Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pendekatan Yang Benar Pada Dharma

Pendekatan Yang Benar Pada Dharma

oleh: Buddhadasa Bhikkhu

Saudara-saudara sesama Buddhis, anggota dan bukan-anggota WFB, Bhikkhu dan umat awam.

Oleh ketua WFB saya diudang untuk memberikan kata sambutan pada sidang yang terhormat ini. Apa yang akan saya ucapkan akan disampaikan sebagai sesama penderita dalam kelahiran, umur tua, penyakit, dan kematian. Ijinkanlah saya kesempatan untuk berbicara terus-terang. Kebenaran, pengabdian, dan cinta sesama makhluk adalah ciri-ciri sejati dari kita umat Buddhis.

Apa yang akan saya ucapkan secara singkat adalah hasil dari penelitian-penelitian yang saya lakukan selama 30 tahun, dan yang saya rasa adalah aspek yang terpenting dari usaha-usaha besar kita teristimewa pada saat kegiatan-kegiatan kita sudah mencapai tingkat seluruh dunia.

Pertama-tama, dalam dunia Buddhis modern banyak perhimpunan-perhimpunan yang didirikan khusus untuk menyebar-luaskan Buddha-Dharma. Tetapi mereka lebih mementingkan cara-cara penyebaran daripada Sang Adyaran itu sendiri, padahal Sang Adyaran adalah inti dan jantungnya Buddha-Dharma. Pun tidaklah mereka mencurahkan perhatian cukup atas pelaksanaan Dharma, Mereka asyik dengan ritus-ritus dan upacara-upacara. Buddha-Dharma jenis ini —saya kuatir— akan mengakibatkan:

1. Semakin berkurangnya orang-orang yang benar-benar mengerti Dharma secara langsung melalui usaha dan pelaksanaan sendiri. Dalam hal yang sedemikian maka tidaklah akan orang-orang bekerja menuju intinya Dharma, melainkan hanya mengejar kepentingan-kepentingan yang sekunder. Akibatnya arti dari WFB akan menjadi terbatas dan tak lagi dapat memenuhi tujuan yang harus ditujunya.
2. Umat Buddhis yang sejati yang tertarik pada pelaksanaan Dharma akan semakin kurang memperhatikan WFB dan dalam hal itu amat sukar untuk WFB meneruskan atau memperluas kegiatan-kegiatannya sesuai dengan tujuan-tujuan yang dikemukakan. Kerjanya akan terbatas pada tugas-tugas rutin dan urusan sosial belaka. Dalam keadaan sedemikian maka selayaknyalah pemuka-pemuka Buddhis dituduh bersenang-senang saja dalam misi-misi Internasional atas ongkos orang lain. Dalam keadaan itu organisasi kita tentu akan hancur. Maka itu saya memohon supaya kita memberi perhatian yang khusus atas tujuan-tujuan sejati yang harus dipelihara di dalam pikiran setiap umat Buddhis. Kita harus prihatin terhadap cara-cara pendekatan yang menyimpang dan kita harus berusaha memperbaiki dan mengarahkan kembali diri kita kepada tugas-tugas yag menunggu untuk dilaksanakan dan dilunaskan.

Yang perlu kita lakukan ialah menciptakan kegemaran dalam apa yang disebut "jantungnya Buddha-Dharma" yakni bekerja langsung menuju terhapusnya kekotoran-kekotoran batin di dalam diri setiap perorangan. Kita harus bekerja bahkan menuju terpadamnya penderitaan manusia. Sekali perhatian orang-orang sudah terangsang, mereka akan menyelidiki, mempertimbangkan, dan mencari untuk mengerti intinya Buddha-Dharma. Mengajarkan kesusilaan demi manfaat masyarakat dan negara, atau mengajarkan kegemaran akan Dharma sebagai falsafat atau kenikmatan sastra —tidaklah begitu berarti seperti pelaksanaan dan usaha pribadi dari setiap perorangan.

Kekotoran-kekotoran batin adalah sebab yang langsung daripada penderitaan manusia. Ketidak-sedapan daripada kehidupan timbul bukan oleh karena ketidak-tahuan akan susila masyarakat, apresiasi sastra, atau ketidak-tahuan akan falsafah. Orang-orang yang mahir dalam disiplin-disiplin akademis itupun tidak bisa membebaskan diri mereka dari keadaan manusia yang tak memuaskan. Satu-satunya jalan untuk bebas dari kekotoran-kekotoran batin ialah dengan jalan mengendalikan serta menaklukkan indera-indera kita. Sekali tingkat ini sudah tercapai maka barulah akan timbul perdamaian dan kebahagiaan yang kekal. Tetapi hal ini tidak akan pernah terjadi, saya menjamin saudara-saudara, —dengan hanya menerima Buddha-Dharma selaku kegemaran falsafah atau keindahan saja. Malahan mempelajari Dharma secara itu mengandung pengaruh yang tak-terelakkan yakni membagi-bagi faham Dharma sejalan dengan aliran-aliran pemikiran dan spekulasi-spekulasi kefalsafahan yang berbeda-beda, karenanya Buddha-Dharma akan menjadi satu pokok kegemaran yang teoritis, yang terdiri dari kata-kata yang tak-praktis.

Agar organisasi-organisasi Buddhis seperti WFB dapat memenuhi tujuannya yang sesuai jantungnya Buddha-Dharma, kita harus pertama-tama menghancurkan konsepsi-konsepsi "kita" dan "mereka". Seketika perbedaan-perbedaan keorganisasian dan pribadi dienyahkan, seketika itu pula konsepsi "persaudaraan-dunia" akan menjadi berarti. Kata "Dharma" sendiri berarti "hekekat sejati daripada barang-barang" dan Dharma tidak mengenal akan adanya pembagian-pembagian, kebangsaan-kebangsaan, ataupun perpisahan-perpisahan karena kredo atau kepercayaan-kepercayaan.

Biasanya, interpretasi yang salah atas Dharma datangnya dari orang-orang yang mengejar Buddha-Dharma dari sudut pandangan duniawi. Betapa banyak buku-buku Buddhis dari Barat yang mengolah Karma dan Kelahiran-kembali dengan penilaian-penilaian yang tak masuk akal dan yang jauh dari inti dan hal-pentingnya Sang Ajaran. Bahkan mereka yang mengaku dirinya Buddhis pun seringkali menyalah-artikan Ajaran Sang Buddha dengan menganjurkan cara-cara pendekatan yang tak praktis. Misalnya kata "Jati" yang bisa diterjemahkan sebagai kelahiran (dalam arti harfiah) dan juga sebagai konsepsi "keakuan". Kalau dua arti ini tercampur-baurkan dan salah tertangkap orang tidak akan dapat menjangkau Ajaran Sejati dari Sang Budha. Dalam Agama Buddha, kelahiran-kembali tidak ada sangkut-pautnya dengan Avatara atau reinkarnasi seperti yang dimengerti dalam Upanishad Hindu dan sebagian besar orang-orang Barat condong untuk mengertikannya dari sudut pandangan ini. Dalam Agama Buddha kelahiran-kembali harus dimengerti sebagai "ulangan dan sambungan daripada konsepsi-keakuan". Pengertian akan kelahiran-kembali sebagai unsur dan fenomena daripada kehidupan di masa sekarang, (faham dalam menerusnya "aku" dan dengan demikian menjadi suatu ikatan pada "Aku") sesungguhnya lebih penting dari pengertian akan kelahiran kembali setelah kematian.

Soal ini akan menjadi agak jelas bila kita memeriksa Hukum Asal-Mula Yang Bergantungan (Paticcasamupada). Di sini kata jati jelas berarti Keakuan (egoisme) dan tidak ada hubungan dengan kelahiran yang lahiriah. Dua belas unsur-unsur dari Asal-Mula Yang Bergantungan itu, dalam kenyataannya, adalah aspek-aspek dari Dukkha seperti yang Sang Buddha tunjukkan dalam Empat Kebenaran Mulia. Kesejatian daripada Paticcasamupada bukan disediakan untuk menjadi obyek dari spekulasi falsafah secara luas-luasan seperti menjadi kegemaran dari jaman sekarang ini.

Tetapi agaklah hal-pentingnya Buddha-Dharma dapat dihargai dan ditetapkan selaku cara pendekatan pada pelaksanaan sehari-hari yakni mengendalikan alat-alat indera demi menghindarkan terjadinya bentuk-bentuk pikiran yang timbul karena ketidak-tahuan. Tanpa proses yang terus menerus ini tidaklah akan di situ ada Dukkha.

Sekarang mengenai KARMA, umumnya orang hanya memperhatikan Karma yang baik dan yang jelek, yang putih dan yang hitam, dan akibat-akibatnya yang menyusul. Ini sebenarnya bukan ajaran yang pokok dari Buddha-Dharma, sebab uraian Karma secara ini sudah diketahui dan diajarkan oleh agama lain lama sebelum Sang Buddha. Apa yang Beliau tambahkan pada teori ini adalah sejenis Karma yang bukan hitam ataupun putih; sebaliknya ajaran utama dari Buddha-Dharma adalah penghentian segala Karma-karma. Ajaran ini dapat kita periksa dalam Canon Pali (Anguttanikaya Catukkanipata Kammavagga). Melaksanakan Jalan Ariya Delapan-ganda sebenarnya adalah sejenis Karma yang bukan hitam maupun putih, sebab pelaksanaan itu akan menuntun kita pada Nirvana yang adalah ujungnya (penyudahan) semua jenis-jenis Karma. Karma jenis akhir inilah unik dan khas Buddhis, namun sebagian besar ahli-ahli Buddhis terus mengabaikannya. Maka itu menjadilah kini tanggung-jawab organisasi-organisasi Buddhis seperti WFB untuk membetulkan konsepsi yang salah ini.

Kalau kita menerima "Dharma" sebagai basis dan inti dari Buddha-Dharma, kita bisa benar-benar menjangkau hal-pentingnya Anatta. Sekali kita sudah mengerti Anatta, kita sudah siap untuk mengerti Karma sebagai kekuatan yang menyudahi segala jenis-jenis Karma. Dari itu kedua-duanya Karma dan Anatta adalah aspek-aspek dari prinsip yang sama. Pada saat itu tiada lagi pribadi, pada saat itu pula di situ tidak ada konsepsi "Aku" atau "Keakuan", dan barulah di situ ada suatu persaudaraan dunia yang sejati. Barulah di situ lenyapnya pembagian-pembagian antara kredo-kredo seperti Buddhis, Kristen, dan Islam. Apa yang Sang Buddha temukan dan ajarkan ialah jalan menuju hancurnya pribadi. Sebegitu kita memberi cap "Buddhisme milik kita", pada saat itu pula terbawa arti pembagian antar "kita" dan "mereka" sedangkan ketidak-pribadian adalah sesungguhnya hakekat sejati daripada Alam. Maka mereka yang menyebut diri mereka Buddhis tidak lagi dapat menjangkau arti sejati dari Sang Ajaran. Bagi mereka Buddha-Dharma telah menjadi suatu "pemetikan" dari tambahan-tambahan yang sekunder dan lebih rendah yang menutupi Sang Ajaran yang sejati. Dengan demikian Buddha-Dharma menjadi suatu alat yang menganjurkan pembagian dan mazhab-mazhab, serta merampoknya dari mutunya yang semesta.

Kata "Dharma" dapat diinterpretasikan dalam banyak cara-cara. Setiap definisi itu akan kita telaah di sini. Dan kita berharap semoga kita akhirnya tiba pada definisi atau jenis Dharma yang paling membawakan arti daripada hakekatnya Buddha-Dharma.

Definisi dari DHARMA (Sansekerta) atau DHAMMA (Pali) mengandung arti yang mencakup segala-galanya. Dharma menggenggam arti yang meliputi segala-galanya baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui oleh manusia.

Karenanya, tidaklah mungkin untuk menterjemahkan istilah ini secara tepat ke dalam bahasa lain. Agar dapat membawakan artinya dalam waktu singkat yang disediakan, saya mengemukakan definisi-definisi seperti berikut:

DHARMA adalah:

1. ALAM........ (sabhavadhamma),
2. HUKUM ALAM..... (saccadhamma),
3. KEWAJIBAN MANUSIA UNTUK MENYELARASKAN DIRI SESUAI HUKUM ALAM..... (patipatidhamma),
4. AKIBAT-AKIBAT PERBUATAN YANG SELARAS DENGAN HUKUM ALAM... (pativedhadhamma).

Konsepsi Dharma di atas adalah terdapat dan selengkapnya diterangkan dalam Canon Pali dan semua komentar-komentar. Setiap faktor langsung dihubungkan dengan Alam. Jadi, kalau kita gagal untuk mengerti Dharma sehubungan dan selaras dengan Alam, kita takkan dapat mengelakkan penderitaan dan ketidak-puasan yang tak-boleh tidak harus menyusul perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan Hukum Alam.

Problem-problem dan kerumitan-kerumitan daripada kehidupan yang manusia anggap tak-terpecahkan, adalah akibat daripada kegagalan manusia untuk mengerti apa yang ditunjukkan sebagai hakekat Buddha-Dharma.

Dari empat aspek-aspek Dharma yang kita sudah definisikan, yang satu manakah yang merupakan hekekatnya Buddha-Dharma? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada Canon Pali.

Dalam Samyuttanikaya, Sang Buddha mengungkapkan bahwa pengetahuan yang Beliau capai dengan Penerangan-Batin dapat diperbandingkan dengan banyaknya lembar-lembar daun di hutan, sedangkan yang Beliau ajarkan dipersamakan dengan banyaknya lembar-lembar daun yang tergenggam dalam sebelah tangan. Dari perumpamaan ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa Beliau telah menemukan setiap aspek dari Dharma tetapi Beliau hanya mengajarkan "Empat Kebenaran Mulia", hal mana lebih ditegaskan dalam Alagaddupamasutta, Majjhimanikaya, di dalam mana Beliau menegaskan bahwa Ajaran Beliau hanya berurusan dengan Dukkha dan Penghentiannya. Dalam Culatanhasamkhayyasutta dengan tegas Beliau memeras semua Ajaran-ajaran Beliau ke dalam sebuah kalimat: "SABBE DHAMMA NALAM APPHINIVESAYA" yang berarti "TIADA SESUATU YANG DAPAT DIAMBIL SELAKU PRIBADI ATAU MILIK PRIBADI".

Dari apa yang ditunjukkan di atas kita dapat melihat bahwa Dharma sebagai hekekat Buddha-Dharma berarti segala aspek-aspek dari Alam, baik yang berubah-ubah maupun yang tidak beriubah-ubah haruslah tidak dianggap sebagai pribadi atau milik pribadi. Jika barang-barang dipandang sebagai pribadi maka menjadilah itu bertentangan dengan hukum alam dan timbullah derita apakah secara langsung atau tak-terlihat. Dari itu manusia harus selaras dengan hukum alam dengan jalan berbuat tanpa pamrih, dan selaras pula dengan penyadaran bahwa kedua-duanya pribadi dan ikatan pada pribadi adalah bertentangan dengan hukum alam.

Jika kita semua mengenal bahwa "pribadi" adalah khayal barulah akan mungkin untuk manusia hidup berdampingan dalam satu dunia yang sama dan bebas dari pementingan-diri. Ketidak-terikatan perlu dimengerti dengan sepenuhnya serta dipraktekkan dalam perbuatan, perkataan, dan pemikiran. Konsepsi ketidak-terikatan ini tidak dapat diuraikan secara pemeriksaan-kefalsafahan, spekulatif-theoritis, ataupun secara panjang lebar yang tidak produktif seperti yang digemari dewasa ini. Renungkanlah pada zaman Sang Buddha, pada waktu lama murid-murid Beliau segera menyelam ke dalam hakekat Sang Ajaran dan dengan seketika mencapai Ke-Arahat-an! Mereka tidak bersinggah pada soal-soal falsafah yang rumit-rumit, mereka tidak tersimpangkan oleh refleksi-refleksi kesusastraan atau psychologis. Mereka segera memasuki pelaksanaan Sang Ajaran dan berkat latihan dan ilham sprituil mereka tiba pada Penerangan Batin, walaupun dalam Tri-Pitaka tak kurang penunjukkan-penunjukkan psychologis, karya-karya sastra, sumber-sumber anthropologis dan teori-teori kefalsafahan. Akan tetapi kesemuanya itu bukan hakekat Dharma Sang Ajaran. Kesemuanya itu adalah hanya perhiasan-perhiasan yang telah menempel pada Sang Ajaran Utama. Inti dari Sang Ajaran dapat ditegaskan sebagai pengabdian kepada tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban kita secara bebas dari kepamrihan.

Saya mempertahankan bahwa Ajaran yang pokok dri Buddha-Dharma adalah identik dengan pokok-pokok ajaran agama-agama lain sebab semua agama yang sejati berusaha mengurangi atau memperkecil pementingan-diri dalam manusia. Agama-agama yang theistis mengajar umatnya untuk menyerahkan diri kepada Tuhan atau bersatu dengan Tuhan. Ini adalah jelas selaras dengan pengurangan pementingan-diri dan pengelepasan yang menjadi sebab-sebab daripada kepercayaan dalam egoisme. Bahkan agama-agama yang berpegang pada kekekalan jiwa juga mengajarkan bahwa jiwa atau atman itu akhirnya menunggal dengan Tuhan, dan bertalian dengan ini bahwa jiwa bukan sumber dari keserakahan atau egoisme. Demikianpun bahkan agama yag atheis pun yang berpegang pada perbuatan pribadi juga mengajar pengikut-pengikutnya untuk menganggap hidup sebagai pengorbanan pribadi demi manfaat kolektif daripada manusia. Dan pada zaman Sang Buddha agama-agama yang membawakan doktrin Anatta secara salah karena mereka tidak menyetujui prinsip-prinsip Sang Buddha, namun juga mereka mengajar pengikut-pengikutnya untuk menolak kepercayaan mutlak dalam pribadi dan keserakahan. Dari contoh-contoh di atas kita bisa menyimpulkan bahwa semua agama-agama sebenarnya menganjurkan penghancuran akan ikatan-ikatan pada pribadi dan bahwa kelainan detail yang kecil-kecil atau perbedaan-perbedaan dalam cara pendekatan dan praktek-praktek tidak harus mengelabui kenyataan bahwa ajaran-ajaran yang pokok itu pada umumnya bisa bertemu pada suatu titik yang sama.

Maka itu, Ajaran Sang Buddha bahwa "SEGALA BARANG-BARANG HARUS TIDAK DIPEGANG ERAT" dapat diterapkan ke dalam prinsip-prinsip semua agama-agama yang sejati. Anggota-anggota Persaudaraan Dunia harus tidak membatasi diri pada batas-batas tertentu dari sesuatu agama saja sebab apabila mereka berbuat sedemikian, mereka tidak berbuat selaras dengan Hukum Alam.

Dari itu umat Buddhis harus memperluas persaudaraan dunia mereka sehingga meliputi semua lingkungan-lingkungan dan kepentingan yang selaras dengan Alam. Kalau kita tidak mampu mencapai tujuan ini maka berartilah bahwa kita gagal dalam tugas pendahuluan kita —yaitu, gagal untuk mengerti akan sesama manusia!

Sejalan dengan hal itu kita harus menyadari pula bahwa tidak sedikit orang-orang Buddhis yang belum kita kenal, bahkan mereka sendiri belum mengenal fakta bahwa diri mereka itu Buddhis. Pada hematnya, seorang Buddhis ialah dia yang mengabdikan hidupnya pada pengendalian pikiran dengan menghancurkan keakuan. Cap-cap, dan klasifikasi-klasifikasi tidak penting. Istilah-istilah Theravada dan Mahayana, sebagai satu soal dalam masalah ini, tidak mempunyai arti yang lebih dari menunjukkan manusia kepada kelompok-kelompok bagaikan sapi-sapi! Buddha Dharma tidak mengenal perbedaan-perbedaan dikarenakan mazhab-mazhab. Selagi Sang Buddha di dunia Beliau mengajar dengan Uraian-uraian (Sutta) dan menegakkan Disiplin (Vinaya), dan tidaklah ada sesuatu apapun di dalam Sutta-sutta atau Vinaya itu yang bisa diartikan sebagai sesuatu yang menganjurkan atau membenarkan pembagian-pembagian. Mazhab-mazhab atau Yana berkembang oleh karena manusia menekankan atas bagian-bagian tertentu dari Sutta atau Vinaya, dan dengan berbarengan mengabaikan yang lain-lainnya. Cara-cara mereka yang berbeda-beda telah ditentukan oleh kecenderungan-kecenderungan dan bukan karena pelaksanaan ketidak-terikatan-pribadi. Bahkan dalam Theravada dan Mahayana sendiripun terdapat pembagian aliran-aliran yang lebih jauh pula dan di dalam mana perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan kadang-kadang lebih meruncing dari antara dua cabang besar itu sendiri. Dan tidak jarang umat Buddhis yang taat dan setia bekerja mengejar kepentingan sendiri. Sebaliknya orang-orang yang tidak menganggap dirinya Buddhis (atau tidak dianggap Buddhis oleh umat Buddhis) tetapi terus berusaha memupuk ketidak-pamrihan, mereka itulah harus dianggap Buddhis secara apapun.

Oleh karena orang-orang Buddhis sejati itu telah lama diabaikan dan dalam banyak hal bahkan tak pernah dijadikan bahan pertimbangan, maka sekarang satu tugas berat berada di hadapan WFB. Mungkinkah kita yang menyebut diri Buddhis, menarik dan memisahkan diri dari mayoritas Buddhis sejati itu??? Kalau demikian halnya, kita akan bekerja melawan Hukum Alam untuk meluruskan kembali usaha-usaha kita serta menegakkan hubungan yang harmonis antara manusia dan Hukum Alam (Dharma) kita harus pertama-tama memadamkan prasangka-prasangka dan keserakahan-keserakahan pribadi yang merupakan sebab-sebab utama daripada perpecahan-perpecahan dan pementingan diri. Pemecahan dan jawaban atas soal ini adalah terletak bukan dalam ke-eksklusifan doktrin-doktrin, tetapi dalam kesemestaan (universality) daripada cara pendekatan yang benar pada Dharma.***


Sumber:

Pendekatan Yang Benar Pada Dharma, U. Kumuda Gayasih (penterjemah), Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar