Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

MENGATASI KETAKUTAN : Bhikkhu Thitaviriyo

MENGATASI KETAKUTAN

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga. Satu yojana terasa jauh
bagi orang yang lelah. Sungguh panjang siklus kehidupan bagi
orang bodoh yang tak mengenal ajaran benar.
(Dhammapada, 60)

Rasa cemas, khawatir, dan takut sepertinya sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Ketika kita masih kecil, bentuk-bentuk pikiran negatif ini sudah kita alami. Setelah remaja, dewasa, sampai usia lanjut pun, kita masih mengalaminya. Sebagian orang yang hidupnya kekurangan, merasa cemas memikirkan kebutuhan hidupnya, sedangkan orang lain cemas memikirkan persaingan dagang untuk mempertahankan kekayaannya.

Kita tidak bisa terhindar sepenuhnya dari kecemasan dan ketakutan, karena kita masih sebagai orang awam (belum terbebas dari belenggu kotoran batin). Kecemasan dan ketakutan pada tingkat tertentu adalah wajar karena dapat membuat kita lebih berhati-hati dan waspada dalam bertindak. Namun kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan yang berlebihan dapat menyebabkan masalah bagi kita,  seperti mudah terkena penyakit, sulit tidur, dan sebagainya.

Sebab ketakutan
Kecemasan, kekhawatiran, maupun ketakutan sesungguhnya bersumber dari diri sendiri. Dalam Aṅguttara Nikāya, ii. 173, ada empat sebab, mengapa kita sering cemas, khawatir, maupun takut.

Pertama, kemelekatan terhadap nafsu kesenangan indera. Kesenangan indera adalah kebahagiaan bermata kail karena di balik kesenangan-kesenangan tersebut menyimpan derita (cemas, khawatir, dan takut). Memang, setiap orang adalah wajar mendambakan kesenangan-kesenangan duniawi, seperti memiliki rumah bagus, pakaian indah, alat transportasi yang memadai, serta memiliki suami, istri, dan anak-anak. Banyak orang merasa takut pada saat menjelang kematian karena tidak bisa melepaskan kesenangan-kesenangan inderanya. Kemelekatan terhadap kesenangan indera itulah yang menyebabkan munculnya kecemasan maupun ketakutan.

Kedua, kemelekatan terhadap tubuh. Tubuh yang baik dan sehat adalah dambaan setiap orang. Tetapi tubuh kita pun akan berproses sesuai dengan sifatnya, yaitu akan berubah. Kalau kita tidak menyadari perubahan yang akan terjadi pada tubuh, melekat pada keindahan tubuh ini, maka kecemasan dan ketakutan akan muncul.

Ketiga, merasa belum melakukan perbuatan bajik dan bermanfaat. Hidup kita adalah ibarat sebuah perjalanan yang panjang dan jauh. Jika telah mempersiapkan bekal untuk melakukan perjalanan tersebut, kita tidak akan khawatir kekurangan sesuatu di tengah jalan. Demikian pula dengan hidup, kita perlu memiliki bekal kebajikan yang cukup agar bisa hidup dengan baik. Namun, jika kita tidak memiliki bekal kebajikan yang cukup, inilah yang membuat kita takut tentang kehidupan kita selanjutnya.

Keempat, masih memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma. Kehidupan kita tidak bisa terlepas dari tradisi. Tradisi di setiap daerah berbeda-beda. Orang yang keyakinannya lemah, meskipun sering belajar Dhamma, dia akan merasa cemas maupun takut, tatkala harus berhadapan dengan tradisi yang ada di daerahnya. Kemelekatan pada tradisi tanpa penyelidikan inilah yang menyebabkan seseorang merasa cemas maupun takut terhadap kehidupannya.

Cara mengatasi ketakutan
Kecemasan maupun ketakutan adalah penyakit mental yang bersumber dari pikiran. Dalam Aṅguttara Nikāya, iii, 71, ada lima perenungan yang hendaknya kita lakukan untuk mengurangi kecemasan maupun ketakutan.

Pertama, perenungan terhadap usia tua. Saya wajar mengalami usia tua, saya tidak akan mampu menghindari usia tua. Ketika masih muda, rambut kita masih hitam, kulit masih kencang, tenaga masih kuat, dan indera-indera masih normal. Namun ketika usia tua datang, rambut berubah menjadi putih, kulit menjadi keriput, dan indera-indera sudah tidak normal lagi. Perenungan ini akan membuat pikiran kita yang semula cemas karena perubahan yang terjadi pada jasmani menjadi tenang dan tidak sombong dengan masa muda.
Kedua, perenungan terhadap penyakit. Saya wajar menyandang penyakit, saya tidak akan mampu menghindari penyakit. Sakit merupakan rentetan dari sebuah kehidupan yang akan kita alami. Buddha pun masih mengalami sakit jasmani, apalagi kita yang masih awam. Ketika sakit fisik, sering kali kita masih menambah dengan sakit mental, yaitu cemas, khawatir, dan takut terhadap penyakit kita. Namun, dengan perenungan ini, kita tidak akan menambah sakit fisik dengan sakit mental.

Ketiga, perenungan terhadap kematian. Saya wajar mengalami kematian, saya tidak akan mampu menghindari kematian. Setiap kelahiran pasti akan diakhiri dengan kematian. Pada saat ini, banyak orang merasa cemas maupun takut, ketika hendak bepergian. Takut kalau transportasi yang ditumpangi nanti mengalami kecelakaan dan menjadi salah satu korban yang meninggal. Sesungguhnya kematian ini tidak hanya terjadi ketika kita sedang bepergian. Kita duduk atau tidur di rumah pun bisa meninggal, kalau saatnya tiba. Mengapa kita harus cemas dan takut sehingga kita tidak bisa menikmati perjalanan kita? Tidak di angkasa atau laut, juga tidak di dalam gua atau di atas gunung; tidak ada tempat di dunia ini yang dapat dipakai sebagai tempat bersembunyi, di mana seseorang dapat terbebas dari kematian. (Dhammapada, 128). Perenungan tentang kematian ini, selain mengurangi rasa cemas dan takut, juga akan membuat kita lebih menghargai kehidupan kita ini.

Keempat, perenungan tentang perubahan. Segala milikku yang kucintai dan kusenangi, wajar berubah, wajar terpisah dariku. Kita memerlukan sarana-sarana penunjang hidup lain, selain empat kebutuhan pokok (pakaian, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan) agar kita tetap dapat bertahan hidup. Kita juga memiliki orangtua, suami, istri, anak, kerabat, serta teman-teman. Kita harus sadar bahwa apa yang kita miliki suatu saat akan berubah dan berpisah dengan kita. Kecemasan, kekhawatiran maupun ketakutan pada perubahan atau perpisahan sering dialami oleh setiap orang. Perenungan ini mengajarkan kita agar tidak terikat pada apapun yang kita miliki, tetapi bukan berarti kita harus bersikap acuh tak acuh pada semua itu. Kita harus merawat barang-barang yang kita miliki, melakukan kewajiban kita dengan baik. Tetapi ketika perubahan itu terjadi, kita harus menerima dengan pikiran yang tenang.

Kelima, perenungan tentang hukum kamma (perbuatan). Hukum kamma adalah hukum perbuatan yang berlaku universal, kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetik. Pelaku kebajikan akan memetik kebahagiaan, pelaku kejahatan akan memetik penderitaan (Saṁyutta Nikāya, III.415). Sebagian besar orang mengalami ketakutan dan kecemasan karena tidak memahami hukum kamma dengan benar. Kita tidak bisa menghindari akibat perbuatan buruk kita sendiri. Namun, akibat perbuatan buruk itu bisa kita minimalkan akibatnya, yaitu dengan melakukan perbuatan baik yang banyak. Dengan demikian, meskipun kita diramal tidak baik, kita tidak akan menjadi takut ataupun cemas. Namun, kita harus menyadari bahwa perbuatan kita saat ini juga ikut menentukan akibat yang akan kita terima. Oleh karena itu, kita juga harus berhati-hati dalam berbuat.

Kesenangan adalah awal munculnya kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan. Setelah seseorang mendapatkan kesenangan, kemudian muncul keinginan untuk mempertahankan kesenangannya sehingga muncul kemelekatan. Semakin banyak kesenangan yang kita miliki, kecemasan, dan ketakutan juga semakin besar. Semakin kita melekat pada kesenangan-kesenangan tersebut, kecemasan maupun ketakutan akan sering muncul. Namun, apabila kita mengimbangi kesenangan tersebut dengan pengertian Dhamma yang benar, dengan bijaksana memandang segala sesuatu sebagaimana adanya, maka kecemasan maupun ketakutan akan dapat kita kurangi.

Oleh: Bhikkhu Thitaviriyo (09 Mei 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar