Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Ajaran Buddha dan pengetahuan modren

Ajaran Buddha dan pengetahuan modren
Apakah ajaran Buddha bertentangan dengan pengetahuan modern?
Di antara semua agama besar di dunia, ajaran Buddhis tidak memiliki konflik besar atau yang berarti dengan penemuan pengetahuan modern. ia tidak memiliki mitos suatu pencipta juga tidak mencoba untuk menghubungkan fenomena alam dengan akibat-akibat gaib.
Ia sepenuhnya merangkul Teori dari Evolusi yang cukup jelas menerangkan doktrin Buddhis tentang ketidak-kekalan. Jadi ajaran Buddhis tidak memiliki kesukaran dengan sisa-sisa fosil, penanggalan berdasarkan karbon, dan bukti geologi yang digunakan pengetahuan modern dalam menentukan usia dari bumi yang berkisar sekitar 4.5 milyar tahun. Penemuan ini pada kenyataannya mengkonfirmasikan komentar Buddha tentang keberadaan bumi yang telah berlangsung berkalpa-kalpa lamanya.
Buddha telah berkata secara khusus tentang adanya tata surya yang tak terhitung jumlahnya di semesta ini dan bumi kita hanya seperti bintik abu dibandingkan dengan alam semesta yang luas dan beragam ini. Beliau tidak menyatakan bahwa bumi diciptakan oleh sesuatu makhluk surgawi atau manusia adalah ciptaan istimewa dari makhluk tersebut.
Dengan menggunakan astronomi modern, satelit dan radio teleskop, kita dapat mengamati trilyunan bintang dan milyaran galaxi di semesta; dan melihat dengan jelas bahwa Buddha melakukan pengamatan yang sangat tepat tentang bumi kita di semesta.
Konsep Buddha tentang waktu, dalam konteks alam semesta, nampaknya sangat sesuai dengan pengetahuan modern. Ajaran Buddha mengukur skala waktu dari semesta dalam satuan ‘kalpa’ yang tidak terbayangkan betapa panjangnya waktu. Beliau memberikan perumpamaan kain sutra yang digunakan untuk menyikat puncak dari gunung sekali dalam seratus tahun. Waktu yang diperlukan bagi gunung untuk menjadi usang sekitar satu ‘kalpa’ lamanya. Oleh sebab itu, kosmologi Buddhis cukup berdekatan dengan perkiraan ilmiah modern tentang usia dari semesta, yang diperkirakan sekitar 13.7 milyar tahun.
Juga dengan sangat menarik, Buddha menyebutkan bahwa semesta dalam kondisi yang terus mengembang dan menyusut dan proses ini berlangsung untuk waktu yang tidak terbayangkan lamanya, atau untuk banyak ‘kalpa’. Kelihatannya, Beliau mengantisipasikan teori pergerakkan semesta lebih dari 2500 tahun lamanya.
Dalam salah satu kotbahnya, Buddha memegang secangkir air dan berkata bahwa ada makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya dalam air. Untuk waktu yang lama, tidak ada siapapun yang memahami maksud ucapan Beliau, tetapi sekarang, kita dapat melihat melalui mikroskop bahwa pada kenyataannya terdapat mikro-organisme yang tak terhitung jumlahnya dalam cangkir air manapun. Jadi, masih banyak hal-hal yang diucapkan Buddha yang masih perlu untuk ditemukan dan dipahami.

William Shakespeare, di Hamlet :
“Ada lebih banyak hal-hal di surga dan di bumi, Horatio,
  daripada mimpi-mimpi filosofi anda.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar