Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Bakti Anak Kepada Orangtua : Bhikkhu Suhadayo

Bakti Anak Kepada Orangtua


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Kala itu, Sang Bhagavā tengah berdiam di dekat Rājagaha di Vihāra Veuvana, di cagar alam tempat memberi makan tupai hitam (Kalandakanivāpa). Setelah Sang Bhagavā bangun pada fajar hari, Ia membawa mangkuk dana dan jubah luar-Nya, lalu menuju ke Rājagaha untuk menerima dana. Dalam perjalanan tampak oleh-Nya Sigālaka tengah memberi sembah hormat ke pelbagai arah. Beliau bertanya, ”Perumah Tangga Muda, mengapa setelah bangun pagi-pagi dan keluar dari kota Rājagaha dengan pakaian dan rambut basah, engkau menyembah ke enam penjuru?”

”Bhante, sebelum meninggal, ayah menasehati saya untuk melakukan hal ini. Bhante, karena rasa hormat saya terhadap kata-kata ayah, yang sungguh saya puja, saya hormati, dan saya anggap sakral, saya bangun pagi-pagi untuk menyembah ke enam penjuru.”

Sang Bhagavā berkata, ”Perumah Tangga Muda, siswa suci meninggalkan keempat perbuatan kotor; ia menjauhkan diri terhadap keempat penyebab perbuatan buruk dan tidak menjalani keenam penyebab lenyapnya kekayaan. Demikianlah, dengan menghindari keempat belas hal buruk ini, siswa suci melingkupi enam penjuru; dengan latihan seperti ini, ia menjadi penakluk kedua dunia dan ia akan hidup dengan baik dalam dunia ini dan dunia berikutnya. Dan saat tubuhnya terurai setelah mati, ia akan pergi ke tempat yang baik, dunia surgawi.”

Lebih lanjut dijelaskan tentang sahabat sejati yang patut diajak bergaul, sahabat palsu yang harus diwaspadai, dan makna yang terkandung dalam pemujaan enam penjuru. Dimulai dari makna memuja arah timur sebagai lambang penghormatan terhadap orangtua. (Sigalovāda Sutta).

Setiap anak pasti lahir dari orangtuanya dan tidak akan pernah terbalik anak melahirkan orangtua. Jadi, setiap anak mempunyai kewajiban untuk menghormati orangtua. Dalam sutta yang sama, Sang Bhagavā bersabda bagaimana hendaknya orangtua membimbing anak-anaknya dan bagaimana seorang anak menghormati orangtuanya.

Dalam Aguttara Nikāya, Buddha menegaskan, ”Para bhikkhu, keluarga berdiam dengan brahma, bila di rumah mereka, orangtua dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan guru-guru awal, bila di rumah mereka, orangtua dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan dewa-dewa awal, bila di rumah mereka orangtua, dihormati oleh anak-anaknya. Keluarga itu berdiam dengan mereka yang pantas dipuja, bila di rumah mereka orangtua, dihormati oleh anak-anaknya.

Para bhikkhu, ”brahmā” adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Guru-guru awal” adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Dewa-dewa awal adalah istilah untuk ayah dan ibu. ”Mereka yang pantas dipuja” adalah istilah untuk ayah dan ibu. Mengapa? Orangtua amat banyak membantu anak-anaknya, mereka membesarkan anak-anaknya, memberi makan dan menunjukkan dunia kepada anak-anaknya. (Petikan Aguttara Nikāya, kelompok IV)

Mungkinkah budi jasa ayah bunda dapat dibalas? Sang Buddha bersabda, ”Kunyatakan O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Siapakah yang dua itu? Ibu dan Ayah. Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana -bahkan perbuatan itu pun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orangtua berbuat banyak untuk anaknya: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan di dalam moralitas; yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orangtuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan -orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.”
(Petikan Aguttara Nikāya, kelompok II)

Susu Dibalas dengan Air Tuba

Suatu hari hiduplah sepasang suami istri bersama satu orang putra. Mereka tinggal bersama dengan kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia dan buta. Pada awalnya keluarga tersebut hidup dengan tentram dan damai. Sang anak melakuakan kewajiban merawat orangtua dengan sabar dan penuh bakti. Demikian juga dengan sang menantu ia selalu setia mengikuti petunjuk sang suami. Tahun demi tahun pun berlalu. Belakangan, keluarga tersebut mengalami keretakan dan berakhir dengan peristiwa yang sangat menyedihkan. Kisahnya sebagai berikut:

Suatu hari sang istri mulai merasa bosan merawat mertuanya yang sudah jompo dan buta tersebut. Ia mulai mencari cara untuk menyingkirkannya dari rumah mereka. Akhirnya ia mendapatkan sebuah cara yang amat keji. Tanpa ragu ia pun mengajak suaminya untuk menyingkirkan kedua orangtuanya. Istri mulai mendesak.
Istri : ”Pa, saya sangat bosan merawat orangtuamu itu. Mereka berdua sangat menyebalkan dan merepotkan aku. Aku minta singkirkan saja mereka dari rumah kita.”
Suami : ”Lho kenapa? Mereka kan orangtuaku, mereka sudah merawat dan membesarkan aku sampai saat ini. Bagaimana mungkin aku menyingkirkan mereka? Tidak, aku tidak akan menelantarkan orangtuaku…!”
Istri : ”Aku minta tolong singkirkan mereka dari rumah ini pa…!”
Suami : ”Tidak… itu perbuatan yang durhaka… aku tidak mungkin melakukannya…!”
Istri : ”Kalau begitu pilih salah satu saja…! Singkirkan orangtuamu atau aku yang pergi dari rumah ini untuk selama-lamanya”

Sang suami bagaikan buah simalakama. Ia sangat menghormati dan berbakti pada orangtuanya. Namun ia juga sangat menyayangi istrinya. Ia tidak ingin kehilangan keduanya tetapi sulit baginya untuk memutuskan. Setelah lama ia berpikir dan menimbang, akhirnya sang suami bersedia mengikuti kemauan istrinya. Rencana jahat mulai dilakukan berawal dari kebodohan sang istri.
Suami : ”Sekarang bagaimana aku melakukannya?”
Istri : ”Gampang Pa… jawab sang istri dengan enteng. Bilang aja pada orangtuamu bahwa kamu mau mengajak mereka jalanjalan ke suatu tempat.”
Suami : ”Terus… bagaimana cara membawanya?”
Istri : ”Sekarang Papa bikin aja keranjang lalu gendong mereka dengan keranjang tersebut dan ketika tiba di hutan ditinggal aja di sana. Dengan begitu biar aja mereka dimakan harimau atau mati kelaparan. Yang penting sekarang kita terbebas dari kewajiban mengurus mereka. Bereskan?”

Sang suami mulai membuat sebuah keranjang. Di sudut ruangan, anaknya yang berusia lima tahun sedang memperhatikannya dan bertanya dengan polos.
Anak : ”Ayah sedang bikin apa?” Tanyanya penuh kepolosan hati.
Ayah : ”Ayah sedang bikin keranjang nak.” jawab sang ayah.
Anak : ”Untuk apa ayah bikin keranjang?” Ia melanjutkan dengan sedikit penasaran.
Ayah : ”Untuk menggendong kakekmu sewaktu kita rekreasi nanti nak.” Jawabnya meyakinkan
Anak : ”Nanti kalau sudah selesai dipakai tolong ayah simpan baik-baik di kamar ya ayah!” pintanya.
Ayah : ”Lah untuk apa anakku sayang?” Ia balik bertanya keheranan.
Anak : ”Karena nanti kalau ayah sudah seperti kakek, saya akan menggendong ayah untuk berekreasi dengan keranjang itu juga ayah dan saya tidak usah repot-repot bikin keranjang lagi kan? Ingat ya ayah!” Ia menegaskan sang ayah merenungkan kata-kata anaknya tadi.

Hati sang ayah bergejolak, tangannya gemetar dan akhirnya ia pun menghentikan niat dan rencananya untuk membuang orangtuanya. Rupanya, kata-kata sang anak yang begitu polos telah menyadarkannya dari perilaku yang menyimpang. Ia teringat tentang hukum kamma, hukum sebab dan akibat yang akan terus berputar. Ia pun memeluk anak semata wayangnya penuh kasih sayang dengan satu harapan ’semoga anakku menjadi anak yang berbakti terhadap orangtua’.

Demikianlah; hukum kamma akan selalu berproses dan berlaku universal. Apakah orang percaya atau tidak, sadar atau tidak, diakui atau tidak, hukum kamma universal ini akan bekerja sesuai alurnya kepada siapa saja tanpa kecuali. Sang Buddha bersabda, ”Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipanen. Pembuat kebajikan akan mendapat kebaikan. Pembuat kejahatan akan memetik buah kejahatannya” (Saṁyutta Nikāya 1259)
(02 November 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar