Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab 9

pencerahan sidartha gautama bab 9

PENGHORMATAN OLEH PARA DEWA DAN BRAHMA



Penghormatan dari para Naga, Dewa, Brahma, atas pencapaian Pencerahan Sang Buddha

Pada waktu itu, Sakka sedang berdiri di Alam Dewa Tàvatimsa meniup kulit kerang Vijayuttara yang panjangnya 120 yojanà, untuk memanggil para dewa dan brahmà. Suara dari kulit kerang tersebut dapat terdengar hingga seluas sepuluh ribu yojanà. Sambil meniup kulit kerangnya terus menerus, Sakka berlari cepat menuju pohon Bodhi. (Bukan hanya Sakka dari alam semesta ini, tetapi semua Sakka dari sepuluh ribu alam semesta juga mendatangi Bodhisatta sambil meniup kulit kerang).

Mahà Brahmà datang dan memberi hormat dengan memegang payung putih yang ditinggalkannya di puncak Gunung Cakkavala dan memayungi Bodhisatta dari atas. (Semua Mahà Brahmà dari sepuluh ribu alam semesta datang berdiri memegang payung putih di tangan masing-masing, payung-payung tersebut saling bersentuhan sehingga tidak ada celah di antaranya.)

Suyama, raja dari Alam Dewa Yama datang dan berdiri di dekat Bodhisatta, memberi hormat dengan mengibaskan kipas dari ekor yak yang berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Suyama dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas dari ekor yak, memenuhi alam semesta ini.)

Santusita, raja Alam Dewa Tusita, juga datang dan memberi hormat dengan mengipasi Bodhisatta dengan kipas berhias batu delima berukuran tiga gàvuta. (Semua Dewa Santusita dari sepuluh ribu alam semesta juga datang dan memberi hormat, masing-masing memegang kipas berhiaskan batu delima, memenuhi alam semesta ini.)

Dewa Pancasikha datang, membawa harpa surgawi, Beluva, diiringi oleh sekelompok penari surgawi, dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan memainkan musik. (Semua penari surgawi dari sepuluh ribu alam semesta datang dan memberi hormat dengan menari, bernyanyi, dan bermain musik.)

Selanjutnya, semua dewa dan dewi yang berdiam di sepuluh ribu alam semesta berkumpul di alam semesta ini dan memberi hormat dengan berdiri di tempat-tempat yang masih tersedia, beberapa dari mereka bahkan harus berdiri dengan berpegangan di tiang pintu gerbang. Beberapa berdiri di sekeliling bersama kelompoknya masing-masing, membawa berbagai persembahan yang terbuat dari tujuh jenis permata, beberapa membawa pohon pisang dari emas, beberapa membawa istana emas, beberapa membawa kebutan dari ekor yak, beberapa membawa tongkat (untuk mengendalikan gajah), beberapa membawa sepasang ikan, beberapa membawa bunga mawar, panggung bundar dari emas, mangkuk berisi air, kendi berisi air, kulit kerang, tongkat api, lampu minyak dengan tiang dari batu delima, cermin emas, cermin bertatahkan batu mulia, cermin dengan tujuh jenis permata, lampu minyak berhiaskan batu delima, kain-kain untuk bendera dan pita-pita, dan pohon-pohon harapan. Semua dewa dari sepuluh ribu alam semesta datang, terlihat penampilan para penari surgawi, dan memberi hormat dengan menarikan tarian surgawi, menyanyikan lagu-lagu surgawi, mempersembahkan bunga-bunga, wangi-wangian, dan bubuk dupa surgawi. Pada waktu itu, seluruh angkasa dipenuhi oleh bunga-bungaan dan wewangian surgawi seolah-olah seluruh semesta ditutupi oleh hujan lebat.

PENCAPAIAN KE-BUDDHA-AN DI ANTARA TIGA ALAM

Ketika Bodhisatta mencapai Arahatta-Phala segera setelah mencapai Arahatta-Magga, batin-Nya menjadi sangat murni dan Beliau mencapai Pencerahan Sempurna (Sammàsambuddha), pemimpin tertinggi di tiga alam, dengan pencapaian Kemahatahuan (Sabbannuta Nàna) bersama-sama dengan Empat Kebenaran Mulia, Empat Pengetahuan Analitis (Patisambhidà Nàna), Enam Kebijaksanaan Tinggi (Assadhàrana Nàna), yang menjadikan Empat belas Kebijaksanaan seorang Buddha, dan Delapan belas kualitas (âvenika Dhamma), dan Empat Kebijaksanaan Berani (Vesàrajja Nàna). Bersamaan dengan tercapainya Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ), datanglah fajar. (Penembusan Sabbannuta Nàna ( Ke-Maha-Tahu-an ) berarti tercapainya Kebuddhaan.)

BERDIAM DI TUJUH TEMPAT SETELAH PENCERAHAN-SEMPURNA

(1) Satu Minggu di Singgasana (Pallanka-sattàha)

Setelah mencapai Kebuddhaan, pada hari pertama bulan mulai memudar di bulan Vesàkha, Buddha mengucapkan seruan gembira (udàna), dan masih dengan postur duduk bersila di atas singgasana Aparàjita, Beliau berpikir:

“Untuk memperoleh singgasana ini, Aku telah mengembara dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, memenuhi Sepuluh Kesempurnaan, berkali-kali dengan cara yang unik. Selama empat asankhyeyya dan seratus ribu kappa, untuk memperoleh singgasana Aparàjita ini, berkali-kali Aku memenggal dan mendanakan kepala-Ku; berkali-kali Aku mencungkil dan mendanakan mata dan jantung-Ku; berkali-kali Aku mendanakan putra-Ku seperti Jàli, putri-Ku seperti Kanhajina, dan istri-Ku seperti Maddi kepada mereka yang memintanya untuk dijadikan budak. Dari atas singgasana inilah Aku secara total menaklukkan lima Màra. Sebuah singgasana yang sunguh-sungguh agung dan mulia. Selagi duduk di atas singgasana ini, semua keinginan-Ku, termasuk cita-cita untuk menjadi Buddha telah terkabulkan. Aku belum akan bangkit dari singgasana ini karena Aku berhutang banyak kepada singgasana ini.”

Demikianlah Buddha menghabiskan tujuh hari di atas singgasana tersebut berdiam dalam Jhàna Keempat yang membawa kepada tingkat Kearahattaan, pencapaian yang berjumlah lebih dari seratus ribu crore.

Berdiam dalam Jhàna Keempat sehari penuh pada hari pertama setelah mencapai Pencerahan Sempurna, Buddha menikmati kebahagiaan Kebebasan, Vimutti (Kebahagiaan Kearahattaan). Selama jaga pertama malam itu, Beliau merenungkan hukum Paticcasamuppàda (Musabab Yang Saling Bergantung), “avijjà paccaya saïkhàrà,” Karena kebodohan (avijjà), tiga jenis bentukan-bentukan pikiran (saïkhàra), yaitu: pikiran baik (pu¤¤àbhisaïkhàra), pikiran buruk (apu¤¤àbhisaïkhàra), dan pikiran netral (ana¤jabhisaïkhàra) muncul. Dimulai dengan cara ini, Buddha meneruskan perenungan dengan urutan maju proses munculnya lingkaran penderitaan. Kemudian Beliau merenungkan, “avijjàya tv’eva asesaviràganirodho sangkhàra nirodho,” “Karena lenyapnya kebodohan dan tidak muncul kembali melalui Jalan Kearahattaan, tiga jenis bentukan-bentukan pikiran, yaitu: pikiran baik, pikiran buruk, dan pikiran netral juga lenyap (dan tidak muncul kembali).” Kemudian Buddha melanjutkan perenungan dengan urutan mundur proses lenyapnya lingkaran penderitaan.

Ketika Buddha terus-menerus merenungkan hukum ini dalam urutan maju dan urutan mundur, Beliau menjadi lebih memahami, lebih jelas dan lebih jelas lagi, proses munculnya penderitaan dalam saÿsàra dalam urutan maju, karena kebodohan yang menjadi penyebabnya, muncullah akibat yang tidak putus-putusnya berupa bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain; demikian pula Buddha juga memahami proses lenyapnya penderitaan saÿsàra dalam urutan mundur, bahwa, karena lenyapnya kebodohan dan lain-lain yang menjadi penyebabnya (tidak muncul kembali), sehingga

akibatnya juga lenyap yang merupakan lenyapnya bentukan-bentukan pikiran, dan lain-lain (dan tidak muncul kembali). Demikianlah, muncul terus-menerus dorongan-dorongan hati dalam batin Buddha seperti mahà-kiriya somanassasahagata nanasampayutta asa¤khàrika javana diawali dengan kepuasan dan kegembiraan, pãti dalam hati-Nya.

(2) Satu Minggu Menatap Pohon Bodhi (Animisa-sattàha)

(Tujuh hari selama Buddha menatap pohon Mahàbodhi dan singgasana Aparàjita tanpa mengedipkan mata-Nya disebut animisa sattàha).

Setelah mencapai Kebuddhaan dan menikmati kebahagiaan Kearahattaan (tanpa mengubah postur bersila-Nya selama duduk) Buddha tetap duduk di atas singgasana Aparàjita selama tujuh hari. Dalam batin beberapa dewa dan brahmà biasa (selain dewa dan brahmà yang mengetahui ciri-ciri Buddha karena mereka telah mengalami mencapai Jalan dan Buahnya dalam masa Buddha-Buddha sebelumnya) merasa ragu dan bertanya-tanya, “Buddha belum bangkit dari singgasana sampai saat ini. Selain dari ciri-ciri yang telah dimiliki-Nya, adakah ciri-ciri lain yang memungkinkan-Nya mencapai Kebuddhaan?”



Buddha menunjukkan Keajaiban-Ganda pertama kali kepada para Dewa yang masih ragu pada-Nya

Kemudian pada hari kedelapan (kedelapan setelah purnama) Buddha bangkit dari menikmati kebahagiaan Kearahattaan; mengetahui keraguan dewa dan brahmà tersebut, Buddha naik ke angkasa dan memperlihatkan Keajaiban Ganda (Yamaka-Patihariya) —air dan api untuk menghilangkan keraguan mereka.

(Keajaiban ganda yang diperlihatkan di Mahàbodhi ini, yang diperlihatkan pada pertemuan sanak saudara-Nya di Kota Kapilavatthu, yang diperlihatkan pada pertemuan para petapa telanjang Pathikaputta di Kota Vesàli―Semua Keajaiban Ganda ini sama dengan yang diperlihatkan di dekat pohon mangga di Kandamba. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut.)

Setelah menghilangkan keraguan para dewa dan brahmà dengan memperlihatkan Keajaiban Ganda air dan api, Buddha turun dari angkasa dan berdiri tegak bagaikan tiang emas di sebelah timur laut dari singgasana Aparàjita dan merenungkan, “Aku telah mencapai Kemahatahuan di atas singgasana Aparàjita ini,” Beliau menghabiskan tujuh hari tanpa berkedip menatap singgasana dan pohon Mahàbodhi di mana Beliau mencapai ‘Arahatta-Magga ¥àõa dan Sabba¤¤uta ¥àõa’ sebagai hasil dari Kesempurnaan yang Beliau penuhi selama kurun waktu empat asaïkhyeyya dan seratus ribu kappa. Tempat itu disebut Animisa Cetiya.

(3) Satu Minggu Berjalan (Cankama-sattàha)

Ketika tiba di minggu ketiga, Buddha menghabiskan tujuh hari, berjalan mondar-mandir di jalan setapak permata yang diciptakan oleh para dewa dan brahmà dan berjalan dari timur ke barat antara singgasana Aparàjita dan cetiya ‘tatapan’; Pada saat itu Beliau merenungkan Dhamma dan tenggelam dalam Phala Samàpatti, meditasi dalam Buah Pencapaian. Tempat ini disebut Ratanàcankama Cetiya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar