Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Mencari Kebahagiaan Duniawi : Bhikkhu Hemadhammo

Mencari Kebahagiaan Duniawi


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Suvijāno bhavaṁ hoti, Suvijāno parābhavo
Dhammakāmo bhavaṁ hoti, Dhammadessi parābhavo

Kesejahteraan dalam kehidupan adalah wajar, kemerosotan dalam kehidupan juga
adalah wajar. Seseorang yang mencintai Dhamma akan sejahtera, seseorang yang membenci Dhamma akan merosot.
(Parābhava Sutta)

Cita-cita atau tujuan hidup manusia pada umumnya adalah mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin, karena manusia terdiri dari dua unsur yaitu lahir (rūpa) dan batin (nāma), maka keduanya pun saling berkaitan. Bila hanya memiliki kesejahteraan lahiriah saja, misalnya memiliki kekayaan tetapi tidak ada ketentraman dan kedamaian batin, tentu tidak akan tercipta kebahagiaan. Demikian juga kebahagiaan batin tidak akan terwujud apabila belum terpenuhinya kesejahteraan lahiriah. Dalam hal ini, agama Buddha atau lebih dikenal dengan Buddha Dhamma adalah ajaran yang dapat membuat manusia mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tersebut. Kebahagiaan dan kesejahteraan dapat dicapai melalui Dhamma yang telah diajarkan oleh guru kita Sang Buddha.

Kebahagiaan menurut agama Buddha terbagi dua macam yaitu: yang bersifat duniawi (lokiya) disebut kebahagiaan duniawi dan yang bersifat di atas duniawi (lokuttara) yaitu tercapainya kebahagiaan tertinggi (Nibbāna). Walaupun ajaran Sang Buddha ditujukan untuk tercapainya kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbāna, namun karena tidak semua manusia dapat mencapainya dalam kehidupan sekarang ini, maka Sang Buddha pun menerangkan jalan untuk mencapai kebahagiaan duniawi. Dalam uraian ini yang akan dibahas adalah khusus tentang kebahagiaan duniawi.


Empat macam kebahagiaan

Di dalam Aṅguttara Nikāya dikatakan bahwa ada empat kebahagiaan yang dapat dicapai oleh perumah tangga, yaitu:

1. Atthisukha yaitu kebahagiaan karena memiliki kekayaan/harta benda. Dengan memiliki kekayaan, maka kita dapat terhindar dari munculnya pikiran-pikiran atau perbuatan-perbuatan yang tidak baik, seperti penipuan, pencurian, perampokan, penodongan, dan lain-lain. Kita akan terhindar dari perasaan cemas atau gelisah dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita dapat memenuhi kebutuhan keluarga, seperti biaya pendidikan, kebutuhan makanan dan pakaian, biaya pengobatan bila sakit. Kita akan merasa tentram dan gembira bila bertemu dengan teman atau kenalan karena mampu menjamu mereka bila diperlukan, dan lain-lain. Hendaknya kekayaan yang kita peroleh adalah melalui usaha dan cara yang benar, bukan dari menipu, korupsi, main judi, mencuri, merampok, atau dari hasil memeras. Karena harta yang diperoleh dari hasil yang tidak baik tersebut tidak akan memberikan kebahagiaan, tetapi sebaliknya membuat hidup menjadi gelisah, tegang, cemas dan takut akan akibat dari perbuatan buruk tersebut.

2. Bhogasukha yaitu kebahagiaan karena dapat menikmati kekayaan yang dimiliki. Apabila seseorang memiliki kekayaan, namun tidak dapat menikmati kekayaan itu, maka ia tidak akan bisa merasakan kebahagiaan. Misalnya karena ia sakit, sehingga makanannya harus diatur dan dibatasi, atau walaupun ia kaya tetapi pelit, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dilakukan dengan terbatas. Maka orang-orang seperti ini percuma memiliki materi yang berlimpah-limpah, tetapi hidupnya seperti orang miskin. Karenanya, Sang Buddha mengatakan bahwa salah satu kebahagiaan yang dapat diperoleh seorang perumah tangga adalah bila ia dapat menikmati harta yang dimilikinya.

3. Anaṇasukha yaitu kebahagiaan karena tidak mempunyai hutang. Pada umumnya orang ingin menjadi kaya, atau setidaknya ingin kelihatan sebagai orang kaya. Mereka berpikir apabila memiliki rumah mewah, mobil mewah, berpakaian yang harganya mahal, perhiasan yang mencolok, makan selalu di rumah makan terkenal, maka ia dinilai orang yang kaya. Tetapi, kalau kemampuan yang ada padanya hanya pas-pasan, sedangkan keinginannya begitu besar, maka tak jarang banyak orang ingin memiliki semua itu dengan cara berhutang. Pinjam uang dari bank, tetangga, teman, dan lain-lain. Akhirnya, karena hutangnya bertumpuk-tumpuk, maka hidupnya selalu diliputi kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran karena dikejar-kejar oleh penagih utang. Sehingga dikatakan orang yang memiliki hutang cenderung hidupnya tidak tenang dan tidak bahagia. Orang yang tidak memiliki hutang kepada siapapun dan dalam hal apapun baik besar maupun kecil, dia akan mengalami kebahagiaan dan suka cita. Ia tidak akan memikirkan hutangnya karena memang ia tidak punya hutang.

4. Anavajjasukha yaitu kebahagiaan karena tidak tercela. Sebagai makhluk sosial, manusia berada dan hidup dalam kelompok masyarakat, dimana terdapat norma-norma atau batasan-batasan mengenai perbuatan seseorang yang ada dalam lingkungannya. Bila seseorang berperilaku atau bertindak tidak sesuai dengan aturan, norma atau batasan yang berlaku di masyarakat tersebut, maka ia akan mendapat celaan dan tidak dihormati dalam lingkungan masyarakatnya. Namun bila ia bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang ada, maka hidupnya tidak akan tercela, bahkan akan mendapat pujian dan penghormatan dari masyarakat sekelilingnya. Kejadian yang sering terjadi, yaitu seorang yang kaya tetapi kekayaannya diperoleh dari hasil yang tidak baik seperti menipu, memeras, atau korupsi, maka hidupnya akan tercela dan ternoda, masyarakat tidak akan menghormatinya. Juga bila ada seseorang yang memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat, tetapi senang melakukan pelanggaranpelanggaran sila seperti berbohong, berkata tidak pantas, berjina, mencuri, suka mabuk-mabukan, maka ia akan dicela dan tidak akan dihormati oleh masyarakat sekitarnya..
Dari empat kebahagiaan ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu kebahagiaan yang disebabkan materi/harta benda dan kebahagiaan yang disebabkan non materi/harta batin. Lalu bagaimana untuk memperoleh kedua kebahagiaan ini?

Cara memperoleh kebahagiaan duniawi

Untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan sekarang ini, lakukanlah hal-hal berikut:

1. Rajin dan bersemangat bekerja mencari nafkah (uṭṭhanasampadā), memiliki pengetahuan luas, memilki keterampilan, bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan pekerjaan tercela.

2. Penuh kehati-hatian (ārakkhasampadā). Menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dengan rajin dan semangat, tidak membiarkannya mudah hilang atau dicuri, terbakar atau terbawa banjir yang akan melenyapkan kekayaannya. Juga terus menjaga cara bekerja sehingga tidak mengalami kemunduran atau kemerosotan.

3. Memiliki teman-teman yang baik (kalyāṇamittata). Tidak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan orang-orang bijaksana.

4. Menempuh cara hidup yang sesuai dengan penghasilan (samajivita). Tidak terlalu kikir dan tidak terlalu boros. Pengeluran tidak melebihi pemasukan. Seorang perumah tangga harus mengatur pemasukan dan pengeluaran yang mengarah pada kehidupan yang seimbang. Tidak menghambur-hamburkan apa yang diperolehnya dengan berfoya-foya, mabuk-mabukan, berjudi, sehingga kekayaannya habis percuma.

5. Merasa puas dengan apa yang telah diperoleh (santuṭṭhī), kita harus merasa puas dengan keadaan yang sekarang kita miliki dari hasil kerja yang sesuai Dhamma, kurangi keinginan-keinginan yang tidak baik.

6. Melatih kedermawanan dengan cara berdana, peduli kepada orang-orang yang menderita, yang membutuhkan pertolongan membuat hidup kita berguna bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga berguna bagi orang lain.

7. Memiliki moral yang baik dengan cara menjaga sila.

8. Memiliki kebijaksanaan yaitu dengan cara latihan meditasi.
 
Orang-orang yang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menggunakannya dengan bijaksana, akan kecewa pada saat mereka menyadari bahwa semua uang di dunia ini tidak dapat membeli kebahagiaan, dan semuanya sudah terlambat. Kebahagiaan dan kesejahteraan dapat diperoleh melalui kekayaan yang diperoleh dari hasil yang sesuai dengan Dhamma, dan digunakan dengan bijaksana yaitu untuk kebutuhan sendiri dan peduli kepada yang membutuhkan bantuan. Tak seorang pun yang bahagia dan sejahtera jika ia mencari kekayaan dengan melanggar Dhamma. Ingatlah seseorang yang mencintai Dhamma akan sejahtera dan seseorang yang membenci Dhamma akan merosot.
(06 April 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar