Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

MAKNA BER-NAMASKARA

MAKNA BER-NAMASKARA

Posted by ratanakumaro pada September 14, 2009
“Araham Sammasambuddho  Bhagava, Buddham bhagavantam abhivademi”
( Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna ;  Aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava )
“Svakkhato bhagavata dhammo, Dhammam namassami”
( Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava ; Aku bersujud di hadapan Dhamma )
“Supatipanno bhagavato savakasangho ; Sangham namami”
( Sangha Siswa Sang Bhagava telah bertindak sempurna ; Aku bersujud di hadapan Sangha )
____________________________________________________
“Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa”
(tikkhattum)



Namatthu Buddhassa,
“Namakara” atau “Namaskara” , dalam bahasa Indonesia artinya adalah “penghormatan” atau “persujudan”.  Sikap namaskara / sujud ini yang benar adalah dengan : 1) lutut , 2) jari kaki , 3) dahi, 4) siku, 5) telapak tangan ; semuanya menyentuh lantai.
Dalam masyarakat Jawa ada sebuah tradisi yang  disebut dengan “sembah-sungkem”. Sungkeman ini mirip dengan Namakara dalam tradisi Buddha-Dhamma. Tujuannya adalah , memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat.
Ratana Kumaro : Di hadapan Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )
Ratana Kumaro memberi penghormatan pada Bhante Khemacaro Nyana Subalo ( Sangha Agung Indonesia )
Sebagai seorang siswa Sang Buddha, sesungguhnya kita setiap hari wajib ber-Namakara kepada Buddha-Dhamma-Sangha. Dengan demikian, hati kita, tekad kita, semakin mengarah pada praktik Dhamma yang lebih dalam dan pada akhirnya kelak berhasil merealisasi Jalan-Kesucian ( Magga ) dan Buah dari Jalan-Kesucian ( Phala ) sesuai yang ditunjukkan oleh Sang Ti-Ratana. Selain hal itu, dengan ber-Namakara akar kebajikan di dalam diri kita semakin berkembang.
Bila Namakara ini dilakukan dengan baik dan benar, dengan penuh konsentrasi, keheningan, dengan penuh kesadaran pengembangan spiritual,  setelah meninggal seorang ummat-awam dapat berharap untuk terlahirkan kembali ke alam-alam surga atau setidaknya dilahirkan di dalam keluarga yang ber-Sila  yang beragama Buddha.
Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia
Ratana Kumaro didepan Sangha Agung Indonesia
Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sang Buddha adalah karena Sang Buddha adalah Guru-Agung bagi para siswa dan ummat-awam, pembimbing  kita semua menuju berakhirnya  penderitaan samsara dan terealisasinya kebahagiaan-sejati : Nibbana.
Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Dhamma adalah karena Dhamma adalah satu-satunya ajaran yang menuntun kita  semua kepada berakhirnya penderitaan samsara. Dhamma Sang Buddha adalah ajaran yang nyata, Dhamma Sang Buddha adalah kebenaran-sejati  yang tidak dapat dibantah oleh siapapun juga kebenarannya dan dapat dibuktikan oleh siapapun.
Mengapa para siswa Sang Buddha bersujud dan menghormat kepada Sangha adalah karena Sangha merupakan pesamuhan-agung dari para suciwan semenjak jaman para Buddha yang pertama ( Buddha-Dipankara ; Buddha yang pertama dari keseluruhan 28 Samma-Sambuddha yang memberi ramalan pasti kepada boddhisatta Sumedha ( calon Buddha Gotama ) akan pencapaian ke-Buddha-an boddhisatta Sumedha ; serta jutaan Buddha lainnya sebelum ke-28 Samma-Sambuddha tersebut ) hingga Sang Buddha Gotama yang menjaga dan mengajarkan Dhamma kepada ummat manusia ;  Sangha adalah pembimbing ummat manusia dalam upaya untuk memahami Dhamma setelah Sang Buddha parinibbana.
Bersujud kepada Buddha ~ Dhamma ~ dan Sangha adalah yang terbaik ; sebab merupakan wujud penghormatan dan penghargaan yang tertinggi kepada yang memang patut dihormat dan dihargai. Bersujud kepada Buddha~ Dhamma ~ dan Sangha adalah perbuatan luhur yang akan membuahkan kebahagiaan, umur panjang, kesehatan dan kekuatan jasmani maupun rohani. Ketulusan dalam ber-Namakara, merupakan salah satu ciri fisik yang dapat dilihat yang menunjukkan telah lenyapnya keragu-raguan skeptis terhadap Sang Ti-Ratana.
Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )
Foto Kiriman Bp.Karim-Jakarta (DPSS) : Buddha-Rupam di Ayuthaya ( Thailand )

REFLEKSI NAMAKARA BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Refleksi dari Namakara ini dalam kehidupan sehari-hari adalah sikap kerendah-hatian, kelemah-lembutan, melenyapnya “ego” yang menjadi sumber dari banyak penderitaan.
Selain itu, ummat Buddha juga diharapkan dapat memberikan penghormatan kepada kedua-orang tua dengan sedalam-dalamnya / setinggi-tingginya. Sang Buddha senantiasa menganjurkan para ummat untuk berbakti kepada kedua-orang tuanya. Sebab, tanpa kedua-orang tua kita, kita tidak akan mungkin menjadi seperti yang sekarang ini ; terlahir ke alam manusia, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, mendapat kasih-sayang, menikmati pendidikan formal dengan baik, dan lain-sebagainya. Mengenai kewajiban kita berbakti kepada kedua orang-tua kita, Sang Buddha pernah bersabda sebagai berikut :
Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu?

Ibu dan Ayah
Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana—bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya , memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.
….”

(Anguttara Nikaya II, iv,2)
Di dalam Sigalaka Sutta, Digha Nikaya 31.28 , Sang Buddha juga menguraikan kewajiban anak kepada orang tuanya sebagai berikut :
1. Menyokong mereka
2. Menjalankan kewajiban mereka
3. Menjaga tradisi keluarga
4. Berupaya melakukan sesuatu yang berharga bagi keluarga
5. Melakukan penghormatan terhadap mereka ketika meninggal (penghormatan terhadap leluhur)
Nah, marilah, saudara-saudari se-Dhamma, kita praktikkan Namakara dan menguncarkan Namakara-Patha ( kalimat-persujudan ) kepada Buddha-Dhamma-Sangha, demi pengembangan spiritual kita masing-masing, demi berkah-berkah kebahagiaan bagi hidup kita masing-masing. Juga, tidak ketinggalan, kita wajib memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang-tua kita, sebagaimana Sang Buddha telah mengajarkannya kepada kita semua.

______________________________________________
Oh iya, ini saya ada tambahan foto menarik yang diambil di SUngai Mekong ~ Thailand, kiriman dari Bp.Karim ( PT. DPSS ) ~ Jakarta ,  dikirim sekitar  bulan-bulan akhir tahun  2008.
Foto sungai Mekong ini menarik, karena meskipun diambil dengan kamera yang berbeda ( tentunya jauh lebih canggih daripada kamera digital saya yang hanya sekitar 7,2  megapixel ), diambil dari lokasi yang berbeda ( foto saya saat bernamakara kepada Bhikkhu Sangha diambil di Vihara Mahabodhi Seroja, Semarang, sedangkan foto Bp. Karim diambil di Thailand  ) , dan dalam waktu yang berbeda ( foto saya diambil 06 September 2009, sedang foto Bp.Karim diambil sekitar tahun 2008 ) , namun foto-foto tersebut sama-sama menangkap fenomena alamiah ; yakni adanya “bola-bola-bercahaya” ; fenomena alamiah ini tidak perlu dimaknai dengan “aneh-aneh”, karena mungkin saja bola-bola bercahaya  itu maenannya si Dora-Emon, Nobita dan Giant, he he he… ^_^
Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari
Kiriman Bp.Karim~Jakarta (DPSS) : Sungai Mekong di malam hari


_______________________________________________________
“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajjha Hontu, Anigha Hontu, Sukhi Attanam Pariharantu”
( Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Bebas dari Penderitaan, Bebas dari Kebencian, Bebas dari Kesakitan, Bebas dari Kesukaran, Semoga Mereka dapat Mempertahankan Kebahagiaan Mereka masing-masing )
– RATANA-KUMARO –
Semarang-Barat,Senin, 14 September  2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar