Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Anguttara Nikaya; 3. Tika (Tiga pelanggaran – jasmani, ucapan dan pikiran) - 1

Tika

BAB TIGA

Kelompok Tiga

18. Orang Tolol dan Orang Bijaksana

Para bhikkhu, orang tolol ditandai oleh perilakunya, orang bijaksana ditandai oleh perilakunya. Kebijaksanaan memancar terang di dalam perilaku.

Lewat tiga hal orang tolol dapat dikenali: lewat perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang buruk.

Lewat tiga hal orang bijaksana dapat dikenali: lewat perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang baik.
(III, 2)

19. Dhamma, Sang Pengawas

Sang Buddha berkata: “Para bhikkhu, bahkan seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur, tidak mengatur wilayahnya tanpa pengawas.1

Setelah Beliau berbicara, seorang bhikkhu berkata kepada Sang Bhagava demikian: “Tetapi Bhante, siapakah pengawas penguasa dunia itu, raja yang adil dan luhur itu?”

“Dhamma, hukum kebenaran-lah, O para bhikkhu,” jawab Sang Bhagava.2

“Dalam hal ini, seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur – yang bergantung pada hukum kebenaran (Dhamma), yang menghargai, menjunjung tinggi dan menghormatinya, dengan hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya – dialah yang memberikan perlindungan, naungan, keamanan bagi ksatria yang melayaninya; bagi bala tentaranya, bagi para brahmana dan perumah tangga, bagi penghuni kota dan desa, bagi para petapa dan brahmana, bagi binatang dan burung.

“Seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur – yang dengan demikian memberikan perlindungan, naungan dan keamanan bagi semuanya – dialah yang berkuasa dengan berdasarkan hanya pada kebenaran. Dan peraturan itu tidak dapat digulingkan oleh makhluk jahat apapun dalam bentuk manusia.

“Walaupun demikian, para bhikkhu, Sang Tathagata, Sang Arahat, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, Raja Dhamma yang adil dan luhur – yang bergantung pada Dhamma, menghargai Dhamma, menjunjung tinggi Dhamma dan menghormatinya, dengan Dhamma sebagai panji, bendera dan kekuasaannya – Beliaulah yang memberikan perlindungan, naungan dan keamanan hukum dalam hal tindakan lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. (Beliau mengajarkan demikian): ‘Tindakan tubuh seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan. Tindakan ucapan seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan. Tindakan mental seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan.’

“Sang Tathagata, Sang Arahat, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, Raja Dhamma yang adil dan luhur, yang dengan demikian menyediakan perlindungan, naungan dan keamanan hukum dalam hal tindakan lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, Beliaulah yang memutar Roda Dhamma yang tiada bandingnya sesuai dengan Dhamma saja. Dan Roda Dhamma tidak dapat diputar balik oleh petapa atau brahmana apapun, oleh dewa atau Mara atau Brahma atau siapapun di dunia ini.”3
(III, 14)
20. Penyebab Rasa Malu

“Para bhikkhu, jika para petapa kelana yang memiliki kepercayaan lain bertanya kepada kalian: “Sahabat, apakah demi kelahiran kembali di alam surgawi kalian menjalani kehidupan suci di bawah bimbingan petapa Gotama?’ – tidakkah kalian akan merasa tidak suka, malu dan terhina?”

“Tentu saja, Bhante.”

“Kalau demikian, para bhikkhu, kalian mengatakan bahwa kalian merasa sakit, malu dan tidak suka karena ide usia yang amat panjang, keelokan yang amat sangat, kebahagiaan yang tinggi, keagungan yang tinggi dan kekuasaan yang tinggi. Betapa kalian harus merasa jauh lebih tidak suka, malu dan terhina oleh perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran!”
(III, 18)
21. Tiga Jenis Pasien

Para bhikkhu, ada tiga jenis pasien yang terdapat di dunia ini, Apakah yang tiga itu?

Ada satu pasien: tidak peduli apakah dia memperoleh gizi yang sesuai, obat yang sesuai, dan perawatan yang memadai atau tidak, dia tidak akan sembuh dari penyakitnya.

Ada pasien lain: tidak peduli apakah dia memperoleh semua itu atau tidak, dia akan sembuh dari penyakitnya.

Ada pasien lain lagi yang akan sembuh dari penyakitnya hanya jika dia mendapat gizi yang cocok, obat yang cocok, dan perawatan yang memadai, tetapi tidak akan sembuh jika dia tidak memperolehnya. Baginya, para bhikkhu, diet khusus, obat penyembuh dan perawatan yang baik diberikan. Tetapi selain dia, dua jenis pasien yang lain pun harus dilayani juga.4

Tiga jenis pasien ini terdapat di dunia ini.

Begitu pula, para bhikkhu, ada tiga jenis manusia lain yang dapat dibandingkan dengan tiga pasien itu.
Ada satu jenis manusia: tidak peduli apakah dia memiliki kesempatan melihat Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dibabarkan oleh Beliau atau tidak, dia tidak akan masuk ke jalan kepastian dan tidak akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik.5

Ada manusia lain: tidak peduli apakah dia memiliki kesempatan bertemu Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dinyatakan oleh Beliau atau tidak, dia akan masuk ke jalan kepastian dan akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik.

Demikian juga, ada manusia yang akan masuk ke jalan kepastian dan akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik hanya jika dia memiliki kesempatan melihat Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dibabarkan oleh Beliau. Namun dia tidak akan mencapai hal itu jika dia tidak mendapat kesempatan ini. Bagi manusia inilah, O para bhikkhu, diberikan instruksi Dhamma. Tetapi selain dia, kepada dua yang lain pun Dhamma harus diajarkan juga.6

Inilah tiga jenis manusia yang terdapat di dunia ini, yang dapat dibandingkan dengan tiga pasien itu.
(III, 22)
22. Tiga Jenis Mentalitas

Para bhikkhu, ada tiga jenis manusia yang terdapat di dunia ini. Apakah yang tiga itu? Ada manusia dengan pikiran seperti luka menganga; manusia dengan pikiran seperti kilat;7 manusia dengan pikiran seperti berlian.

Para bhikkhu, seperti apakah manusia yang memiliki pikiran seperti luka menganga? Dia adalah orang yang cepat naik darah dan mudah jengkel. Jika dikritik sedikit saja, dia sudah kehilangan kesabaran, lalu menjadi marah dan jengkel; dia keras kepala dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kejengkelan. Persis seperti, misalnya, luka bernanah yang jika dipukul dengan tongkat atau pecahan tanah liat akan mengeluarkan lebih banyak nanah, demikian juga orang yang cepat naik darah …. dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kejengkelan. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti luka menganga.

Dan seperti apakah manusia yang memiliki pikiran seperti kilat? Dia adalah orang yang memahami sebagaimana adanya, “Inilah penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah asal mula penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah berhentinya penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan.” Sama seperti orang yang baik penglihatannya akan dapat melihat objek di dalam kegelapan malam lewat sinar kilat, demikian pula orang yang memahami Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti kilat. Dan seperti apakah manusia dengan pikiran seperti berlian? Dia adalah orang yang lewat hancurnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga, masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena dia telah merealisasikannya bagi dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung. Sama seperti tidak ada yang tidak dapat dipotong oleh berlian – entah itu batu permata lain atau batu karang – demikian pula orang itu, lewat hancurnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga, masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena dia telah merealisasikannya bagi dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti berlian.

Inilah tiga jenis manusia yang terdapat di dunia.
(III, 25)
23. Bebas dari Pembentukan Aku

Pada suatu ketika YM Sariputta mendekati Sang Buddha, menghormat Beliau dan duduk di satu sisi.8 Yang Terberkati kemudian berkata kepadanya:

“Sariputta, apakah aku mengajarkan Dhamma secara ringkas, atau apakah aku mengajarkannya secara rinci, atau apakah aku mengajarkannya baik secara ringkas maupun rinci, sulit menemukan mereka yang memahaminya.”

“Sekaranglah, Yang Terberkati, waktu untuk itu! Sekaranglah, Yang Tertinggi, waktu bagi Yang Terberkati untuk mengajarkan Dhamma secara ringkas, untuk mengajarkannya secara rinci, dan untuk mengajarkannya baik secara ringkas maupun rinci. Akan ada orang orang yang memahami Dhamma.’

“Kalau demikian, Sariputta, beginilah orang seharusnya melatih diri: ‘Kita seharusnya tidak mengembangkan pembentukan aku, pembentukan-milikku atau kecenderungan yang mendasari kesombongan baik yang berkenaan dengan tubuh yang sadar ini atau berkenaan dengan semua objek luar9 – dan kita seharusnya masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran, pembebasan lewat kebijaksanaan, sehingga kita tidak lagi terkena pembentukan aku, pembentukan-milikku dan kecenderungan yang mendasari kesombongan. Beginilah caranya orang seharusnya melatih diri.

“Sariputta, jika seorang bhikkhu tidak lagi memiliki pembentukan-aku, pembentukan-milikku dan kecenderungan yang mendasari kesombongan – baik yang berkenaan dengan tubuh yang sadar ini atau berkenaan dengan semua objek luar – dan ketika dia masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran, pembebasan lewat kebijaksanaan, maka dia disebut seorang bhikkhu yang telah memotong nafsu keinginan dan menyingkirkan segala penghalang, orang yang telah mengakhiri penderitaan, dengan sepenuhnya menghancurkan kesombongan.

“Mengenai hal ini, Sariputta, telah kukatakan di dalam ‘Pertanyaan-pertanyaan Udaya’ di ‘Jalan Menuju Pantai Seberang’:10

“Ditinggalkannya nafsu-nafsu indera
Beserta sentuhan kesedihan yang pahit;
Lenyapnya kelambanan dan ketumpulan mental,
Terhalaunya kecemasan yang mengganggu;
Kewaspadaan dan ketenangan yang murni
Yang didahului oleh pemikiran mengenai Dhamma:
Aku nyatakan, inilah pembebasan lewat pengetahuan,
Hancurnya kebodohan.”11
(III, 32)
24. Penyebab-penyebab Tindakan

Para bhikkhu, ada tiga penyebab asal mula tindakan. Apakah yang tiga itu? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.12

Suatu tindakan yang dilakukan dengan keserakahan, terlahir dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, muncul dari keserakahan, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.13

Suatu tindakan yang dilakukan dengan kebencian, terlahir dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, muncul dari kebencian, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Suatu tindakan yang dilakukan dengan kebodohan batin, terlahir dari kebodohan batin, disebabkan oleh kebodohan batin, muncul dari kebodohan batin, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Para bhikkhu, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan yang ditaruh di ladang subur, ditabur di tanah yang sudah dipersiapkan dengan baik: jika ada cukup hujan, benih-benih ini akan tumbuh, menjadi tinggi dan amat berkembang.

Demikian pula, O para bhikkhu, tindakan apapun yang dilakukan karena keserakahan, kebencian atau kebodohan batin… akan masak di mana pun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Para bhikkhu, inilah tiga penyebab asal mula tindakan.

Para bhikkhu, ada tiga penyebab lain untuk asal mula tindakan.

Apakah yang tiga itu? Tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin.

Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-keserakahan, terlahir dari tanpa-keserakahan, disebabkan oleh tanpa-keserakahan, muncul dari tanpa-keserakahan… Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-kebencian… Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-kebodohan-batin, terlahir dari tanpa-kebodohan-batin, disebabkan oleh tanpa-kebodohan- batin, muncul dari tanpa-kebodohan-batin, begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan batin lenyap maka tindakan itu ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa depan.14

Para bhikkhu, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan ditaruh di ladang yang subur: jika seseorang membakarnya sehingga menjadi abu, kemudian menampi abu itu di angin yang kencang atau membiarkannya terbawa arus yang mengalir deras, maka benih-benih itu akan langsung hancur, lenyap sepenuhnya, dibuat tak mampu bertunas dan tidak lagi bisa muncul di masa depan.15
Demikian pula, para bhikkhu, tindakan yang dilakukan di dalam tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin. Begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan batin telah lenyap, tindakan tindakan ini ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa depan.
Para bhikkhu, inilah tiga penyebab lain bagi asal mula tindakan.
(III, 33)
25. Tidur Nyenyak

Demikian yang telah saya dengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negara Alavi, Beliau beristirahat di atas tumpukan daun yang ditebarkan di jalur ternak di hutan simsapa.

Pada saat itu Hatthaka dari Alavi16 lewat di jalur itu ketika sedang berjalan-jalan, dan di sana dia melihat Sang Bhagava duduk di atas tumpukan daun. Setelah mendekati Yang Terberkati dan memberi hormat kepada Beliau, Hatthaka duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava:

“Yang mulia, apakah Bhante telah tidur nyenyak?”

“Ya, pangeran, aku telah tidur nyenyak. Di antara mereka di dunia yang selalu tidur nyenyak, akulah salah satunya.”

“Tetapi, Bhante, malam-malam musim dingin ini sungguh dingin dan ini adalah minggu penuh es. Betapa kerasnya tanah yang telah diinjak-injak ternak, betapa tipisnya tebaran daun, betapa jarangnya daun di atas pohon, betapa tipisnya jubah coklat seorang bhikkhu dan betapa dinginnya angin yang bertiup. Walaupun demikian, Yang Terberkati mengatakan bahwa Beliau tidur nyenyak dan bahwa Beliau adalah salah satu di antara mereka di dunia yang selalu tidur nyenyak.”

“Pangeran, sekarang akan kuajukan pertanyaan tentang hal ini dan engkau boleh menjawab menurut pendapatmu. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, pangeran? Misalnya ada seorang perumah tangga atau putra perumah tangga yang tinggal di rumah dengan atap yang tinggi, diplester di luar dalam, terlindung dari angin, dengan pintu yang dikunci dan jendela tertutup. Dan ada tempat tidur di rumah, yang ditutupi permadani wol hitam yang berbulu panjang, dengan sprei wol putih, penutup ranjang yang berhias bunga, dibentangi kulit rusa yang sangat indah, dengan tirai di atas bagian kepala dan bantal merah menyala di kedua ujungnya. Juga ada lentera yang menyala di sana dan empat istri melayaninya dengan baik. Bagaimanakah pendapatmu, pangeran: apakah orang itu akan tidur nyenyak atau tidak, atau bagaimana?”

“Dia pasti akan tidur nyenyak, Bhante. Dia akan menjadi salah satu dari mereka di dunia ini yang tidur nyenyak.”

“Bagaimana pendapatmu, pangeran? Apakah tidak mungkin di dalam diri perumah tangga atau putra perumah tangga itu ada rasa kesal pada tubuh atau pikirannya, yang disebabkan oleh nafsu, kebencian dan kebodohan batin, yang menyiksanya sehingga dia tidak dapat tidur nyenyak?”

“Mungkin saja demikian, Bhante.”

“Nah, pangeran, nafsu, kebencian dan kebodohan batin yang menyiksa perumah tangga itu, yang menyebabkan dia tidak tidur nyenyak, telah ditinggalkan oleh Sang Tathagata, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga mereka tidak lagi bisa muncul di masa depan. Oleh karena itulah, pangeran, aku telah tidur nyenyak.”

Brahmana yang dirinya telah padam
Selalu tidur dengan bahagia;
Dia tidak melekati nafsu-nafsu indera,
Bebas dari penopang, sejuk pikirannya.
Setelah memotong semua jerat kemelekatan,
Setelah melenyapkan rasa was-was jauh di dalam hati,
Dia Yang Damai pun tidur dengan bahagia,
Mencapai kedamaian pikiran yang sempurna.
(III, 34)
26. Tiga Utusan Agung

Ada tiga utusan agung,17 para bhikkhu. Apakah yang tiga itu?

Ada orang yang memiliki perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Karena memiliki perilaku buruk seperti itu, pada saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam penderitaan, di tempat yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Di sana penjaga neraka menarik kedua tangannya dan menyeretnya ke hadapan Yama, Raja Kematian, sambil berkata: “Tuanku, orang ini tidak memiliki rasa hormat terhadap ayah dan ibunya, tidak juga terhadap para petapa dan brahmana, tidak juga dia menghargai mereka yang lebih tua di keluarga. Semoga Tuanku menjatuhkan hukuman yang sesuai kepadanya!”

Kemudian, para bhikkhu, Raja Yama bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya mengenai utusan agung pertama: “Apakah engkau tidak pernah melihat, sahabat, utusan agung pertama yang muncul di antara umat manusia?”

Dan dia menjawab: “Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

Kemudian Raja Yama berkata: “Tetapi, sahabat, tidakkah engkau pernah melihat wanita atau pria, yang berusia delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, yang rapuh, bungkuk bagaikan siku atap, melengkung, bersandar pada tongkat, berjalan tertatih-tatih, sakit-sakitan, karena masa muda dan kekuatannya telah lenyap, giginya ompong, rambutnya kelabu dan jarang atau gundul, kulitnya berkeriput, dan kaki tangannya bengkak?”

Dan dia menjawab: “Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

Kemudian Raja Yama berkata kepadanya: “Sahabat, tidakkah pernah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena usia tua dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

Kemudian Raja Yama berkata: “Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau harus mengalami buahnya.”

Para bhikkhu, setelah Raja Yama bertanya, memeriksa dan berkata kepadanya demikian mengenai utusan agung pertama, sekali lagi beliau bertanya, memeriksa dan berkata kepada laki-laki itu tentang utusan kedua, dengan mengatakan: “Tidakkah pernah terpikirkan olehmu, sahabat, utusan agung kedua yang muncul di antara umat manusia?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

“Tetapi sahabat, tidakkah engkau pernah melihat seorang wanita atau pria yang sakit, dan dalam kesakitan, dia terbaring di atas kotorannya sendiri dan harus diangkat oleh seseorang dan dibaringkan oleh orang lain?”

“Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

“Sahabat, tidakkah pernah terpikir olehmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena penyakit dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

“Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau akan harus mengalami buahnya.”

Para bhikkhu, setelah Raja Yama bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya demikian sehubungan dengan utusan agung kedua, sekali lagi beliau bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya tentang utusan agung ketiga, dengan mengatakan: “Tidakkah engkau pernah melihat, sahabat, utusan agung ketiga yang muncul di antara umat manusia?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

“Tetapi, sahabat, tidakkah engkau pernah melihat seorang wanita atau pria, sesudah dua atau tiga hari meninggal, yang mayatnya bengkak, pucat dan membusuk?”

“Ya, Tuan, saya telah melihatnya.”

“Kalau demikian, sahabat, tidakkah pernah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena kematian dan tak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

“Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau akan harus mengalami buahnya.”

Kemudian setelah bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya mengenai utusan agung ketiga, Raja Yama pun diam.

Setelah itu, para penjaga neraka menjatuhkan berbagai jenis siksaan kepadanya, yang menyebabkan dia menderita rasa sakit yang menusuk, parah, tajam, dan menyedihkan. Walaupun demikian, dia tidak mati sampai tindakan jahatnya itu telah habis.18
(III, 35)
27. Kesombongan Berunsur Tiga

Aku dibesarkan dengan lembut, O para bhikkhu: sangat lembut, dengan amat sangat lembut aku diasuh. Di rumah ayahku dibuat kolam-kolam teratai: di salah satu kolam teratai biru mekar, di kolam lain teratai putih dan di kolam ketiga teratai merah, hanya untuk kunikmati. Alas kaki yang kupakai selalu diolesi krim dari Benares. Dan penutup kepalaku, mantelku, pakaian dalam dan pakaian luarku terbuat dari muslin Benares. Siang dan malam tirai putih dipasang di atasku, kalau-kalau udara dingin dan panas, debu, dedak atau embun menggangguku. Aku memiliki tiga istana, satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin dan satu untuk musim penghujan. Di istana musim penghujan, empat bulan masa penghujan itu aku dilayani hanya oleh pemusik-pemusik wanita, dan selama itu aku tidak meninggalkan istana. Sementara di rumah orang lain, para pembantu dan budak menerima makanan dari beras hancur yang dicampur dengan kuah asam, di rumah ayahku mereka diberi beras pilihan dan daging pilihan.

Di antara kemegahan seperti itu dan di dalam kehidupan yang benar-benar tanpa masalah, O para bhikkhu, buah-pikir ini muncul di benakku:19 “Seorang manusia biasa yang tidak belajar, walaupun pasti menjadi tua sendiri dan tidak dapat lolos dari usia tua, merasa tidak suka, terhina atau muak ketika melihat orang yang tua dan jompo, karena dia lupa akan situasinya sendiri. Padahal aku juga pasti menjadi tua dan tidak dapat lolos dari menjadi tua. Seandainya saja, ketika melihat orang yang tua dan jompo aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidak pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kemudaan pun lenyap.

Sekali lagi aku merenung: “Seorang manusia biasa yang tidak belajar, walaupun pasti menjadi sakit sendiri dan tidak bisa lolos dari penyakit, merasa tidak suka, terhina atau muak ketika melihat seorang yang sakit, karena dia lupa akan situasinya sendiri. Padahal aku juga pasti menjadi sakit dan tidak dapat lolos dari penyakit. Seandainya saja, ketika melihat seorang yang sakit, aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidaklah pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kesehatan pun lenyap.

Sekali lagi aku merenung: “Seorang manusia biasa yang tidak belajar pasti mati sendiri dan tidak dapat lolos dari kematian. Walaupun demikian, ketika melihat orang mati dia merasa tidak suka, terhina dan muak, karena lupa akan situasinya sendiri. Aku juga pasti mati dan tidak dapat lolos dari kematian. Seandainya saja, ketika melihat orang mati, aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidaklah pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kehidupan pun lenyap.20
(III, 38)
28. Disarankan oleh Para Bijaksana

Para bhikkhu, tiga hal ini disarankan oleh para bijaksana, disarankan oleh orang-orang yang agung. Apakah yang tiga itu?

Perbuatan memberi disarankan, meninggalkan keduniawian disarankan, dan melayani orang tua sendiri disarankan. Inilah tiga hal yang disarankan oleh para bijaksana, disarankan oleh orang-orang yang agung.

Para bijaksana menyarankan perbuatan memberi,
Perbuatan tak merugikan, pengendalian diri dan penjinakan.
Memberikan pelayanan pada orang tua terkasih sendiri
Dan pada mereka yang menjalankan kehidupan suci.
Inilah jenis-jenis perbuatan
Yang dilakukan oleh para bijaksana.
Manusia agung, yang memiliki visi,
Akan menuju alam yang menjanjikan keberuntungan.21
(III, 45)
29. Yang Terkondisi dan yang Tidak Terkondisi

Para bhikkhu, ada tiga tanda kondisi dari yang terkondisi. Apakah yang tiga itu? Asal mulanya dipahami, lenyapnya dipahami, perubahannya ketika masih berlangsung dipahami.22 Inilah tiga tanda kondisi dari yang terkondisi.

Para bhikkhu ada tiga tanda tak-terkondisi dari yang tak terkondisi. Apakah yang tiga itu? Tidak ada asal mula yang dipahami, tidak ada kelenyapan yang dipahami, tidak ada perubahan ketika masih berlangsung yang dipahami. Inilah tiga tanda tak-terkondisi dari yang tak terkondisi.23
(III, 47)
30. Pulau Perlindungan

Suatu ketika dua orang brahmana tua yang sudah rapuh, lanjut usia, uzur, di akhir kehidupan, berusia seratus dua puluh tahun, menghampiri Sang Buddha dan berkata kepada Beliau demikian:

“Kami adalah brahmana, Tuan Gotama, yang rapuh dan lanjut usia… berusia seratus dua puluh tahun. Tetapi kami belum melakukan apapun yang baik dan bermanfaat, kami belum membuat perlindungan bagi kami sendiri.24 Sudilah Tuan Gotama mengingatkan dan mendesak kami, sehingga hal itu dapat membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kami untuk masa yang lama!”

“Benar, brahmana, kalian rapuh dan lanjut usia… dan belum melakukan apapun yang baik dan bermanfaat, kalian belum membuat perlindungan bagi kalian sendiri. Memang, brahmana, dunia ini disapu oleh usia tua, penyakit, dan kematian. Walaupun dunia itu disapu oleh usia tua, penyakit, dan kematian, namun bagi orang yang meninggalkan dunia ini, pengendalian-diri – dalam tindakan, ucapan, dan pikiran – akan memberikan perlindungan dan keamanan, pulau bagi perlindungan dan pertolongan.”

Kehidupan tersapu berlalu, sungguh singkat rentang tahun-tahun kita
Tak ada perlindungan bagi orang telah mencapai usia tua.
Dengan memahami bahaya yang muncul dalam kematian,
Lakukanlah tindakan-tindakan baik yang menuju kebahagiaan.
Jika orang terkendali dalam tubuh,
Terkendali dalam ucapan dan pikiran,
Tindakan-tindakan berjasa yang dilakukannya selagi hidup
Membawa kebahagiaan ketika dia pergi.
(III, 51)
31. Ajaran yang Dapat Dilihat

Suatu ketika seorang brahmana menghampiri Sang Buddha… dan berkata kepada Beliau demikian:

“Telah dikatakan, Guru Gotama, ‘Dhamma dapat dilihat secara langsung.’25 Dengan cara apa, Guru Gotama, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana?”

“Brahmana; bila seseorang dipenuhi nafsu, dikuasai nafsu dan tergila-gila karena nafsu, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi orang lain, dan kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia juga berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia tidak memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, atau kebaikan bagi orang lain, atau kebaikan bagi keduanya.26 Tetapi bila nafsu telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia tidak akan berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia akan memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan bagi keduanya. Dengan cara ini, brahmana, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.

“Brahmana, bila seseorang berakhlak buruk karena kebencian, dikuasai kebencian dan tergila-gila karena kebencian… Bila seseorang bingung karena kebodohan batin, dikuasai kebodohan batin dan tergila-gila karena kebodohan batin, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi orang lain, dan kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia juga berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia tidak memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain, atau kebaikan bagi keduanya. Tetapi bila kebencian dan kebodohan batin telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia tidak akan berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia akan memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain dan kebaikan bagi keduanya. Dengan cara ini, brahmana, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.”
(III, 53-54)
32. Nibbana yang Dapat Dilihat

Suatu ketika brahmana Janussoni menghampiri Sang Buddha … dan berkata kepada Beliau demikian:27

“Telah dikatakan, Guru Gotama, ‘Nibbana dapat dilihat secara langsung.’ Guru Gotama, dengan cara apakah Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana?”

“Brahmana, bila seseorang dipenuhi nafsu… buruk akhlaknya karena kebencian… bingung karena kebodohan batin, dikuasai dan tergila-gila karena kebodohan batin, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi yang lain, kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Tetapi bila nafsu, kebencian dan kebodohan batin telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dengan cara inilah, brahmana, Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.

“Karena dia mengalami hancur totalnya nafsu, kebencian dan kebodohan batin, dengan cara ini, brahmana, Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.”28
(III, 55)
33. Kepada Siapa Pemberian Harus Diberikan?

Suatu ketika Vacchagotta si kelana menghampiri Sang Buddha dan berkata demikian: 29

“Telah saya dengar, Guru Gotama, bahwa Petapa Gotama berkata: ‘Hadiah harus diberikan hanya kepadaku dan bukan kepada yang lain; hadiah harus diberikan hanya kepada siswa-siswaku dan bukan kepada siswa-siswa yang lain. Hanya apa yang diberikan kepadaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada yang lain; hanya apa yang diberikan kepada siswa-siswaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada siswa-siswa yang lain.’ Guru Gotama, apakah mereka yang mengatakan demikian itu benar-benar menyampaikan kata-kata Guru Gotama dan tidak salah mewakili Beliau? Apakah mereka menyatakan hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran Guru? Apakah pernyataan mereka itu tidak menimbulkan alasan untuk dicela? Kami tentu saja tidak ingin salah mewakili Guru Gotama.”

“Mereka yang mengatakan demikian, Vacca, tidak melaporkan kata-kataku dengan benar, melainkan salah mewakiliku. Pernyataan mereka tidak sesuai dengan ajaran-ajaranku dan pernyataan mereka yang salah tentu saja akan menimbulkan penyebab celaan.

“Vacca, siapapun yang mencegah orang lain agar tidak memberikan dana berarti menyebabkan penghalang dan kesukaran bagi tiga orang: dia menghalangi si pemberi untuk melakukan suatu tindakan yang berjasa, dia menghalangi si penerima untuk menerima pemberian itu, dan sebelum itu, dia merendahkan dan merugikan wataknya sendiri. Inilah, Vacca, apa yang sesungguhnya kuajarkan: bahkan seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu – bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia.

“Tetapi aku memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan kepada mereka yang luhur akan memberikan buah yang kaya, dan buah persembahan tidak akan sebanyak itu bila diberikan kepada mereka yang tidak luhur.30 Orang yang luhur telah meninggalkan lima sifat dan memiliki lima sifat lain. Apakah lima sifat yang telah dia tinggalkan itu? Nafsu indera, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kecemasan, dan keraguan: inilah lima sifat yang telah dia tinggalkan. Dan apakah lima sifat yang dia miliki? Dia memiliki keluhuran, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan serta visi pembebasan dari orang yang telah sempurna latihannya. Inilah lima sifat yang dimilikinya.

“Memberi kepada orang yang telah meninggalkan lima sifat itu dan yang memiliki lima sifat ini – inilah yang kunyatakan akan memberikan buah yang kaya.”
(III, 57)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar