Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Akibat Hukum Kamma (Dhammapada I:1) Oleh: Bhikkhu Guñasῑlo

Akibat Hukum Kamma

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Akibat Hukum Kamma

Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā;
Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā;
Tato naṁ dukkhamanveti, cakkaṁ va vahato padaṁ.
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,
maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah
kaki lembu yang menariknya.
(Dhammapada I:1)

Di dunia ini, kita mengenal salah satu hukum yang tidak dapat ditawar, dicegah, ataupun disogok, Hukum ini disebut dengan hukum kamma. Hukum ini berlaku di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Bahkan seorang Buddha sekalipun yang sudah mencapai penerangan sempurna, masih menerima akibat dari kamma lampau sebelum mencapai penerangan sempurna, kecuali bila sudah Parinibbàna. Di mana Beliau sudah menghentikan proses kamma.

Banyak di antara kita selalu meremehkan terhadap hukum kamma dengan berkata, ”Saya hanya melakukan perbuatan kecil, yang tentunya tidak akan berakibat apa-apa.” Kadang banyak orang berlomba untuk mencari keuntungan walaupun keuntungan tersebut dapat menimbulkan penderitaan pada makhluk lain, seakan-akan mereka tidak peduli terhadap hukum kamma. Sebenarnya mereka bukan tidak tahu terhadap hukum ini, karena diliputi oleh keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, maka apapun yang diinginkan ia selalu berusaha mendapatkannya, tidak peduli dengan akibat dari kamma. Apabila perbuatan tersebut sudah berbuah, barulah ia merasakan akibatnya. Dalam sebuah cerita Dhammapada, diceritakan kisah seorang bhikkhu yang bernama Cakkhupāla . Suatu hari, Bhikkhu Cakkhupāla Thera berkunjung ke Vihàra Jetavana untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Malamnya, saat melakukan meditasi jalan, Sang Thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga. Keesokan paginya, serombongan bhikkhu bermaksud mengunjungi Sang Thera dan di dekat tempat Sang Thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.

”Mengapa di sini banyak serangga yang mati? Jangan-jangan ini perbuatan Sang Thera!” Seru seorang bhikkhu. ”Kok bisa begitu?” tanya yang lain. ”Begini, sebelum Sang Thera berdiam di sini, tak ada kejadian seperti ini. Mungkin Beliau merasa terganggu, lalu membunuh serangga-serangga tersebut. Itu berarti pelanggaran vinaya, ini perlu kita laporkan kepada Sang Buddha, bahwa Cakkhupāla Thera telah melanggar vinaya,” sambung sebagian bhikkhu tersebut. Para bhikkhu tersebut berubah haluan dan bersama-sama menghadap Sang Buddha untuk melaporkan bahwa Cakkhupāla Thera telah melanggar vinaya! Mendengar laporan para bhikkhu, Sang Buddha bertanya, ”Para bhikkhu, apakah kalian telah melihat sendiri pembunuhan itu?” ”Tidak Bhante”, jawab mereka serempak. Sang Buddha kemudian menjawab, ”Kalian tidak melihatnya, demikian pula Cakkhupāla juga tidak melihat serangga-serangga itu, karena matanya tidak dapat melihat. Selain itu, Bhikkhu Cakkhupāla telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Ia tidak mempunyai kehendak untuk membunuh.”

“Mengapa seorang yang telah mencapai Arahat tapi buta?” tanya beberapa bhikkhu. Maka Sang Buddha menceritakan kisah di bawah ini: Pada kehidupan lampau, Cakkhupāla terlahir sebagai seorang tabib yang handal. Suatu ketika datang seorang wanita miskin. ”Tuan, tolong sembuhkanlah penyakit mata saya ini. Saya tidak bisa membayar pertolongan Tuan dengan uang karena saya miskin. Tetapi, apabila sembuh, saya berjanji dengan anak-anak saya akan menjadi pembantu Tuan,” pinta wanita itu. Permintaan itu disanggupi oleh sang tabib.

Perlahan-lahan penyakit yang parah itu mulai sembuh. Sebaliknya, wanita ini menjadi ketakutan, apabila penyakit matanya sembuh, ia dan anak-anaknya akan menjadi pembantu tabib itu. Dengan marah-marah ia berbohong kepada sang tabib, bahwa matanya bukannya sembuh, malahan bertambah parah.

Setelah diperiksa dengan cermat, sang tabib tahu bahwa wanita miskin itu telah berbohong kepadanya. Tabib itu menjadi tersinggung dan marah, tetapi tidak diperlihatkan kepada wanita itu. ”Oh, kalau begitu akan ku ganti obatmu”, demikian jawabnya. ”Nantikan pembalasanku!” serunya dalam hati. Benar, akhirnya wanita itu menjadi buta total karena pembalasan sang tabib.

Sebagai akibat dari perbuatan jahatnya, tabib itu telah kehilangan pengelihatannya pada banyak kehidupan selanjutnya.

Dari cerita ini kita bisa mengerti hukum kamma, betapa mengerikan apabila kamma buruk itu berbuah. Oleh karena itu, sebagai umat Buddha yang baik, janganlah membalas kebencian dengan kebencian, janganlah berbuat kejahatan, tambahlah kebajikan, sucikanlah pikiran dengan selalu rajin bermeditasi. Barang siapa yang selalu banyak melakukan kebajikan selama hidup, maka ia akan memperoleh kebahagiaan baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.

Oleh: Bhikkhu Guñasῑlo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar