.

Kalau orang yang mentalnya sudah dewasa, "like dan dislike" —kalau dia diumpamakan seperti biji-biji tumbuh-tumbuhan—, dia itu tidak bisa tumbuh di atas lantai yang licin. Walaupun dia disiram dengan air, dia tidak bisa tumbuh. Tetapi kalau di tanah yang gembur kemudian ada hujan, dia mudah tumbuh. Rumput pun tumbuh. Jadi mental itu ada kualitasnya; seperti tanah yang gembur, dilempar biji apa saja kalau ada hujan akan tumbuh. Ada mental yang sudah digosok dan diproses, sehingga seperti kaca yang jernih dan bersih, atau seperti tegel yang mengkilat. "Like dan dislike" dengan antek-anteknya itu, seolah-olah tidak bisa melekat pada batin orang yang demikian. Secara alami sekali, mereka tidak melekat. Maka itu, kita melihat ada orang-orang yang cepat sekali tersinggung, cepat sekali emosi, cepat sekali konflik, pokoknya tidak selesai-selesai dan tidak habis-habis tersinggung dan membuat konflik, ada saja yang dipermasalahkannya. Nah, berbeda dengan orang yang batinnya sudah dewasa, yang saya umpamakan batinnya sudah digodok, digembleng, diasah, dilap, hingga licin dan bersih sekali. Terutama dualisme itu yaitu "like dan dislike", merasa diuntungkan atau dirugikan, merasa dihargai atau diremehkan, itu sulit melekat kepada batin orang sedemikian. Maka sikapnya pun menjadi dewasa sekali.

Kita sekarang amat memerlukan orang-orang seperti itu, terutama kalau kita mendambakan Buddha Dhamma ada manfaatnya, ada kegunaannya; yakni dengan memproses pikiran itu, yang sering saya katakan dari cengeng, mudah tersinggung, mudah melekat kepada dualisme, menjadi sehat, kuat, stabil, mantap. Jadi ke arah sana fokus kita, tujuan kita belajar Buddha Dhamma, sehingga itu menjadi modal dasar yang dirumuskan oleh pemerintah. Dalam pembangunan bangsa ini, kita harus punya modal iman dan taqwa yang kuat, moral etik yang tinggi; kemudian digabung, disekutukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, ketrampilan, dan keuletan, maka kedua-duanya ini akan menjadi sarana untuk membangun pribadi-pribadi, manusia-manusia Indonesia yang diharapkan.

Namun memang kecenderungan manusia itu berbeda-beda. Di antara para bhikkhu juga ada yang lebih cenderung ke pertapaan atau meditasi saja, tidak mau campur dengan organisasi atau dengan masalah-masalah duniawi. Pokoknya pertapaan saja, tinggal di tempat sepi, kemudian meditasi. Ini lalu oleh kemajuan perkembangan dunia masa kini, mendapat sorotan yang negatif. Bahkan pernah kita ini dituduh: "Wah, apa Walubi itu hanya mengajarkan umatnya sembahyang saja, meditasi saja, dan kalau khotbah, yang dikhotbahkan bagaimana mencapai sorga, tetapi sama sekali lupa dengan lingkungan; ada orang miskin, ada rumah kumuh, dan sebagainya". Menurut pandangan yang ada, penerapan agama di Indonesia harus dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab dijelaskan di sana, agama tidak bisa membuat rumah, tidak bisa untuk membuat mobil. Untuk membuat kemakmuran, supaya kain banyak, supaya sepatu modelnya banyak, keperluan hidup banyak; itu bukan agama yang mengerjakan, tetapi ketrampilan, teknologi dan ilmu pengetahuan. Begitu juga dalam aspek kesehatan dan sebagainya. Kita tidak perlu berebat dan membantah di sana.

Jadi diharapkan agama itu tidak eksklusif. Sekarang kita menganut agama Buddha, Buddha Dhamma, seperti saya sekarang ini sebagai bhikkhu, sudah mulai diminta oleh pemerintah: "Anda jangan hanya mengajarkan meditasi saja. Usahakan supaya para penganut itu bisa meningkatkan kemiskinan, dari yang dulu income-nya kecil, sekarang menjadi bertambah". Namun sudah jelas pula, mental agama adalah modal dasar. Jadi kita harus di tangan kanan memegang Buddha Dhamma, di tangan kiri memegang seluk-beluk dan hal ikhwal pembangunan bangsa. Jelas sekali sekarang demikian.

Jadi kita para penganut agama Buddha tidak boleh lalai, tidak boleh tertutup telinga atau mata kita, tetapi kita harus "well informed" tentang masalah-masalah yang "up to date", yang sekarang ini. Sebenarnya saya merasa paling bangga dengan keadaan umat Buddha, terutama di kota-kota besar, karena mereka berpotensi sekali di dalam ikut andil memakmurkan dan mensejahterakan bangsa ini. Bahkan Bapak Presiden, kalau memberikan penghargaan, kebanyakan kepada orang-orang umat Buddha. Sangat banyak umat Buddha yang dengan diam-diam sudah membantu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kami dari umat Buddha dengan diam-diam sudah banyak berusaha mengangkat kemiskinan dengan memberikan mereka pekerjaan.

Memang kita mengharap bahwa simpatisan atau penganut agama Buddha semakin banyak. Tetapi dengan semakin banyak muncul orang-orang baru ini, mungkin saja lalu kembali muncul kerawanan, problem tentang kecengengan kejiwaan itu. Sebenarnya yang tua-tua yang harus lebih mengalah. Itu memang sudah hukum pergaulan. Coba kalau kakak dengan adik, siapakah yang harus mengalah? Kakaklah yang harus mengalah. Antara anak dengan orangtua, siapa yang harus mengalah? Orangtua yang harus mengalah. Tetapi sekarang ini kok terbalik. Umpamanya ada adik yang mengalah, yang kakak-kakaknya malah galak sekali. Janganlah sampai terjadi yang demikian.

Bagi saya, yang bagaimana saja teman-teman pengabdi ini, yang cengeng, yang dewasa, yang mudah tersinggung, yang kalem, saya bisa sekali menerima, karena saya ekstra menjaga dan mengendalikan diri. Maka oleh karena itu, sejak saya senang mengadakan latihan Vipassana, itu tidak lain maksudnya adalah untuk meningkatkan kejiwaan para umat yang sudah mendapat kesempatan dan mempunyai minat ke arah peningkatan itu. Yang penting jangan jadi jaksa, jadi polisi, atau menjadi mata-mata untuk menyelidiki kesalahan orang lain. Itu tolong dieliminir. Jangan karena persoalan sedikit saja, sudah ramai. Koq senang sekali melihat dan menceritakan kesalahan, kelemahan, dan kekurangan orang lain? Kecenderungan demikian sepertinya sudah berurat-berakar, mendarah-daging. Cobalah kita kerahkan tenaga dan kemauan untuk mengeliminir kecenderungan itu.

Terdapatnya perpecahan-perpecahan di tubuh organisasi, itu juga tidak lain dan tidak bukan, sebabnya adalah kekurang-dewasaan kejiwaan dan kualitas mental. Jadi sekarang kita harus berusaha mempunyai seni atau keahlian untuk mengeliminir hal-hal yang sedemikian itu.

Sekarang ini, kita lepas dari rasa kesal, rasa kurang simpati. Kalau ada rasa kesal atau rasa kurang simpati, kurang setuju, atau kurang sreg, itu 'kan cuma perasaan. Perasaan yang muncul disebabkan karena kejiwaan belum dewasa, masih ada ego, masih ingin menaruh pandangan sendiri, konsep sendiri, dan sebagainya di depan. Kalau secara sederhana, itu adalah ciri-ciri dari demokrasi, ciri-ciri dari pluralisme, ciri-ciri dari keadaan yang berbeda. Tetapi kemudian, bagaimana agar yang berbeda-beda ini bisa mengkondisikan semangat bersatu, itu juga sudah alami sekali. Jadi pluralisme agama di Indonesia itu mengkondisikan para pemimpin berusaha untuk mengatur, membimbing agama ini, supaya tetap bersatu dan rukun. Metodenya, jangan membicarakan tentang doktrin, jangan berdebat tentang perbedaan; kita hanya mengacu kepada kepentingan bersama. Pemerintah lebih lihai lagi. Para pemimpin agama itu sering-sering dikumpulkan, diajak, pergi ke propinsi-propinsi, bahkan yang terakhir ini diajak ke Singapura dengan gratis. Bayangkan! Begitu pandainya merukunkan agama-agama yang berbeda-beda, tetapi mempunyai kepentingan yang sama. Jadi kepentingan yang sama itulah yang diacu, yang dipacu, sehingga bisa rukun-rukun selalu.

Nah, kita juga harus begitu. Dahulukan kepentingan bersama untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Kalau ada gangguan, rintangan, godaan, atau bahkan malapetaka yang menghadang, hal itu wajar terjadi. Tetapi kalu kita teguh dengan tujuan demi kepentingan bersama, hal-hal itu akan dapat diatasi secara alami. Saya harap umat Buddha berhati-hati, agar bertindak dengan sehalus-halusnya, belajar melangkah dengan memperhitungkan proses alaminya itu sendiri. Mudah-mudahan konflik-konflik itu tidak perlu ada.

Saya mengharapkan supaya saudara-saudara mengintegrasikan diri, sungguh-sungguh membulatkan tujuan, membulatkan acuan, dan sebagainya, sehingga dengan demikian, rintangan-rintangan yang akan melemahkan posisi dan kondisi kita itu akan dapat dieliminir. Dan kalau ada perbedaan-perbedaan dan sedikit konflik, itu adalah wajar sekali. Lautan yang luas itu tidak selamanya tenang. Tiba-tiba ada angin puyuh, lalu gelombang jadi besar, berbahaya sekali. Tetapi tidak selama-lamanya gelombang itu besar, ia kemudian akan berubah. Laut kembali tenang. Kalau kita sering dihajar oleh bukti-bukti kondisi yang berubah-ubah demikian rupa itu, maka kesadaran kita juga akan maju, akan bisa memaklumi keadaan yang kadang-kadang dengan tiba-tiba menjadi gelombang besar, munculnya angin ribut. Sebagai penumpang-penumpang di kapal "Walubi" ini, mudah-mudahan saudara tidak mabuk, tidak muntah, tidak rebah, dan kemudian kapok naik kapal. Jangan sampai kapok. Kalau kapok, kita tidak akan bisa menyeberangkan umat Buddha kepada tujuan yang diharapkan. Sebab sekarang, kita ini ibaratnya berangkat naik kapal itu, kadang-kadang gelombang besar. Mudah-mudahan kita semua tahan, tidak mabuk, tidak pingsan, dan semoga semuanya tetapi sehat dan akhirnya membawa agama Buddha dan umat Buddha ini kepada tingkat dan tujuan yang diharapkan.***


Sumber:

Mutiara Dhamma VI, Ir. Lindawati T. (Editor), pt. Indografika Utama, Denpasar-Bali, 1994

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar