Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Anguttara Nikaya; 3. Tika (Tiga pelanggaran – jasmani, ucapan dan pikiran) - 3

38. Dumadi (Menjadi)

Suatu ketika YM Ananda datang menemui Sang Buddha dan berkata kepada Beliau demikian: “Bhante, orang berbicara tentang ‘dumadi, dumadi.’ Bagaimanakah dumadi ini terjadi?”55

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam lingkup-indera, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam lingkup-indera?”56

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam yang rendah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.57

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam alam bentuk?” 58

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam menengah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam tanpa bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di alam tanpa-bentuk?”59

“Tentu saja tidak, Bhante.”"Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan sehingga mereka menjadi terbentuk di alam yang tinggi. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.

“Demikianlah, Ananda, cara dumadi terjadi.”
(III, 76)
39. Latihan Berunsur Tiga

Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vesali di Hutan Besar di Balai dengan Atap Meruncing. Saat itu seorang bhikkhu dari suku Vajjian menghampiri Beliau… dan berkata kepada Beliau demikian:

“Bhante, saya tidak dapat menghafal lebih dari seratus lima puluh peraturan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu.”60

“Kalau demikian, bhikkhu, ada tiga jenis latihan ini: latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi.61

“Dan apakah latihan dalam moralitas yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memiliki keluhuran, terkendali oleh pengendalian Patimokkha, sempurna di dalam perilaku dan usaha, melihat bahaya di dalam kesalahan yang terkecil sekalipun. Setelah menjalankan peraturan-peraturan latihan, dia berlatih di dalamnya. Inilah yang disebut latihan dalam moralitas yang lebih tinggi.

“Dan apakah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu? Di sini, terpisah dari kesenangan-kesenangan indera, terpisah dari keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam di jhana pertama, yang dibarengi oleh buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari kesendirian. Dengan meredanya buah-pikir dan pemeriksaan, dia masuk dan berdiam di jhana kedua, yang memiliki keyakinan internal dan kemanunggalan pikiran, tanpa buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari konsentrasi. Dengan memudarnya kegembiraan, dia berdiam dengan tenang-seimbang. Dengan kewaspadaan dan pemahaman yang jernih, dia mengalami kebahagiaan dengan tubuh. Dia berdiam di jhana ketiga, yang dinyatakan demikian oleh mereka yang agung: ‘Dia tenang seimbang, waspada, orang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan lenyapnya rasa senang dan rasa sakit, dan dengan lenyapnya suka cita dan kesedihan sebelumnya, dia masuk dan berdiam di jhana keempat, yang tidak menyakitkan namun juga tidak menyenangkan, dan mencakup kemurnian kewaspadaan lewat ketenang-seimbangan. Inilah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu.

“Dan apakah latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memahami segala sesuatu sebagaimana adanya: Ini adalah penderitaan. Ini adalah asal mula penderitaan. Ini adalah berhentinya penderitaan. Ini adalah jalan menuju berhentinya penderitaan.’ Inilah kebijaksanaan yang lebih tinggi itu.62“Bhikkhu, apakah engkau mampu berlatih dalam tiga latihan ini?”

“Ya, Bhante.”

“Kalau demikian, bhikkhu, berlatihlah dalam tiga latihan ini: moralitas yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Jika engkau berlatih demikian, engkau akan meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, engkau tidak akan melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.”

Sesudah itu bhikkhu tersebut mempraktekkan latihan dalam moralitas yang tebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Karena dia berlatih demikian, dia pun meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, dia tidak lagi melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.
(III, 83 dan 88; digabungkan)
40. Tiga Latihan dan Empat Tahap

Para bhikkhu, lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu, yang dilatih oleh para pria muda yang menginginkan tujuan. Semua peraturan itu tercakup di dalam tiga latihan ini. Apakah yang tiga itu? Latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Inilah tiga latihan yang merangkum lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan itu.

Di sini, O para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah orang yang sepenuhnya terampil di dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil di dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting, dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa begitu? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya.63 Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah dia ambil.64 Dengan hancur leburnya tiga belenggu itu seluruhnya, dia menjadi Pemasuk-Arus, orang yang tidak lagi terkena kelahiran kembali di alam yang rendah, yang mantap keberuntungannya, dengan pencerahan sebagai tujuannya.65

Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang kurang penting dan kemudian memperbaiki diri… dengan hancur leburnya tiga belenggu ini seluruhnya dan dengan melemahnya keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, dia menjadi Yang-Kembali-Sekali-Lagi, yang kembali ke dunia ini hanya satu kali lagi dan kemudian mengakhiri penderitaan.

Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas dan konsentrasi, tetapi hanya agak terampil dalam kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri… Dengan hancur leburnya lima belenggu yang lebih rendah, dia menjadi orang yang akan terlahir lagi secara spontan (di alam surgawi) dan di sana mencapai Nibbana akhir, tanpa pernah kembali dari alam itu.66

Kemudian, para bhikkhu seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan pelatihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa demikian? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya. Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah diambilnya. Dengan hancur leburnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga dia masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tak ternoda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena telah mewujudkannya untuk dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung.67

Kemudian, O para bhikkhu, orang yang terampil sebagian mencapai sukses sebagian, orang yang terampil sepenuhnya rnencapai sukses sepenuhnya. Tetapi kunyatakan, peraturan-peraturan latihan ini tidaklah tanpa buah.
(III, 85)
41. Pemurnian Pikiran – I

Para bhikkhu, ada kotoran kasar di dalam emas, seperti misalnya tanah, pasir dan kerikil. Si pandai emas atau pembantunya pertama-tama akan menuangkan emas itu ke dalam palung dan mencuci, membilas dan membersihkannya dengan seksama. Setelah itu, masih tersisa sejumlah kotoran di dalam emas itu, seperti misalnya kerikil halus dan pasir kasar. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mencuci, membilas dan membersihkannya lagi. Setelah ini, masih ada kotoran halus di dalam emas itu, seperti misalnya pasir halus dan debu hitam. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mengulang pencucian, dan setelah itu barulah hanya debu emas yang tertinggal.

Sekarang dia menuangkan emas itu ke dalam panci untuk melelehkan dan memisahkan debu emas itu. Tetapi dia belum mengeluarkannya dari wadah, karena kotorannya belum sepenuhnya hilang68 dan emas itu belum benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar; emas itu masih rapuh dan belum dapat dicetak dengan mudah. Tetapi saatnya akan tiba ketika si pandai emas atau pembantunya sekali lagi melelehkannya secara tuntas, sehingga seluruh kotoran pun hilang. Sekarang emas itu benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar, dan dapat dengan mudah dibentuk. Apapun perhiasan yang ingin dibuat oleh pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.

Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang menekuni pelatihan dalam pikiran yang lebih tinggi: di dalam dirinya ada kekotoran yang kasar, yaitu perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Perilaku semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran tingkat menengah yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir indera, buah-buah pikir tentang niat jahat dan kekerasan.69 Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran halus yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir tentang sanak saudaranya, negara asalnya; dan reputasinya. Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada buah-buah pikir tentang keadaan-keadaan mental yang lebih tinggi, yang dialaminya di dalam meditasi.70 Konsentrasi itu belum damai dan tinggi; konsentrasi itu belum mencapai ketenangan yang penuh, belum juga mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini harus dipertahankan dengan cara menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.

Tetapi akan tiba saatnya ketika pikirannya menjadi mantap ke dalam, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi. Konsentrasi ini kemudian tenang dan halus; konsentrasi ini telah mencapai ketenangan penuh dan mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini tidak dipertahankan dengan menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.

Kemudian, menuju keadaan mental apapun yang dapat direalisasikan lewat pengetahuan langsung, dia mengarahkan pikirannya ke sana, dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.71

Jika dia inginkan: “Semoga aku memiliki berbagai macam kekuatan spiritual: sesudah menjadi satu, semoga aku menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, semoga aku menjadi satu; semoga aku muncul dan lenyap; pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah olah melewati ruang; menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; berjalan diatas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila pergi melalui udara bagaikan seekor burung; menyentuh dan membelai rembulan dan matahari dengan tanganku, begitu kuat dan berkuasa; menggunakan penguasaan atas tubuhku bahkan sejauh alam Brahma” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan: “Dengan elemen telinga dewa, yang termurnikan dan melebihi manusia, semoga aku mendengar dua jenis bunyi, yang agung dan yang bersifat manusia, yang jauh dan yang dekat” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan: “Semoga aku memahami pikiran makhluk lain, manusia lain, sesudah menyelimuti mereka dengan pikiranku. Semoga aku memahami pikiran yang dikuasai nafsu sebagai pikiran yang dikuasai nafsu; pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu; pikiran dengan kebencian sebagai pikiran dengan kebencian; pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian; pikiran dengan kebodohan batin sebagai pikiran dengan kebodohan batin; pikiran tanpa kebodohan batin sebagai pikiran tanpa kebodohan batin; pikiran yang mengkerut sebagai pikiran yang mengkerut dan pikiran yang terganggu sebagai yang terganggu; pikiran yang tinggi sebagai yang tinggi dan pikiran yang tidak tinggi sebagai yang tidak tinggi; pikiran yang dapat dilampaui sebagai yang dapat dilampaui dan pikiran yang tidak terlampaui sebagai yang tidak terlampaui; pikiran yang terkonsentrasi sebagai yang terkonsentrasi dan pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai yang tidak terkonsentrasi; pikiran yang terbebas sebagai yang terbebas dan pikiran yang tidak terbebas sebagai pikiran yang tidak terbebas” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Semoga aku dapat mengingat tempat kediaman masa laluku yang berunsur banyak, yaitu satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan-dunia, berkalpa-kalpa pengembangan-dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia demikian: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan seperti ini, seperti itu makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itulah masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di tempat lain, dan di sana aku bernama demikian, dari suku demikian, dengan penampilan demikian, demikian makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itu masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di sini.’ Semoga demikian aku mengingat kembali tempat kediaman masa laluku dengan ciri dan detilnya” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka, demikian: ‘Makhluk-makhluk yang terlibat perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang menghina orang-orang suci, yang memiliki pandangan salah, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan salah, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam penderitaan, di alam yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Akan tetapi makhluk-makhluk yang terlibat perilaku yang baik lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang tidak menghina para suci, yang memiliki pandangan benar, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan benar, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam yang baik, di alam surgawi.’ Demikian dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para makhluk lenyap dan terlahir kembali, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka” dan mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Lewat hancurnya noda-noda, semoga aku di dalam kehidupan ini juga masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
(III, 100; §1-10)
42. Pemurnian Pikiran – II

Seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan dalam pikiran yang lebih tingggi dari waktu ke waktu harus memperhatikan tiga hal ini.72 Dari waktu ke waktu dia harus memperhatikan hal konsentrasi, dari waktu ke waktu memperhatikan usaha yang bersemangat, dari waktu ke waktu memperhatikan ketenang seimbangan.73

Jika seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan yang lebih tinggi memberikan perhatian pada konsentrasi saja, ada kemungkinan pikirannya jatuh ke dalam kelambanan. Jika dia memberikan perhatian pada usaha yang bersemangat saja, ada kemungkinan pikirannya akan jatuh ke dalam kegelisahan. Jika dia memberikan perhatian pada ketenang-seimbangan saja, ada kemungkinan pikirannya tidak akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Tetapi, jika dari waktu ke waktu dia memperhatikan masing-masing dari tiga hal ini, maka pikirannya akan lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Misalnya seorang pandai emas atau pembantunya membuat tungku, menyalakan api di lubangnya, mengambil emas dengan menggunakan tang dan menaruhnya ke tungku. Dari waktu ke waktu dia meniupnya, secara berkala dia memercikkan air, dari waktu ke waktu dia hanya memandangi saja.74 Seandainya pandai emas itu terus menerus meniup emas itu, emas itu akan menjadi terlalu panas. Seandainya dia terus menerus memercikkan air, emas itu akan menjadi terlalu dingin. Seandainya dia hanya memandangi saja, emas itu tidak akan menjadi murni sempurna. Tetapi, jika dari waktu ke waktu si pandai emas memperhatikan masing-masing dari tiga fungsi ini, emas itu akan menjadi lentur, dapat diolah dan bersinar, dan emas itu dapat dengan mudah dicetak. Perhiasan apapun yang ingin dibuat oleh si pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, sekarang emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.

Demikian pula ada tiga hal yang harus diperhatikan secara berkala oleh seorang bhikkhu yang berlatih dalam pikiran yang lebih tinggi, yaitu hal konsentrasi, usaha yang bersemangat, dan ketenang-seimbangan. Jika dia memberikan perhatian yang teratur ke setiap hal itu, maka pikirannya akan menjadi lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Dia mengarahkan pikirannya pada keadaan mental apapun yang dapat direalisasikannya lewat pengetahuan langsung, dan dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
(III, 100; §11-15)
43. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – I

O para bhikkhu, sebelum pencerahanku, ketika masih sebagai bodhisatta, buah-pikir ini muncul di dalam pikiranku: “Apakah kepuasan di dunia ini, apakah bahaya di dunia ini, dan apakah jalan keluar dari dunia ini?”75 Kemudian aku berpikir: “Apapun suka cita dan kebahagiaan yang ada di dunia, itulah pemuasan di dunia; bahwa dunia ini tidak kekal, dipenuhi oleh penderitaan dan terkena perubahan, itulah bahaya di dunia ini; hilangnya dan ditinggalkannya nafsu keinginan untuk dunia ini, itulah jalan keluar dari dunia ini:”

Para bhikkhu, selama aku belum sepenuhnya memahami, sebagaimana adanya, pemuasan dunia sebagai pemuasan, bahaya dunia sebagai bahaya, dan jalan keluar dari dunia ini sebagai jalan keluar, selama itu pula tidak kunyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia dengan para dewa, Mara dan Brahmanya, di dalam generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya.

Tetapi setelah aku sepenuhnya memahami semua ini, kemudian aku nyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia ini dengan… para dewa dan manusianya. Pengetahuan dan visi muncul di dalam diriku: “Tak tergoyahkan pembebasan pikiranku; ini adalah kelahiranku yang terakhir; sekarang tidak ada dumadi lagi.”
(III, 101; §1-2)
44. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – II

Aku telah pergi berkelana mencari pemuasan di dunia ini, O para bhikkhu. Pemuasan apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada pemuasan di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.

Aku telah pergi berkelana mencari bahaya di dunia ini. Bahaya apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada bahaya di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.

Aku telah pergi berkelana mencari jalan keluar dari dunia ini. Jalan keluar dari dunia ini telah kutemukan; dan sejauh mana ada jalan keluar dari dunia ini, itupun telah kulihat lewat kebijaksanaan.
(III, 101, §3)
45. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – III

Seandainya saja, O para bhikkhu, tidak ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk tidak akan menjadi melekat pada dunia.

Tetapi karena ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk menjadi melekat padanya.

Seandainya saja tidak ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk tidak akan kecewa dengan dunia ini. Tetapi karena ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk menjadi kecewa dengannya.

Seandainya saja tidak ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk tidak akan dapat keluar dari dunia ini, tetapi karena ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk dapat keluar darinya.
(III, 102)
46. Di Kuil Gotamaka

Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam diri di Kuil Gotamaka, dekat Vesali. Di sana Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:

“Berdasarkan pengetahuan langsunglah aku mengajarkan Dhamma, O para bhikkhu, bukan tanpa pengetahuan langsung. Dengan dasar yang baik aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa dasar yang baik. Dengan keyakinan aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa keyakinan. Karena itu, para bhikkhu, nasihatku seharusnya diikuti dan petunjukku diterima. Hal ini, para bhikkhu, sudah cukup untuk kepuasan kalian, cukup untuk kegembiraan kalian, cukup untuk suka cita kalian: Sang Bhagava telah sepenuhnya tercerahkan; Dhamma Sang Bhagava telah dibabarkan dengan baik; Sangha telah berperilaku dengan baik.”

Demikianlah kata Sang Buddha. Dengan gembira para bhikkhu itu menyetujui kata-kata Sang Buddha. Ketika khotbah ini disampaikan, beribu-ribu sistem dunia bergetar.76
(III, 123)
47. Bukan Doktrin Rahasia

Tiga hal ini, O para bhikkhu, dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu? Bercinta dengan wanita, hymne para brahmana dan pandangan salah.

Sebaliknya, tiga hal ini, O para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia. Apakah yang tiga itu? Lingkaran rembulan, lingkaran matahari, dan Dhamma serta Vinaya yang disampaikan oleh Tathagata.
(III, 129)
48. Tiga Ciri Kehidupan

Apakah para Tathagata muncul di dunia ini atau tidak, masih tetap merupakan suatu kenyataan, suatu kondisi kehidupan yang kokoh dan perlu, bahwa semua bentukan adalah tidak kekal… bahwa semua bentukan terkena penderitaan… bahwa semua hal adalah tanpa diri.77

Satu Tathagata sepenuhnya menyadari kenyataan ini dan menembusnya. Setelah sepenuhnya sadar mengenai hal itu dan menembusnya, Beliau mengumumkannya, mengajarkannya, membuatnya diketahui, menyampaikannya, mengungkapkannya, menganalisisnya dan menjelaskannya: bahwa semua bentukan adalah tidak kekal, bahwa semua bentukan terkena penderitaan, bahwa semua hal adalah tanpa diri.
(III, 134)
49. Hari-hari Yang Bahagia

Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Sungguh saat yang membawa berkah dan patut dirayakan,
Pagi yang bahagia dan kebangkitan yang penuh sukacita,
Momen-momen yang berharga dan menggembirakan
Akan datang kepada mereka yang memberikan dana
Kepada orang-orang yang menjalankan kehidupan suci.Pada hari seperti itu, tindakan benar lewat ucapan dan perbuatan,
Buah-pikir yang benar dan aspirasi yang luhur,
Memberikan hasil kepada mereka yang melatihnya;
Sungguh bahagia mereka yang memperoleh hasil seperti itu,
Karena mereka telah berkembang dalam Ajaran Sang Buddha.
Semoga engkau dan semua sanak saudaramu
Berbahagia dan menikmati kesehatan yang baik!
(III, 150)
Catatan

1 Raja cakkavatti adalah penguasa ideal di dalam legenda Buddhis. Dia menguasai dunia dengan Kebenaran (Dhamma), bukan dengan kekuatan. Dia membangun tahta dari keluhuran dan kesejahteraan universal. Julukan itu secara harafiah berarti “raja pemutar roda”, karena simbol kebesarannya sebagai raja universal adalah “permata roda” mistis (cakkaratana) yang menjadi terwujud di hadapannya melalui kekuatan keluhurannya sebagai bukti untuk haknya mengatur dunia. Untuk detilnya lihat khususnya DN 17 dan 26, dan MN 129.

2 Berkenaan dengan penguasa dunia, Dhamma tidak menunjuk Ajaran Sang Buddha (seperti di bagian berikut ini) melainkan hukum keadilan dan keluhuran moral yang diterapkan untuk mengatur suatu negara.

3 Dalam ikonografi India, roda (cakka) adalah simbol kekuasaan dalam lingkup urusan praktis dan spiritual. Penguasa dunia, seperti yang telah dijelaskan di atas, berkuasa di bawah standar “permata roda”, yang mewakili gelarnya untuk kekuasaan universal. Dhamma juga disimbolkan lewat sebuah roda, yang menurut kitab-kitab komentar mewakili realisasi kebenaran sempurna Sang Buddha dan gelarnya untuk melayani sebagai Guru Dunia. Lihat juga Bab X, nomor 13.

Mara adalah Penggoda atau Yang Jahat, yang digambarkan sebagai dewa jahat yang mencoba untuk mengalihkan para calon siswa dari jalan menuju pembebasan. Tidak seperti Setan, dia tidak berurusan secara khusus untuk membujuk orang melakukan tindakan-tindakan yang akan membawa mereka menuju neraka. Mara tetap merasa puas hati dengan menahan mereka tetap terperangkap di dalam jerat indera, sehingga mereka tidak dapat lolos dari kelahiran ulang. Brahma adalah Tuhan Sang Pencipta menurut sistem brahma kuno, yang muncul dalam Buddhisme sebagai gubernur sementara di sistem dunia, yang berkuasa dan berusia panjang, tetapi masih merupakan makhluk yang tidak kekal yang terperangkap dalam kebodohan batin dan terikat kepada roda dumadi (lihat Teks 190 §2).

4 AA: “Jenis pasien pertama, yang tidak dapat disembuhkan, tetap harus menerima perawatan karena dia bisa berpikir bahwa dengan perawatan yang cocok, dia masih bisa sembuh. Jika ia diabaikan, dia akan merasa jengkel dan menyimpan niat jahat, yang bisa membawa dia menuju kelahiran kembali yang tidak bahagia. Tetapi jika dia dirawat dengan baik, dia akan melihat bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan dan dimungkinkan telah dilakukan untuknya, dan dia akan menganggap penderitaannya itu sebagai akibat yang tidak dapat dihindari dari kammanya sendiri. Dia akan menjadi ramah terhadap mereka yang merawatnya dan karena buah-buah pikir ramah ini dia akan memiliki kelahiran kembali yang bahagia. Jenis kedua – orang yang pasti sembuh – dan orang yang hanya agak sakit juga harus dirawat, sehingga kesembuhan mereka bisa dipercepat.”

5 “Memasuki jalan keamanan” (okkamati niyamam), yaitu jaminan pembebasan akhir, dengan masuk ke jalan Pemasuk-Arus, atau salah satu dari tahap kesucian yang lebih tinggi.

6 Menurut AA, yang pertama dari tiga hal itu disebut padaparama, yaitu “orang yang paling-paling hanya bisa mencapai kata-kata (Ajaran itu) saja”; dia tidak akan mencapai tahap-tahap kesucian di dalam kehidupan sekarang ini. Yang kedua disebut ugghatitaññu, yaitu orang yang langsung menembus kebenaran ketika instruksi pendek diberikan. Jenis ketiga disebut vipacitaññu, yaitu orang yang akan menembus kebenaran setelah menerima instruksi yang mendetil dan berulang-ulang; kategori ini juga mencakup jenis yang disebut neyya, yang dapat menembus kebenaran setelah suatu periode latihan. Jenis-jenis ini dijelaskan di Pug 41. AA selanjutnya mengatakan bahwa instruksi yang diberikan kepada jenis pertama bisa membantunya di dalam kehidupan yang akan datang. Jika diberikan kepada jenis kedua, itu akan mempercepat kemajuannya menuju pencapaian akhir. Tetapi jenis ketiga jelas membutuhkan instruksi clan bimbingan yang berulang-ulang.

7 Orang dengan “pikiran seperti kilat” (vijjupamacitta) adalah orang yang sedang berlatih (sekha), orang yang telah menembus kebenaran Ajaran tetapi belum sepenuhnya merealisasikan kebenaran itu. Orang dengan “pikiran seperti berlian” (vajirupamacitta) adalah arahat, yang telah menghancurkan semua noda.

8 Sariputta adalah siswa utama Sang Buddha dan siswa yang paling menonjol dalam kebijaksanaan. Lihat Teks 178, di mana dia mengaumkan “raung singanya”.

9 AA menjelaskan “pembentukan-aku” (ahankara) sebagai pandangan yang salah, dan “pembentukan-milikku” (mamankara) sebagai nafsu keinginan; “kesombongan” (mana) mencakup semua khayalan bodoh yang didasarkan pada pengertian mengenai “aku” yang nyata. Istilah “tubuh sadar ini” (saviññanake kaye) terdiri dari tubuh sadar orang itu sendiri dan tubuh sadar orang lain. “Semua objek eksternal” (bahiddha sabbanimittesu): semua objek indera, manusia dan fenomena.

10 Sn 1106-7. Parayana, “Jalan Menuju Pantai Seberang”, merupakan bab terakhir dari Sn, yang mengandung 16 sub-bagian. Di dalam setiap sub-bagian itu terdapat seorang penanya brahmana yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam mengenai Buddha. “Pertanyaan-pertanyaan Udaya” adalah yang keempat belas (syair 1105-11). Kenyataan bahwa karya ini dikutip beberapa kali di dalam kitab-kitab Nikaya menunjukkan kekunoannya. Lihat juga Teks 59.

11 Empat baris pertama pada bait itu menyinggung empat dari lima rintangan: nafsu indera, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, dan kegelisahan serta kecemasan. Di baris kelima “kewaspadaan yang murni dan ketenangan” (upekkha-satisamsuddham) merupakan kiasan menuju jhana keempat (lihat formula standar untuk jhana, Teks 39 ). Menurut AA, “didahului oleh pikiran mengenai Dhamma (dhammatakka-purejavam) mengacu pada niat yang benar (samma-sankappa), faktor kedua dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terdiri dari buah-buah pikir yang bebas dari pikiran sensualitas, niat jahat dan kekerasan. “Hancurnya kebodohan batin” merupakan buah dari tingkat arahat, yang muncul ketika kebodohan batin telah dihancurkan oleh jalan menuju tingkat arahat.

12 Lobha, dosa, moha. Ketiganya ini biasa disebut “akar yang tidak baik” (akusala-mula). Istilah “keserakahan” mencakup semua tingkat ketertarikan, dari jejak kemelekatan yang paling kecil sampai bentuk keserakahan dan egoisme yang paling besar; “kebencian”, semua tingkat penolakan, dari sentuhan yang paling ringan dalam bentuk humor yang jelek sampai bentuk kemarahan dan dendam yang besar; “kegelapan batin” identik dengan “kebodohan batin” (avijja), tetapi penekanannya ada pada segi psikologis dan etis. Untuk penjelasan yang lebih lengkap, lihat Nyanaponika Thera (1978).

13 Sang Buddha di sini mengacu kepada pembagian berunsur tiga di dalam matangnya kamma. Suatu kamma dapat memberikan hasil di dalam kehidupan sekarang (ditthadhamma-vedaniya), atau di dalam kehidupan langsung berikutnya (upapajja-vedaniya), atau di dalam kehidupan-kehidupan selanjutnya yang manapun (apara-pariyaya-vedaniya). Lihat Vism. XIX, 14.

14 Aspek positif dari tiga akar yang baik adalah: tidak adanya nafsu (meninggalkan keduniawian, tidak melekat), cinta kasih, dan kebijaksanaan. Di sini, tindakan yang muncul dari tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin harus dipahami bukan sebagai tindakan bajik biasa melainkan sebagai “kamma yang bukannya gelap dan juga bukannya terang, dengan akibat yang bukan gelap dan juga bukan terang, dengan hasil yang bukan gelap dan bukan terang, yang membawa menuju hancurnya kamma” (Teks 90), yaitu, niat untuk mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tindakan-tindakan duniawi yang muncul dari tiga akar yang baik ini tidak dapat digambarkan sebagai “tidak lagi bisa muncul di masa depan”. Sebaliknya, tindakan-tindakan semacam itu, karena merupakan “kamma terang dengan hasil terang” (Teks 90), akan memberikan buah-buah yang menyenangkan dan menyebabkan kelahiran yang beruntung.

15 AA menjelaskan perumpamaan itu demikian: Benih-benih di sini mewakili kamma yang baik dan kamma yang tidak baik. Orang yang membakarnya dengan api mewakili meditator. Api itu mewakili pengetahuan tentang Jalan Mulia. Waktu ketika orang itu membakar benih-benih itu sama seperti waktu ketika meditator membakar kekotoran batin dengan pengetahuan tentang Sang Jalan. Waktu ketika benih itu telah dihancurkan sampai menjadi abu adalah waktu ketika penopang lima kandha terpotong akarnya (yaitu selama kehidupan arahat, ketika lima khanda tidak lagi ditopang oleh nafsu keinginan). Waktu ketika abu itu disebarkan oleh angin atau terbawa oleh arus dan tidak lagi dapat tumbuh adalah waktu ketika lima kandha itu berhenti sepenuhnya (dengan parinibbana arahat itu) dan tidak pernah lagi terwujud di dalam lingkaran dumadi.

16 Hatthaka adalah putra raja Alavi dan menjadi Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anagami). Dia dipuji oleh Sang Buddha sebagai suri teladan bagi pengikut awam dan dinyatakan murid awam yang terkemuka di antara mereka yang dapat diikuti, melalui empat dasar kemurahan hati (sangahavatthu; lihat Teks 176)

17 Devadutta. Di dalam penjelasan tradisional mengenai awal kehidupan Sang Buddha, pertemuan awal beliau yang megejutkan dengan orang tua; orang sakit dan mayatlah yang menghancurkan kenyamanan duniawinya dan membuat dia mulai mencari suatu jalan pencerahan. Menurut penjelasan tradisional, makluk-makluk ini sebenarnya adalah devadutta, dewa dalam samaran yang turun ke bumi untuk menggugah beliau dari keterlenaannya dalam kegelapan batin.

18 Bagian teks yang menjelaskan mengenai siksaan telah diringkas. Dalam Buddhisme, kehidupan d dalam neraka tidaklah kekal. Suatu bentuk kehidupan yang menyakitkan seperti ini merupakan akibat yang sesuai hukum dan tindakan-tindakan jahat dan akan berakhir ketika kekuatan penyebab yang mengondisikannya habis. Penyebab-penyebab yang baik dari masa lampau bisa kemudian memiliki kesempatan untuk berjalan dan menimbulkan kelahiran kembali yang lebih berbahagia.

19 Bacaan berikut ini menjelaskan dalam istilah psikologis realistis, pengalaman serupa yang diwakilkan secara simbolis dalam legenda tradisional mengenai pertemuan Buddha yang akan datang dengan tiga utusan agung. Lihat nomor 17 di atas.

20 Tiga jenis kesombongan (mada) yang dijelaskan di sini; yang lebih menjurus ke racun daripada ke arogansi adalah: (1) kesombongan karena kemudaan seseorang (yobbana-mada) (2) kesombongan karena kesehatan seseorang (arogya-mada) (3) kesombongan karena kehidupan (jivita-mada); bandingkan Teks 102. Pada jenis-jenis mada yang lain, lihat Bab IV, no. 50. kesombongan dalam arti kecongkakan muncul di teks Buddhis di bawah nama mana. Mengenai tiga cara mana, lihat Teks 127.

21 Kelihatannya dalam syair itu, “meninggalkan keduniawian” diwakili oleh “perbuatan tak merugikan, pengendalian diri dan penjinakan”, karena ini merupakan praktek-praktek yang dijalankan oleh mereka yang meninggalkan keduniawian. “Pelayanan bagi mereka yang menjalani kehidupan suci” harus dicakupkan di bawah pelayanan terhadap orang tua.

22 Sutta yang sekarang ini secara ontologi memberikan perbedaan yang mendasar antara realitas yang terkondisi dengan Yang Tidak Terkondisi. Realitas yang terkondisi mencakup segala sesuatu yang muncul melalui penyebab dan kondisi, yaitu seluruh dunia fenomena fisik dan mental, yang meluas menembus tiga alam dumadi. Menurut AA, “tanda-tanda kondisi dari yang terkondisi” (sankhatassa sankhata-lakhanani) adalah landasan untuk dikenal atau dipahami sebagai yang terkondisi.

Istilah-istilah Pali untuk tiga tanda ini adalah: uppada, vaya, thitassa aññathattam. Bacaan ini merupakan sumber dari bagian Abhidhamma di kemudian hari mengenai suatu momen pengalaman tunggal yang dibagi menjadi tiga sub-momen kemunculan, kelangsungan, penguraian (appada, thiti, bhanga). AA mengidentifikasikan “perubahan sementara masih berlangsung” dengan kelapukan (jara), yang diambil oleh AT di sini sebagai sub-momen kelangsungan, ketika untuk suatu saat yang sangat cepat suatu fenomena yang muncul “menghadapi kelapukannya sendiri” (bhangabhimukha), sebelum benar-benar hancur.

23 Asankhatassa asankhata-lakkhanani. Yang Tak Terkondisi adalah Nibbana, yang tidak menunjukkan kemunculan, perubahan atau kelenyapan apapun.

24 Akatabhiruttana. Yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa yang memberikan perlindungan di dalam kehidupan berikutnya.

25 Menjadi “dapat dilihat secara langsung” (sanditthika) adalah sifat kedua dari enam sifat yang disebutkan di dalam rumusan standar untuk penghormatan terhadap Dhamma; perumusan lainnya (yang menghilangkan sifat pertama, “dibabarkan dengan baik”) muncul di dalam kalimat berikutnya. Vism VII, 76, menjelaskan arti ini: “Ini mengacu kepada jalan mulia (ariya magga) yang dapat dilihat oleh orang suci ketika dia telah terbebas dari keserakahan, dll., di dalam kesinambungan mentalnya.”

26 Kalimat “Dia juga berperilaku buruk… atau kebaikan keduanya”, ditambahkan di III, 54.

27 Brahmana ini adalah penasehat spiritual Raja Pasenadi; dia sering mengajukan pertanyaan kepada Sang Buddha seperti dalam Teks 86, 129 dan 143 di bawah.

28 Ini mengacu kepada “elemen Nibbana dengan sisa yang tertinggal” (sa-upadisesanibbana-dhatu). Lihat It 44: “Di sini seorang bhikkhu adalah seorang arahat, orang yang noda-nodanya telah hancur … Lima kemampuan inderanya tetap tidak rusak, dan dengan lima indera itu dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, dan merasakan rasa senang dan rasa sakit. Di dalam dirinya padamlah nafsu, kebencian, dan kegelapan batin yang disebut elemen Nibbana dengan sisa yang tertinggal.” Lihat Bab IV, nomor 12 di bawah.

29 Si kelana Vacchagotta sering muncul di dalam sutta yang melibatkan Sang Buddha di dalam pertanyaan-pertanyaan yang gencar tentang pokok-pokok metafisika yang spekulatif, dan Sang Buddha menolak menjawabnya; lihat MN 72, SN Bab 33, SN 44:7-11. Menurut MN dia akhirnya menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Sang Buddha dan mencapai tingkat arahat.

30 Ini mengacu pada jasa kamma yang diperoleh dengan memberikan persembahan kepada para brahmana dan petapa. Menurut Sang Buddha, “kemampuan berbuah” dari suatu perbuatan memberi – yaitu kemampuannya untuk memberikan manfaat kepada si pemberi – bergantung pada interaksi dua faktor: niat dari si pemberi dan kemurnian dari penerima. Pemberian yang diberikan dengan keyakinan, kerendahan hati dan rasa hormat oleh seorang pemberi yang bijaksana akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan secara asal-asalan oleh seorang yang tidak bermoral. Dan suatu pemberian yang diberikan kepada seorang petapa yang luhur dan lurus akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan kepada orang yang secara spiritual tidak berkembang. Pemberian yang diberikan kepada arahat, ladang jasa yang paling tinggi, merupakan perbuatan paling berjasa, seperti yang dijelaskan oleh Sang Buddha. Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai tema ini, lihat MN 142.

Sifat-sifat yang ditinggalkan (persis di bawah ini) adalah lima rintangan. Sifat-sifat yang dimilliki adalah lima “kelompok-dhamma” dari “orang yang sempurna di dalam latihan” (asekha), yaitu arahat.

31 Brahmana Sangarava juga muncul di dalam Teks 111. Kritik yang dilontarkan secara ringkas dan jelas kepada Sang Buddha mengungkapkan perbedaan di dalam perspektif yang memisahkan brahmana dari petapa non-brahmana, samana. Sementara para brahmana menjalani kehidupan berumah tangga yang mapan sebagai pendeta, membaktikan diri mencari jasa melalui ritual dan pengurbanan, para petapa menekankan pentingnya meninggalkan keduniawian dan penguasaan-diri melalui meditasi. Para brahmana memiliki tujuan untuk kelahiran kembali di surga atau di alam Brahma, sedangkan para petapa mencari jalan keluar dari seluruh lingkaran kehidupan dan kematian yang berulang-ulang. Umumnya para petapa tidak mengenali otoritas kitab Veda (lihat Teks 36), dan Sang Buddha khususnya mengkritik praktek para brahmana yang mengurbankan binatang, yang Beliau nyatakan sebagai sumber perbuatan tak berjasa, bukan sumber jasa.

32 Ananda adalah pendamping pribadi Sang Buddha. Sebenarnya beliau yang ingat semua khotbah Sang Buddha dan bertanggung jawab untuk penyusunan Sutta Pitaka pada Konsili yang diadakan setelah Sang Buddha parinibbana.

33 Nimitta. Seperti yang dijelaskan dalam AA, ini mengacu pada indikasi eksternal, yang diinterpretasikan mengacu pada keadaan pikiran orang yang bersangkutan.

34 Bacaan ini telah diringkas. AA menjelaskan yang pertama berarti pengungkapan para dewa yang memiliki pengetahuan supranormal tentang pikiran-pikiran makhluk yang lain. Indikasi yang lain terletak dalam suara-suara halus yang dihasilkan oleh pikiran mereka sendiri, yang ditembus oleh kemampuan telinga-dewa. Yang ketiga mengacu kepada orang dalam suatu pencerapan meditatif yang bebas dari buah-pikir; dalam hal ini pembaca buah-pikir tidak dapat membaca pikiran meditator, tetapi meramal dengan dasar kecenderungan mentalnya sendiri, buah-buah pikir yang dia pikirkan pada waktu muncul dari penyerapan.

35 Anusasanipatihariya. Sebagai contoh, AA memberikan instruksi sebagai berikut: “Engkau harus memikirkan tentang meninggalkan keduniawian, bukan tentang sensualitas. Engkau seharusnya merenungkan ide tentang ketidakkekalan, bukannya ide tentang kekekalan. Engkau seharusnya meninggalkan nafsu terhadap lima tali kesenangan indera dan memperoleh Dhamma supra duniawi dari empat jalan dan buah.” Untuk contoh kekuatan mukjizat pengajaran Sang Buddha, lihat Teks 78.

36 Ungkapan titthayatana merupakan istilah figuratif untuk pandangan-pandangan spekulatif dari para pemikir non-Buddhis. Doktrin dari tanpa tindakan (akiriyavada) mengajarkan bahwa tindakan moral tidak berfaedah dan melibatkan penolakan kamma. Hal ini melemahkan motivasi bagi tindakan moral yang memiliki tujuan.

37 Pandangan pertama, bahwa semua pengalaman adalah akibat dari kamma lampau, oleh umat Buddha dianggap sebagai pandangan Jain. Pandangan ketiga, yang menolak peran usaha manusia, diajarkan oleh Makkhali Gosala, yang hidup pada zaman Sang Buddha. Dia memegang pandangan bahwa semua peristiwa ditentukan oleh nasib (lihat DN 2; MN 76). Doktrin ini, juga doktrin tanpa tindakan, termasuk “pandangan salah dengan tujuan yang sudah pasti” (niyata-miccha ditthi), yaitu pandangan-pandangan yang menuju pada kelahiran yang buruk.

38 Inilah sepuluh arah tindakan yang tidak baik. Di dalam Devadaha Sutta (MN 101), Sang Buddha menghadapi pengikut Jain dengan argumen-argumen lain melawan teori mereka bahwa apapun yang kita alami disebabkan oleh tindakan masa lampau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar