Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 3

pencerahan sidartha gautama bab 3

BODDHISATTA MENINGGALKAN GURU UDAKA SETELAH MELIHAT CACAT DALAM PENCAPAIAN LOKIYA JHANA

Setelah berusaha dan berhasil mencapai delapan Lokiya Jhàna, karena Beliau memang telah memperoleh Jhàna dalam kehidupan-kehidupan lampau-Nya dan karena Beliau memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, Bodhisatta kemudian merenungkan sifat-sifat dari pencapaian ini dalam kehidupan-Nya saat ini dan manfaatnya untuk kehidupan mendatang; Beliau mengetahui benar sifat dari pencapaian delapan tingkat Jhàna ini hingga tingkat Nevasannàvàsannàyatana Jhàna dalam kehidupan ini dan kelahiran kembali akan terjadi di Alam Nevasannàvàsannàyatana setelah meninggal dunia; Beliau sampai pada kesimpulan bahwa delapan Lokiya Jhàna ini masih berada dalam lingkaran penderitaan; Beliau juga merenungkan dalam-dalam, “Kelompok pencapaian-pencapaian ini tidak dapat mengakhiri lingkaran penderitaan; pelepasan; untuk melenyapkan kotoran batin seperti nafsu (ràga), dan lain-lain, untuk memadamkan semua kotoran-kotoran ini, untuk mengetahui semua yang harus diketahui, untuk mencapai pengetahuan mengenai Empat Jalan, untuk menembus Nibbàna. Sebenarnya, delapan pencapaian ini hanya menghasilkan Alam Brahmà Nevasannàvàsannàyatana di mana umur kehidupan adalah selama delapan puluh empat mahàkappa, namun tidak menghasilkan yang lebih tinggi dari itu. Alam Brahmà Nevasannàvàsannàyatana yang tertinggi hanyalah sebuah alam yang belum terbebaskan dari bahaya kelahiran, usia tua, dan kematian. Sebenarnya hanyalah sebuah wilayah yang masih berada dalam kekuasaan raja kematian.”



BODDHISATTA MENGUNJUNGI URUVELA DAN MEMPRAKTIKKAN PENYIKSAAN DIRI (DUKKARACARIYA) SELAMA ENAM TAHUN



Boddhisatta tiba di Uruvela Senanigama dan mulai mempraktikkan praktik penyiksaan diri

Setelah meninggalkan Udaka, si pemimpin aliran, Bodhisatta bepergian di Negeri Magadha dalam usaha mencapai Nibbàna dan akhirnya tiba di Kota Sena. Di dekat Kota Sena terdapat sebuah hutan bernama Uruvelà. Hutan yang kondisi tanahnya secara alamiah menyenangkan hati orang-orang bijak dan mulia; hutan itu sendiri sangat indah; Sungai Neranjarà memiliki pantai yang menarik, bebas dari lumpur dan sampah; dengan pasir-pasir pantainya yang bagaikan lembaran-lembaran perak yang membentang; dengan arus yang jernih dan bersih penuh dengan ikan-ikan dan kura-kura, sungai tersebut mengalir terus-menerus; terdapat sebuah desa kecil di mana petapa-petapa hutan berdiam dan mengumpulkan dàna makanan. Ketika Bodhisatta melihat situasi ini, Beliau memerhatikan dengan saksama, dan muncul pikiran, “Ini adalah tempat yang tepat untuk putra-putra dari keluarga-keluarga yang baik yang mencari Nibbàna untuk mempraktikkan meditasi.”

Selanjutnya, Beliau membangun sebuah tempat tinggal kecil dari kayu-kayu kering dan daun-daunan dan tinggal di dalam Hutan Uruvelà tersebut dan berlatih meditasi.

TIGA PERUMPAMAAN UNTUK BODDHISATTA



Memulai Praktik Dukkaracariya

Kemudian muncul dalam pikiran Bodhisatta tiga perumpamaan sebagai berikut:

(1) Untuk membuat api, sekeras apa pun seseorang menggosokkan kayu api dengan sepotong kayu api yang basah yang direndam dalam air, ia tidak akan dapat menghasilkan api dan hanya akan mengalami penderitaan karena kegagalan. Demikian pula di dunia ini, mereka yang disebut petapa dan brahmana yang masih memiliki nafsu indria yang basah dan belum dikeringkan dan yang belum menghindari diri dari objek-objek indria atau tidak dapat menembus Jalan dan Buahnya, hanya akan mendapat penderitaan sekeras apa pun mereka berusaha untuk melenyapkan kotoran batin. Ini adalah perumpamaan pertama sehubungan dengan Bodhisatta.

(2) Untuk membuat api, sekeras apa pun seseorang menggosok kayu api dengan sepotong kayu api yang basah yang meskipun jauh dari air, ia tetap tidak bisa menyalakan api karena kayu yang basah itu; sebaliknya ia justru akan menjadi menderita. Demikian pula di dunia ini, mereka yang disebut petapa dan brahmana yang masih memiliki unsur-unsur menipu berupa objek-objek indria yang belum dikeringkan tidak akan menembus Jalan dan Buahnya namun hanya akan menjadi lebih menderita sekeras apa pun mereka berusaha menjauhkan diri dari air objek-objek indria secara fisik maupun batin. Ini adalah perumpamaan kedua sehubungan dengan Bodhisatta.

(3) Untuk membuat api, jika seseorang menggosok sepotong kayu dengan kayu kering yang jauh dari air, ia akan dengan mudah menyalakan api karena kayu itu berada di daratan yang jauh dari air dan kering. Demikian pula di dunia ini mereka yang disebut petapa dan brahmana yang nafsu-nafsu indria telah kering dan telah menjauhkan diri dari objek-objek indria secara fisik maupun batin dapat menembus Jalan dan Buahnya jika mereka mempraktikkan cara pertapaan yang benar, sulit maupun mudah. Ini adalah perumpamaan ketiga sehubungan dengan Bodhisatta. (Perumpamaan ini harus dipahami dengan cara yang dijelaskan sebelumnya. Perumpamaan ini menjelaskan pertapaan yang dijalankan oleh Bodhisatta sendiri.)



KELOMPOK LIMA PETAPA DATANG DAN MELAYANI BODDHISATTA



Boddhisatta mempraktikkan dukkaracariya ditemani 5 petapa disaksikan

Kelompok lima petapa yang telah menjalani hidup bertapa bahkan sejak kelahiran Bodhisatta seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bertanya-tanya apakah Bodhisatta Pangeran telah melepaskan keduniawian dan menjadi petapa atau belum; mendengar bahwa Bodhisatta telah menjadi petapa mereka mulai mengunjungi desa-desa, kota-kota, dan lain-lain satu demi satu, untuk mencari Bodhisatta dan akhirnya bertemu di Hutan Uruvelà. Berharap bahwa “Tidak lama lagi, Beliau akan menjadi seorang Buddha! Tidak lama lagi Beliau akan menjadi seorang Buddha!” Mereka melayani-Nya dalam menjalani penyiksaan diri (dukkaracariya) selama enam tahun; mereka bergerak ke sana ke sini memenuhi kewajiban mereka seperti menyapu, mengambil air panas, dingin, dan lain-lain.



PRAKTIK DUKKARACARIYA BODDHISATTA, USAHA YANG KERASA

Usaha keras ini dijelaskan dalam empat tingkat yaitu (1) “Meskipun yang tersisa tinggal kulit,” (2) “Meskipun yang tersisa tinggal urat,” (3) “Meskipun yang tersisa tinggal tulang,” dan (4) “Meskipun daging dan darah-Ku menguap” yang disebut padhàna-viriya. Praktik yang akan dijelaskan ini disebut Usaha Keras (padhàna) yang dilakukan dengan padhàna-viriya. Praktik ini juga disebut dukkaracariya karena sulit bagi orang-orang biasa untuk menjalaninya.

(a) Setelah mengunjungi Kota Senà untuk mengumpulkan dàna makanan, Bodhisatta menghabiskan waktu berhari-hari berlatih meditasi untuk mengembangkan cinta kasih (Mettà-bhavanà). Kemudian Beliau berpikir, “Apa untungnya bagi-Ku bergantung dengan makanan-makanan kasar ini? Dengan memakan makanan demi kepuasan-Ku dan mengembangkan cinta kasih, Aku tidak akan mencapai Kebuddhaan yang menjadi tujuan-Ku.” Kemudian Beliau berhenti mengumpulkan dàna makanan dan hidup hanya dari buah-buahan yang besar maupun kecil yang jatuh dari atas pohon di Hutan Uruvelà. Tidak berhasil mencapai Kebuddhaan dengan cara demikian, Beliau berpikir lagi, “Makanan ini yang berupa buah-buahan besar maupun kecil juga masih kasar. Mencari-cari buah-buahan merupakan rintangan (palibodha).” Selanjutnya Beliau bertahan hidup hanya dengan buah yang jatuh dari pohon tempat di mana Beliau tinggal.

(b) Kemudian Bodhisatta mempertimbangkan, “Adalah baik jika Aku menggemeretakkan gigi dan mendecakkan lidah.” Untuk menekan kesadaran-kesadaran yang tidak baik yang berhubungan dengan pikiran-pikiran buruk, misalnya nafsu-nafsu indria dan lain-lain, dengan kesadaran yang baik yang berhubungan dengan pikiran yang baik pula. “Adalah lebih baik lagi jika Aku melenyapkannya. Lebih baik lagi jika Aku menghilangkannya dengan api semangat.” Demikianlah Beliau menggemeretakkan gigi dan mendecakkan lidah untuk menekan kesadaran-kesadaran yang tidak baik dengan kesadaran yang baik. Beliau tidak membiarkannya muncul tapi melenyapkannya. Beliau melenyapkannya dari dalam diri-Nya melalui api semangat. Keringat bercucuran dari ketiak-Nya. Misalnya, seperti keringat yang bercucuran dari ketiak seorang yang lemah ketika seseorang yang kuat mencengkeram kepala atau bahunya dan menekannya ke bawah. Pada waktu itu usaha Bodhisatta sangatlah besar, tidak berkurang sama sekali. Perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(c) Kemudian Bodhisatta berpikir, “Akan lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna, dengan tidak menarik napas atau mengeluarkan napas.” Jadi, dengan usaha yang terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut atau hidung sehingga udara tidak dapat masuk atau keluar. Kemudian udara terkumpul dan keluar melalui telinga, melalui mulut, dan hidung. Bunyi yang dihasilkan oleh angin yang keluar itu sangat keras bagaikan suara ketel air mendidih. Pada waktu itu usaha Bodhisatta sangatlah keras, tidak berkurang sama sekali, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(d) Kemudian Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga. Karena tidak dapat keluar melalui mulut, hidung, dan telinga, udara memaksa keluar menembus kepala. Misalnya, seperti seorang yang kuat melubangi kepala dengan bor yang tajam. Bahkan pada saat itu, semangat-Nya masih sebesar sebelumnya, tidak menurun sama sekali. Perhatian-Nya juga masih kokoh dan jernih, tidak pernah kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(e) Selanjutnya Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga. Pada saat itu angin keras mendesak keluar dari kepala-Nya dan akhirnya Beliau menderita sakit kepala yang dahsyat, seperti seseorang yang menderita sakit kepala karena kepalanya diikat dengan tali kulit oleh seorang yang kuat. (Anda, para pembaca, bayangkan seseorang yang sangat kuat melingkari kepala Anda dengan tali kulit dan dengan sebatang tongkat yang diputar untuk mengencangkan ikatan tali itu. Seperti itulah.) Pada waktu itu juga, semangat-Nya masih sama seperti sebelumnya tidak berkurang sedikit pun, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya yang sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(f) Lagi, Bodhisatta berpikir, “Lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga seperti sebelumnya. Dan pada saat itu angin yang sangat kuat melukai seolah-olah menerobos keluar. Seperti seorang tukang daging yang ahli membelah perut dengan pisau daging yang tajam. Pada waktu itu juga, semangat-Nya masih sama seperti sebelumnya tidak berkurang sedikit pun, perhatian-Nya sangat jernih dan kokoh, tidak pernah sekalipun Beliau kehilangan perhatian-Nya. Namun usaha-Nya sangat keras itu berlangsung terus menerus, hingga seluruh tubuh-Nya menjadi panas dan tidak tertahankan. Meskipun Beliau terus menerus dalam situasi yang menyedihkan, kemauan- Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

(g) Sekali lagi, Bodhisatta berpikir, “Adalah lebih baik jika Aku mengembangkan Appanàka-Jhàna.” Jadi dengan usaha terus menerus Beliau menahan napas yang masuk dan keluar melalui mulut, hidung, dan telinga seperti sebelumnya. Dan pada saat itu seluruh tubuh-Nya mengalami dàharoga (luka bakar) yang sangat parah seperti luka yang diderita oleh seorang yang lemah dibakar di dalam api yang berkobar-kobar oleh dua orang kuat yang masing-masing memegang lengan kanan dan kirinya. Pada waktu itu seluruh tubuh Bodhisatta panas terbakar. Pada waktu itu semangat-Nya tidak berkurang sedikit pun, tapi tetap kuat seperti sebelumnya. Perhatian-Nya juga masih jernih dan kokoh. Sehubungan dengan luka yang diderita-Nya (padhàna) Beliau tidak mendapatkan kedamaian. Namun demikian keinginan-Nya untuk terus berusaha tidak pernah surut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar