Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Membersihkan Sampah Dalam Kehidupan : Bhikkhu Piyadhīro

Membersihkan Sampah Dalam Kehidupan



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Na jaccā vasalo hoti, na jaccā hoti brāhmao
Kammun
ā vasalo hoti, kammunā hoti brāhmao

Bukan karena kelahiran orang menjadi sampah. Bukan karena kelahiran pula orang menjadi brahmana/mulia
Oleh karena perbuatanlah orang menjadi sampah. Oleh karena perbuatanlah orang menjadi brahmana.
(Vasala Sutta - Suttanipāta)


Kebersihan pangkal kesehatan. Bersih itu indah. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Buanglah sampah pada tempatnya. Jagalah kebersihan. Ungkapan-ungkapan di atas menekankan kepada kita untuk menjaga lingkungan supaya bersih. Kebersihan merupakan hal baik yang hendaknya selalu dijaga di mana pun kita berada. Hidup terasa nyaman tatkala lingkungan sekitar bersih tidak ada kotoran.

Ada beberapa macam sampah dalam kehidupan ini. Ada sampah organik (sampah alami yang langsung bisa terurai) dan sampah non organik (sampah yang susah diuraikan yang merupakan produk dari pabrik-pabrik). Kedua macam sampah tersebut menjadi masalah, terutama di kota-kota besar, seperti: Jakarta dan Surabaya.

Sampah yang bertumpuk menimbulkan banyak masalah. Masalah yang ditimbulkan sampah yaitu: mengundang lalat, sumber penyakit, lingkungan menjadi kotor dan lain sebagainya. Yang jelas, supaya tidak menjadi masalah maka sampah harus dikelola dengan baik. Salah mengelola sampah akan mengakibatkan banyak masalah.

Di samping sampah organik dan non organik, sesungguhnya ada sampah yang keberadaannya jauh lebih buruk dampaknya dibandingkan dua jenis sampah itu. Sampah yang paling berbahaya bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan juga masyarakat adalah sampah spiritual. Sampah spiritual menimbulkan masalah yang sangat berbahaya bagi semua makhluk. Orang yang menjadi sampah spiritual tidak akan segan-segan melakukan kejahatan yang merugikan dirinya sendiri maupun makhluk lain. Orang yang menjadi sampah spiritual akan menjadi momok di mana pun ia berada.

Apakah kriteria manusia sampah spiritual itu?
Siapa pun yang marah, yang memiliki niat buruk, yang berpikiran jahat dan iri hati; berpandangan salah dan penuh tipu muslihat;

1. Menghancurkan kehidupan, baik burung/binatang, serangga/ikan, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kehidupan;

2. Menjadi perusak atau suka menyerang di kota dan di desa dan dikenal sebagai perusak atau penjahat yang kejam;

3. Mengambil apa yang tidak diberikan , baik yang ada di desa maupun di kota;

4. Siapapun yang menyangkal terhadap hutang yang dilakukan saat ditagih dan menjawab dengan pedas;

5. Berkeinginan mencuri walaupun benda tidak berharga, lalu mengambil barang itu setelah membunuh orang di jalan;

6. Memberikan sumpah palsu, baik untuk keuntungan pribadi, kepentingan orang lain, atau untuk mendapat keuntungan;

7. Berselingkuh dengan istri/suami famili atau temannya, baik dengan paksaan maupun suka sama suka;

8. Memiliki kekayaan yang cukup tetapi tidak mau menyokong ayah dan ibu yang telah tua dan lemah;

9. Menyerang atau mencaci maki orang tua kandung, saudara kandung atau mertua;

10. Memberikan nasehat yang tidak baik;

11. Munafik dan menyembunyikan kesalahan/pelanggaran yang telah dilakukan;

12. Tidak membalas keramahan atau kebaikan dari orang lain;

13. Menipu petapa, bhikkhu atau guru spiritual;

14. Mencaci maki dan tidak melayani petapa/bhikkhu yang datang untuk makan;

15. Memberikan ramalan yang tidak benar demi keuntungan yang sebenarnya tidak berharga;

16. Meninggikan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain, pongah dalam kesombongannya;

17. Memicu pertengkaran, kikir, memiliki keinginan-keinginan jahat, iri hati, tidak tahu malu dan tidak menyesal melakukan kejahatan;

18. Menghina Sang Buddha atau siswa-siswanya, baik yang meninggalkan kehidupan keduniawian maupun perumah tangga biasa;

19. Berpura-pura Arahat padahal sebenarnya bukan, dia benar-benar penipu hina terbesar di dunia ini, sampah terendah dari semuanya.

Manusia hendaknya meninggalkan atau menghancurkan nafsu-nafsu duniawi yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan, baik dalam kehidupan sekarang maupun pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Membersihkan diri dari sampah-sampah yang merugikan, meninggalkan segala bentuk perbuatan yang tidak baik maka sesungguhnya mengkondisikan kehidupan yang bersih tanpa noda, tanpa cela. Selamat berjuang menjadi manusia yang bermanfaat, bersih dan memberi kesejukan dalam kehidupan ini.
Sumber: Vasala Sutta, Sutta Nipāta
(15 Juni 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar