Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Saraniyadhamma Sutta (Sutta Tentang Hal-hal yang Membuat Dikenang) : Bhikkhu Piyadhiro

Saraniyadhamma Sutta (Sutta Tentang Hal-hal yang Membuat Dikenang)


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Demikianlah telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā berdiam di Jetavana, ārāma milik hartawan Anāthapiṇḍika, di dekat kota Sāvatthī. Saat itulah Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu, ”Wahai para Bhikkhu!” ”Baik, Yang Mulia,” sahut para bhikkhu kepada Sang Bhagavā. Sang Bhagavā lalu membabarkan sutta ini.

”Duhai para Bhikkhu, terdapat enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan. Apakah keenam hal itu?”

”Duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki ucapan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki pikiran yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacārī, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu berbagi catupaccaya yang diterima, sebagai sesuatu yang pantas, yang diperoleh dengan cara yang pantas, meskipun barang dua tiga suap makanan; menggunakannya sebagai milik bersama dengan sesama brahmacārī pelaksana sīla. Inilah hal yang membuat saling mengenang, saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pelaksanaan sīla dengan sesama brahmacārī, baik di depan ataupun di belakang mereka; sebagai pelaksana sīla yang tidak terputus-putus, yang tidak berlobang, yang tidak belang, yang tak ternoda di sana sini, yang mengatasi, yang dipuji para bijaksana, yang tak disertai dengan taṇhā dan pandangan salah, yang dilaksanakan demi (pengembangan) samādhi. Inilah hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pemegangan pandangan benar (sammādiṭṭhi) dengan sesama brahmacārī, baik di depan ataupun di belakang mereka; yang luhur, yang menjadi pembimbing, pembimbing pelaksana ke akhir dukkha secara benar. Inilah hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

”Duhai para Bhikkhu, inilah enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan, dan kesatuan.”

Demikian Sang Bhagavā bersabda. Para bhikkhu berpuas hati dan bergembira atas sabda Sang Bhagavā.

(Chakkanipāta, Aṅguttara Nikāya)
(09 November 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar