Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

pencerahan sidartha gautama bab1

pencerahan sidartha gautama bab1

SIDDHATTHA GOTAMA : Perjuangan Mencapai Pencerahan

Posted by ratanakumaro pada September 26, 2009

<< ( Sebelumnya ) Baca Artikel ini dulu.. ^_^

[ Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (The Great Chronicle of Buddhas), karya Tipitakadhara Mingun Sayadaw (Myanmar) ; Ehipassiko Collection dan Girimangala publications]

SANG BODDHISATTA PANGERAN MELEPASKAN KEDUNIAWIAN SEBAGAI AKIBAT DARI PERASAAN RELIGIUS YANG MENDALAM ( SAMVEGA )



Pangeran Siddhattha jijik melihat penari2 yang tidur bagai bangkai

Pada saat bangun dari tidur-Nya, Bodhisatta Pangeran duduk bersila di atas dipan-Nya dan melihat ke sekeliling-Nya. Beliau melihat para gadis penari yang tertidur, beberapa menimpa alat musiknya di bawah tubuhnya dan dengan air liur mengalir keluar dari mulutnya mengotori pipi dan tubuhnya, beberapa menggemeretakkan giginya, beberapa mendengkur, beberapa mengoceh dalam tidurnya, beberapa dengan mulut terbuka, beberapa tidur telanjang tanpa mengenakan apa pun, beberapa dengan rambut kusut berantakan—semuanya terlihat seperti mayat yang menjijikkan di kuburan.

Menyaksikan perubahan yang menjijikkan dalam diri para gadis penari, Bodhisatta Pangeran menjadi merasa lebih bosan terhadap kenikmatan indria.

Demikianlah dengan merenungkan dan menyadari bahaya dari kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian dan kenyataan bahwa objek-objek dan nafsu kenikmatan indria serta tiga alam kehidupan kàmà, rupa, dan arupa juga tidak membahagiakan dan tidak menyenangkan; lebih merupakan penderitaan, kesakitan, dan penuh cacat, Beliau menjadi secara total melepaskan keterikatan dan kesenangan terhadap lima objek kenikmatan indria, Bodhisatta kemudian mengungkapkan perasaan-Nya dengan mengucapkan:

Upaddutaÿ vata bho, “Oh, betapa menyulitkan!”

Upassathaÿ vata bho, “Oh, betapa menekan!”

Beliau menjadi berkeinginan untuk melepaskan keduniawian dan menjadi petapa.



Channa Kusir Istana mempersiapkan Kuda Khantaka

Beliau berpikir, “Sekarang adalah waktunya bagi-Ku bahkan hari ini juga untuk pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga.” Bodhisatta bangkit dari dipan-Nya, mendekati pintu dan berkata, “Siapa di sini?” Channa, si kusir, yang sedang tidur dengan kepala di ambang pintu menjawab, “Yang Mulia, saya Channa.” Bodhisatta Pangeran memerintahkannya, berkata, “Aku ingin melepaskan keduniawian hari ini. Tanpa memberitahu siapa pun, pergilah cepat siapkan kuda berdarah murni, Sindhi yang memiliki kecepatan tinggi.” Channa, si kusir mengiyakan, berkata, “Baiklah, Yang Mulia.” Dengan membawa beberapa keperluan untuk berkuda, Channa berangkat menuju ke kandang kerajaan, di bawah cahaya lampu minyak harum ia melihat kuda kerajaan Kanthaka, kuda pemenang, berdiri di lapangan yang indah di tengah kandang di bawah kanopi berlapis bunga-bunga melati. Ia memutuskan, “Aku akan mempersiapkan kuda perkasa Kanthaka untuk Pangeran pergi melepaskan keduniawian malam ini.” Ia memasang pelana Kanthaka dan perlengkapan lainnya.

Selagi ia memasang pelana, Kanthaka menyadari, “Pelanaku dipasang lebih erat kali ini, sebelum-sebelumnya, jika pergi ke taman kerajaan, pelana dipasang agak berbeda. Tidak ragu lagi, Pangeran akan melepaskan keduniawian malam ini dengan menunggangiku dan menjadi petapa.” Dengan gembira, ia meringkik dengan penuh semangat. Ringkikan Kanthaka dalam kegembiraannya dapat bergema di seluruh Kapilavatthu; tetapi para dewa meredam suara itu sehingga tidak terdengar oleh seorang pun.



Boddhisatta melihat anak-istri sebelum pergi tinggalkan istana

Selagi pendamping kelahirannya, Channa, sedang mempersiapkan dan menjemput kuda istana, Kanthaka, Bodhisatta berkeinginan untuk “melihat bayi sebelum melepaskan keduniawian.” Beliau pergi ke kamar ibu Ràhula, Ratu Yasodharà, dan membuka pintu kamar. Pada waktu itu, kamar tersebut terang benderang oleh cahaya dari lampu minyak harum; dan ibu Ràhula, Ratu Yasodharà, sedang berbaring tidur di atas kasur yang ditebari dengan bunga-bunga melati, dengan tangannya di atas kepala bayi.

Sang Bodhisatta berdiri diam diambang pintu, selagi melihat, Beliau merenungkan, “Jika Aku memindahkan tangan ratu dan menggendong putra-Ku, Aku mungkin akan membangunkan ratu; jika ratu terbangun, itu dapat membahayakan rencana-Ku untuk melepaskan keduniawian yang akan segera Kulakukan. Jadi, biarlah untuk saat ini, Aku tidak dapat melihatnya; setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna; Aku akan kembali untuk melihat putra-Ku.” Setelah merenungkan demikian, Bodhisatta turun dari istana dan mendekati kuda istana dan berkata:

“O Kanthaka, pendamping kelahiran-Ku, bantulah Aku pada malam ini. Setelah mencapai Kebuddhaan dengan bantuanmu, Aku akan menolong dunia ini termasuk dewa, dari lautan samsàra dan mengantarkan mereka ke daratan tinggi Nibbàna.”

Kemudian Bodhisatta melompat ke atas punggung kuda istana Kanthaka.

Kanthaka berukuran delapan belas lengan diukur dari lehernya dan memiliki tinggi yang proporsional. Ia memiliki kecepatan tinggi dan kekuatan besar. Seluruh tubuhnya berwarna putih seperti salju; penampilan fisiknya indah dan anggun bagaikan kulit kerang yang digosok. Duduk di tengah-tengah punggung Kanthaka dengan pendamping kelahirannya, Channa, yang mencengkeram ekor kuda itu; Bodhisatta keluar dari kawasan istana pada jaga pertengahan malam itu, Senin, malam purnama di bulan âsàëha tahun 97 Mahà Era, dan segera tiba di pintu gerbang utama kota itu. (Selagi Bodhisatta berangkat meninggalkan istana dengan menunggangi kuda istana, Kanthaka, para dewa meletakkan tangan mereka di bawah kaki kuda itu pada setiap derapnya, sehingga suara derapannya tidak terdengar oleh siapa pun.)



SANG BODDHISATTA PANGERAN, PENDAMPING KELAHIRAN-NYA CHANNA, DAN KUDA ISTANA KANTHAKA, MASING-MASING MEMILIKI RENCANA SENDIRI

Saat itu adalah ketika Raja Suddhodana telah mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah Bodhisatta pergi melepaskan keduniawian dengan memperkuat kedua sisi pintu gerbang utama sehingga tiap-tiap sisi hanya dapat dibuka oleh tenaga seribu orang pasukan. Ia berpikir, “Dengan begini, anakku tidak mungkin dapat pergi keluar kapan saja dengan membuka pintu gerbang kota tanpa ketahuan.”

Sang Bodhisatta memiliki kekuatan besar; Beliau memiliki tenaga yang sebanding dengan seribu crore Gajah Kàlàvaka; Beliau memiliki kekuatan yang sebanding dengan seribu crore laki-laki berukuran sedang (majjhimapurisa). Beliau berpikir, “Jika pintu gerbang tidak terbuka, Aku akan menggunakan kekuatan-Ku. Dengan tetap duduk di punggung Kanthaka, Aku akan mencengkeram Channa yang menemani-Ku dengan memegang ekor kuda dan Aku akan menjepit Kanthaka di antara dua paha-Ku dan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan.”

Channa juga memiliki rencana sendiri, “Jika pintu gerbang utama tidak terbuka, aku akan mendudukkan Pangeran di atas bahuku, menjepit Kanthaka di bawah ketiak kananku dan merangkulnya dengan tangan kananku, aku akan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan dan lari.”

Kuda Kanthaka juga memiliki rencana, “Jika pintu gerbang utama tidak terbuka, aku akan membiarkan Pangeran tetap duduk di punggungku dan Channa tetap memegang ekorku, aku akan melompati tembok kota setinggi delapan belas lengan dan lari.”

PENCEGAHAN OLEH MARA VASAVATTI



Mara mencegah kepergian Boddhisatta

Demikianlah, mereka bertiga memiliki keinginan yang sama. Bahkan jika gerbang utama tidak terbuka, mereka akan menjalani rencananya masing-masing. Namun demikian, berkat kebajikan dan kumpulan jasa-jasa dan keagungan Bodhisatta mulia, para dewa yang menjaga pintu gerbang kota dengan gembira membiarkan pintu gerbang tersebut tetap terbuka bagi Bodhisatta untuk keluar. Begitu Bodhisatta keluar dari pintu gerbang kota disertai pendamping kelahirannya Channa, Màra Vasavatti yang tidak senang dan selalu menentang dan menghalangi Pembebasan makhluk-makhluk dari lingkaran kelahiran turun ke alam manusia dari Surga Paranimmitavasavatti dalam sekejap, secepat seorang bertenaga besar merentangkan tangannya yang terlipat atau melipat tangannya yang terentang, muncul di depan Bodhisatta. Maksudnya adalah untuk menghalang-halangi Bodhisatta dari rencana-Nya untuk melepaskan keduniawian dengan menipunya untuk memercayai bahwa pencegahan ini adalah demi kebaikan Pangeran sendiri. Dari angkasa, ia mengucapkan:

“O Bodhisatta Pangeran yang sangat bersemangat, jangan pergi melepaskan keduniawian menjadi petapa. Pada hari ketujuh dari sekarang, Roda Pusaka Surgawi akan muncul untuk-Mu.”

Ia juga menghalang-halangi Bodhisatta dengan mengatakan, “Engkau akan menjadi raja dunia yang memerintah empat benua besar yang dikelilingi oleh dua ribu pulau kecil. Kembalilah, Yang Mulia.” Bodhisatta Pangeran menjawab, “Siapakah engkau, yang berbicara pada-Ku dan menghalang-halangi-Ku?” Dewa Màra menjawab, “Yang Mulia, aku adalah Màra Vasavatti.” Kemudian Bodhisatta menjawab dengan tegas:

“O Màra yang sangat kuat, Aku sudah tahu bahkan sebelum engkau katakan, bahwa Roda Pusaka akan muncul untuk-Ku. Namun, Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi raja dunia, yang memerintah empat benua, pergilah engkau, O Màra, dari sini; jangan menghalang-halangi-Ku.”

“Bagi-Ku, Aku akan berusaha untuk menjadi Buddha untuk menolong dan mengantarkan makhluk-makhluk, yang telah siap untuk mendengarkan Dhamma (veneyya), menuju tanah kemenangan Nibbàna, menyebabkan sepuluh ribu alam berputar bagaikan roda tembikar.”

Lalu, Màra menakut-nakuti Bodhisatta dengan kata-kata berikut, “O kawan, Pangeran Siddhattha, ingatlah kata-kata-Mu itu. Mulai saat ini, aku akan membuat-Mu mengenalku dengan baik, ketika pikiran-Mu dipenuhi oleh nafsu-nafsu indria (kàma vitakka), kebencian (vyàpàda vitakka), dan kekejaman (vihiÿsà vitakka).” Dan, sejak saat itu, ia selalu mencari-cari peluang di mana kotoran batin (kilesa) berkesempatan muncul dalam batin Bodhisatta, mengikutinya dari dekat bagaikan bayangan selama tujuh tahun. (Ia mengikuti di belakang Bodhisatta selama tujuh tahun dengan tujuan untuk membunuh-Nya di tempat itu juga ketika kotoran muncul dalam batin Bodhisatta).

IRING-IRINGAN PARA DEWA DAN BRAHMA SAMPAI KE TEPI SUNGAI ANOMA

Di usia dua puluh sembilan (29) tahun, saat Beliau akan memperoleh kemuliaan dan kekuasaan sebagai seorang raja dunia, Beliau menolaknya seolah-olah membuang ludah. Pada tengah malam, di malam purnama bulan âsàlha ketika bintang âsàlha dalam posisi segaris dengan bulan di tahun 97 Mahà Era, Beliau meninggalkan istana yang sebanding dengan kemegahan istana seorang raja dunia. Tetapi ketika Beliau meninggalkan istana-Nya itu, keinginan untuk berpaling dan melihat Kota Kapilavatthu muncul dalam pikiran-Nya.

Segera setelah munculnya pikiran itu, tempat di sekeliling Bodhisatta berputar seperti roda tembikar seolah-olah bumi berkata kepadanya, “O Bodhisatta mulia, kebajikan dan jasa yang telah Engkau miliki membuat-Mu tidak perlu berbalik untuk melihat apa pun yang Engkau inginkan; objek yang ingin Engkau lihat akan menampakkan dirinya di depan-Mu.” Demikianlah Bodhisatta melihat Kota Kapilavatthu dari tempat-Nya berdiri tanpa perlu berpaling. Tempat di mana kuda Kanthaka berhenti ditandai dengan didirikannya stupa yang dinamai Kanthaka Nivattana. Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya dengan penuh keagungan di atas punggung kuda Kanthaka. Sepanjang perjalanan yang dilalui Bodhisatta, semua dewa dan brahmà berbaris di depan dan di belakang, di kiri dan kanan, beberapa memegang enam puluh ribu obor (enam ratus obor menurut Komentar Buddhavamsa); yang lain memberi penghormatan dengan karangan bunga yang terbuat dari bunga-bunga harum, bubuk cendana, pengusir serangga ekor yak, spanduk, dan pita. Mereka berbaris menyanyikan lagu-lagu surgawi dan memainkan segala jenis alat musik surgawi.

Sang Bodhisatta mulia, yang seperti dijelaskan di atas, telah melepaskan keduniawian dengan segala kemegahan melewati tiga kerajaan—Sàkiya, Koliya, dan Malla—dalam satu malam yang meliputi jarak sejauh tiga puluh yojanà, akhirnya tiba di tepi Sungai Anomà.



Boddhisatta, Channa si Kusir, dan Kuda Khantaka

Kuda istana Kanthaka memiliki kecepatan yang memungkinkannya untuk berlari di sekeliling Gunung Cakkavàla di subuh hari dan tiba kembali tepat saat makan pagi disiapkan untuknya. Namun demikian, harus dimengerti bahwa pada waktu itu bunga-bunga harum yang ditebarkan oleh para dewa dan brahmà, nàga dan garuda, dan lain-lain dari angkasa menutupi seluruh permukaan tanah hingga setinggi perut kuda sehingga ia harus berjalan dengan susah payah, berjuang dan berjuang melewati lautan bunga seolah-olah melewati rawa-rawa, karena itulah ia hanya dapat berlari sejauh tiga puluh yojanà dalam semalam.

MENYEBERANGI SUNGAI ANOMA DAN MENCUKUR RAMBUT

Setelah mencapai tepi Sungai Anomà, Bodhisatta mulia mengistirahatkan kuda-Nya di tepi sungai dan bertanya kepada Channa, “Apa nama sungai ini?” Ketika dijawab oleh Channa bahwa sungai tersebut adalah Sungai Anomà, Bodhisatta menganggap itu adalah pertanda baik, dan berkata, “Pertapaan-Ku tidak akan gagal, bahkan sebaliknya akan memiliki kualitas yang baik,” (karena anomà artinya ‘bukan sesuatu yang rendah’). Kemudian menepuk Kanthaka dengan tumit-Nya untuk memberikan aba-aba kepadanya untuk menyeberangi sungai, dan Kanthaka melompat ke sisi seberang sungai yang lebarnya delapan usabha dan berdiri di sana.

Setelah turun dari punggung kuda, dan berdiri di atas pasir di tepi sungai, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, bawalah kuda Kanthaka bersama dengan semua perhiasan-Ku pulang. Aku akan menjadi petapa.” Ketika Channa mengatakan bahwa ia juga ingin melakukan hal yang sama, Bodhisatta melarangnya sampai tiga kali dengan mengatakan, “Engkau tidak boleh menjadi petapa. Channa sahabat-Ku, pulanglah ke kota.” Dan Ia menyerahkan Kanthaka dan semua perhiasan-Nya kepada Channa.



Boddhisatta Memotong Rambut

Setelah itu, dengan mempertimbangkan, “Rambut-Ku ini tidak cocok untuk seorang petapa; Aku akan memotongnya dengan pedang-Ku.” Bodhisatta, dengan pedang di tangan kanan-Nya memotong rambut-Nya dan mencengkeramnya bersama mahkota-Nya dengan tangan kiri-Nya. Rambut-Nya yang tersisa sepanjang dua jari mengeriting ke arah kanan dan menempel di kulit kepala-Nya. Sisa rambut itu tetap sepanjang dua jari hingga akhir hidup-Nya meskipun tidak pernah dipotong lagi. Janggut dan cambang-Nya juga tetap ada seumur hidup-Nya dengan panjang yang cukup untuk terlihat indah seperti rambut-Nya. Bodhisatta tidak perlu mencukur-Nya lagi.

MELEMPARKAN GUMPALAN RAMBUT-NYA YANG LEBAT KE ANGKASA DENGAN KEBULATAN TEKAD

Sang Bodhisatta memegang gumpalan rambut-Nya bersama dengan mahkota-Nya mengucapkan tekad, “Jika Aku akan menjadi Buddha, biarlah gumpalan rambut ini tetap di angkasa. Jika tidak, gumpalan rambut ini akan jatuh ke atas tanah.” Kemudian Beliau melemparnya ke angkasa. Setelah itu, gumpalan rambut itu bersama dengan mahkota-Nya naik ke angkasa setinggi satu yojanà dan secara ajaib tetap tergantung di sana seperti karangan bunga yang tergantung.

CETIYA CULAMANI DIDIRIKIAN DI TAVATIMSA OLEH SAKKA

Pada waktu itu, Sakka, raja dewa melihat rambut Bodhisatta dengan mata-dewanya; dan mengambilnya bersama dengan mahkotanya dengan menggunakan sebuah peti permata, berukuran satu yojanà, dan membawanya ke Surga Tàvatimsa. Ia kemudian menyimpannya di dalam Cetiya Culàmani yang didirikannya dan dihias dengan tujuh jenis batu permata. Cetiya itu tingginya tiga yojanà.



MENJADI PETAPA DENGAN PERLENGKAPAN YANG DIPERSEMBAHKAN OLEH BRAHMA GHATIKARA



Brahma Ghatikara persembahkan perlengkapan petapa pada Boddhisatta

Selanjutnya, Bodhisatta merenungkan, “Busana-Ku ini buatan Negeri Kàsi yang sangat mahal. Tidak sesuai untuk seorang petapa.” Kemudian Brahmà Ghatikàra, yang merupakan sahabat-Nya sewaktu dalam kehidupan-Nya pada masa kehidupan Buddha Kassapa merenungkan melalui Mettà-nya yang mulia yang telah ada selama buddhantara kappa, “Ah, hari ini sahabatku Bodhisatta, melihat bahaya dalam fenomena menyedihkan seperti kelahiran, dan lain-lain telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dalam kemuliaan, melepaskan keduniawian Mahàbhinikkhamana. Aku akan pergi, membawakan perlengkapan bertapa untuk sahabatku, Bodhisatta Pangeran.” Demikianlah ia membawakan delapan perlengkapan yaitu, (1) sebuah jubah besar, (2) sebuah jubah atas yang disebut ekacci, (3) sebuah jubah bawah, (4) sebuah korset (empat kebutuhan yang melekat di badan), (5) sebuah jarum dan benang, (6) sebuah pisau yang digunakan untuk menyerut kayu pembersih gigi, (7) sebuah mangkuk dan wadahnya, dan (8) sebuah saringan air, (empat perlengkapan yang tidak melekat di badan) dan kemudian menyerahkannya kepada Bodhisatta.

Selanjutnya Bodhisatta telah berpenampilan seperti seorang petapa setelah mengenakan jubah-Nya dengan baik—jubah yang dapat disebut sebagai sebuah spanduk Arahatta-Phala dan yang dipersembahkan oleh brahmà. Kemudian Beliau melemparkan busana-Nya (busana orang biasa) ke angkasa.

CETIYA DUSSA DIDIRIKAN DI ALAM BRAHMA AKANITTHA

Brahmà Ghatikàra menangkap busana Bodhisatta yang dilemparkan ke angkasa; dan mendirikan sebuah cetiya, berukuran dua belas yojanà dan berhiaskan berbagai macam permata tempat ia menyimpan pakaian tersebut dengan penuh hormat. Karena cetiya itu berisi busana, maka disebut Cetiya Dussa.

CHANNA PULANG KE KOTA

Setelah menjadi petapa, Bodhisatta menyuruh Channa, “Channa sahabat-Ku, sampaikan pesan ini kepada ‘ibu-Ku’ (maksudnya: ibu angkat-Nya Mahàpajapati Gotamã) dan ayah-Ku bahwa Aku dalam kondisi sehat.” Kemudian Channa, setelah bersujud dengan penuh hormat kepada Bodhisatta dan mengelilingi-Nya, mengambil buntalan berisi perhiasan Bodhisatta, membawa kudanya dan pergi.

KANTHAKA TERLAHIR KEMBALI SEBAGAI DEWA SETELAH MENINGGAL DUNIA

Karena mendengarkan percakapan antara Bodhisatta dengan Channa, kuda Kanthaka menjadi sangat sedih dengan pikiran, “Mulai saat ini aku tidak akan dapat melihat tuanku lagi.” Setelah ia menghilang dari pandangan Bodhisatta, ia tidak dapat menahan kesedihannya yang timbul karena berpisah dengan seseorang yang dicintainya ‘piyehi vippayoga’, sewaktu ia meninggalkan Bodhisatta yang sangat disayanginya; ia meninggal dunia karena patah hati dan terlahir kembali di Surga Tàvatimsa sebagai dewa bernama Kanthaka. Sedangkan Channa, pertama-tama ia bersedih karena berpisah dengan Bodhisatta, kemudian kesedihannya bertambah karena meninggalnya Kanthaka. Tertekan oleh penderitaan ganda, ia pulang ke Kota Kapilavatthu dengan air mata berlinang, menangis.

KUNJUNGAN BODDHISATTA KE KOTA RAJAGAHA SETELAH BERDIAM SELAMA TUJUH HARI DI HUTAN MANGGA ANUPIYA

Setelah menjadi petapa, Bodhisatta berdiam selama tujuh hari dalam kebahagiaan pertapaan di hutan mangga yang disebut Anupiya kemudian berjalan kaki sejauh tiga puluh yojanà dalam sehari dan memasuki Kota Ràjagaha. (Pernyataan ini diambil dari Komentar Buddhavaÿsa dan Komentar Jàtaka).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar