Check out the Latest Articles:

Sabtu, 01 Oktober 2011

Membangun Etos Kerja Buddhis

Membangun Etos Kerja Buddhis

oleh: Bhikkhu Jotidhammo


"Kâlâgatanca na hâpeti attham".

Orang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan. (Khuddaka Nikaya, Jataka, Cakkanipata)


Kehidupan manusia memerlukan sandang, pangan, papan, ditambah obat-obatan yang merupakan kebutuhan hidupnya agar dapat hidup secara layak sebagaimana halnya kehidupan manusia pada umumnya. Bahkan kebutuhan hidup itu akan bertambah semakin banyak seperti pendidikan, kendaraan, hiburan dan lain-lain yang semuanya itu membuat peluang manusia lebih berbahagia hidupnya. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut manusia harus mencari, menggunakan akal budinya untuk mendapatkannnya.

Dan akal budi yang dikembangkan dengan baik akan mendorong manusia untuk mencari nafkah atau pendapatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan hidup tersebut. Mencari nafkah atau pendapatan hanya dapat diperoleh apabila manusia bekerja atau berkarya.

Makin maju dan berhasil manusia bekerja atau berkarya pada umumnya makin mudah mereka menikmati kebutuhan-kebutuhan hidupnya sekaligus makin mudah mereka berbuat kebaikan seperti menolong sesama yang membutuhkan.

Lalu bagaimanakah manusia dapat meraih keberhasilan dalam kerja atau karyanya? Pertama dan utama ialah bagaimanakah manusia mempersiapkan diri sendiri untuk memiliki sikap mental yang tepat dalam menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan. Hal ini jauh lebih penting karena manusia adalah makhluk yang dapat mengolah dirinya ke arah yang akan dituju.

Sikap mental bagaimanakah yang merupakan cambuk menuju keberhasilan bekerja atau berkarya itu?

Sang Buddha mengatakan dalam Dhammapada 160:

"Diri sendiri sesungguhnya tuan bagi dirinya sendiri, karena siapa lagi yang dapat menjadi tuan bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya sendiri dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang amat sukar diperoleh".

Jelas sekali bahwasanya kemajuan ataupun kemunduran usaha kita adalah akibat dari sampai seberapa jauh kita sendiri berusaha. Berkah bukan datang dari surga, sial bukan datang dari neraka. Berkah ataupun sial datang dari usaha diri sendiri. Oleh karena itu apabila manusia menginginkan berkah atau kemajuan maka di tangan manusia sendiri semua itu dapat terwujud nyata. Ketergantungan terhadap sesuatu yang berada di luar diri kita akan menjadikan kita tak mampu betul-betul 'berdiri di atas kaki sendiri', sifat pasrah pada nasib merupakan wujud kekalahan dari usaha kita; oleh karena itu dua hal di atas akan menghambat tumbuhnya kepercayaan diri sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan kita. Orang yang meminta, memohon dan berdoa kepada sesuatu berarti separuh usaha atau mungkin semua usaha sudah dipasrahkan kepada sesuatu itu, sedangkan orang yang selalu berpaling pada nasib akan mudah ragu-ragu dalam mengambil tindakan, sebab segala tindakan yang belum saatnya bernasib baik akanlah percuma dilakukan.

"Segala keadaan yang terbentuk dari berbagai faktor tidaklah abadi, oleh karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh", kata Sang Buddha.

Perjuangan manusia yang percaya pada kemampuan diri sendiri sangatlah diperlukan untuk mengubah keadaan yang serba tidak abadi yang berada di hadapan manusia itu sendiri. Andaikata perjuangan manusia melemah tentu saja keadaan yang diperoleh menjadi menurun, sebaliknya apabila perjuangan manusia meningkat maka keadaan akan menjadi meningkat juga. Hal ini tidak dapat diputar-balikkan, karena sudah ada hukum tersendiri (hukum karma) yang berkuasa atas hal itu.

Kepercayaan manusia bahwa segala keadaan dapat berubah kalau manusia itu sendiri mau mengubahnya, atas usaha manusia sendiri pula adalah akar dasar dari tumbuhnya sikap mental kerja.

Sang Buddha menunjukkan adanya empat sikap mental kita yang perlu kita bangun untuk mewujudkan etos kerja Buddhis (Empat Iddhipada):

1. Canda (kepuasan dan kegembiraan di dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan).

Kepuasan dan kegembiraan di sini menunjukkan adanya keserasian antara keinginan, kemampuan ataupun kepribadian kita dengan pekerjaan yang sedang kita garap. Jadi justru pada saat kita menghadapai dan menyelesaikan pekerjaan itulah kepuasan dan kegembiraan kita nikmati. Hal ini sangatlah membantu sekali dalam membangun etos kerja Buddhis yang sehat sehingga sering kali manusia memilih atau bahkan diarahkan kepada pilihan pekerjaan tertentu yang dikatakan sesuai dengan bakatnya. Ada kalanya manusia mempunyai kekeliruan bahwa mereka hanya bekerja untuk memperoleh kepuasan/kegembiaraan pada hasil akhirnya saja sehingga mereka tidaklah menikmati kepuasan/kegembiraan selama mengerjakan pekerjaannya itu. Sehingga mudah sekali muncul kekecewaaan apabila mereka tidak memperoleh hasil yang diharap-harapkannya. Inilah sebenarnya merupakan dorongan hawa nafsu yang sangat besar yaitu penderitaan kekecewaan dan juga kepuasan yang tidak memuaskan. Oleh karena itu sebenarnya kepuasan itu hendaknya kita nikmati pada saat kita berkiprah dalam pekerjaan kita yang sekaligus kehidupan kita, adapun hasil pekerjaan kita adalah akibat langsung dan sepadan dari apa yang telah selesai kita kerjakan dengan penuh kepuasan itu. Akibat lain yang juga kita terima dari kepuasan selama kita bekerja adalah terpusatnya perhatian kita kepada pekerjaan yang sedang kita garap itu. Ini merupakan faktor pendukung keberhasilan pekerjaan kita.

2. Viriya (usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu).

Kegigihan, keuletan, merupakan salah satu faktor pembentuk sikap kerja yang positif. Ia tidak mudah putus asa sehingga berhenti berusaha. Banyak orang yang berhenti berusaha setelah merasakan begitu lambat hasil yang ingin diraihnya sehingga muncullah kebosanan atau kejenuhan. Bahkan ada orang yang berhenti berusaha sebelum memulainya, tentu saja ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang tekun, teguh, gigih dalam usahanya untuk mendapatkan kemajuan atau keberhasilan. Sebenarnya kegigihan, keuletan berada setingkat lebih atas daripada bakat, ketrampilan, bahkan pendidikan, karena tidak jarang di antara mereka-mereka yang berbakat, trampil dan berpendidikan itu kandas di tengah-tengah usahanya.

Thomas A. Edison menghasilkan banyak penemuan termasuk lampu bohlam listrik, gramafon dll. Orang boleh iri terhadap kejeniusan Edison yang kreatif, tetapi apakah pernyataan Edison yang luar biasa terhadap proyeknya?

"Kejeniusan ialah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen adalah keringat; saya tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja. Demikian juga penemuan saya yang tidak terjadi karena suatu kebetulan. Penemuan itu terjadi karena saya kerjakan".

Usaha yang bersemangat ini bukan hanya usaha untuk meraih keberhasilan dalam pekerjaan, tetapi perlu juga kita perhatikan usaha yang bersemangat untuk melakukan apa saja yang sekiranya baik dan mendukung kemajuan pekerjaan kita. Bahkan perlu juga kita menyadari apakah ada hal-hal yang tidak mendukung kemajuan pekerjaan kita, tentu saja hal ini perlu usaha yang bersemangat untuk menyingkirkannya.

3. Citta (memperhatikan dengan sepenuh hati hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkannya begitu saja).

Orang yang memperhatikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh akan menyebabkan ia dapat menyelesaikan pekerjaannya itu dengan baik. Perhatian, kewaspadaan terhadap pekerjaan kita merupakan sikap yang menjauhkan kita dari kelalaian dan peluang keberhasilan yang lewat berlalu. Sering kali kelalaian dalam pekerjaan kita menyebabkan banyaknya kesalahan atau kegagalan dan pemborosan waktu yang sebenarnya berguna untuk kemajuan. Sedangkan peluang keberhasilan yang lewat tanpa kita ketahui merupakan keterlambatan kemajuan. Oleh karena itu dengan perhatian pulalah kita dapat mengetahui saat munculnya peluang emas keberhasilan. Dan juga perhatian serta kewaspadaan menjaga diri kita agar tidak mudah berpaling kepada hal-hal lain yang berada di luar pekerjaan kita yang dapat mengakibatkan perhatian terhadap pekerjaan semula berkurang sehingga semangat semula pun dapat menurun dan bahkan dapat berpindah-pindah pekerjaan sebelum suatu pekerjaan selesai.

4. Vimamsa (merenungkan dan menyelidiki hal-hal yang sedang dikerjakan).

Pekerjaan kita sebenarnya menyimpan banyak pendapat, gagasan, ide baru yang tak nampak mata tetapi akan tampak jelas apabila dilakukan perenungan atau penyelidikan seksama terhadapnya, inilah sebenarnya yang memberi peluang bagi timbulnya kreatifitas, gagasan dan ide-ide menarik yang kadang-kadang di luar angan-angan. Makin luas wawasan perenungan serta penyelidikan kita makin lebar ide dan gagasan yang dapat dijangkau dalam bentuk apapun. Jarang orang dapat menumbuhkan ide atau gagasan atau penemuan baru yang sebenarnya tidaklah aneh karena semua itu ada di sekeliling kita. Mereka yang mendapatkan penemuan baru betul-betul merupakan orang berjasa dalam mengembangkan pekerjaan atau karyanya itu. Kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi merupakan hasil ide atau gagasan yang cemerlang dari mereka-mereka yang penuh perhatian disertai perenungan dan penyelidikan terhadap apa yang dikerjakannya. Sehingga manusia dengan pekerjaan atau karyanya akan berkembang maju bersama-sama.

Empat macam faktor tersebut di atas saling berkaitan satu sama lain dan merupakan faktor-faktor pembentuk sikap mental etos kerja Buddhis yang sebenarnya. Hanya saja semua faktor itu perlu ditumbuh-kembangkan dalam diri manusia lewat suatu proses perkembangan praktek secara terus menerus dan berkesinambungan.

Niscaya apabila keempat faktor itu dapat tumbuh dalam diri manusia pekerja atau pekarya, maka macam pekerjaan atau karya apapun yang dihadapi dan diselesaikan oleh manusia itu merupakan fragmen hidupnya yang sangat mengasyikkan.

Kiranya perlu juga kita perhatikan suatu kaitan nyata yang tak dapat dipisahkan dengan sikap mental pribadi etos kerja Buddhis itu adalah peranan penting dari hubungan antar manusia yang langsung terlibat dalam kerja tersebut. Terutama pekerjaan yang ditangani banyak orang tidaklah dapat dipungkiri begitu besar peranan hubungan timbal balik antara manusia, pekerjaannya dan atau antara atasan dan bawahan.

Menurut Sang Buddha, hubungan timbal balik tersebut perlu dijalin dengan keserasian dalam empat hal (Empat Sanghavatthu):

1. Dâna.

Memberi dan membagi barang-barang kepada orang lain yang pantas menerimanya.
2. Piyavâcâ.

Berbicara atau membicarakan sesuatu dengan menyenangkan.
3. Atthacariyâ.

Melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain (menolong).
4. Samânattatâ.

Memiliki ketenangan dan tidak sombong.

Empat hal inilah yang membuat suasana sehat dalam suatu lapangan pekerjaan apapun juga apabila dapat terwujud dengan nyata.

Kini kesempatan yang bagaimanakah yang dapat memberikan manfaat pada orang yang rajin?

Sang Buddha mengatakan dalam Anguttara Nikaya III, 65 seperti berikut ini:

Terdapat lima kesempatan tepat untuk berusaha keras. Apakah lima kesempatan tersebut?

Apabila sesorang masih muda, nampak muda, hitam rambutnya, mempunyai keindahan masa muda dan pada usia yang sebaik-baiknya. Inilah kesempatan tepat pertama untuk berusaha keras.

Kemudian jika seseorang memiliki kesehatan dan kekuatan, dengan pangan yang baik yang tidak terlalu panas maupun tidak terlalu dingin. Inilah kesempatan tepat kedua untuk berusaha keras.

Jika tak terjadi kelaparan dan hasil panen baik, makanan dengan mudah diperoleh dan seseorang dapat dengan mudah hidup, menabung dan murah hati. Inilah kesempatan tepat ketiga untuk berusaha keras.

Apabila manusia hidup saling bersahabat, harmoni seperti air dengan susu bercampur, jauh dari pertengkaran serta tidak memandang satu sama lain dengan tidak senang. Inilah kesempatan tepat keempat untuk berusaha keras.

Dan sekali lagi, apabila Sangha hidup dalam suasana persahabatan, puas dengan ajaran yang tunggal, kemudian mereka tidak saling mencerca, tidak saling menuduh, berselisih, berdebat, tetapi mereka dari sedîkit keyakinan mengharapkan keyakinan yang utuh dan keyakinan mereka tumbuh dengan menyakinkan. Inilah kesempatan tepat kelima untuk berusaha keras.***


Sumber:

BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar