Check out the Latest Articles:

Sabtu, 16 April 2011

Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I; MULAPARIYAYA SUTTA : Pelajaran mengenai akar segala benda mulai dari unsur-unsur sampai Nibbana.

MULAPARIYAYA SUTTA

Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit Hanuman Sakti, Jakarta, 1996

Demikianlah saya dengar:

Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di bawah pohon Sala-raja, di hutan Subhaga, Ukkhattha. Di tempat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.”

“Bhante,” jawab para bhikkhu.

Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode (mulapariyaya) semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara.”

“Ya, bhante,” jawab para bhikkhu menyetujuinya.

Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, dalam hal orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat orang-orang suci (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun mengetahui (sanjanati) ‘pathavi’ (padat) sebagai pathavi. Setelah mengetahui pathavi sebagai pathavi, ia berpikir tentang pathavi; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia memikirkan (dirinya) sebagai pathavi; ia berpikir bahwa ‘pathavi milikku’, ia gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Ia mengetahui ‘apo’ (cairan) sebagai apo, setelah mengetahui apo sebagai apo, ia berpikir tentang apo; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan apo; ia memikirkan (dirinya) sebagai apo; ia berpikir ‘apo milikku’, ia gembira dalam apo. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Ia mengetahui ‘tejo’ (panas) sebagai tejo, setelah mengetahui tejo sebagai tejo, ia berpikir tentang tejo; ia memikirkan (dirinya) sebagai tejo, … ‘vayo’ (angin) … ‘bhuta’ (makhluk) … ‘deva’ (dewa) … ‘Pajapati’ … Brahma (Dewa Brahma) … Abhassara (Brahma Abhassara) … Subhakinna (Brahma Subhakinna) … Vehapphala (Brahma Vehapphala) … Abhibhu (Abhibhu-brahma Asannasatta) … Akasanancayatana….. Vinnanan-cayatana … N’evasannanasannayatana … ‘dittha’ (pandangan atau dilihat) … ‘suta’ (didengar) … ‘muta’ (dirasakan) … ‘vinnata’ (diketahui) … ‘ekatta’ (persatuan) … nanatta (perbedaan) … sabba (universal) … ‘nibbana’ sebagai nibbana, setelah mengetahui nibbana sebagai nibbana, ia berpikir tentang nibbana; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia berpikir ‘nibbana milikku’, ia gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir ‘pathavi milikku’, ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu siswa yang belum mencapai kesempurnaan, yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi dari ikatan, mengerti dengan baik tentang ‘apo’ … (penerjemah: seperti di atas, sampai dengan) … ‘sabba’ …, mengerti dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana; karena mengetahui dengan baik nibbana sebagai nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia tidak berpikir ‘nibbana milikku’, ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin (asava), telah hidup dengan kehidupan (sempurna), telah melaksanakan tugas yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah melepaskan beban (ohitabharo), telah mencapai tujuannya (anuppattasadatto), telan melenyapkan semua belenggu (samyojana), yang terbebas (vimutti) dengan pengetahuan sempurna, ia pun mengerti dengan baik tentang ‘pathavi’ sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir ‘pathavi milikku’, ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah hidup dengan kehidupan sempurna, … ia pun mengerti dengan baik tentang ‘apo’ … ia pun mengerti dengan baik tentang ‘nibbana’ sebagai nibbana; karena mengerti dengan baik mengenai nibbana, ia tidak memikirkan dirinya sebagi nibbana; ia tidak berpikir ‘nibbana milikku’, ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin … ia pun mengerti dengan baik tentang ‘pathavi’ … ‘nibbana’ … ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena ia ‘tanpa keinginan nafsu’ (vitaragatta), sebab telah ‘melenyapkan (semua) keinginan nafsu’ (khaya ragassa).

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkhu arahat, yang telah melenyapkan semua kekotoran batin … ia pun mengerti dengan baik tentang ‘pathavi’ … ‘nibbana’ … ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena ia ‘tanpa kebencian’ (vitadosatta), sebab telah ‘melenyapkan (semua) kebencian’ (khaya dosassa) …. Mengapa begitu? Karena ia ‘tanpa kebodohan’ (vitamohatta), sebab telah ‘melenyapkan (semua) kebodohan’ (khaya mohassa).

Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang ‘pathavi’ … ‘nibbana’ … ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Karena hal itu telah dimengerti dengan baik oleh Tathagata.

Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang ‘pathavi’ sebagai pathavi; karena mengerti dengan baik mengenai pathavi sebagai pathavi, maka ia tidak memikirkan tentang pathavi, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia tidak memikirkan dirinya sebagai pathavi; ia tidak berpikir ‘pathavi milikku’, ia tidak gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa ‘kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha’, mengetahui bahwa karena adanya ‘menjadi’ (bhava) maka terjadilah ‘kelahiran’ (jati), maka muncullah ‘usia tua dan kematian’ (jaramarana) makhluk.

Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan ‘melenyapkan semua keinginan’ (tanha khaya) dan ‘tanpa nafsu’ (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai ‘penerangan agung tertinggi’ (anuttaram sammasambodhi).

Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang ‘apo’ … ‘nibbana’ … ia tidak gembira dalam ‘nibbana’ …. Para bhikkhu itulah sebabnya maka Saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan dan tanpa nafsu, sempurna kesadarannya dengan mencapai penerangan agung tertinggi.

Itulah yang diuraikan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu senang dan gembira pada apa yang dikatakan Sang Bhagava.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar