Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

KUMPULAN 26-50 dari 50 TANYA JAWAB - 4

KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (4)
Di Website Buddhis ‘Samaggi Phala’
Oleh Bhikkhu Uttamo

26. Dari: Lily Halim, Jakarta
Terima kasih Bhante mau ceramah 2 hari di Jakarta.
Ada orang yg memberitahukan bahwa, jika ada Bhante yang berceramah sebaiknya
tidak bertepuk tangan. Apa benar ? Apa melanggar vinaya ?

Jawaban:
Bertepuk tangan pada saat orang merasa senang mendengar suatu uraian atau
keterangan yang diberikan oleh seorang pembicara dalam suatu pertemuan umum
adalah merupakan hal wajar dalam masyarakat. Tepuk tangan ini menjadi kurang
wajar apabila dilakukan di saat seorang bhikkhu sedang memberikan ceramah
Dhamma di kebaktian umum. Ceramah Dhamma di kebaktian umum biasanya
dilakukan secara resmi dan bersifat ritual keagamaan. Dalam tradisi Buddhis, tepuk
tangan dalam kesempatan ini adalah merupakan bentuk perilaku yang kurang sopan.
Namun, apabila seorang bhikkhu sedang berbicara di forum umum, mungkin dalam
suatu seminar, ataupun memberikan sambutan tertentu yang dilakukan diluar format
ritual keagamaan, maka para pengunjung atau pendengar masih dibenarkan untuk
bertepuk tangan sebagai ungkapan kebahagiaannya.
Jadi, kesimpulannya, tepuk tangan adalah hal yang wajar sejauh orang dapat
menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi acara yang sedang dihadirinya.
Semoga keterangan ini dapat memperluas wawasan para umat Buddha untuk dapat
bersikap tepat pada saat mendengarkan suatu ceramah yang dilakukan oleh seorang
bhikkhu.
Semoga selalu berbahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

27. Dari: Hadianto, Jakarta
Namo Buddhaya,
Saya ingin bertanya kepada Bhante mengenai meditasi. Selama ini saya mencoba
melaksanakan meditasi fokus pada pernapasan. Cuma saya masih ragu apakah
menyadari masuk keluar napas saja, atau memperhatikan napas keluar masuk satu
titik (antara hidung dan mulut).
Menurut Bhante mana yang lebih baik untuk umat awam.
Terima kasih

Jawaban:
Pada prinsipnya, meditasi adalah latihan untuk meningkatkan kesadaran pada segala
sesuatu yang dilakukan oleh badan, ucapan dan bahkan pikiran. Untuk melatih
kesadaran ini, pikiran pada saat bermeditasi hendaknya dipusatkan pada obyek
meditasi yang telah dipilih, sedangkan badan dan ucapan hendaknya ditenangkan
semaksimal mungkin. Obyek meditasi yang dipilih dapat bermacam-macam. Salah
satu obyek meditasi yang sangat digemari oleh para guru meditasi adalah perhatian
pada proses pernafasan. Pada saat bermeditasi, seseorang hendaknya bernafas normal
seperti biasa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, proses pernafasan
ini hendaknya disadari dengan sungguh-sungguh. Pada saat nafas masuk, sadarilah
nafas sedang masuk, demikian pula pada saat nafas keluar. Pada saat bernafas pendek,
sadarilah demikian pula pada saat bernafas panjang. Pada saat bernafas dengan
dangkal, sadarilah begitu pula ketika bernafas dalam-dalam. Untuk dapat menyadari
adanya proses pernafasan ini, setiap orang mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda.
Ada orang yang mudah berkonsentrasi bila memperhatikan lubang hidung tempat
udara mengalir keluar masuk. Ada pula orang yang lebih mudah berkonsentrasi
dengan merasakan udara yang lewat di pangkal hidungnya. Ada juga yang suka
bermeditasi dengan mengamati proses naik turunnya perut seiring dengan masuk
keluarnya pernafasan. Demikian seterusnya masih cukup banyak bagian tubuh yang
dapat diperhatikan oleh seseorang dalam bermeditasi dengan obyek pernafasan.
Namun, disarankan untuk orang yang mulai berlatih meditasi hendaknya dimulai
dengan merasakan atau memperhatikan bagian hidung atau perut sebagai obyek
meditasi.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

28. Dari: Eurika & Sarah, Surabaya
Namo Buddhaya Bhante.
Kami ingin menanyakan beberapa pertanyaan :
1. Orang bagaimana yang disebut ber-Tuhan?
2. Apakah seorang Samma Sambuddha pasti terlahir di India?
3. Ada ramalan yang menyebutkan bahwa pada waktu kiamat akan ada 7 matahari.
Bagaimana kita bisa membuktikan kalau hal itu benar mengingat ramalan setiap
agama tentang kiamat berbeda-beda?
Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban:
1. Dalam masyarakat memang terdapat beberapa konsep ketuhanan yang berbedabeda.
Agama Buddha juga memiliki konsep ketuhanannya sendiri. Untuk dapat
memahami konsep tersebut, silahkan baca KETUHANAN YANG MAHAESA
DALAM AGAMA BUDDHA yang terdapat pada Samaggi Phala, Naskah Dhamma.
Karena adanya perbedaan konsep ketuhanan tersebut, maka dalam pandangan
Dhamma seseorang disebut sebagai bertuhan bukanlah karena ia memiliki
kepercayaan kepada Tuhan, melainkan orang yang memiliki PERBUATAN baik dan
membahagiakan lingkungannya. Perbuatan baik ini meliputi kebaikan lewat ucapan,
perilaku dan juga pikiran.
Seseorang akan menjadi baik perilakunya apabila ia merasa MALU berbuat
kejahatan. Ia memiliki pengertian bahwa perbuatan jahat hendaknya tidak diketahui
oleh orang lain. Sikap ini akan menjadikannya sebagai orang baik di kala ia
berkumpul dengan orang lain. Namun, ketika ia sedang sendirian, ia tidak sebaik
ketika ia bersama dengan orang lain. Sikap baik seperti ini adalah sikap baik yang
palsu atau munafik. Sikap ini dapat terus bertahan dalam diri seseorang atau akan
menjadi awal dimilikinya sikap baik yang sesungguhnya.
Sikap atau perilaku yang lebih baik daripada hanya sekedar memiliki rasa malu
berbuat jahat adalah memiliki rasa TAKUT AKAN AKIBAT PERBUATAN JAHAT.
Seseorang hendaknya memahami bahwa segala sesuatu yang ia lakukan akan ia petik
pula buah perbuatannya. Orang yang melakukan kebaikan akan mendapatkan
kebahagiaan. Sebaliknya orang yang melakukan kejahatan akan mendapatkan
penderitaan. Dengan memahami hukum perbuatan semacam ini, maka orang akan
terdorong untuk menghindari perilaku jahat dan mengembangkan perilaku baik.
Dorongan untuk menghindari kejahatan ini bukan timbul dari lingkungan, melainkan
dari dalam dirinya sendiri. Orang ini akan merasa takut akibat perbuatan jahat yang
tidak dapat diwariskan kepada orang lain kecuali kepada dirinya sendiri. Orang ini
akan menjadi orang baik di depan orang lain maupun ketika ia sedang sendirian. Ia
telah menjadi pengawas untuk perbuatannya sendiri. Orang dengan kualitas batin
seperti inilah yang layak disebut sebagai orang yang bertuhan.
2. Seorang Sammasambuddha adalah orang yang berjuang dan berusaha untuk
mencapai kemurnian batin atau kesucian. Setelah mencapai kesucian, Beliau juga
memiliki kemampuan untuk mengajarkan Dhamma kepada semua mahluk agar
mereka semua mendapatkan kesempatan untuk membersihkan batin dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Seorang Sammasambuddha sesungguhnya dapat terlahir di negara manapun juga.
Memang, nama para Buddha yang disebutkan dalam Tipitaka mengesankan bahwa
para Sammasambuddha tersebut semua berasal dari India. Ada pendapat mengenai
hal ini. Pendapat tersebut menyatakan bahwa nama para Buddha yang menggunakan
nama India ini disebabkan karena cerita para Buddha itu disampaikan oleh Sang
Buddha Gotama yang berasal dari India. Dengan demikian, Beliau menggunakan
bahasa India sebagai media komunikasi. Konsekuensi logisnya, nama para Buddha
itupun disebut dan dibahasakan dalam bahasa India.
Diperkirakan, apabila Sang Buddha Gotama terlahir di negara lain, maka nama para
Buddha itupun akan sesuai dengan tempat dan bahasa yang dipergunakan oleh Beliau.
Jadi, sebagai kesimpulan: Penyebutan nama para Buddha dengan menggunakan
bahasa India itu bukan berarti bahwa semua Buddha selalu terlahir di India. Hal ini
adalah sebagai akibat dari keterbatasan bahasa sebagai alat komunikasi.
3. Penyebab kiamat dunia ini memang sering menjadi perdebatan di banyak tempat.
Kepercayaan akan saat terjadinya kiamat juga telah 'memakan' korban orang yang
mempercayainya secara membuta. Masih jelas dalam ingatan masyarakat bahwa
pernah ada pendapat tentang kiamat akan terjadi pada tanggal 9-9-1999 pukul
09.09.09 dan juga tanggal 1 Januari 2000 pada saat memasuki milenium ketiga.
Namun, ternyata kedua 'ramalan' itu terbukti keliru. Dunia masih tetap ada hingga
saat ini.
Disebutkan dalam Dhamma bahwa kiamat dunia ini akan terjadi pada saat munculnya
tujuh matahari secara bertahap di bumi ini. Peristiwa ini mungkin saja bisa terjadi
mengingat telah banyak pakar astronomi yang menyatakan bahwa sebagian bintang di
langit adalah merupakan matahari juga. Padahal pergerakan benda angkasa tidak
melingkar melainkan elips. Oleh karena itu, ada kemungkinan karena pergerakan
elips, benda angkasa itu akan saling berdekatan. Pada saat itulah, mungkin matahari
di bumi ini tidak hanya satu lagi namun menjadi dua buah. Setelah itu, seiring dengan
berjalannya waktu, mungkin akan timbul lagi matahari ketiga, dst sampai timbulnya
matahari ke tujuh. Pada saat timbulnya matahari ketujuh itulah dikatakan dalam
Dhamma bahwa bumi ini akan kiamat. Namun, kiamat bumi ini bukanlah berarti
habis segala-galanya melainkan menjadi awal proses terbentuknya kembali bumi ini.
Melihat kenyataan adanya berbagai perbedaan penyebab kiamat bumi ini, maka sikap
seorang umat Buddha seharusnya tidak terdorong untuk membuktikan penyebab
kiamat. Pembuktian ini selain tidak memberikan manfaat untuk meningkatkan
kualitas batin, juga akan menyia-nyiakan waktu kehidupan yang sangat berharga. Hal
ini karena orang mungkin sudah meninggal terlebih dahulu sebelum kiamat bumi ini
terjadi. Oleh karena itu, orang hendaknya lebih memahami bahwa kiamat memang
pasti akan terjadi pada suatu saat nanti, namun, ketika kiamat tersebut belum tiba,
orang hendaknya mwnggunakan kesempatan baik ini untuk melaksanakan sebanyakbanyaknya
kebajikan sesuai dengan Dhamma. Dengan demikian, kalaupun hari ini
kiamat telah tiba, orang tersebut telah banyak menimbun kebajikan sebagai bekal
kelahiran kembalinya. Sebaliknya, kalaupun kematiannya datang lebih awal daripada
kiamat bumi ini, ia pun tidak akan mati menyesal karena ia sudah banyak berbuat
baik. Dengan mengembangkan banyak kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan
pikiran, datangnya kiamat bukanlah hal yang merisaukannya lagi. Ia akan selalu
berbahagia dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.
Ada pepatah yang mengatakan:
Berbuat baiklah sebanyak mungkin seolah-olah besok saat kiamat telah tiba.
Tundalah kejahatan selama mungkin seolah-olah hidupmu kekal adanya.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

29. Dari: Gani Anthonius, Phoea, Pontianak
Saya tertarik dengan meditasi Vipassana dan telah membaca cukup buku tentang
Vipassana.
Ketakutan saya ialah apakah meditasi tsb akan mempengaruhi cara pikir dan
keinginan kita dalam bisnis (dalam arti yg benar) apakah kita masih memiliki
keinginan dan cita cita?

Jawaban:
Meditasi sebenarnya adalah latihan untuk mengembangkan kesadaran setiap saat.
Dengan melatih meditasi, seseorang dapat selalu sadar ketika ia sedang bekerja,
berbicara maupun berpikir. Orang yang dapat mengembangkan kesadaran seperti ini
akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan setiap saat. Pada beberapa orang
tertentu, mereka bukannya mengembangkan kesadaran, melainkann justru
mengembangkan ketenangan yang 'hanya' merupakan hasil samping latihan
kesadaran. Cara keliru seperti inilah yang menyebabkan orang tersebut kehilangan
semangat dalam meraih keinginan, harapan serta cita-cita.
Sebaliknya, apabila orang selalu menjaga dan mengembangkan kesadaran setiap saat,
maka keinginan dan cita-cita yang ia miliki akan menjadi pendorong semangat untuk
bekerja maksimal pada SAAT INI. Cita-cita adalah harapan seseorang di masa depan
yang harus diwujudkan dengan tindak nyata saat ini. Orang yang melatih meditasi
dengan baik, ia akan hidup dan berjuang penuh semangat pada SAAT INI,
menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan masa depan sebagai harapan.
Semoga jawaban ini dapt memberikan manfaat dan mendorong semangat Anda untuk
terus mengembangkan kesadaran setiap saat.
Semoga Anda berbahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

30. Dari: Victor, Mataram
Namo Buddhaya,
1. Bhante, dalam kebaktian sehari-hari di rumah, apakah yang sebaiknya digunakan
paritta di buku biru atau paritta untuk chanting para bhikkhu?
2. Yang pernah saya baca bahwa Ajaran Sang Buddha akan dilupakan oleh orang
dimasa mendatang. Sedangkan dikatakan bahwa Dhamma tidak lapuk oleh waktu dan
selalu sesuai. Apakah pada masa depan itu Dhamma tidak sesuai lagi karena
perkembangan teknologi yang demikian pesatnya atau hal lainnya?
Mohon pernjelasannya.
Terima kasih, Bhante.

Jawaban:
1. Membaca dan merenungkan isi paritta secara rutin adalah merupakan kebiasaan
yang sangat baik. Paritta yang dibaca umat Buddha di Indonesia pada umumnya
adalah paritta yang terdapat dalam buku 'Paritta Suci' terbitan Sangha Theravada
Indonesia. Buku 'Paritta Suci' ini juga menjadi pegangan wajib untuk kebaktian di
vihara-vihara binaan Sangha Theravada Indonesia. Namun, ada sebagian umat di kala
kebaktian sendiri di rumah mempergunakan buku kebaktian yang biasa dipakai oleh
para bhikkhu dan samanera Sangha Theravada Indonesia. Hal ini boleh saja dilakukan
karena hal yang paling penting dalam pembacaan paritta adalah mengerti arti paritta
yang dibaca dan melaksanakannya di dalam kehidupan sehari-hari, bukan
mempermasalahkan jenis buku paritta yang dipergunakan.
2. Dalam Dhammanussati telah disebutkan bahwa kualitas Dhamma adalah akaliko
yaitu tidak lapuk karena waktu. Dhamma yang berisikan Empat Kesunyataan Mulia
tersebut tidak akan musnah walaupun terjadi kemajuan teknologi yang luar biasa
pesatnya. Tidak lapuknya Dhamma ini karena Dhamma berhubungan langsung
dengan peningkatan kualitas mental orang yang mengalami dan mempergunakan hasil
kemajuan teknologi tersebut. Oleh karena itu, Dhamma sebagai kesunyataan bersifat
abadi. Namun Dhamma sebagai suatu Ajaran seorang Buddha memang ada masanya.
Ada suatu saat ketika orang akan melupakan Dhamma sebagai Ajaran. Namun,
apabila semua orang sudah tidak lagi mengenal Dhamma sebagai Ajaran, seorang
Buddha akan muncul lagi di dunia. Buddha yang muncul itu tetap akan mengajarkan
Empat Kesunyataan Mulia demi kebahagiaan semua mahluk. Inilah kenyataan bahwa
Dhamma adalah akaliko, namun Dhamma sebagai Ajaran memang dapat terlupakan
orang walau hanya sesaat.
Semoga penjelasan ini dapat membantu orang untuk membedakan Dhamma sebagai
kesunyataan yang bersifat akaliko dengan Dhamma sebagai Ajaran yang bisa
terlupakan.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

31. Dari: Linda Hiu, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante hal yg saya ingin tanyakan :
Semalam saya bermimpi Alm Papa datang ke rumah dan tidur di tempat tidurnya dan
engga mau pergi lagi. Saya khawatir ini merupakan pertanda tidak baik, baik untuk
kami (terutama mama kami) maupun Alm papa. Sebagai informasi saja, sedari papa
meninggal setiap malam hingga kini saya masih membaca "Avamanggala Paritta "
atas namaNYA.
Cara bagaimana lagi yang harus saya lakukan untuk menolak semua bala dari mimpi
saya ini.
Terima Kasih.

Jawaban:
Dalam Dhamma, mimpi dapat terjadi karena beberapa hal. Ada mimpi yang muncul
sebagai akibat dari pikiran yang melekat pada sesuatu hal. Misalnya, karena pikiran
melekat pada keadaan orangtua ketika masih hidup, maka di malam harinya orang itu
dapat memimpikan orangtuanya tersebut. Selain itu, mimpi juga dapat terjadi karena
mungkin almarhum ingin berkomunikasi dengan keluarganya. Apabila mimpi yang
dialami dalam pertanyaan tersebut tergolong jenis mimpi kedua, maka sebaiknya
keluarga tetap melakukan pembacaan paritta dan juga melimpahkan segala kebajikan
kepada almarhum. Kebajikan dapat dilakukan dengan banyak melakukan kerelaan,
melepas mahluk, membacakan paritta, melatih sila maupun melaksanakan meditasi
serta berbagai jenis kebajikan melalui badan, ucapan dan pikiran lainnya. Dengan
berbagai kebajikan ini apabila dilimpahkan jasanya kepada almarhum, maka apabila
almarhum dalam kondisi yang dapat menerima pelimpahan jasa, beliau akan
merasakan bahagia di kelahiran yang sekarang. Selain itu, keluarga yang telah banyak
melakukan kebajikan ini akan terkondisi untuk bebas dari berbagai macam kesulitan.
Semoga dengan keterangan ini akan dapat memberikan semangat anggota keluarga
untuk terus melakukan kebajikan atas nama almarhum.
Semoga almarhum berbahagia di kelahiran sekarang.
Semoga keluarga yang ditinggalknya juga mendapatkan kesehatan dan keselamatan.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

32. Dari: Linda Hiu, jakarta
Namo Buddhaya, Bhante Uttamo
Saya ingin bertanya mengenai ramalan. Saya diramal bahwa tahun ini saya harus
berhati-hati karena secara umum kondisi saya sangat jelek, terutama di bulan April.
Berapapun uang yang saya miliki pastilah habis...(menyeramkan bukan?)
Secara Buddhis, saya telah melakukan dana mulai Des. 2003 berupa Dana di Vihara,
dana makanan kepada Bhante pada hari Sabtu dan Minggu dsbnya.
Saya ingin meminta petunjuk kepada Bhante, bagaimana menangkal semua ini
apakah dana yang saya lakukan masih belum maksimal atau bagaimana sebaiknya?
Mohon petunjuknya.
Terima Kasih.

Jawaban:
Ramalan nasib sebenarnya adalah merupakan perkiraan akan kejadian di masa datang
dengan melihat kondisi saat ini. Ramalan nasib ini bisa disamakan dengan prakiraan
cuaca yang sering dilihat di televisi. Prakiraan cuaca untuk besok pagi ditentukan oleh
kondisi angin maupun kelembaban saat ini. Namun, apabila esok hari terjadi sesuatu
hal diluar prakiraan yang ada, maka prakiraan cuaca itupun akan meleset.
Demikian pula dengan ramalan nasib, kalau seseorang yang diramal nasibnya dapat
terus mengembangkan kebajikan melalui badan, ucapan dan perbuatan maka isi
ramalan nasib itupun dapat berubah. Orang yang diramal menderita dengan adanya
timbunan kebajikan yang ia lakukan selama ini akan membuat berkurang
penderitaannya. Sebaliknya, orang yang diramal akan hidup bahagia apabila terus
melakukan kebajikan, maka hidupnya akan bertambah bahagia.
Oleh karena itu, seorang umat Buddha hendaknya memiliki prinsip hidup untuk terus
menerus mengembangkan kebajikan dengan lebih memperbanyak kerelaan,
kemoralan serta konsentrasi. Dengan sering melakukan ketiga bentuk kebajikan itu,
maka kebahagiaan akan datang dan kesulitan pun akan berkurang.
Berdana ke vihara maupun berdana makan kepada para bhikkhu adalah merupakan
hal yang sangat baik, apalagi bila ditambah dengan mengembangkan sila, paling tidak
delapan sila seminggu sekali serta bermeditasi setiap pagi dan sore, maka timbunan
kebajikan ini akan dapat membantu seseorang terhindar dari berbagai kesulitan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

33. Dari: Saggadhana, Jakarta
Namo Buddhaya
Saya sedang mempelajari meditasi dan saya beruntung karena pernah mempelajari
Vipassana dalam tradisi U Ba Khin dan Tradisi Mahasi Sayadaw dengan bimbingan
Bapak Hudoyo.
Banyak guru meditasi yang menganjurkan kita untuk melatih vipassana saja dengan
meninggalkan samatha, menurut guru tersebut pencapaian arya puggala tidak
memerlukan langkah samatha (pencapaian Jhana). Samatha hanya dibutuhkan untuk
mencapai tingkat upacara samadhi saja.
Sedangkan menurut Ajahn Brahmavamso dan dari posting Bhante sendiri bahwa
Jhana adalah suatu keharusan. Saya pernah mendengar bahwa Bhante melatih
samantha bhavana dengan sangat intensif.
Saya sendiri lebih cenderung untuk melatih porsi samatha lebih banyak daripada
vipassana karena saya mempercayai hal ini.
Saya mohon bantuan Bhante untuk menjelaskan :
1. Perlukah bagi saya untuk meninggalkan vipassana dan berlatih samatha saja
sampai saya bisa mencapai Jhana. Setelah saya mencapai hal ini maka saya hanya
berlatih vipassana setelah keluar dari jhana.
2. Saya melatih samatha dan vipassana bersama-sama dengan porsi samatha yang
lebih besar.
3. Ataukah ada saran lebih baik dari Bhante untuk mencapai kemajuan meditasi saya.
Saran dan pencerahan dari Bhante sangat saya harapkan.
Atas penjelasan bhante, saya ucapkan banyak terima kasih.

Jawaban:
Dalam Buddha Dhamma dikenal dua macam latihan pikiran. Latihan pertama adalah
dengan memusatkan perhatian pada satu obyek tertentu sehingga obyek pikiran
lainnya tidak memiliki kesempatan untuk muncul. Latihan konsentrasi pikiran ini
diperlukan karena sesungguhnya latihan ini menjadi dasar untuk pengembangan batin
ke tingkat yang lebih tinggi. Latihan batin yang lebih tinggi tersebut adalah
mempergunakan tingkat konsentrasi pikiran yang telah diperoleh pada latihan dasar
untuk mengamati segala gerak gerik pikiran. Pikiran yang selalu bergerak dengan
lincah akan lenyap apabila diamati dengan kesadaran tinggi. Lenyapnya berbagai
bentuk pikiran karena disadari ini akan membuat batin menjadi tenang. Ketenangan
batin ini hendaknya juga tetap diamati dan disadari terus menerus.
Kesadaran seperti ini hendaknya juga dipertahankan di kala orang melakukan
kegiatan sehari-hari yaitu bekerja, berbicara, duduk, berjalan dsb. Dengan memiliki
kesadaran total pada segala sesuatu yang dilakukan, diucapkan maupun dipikirkan,
maka orang tersebut akan dapat hidup berbahagia, terbebas dari stress dan
kegelisahan.
Oleh karena itu, untuk mencapai hidup bahagia seperti yang diceritakan tersebut,
orang hendaknya dapat mengembangkan konsentrasi pikiran sebagai dasar dan juga
mengembangkan kesadaran setiap saat pada segala sesuatu yang diperbuat badan dan
batin. Dalam istilah lain, orang hendaknya dapat mengembangkan samatha serta
vipassana secara bersamaan dan bergantian setiap saat.
Untuk meningkatkan kualitas konsentrasi pikiran, seseorang hendaknya secara rutin
melatih meditasi konsentrasi setiap pagi dan sore selama waktu tertentu, dan juga
sepanjang hari sering mengucapkan dalam hati: SAAT INI SAYA SEDANG APA?
Dengan sering bertanya pada diri sendiri seperti itu, maka orang tersebut akan mampu
meningkatkan kesadarannya pada segala sesuatu yang SEDANG dikerjakannnya.
Semoga keterangan ini dapat memberikan kemajuan dalam latihan meditasi rutin
maupun sepanjang hari Anda.
Semoga Anda berbahagia dalam Dhamma.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

34. Dari: Saparindi, Malang
Dalam berkehidupan bernegara, kita tentunya ikut ada didalamnya, termasuk
komunitas Buddhis di Indonesia. Dan sebentar lagi kita akan menghadapi pesta
demokrasi (pemilu) dimana peran rakyat sudah tentu menjadi penentu utk wakil2
yang akan memimpin bangsa ini kearah yang lebih baik.
Pertanyaan yang saya ajukan adalah sejauh mana peran karma mempengaruhi proses
ini, karena apabila kita salah memilih orang2 yang duduk sebagai pemimpin bangsa
ternyata orang yang tidak baik (busuk, tukang korupsi misalnya) sehingga bangsa ini
terpuruk.
Dan apabila kita berbicara karma, karma sebetulnya kita juga bisa menentukan, atau
meminimalkan agar kelak nantinya tidak terulang kejadian yang buruk/karma buruk.
Lebih konkret lagi, kita sebagai komunitas Buddhis yang pendiam (saat ini), walau
pasti menginginkan perubahan yang baik atas negara ini juga, kegiatan apa yang
harus dilakukan agar nantinya menjadi salah satu komponen/faktor yang ikut
andil/berperan dalam perbaikan bangsa, yang tidak hanya menunggui karma datang
entah itu baik/buruk.

Jawaban:
Pemilihan Umum adalah merupakan sebuah pesta demokrasi yang rutin
diselenggarakan di Indonesia. Setiap warga negara berhak mengikuti pemilu,
demikian pula dengan para umat Buddha di seluruh pelosok tanah air. Partisipasi
warga negara dalam pemilu akan membantu menentukan masa depan bangsa. Namun,
tidak dapat disangkal bahwa mungkin saja terjadi kesalahan dalam proses memilih
wakil rakyat tersebut. Rakyat mungkin terlanjur memilih wakil yang kurang baik
moralnya untuk duduk dalam lembaga pemerintah. Apabila kekeliruan ini terjadi,
masa depan Indonesia lah yang menjadi taruhannya.
Secara Buddha Dhamma, kekeliruan memilih wakil rakyat yang kurang baik
moralnya ini adalah merupakan BUAH KARMA BURUK, bukan menanam karma
buruk. Hal ini karena pengertian karma adalah niat atau kesengajaan. Padahal, pada
saat memilih wakil rakyat, para umat Buddha tentunya tidak pernah dengan sengaja
memilih wakil rakyat yang kurang baik moralnya.
Namun, para umat Buddha dapat berperan aktif dalam mengurangi bahkan
menghilangkan buah karma buruk bangsa ini. Usaha memperbaiki moral bangsa
haruslah dimulai dari DIRI SENDIRI. Keberhasilan dalam berusaha memperbaiki
moral diri sendiri dengan meningkatkan kemampuan mengendalikan ucapan,
perbuatan serta pikiran akan menyebabkan bertambahnya di Indonesia seorang yang
bermoral baik dan berkurang seorang yang berpotensi untuk menjadi buruk moralnya,
yaitu diri kita sendiri. Apabila diri sendiri telah menjadi baik, maka orang akan dapat
memberikan contoh dan mengajak anggota keluarganya untuk meningkatkan
kemoralannya. Dengan demikian, akan terwujudlah keluarga yang bermoral. Adanya
keluarga yang bermoral akan mengkondisikan lingkungan dan masyarakat yang baik
pula. Dari masyarakat yang baik inilah akan timbul bangsa yang baik moralnya.
Dengan menjadi bangsa yang baik moralnya, Indonesia akan mendukung
terwujudnya masyarakat dunia yang bermoral.
Dengan demikian, perbaikan moral bangsa Indonesia bahkan dunia haruslah dimulai
dari perbaikan moral DIRI SENDIRI terlebih dahulu. Tidak mungkin mengharapkan
orang lain menjadi baik sebelum diri sendiri berubah terlebih dahulu.
Oleh karena itu, jadilah umat Buddha yang mau berjuang mengatasi dirinya sendiri
dengan melaksanakan Ajaran Sang Buddha, bukan hanya sekedar mengikuti upacara
ritual belaka. Sesungguhnya penghormatan sejati kepada Sang Buddha adalah dengan
melaksanakan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari yaitu mengembangkan
kerelaan, kemoralan dan konsentrasi.
Semoga jawaban ini dapat memberikan wawasan untuk para umat Buddha dalam
berbangsa dan bernegara.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

35. Dari: Saparindi, Malang
Dalam teori Buddhis sangat kental akan ajaran metta/cinta kasih universal. Kita
semua tahu itu, tidak cuma bhikkhunya saja yang mungkin sangat dalam mengenal
dan sangat menggeluti konsep metta itu dan sangat dipraktekkan. Sangat mulia sekali
teori yang diajarkan oleh Buddha Gotama yang ajaranNya saat ini masih relevan.
Tetapi kadangkala praktek tidak mudah utk dilaksanakan oleh siapa saja termasuk
umat Buddha sendiri, tokoh2 atau pandita2, pelaku spiritual lainnya termasuk
mungkin para bhikkhu. Apalagi didalam tubuh organisasi yang menamakan
organisasi dgn ciri Buddhis entah itu organisasi kemahasiswaan, kepemudaan,
kemajelisan, kesekte-an, kebhikkhuan dll sampai saat ini di khususnya di Indonesia
yang saya lihat dan cermati disetiap perbincangan yang saya dapati didalamnya
ternyata bahwa konsep metta itu hanya isapan jempol. Cerca, tudingan golongan ini
kegolongan lain, gontok2 antar sekte, yang lebih memalukan adalah pake acara
rebutan umat lagi. Kalau seperti ini, teori yang cukup bagus nilai2nya ditempatkan
dimana?
Kira2 jawaban apa yang dapat menenangkan kegundahan saya terhadap komunitas
yang saya pikir belum mempunyai visi global, sifatnya hanya utk golongan sendiri2.
Boleh saja sih saya tutup sebelah mata tidak peduli, akan tetapi jawaban itu saya pikir
hanya utk orang yang egois.

Jawaban:
Ajaran Sang Buddha memang sungguh mulia, apalagi Ajaran Beliau tentang cinta
kasih kepada semua mahluk yang tampak maupun mahluk yang tidak tampak. Ajaran
yang luhur ini sesungguhnya dapat memberikan manfaat apabila dilaksanakan dengan
sungguh-sunggh dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran ini menjadi tidak bermanfaat
dan hanya sekedar kumpulan kata indah apabila hanya dipelajari dan dijadikan topik
diskusi saja. Buddha Dhamma sesungguhnya adalah netral sifatnya. Bermanfaat
maupun tidak bermanfaat Buddha Dhamma sepenuhnya tergantung pada para
pelaksananya.
Dalam masyarakat Buddhis, memang bisa saja terjadi beberapa perselisihan dan
perbedaan pendapat, namun semua itu bukan karena kesalahan Ajaran Sang Buddha
melainkan kekeliruan para oknum yang beragama Buddha tersebut. Sesungguhnya
seseorang disebut sebagai umat Buddha bukanlah orang yang hanya mampu
menghafal berbagai isi Tipitaka, maupun rajin mengikuti puja bakti di vihara saja.
Seorang umat Buddha adalah orang yang mau mengubah diri sehingga ia mampu
mengendalikan ucapan, perbuatan serta pikirannya sesuai dengan Buddha Dhamma.
Seorang umat Buddha walaupun telah menjadi bhikkhu sekalipun bukanlah jaminan
menjadi orang yang baik dan bermoral selama ia tidak berjuang meningkatkan
kualitas diri. Contoh nyata tentang hal ini adalah Bhikkhu Devadatta yang merupakan
saudara sepupu Sang Buddha dan hidup sebagai murid Sang Buddha, namun justru
Bhikkhu Devadatta banyak menimbulkan masalah dalam Sangha maupun masyarakat
Buddhis diwaktu itu.
Oleh karena itu, bercermin dari riwayat Bhikkhu Devadatta tersebut, para umat
Buddha hendaknya bertekad meningkatkan kualitas diri dengan lebih banyak melatih
kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Dengan pelaksanaan ketiga kebajikan ini, maka
umat Buddha akan dapat mengurangi berbagai tindakan yang kurang baik dalam
masyarakat. Dengan demikian, kebaikan dan keluhuran Buddha Dhamma
sesungguhnya terletak pada para pelaksana Buddha Dhamma itu sendiri.
Semoga jawaban ini dapat mulai menenangkan kegundahan pikiran Anda. Walaupun
sesungguhnya dipandang secara Dhamma kegundahan itu adalah merupakan akibat
timbulnya keinginan sendiri. Semakin tinggi keinginan seseorang, semakin tinggi
pula potensi kekecewaan dan kegundahannya bila keinginannya tersebut tidak
terwujud. Kegundahan yang berlebihan berpotensi menjadi pemicu perilaku yang
kurang baik. Oleh karena itu, hadapi kegundahan dengan kebijaksanaan. Carilah
sumber kegundahan dan sadarilah. Keinginan yang dimiliki akan membuahkan
keberhasilan maupun kegagalan. Apabila keinginan yang dimiliki telah dapat
diwujudkan, tentunya tidak akan ada lagi kegundahan. Sebaliknya, apabila keinginan
yang ada masih belum dapat terwujud, cobalah untuk merenungkan penyebab tidak
terwujudnya keinginan tersebut. Apabila penyebab tidak terwujudnya keinginan
tersebut telah dapat diketemukan, maka lakukanlah usaha yang maksimal untuk
mengatasi penyebab tersebut agar keinginan akhirnya dapat terwujud. Namun, apabila
ternyata penyebab tidak terwujudnya keinginan itu masih membutuhkan waktu dan
peningkatan usaha, maka bersabar dan berjuanglah dengan ulet serta bersemangat
untuk mewujudkan keinginan tersebut. Dengan memahami hal ini, maka batin akan
menjadi tenang. Ketika seseorang telah mendapatkan ketenangan batin, barulah ia
dapat melakukan perbaikan perilaku diri sendiri maupun lingkungannya.
Semoga berbahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

36. Dari: Linda Hiu, Jakarta
Namo Buddhaya,
Pertanyaan saya adalah bagaimana Sanghadana sebaiknya dilakukan dan berupa apa
saja yang di danakan?
Mohon penjelasannya.
Terima Kasih.

Jawaban:
Dalam Dhamma, istilah 'Sangha' mengacu pada dua pengertian.
Pertama, sangha adalah sekelompok orang yang telah mencapai kesucian sotapanna,
sakadagami, anagami maupun arahatta. Istilah dalam pengertian pertama ini tidak
harus menunjuk kehidupan seorang bhikkhu.
Kedua, sangha dapat berarti sekelompok bhikkhu walaupun mereka belum mencapai
kesucian.
Dewasa ini pengertian 'Sangha' lebih cenderung pada pengertian kedua daripada
pengertian yang pertama. Oleh karena itu, 'sanghadana' dapat diartikan sebagai
persembahan umat untuk mendukung kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu dalam
kehidupannya memerlukan empat kebutuhan pokok yaitu pakaian, makanan, tempat
tinggal serta obat-obatan. Dengan demikian, seorang umat dalam melakukan
sanghadana dengan mempersembahkan salah satu atau keseluruhan kebutuhan para
bhikkhu tersebut.
Semoga keterangan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

37. Dari: Melisa, Jakarta
Namo Buddhaya,
Bhante mohon tanya : Saya banyak melihat umat Buddha yang memuja Amitabha
Buddha, Maitreya Buddha, dan Buddha Gotama. Apa bedanya para Buddha tersebut ?
Bagaimana seharusnya sikap seorang Buddhis, apakah harus memuja semuanya ?
Terima kasih sebelumnya atas jawaban Bhante.

Jawaban:
Agama Buddha pada dasarnya terdiri dari dua bagian utama.
Pertama, Ajaran Sang Buddha yang dapat membebaskan orang dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin.
Kedua, Agama Buddha berisikan berbagai tradisi yang berkembang dalam
masyarakat Buddhis.
Berbagai bentuk ritual keagamaan adalah merupakan bagian dari tradisi. Oleh karena
itu, ritual dikerjakan ataupun tidak, sesungguhnya tidak akan membawa orang menuju
ke kesucian.
Dengan demikian, penghormatan pada berbagai macam rupang adalah merupakan
bagian dari kecenderungan dan kecocokan orang tertentu yang dapat saja berbeda
antara satu orang dengan yang lainnya. Oleh karena itu, seseorang dapat saja
melakukan penghoramtan kepada berbagai macam rupang sesuai dengan yang
diinginkannya.
Apabila ada orang yang berkeinginan untuk menghormati salah satu dari arca yang
disebutkan di atas, hal itu dapat dibenarkan. Sebaliknya, apabila ada orang yang ingin
menghormat ketiganya atau bahkan lebih banyak lagi, bentuk penghormatan itu juga
tidak dapat dipersalahkan.
Sesungguhnya hal yang paling utama dalam Buddha Dhamma adalah kemauan orang
untuk mengubah ucapan, perbuatan serta pikirannya agar sesuai dengan Ajaran Sang
Buddha. Perubahan perilaku ini dapat terjadi karena perjuangan dan semangat untuk
melaksanakan Buddha Dhamma bukan tergantung pada bentuk dan jumlah rupang
yang dipujanya.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

38. Dari: Hadi, Jakarta
Namo Buddhaya
Bhante, saya sekarang menghadapi sebuah pilihan yang sangat membingungkan.
Adapun masalah saya ialah bahwa saya sebenarnya ingin berhenti dari tempat kerja
saya yang sekarang. Di satu sisi saya berniat sekali keluar dari perusahaan tersebut
karena ada berbagai kebobrokan yang menurut saya lingkungan ini tidak baik buat
perkembangan batin maupun fisik saya. Akan tetapi di satu sisi saya selalu berpikir
kalau saya berhenti orang tua saya harus menanggung saya lagi.
Sekarang saya dalam keadaan bingung, bila saya menunggu sampai mendapatkan
pekerjaan baru yang saya tidak tahu kapan akan mendapatkannya, saya merasa
terbebani karena lingkungannya sudah tidak mendukung perkembangan materi
maupun rohani.
Saya sangat mengharapkan jawaban dari Bhante.

Jawaban:
Dalam kehidupan ini, setiap orang hendaknya mampu merumuskan TUJUAN HIDUP
yang harus dicapainya. Dengan memiliki tujuan hidup, maka orang akan dapat
melakukan berbagai macam kegiatan agar tujuan hidup tersebut tercapai. Memilih
pekerjaan tertentu hendaknya juga disesuaikan dengan usaha mencapai tujuan hidup
yang telah dibuat sebelumnya. Dengan demikian, apabila tujuan hidup itu belum
tercapai, segala bentuk kesulitan apapun yang timbul dari pekerjaan itu haruslah
dihadapi dengan tegar, sabar, ulet dan bersemangat. Dengan mengingat tujuan hidup
yang hendak dicapai akan membuat orang lebih berani menghadapi kesulitan tanpa
berputus asa. Hal ini dapat diibaratkan dengan orang yang harus menempuh
perjalanan 1000 km. Apabila ia telah mengetahui tujuan perjalanan tersebut, maka ia
akan bersemangat untuk melaksanakannya. Sebaliknya, kalau orang itu tidak
memiliki suatu tujuan yang jelas, maka perjalanan 1 km pun menjadi berat untuk
ditempuh.
Oleh karena itu, lihatlah pada diri sendiri. Kalau memang salah satu tujuan bekerja
adalah agar orangtua tidak lagi menanggung beban kehidupan anak, maka
lanjutkanlah bekerja di tempat yang sekarang sambil berusaha mencari tempat kerja
yang lebih sesuai dengan keinginan. Jangan mengeluh dan putus asa. Rasa tidak suka
berada di tempat kerja akan membuat semangat kerja menurun. Kalau sudah
demikian, mungkin atasan malah bisa melakukan pemutusan hubungan kerja, padahal
belum siap untuk menerimanya. Lebih baik, terus berjuang semaksimal mungkin
sampai mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Belum ada pilihan lain yang lebih baik.
Semoga jawaban ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

39. Dari: Gani Anthonius, Pontianak
Salam,
Bhante, saya ingin menanyakan mengenai hubungan orang tua dan anak. Dikatakan
karma buruk kalau kita membantah orangtua. Tetapi apa yg terjadi jika orangtua tsb
sangat otoriter dan komunikasi tdk dpt dilakukan dua arah dan penengah sepertinya
tidak berdaya karena orangtua tsb sangat keras kepala. Selalu menyalahkan kepada
setiap hal dan tidak ada pekerjaan yg benar di mata orangtua.
Apa yg harus kita lakukan, sementara kita sendiri trauma dan enggan berkomunikasi
karena takut akan sindiran ataupun omelan.
Apakah benar jika anak tsb mendiamkan atau menghindarinya???
Terima kasih.

Jawaban:
Memiliki orangtua yang otoriter, merasa paling benar dan sulit diajak komunikasi
memang bukanlah hal yang menyenangkan. Namun, sebagai anak hendaknya dapat
menyadari bahwa seseorang dapat berkumpul dengan orang yang lain tersebut
tentulah ada penyebabnya. Hubungan orangtua dengan anak yang harmonis maupun
hubungan yang kurang harmonis tentulah ada penyebabnya pula. Salah satu penyebab
terjadinya hubungan itu adalah ikatan karma. Oleh karena itu, kalau orang sudah
menyadari bahwa segala bentuk hubungan antar pribadi ini disebabkan karena adanya
ikatan karma, maka apabila timbul pikiran yang buruk maupun jengkel kepada
orangtua, misalnya, pikiran buruk ini sebaiknya segera diatasi dengan melatih
mengembangkan cinta kasih. Latihan mengembangkan pikiran cinta kasih dapat
dilakukan dengan sering mengucapkan dalam hati:"Semoga dia bahagia, semoga
semua mahluk berbahagia." Dengan mengembangkan pikiran cinta kasih tersebut
seorang anak akan dapat melihat bahwa orangtua yang otoriter sesungguhnya adalah
orang yang patut dikasihani. Orang yang otoriter cenderung tidak akan memperoleh
kemajuan karena ia tidak dapat membuka pikirannya terhadap kebenaran yang ada di
luar dirinya. Dengan timbulnya pikiran penuh cinta kasih kepada orangtua seperti itu,
maka anak mungkin akan memandang orangtua dari sudut yang berbeda. Semakin
orangtua bersikap mau menangnya sendiri, anak semakin kasihan kepadanya. Si anak
justru semakin terdorong untuk membantu membuka pikiran orangtua dengan
berbagai cara yang dapat diusahakannya.
Membuka pikiran orangtua memang dapat menggunakan jasa fihak ketiga seperti
yang telah disampaikan dalam pertanyaan di atas. Namun kalau sampai saat ini cara
tersebut masih belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan, maka usaha
berikutnya adalah terus meningkatkan komunikasi efektif antara orangtua dengan
fihak ketiga tersebut, atau bahkan bila diperlukan haruslah mengganti fihak ketiga itu
dengan orang lain yang lebih mampu berkomunikasi efektif.
Sesungguhnya setiap orang PASTI dapat diajak komunikasi. Hal yang paling penting
untuk mendukung keberhasilan komunikasi efektif adalah mengetahui CARA dan
WAKTU berkomunikasi. Jangankan manusia, hewan pun dapat diajak komunikasi
sehingga tidak jarang dapat dijumpai adegan kerjasama antara manusia dan hewan di
sirkus maupun berbagai pertunjukan lainnya. Kerjasama antar mahluk yang berbeda
wujud dan bahasa ini dapat terbentuk karena adanya kesabaran, keuletan, pengertian
dan kasih sayang antara pawang dan hewannya. Demikian pula dalam kehidupan
masyarakat, adanya berbagai persyaratan pokok itu merupakan kunci keberhasilan
komunikasi efektif.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat dan menghilangkan rasa segan
berkomunikasi dengan orangtua. Karena semakin tidak berkomunikasi dengan
orangtua, semakin sulit pula dapat mencapai kesepakatan antara anak dan orangtua.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

40. Dari: Ling Ling, Jakarta
Bhante,
Saya ingin tanya, bisakah manusia mengetahui kehidupannya yang dulu sebelum
kehidupan ini?

Jawaban:
Pengalaman kehidupan masa lampau yang telah dijalaninya berkali-kali
sesungguhnya tetap tersimpan dalam bawah sadar setiap orang. Hal ini dapat
disamakan dengan orang yang mampu mengingat pengalamannya beberapa jam yang
lalu. Namun, kemampuan mengingat pengalaman ini kemudian dikembangkan
sehingga orang dapat mengingat pengalamannya ketika ia masih kecil, ketika ia
masih bayi, ketika ia masih berada dalam kandungan atau orang mampu mengingat
pengalaman ketika ia masih belum terkandung yaitu ketika ia berada di kehidupannya
yang lalu.
Untuk mengungkapkan pengalaman kehidupan lalu ini telah banyak metoda yang
berkembang dalam masyarakat. Ada metoda meditasi, mengingat mimpi,
menggunakan bantuan hipnotis serta masih banyak lagi cara yang tidak dapat
disebutkan satu persatu di sini.
Namun, dalam pandangan Buddhis, kemampuan melihat kehidupan lampau ini
dianggap tidak memberikan manfaat. Mengingat kehidupan lampau hanyalah
merupakan usaha membangkitkan kenangan yang sudah tidak nyata lagi, sama
dengan impian. Seorang umat Buddha justru lebih ditekankan untuk selalu
MENYADARI HIDUP ADALAH SAAT INI. Pada masa lalu, seseorang memang
pernah hidup, namun masa itu hanyalah merupakan kenangan belaka. Sebaliknya,
masa yang akan datang barulah merupakan rencana yang belum tentu terjadi. Hidup
yang sesungguhnya justru pada saat ini. Oleh karena itu, pergunakanlah waktu hidup
saat ini yang sedemikian singkat untuk mengembangkan kebajikan melalui badan,
ucapan dan pikiran. Kembangkanlah batin agar dapat terbebas dari ketamakan,
kebencian dan kegelapan batin. Dengan demikian, orang akan dapat memanfaatkan
waktu kehidupannya dengan sebaik-baiknya.
Semoga jawaban ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

41. Dari: Ana, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante, kedua orang tua saya kerapkali bertengkar, dan kalau sudah bertengkar,
perang dingin bisa sampai 1-2 bulan, lalu berbaikan 1 bulan , biasanya bertengkar
lagi. Masalah yang terjadi biasanya karena hal2 sepele yang tidak perlu diributkan,
kadang2 dari suasana canda bisa jadi pertengkaran yg hebat. Dan ini terjadi sejak saya
masih kecil (sekarang usia saya 24 th).
Ibu saya orangnya sangat mudah tersinggung, sensitif dan tidak mau ngalah. Sifat
kerasnya ini ditunjukkan ke semua orang, tegas, juga kepada adik2nya, sehingga tdk
cocok dgn beberapa adiknya. Papa saya, orangnya sangat perhitungan tentang
masalah keuangan, bisa dibilang, kikir. Saya sepertinya sudah tidak tahan dengan
suasana rumah seperti ini Bhante, padahal mama saya sangat rajin meditasi, baca
Paritta dan mendengarkan Dhamma, begitu juga dengan papa saya. Tapi kenapa
semua hal tsb tidak bisa menahan emosi, mama saya terutama. Jika saya menasehati
mama saya, untuk sabar dan menerima keadaan apa adanya, mama saya menjadi
marah, tersinggung, dan memusuhi saya. Kalau sudah begini, saya selalu menjadi
kambing hitam, kesini salah, kesana salah.
Kalau pada masa perang dingin seperti ini, mama saya selalu minta uang ke papa saya
dengan perantara saya, karena dia tidak mau ngomong ke papa saya. Papa saya juga
tidak mau memberi uang ke mama saya, karena sedang marah. Lalu, kalau saya
menolak untuk disuruh, mama saya marah dan memusuhi saya. Saudara saya cuma
satu, kakak laki2 saya. Dia tidak pernah mau tahu tentang urusan rumah tangga, kalau
saya cerita ke kakak saya, dia bukannya memberikan solusi, malah dia bilang ke saya
untuk cuek, pergi keluar kalau suasana tidak enak. Tapi saya, tidak tega dengan
situasi seperti ini, Bhante. Saya tertekan dengan situasi ini. Bagaimana jika satu saat
saya menikah, siapa yg menjadi penengah? Bagaimana saya harus menghadapi situasi
ini?
Bhante, saya juga ingin menanyakan, apakah sesungguhnya kewajiban dan tanggung
jawab seorang anak terhadap orangtuanya? Bhante, saya selalu dan selalu berusaha
menjadi anak yg baik, saya sekolah dengan rajin, sudah lulus saya bekerja dan
membantu orang tua, walaupun tidak banyak, tapi Bhante, kalau saya ada masalah
selisih paham dengan papa mama saya, seperti dulu, saya pernah pacaran dgn non
Buddhis, kata2 yg keluar dari mulut mereka selalu tidak enak. Saya dibilang anak
durhaka, masuk neraka, berapapun yang saya keluarkan tidak akan bisa membalas
budi mereka, walaupun berpuluh2 kalpa. Saya sangat sakit hati Bhante, tapi siapa
yang mau tau, mereka toh orang tua saya. Saya harus hormat, walaupun mereka salah.
Kalau dipikir2, saya juga tidak minta dilahirkan Bhante.
Mohon Bhante memberi masukan dan nasehat.
Terima Kasih banyak sebelumnya.

Jawaban:
Memiliki orangtua dan keluarga yang akur, serasi serta harmonis adalah merupakan
idaman setiap orang. Namun, adalah merupakan kenyataan kalau dalam kehidupan,
seseorang tidak dapat mewujudkan idamannya sehingga ia akan kurang bahagia.
Untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, orang HARUS DAPAT MENERIMA
KENYATAAN walau tidak sesuai dengan harapan. Ia tidak akan pernah mampu
untuk mengubah kenyataan, ia hanya dapat mengubah harapan agar sesuai dengan
kenyataan.
Apabila orangtua kurang harmonis, sebagai anak memang sudah seharusnya berusaha
untuk menjadi penengah mereka. Ajaklah ayah atau ibu untuk pergi berdua. Dekatilah
mereka dari hati ke hati. Kenalkan kepada mereka secara perlahan pengertian akan
hakekat kehidupan bahwa setiap orang berkumpul tentu ada penyebabnya. Cinta dan
benci adalah merupakan penyebab utama suatu pertemuan.
Apabila orang bertemu karena cinta, maka kehidupan mereka akan sangat harmonis
dan saling membahagiakan. Sedangkan ayah dan ibu dapat bertemu dan berkumpul
dalam kehidupan ini mungkin karena adanya permusuhan di kehidupan yang lalu.
Oleh karena itu, di dalam kehidupan ini masalah yang sepele pun dapat menjadikan
mereka bertengkar hebat. Berilah pengertian akan hukum sebab dan akibat ini setahap
demi setahap. Apabila mereka telah mengerti hukum perbuatan yang nyata ini, maka
jelaskanlah lebih lanjut bahwa bila mereka bertengkar terus, ada kemungkinan dalam
kehidupan yang akan datang mereka akan bertemu kembali untuk melanjutkan
pertengkarannya. Untuk mengatasi hal ini hendaknya mereka dapat merenungkan
bahwa kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian melainkan dengan cinta
kasih. Oleh karena itu, apabila salah satu dari ayah atau ibu yang sudah dapat
mengerti tentang hal ini terlebih dahulu, maka kepadanya dapat diajarkan cara untuk
mengembangkan cinta kasih dalam batinnya. Arahkan dia agar selalu mengucap
dalam pikirannya: "Semoga pasangannya bahagia. Semoga semua mahluk
berbahagia." Dengan selalu mengucapkan hal ini di setiap waktu dan setiap ada
kesempatan, maka rasa permusuhan di antara mereka sedikit demi sedikit akan dapat
dikurangi. Kebencian akan mulai dapat diatasi. Rumah tangga akan menjadi lebih
tenang. Frekuensi pertikaian dapat semakin dikurangi. Bahkan, apabila ucapan penuh
cinta kasih ini telah menjadi kebiasaan dan terpancar dalam perilaku mereka setiap
hari besar kemungkinan dalam kelahiran yang berikutnya, mereka sudah tidak
berjumpa lagi.
Perubahan cara berpikir seseorang yang semula pemarah menjadi orang yang dapat
mengembangkan pikiran cinta kasih ini bukan hanya diperoleh dengan sering ke
vihara, membaca paritta maupun melakukan berbagai aktivitas Buddhis lainnya.
Bukan hanya demikian. Selama seseorang hanya senang melakukan berbagai upacara
ritual keagamaan tanpa mengubah perilakunya sendiri, maka sesungguhnya ia
hanyalah seorang umat Buddha tradisional. Namun, apabila ia dapat mengubah
perilaku buruk menjadi lebih baik dan sikap baik bertambah baik dengan
melaksanakan Buddha Dhamma, maka ia adalah umat Buddha sejati.
Adapun inti kewajiban anak kepada orangtua terdapat dalam SIGALOVADA SUTTA
bait ke 28 yang dapat dibaca secara lengkap di Samaggi Phala, Tipitaka, Digha
Nikaya yaitu :
1. Merawat orangtua
2. Membantu orangtua
3. Mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga
4. Menjaga perbuatan agar layak menerima warisan
5. Melakukan pelimpahan jasa apabila orangtua telah meninggal dunia
Usaha dan perjuangan Anda untuk menjadi menjadi anak yang baik adalah
merupakan perbuatan mulia. Perbuatan ini adalah termasuk MENANAM karma baik.
Lakukanlah kebajikan ini terus menerus. Dengan banyak menanam kebajikan, maka
apabila telah tiba waktunya, orang yang berbuat baik seperti ini akan mendapatkan
kebahagiaan sesuai dengan harapan yang dimilikinya. Oleh karena itu, janganlah
berputus asa untuk mengembangkan kebajikan karena buah kebahagiaan akan dapat
dirasakan sendiri.
Sebaliknya apabila mendengar orangtua mengucapkan kata yang menyakitkan hati,
hendaknya hal ini disadari sebagai BUAH KARMA BURUK yang harus dipetik
sebagai buah perbuatan buruk yang pernah dilakukan dalam kehidupan ini maupun
yang lampau. Dengan pengertian ini, maka rasa sakit hati kepada orangtua akan dapat
dikuasai bahkan suatu ketika dilenyapkan. Renungkanlah bahwa selama seseorang
kuat dan mampu memetik buah karma buruk, biarkanlah karma buruk itu berbuah
secara alamiah. Namun, hendaknya ia terus dan terus melanjutkan melakukan
kebajikan melalui ucapan, badan dan juga pikiran. Dengan demikian, apabila
timbunan karma buruk tersebut semakin berkurang maka akhirnya kebahagiaan hidup
akan diperolehnya.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan semangat untuk terus
mengembangkan kebajikan kepada orangtua walaupun mereka kurang dapat
memberikan kebahagiaan kepada anak-anaknya.
Semoga selalu berbahagia dalam pelaksanaan Buddha Dhamma.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

42. Dari: Subhadevi, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, dengan adanya beberapa aliran agama yang menyatakan diri sebagai Agama
Buddha tetapi Buddha nya bukan Buddha Gotama melainkan Buddha Maitreya,
mohon Bhante berkenan menjelaskan tentang hal ini.
Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya ?
Bagaimana kita menjelaskan kepada penganutnya agar segala sesuatunya menjadi
baik adanya ?
Anumodana atas penjelasannya.

Jawaban:
Memang telah menjadi kenyataan bahwa cukup banyak aliran keagamaan dalam
masyarakat yang menyatakan diri sebagai Agama Buddha. Banyaknya aliran ini
sering membuat umat Buddha bingung untuk menentukan sikap dan pilihan terhadap
berbagai aliran tersebut. Salah satu dari sekian banyak aliran tersebut adalah Aliran
Buddha Maitreya.
Istilah Maitreya atau Metteyya yang berasal dari kata 'metta' atau cinta kasih ini
memang telah pernah disebutkan oleh Sang Buddha Gotama sebagai CALON
BUDDHA yang akan datang di bumi ini. Calon Buddha Maitreya tersebut baru akan
terlahir di bumi dan menjadi Buddha SETELAH ajaran Sang Buddha Gotama
dilupakan orang secara total. Diceritakan bahwa pada saat kelahiran calon Buddha
Maitreya tersebut di dunia ini sudah tidak lagi dapat dijumpai adanya para bhikkhu,
vihara, buku-buku agama Buddha, umat Buddha, bahkan nama Buddha pun sudah
tidak pernah disebut orang lagi. Uraian Sang Buddha tentang hal ini dapat dibaca para
CAKKAVATTISIHANADA SUTTA bait 25 yang terdapat pada Samaggi Phala,
Tipitaka, Digha Nikaya.
Sebagai sesama umat Buddha, apabila bertemu dengan umat (calon) Buddha Maitreya
hendaknya orang dapat bersikap bijaksana. Sadarilah bahwa dasar pemilihan suatu
agama adalah kecocokan. Seseorang memutuskan untuk beragama Buddha aliran
tertentu adalah karena ia telah cocok dengan aliran itu. Namun, kecocokan pada
agama tertentu ini hendaknya jangan menimbulkan pengertian bahwa hanya
agamanyalah yang paling benar, sedangkan agama orang lain adalah salah atau sesat.
Sikap dan cara pandang seperti ini terhadap agama lain adalah merupakan titik awal
suatu permusuhan yang dapat meletus setiap saat di dalam kehidupan ini maupun
dalam kehidupan yang selanjutnya.
Apabila seseorang telah merasakan cocok dengan suatu agama, hendaknya ia
melanjutkan dengan mengubah perilakunya menjadi lebih baik sesuai dengan
tuntunan agama yang telah dipilihnya. Hendaknya ia selalu mengembangkan
kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikirannya. Dengan demikian, ia yang
semula sabar akan menjadi lebih sabar. Ia yang semula baik akan bertambah baik.
Sedangkan ia yang semula jahat dan kejam akan menjadi orang yang baik dan welas
asih. Demikianlah seharusnya sikap seorang umat beragama. Kemanapun ia pergi,
hendaknya ia dapat selalu menumbuhkan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua
orang bahkan kepada semua mahluk yang ada.
Namun, apabila setelah mengenal suatu agama seseorang justru sikapnya menjadi
lebih buruk dan suka menghasut dengan mengatakan bahwa agamanya sendiri yang
paling benar dan agama orang lain adalah sesat, maka orang yang bersikap seperti ini
adalah orang yang patut dikasihani. Orang seperti ini adalah orang yang belum
mengerti dan belum melaksanakan ajaran agamanya dengan baik dan tulus. Ia
mengikuti suatu agama bukan untuk mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan
melainkan ia justru mendapatkan kegelisahan dan permusuhan. Hal ini justru
bertentangan dengan tujuan diadakannya suatu agama yaitu untuk mendapatkan serta
mewujudkan kedamaian dan ketenangan diri sendiri maupun lingkungan.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat dalam berhubungan dengan umat berbagai
agama di masyarakat. Sesungguhnya, mempercayai suatu agama adalah hal yang
bersifat sangat pribadi dan hendaknya orang beragama juga dapat menghargai
kebenaran yang ada dalam setiap agama lain.
Semoga selalu bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

43. Dari: Yanti, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante, saya ingin menanyakan beberapa hal. Begini Bhante, orangtua saya
mempunyai sebuah rumah dan ingin membalikkan nama pemilik ke salah satu
anaknya (8 bersaudara). Dengan demikian akan ada kecemburuan, bagaimana
sebaiknya orangtua mengambil sikap terhadap anak yg paham maupun tidak paham
mengenai keadaan orangtuanya.
Pertanyaan kedua adalah, mengenai bidang pekerjaan yang saya tekuni. Saya sudah
lama bekerja di perusahaan saham, akan tetapi karena satu hal saya tidak betah dan
saya memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan yg lain. Apakah tindakan saya
bijaksana?
Terima kasih atas jawabannya Bhante.
Terima kasih.

Jawaban:
Keputusan orangtua untuk melakukan balik nama sertifikat rumah atas salah satu
nama anaknya sesungguhnya merupakan hal yang wajar. Memang akan terasa aneh
apabila menggunakan nama seluruh anak untuk sebuah sertifikat tersebut. Namun,
ALASAN pemilihan salah satu nama dari kedelapan bersaudara ini hendaknya
dijelaskan oleh orangtua terlebih dahulu dengan jujur dan tidak berbelit-belit dalam
suatu pertemuan keluarga yang diadakan khusus untuk keperluan tersebut. Apabila
ada salah satu atau lebih anak yang masih kurang setuju dengan niat orangtua itu,
hendaknya orangtua dengan dibantu anak-anak yang telah setuju dan mengerti
maksud orangtua tersebut menerangkan hal ini kepada anggota keluarga yang belum
setuju. Lakukanlah berbagai pendekatan kepada anggota keluarga yang belum setuju.
Hilangkanlah berbagai masalah yang mengganjal dalam pikirannya. Orangtua
hendaknya mampu menunggu dengan sabar segala proses yang diperlukan agar dapat
mengubah sikap serta pandangan anaknya. Setelah semua anak menyetujui keputusan
untuk balik nama tersebut, maka barulah orangtua dapat melakukan balik nama
dengan leluasa.
Memang sesungguhnya orangtua dapat saja memaksakan kehendak untuk langsung
melakukan balik nama atas rumah tersebut, namun sikap ini justru akan memancing
perpecahan dalam keluarga. Perpecahan keluarga tentunya bukan merupakan tujuan
pendidikan orangtua terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu, sikap sabar, terbuka dan
penuh pengertian orangtua terhadap anak-anaknya adalah merupakan modal tak
ternilai untuk menjaga serta mempertahankan keutuhan serta keharmonisan sebuah
rumah tangga.
Menyatakan keluar dari suatu pekerjaan untuk mencari pekerjaan lain adalah hal yang
sangat wajar terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, sebelum seseorang
mengambil keputusan untuk keluar dari suatu pekerjaan, hendaknya ia terlebih dahulu
memikirkan pekerjaan pengganti. Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena di
masa lapangan kerja yang serba terbatas ini, ada baiknya sedikit bersabar untuk
bertahan di tempat kerja yang sekarang sebelum mendapatkan pekerjaan pengganti.
Dalam memilih pengganti kerjaan seseorang hendaknya juga memikirkan
ORIENTASI kerja yang dilakukannya. Apabila orientasi kerjanya adalah mencari
uang, maka pekerjaan pengganti yang dicari haruslah pekerjaan yang
memungkinkannya memiliki penghasilan yang lebih dibandingkan penghasilan yang
diperolehnya di tempat kerja semula. Sedangkan, apabila orientasi kerjanya adalah
untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan maupun ketrampilan yang telah dipelajarinya
di bangku pendidikan, maka pemilihan bentuk kerjaan yang baru hendaknya lebih
menekankan penggunaan ketrampilan yang telah dimilikinya daripada hanya sekedar
asal kerja. Tentu saja, idealnya orang akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat serta ketrampilannya dan sekaligus mendatangkan banyak uang.
Namun, hal yang ideal ini seringkali hanya berlaku untuk sebagian orang saja. Karena
itu, kalau terpaksa harus memilih salah satu di antaranya, cobalah untuk merenungkan
terlebih dahulu segala untung dan rugi sebagai akibat logis sebuah keputusan yang
diambil. Orang yang bijaksana adalah orang yang dapat mempertimbangkan segala
keputusan yang diambil berdasarkan resiko yang siap ditanggungnya.
Selain menentukan orientasi kerja yang dipergunakan untuk memilih jenis pekerjaan,
seseorang hendaknya tidak melupakan adanya KESEMPATAN kerja yang dapat
dilakukan sendiri sebagai wiraswasta. Menjadi wiraswasta dapat dengan
menggunakan modal ketrampilan yang ada, maupun harus mempergunakan sejumlah
uang yang relatif kecil sampai dengan besar. Wiraswasta bermodalkan ketrampilan
dapat dilakukan dengan memberikan jasa, misalnya sebagai sales sebuah produk
tertentu, menjadi designer dslb. Sedangkan kerja dengan modal uang dapat dilakukan
dari membuka warung, toko sampai dengan menginvestasikan modal untuk sebuah
usaha kerjasama. Tentunya masih banyak hal yang dapat dikerjakan dalam kehidupan
ini. Semua pilihan pekerjaan ini tergantung pada kemampuan seseorang untuk
berusaha dan berjuang. Adalah hal yang sangat penting untuk diingat agar
mendapatkan keberhasilan dalam kehidupan ini yaitu pengertian untuk menjadikan
segala kesulitan sebagai kesempatan, bukan menjadikan segala kesempatan sebagai
kesulitan.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

44. Dari: Tuwino Gunawan, Medan
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin bertanya, apa yang harus kita (umat Buddha) perbuat apabila hukum di
negara kita tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat banyak, tetapi
hanya berpihak kepada penguasa dan kaum berduit?

Jawaban:
Manusia selama belum mencapai kesucian adalah wajar apabila dalam melakukan
segala aktifitas hidupnya ia akan selalu didasari oleh ketamakan, kebencian dan
kegelapan batin. Apalagi bila ia telah memiliki sedikit kekuasaan atau kedudukan,
maka ia akan memanfaatkan segala yang ia miliki tersebut untuk memuaskan ketiga
akar perbuatan yang telah disebutkan itu.
Karena telah menjadi watak dasar manusia, maka ketika seseorang sebagai pemimpin
rumah tangga, tidak jarang ia kemudian menjadi orang yang ingin menang sendiri.
Sikap ini akan berkembang lebih hebat lagi apabila ia kemudian menjadi pemimpin
suatu kelompok, atau masyarakat atau bangsa atau bahkan dunia. Sangat mudah
dijumpai dalam dunia ini para pemimpin dunia yang mempergunakan segala cara
untuk menindas rakyatnya sendiri maupun rakyat negara lain. Ia akan
mempergunakan hukum bukan untuk keadilan melainkan untuk menjadi alat
pembenaran segala perilakunya yang telah menyimpang dari hukum itu sendiri.
Namun, dalam pandangan Dhamma segala proses ini adalah merupakan hal yang
wajar.
Oleh karena itu, dengan menyadari kuatnya pengaruh ketiga akar perbuatan tersebut,
maka seorang umat Buddha hendaknya bertekad untuk mulai memperbaiki diri agar
sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Hendaknya ia mulai sedikit demi sedikit
mengurangi segala bentuk ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
Bila ia telah berhasil mengurangi pengaruh buruk ketiga akar perbuatan tersebut,
maka jika ia menjadi kepala keluarga, ia akan menjadi orang yang disayangi dan
disenangi oleh keluarganya. Bila ia menjadi orang yang disayangi keluarga dan
lingkungannya, maka ia akan dapat diangkat warga sebagai ketua RT, ketua RW, atau
camat, bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden. Namun, karena ia telah
mengawali menundukan ketamakan, kebencian serta kegelapan batinnya sejak
memimpin keluarganya, maka ketika ia telah memperoleh jabatan tinggi sekalipun ia
tidak akan menyalahgunakan jabatannya. Ia tetap menjadi orang yang baik dan
dicintai oleh banyak orang. Ia akan menjadikan hukum sebagai pemimpin, dan bukan
lagi sebagai alat untuk menindas mereka yang lemah, membantu mereka yang
berkuasa dan berduit.
Agar dapat menjadi pemimpin yang baik maka dalam Jataka telah pernah
disampaikan sepuluh sikap mental yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin.
Kesepuluh sikap mental ini terdapat dalam DASARAJA DHAMMA yang isinya
adalah:
1. Tidak kikir karena ia bersedia berkorban demi orang yang dipimpinnya.
Pengorbanan di sini lebih cenderung pada materi yang dimilikinya.
2. Memiliki kemoralan yaitu tidak melakukan pembunuhan, pencurian, perjinahan,
kebohongan dan mabuk-mabukan.
3. Berani berkorban segalanya demi kebahagiaan orang yang dipimpinnya.
Pengorbanan di sini diartikan sebagai hal yang bersifat bukan materi, misalnya nama
baik, kesenangan pribadi bahkan sampai kehidupannya.
4. Memiliki kejujuran.
5. Bersikap ramah tamah dan sopan santun kepada siapapun juga.
6. Bersikap sederhana tidak bermewah-mewah di kala orang yang dipimpinnya
sedang menderita secara ekonomis.
7. Tidak mendendam sehingga dapat bersikap netral bahkan kepada orang yang tidak
sependapat dengannya.
8. Menyelesaikan segala permasalahan dengan cinta kasih tanpa kekerasan.
9. Memiliki kesabaran dan rendah hati dalam menghadapi berbagai jenis perbedaan
dalam masyarakat yang dipimpinnya.
10.Mengembangkan sikap demokrasi dengan tidak menentang serta menghalangi
mereka yang berbeda pendapat dengannya.
Apabila seorang umat Buddha telah melatih dan mengembangkan kesepuluh sikap
mental sebagai pemimpin yang baik ini dalam keluarganya, maka sekalipun ia
menjadi pejabat tinggi negara, ia akan tetap memberikan kebahagiaan untuk
rakyatnya. Ia menjadikan hukum sebagai sarana membahagiakan rakyatnya. Ia akan
dapat mewujudkan kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun pada kehidupan yang
selanjutnya.
Sedangkan, apabila seorang umat Buddha melihat adanya penyalahgunaan hukum
agar dapat menguntungkan segolongan tertentu, hendaknya timbul dalam dirinya rasa
kasihan kepada mereka yang telah menyalahgunakan kesempatan baik untuk
membahagiakan banyak fihak tersebut. Karena sesungguhnya menjadi seorang
pemimpin adalah menjadi orang yang memiliki kesempatan besar untuk
membahagiakan dan mensejahterakan orang yang dipimpinnya. Kesempatan ini
apabila dipergunakan dengan baik dan benar akan dapat memberikan buah karma
baik yang sangat besar. Sebaliknya, apabila kesempatan ini disalahgunakan, maka
buah karma buruk dapat timbul dengan berbagai bentuknya. Buah karma atau buah
perbuatan tidak akan pernah meninggalkan si pelaku seperti bayang-bayang yang
tidak pernah meninggalkan bendanya.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

45. Dari: Yulia, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin bertanya,
1. Apakah perbedaan antara Liam Keng dan Paritta ?
2. Saya pernah dengar, katanya meditasi baik untuk orang yang silanya baik, dan
berbahaya untuk orang yang silanya jelek. Apakah orang yang sombong (tinggi hati),
bisa mencapai tingkat meditasi yang tinggi ?
3. Kalau orang yang bisa komunikasi dengan dewata, orang tsb. sudah mencapai
tingkat meditasi mana ?
Terima kasih atas penjelasan Bhante.

Jawaban:
1. 'Keng' atau Paritta mempunyai arti yang kurang lebih sama yaitu sebuah atau
sebagian dari kotbah yang pernah diuraikan oleh Sang Buddha pada suatu saat di
tempat tertentu. Kotbah Sang Buddha ini semuanya berisikan petunjuk agar orang
mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Seorang umat Buddha dalam
melakukan ritual keagamaannya, biasanya mengulang kembali kotbah Sang Buddha
tersebut. Dalam masyarakat Buddhis, kotbah Sang Buddha yang menggunakan
bahasa Pali atau bahasa yang pernah dipergunakan di India waktu itu disebut sebagai
'Paritta' yang arti sebenarnya adalah perlindungan. Sedangkan, kotbah Sang Buddha
yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Mandarin disebut sebagai 'cing' atau 'keng'.
Dengan demikian, 'liam keng' atau 'nien cing' adalah sama artinya dengan 'membaca
paritta'.
2. Meditasi para prinsipnya adalah latihan konsentrasi pada satu obyek yang telah
ditentukan dan juga latihan mengembangkan kesadaran pada segala sesuatu yang
sedang dilakukan saat ini. Dalam melatih bermeditasi, diperlukan dasar kemoralan
yang baik. Orang itu hendaknya dapat melatih paling sedikit lima latihan kemoralan
yaitu latihan tidak membunuh, latihan tidak mencuri, latihan tidak melanggar
kesusilaan, latihan tidak berbohong dan latihan tidak mabuk-mabukan. Dengan
memiliki kemoralan yang baik, maka orang tersebut secara otomatis akan selalu
menyadari segala tingkah laku dan ucapannya. Kesadaran setiap saat pada badan dan
ucapan ini sangat membantu orang tersebut mengembangkan kesadaran pada proses
pikirannya. Oleh karena itu, dengan latihan kemoralan yang baik, kesadaran
seseorang pun akan bertambah baik.
Selain itu, dengan memiliki kemoralan yang baik, seseorang yang telah meditasi
dengan baik tidak akan menyalahgunakan kemampuan batin yang dia dapatkan dari
latihan meditasinya. Ia tidak akan membahayakan orang lain. Ia justru akan selalu
mempergunakan kemampuan batinnya untuk memberikan kebahagiaan dan manfaat
kepada orang banyak.
Sedangkan orang yang memiliki kesombongan tentu saja masih bisa melatih meditasi
hingga mencapai tingkat tinggi. Namun, karena kesombongannya, ia berpeluang
besar untuk menyalahgunakan kemampuan batin yang telah ia peroleh selama melatih
meditasi.
3. Kehidupan ini memang bukan hanya milik manusia dan binatang yang tampak
mata saja, namun juga milik para mahluk yang tidak tampak. Dalam pengertian
Buddhis, mahluk tidak tampak ini adalah mereka yang di alam menderita maupun
mereka yang di alam bahagia. Pada dewa adalah merupakan salah satu jenis mahluk
yang tidak tampak sebagai penghuni beberapa tingkat alam surga atau alam bahagia.
Seseorang dengan melatih meditasi sehingga mencapai tingkat konsentrasi tertentu
serta memiliki dukungan karma lampau yang kuat memang memungkinkannya
melihat dan berkomunikasi dengan pada dewa. Dukungan karma lampau ini biasanya
sudah tampak sejak ia masih anak-anak. Biasanya ada sebagian anak balita yang
sudah mampu melihat alam lain. Apabila anak ini dilatih bermeditasi, maka ia
berpotensi memiliki kemampuan berkomunikasi dengan alam lain.
Semoga jawaban ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

46. Dari: Erin, USA
Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin bertanya kepada Bhante, sebaiknya apa yang harus saya beritahukan
kepada seorang teman saya yang ingin berpindah agama tetangga karena akan
menikah dengan seorang yang berasal dari agama tetangga. Padahal teman saya ini
dulunya adalah pengikut Buddhis yang amat sangat aktif di vihara, latar belakang
keluarganya juga sangat aktif di vihara.
Teman saya ini selalu bertanya kepada saya karena dia bingung apa yang sebaiknya
dia lakukan. Di satu sisi dia bilang dia cinta kepada pacarnya, di satu sisi dia bilang
orang tuanya sampai sakit karena mereka ingin anaknya tetap menjadi seorang
Buddhis.
Saya hanya bisa memberi saran kepada teman saya itu untuk tidak menentang dan
membuat orang tua kita sedih. Saya juga sering bingung karena saya sama sekali
tidak menyangka bahwa dia ingin berubah ke agama tetangga, apalagi dia juga bilang
dia beberapa mendapat mimpi tentang bait2 agama tetangga.
Saya mohon bimbingan Bhante mengenai masalah ini.
Saya juga mohon petunjuk Bhante bagaimana caranya supaya kita tidak terpengaruh
untuk ikut ke agama tetangga berhubung 90 % teman-teman saya menganut agama
tetangga dan saya tidak ingin terpengaruh.
Anumodana atas saran Bhante.

Jawaban:
Dasar seseorang memilih suatu agama sebenarnya adalah karena adanya kecocokan
secara PRIBADI dengan ajaran agama tersebut. Dengan adanya kecocokan tersebut
maka orang akan berusaha untuk berperilaku, berbicara dan berpikir sesuai dengan
tuntunan ajaran agama yang telah dipilihnya. Dalam pemilihan agama, seseorang
sering terkondisi oleh bimbingan dan didikan orangtua. Ada juga orang memilih
agama karena terpengaruh oleh tempat ia mendapatkan pendidikan serta masih
banyak penyebab lainnya.
Masalah pindah agama, dipandang secara Dhamma sebenarnya adalah hal yang biasa
saja karena segala sesuatu di dunia adalah tidak kekal, termasuk sikap pribadi
seseorang terhadap suatu agama. Namun, alasan pindah agama ini biasanya adalah
tetap karena adanya kecocokan pribadi tersebut, bukan karena pasangan hidup yang
beragama lain. Kalau seseorang pindah agama karena alasan pasangan hidup yang
berbeda agamanya maka orang seperti ini sebenarnya adalah orang yang sangat
memprihatinkan hidupnya. Ia belum dapat membedakan antara agama sebagai jalan
hidup yang harus dijadikan pedoman dengan agama yang hanya sekedar menjadi
kepantasan untuk memenuhi sebuah status. Oleh karena itu, orang tersebut hendaknya
diberi pengertian tentang TUJUAN HIDUP BERAGAMA yang seharusnya ia miliki.
Tujuan hidup beragama adalah dengan melaksanakan ajaran suatu agama orang akan
dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, kebahagiaan setelah kehidupan ini dan
kalau ia melaksanakan Buddha Dhamma maka ia akan terbebas dari kelahiran
kembali. Dengan demikian, seharusnya ia berpikir lebih bijaksana sebelum
mengambil suatu keputusan penting. Apalagi keputusan yang diambilnya mempunyai
resiko menimbulkan masalah dengan orangtuanya.
Orangtua yang ingin anaknya tetap Buddhis dan rajin ke vihara tentu akan sangat
kecewa dan sedih apabila menghadapi anak yang akan pindah agama. Hal ini telah
dibuktikan dengan kondisi orangtua yang kemudian jatuh sakit. Padahal sebagai
seorang anak, ia seharusnya justru memberikan kebahagiaan kepada orangtua.
Dengan membuat orangtua sedih dan jatuh sakit, anak tersebut telah melakukan
karma buruk. Selain melakukan karma buruk, anak tersebut juga mengkondisikan
orangtua serta keluarga memandang calon pasangan hidupnya itu sebagai orang yang
kurang baik. Pandangan negatif ini bisa timbul karena anak tersebut kenyataannya
ingin pindah agama setelah berpacaran dengannya. Dengan demikian, ia semakin sulit
mendapatkan dukungan dan persetujuan keluarganya untuk menjadikan pacarnya
sebagai pasangan hidup. Padahal, suatu perkawinan haruslah diawali dengan hal yang
baik untuk kedua belah fihak keluarga.
Oleh karena itu, sebaiknya anak justru mengkondisikan suasana yang baik dalam
keluarga sehingga orangtua akan dapat menerima pacarnya sebagai calon menantu.
Namun, kalau memang masalah perbedaan agama ini tidak dapat diselesaikan dengan
baik-baik, maka sudah seharusnya anak menurut nasehat orangtuanya. Sikap menurut
nasehat orangtua ini didasarkan pada kepercayaan akan niat baik yang ada dalam diri
orangtua terhadap anaknya. Selain itu, seorang anak hendaknya mengingat jasa
orangtua yang sangat besar kepada dirinya. Jasa orangtua yang sedemikian besar itu
tentunya tidak akan sepadan bila dibandingkan dengan jasa yang telah pernah
dilakukan pacarnya kepadanya. Dengan demikian, anak tidak layak memilih orang
yang kurang berjasa dengan meninggalkan mereka yang telah berjasa kepadanya
sejak ia masih dalam kandungan.
Meskipun tidak menjadi pasangan hidup, apabila pacar tersebut memang baik
perilakunya, ia tentunya masih dapat menjadi seorang sahabat atau teman hidup.
Dengan demikian, mereka berdua walaupun telah saling membina rumah tangganya
masing-masing, mereka masih tetap dapat berjumpa dan saling membantu.
Adapun penyebab terjadinya pengalaman mimpi tentang berbagai bait agama lain itu
salah satunya adalah karena seringnya muncul konflik pada pikiran bawah sadarnya.
Semakin sering terjadi konflik dalam pikiran, maka semakin banyak pula timbunan
pikiran seseorang tentang hal itu. Apabila telah mencapai tahap tertentu, berbagai
bentuk pikiran itu akan muncul sebagai mimpi. Oleh karena itu, jenis mimpi semacam
itu hendaknya tidak dijadikan alasan pembenaran untuk memilih suatu agama.
Pergaulan di dalam masyarakat memang sudah seharusnya tidak dibatasi oleh adanya
perbedaan agama dalam diri setiap individu. Agama dipilih adalah karena kecocokan
pribadi. Komunikasi yang terjadi dalam dalam masyarakat adalah komunikasi antar
individu, tidak harus dipengaruhi oleh kecocokannya. Seseorang yang cocok
menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi tidak harus membatasi
pergaulannya dengan orang yang cocok mempergunakan mobil sebagai alat
transportasinya. Namun, kalau memang ia ingin bergabung dengan orang yang sejenis
kecocokannya, ia dapat saja bergabung dengan klub pecinta mobil maupun motor.
Hanya saja, tidak setiap pergaulan dalam masyarakat harus selalu didasari dengan
kesamaan kecenderungan atau kecocokan tersebut. Demikian pula dengan pergaulan
antar agama. Pergaulan antar agama ini akan baik dan harmonis sejauh teman bergaul
itu tidak berusaha untuk saling mempengaruhi ataupun menjelekkan agama orang
lain. Kalau seseorang bertemu dengan teman yang suka mempengaruhi dan
menjelekkan agama lain, maka teman seperti ini haruslah diingatkan secara halus. Ia
hendaknya diberikan pengertian tentang makna kehidupan beragama. Orang seperti
itu adalah orang yang pantas dikasihani. Arahkan dia dengan sabar agar ia dapat
memahami adanya kebenaran di agama orang lain.
Selain itu, seorang umat Buddha hendaknya lebih rajin ke vihara untuk mengikuti
puja bakti dan tekun melaksanakan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Buddha Dhamma adalah dengan mengembangkan kerelaan, kemoralan
serta konsetrasi dalam bermeditasi. Seorang umat Buddha yang hanya ikut kebaktian
tanpa berusaha memperbaiki perilaku, ucapan dan pikiran dapat disebut sebagai umat
Buddha tradisional. Seorang umat Buddha yang mulai berusaha memperbaiki diri
akan merasakan manfaat dan keindahan Buddha Dhamma. Ia akan selalu bersemangat
dalam melaksanakan Buddha Dhamma. Ia akan berbahagia dalam Buddha Dhamma.
Umat Buddha yang telah membuktikan manfaat Dhamma dalam kehidupannya inilah
yang tidak akan pernah terpengaruh untuk memilih agama lain.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.
Semoga bahagia.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

47. Dari: Dicky Santosong, Jakarta
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante, saya berencana untuk membuat altar Buddha di rumah saya nantinya.
Adakah syarat-syarat tertentu, misalnya tinggi meja, menghadap ke mana, dan kalau
altarnya sudah ada, apakah sebaiknya di blessing oleh Bhante ?
Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang diberikan.

Jawaban:
Seorang umat Buddha memang hendaknya berusaha membuat altar di rumahnya.
Pembuatan altar ini akan dapat meningkatkan kegiatan ritual seluruh anggota
keluarga di rumah. Dengan rajin membaca dan memahami paritta, melaksanakan
meditasi serta berbagai aktifitas ritual lainnya, hendaknya orang dapat memperbaiki
kualitas perbuatan badan, ucapan dan pikirannya. Dengan demikian, semakin lama ia
memiliki altar diharapkan semakin baik pula perilakunya. Anumodana atas niat baik
Anda. Semoga Anda selalu berbahagia.
Dalam pembuatan altar Sang Buddha, sebenarnya tidak ada aturan khususnya.
Susunan altar hendaknya disesuaikan dengan keadaan setempat. Apabila seluruh
anggota keluarga direncanakan membaca paritta sambil duduk bersila di lantai, maka
tinggi altar hendaknya tidak membuat mereka terlalu mendongak saat menatap arca
Buddha di altar. Sedangkan, kalau direncanakan keluarga akan membaca paritta
sambil duduk di kursi, maka tinggi altar haruslah disesuaikan pula.
Dalam Kitab Suci Tipitaka juga tidak ditentukan arah hadap altar. Hanya saja,
berdasarkan kebiasaan dan tradisi, banyak umat Buddha yang membuat altar dengan
arah Timur-Barat yaitu meletakkan arca Sang Buddha menghadap ke Timur atau
Barat. Sebenarnya, arah hadap Timur-Barat ini hanyalah tradisi, jadi sesungguhnya
arca Sang Buddha dapat menghadap ke SELURUH MATA ANGIN. Tidak ada
bedanya.
Pemberkahan altar oleh para bhikkhu adalah merupakan tradisi Buddhis yang bukan
menjadi keharusan. Oleh karena itu, kalau altar telah siap dan bermaksud
mengundang para bhikkhu membacakan paritta, maka hal ini adalah merupakan
kesempatan untuk umat melakukan kebajikan. Namun, bukan masalah apabila tradisi
tersebut tidak dilakukan. Sesungguhnya hal yang paling penting untuk seorang umat
Buddha yang memiliki altar adalah memahami makna altar sebagai sarana untuk
mengingatkan para umat bahwa Sang Buddha adalah seorang guru agung yang
memiliki sifat welas asih kepada semua mahluk. Dengan demikian, sebagai seorang
umat Buddha, sudah selayaknya ia juga mengembangkan sikap welas asih ini kepada
semua mahluk yang berada di lingkungannya. Dengan semakin banyak
mengembangkan sikap welas asih dalam kehidupan sehari-hari, maka manfaat altar
itu semakin besar untuk mengubah perilaku seseorang.
Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

48. Dari: Merlin, Surabaya
Namo Buddhaya,
Bhante, saya sekarang dalam masa penyusunan Tugas Akhir. Dalam Tugas Akhir ini
saya membuat interior ruang dalam vihara. Saya mau bertanya:
1. Ruangan apa saja yang harus ada dalam sebuah vihara? Ada yang mengatakan
bahwa sebuah vihara harus ada ruangan untuk pentabisan seorang bhikkhu. (kalau hal
tersebut benar, apa saja yang ada didalam ruang tersebut? dan apakah ruang tersebut
harus tertutup?)
2. Apakah altar tempat rupang Buddha harus berada lebih tinggi dari kepala umat
yang sedang duduk bersila?
3. Adakah aturan khusus mengenai ukuran tempat tidur, meja, lemari (yang berada
dalam Kuti Bhikkhu)?
Terima kasih atas jawabannya.
Semoga semua makhuk berbahagia.

Jawaban:
1. Dalam pembuatan sebuah vihara hendaknya diperhatikan konsep Buddhis yang
paling mendasar yaitu tentang Buddha (guru); Dhamma (Ajaran) dan Sangha (siswa).
Oleh karena itu, vihara minimal memiliki ketiga sarana tersebut.
Buddha dapat diwujudkan dengan tempat untuk mengadakan puja bakti yang terdapat
arca Buddha di dalamnya. Luas ruangan ini hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan
sehari-hari para umat Buddha di sekitar vihara tersebut. Dalam ruangan ini dapat
diletakkan sebuah atau lebih altar dengan berbagai perlengkapan puja seperti bunga,
dupa dan lilin. Bentuk dan tinggi altar dapat disesuaikan dengan kebutuhan para umat
Buddha setempat. Ada kalanya, di beberapa kota, tempat menghormat Sang Buddha
ini dilengkapi dengan kursi atau bangku agar mempermudah orangtua atau orangorang
tertentu duduk nyaman mengikuti puja bakti yang sedang berlangsung. Tempat
ini hendaknya cukup terang di kala siang dan malam karena akan mempermudah
umat membaca paritta di sini. Tata suara dan pengaturan udara segar hendaknya juga
diperhatikan sehingga upacara yang diselenggarakan dapat berjalan lancar.
Dhamma diwujudkan dengan disediakannya ruangan untuk belajar Dhamma atau
lebih dikenal sebagai Dhammaclass. Ruangan ini hendaknya dapat diatur sedemikian
rupa sehingga meskipun penuh sesak, orang masih merasa nyaman untuk mengikuti
berbagai kegiatan Dhamma di sini. Di sini juga dapat dibangun fasilitas perpustakaan
yang dapat membantu para umat Buddha maupun umum untuk memahami Dhamma
dengan baik.
Adapun Sangha dapat diwujudkan dengan disediakannya sebuah atau lebih tempat
tinggal bhikkhu. Tempat tinggal bhikkhu ini disebut sebagai kuti. Apabila masih
tersedia lahan, maka dapat pula dibangun tempat penabhisan bhikkhu atau
uposathagara. Keberadaan tempat penabhisan bhikkhu ini bukanlah keharusan.
Uposathagara yang memiliki altar di dalamnya ini baru dapat dijadikan sebagai
tempat penabhisan bhikkhu apabila telah dilakukan upacara sangha untuk meletakkan
batas pada setiap sudut bangunan dan juga tengah bangunan. Uposathagara tidak
harus selalu ditutup, namun, biasanya kalau sudah ada tempat untuk kebaktian maka
uposathagara hanya dibuka bila ada penabhisan bhikkhu saja.
Selain tempat tinggal dan tempat penabhisan bhikkhu, dapat pula dimasukkan dalam
kelompok ini adalah ruang meditasi perseorangan dan juga ruang meditasi kelompok
yang dapat berbentuk aula.
Selain ketiga unit bangunan utama yang merupakan perwujudkan Buddha, Dhamma
serta Sangha tersebut, vihara dapat pula dilengkapi dengan berbagai sarana
pendukung lainnya. Sarana pendukung ini misalnya ruang penjaga vihara, ruang tamu
menginap, ruang duduk, ruang kesenian, museum, ruang penjualan buku dan souvenir
Buddhis serta berbagai sarana lainnya yang diperlukan untuk orang di lingkungan
vihara. Di beberapa negara Buddhis, sarana pendukung ini juga termasuk sekolah
Buddhis dari berbagai tingkat pendidikan, ruang upacara perkawinan, ruang
penyimpanan jenasah, ruang krematorium dan juga tempat penyimpanan abu jenasah.
Dengan demikian, vihara bukan hanya sekedar tempat ibadah umat Buddha
melainkan menjadi kompleks kebudayaan Buddhis dengan berbagai relief serta hiasan
bermakna lainnya. Vihara bahkan juga dapat menjadi salah satu obyek wisata spritual
untuk mereka yang bukan Buddhis.
2. Susunan altar sebagai obyek penghormatan kepada Sang Buddha hampir selalu ada
di setiap bagian pokok vihara seperti yang telah diuraikan pada jawaban nomor 1 di
atas. Pada umumnya tinggi altar disesuaikan dengan perencanaan kegiatan umat di
sana. Apabila umat direncanakan duduk di lantai pada saat melakukan kegiatan, maka
tinggi altar hendaknya disesuaikan sehingga umat tidak terlalu mendongak apabila
ingin menatap arca Sang Buddha. Namun, tentu saja tinggi altar ini akan berubah bila
direncanakan umat duduk di kursi pada saat melakukan kegiatan ritualnya. Yang
jelas, memang tinggi altar selalu lebih tinggi daripada kepala umat yang melakukan
kegiatan ritual di sana.
3. Seorang bhikkhu setelah mendapatkan penabhisan kebhikkhuan di uposathagara
maka mulai saat itu ia harus melaksanakan kehidupannya sesuai dengan peraturan
kebhikkhuan yang ada dalam Patimokkha. Disebutkan dalam bagian Patimokkha
yaitu Sanghadisesa nomor 6 bahwa ukuran tempat tinggal bhikkhu panjang maksimal
adalah 7 Sugatavidatthi dan lebar 7 Sugatavidatthi, sedangkan lokasi tempat tinggal
bhikkhu itu sebelum dibangun harus mendapat persetujuan Sangha terlebih dahulu.
Peraturan ini berlaku untuk vihara yang didirikan oleh Sangha.
Sedangkan, kalau vihara tersebut didirikan oleh umat, maka ukuran panjang dan lebar
tempat tinggal bhikkhu dapat lebih bebas, walaupun lokasi tempat itu tetap perlu
mendapat persetujuan Sangha terlebih dahulu (Sanghadisesa nomor 7).
Tempat tidur untuk para bhikkhu biasanya satu tempat untuk satu orang bhikkhu.
Sedangkan tinggi KAKI tempat tidur maupun bangku duduk seorang bhikkhu dalam
Patimokkha bagian Pacittiya, Ratanavagga 5 disebutkan maksimal tingginya adalah 8
Sugatangulena.
Untuk ukuran maupun bentuk lemari serta meja yang ada di tempat tinggal bhikkhu
dapat disesuaikan dengan tempat dan kebutuhan. Tidak ada aturan khusus tentang hal
ini.
Semoga penjelasan ini dapat memberikan manfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
Catatan:
1 sugatavidatthi = 13 1/3 inch (33,7820 cm)
1 sugatangulena = 1 1/8 inch ( 2,8575 cm)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

49. Dari: Ichen, Tangerang
Namo Buddhaya Bhante,
Bhante, bagaimana pandangan Agama Buddha mengenai meminta sesuatu dengan
cara 'Muja' (nyupang). Bagaimana kaitannya dengan hukum karma? Apakah hasil
yang didapat memang atas buah karma baik yang di lakukan masa lalu, atau memang
ada faktor lain? Karma apa yang akan diperoleh bila seseorang melakukan hal itu dan
ia akan terlahir di alam mana?
Apakah memang ada makhluk lain yang dapat memberikan atau mengabulkan
permintaan seseorang?
Mohon penjelasan dari Bhante, terima kasih.

Jawaban:
Dalam masyarakat istilah 'Muja' atau 'Nyupang' sering diartikan sebagai usaha
seseorang untuk mendapatkan keinginannya dengan cara mendatangi tempat keramat.
Di tempat keramat itu ia memberikan janji untuk melakukan sesuatu apabila
keinginannya telah tercapai. Memang benar, keberhasilan cara ini sangat tergantung
pada dukungan karma baik orang itu sendiri. Namun, apabila janji ini berhubungan
dengan keberadaan mahluk 'halus' di tempat itu, maka sesungguhnya orang tersebut
telah menjalin suatu bentuk ikatan tertentu dengan mahluk tersebut. 'Ikatan kerja' ini
tentu akan memberikan akibat yaitu salah satunya apabila orang tersebut meninggal
dunia, ia mungkin akan dilahirkan di alam yang sama dengan mahluk yang telah
membantunya. Oleh karena itu, dalam pandangan Buddha Dhamma, seorang umat
Buddha dalam usahanya mendapatkan kebahagiaan sebaiknya selalu mengembangkan
kebajikan dengan melaksanakan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Dengan
timbunan kebajikan yang telah dilakukannya, ia akan mendapatkan kebahagiaan
sesuai dengan yang diharapkannya. Kebahagiaan ini tidak ada ikatan dan kaitan
dengan mahluk lainnya. Dengan demikian, ia hendaknya dapat menghindari berbagai
bentuk 'kerja sama' dengan mahluk dari alam lain yang berpotensi menimbulkan
penderitaan di masa depan.
Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

50. Dari: Edy, Medan
Namo Buddhaya, Bhante
Mohon petunjuk bagaimanakah caranya untuk menjadi penceramah yg baik dan
sukses seperti Bhante.
Bagaimanakah struktur organisasi keviharaan yg baik dan efektif, mohon penjelasan
dari Bhante.
Terimakasih banyak, Bhante.

Jawaban:
Dari semua pemberian, pemberian Dhamma lah yang tertinggi nilainya. Seseorang
yang mampu memberikan ceramah Dhamma di vihara adalah termasuk orang yang
telah melakukan pemberian Dhamma. Ceramah yang baik hendaknya diawali dengan
merumuskan TUJUAN isi ceramah yang akan disampaikan. Tujuan ceramah
sebaiknya berhubungan dengan perubahan perilaku yang diharapkan dari para
pendengarnya, misalnya: setelah mendengar ceramah, pendengar terdorong untuk
melatih meditasi secara rutin. Sebuah ceramah yang baik hendaknya hanya memiliki
satu tujuan saja. Perlu disadari bahwa berceramah di vihara sangat berbeda dengan
memberikan kuliah di kampus. Para pendengar di vihara sangatlah bervariasi tingkat
pengertian dan pengetahuannya. Oleh karena itu, hindarilah berbagai pernyataan
filosofis yang terlalu tinggi dan istilah asing yang kurang dimengerti pendengarnya.
Selain itu, penceramah hendaknya juga memaksimalkan penggunaan berbagai teknik
komunikasi efektif seperti kontak mata, variasi suara dan aneka gerak tubuh sebagai
pendukung gagasan yang hendak disampaikannya kepada semua pendengarnya.
Tentu saja, seorang penceramah sangat perlu menambah pengetahuan dan wawasan
dengan banyak membaca buku serta mencari informasi dari berbagai sumber yang
terdapat dalam masyarakat. Biasanya, semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya,
maka ceramah yang diberikan cenderung akan semakin menarik apalagi bila
penceramah trampil dalam mempergunakan berbagai teknik ceramah yang telah
dipelajari dan dipraktekkannya.
Sebagai tambahan informasi, disebutkan dalam Anguttara Nikaya III, 184 beberapa
persyaratan dasar sebagai seorang penceramah Dhamma yaitu:
1. Menerangkan Dhamma selangkah demi selangkah dan tidak meloncat atau
menyingkat bagian-bagian ceramahnya sehingga akan mengurangi artinya.
2. Memberikan alasan-alasan yang masuk akal sehingga membuat para pendengarnya
mengerti.
3. Memiliki cinta kasih dalam dirinya serta mengharapkan para pendengarnya dapat
memetik faedah dari uraian Dhamma nya itu.
4. Tidak mengajarkan Dhamma untuk tujuan memperoleh keuntungan bagi diri
sendiri.
5. Tidak mengajarkan Dhamma dengan menyerang atau merendahkan orang lain serta
memuji diri sendiri.
Vihara sebagai tempat berkumpul umat Buddha memang sangat perlu diatur dengan
sebaik-baiknya. Pengelolaan vihara dapat dilakukan oleh sebuah organisasi yang
dibentuk untuk itu. Pembentukan organisasi tersebut haruslah disesuaikan dengan
KEBUTUHAN vihara yang hendak dicapai dalam waktu tertentu bukan berdasarkan
idealisme suatu organisasi. Idealnya suatu organisasi memang harus mempunyai
struktur yang cukup lengkap, namun apabila struktur lengkap semacam itu dianggap
berlebihan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan, struktur itu dapat
disederhanakan. Dalam mengelola organisasi vihara yang tidak memberikan
keuntungan materi, para anggota hendaknya diberikan pengertian akan manfaat
kebajikan. Dengan membantu kegiatan organisasi vihara, seseorang akan mempunyai
kesempatan menanam kebajikan. Sedangkan, apabila ia tidak melaksanakan tugas
keorganisasian, ia telah kehilangan kesempatan berbuat baik. Dengan pengertian
seperti ini, diharapkan para pengurus akan terbuka pengertiannya sehingga
mengesampingkan berbagai perbedaan pendapat yang ada di antara sesama anggota
pengurus untuk akan bekerja sekuat tenaga demi kemajuan Dhamma. Sesungguhnya,
orang yang membantu melestasikan Dhamma adalah termasuk melakukan
Dhammadana yang tertinggi nilainya. Selain itu, ada baiknya para pengurus vihara
secara berkala melakukan kunjungan kerja ke berbagai vihara yang ada di kota sendiri
ataupun di kota lain agar dapat meniru bentuk organisasi yang telah ada di viharavihara
lain. Dengan cara seperti ini, organisasi di vihara tersebut akan dapat
diperbaiki serta ditingkatkan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Salam metta,
B. Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar