Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Penghormatan Kepada Mendiang : Bhikkhu Jayaratano

Penghormatan Kepada Mendiang


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Adāsime akāsi me, ñātimitta sakhā ca me
Petānaṁ dakkhiṇaṁ dajjā, pubbe katamanussaran’ti

Orang yang mengenang budi yang mereka lakukan di waktu lampau bahwa,
‘Ia memberi ini kepadaku. Ia melakukan hal ini untukku. Ia adalah kerabatku, sahabatku, dan temanku; patut memberikan persembahan dāna kepada mereka yang telah meninggal’.
(Tirokuḍḍa Sutta, Khuddakapāṭha, Khuddakanikāya, Sutta Piṭaka)



Dari sekian banyak ajaran Sang Buddha, ada satu Dhamma yang dapat langsung kita alami. Kita pun sering membahasnya, bahkan memberikan nasehat kepada orang lain yaitu mengenai bagaimana menerima perubahan. Anicca, perubahan, ketidakkekalan, perpisahan, sangat mudah untuk diucapkan. Mudah diucapkan bukan berarti mudah diterima, apalagi jika kenyataannya berbeda dengan harapan.

Kenyataan kehidupan dapat kita lihat dalam Abhiṇhapaccavekkhaṇa (perenungan kerap kali) yaitu pemahaman tentang usia tua, sakit, dan kematian; berpisah dengan apa yang kita miliki; dan kita adalah sebagai pemilik perbuatan kita sendiri, baik maupun buruk. Manfaat dari perenungan, pemahaman, dan penerapan dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha sangat besar sekali. Kita diingatkan untuk belajar menerima perubahan yang terjadi! Mengapa? Karena, mau atau tidak mau, mengerti atau tidak mengerti, menerima atau pun tidak menerima, perubahan akan selalu terjadi dalam kehidupan kita. Apa yang terjadi kalau kita berharap agar semuanya langgeng dan tidak berubah? Ketidakpuasan.

Mengenai perubahan yang sulit diterima, seperti kematian, dibutuhkan keberanian yang besar dalam menghadapinya. Apa yang terjadi bila berpisah dengan orang yang kita cintai, terlebih karena kematian. Memang tidak mudah untuk menerima sebuah kematian apalagi dari orang yang kita sayangi, seperti orangtua, saudara, suami, istri, anak, teman atau kerabat. Perasaan sedih muncul, bahkan ada pernyataan bahwa bila tidak bersedih atau menangis, maka kita dianggap tidak sayang kepada mendiang, sehingga cara-cara yang dilakukan untuk menunjukkan cinta dan sayang menjadi berlebihan.

Seminggu yang lalu, ada suatu perkabungan di sebuah keluarga. Ketika mengetahui putrinya meninggal, ibu tersebut sangat kaget dan terpukul, bahkan ketika peti jenazah anaknya akan diberangkatkan, sang ibu menangis, meraung, meronta, berteriak histeris tidak rela ditinggal oleh anaknya tercinta. Beberapa orang simpati dan yang lainnya laksana guru atau orang bijaksana mengatakan, ”sudahlah relakan saja kepergian anakmu, karena apa pun yang kamu lakukan anakmu tidak akan hidup kembali”. Ketika pemakaman hampir selesai, keluarga sang ibu bercerita, bahwa ibu tersebut dan suaminya tidak memiliki anak kandung, sehingga mereka sepakat untuk mengadopsi dua anak. Yang pertama adalah perempuan yang sudah memiliki dua anak dan yang kedua adalah lelaki yang masih duduk di kelas dua Sekolah Teknik Menengah. Memang mudah mengatakan, memang mudah menasehati tentang perubahan, namun bagaimana tidak berduka, sedih, dan histeris kalau seminggu sebelumnya anak lelaki tersebut meninggal dengan sakit mendadak. Tanah kuburan masih merah, bunga-bunga masih terlihat segar, lantunan doa masih terngiang jelas, ternyata sudah harus menggali liang kubur yang baru. Dunia terasa hancur, merasa diperlakukan tidak adil, demikian pahit rasanya, mengapa begitu tega kematian terjadi secara berurutan dalam waktu yang singkat. Saat itulah Dhamma yang telah kita pelajari dapat memberikan kesejukan dan keteduhan bahwa bukan hanya mereka yang meninggal tetapi saya, dia, dan semuanya tanpa terkecuali akan mengalami kematian. Tak peduli tua-muda, besar-kecil, baik-jahat, pintar-bodoh, kaya-miskin, bagus-jelek, semuanya akan mengalami kelapukan, sakit, dan kematian.

Sering kali muncul pertanyaan, ’Bagaimana memberikan penghormatan yang sesuai, pantas, dan yang terbaik untuk mendiang? Sejarah peradaban manusia mencatat, dalam melakukan upacara perkabungan sangat beragam pada setiap tempat yang dipengaruhi oleh adat istiadat, tradisi, kebudayaan, dan tingkat pengetahuan serta pengalaman yang terus berkembang. Di dalam Dhamma tidak ada otoritas tertentu dalam menyelenggarakan upacara perkabungan. Yang terutama adalah perbuatan baik yang kita lakukan atas nama mendiang, seperti yang terdapat dalam Sigalovāda Sutta tentang kewajiban anak terhadap orangtua. Yaitu kewajiban yang kelima ”melakukan jasa kebajikan atas nama sanak keluarga yang telah meninggal.” Bila kita memiliki tradisi yang telah diajarkan turun-temurun oleh leluhur kita dan masih dijalankan, tidak menjadi masalah untuk melakukannya. Bahkan sesungguhnya persembahan yang diadakan untuk upacara perkabungan atau pun peringatan kepada mendiang tersebut, memiliki makna dan ajaran yang mendalam khususnya bagi sanak keluarga yang ditinggalkan. Jangan merasa minder untuk melakukannya, dan dianggap kuno, kolot, kaku tidak mengikuti perkembangan zaman. Yang terpenting adalah ketika menyelenggarakan upacara tersebut tidak menjadi beban bagi kita, boleh dilakukan atau tidak, tidak menimbulkan masalah terhadap anggota keluarga yang lain, dan tidak mengorbankan makhluk lain secara langsung dengan cara membunuh sendiri atau memerintahkan orang lain untuk membunuh binatang yang digunakan untuk persembahan. Kalau tidak mampu menyediakan semua perlengkapan, tidak perlu menyulitkan diri sendiri dan keluarga, lakukan saja dengan sederhana. Apalah artinya bila dilakukan dengan meriah tetapi dengan terpaksa dan tidak terdapat pengertian yang benar, dibandingkan dengan cara sederhana tetapi dilakukan dengan kesungguhan, kerelaan, dan ketulusan hati. Pinjam atau hutang untuk membiayai upacara tidak perlu dilakukan, karena bukan materi atau persembahan yang utama bagi mendiang, tetapi jasa kebajikanlah yang harus kita lakukan atas nama mendiang dan para leluhur.

Kemudian bagaimana cara memberikan penghormatan kepada jasad mendiang? Berbagai macam cara dilakukan agar proses perkabungan menjadi sempurna, sehingga muncul bermacam-macam versi dalam memperlakukan jenazah. Bahkan tiap pihak saling menganggap caranya yang paling bagus dan sempurna. Dalam kurun waktu yang sangat lama, masyarakat telah mengenal penghormatan terhadap jasad orang yang mereka cintai dan tidak sedikit dari orang yang bersangkutan telah menyiapkan sendiri baik secara sederhana maupun secara akbar perlakuan terhadap jenazahnya kelak ketika meninggal. Ada yang membuat makam keluarga sederhana, monumen, istana kubur di bawah tanah, juga sampai membuat piramida yang megah. Semua itu dilakukan dengan berbagai macam tujuan dan kepercayaan. Dalam sejarah Buddhis, penghormatan seperti itu juga dilakukan, terutama kepada mereka yang telah mencapai tingkat kesucian. Pembuatan stupa atau pun candi yang monumental diperuntukkan untuk menghormati jasa dan perjuangan mereka yang telah mencapai pembebasan.

Selain untuk menempatkan abu kremasi, relik, atau peninggalan lainnya dari orang suci dan orang berjasa, fungsi dari stupa atau candi adalah untuk sarana puja bakti dan meditasi yang digunakan oleh semua kalangan masyarakat. Dalam ajaran Sang Buddha, perlakuan terhadap jenazah tidak mendapat prioritas utama karena yang terpenting adalah bakti nyata terhadap mendiang. Apakah dimakam, dikremasi, dilarung, atau dibiarkan di tempat terbuka tidak menjadi masalah asalkan tidak bertentangan dengan peraturan setempat. Bagi mereka yang memiliki pemahaman yang telah berkembang dan maju, mereka membuat pesan atau wasiat yaitu mendonasikan organ tubuhnya yang masih dapat digunakan untuk orang lain setelah mereka meninggal. Perbuatan baik terhadap mendiang bukan dari cara perlakuan jasad, tetapi dari perbuatan-perbuatan berjasa, sehingga perbuatan baik itu dapat bermanfaat bagi mendiang, diri sendiri, maupun pihak lain. Paling mudah kita dapat berdoa, meningkatkan praktik berdāna, merawat sãla, mengembangkan konsentrasi, atau kebajikan-kebajikan lain yang sesuai dengan kemampuan kita atas nama mendiang dan para leluhur. Perbuatan tersebut tidak akan membuat jasa kebajikan kita hilang, bahkan kita dapat melatih dan mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk. Itulah pemahaman dan cara penghormatan kepada mendiang dan para leluhur yang jasa-jasanya sulit dibalas. Semoga sanak keluarga, kerabat, para leluhur, teman-teman yang telah meninggal ikut bersuka cita dan berbahagia dengan kebajikan-kebajikan yang kita lakukan. Semoga semua makhluk berbahagia.

(29-06-2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar