Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Anguttara Nikaya; 3. Tika (Tiga pelanggaran – jasmani, ucapan dan pikiran) - 2

34. Apakah Bhikkhu Bermanfaat bagi yang Lain?

Suatu ketika Sangarava si brahmana menghampiri Sang Buddha dan berbicara kepada Beliau demikian: 31

“Kami adalah kaum brahmana, Guru Gotama: kami mempersembahkan kurban dan mengajak yang lain untuk mempersembahkan kurban. Orang yang mempersembahkan kurban sendiri dan orang yang mengajak orang lain untuk melakukannya sama-sama terlibat dalam praktek yang berjasa, yaitu persembahan kurban yang dapat menyebar pada banyak orang. Namun anggota keluarga ini atau itu yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia menjinakkan dirinya sendiri saja, menenangkan dirinya sendiri saja, mencapai Nibbana bagi dirinya sendiri saja. Jika memang demikian halnya, maka dia melakukan praktek berjasa, yaitu tindakan meninggalkan kehidupan rumah tangga, yang melibatkan hanya satu orang saja.”

“Brahmana, aku akan bertanya kepadamu dan engkau boleh menjawabnya menurut pendapatmu. Brahmana, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini: Sang Tathagata muncul di dunia, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang trampil di dalam perilaku dan pengetahuan sejati, yang maha tinggi, pengenal dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru bagi para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau berkata demikian: ‘Datanglah! Inilah jalannya. Inilah jalan yang telah kutempuh, yang melaluinya aku telah secara langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci yang sekarang ini kunyatakan. Datanglah! engkau juga harus berlatih demikian, sehingga engkau juga, dengan usahamu sendiri, akan langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci ini dan berdiam di dalam pencapaian itu!’

“Maka guru ini menunjukkan Dhamma, dan yang lain pun berlatih dengan cara itu. Dan dari antara mereka yang melakukannya, ada ratusan, ribuan, ratusan ribu. Bagaimana pendapatmu, brahmana: karena memang demikian halnya, apakah tindakan meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek berjasa yang melibatkan hanya satu orang atau banyak orang?”

“Kalau demikian halnya, Guru Gotama, meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek yang berjasa yang menyebar pada banyak orang.”

Ketika hal itu telah dikatakan, YM Ananda berbicara kepada brahmana Sangarava demikian:32 “Dari kedua praktek ini, wahai brahmana, bagimu mana yang lebih menarik karena lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan karena memberikan buah yang lebih kaya serta manfaat yang lebih besar?”

Maka brahmana Sangavara berkata kepada YM Ananda: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Untuk kedua dan ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, saya tidak bertanya siapa yang engkau hormati dan puji, tetapi bagimu mana dari kedua praktek itu yang tampak lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan yang memberikan buah yang lebih kaya serta bermanfaat lebih besar?”

Tetapi juga untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya brahmana Sangarava menjawab: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Kemudian Sang Buddha berpikir: “Bahkan untuk ketiga kalinya, ketika Ananda memberikan pertanyaan yang sama, brahmana Sangarava ini tetap menghindar dan tidak menjawab. Apakah tidak seharusnya kubebaskan dia dari situasi itu?” Maka Beliau berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, apakah yang mungkin menjadi topik pembicaraan di antara anggota istana, seandainya saja mereka duduk bersama hari ini di istana kerajaan?”

“Beginilah topik pembicaraannya, Guru Gotama: ‘Dahulu ada lebih sedikit bhikkhu, tetapi lebih banyak yang mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dari kekuatan supranormal yang melebihi manusia. Sebaliknya sekarang ada lebih banyak bhikkhu, tetapi lebih sedikit yang menunjukkan mukjizat kekuatan supranormal yang melebihi manusia itu.’ Itulah yang menjadi topik pembicaraan.”

“Ada tiga macam mukjizat, brahmana. Apakah yang tiga itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran.

“Apakah yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu, dia berubah menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah melewati ruang; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila dia pergi melalui udara bagaikan seekor burung; dengan tangannya dia menyentuh dan membelai matahari dan rembulan, begitu kuat dan berkuasa; dia menggunakan penguasaan atas tubuhnya bahkan sejauh alam-Brahma. Inilah, brahmana, yang disebut mukjizat kekuatan supranormal.

“Apakah yang merupakan mukjizat membaca pikiran? Ada orang yang, dengan sarana tanda,33 menyatakan: ‘Demikianlah pikiranmu, seperti inilah pikiranmu, demikianlah buah-pikirmu.’ Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah.

“Orang lain tidak membuat pernyataannya lewat sarana tanda, melainkan setelah mendengar suara manusia, suara makhluk halus atau dewa… atau dengan mendengarkan suara getaran-buah-pikir seseorang… atau secara mental menembus arah kecenderungan mentalnya ketika dia berada di dalam keadaan meditasi yang bebas dari buah-pikir.34 Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah. Inilah yang disebut mukjizat membaca pikiran.

“Dan brahmana, apakah mukjizat pengajaran? Ada orang yang mengajarkan demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan berpikir dengan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ Inilah yang disebut mukjizat pengajaran.35

“Inilah, O brahmana, tiga jenis mukjizat. Dari tiga jenis mukjizat ini, yang manakah yang tampak bagimu sebagai yang paling bagus dan paling tinggi?”

“Mengenai mukjizat kekuatan supranormal dan pembacaan pikiran, Guru Gotama, hanya pelakunya saja yang akan mengalami hasilnya; hasilnya hanya dimiliki oleh orang yang melakukannya. Kedua mukjizat ini, Guru Gotama, bagi saya tampak memiliki sifat tipuan tukang sulap. Tetapi mengenai mukjizat pengajaran – inilah, Guru Gotama, yang bagi saya tampak sebagai yang paling bagus dan paling tinggi di antara ketiganya.

“Betapa luar biasa dan menakjubkannya hal ini telah disampaikan oleh Guru Gotama. Kami akan mengingat Guru Gotama sebagai orang yang memiliki tiga mukjizat ini. Guru Gotama menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal. Beliau secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain. Dan Guru Gotama mengajar orang lain demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ ”

“Brahmana, sungguh-sungguh engkau telah menyampaikan kata-kata yang sangat sesuai. Maka juga akan kunyatakan bahwa aku menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal… bahwa aku secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain… dan bahwa aku mengajar orang lain bagaimana caranya mengarahkan pikiran.”

“Tetapi apakah ada bhikkhu lain, selain Guru Gotama, yang memiliki tiga mukjizat ini?”

“Ya, brahmana. Para bhikkhu yang memiliki ketiga mukjizat ini tidak hanya berjumlah seratus, atau dua ratus, tiga ratus, empat ratus, atau lima ratus, tetapi bahkan lebih banyak bhikkhu yang telah memilikinya.”

“Dan di manakah berdiamnya bhikkhu-bhikkhu ini, Guru Gotama?”"Di dalam Sangha para bhikkhu ini juga, brahmana.”

“Luar biasa, Guru Gotama! Luar biasa, Guru Gotama! Sama seperti orang menegakkan apa yang terjungkir balik atau menguak apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat, atau memegang lampu di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata bisa melihat bentuk. Demikian pula Dhamma telah dibabarkan dengan berbagai cara oleh Guru Gotama. Saya sekarang pergi untuk berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sangha para bhikkhu. Biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak saat ini sampai akhir hayat.”
(III, 60)
35. Tiga Pendapat Sektarian

Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.39 Dan apakah Dhamma itu?

“Inilah enam elemen” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, yang… oleh petapa dan brahmana yang pandai.

“Inilah enam landasan kontak”… “Inilah delapan belas pemeriksaan mental”… “Inilah Empat Kebenaran Mulia” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.Nah, karena apakah dikatakan bahwa enam elemen merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam elemen itu: elemen tanah, air, panas, udara, ruang dan kesadaran.40

Karena apakah dikatakan bahwa enam landasan kontak merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam landasan kontak itu: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran sebagai landasan kontak.

Karena apakah dikatakan bahwa delapan belas pemeriksaan mental merupakan Dhamma yang diajarkan olehku?41 Inilah delapan belas pemeriksaan mental itu: Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, orang memeriksa suatu bentuk yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Ketika mendengarkan suatu suara dengan telinga… Ketika mencium suatu bau dengan hidung… Ketika mecicipi suatu citarasa dengan lidah… Ketika merasakan suatu objek dengan sentuhan pada tubuh… Ketika memahami suatu objek mental dengan pikiran, orang memeriksa suatu objek yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Inilah delapan belas pemeriksaan mental.

Karena apakah dikatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia itu merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Berdasarkan pada enam elemen ada yang turun ke dalam kandungan.42 Ketika hal itu terjadi, ada materi dan batin (nama-dan-rupa).43 Dengan materi dan batin sebagai kondisi, ada enam landasan indera; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, ada kontak; dengan kontak sebagai kondisi, ada perasaan. Kepada orang yang merasakan inilah kuperkenalkan, “Inilah penderitaan”, “Inilah asal mula penderitaan”, “Inilah berhentinya penderitaan”, “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan”.44

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok khanda yang terkena kemelekatan adalah penderitaan.45

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan? Dengan kebodohan sebagai kondisi, muncullah bentukan-bentukan yang diniati.46 Dengan bentukan-bentukan yang diniati sebagai kondisi, kesadaran terjadi; dengan kesadaran sebagai kondisi, materi dan batin terjadi; dengan materi dan batin sebagai kondisi, enam landasan indera terjadi; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak terjadi; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan terjadi; dengan perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan terjadi; dengan nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan terjadi; dengan kemelekatan sebagai kondisi, proses dumadi terjadi; dengan proses dumadi sebagai kondisi, kelahiran terjadi; dengan kelahiran sebagai kondisi, menjadi tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan terjadi. Demikianlah asal mula seluruh massa penderitaan hidup ini. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan? Dengan pudar dan berhentinya kebodohan ini secara total, bentukan-bentukan yang diniati berhenti. Dengan berhentinya bentukan-bentukan yang diniati; kesadaran berhenti. Dengan berhentinya kesadaran, materi dan batin berhenti. Dengan berhentinya materi dan batin, enam landasan indera berhenti. Dengan berhentinya enam landasan indera, kontak berhenti. Dengan berhentinya kontak, perasaan berhenti. Dengan berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti. Dengan berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti. Dengan berhentinya kemelekatan, proses dumadi berhenti. Dengan berhentinya proses dumadi, kelahiran berhenti. Dengan berhentinya kelahiran, menjadi tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti. Demikianlah berhentinya seluruh massa penderitaan. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju berhentinya penderitaan? Inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, cara hidup benar, usaha benar, kewaspadaan benar dan konsentrasi benar. Para bhikkhu, inilah yang disebut Kebenaran Mulia tentang jalan yang menuju berhentinya penderitaan.

Empat Kebenaran Mulia inilah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.
(III, 61)
 
36. Kepada Suku Kalama

Demikian yang telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berkelana dengan diiringi Sangha para bhikkhu yang besar jumlahnya, ketika Beliau tiba di kota suku Kalama yang bernama Kesaputta.47 Suku Kalama dari Kesaputta mendengar: “Dikabarkan bahwa petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keluarga Sakya, telah tiba di Kota Kesaputta. Ada laporan yang baik tentang Guru Gotama yang beredar demikian: ‘Yang Terberkati itu adalah Sang Arahat, yang telah sepenuhnya tercerahkan, yang terampil dalam pengetahuan benar dan perilaku benar, yang maha tinggi, yang tahu tentang dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, Yang Telah Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau memperkenalkan pada dunia dengan para dewanya, dengan Mara, dengan Brahma, pada generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya, setelah merealisasikan dengan pengetahuan langsungNya. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir, dengan arti yang benar dan ungkapan yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni.’ Adalah baik bila kita menemui arahat seperti itu.”

Kemudian suku Kalama dari Kesaputta menemui Sang Buddha. Beberapa memberi hormat pada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, duduk di satu sisi; beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi. Kemudian suku Kalama itu berkata kepada Sang Buddha:

“Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kami, Tuan, merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah yang berbicara salah?”

“Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ 48 Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya.

“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, bencian dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?”49 – “Kerugiannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang serakah, membenci dan bodoh batinnya, yang dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya dikendalikan oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan penderitaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”

:”Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Tidak bermanfaat, Tuan” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dikecam, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”

“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti tradisi lisan… ”

“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan’, maka kalian harus menjalankannya.

“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang, apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?” – “Kesejahteraannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”

“Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Tuan.” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tidak tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dipuji, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”

“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan…

“Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat.50 Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.”

“Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi kasih sayang… dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri sendiri… dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.

“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.

“Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, di suatu alam surgawi.’

“Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.’

“Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?’

“Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal.’ 51

“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.”

“Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.

“Luar biasa, Tuan! … (seperti di Teks 34) … Biarlah Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat.”
(III, 65)
37. Nafsu, Kebencian dan Kebodohan Batin

“Para bhikkhu, petapa kelana dari kelompok lain mungkin bertanya kepada kalian demikian: ‘Sahabat, ada tiga sifat ini: nafsu,52 kebencian dan kebodohan batin. Sahabat, apakah perbedaan di antara tiga sifat ini, apakah ketidaksamaan dan kelainannya?’ Jika ditanya demikian, para bhikkhu, bagaimanakah kalian akan menjawab petapa-petapa kelana dari sekte lain itu?”

“Bagi kami, Bhante, akar ajaran ada pada Yang Terberkati, dan Bhantelah pembimbing serta sumbernya. Adalah baik jika Bhante sendiri mau menjelaskan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan Bhante, para bhikkhu akan menyimpannya di pikiran.”

“Kalau demikian, para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” jawab para bhikkhu. Sang Buddha mengatakan demikian:

“Jika para petapa kelana dari sekte lain menanyakan tentang perbedaan, ketidaksamaan, dan kelainan di antara tiga sifat ini, demikian ini kalian harus menjawab: ‘Nafsu tidak amat tercela tetapi sulit dihilangkan. Kebencian lebih tercela tetapi lebih mudah dihilangkan. Kebodohan batin sangat tercela dan sulit dihilangkan.’53

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya nafsu yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang indah: bagi orang yang memperhatikan objek yang indah secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’54

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebencian yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara tidak benar, maka kebencian yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebodohan batin yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang tidak benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara tidak benar, maka kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya nafsu yang belum muncul, dan bagi lenyapnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara benar, maka nafsu yang belum muncul tidak akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan ditinggalkan.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebencian yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Pembebasan pikiran oleh cinta kasih: bagi orang yang memperhatikan secara benar kebebasan pikiran oleh cinta kasih, maka kebencian yang belum muncul tidak akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan ditinggalkan.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebodohan batin yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara benar, maka kebodohan batin yang belum muncul tidak akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan lenyap.”‘
(III, 68)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar