Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Dhamma Sebagai Pelindung Kita

Dhamma Sebagai Pelindung Kita

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Adalah wajar bilamana semua makhluk hidup di dunia ini mengharapkan kebahagiaan dan terhindar dari mara bahaya. Termasuk juga manusia sebagai makhluk yang berakal, mereka juga berlomba mengumpulkan kebutuhan hidupnya, harta, dan barang-barang demi kebahagiaannya. Apakah benar barang-barang ini dapat memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya?

Bilamana kekayaan atau benda itu diperolehnya dengan cara yang benar sesuai Dhamma, memang hal itu dapat merupakan faktor bagi timbulnya kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, bila kekayaan atau benda itu diperolehnya bukan dengan cara yang benar menurut Dhamma, maka bukannya kebahagiaan yang akan diterimanya, melainkan penderitaan yang akan diperolehnya.

Pada umumnya, semua kepercayaan dan agama selalu mengajarkan kebahagiaan dan penderitaan, serta bagaimana cara memperoleh kebahagiaan itu serta bisa terhindar dari segala macam bentuk penderitaan. Untuk kebutuhan itu, maka tidak sedikit ajaran dan kepercayaan di dunia ini yang mengajarkan ajarannya agar dilaksanakan sesuai perintahnya. Kalau seseorang taat pada perintah ajarannya akan diberikan pahala, namun bagi mereka yang tidak menjalankan perintah ajarannya akan diberikan hukuman sebagai ganjarannya. Terkadang juga harus ditakut-takuti agar mau melaksanakan ajaran tertentu atau diberi iming-iming yang menggiurkan.

Dari beberapa cara yang diajarkan itu, tentu saja berpengaruh dalam masyarakat, yaitu orang-orang yang menjalankan ajaran agama dan kepercayaan itu bukan karena dengan pengertian yang benar, akan tetapi karena ketakutan. Sedangkan yang lain lagi menginginkan pahala agar memperoleh keberuntungan, kemashyuran, umur panjang, keelokan, dan kelahiran di surga sebagai imbalannya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan namun dapat memperoleh apa yang diharapkan, beberapa kelompok masyarakat yang rajin dan taat sembahyang mengadakan upacara korban, pergi ke gunung-gunung, ke tempat-tempat keramat, ke tempat-tempat pemujaan, bahkan ada pula yang mendatangi para dukun dan sebagainya yang dianggap dapat memberikan kebahagiaan, keselamatan, dan perlindungan.

Lalu bagaimana dengan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, Guru yang bijaksana? Sang Buddha memberi petunjuk bagaimana cara yang benar untuk memperoleh kebahagiaan. Meskipun bersifat sementara, kebahagiaan di dunia masih berguna bagi kehidupan. Sebab bila tidak ada kebahagiaan hidup, manusia akan tidak ada artinya. Menurut Dhamma, bila kita mencari kebahagiaan hendaknya kita tidak meninggalkan kemoralan (sīla), yaitu Pañcasīla. Harta atau kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak berlandaskan kemoralan (sīla) adalah laksana empedu yang tertutup oleh lapisan gula; memberikan rasa manis yang sekejap dan kemudian rasa pahit yang tidak terkira.

Untuk itu, kita harus menyadari ada dua macam kebahagiaan (sukha), yaitu:

1. Samisa-sukha, bahagia yang bermata kail.

Kebahagiaan yang di dalamnya mengandung ratap tangis dan kekecewaan.

2. Niramisa-sukha, bahagia yang tidak bermata kail.

Kebahagiaan sejati, karena di dalamnya tidak mengandung ratap tangis dan kekecewaan. Kebahagiaan yang membuat hati tenang dan tenteram.

Kebahagiaan pertama ialah kebahagiaan yang diperoleh mengikuti hawa nafsu (kamachanda) yang tidak pernah merasa puas. Bila diikuti terus menyebabkan makhluk hidup terus berputar tak ada akhirnya dalam roda tumimbal lahir (bhavacakka).

Sebaliknya, kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan batin yang terbebas dari pengaruhnya nafsu. Dapat dicapai dengan menahan diri (kama-saṁvara). Disebut kebahagiaan tak bermata kail karena merupakan suatu kemenangan dalam perjuangan jalan kesucian.

Ajaran Pañcasīla Buddhis mempunyai dasar pemikiran cinta kasih universal dan belas kasihan terhadap semua makhluk, yang juga menjadi dasar ajaran Sang Buddha. Karena itu, harus disesalkan bahwa cita-cita serta pemikiran yang luhur ini sering dilupakan oleh ilmuwan yang hanya menulis tentang agama Buddha yang berhubungan dengan filsafat dan metafisika yang tinggi dan kering.

Ajaran Sang Buddha sebenarnya ”untuk kepentingan orang banyak” dan ”untuk kebahagiaan orang banyak” yang tercetus keluar dalam perasaan cinta kasih dan belas kasihan yang murni terhadap dunia ini serta seluruh isinya.

Menurut pandangan agama Buddha, untuk memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan dalam hidup, ada dua sifat yang harus dikembangkan juga secara bersamaan yaitu mettā-karunā (cinta-kasih dan belas- kasihan) dan paññā (kebijaksanaan).

Mettā-karunā mencakup cinta kasih, suka beramal, ramah tamah, toleransi, dan sifat luhur lainnya yang ada hubungannya dengan perasaan (emosi) atau sifat-sifat yang timbul dari hati, sedangkan paññā ada hubungannya dengan intelek (kecerdasan) atau sifat-sifat yang timbul dari pikiran. Ajaran ini sebenarnya adalah untuk mengurangi bahkan menghancurkan segala macam bentuk keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha) yang ada dalam diri kita ini. Karena menurut Buddha, munculnya kebahagiaan dan penderitaan itu dari diri kita sumbernya. Oleh karena itu, kalau kita menginginkan hidup yang bahagia, berusahalah untuk mengikis kekotoran batin tersebut sampai ke akar-akarnya.

Inilah tujuan dari ”way of life” seorang Buddhis, yaitu kebijaksanaan, cinta kasih, dan belas kasihan yang berpadu secara harmonis dalam satu kesatuan yang utuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar