Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

MENGATASI KEMALASAN MELALUI PRAKTIK

MENGATASI KEMALASAN MELALUI PRAKTIK

VIPASSANÂ BHÂVANA

Oleh : Samanera Mettasiri

Pengantar

Sebagai manusia tentu kita tidak bisa lepas dari rasa malas. Karena malas ini adalah salah satu teman dalam hidup ini. Tetapi untuk meraih suatu tujuan kita harus memerlukan suatu perjuangan dalam hidup ini. Wiliam Ward mengatakan bahwa, "Antusiasme dan keteguhan hati dapat membuat orang yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Apatisme dan kemalasan dapat membuat orang-orang luar biasa menjadi biasa-biasa saja" (PHILIP BAKER. Hal 57).

Pada Era Globalisasi pada saat ini, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin pesat. Sehingga memengaruhi pola pikir dan tingkah laku manusia. Segala kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Banyak sekali contoh yang terdapat di lingkungan masyarakat seperti, Sepeda motor, Mobil, Hp, VCD, dan lain sebagainya, yang mana dengan hadirnya tekhnologi tersebut sangat membantu aktivitas masyarakat. Tetapi kalau tidak pandai menyikapi perkembangan IPTEK pada era globalisasi ini, maka akan terbawa arus dan akan muncul sifat ketergantungan pada Tekhnologi tersebut, sehingga akan membuat orang menjadi malas melakukan aktivitas, apalagi yang berkaitan dengan keagamaan seperti bermeditasi. Berdasarkan hal inilah saya menulis paper ini dengan judul Mengatasi Kemalasan Melalui Praktik Vipassanâ Bhâvana.

A. Definisi Kemalasan dan Vipassanâ

1. Definisi Kemalasan

Kemalasan berasal dari kata "Malas" yang berarti tidak mau bekerja atau berbuat sesuatu, lawan rajin, segan tak suka, tak bernafsu, (KBBI. 2009.557). Jadi apabila rasa malas ini muncul pada diri kita maka akan sukar untuk melakukan suatu pekerjaan dan bahkan sangat sedikit sekali keinginan untuk bekerja.

Ahmad Rizal. Dkk, dalam bukunya DARI GURU KONVENSIONAL MENUJU GURU PROFESIONAL, juga menjelaskan bahwa, "Kemalasan adalah musuh besar kita dan teman akrab kebodohan. Orang yang malas, tidak bisa tidak, pastilah akan menjadi bodoh dan bahkan kebodohan itu bermula dari kemalasan" (hal.5). Dari penjelasan tersebut bisa kita pahami bahwa, kemalasan adalah teman akrab dari kebodohan, dan kebodohan itu bermula dari kemalasan. Disini yang ditekankan yaitu kebodohan dan kemalasan, yang mana keduanya ini menurut Amhad Rizal dkk, ada korelasinya dan tidak bisa dipisahkan. Karena orang yang malas adalah orang yang bodoh.Contohnya yaitu seperti dalam kegiatan Proses Belajar Mengajar. Apabila peserta didik malas dalam belajar maka akan menjadi bodoh. Tidak mengerti dan memahami materi yang disampaikan oleh pendidiknya. Begitu juga dalam melaksanakan meditasi, apabila malasnya yang dominan muncul, dan tidak mau berlatih untuk mengatasi, maka akan tidak mendapat suatu pengetahuan, karena masih diliputi oleh Avijja atau kebodohan.

2. Definisi Vipassana

Sebelum penulis membahas lebih jauh mengenai mengatasi kemalasan melalui Vipassanâ Bhâvana, sebelumnya saya akan memberikan beberapa pengertian atau definisi mengenai Vipassanâ yang saya kutip dari beberapa buku.

Dalam agama Buddha terdapat dua jenis meditasi yaitu, Samatha Bhâvana dan Vipassanâ Bhâvana. Samatha Bhâvana yaitu meditasi yang tujuannya untuk Ketenangan Batin, sedangkan Vipassanâ Bhâvana yaitu meditasi untuk mencapai Pandangan terang. Tetapi dalam paper ini penulis khusus bahas mengenai meditasi Vipassanâ Bhâvana saja, karena hal ini ada hubungannya dengan judul paper yang penulis buat. Ada beberapa pengertian mengenai Vipassanâ Bhâvana seperti yang terdapat dalam Aõguttara Nikāya, kelompok dua, Buddha menjelaskan tentang dua hal yang merupakan bagian dari pengetahuan yang teringgi.

”Ada dua hal, O para bhikkhu, yang merupakan bagian dari pengetahuan tertinggi. Apakah dua hal itu? Ketenangan dan pandangan terang. Jika ketenangan dikembangkan, manfaat apa yang dihasilkannya? Pikiran berkembang. Dan apakah manfaat dari pikiran yang berkembang? Semua nafsu ditinggalkan. Jika pandangan terang dikembangkan, manfaat apa yang diperoleh? Kebijaksanaan berkembang. Dan apa manfaat dari kebijaksanaan yang berkembang? Semua kebodohan ditinggalkan.” (Petikan Aõguttara Nikāya 1: 89).


Bhante Dhammavuddho Mahâthera, dalam bukunya Samatha and Vipassanâ, juga memberikan definisi mengenai Vipassanâ yaitu:

Vipassanâ sebaiknya diterjemahkan sebagai perenungan, dari pada diterjemahkan sebagai penembusan. Terjemahan menjadi penembusan tidak tepat karena kata Vipassanâ terdiri dari dua kata yaitu "vi" dan "passanâ", dimana "vi" adalah awalan yang berarti pemisahan, dan "passana" adalah melihat, mengamati. Jadi ketika anda mengamati dan terpisah, maka itulah perenungan. Hasil dari praktik Vipassanâ adalah pengembangan kebijaksanaan, yakni penembusan. Jadi jika anda mempraktikkan Vipassanâ dan bisa memperoleh penembusan, Vipassanâ seharusnya bukan bermakna "penembusan". Vipassanâ seharusnya bermakna "perenungan" dan itu yang akan menuntun anda pada penembusan, dan hasil dari penembusan adalah dihapuskannya kebodohan, dan anda mencapai kebebasan karena kebijaksanaan. (Dhammavuddho Mahâthera, 5)

Piyadasi Thera menjelaskan pengertian vipassanā dari asal katanya sebagai berikut.

”Istilah vipassanā (vi + passanā) berasal dari asal katanya, ’dilihat dengan cara istimewa’ dan kata ’passati’ melihat dan tambahan ’vi’ artinya khusus. Maka vipassanā berarti melihat dari segi lebih jauh, bukan melihat ke permukaan ataupun bersifat sepintas lalu melainkan melihatnya dalam perspektif yang sebenarnya, yang dalam istilah dari ketiga sifat khas dari semua gejala kehidupan yaitu anicca, dukkha, dan anattā.” (Piyadasi Thera. Tanpa tahun: 28).


William Hart menyatakan, ”Vipassana adalah kata bahasa Pali kuno (bahasa India) yang berarti ‘insight/melihat ke dalam/pandangan terang/kebijaksanaan.’ Vipassana merupakan sari ajaran Sang Buddha, yang merupakan pengalaman aktual tentang kebenaran.” (William Hart. Tanpa tahun: 3).

Mahasi Sayadaw dalam bukunya Meditasi Vipassanâ menjelaskan, ”Arti dari Vipassanâ adalah kesadaran akan 3 corak dari keberadaan pikiran dan fenomena fisik. Apa sajakah ketiga corak itu? Ketiga corak tersebut adalah anicca (ketidakkekalan), dukkha (segala sesuatu yang tidak memuaskan) dan anatta (tidak adanya diri atau aku yang kekal).” (Mahasi Sayadaw. 2002: 4-5).

”Vipassanā Bhāvanā adalah meditasi pandangan terang tingkat tinggi (Lokuttara atau di atas duniawi) yang tujuannya untuk melihat dengan terang dan jernih proses kehidupan yang selalu berubah tanpa henti (Anicca) dan selalu dicengkram oleh derita (Dukkha) hingga akhirnya bisa menembus Anatta (tanpa aku atau diri), yaitu Nibbana.” (Thera Nānavara. 2004: 46).

Dari beberapa pengertian diatas penulis menarik kesimpulan yaitu Vipassanâ merupakan suatu alat untuk mengetahui sifat-sifat ketidak kekalan yang terdapat dalam batin maupun jasmani. Sehingga akan memunculkan pengertian benar atau kebijaksanaan dalam diri, dan terhapusnya Lobha, Dosa dan Moha.

B. Ciri-ciri dari Kemalasan

Seperti yang terdapat dalam Dîgha Nikâya 31, Sigâlaka Sutta,

"…Ada enam bahaya yang terdapat dalam kemalasan: Berpikir "Terlalu dingin," ia tidak bekerja; berpikir "Terlau panas," ia tidak bekerja; berpikir: "Terlalu pagi," ia tidak bekerja; berpikir "Terlalu larut," ia tidak bekerja; berpikir: "Aku terlalu lapar," ia tidak bekerja; berpikir: "Aku terlalu kenyang," ia tidak bekerja,…"

Ciri orang yang malas akan selalu menunda-nunda pekerjaanya, dan memiliki banyak alasan. Contoh seperti kutipan dari Dîgha Nikâya 31, Sigâlaka Sutta, Semakin banyak alasan maka pekerjaan tidak akan dilaksanakan. Dan semakin menunda-nunda pekerjaan, maka semakin turunnya usaha untuk melakukan suatu pekerjaan tersebut, sehingga pada akhirnya pekerjaan itu tidak dilakasanakan. Hal ini banyak sekali terjadi dikalangan masyarakat terutama pada kalangan anak-anak dalam usia remaja. Seperti yang pernah kita lihat apakah tetangga ataupun saudara kita, bahkan mungkin kita sendiri yang mengalami. Pada saat kita dikasih pekerjaan oleh ibu atau bapak dirumah, kalau tidak iklas pasti ada penolakan dalam diri untuk melaksanakan tugas tersebut. Sehingga muncul berbagai alasan untuk menunda pekerjaan, apakah karena capek, mungkin baru pulang dari sekolah, dan berbagai macam alasan lainnya, sehingga pekerjaan akhirnya tidak jadi dikerjakan. Ini sering terjadi pada diri saya, sewaktu saya dirumah, tetapi hal ini tidak berlangsung secara terus menerus, terkadang saya langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh orang tua saya kepada saya.

C. Analisis

Dari berbagai definisi mengenai Kemalasan dan Vipassanâ serta ciri-ciri Kemalasan diatas, mungkin dibenak kita sudah ada gambaran mengenai bagaimana cara kita mengatasi kemalasan melaui meditasi Vipassanâ Bhâvana, Apakah dengan duduk diam bermeditasi saja? Dalam Sutta Pitaka, Dîgha Nikâya Mahâsatipaööhâna Sutta, dijelaskan bahwa:

'Kemudian, seorang bhikkhu, ketika sedang berjalan, mengetahui bahwa ia sedang berjalan, ketika sedangkan berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri, ketika sedang duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk, ketika sedang berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring. Dalam cara bagaimanapun jasmaninya diposisikan, ia mengetahui sebagaimana adanya'


Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu, terdapat empat posisi tubuh dalam melaksanakan meditasi yaitu: Berjalan, Berdiri, Duduk dan Berbaring. Dalam melakukan Vipassanâ Bhâvana tidak hanya dalam posisi duduk saja, tetapi dalam posisi tiga lainnya seperti yang dijelaskan diatas. Apabila perasaan malas muncul pada diri kita, maka hal itu harus diketahui sebagaimana adanya. Karena segala sesuatu yang muncul pada batin dan jasmani adalah tidak kekal adanya.

Seperti yang kita ketahui dalam Pañcanivarana (lima penghalang) dalam meditasi, salah satunya adalah Kelambanan dan Kemalasan. Hal inilah yang harus dilenyapkan dalam praktik meditasi vipassanâ bhâvana. Dalam bukunya Bhikkhu Sujiva MEDITASI BUDDHIS yang disusun oleh Jagara, menjelaskan bahwa, "Kemalasan dan kelambanan menunjukkan keadaan batin yang mengkerut. Dalam keadaan ini, batin mengkerut dari obyek, batin menjadi kabur dan tidak mampu mengamati objek dengan jelas" (hal 12). Apabila perasaan malas muncul maka konsentrasi akan lemah sehingga akan muncul rasa ngantuk. Sulit untuk mengamati objek yang muncul baik pada batin maupun jasmani. Apabila hal ini tidak bisa diatasi maka kondisi batin akan sulit untuk mengalami suatu kemajuan.

Tetapi lebih lanjut lagi Bhikkhu Sujiva menjelaskan:

"Cara mengatasi masalah ini adalah dengan menegakkan sikap duduk, mencatat dengan semangat dan mencatat lebih banyak obyek, mengamati rasa kantuk itu, bermeditasi ditempat yang terang, berjalan dengan cepat dan meningkatkan seluruh usaha dan energi. Jika Anda duduk dengan tegak, Anda tidak akan mudah merasa mengantuk. Duduk bersila dalam posisi teratai (kalau Anda mampu), juga dapat membantu. Anda dapat meningkatkan perhatian pada titik sentuh. Bergeraklah dengan cepat dari satu titik ke titik sentuh lainnya searah/berlawanan dengan arah jarum jam atau arah lainnya. Cara ini dapat membantu membangunkan batin sehingga membuat Anda lebih waspada. Anda juga tidak boleh lalai dalam mengamati rasa kantuk itu. Mencatat dengan tekun dan bersemangat "mengantuk, mengantuk dapat mengusir rasa kantuk itu. Bermeditasi di tempat terang dan bercahaya, mencuci muka dan bermeditasi jalan dengan cepat juga dapat membantu. Pada saat-saat seperti ini, bahkan rasa sakitpun dapat diterima dengan senang hati. Rasa sakit dapat membantu seseorang terjaga" (hal 24-25).


Untuk mengatasi perasaan mengantuk yang disebabkan oleh rasa malas ini diperlukan suatu perhatian (sati) dan usaha atau semangat yang kuat. Seperti yang dijelaskan oleh Bhikkhu Sujiva diatas yaitu mengamati rasa kantuk dengan tekun dan penuh semangat serta jangan lalai. Kantuk juga salah satunya dipengaruhi karena kecapekan maupun karena posisi duduk yang membungkuk. Sehingga menyebabkan mengantuk, kalau hal ini terjadi pada para meditator, seperti yang dikatakan oleh Bhikkhu Sujiva diatas yaitu seorang yogi memeriksa posisi badannya, apabila membungkuk, secara pelan sambil disadari, menegakkan kembali badannya, dengan mengucapkan dalam batin (menyadari), "Oh ya…badan saya membungkuk, dan saya sekarang ingin menegakkan". Dengan penyadaran seperti ini maka konsentrasi tidak akan buyar. Tetapi apabila ngantuk masih muncul, tetap disadari dan mencatat dalam hati (batin), "ngantuk…ngantuk…ngantuk…". Dengan melakukan pencatan dalam batin dengan penuh kesadaran murni, maka ngantuk tersebut bisa diatasi.

Penerapan Vipassana Bhavana dalam kehidupan sehari-hari


Meditasi bukan hanya dalam posisi duduk saja tetapi seperti yang dijelaskan diatas ada empat posisi bermeditasi yaitu Berjalan, Berbaring, Duduk, dan Berdiri, Bahkan pada saat melakukan aktivitas lainpun dibutuhkan suatu Konsentrasi (Bhâvana). Dalam bentuk apapun posisi tubuh (jasmani) ditempatkan pasti tidak bisa lepas dari kemalasan. Karena kemalasan ini akan selalu memperbudak kita apabila kita terus menuruti nafsu keinginan. Contoh, Diminta untuk membantu ibu didapur. Apabila menuruti keinginan untuk bermain dengan teman, ataukah melakukan aktivitas lainnya yang tidak ada manfaatnya, misalnya seperti main game dan lain sebagainya, tentu hal ini akan membawa pada dekandensi moral. Inilah perlunya memunyai pengetahuan, karena dengan memiliki pengetahuan menuntun kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang kurang baik dan kurang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Seperti yang terdapat dalam Dhammapada XI.152, yaitu: "Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang". Pengetahuan sangat diperlukan dalam hidup ini, misalnya mengenai meditasi. Pengetahuan mengenai meditasi tidak hanya teori saja tetapi disertai dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Apabila memahami hal ini maka tidak akan ada lagi perasaan bermalas-malasan dan bermanja-manja pada pekerjaan diri sendiri maupun pekerjaan yang dibebani oleh orang tua. Pada saat melakukan aktivitas atau pekerjaan, perasaan malas muncul dalam diri, segera sadari apakah pada saat posisi berdiri ataupun dalam posisi lainnya, "oh ya….teman akrab saya telah datang, lalu dicatat dengan penuh perhatian, malas, malas, malas " terus dicatat sampai rasa malas tersebut dapat diatasi, sehingga disinilah nantinya akan muncul suatu pemahaman atau pengertian dalam batin, bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat timbul dan lenyap. Apabila hal ini sudah dimengerti dengan jelas, dengan pengertian murni, maka hidup ini akan terasa damai, tidak ada masalah, karena toh juga akan mengalami suatu perubahan. Seperti apapun kerasnya, atau kuatnya kemalasan yang dialami pasti akan akan lenyap. Misalnya, ada keinginan belajar, lalu kemudian merasakan perasaan yang kurang enak, atau dalam kata lain muncul berbagai macam alasan dalam batin untuk tidak meneruskan keinginan belajar tersebut. Nah hal inilah yang dinamakan penghalang atau kekotoran batin yang harus dilawan, yang harus dihilangkan, dan yang harus dilenyapkan. Karena apabila dibiarkan secara terus-menerus, maka tidak akan mendapat suatu kemajuan dalam diri sendiri, karena ditemani oleh kemalasan.

Banyak sekali tantangan-tantangan yang harus kita singkirkan baik dalam diri maupun diluar diri. Tantangan diluar diri seperti yang terdapat dalam Sigalovadasutta mengenai, "Berpikir "Terlalu dingin," ia tidak bekerja; berpikir "Terlau panas," ia tidak bekerja; berpikir: "Terlalu pagi," ia tidak bekerja; berpikir "Terlalu larut," ia tidak bekerja; berpikir: "Aku terlalu lapar," ia tidak bekerja; berpikir: "Aku terlalu kenyang," ia tidak bekerja,…" Disini tantangan yang terdapat diluar diri yang penulis maksud yaitu: Faktor dari luar seperti keadaan cuaca. Misalnya panas, dingin, pagi, larut. Siang, dan sebagainya. Penghalang inilah yang harus atasi. Kalau kita melakukan suatu pekerjaan dengan penuh kesenangan dan semangat, maka pekerjaan tersebut akan dapat diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Sedangkan tantangan dari dalam diri adalah seperti, niat jahat, mudah tersinggung, pemarah, malas, dan lain-lain. Drs.E.B.Surbakti, M.A, dalam bukunya, Kenalilah Anak Remaja Anda, Menjelaskan bahwa, "Banyak unsur yang berkaitan langsung dengan diri sendiri dan berpotensi menjadi penghalang berkembang kerohanian para remaja" dari beberapa contoh yang diberikan oleh Drs.E,B. Surbakti, M.A, salah satunya adalah Kemalasan. Jadi sukses atau tidaknya usaha dalam meningkatkan kualitas mental dalam bidang kerohanian tergantung dari usaha dalam menghadapi rasa malas, dan membentuk usaha usaha yang ulet, sehingga akan memiliki kemajuan batin yang maksimal, sesuai dengan usaha yang dijalankannya. Lebih jauh lagi Drs.E.B.Surbakti menjelaskan dalam bukunya yang sama, adalah sebagai berikut:

Tantangan terbesar para remaja untuk mendewasakan kehidupan rohaninya adalah kemalasan. Kemalasan bertumbuh karena minimnya dorongan dari dalam diri sendiri untuk mengalami kemajuan. Kemalasan juga bisa timbul karena tidak jelasnya sasaran yang ingin dicapai melalui pembelajaran agama yang serius. Sasaran yang tidak jelas akan mengganggu motivasi, padahal motivasi merupakan roket pendorong untuk mencapai tingkat kerohanian yang baik (284).


Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, kemalasan merupakan suatu faktor penghalang yang sangat memeranguhi tingkat kemajuan dalam diri kita. Dalam bermeditasi dikuasai oleh kemalasan dan tidak mau menyadari atau mencatat dalam batin, maka meditasi yang dilakukan akan sia-sia karena tidak membawa manfaat, akibat dikuasai oleh ngantuk dan kemalasan. Maka kemajuan dalam bidang kerohanian akan mengalami kelambanan. Kemalasahn ini muncul karena kurangnya, motivasi atau dorongan dalam diri. Kalau tidak adanya dorongan dalam diri, pekerjaan apapun yang dilakukan akan tidak bisa terselasaikan dengan maksimal, hasilnya tidak akan memuaskan. Kemalasan juga muncul karena tidak memunyai tujuan hidup yang jelas. Banyak orang yang mengatakan tujuan hidup sebenarnya apa sih? Untuk apa hidup kalau keadaan kita seperti ini terus? Orang yang tidak memunyai tujuan hidup yang jelas maka, pertanyaan yang seperti ini akan sering muncul, di dalam pikirannya. Karena hal ini dipengaruhi karena minimnya pengetahuan yang dimilikinya, sehingga tidak mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya. Dalam Thera Gâthâ 141, berbunyi bahwa: "Keinginan untuk belajar akan meningkatkan pengetahuan, Pengetahuan meningkatkan kebijaksanaan, Dengan kebijaksanaan, tujuan dapat diketahui, Mengetahui tujuan akan membawa kebahagiaan. (Panduan TIPITAKA Kitab Suci Agama Buddha, Hal i). Dari kutipan Thera Gâthâ tersebut dapat dipahami bahwa, pengetahuan sangat diperlukan, dalam kehidupan ini, karena hal ini akan menuntun pada kebijaksanaan dan akan memahami tujuan hidup yang sebenarnya. Apabila hal ini dimengerti maka tidak akan ada rasa malas dalam menjalani kehidupan ini. Maka akan terus berjuang untuk melawan rasa malas dari dalam diri. Yaitu dengan melaksanakan Vipassanâ Bhâvana. Karena Vipassana ini merupakan salah satu ajaran Buddha yang keramat, dan merupakan ajaran murni dari Buddha. Sebagai siswa Buddha tentu ini sudah tidak asing lagi bagi diri kita, tinggal sejauh mana perjuangan kita melawan kemalasan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulannya yaitu, setiap insan pasti memunyai kemalasan, ini akan terus diikuti selama seseorang belum mencapai kebebasan Nibbana. Selama kekotoran batinnya masih ada, selama itu juga kemalasan akan terus ada dalam dirinya. Tetapi tergantung dari masing-masing individu, bagaimana cara dan tekniknya mengatasi kemalasan tersebut. Diatas sudah dijelaskan tentang, bagaimana cara mengatasi kemalasan melalui Vipassanâ Bhâvana. Yaitu dengan menyadari dan mencatat dengan penuh perhatian pada diri, dan menumbuhkan semangat dalam diri.

Apabila ini kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian memahami hakekat hidup yang sebenarnya, maka orang akan menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian karena dilandasi dengan kebijaksanaan. Inilah perlunya suatu perjuangan dalam menjalani hidup. Hidup didunia bukan untuk bersenang-senang, bermanja-manja, dan pemuasan nafsu indriya. Hidup di dunia bukan ditujukan untuk hal-hal tersebut, tetapi bagaimana kita memanfaatkan hidup ini untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun makhluk lain. Tentu saja hal ini bukan didapatkan dari hasil yang bermalas-malasan, tetapi dari perjuangan untuk melakukan kebajikan. Apabila dalam melakukan perbuatan baik, muncul kemalasan, sadarilah bahwa kemalasan saya muncul, kemudian catat, dan kembangkan semangat dan perhatian dalam melaksanakan pekerjaan tersebut, maka nantinya akan mendatangkan hasil yang sesuai dengan harapan, yang sesuai dengan usaha yang dilakukan.


Referensi



Thera, Nānavara. Samādhi Pencerahan Agung (alih bahasa Goey Tek Jong). Jakarta: Sri Manggala. 2004.


Walshe, Maurice. Seri Tipitaka Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha Dãgha Nikàya. (alih bahasa: Team Giri Mangala Publication, Team DhammaCitta Press). (tanpa kota). DhammaCitta Press. 2009.


Thera, Piyadasi. Meditasi Buddhis. Tanpa kota: Yayasan Padmagraha. Tanpa tahun.


Hart, William. The Art of Living (alih bahasa Dra. Wena Cintiawati dan Dra. Lanny Anggawati). Klaten: Wisma Sambodhi. Tanpa tahun.


Thera, Nyanaponika dan Bhikkhu Bodhi. Petikan Aõguttara Nikāya 1 (alih bahasa Dra. Wena Cintiawati dan Dra. Lanny Anggawati). Klaten: Vihāra Bodhivaæsa dan Wisma Dhammaguna. 2003.


Mahasi Sayadaw. Meditasi Vipassana (alih bahasa Candasili Nunuk Y. Kusmiana dan Samuel B. Harsojo). Batu: tanpa nama penerbit. 2002.


Mahathera, Dhammavuddho, Samatha and Vipassana.(alih bahasa Aina Viriyavati). Sumatera Utara: Dewan Pengurus daerah Pemuda Theravada Indonesia Sumatera Utara. 2009


Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Jakarta: PT Media Pustaka Phoenik Jakarta: Edisi Baru 2009


Philip Baker, Rahasia Super Achiever, Menggali 15 karakter Pribadi Super. (Alih Bahas: Ariavita Purnamasari,M.B.A). (tanpa kota): Erlangga. 2006.


Ahmad Rizal, Dkk. Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional. Jakarta: PT Grasindo. 2009.


Jagara. Meditasi Buddhis, Catatan Retret di bawah Bimbingan Bhikkhu Sujiva. (alih bahasa: Herman Kanginnadhi). Bali: Noble Path Community. 2007

Drs.E.B.Surbakti,M.A. Kenalilah Anak Remaja Anda. Jakarta: PT Gramedia. 2009.


Panduan TIPITAKA Kitab Suci Agama Buddha. (Alih bahasa: dra. Lanny anggawati, dra. Wena cintiawati). Klaten: Vihàra Bodhivaÿsa. 2000.


TIPITAKA Kitab Suci Agama Buddha Dhammapada Sabda-sabda Buddha Gotama. Jakarta: DEWI KAYANA ABADI. 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar