Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nibbana

Nibbana

oleh: Ven. Nârada Mahâthera

Sumber Asli: Karya Tulis Ven.Nârada Mahâthera berjudul BUDDHISM IN A NUTSHELL

Proses kelahiran dan kematian ini berlangsung terus tanpa berhenti sampai arus ini dibelokkan ke Nibbânadhâtu, tujuan akhir umat Buddha. Istilah Pali "nibbâna" berasal dan kata ni dan vâna. Ni merupakan partikel negatif, sedang vâna berarti nafsu atau keinginan. "Disebut nibbâna, karena terbebas dari nafsu yang disebut vana, keinginan". Secara harfiah, nibbâna berarti terbebas dari kemelekatan.

Nibbâna dapat juga diartikan sebagai padamnya keserakahan, kebencian dan kebodohan. Sang Buddha bersabda: "Seluruh dunia terbakar. Terbakar oleh apa? Terbakar oleh api keserakahan, kebencian dan kebodohan; oleh api kelahiran, usia tua, kematian, kesakitan, duka cita, ratap tangis, kesedihan dan keluh kesah".

Nibbâna jangan ditafsirkan sebagai suatu kekosongan atau kemusnahan karena kita tidak dapat memahaminya dengan pengertian duniawi kita. Misalnya seseorang tidak dapat mengatakan bahwa tak ada cahaya, karena orang buta tak dapat melihatnya. Juga seperti dalam sebuah cerita yang terkenal tentang seekor ikan yang berdebat dengan sahabatnya seekor penyu, yang dengan bangga menyatakan bahwa tidak ada daratan.

Dalam agama Buddha, Nibbâna bukan suatu kekosongan atau keadaan hampa melainkan suatu keadaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata secara tepat. Nibbâna adalah sesuatu yang "tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta". Karenanya, Nibbâna bersifat kekal (dbuva), damai (santi), dan bahagia (sukha).

Dalam Nibbâna tidak ada sesuatu yang "diabadikan" atau "dimusnahkan".

Menurut kitab-kitab suci, terdapat dua macam Nibbâna, yaitu Sa-upâdisesa-nibbâna dan Anupâdisesa-nibbâna. Sesungguhnya ini bukan dua macam Nibbâna, karena hanya ada satu Nibbâna. Perbedaan namanya sesuai dengan cara dicapainya, yaitu sebelum atau sesudah kematian.

Nibbâna bukan suatu tempat ataupun semacam surga dimana roh kekal berada. Nibbâna adalah suatu keadaan yang bergantung pada diri kita sendiri. Nibbâna merupakan suatu pencapaian (Dhamma) yang berada dalam jangkauan semua orang. Nibbâna merupakan suatu keadaan di atas keduniawian (lokuttara) yang dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini juga. Agama Buddha tidak mengajarkan bahwa tujuan akhir ini hanya dapat dicapai dalam kehidupan di alam lain. Di sinilah terletak perbedaan pokok antara konsep Buddhis tentang Nibbâna dan konsep non-Buddhis tentang surga kekal yang hanya dapat dicapai setelah kematian atau bersatu dengan Tuhan atau Zat Agung pada kehidupan setelah mati. Apabila Nibbâna dicapai dalam kehidupan sekarang ini, sewaktu masih hidup, itu disebut Sa-upâdisesa Nibbânadhâtu. Bila seorang Arahat wafat, setelah kehancuran tubuhnya, tanpa adanya sisa kehidupan fisik, itu disebut Anupâdisesa Nibbânadhâtu. Dari sudut pandangan metafisik, Nibbâna merupakan kebebasan dari penderitaan. Dari sudut pandangan psikologis, Nibbâna adalah penghancuran egoisme. Dari sudut pandangan etika, Nibbâna adalah penghancuran keserakahan, kebencian dan kebodohan.

Apakah setelah wafat seorang Arahat tetap ada atau tidak? Sang Buddha menjawab: "Arahat yang telah bebas dari lima kelompok kehidupan (khanda) itu sungguh dalam, tak dapat diukur seperti lautan samudra. Menyatakan bahwa ia akan dilahirkan kembali adalah tidak sesuai. Menyatakan bahwa ia tidak dilahirkan kembali atau pun bukan tidak dilahirkan kembali juga tidak benar".

Orang tidak dapat mengatakan seorang Arahat tidak dilahirkan kembali karena semua nafsu keinginan yang mensyarati tumimbal lahir telah dihancurkan; juga orang tidak dapat mengatakan Arahat itu musnah karena tak ada sesuatu yang dimusnahkan.

Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika, menyatakan: "Misalnya, apabila kita bertanya, apakah kedudukan elektron tetap sama, kita harus menjawab 'tidak'. Apabila kita bertanya apakah kedudukan elektron berubah beberapa waktu kemudian, kita harus menjawab 'tidak'. Bila kita bertanya apakah elektron diam, kita harus menjawab 'tidak'; bila kita bertanya apakah elektron bergerak, kita juga harus menjawab 'tidak'".

Sang Buddha telah memberikan jawaban yang sama sewaktu ditanya mengenai kondisi-kondisi seorang Arahat setelah wafatnya.***


Sumber:

INTISARI AGAMA BUDDHA; Nârada Mahâthera; Sangha Theravada Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar