Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Hidup Tidak Pasti, Kematian Adalah Pasti : Bhikkhu Dhammajāto

Hidup Tidak Pasti, Kematian Adalah Pasti


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Andhabhūto aya loko, tanukettha vipassati
Sakuṇo jālamutto va, appo saggāya gacchati

Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas. Bagaikan sedikit burung-burung yang terhindar dari jeratan, dmikian pula hanya sedikit orang-orang yang dapat melepaskan diri dari jeratan; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.
(Dhammapada, 174)

Pada akhir upacara pemberian dana makanan di Alavi, Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidakkekalan dari kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha). Pada hari itu Sang Buddha menekankan hal utama yang dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

”Hidupku adalah tidak pasti; bagiku, hanya kematianlah satu-satunya yang pasti. Aku pasti mati; hidupku berakhir dengan kematian. Hidup tidaklah pasti; kematian adalah pasti.”

Sang Buddha juga menasehati orang-orang yang mendengarkan Beliau agar selalu sadar dan berusaha untuk memahami kebenaran tentang kelompok kehidupan (khandha).

Beliau juga berkata, ”Seperti seseorang yang bersenjatakan tongkat atau tombak telah bersiap untuk bertemu dengan musuh (misalnya, seekor ular berbisa), demikian pula halnya seseorang yang selalu sadar terhadap kematian akan menghadapi kematian dengan penuh kesadaran. Kemudian ia akan meninggalkan dunia ini untuk mencapai tujuan kebahagiaan (sugati).”

Banyak orang yang tidak memperhatikan penjelasan di atas dengan serius, tetapi seorang gadis penenun muda berusia enam belas tahun mengerti makna penjelasan tersebut. Setelah memberikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Selang tiga tahun kemudian, ketika Sang Buddha melihat dunia kehidupan, Beliau melihat penenun muda, dan mengetahui bahwa sudah saatnya bagi gadis itu untuk mencapai tingkat kesucian Sotapatti, sehingga Sang Buddha datang ke negara Alavi untuk menjelaskan Dhamma yang kedua kalinya. Ketika sang gadis mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba beserta lima ratus bhikkhu, dia ingin pergi dan mendengarkan khotbah yang akan diberikan oleh Sang Buddha. Tetapi, ayahnya juga meminta kepadanya untuk menggulung beberapa gulungan benang yang dibutuhkan dengan segera, sehingga dia dengan cepat menggulung beberapa gulungan dan membawakan kepada ayahnya. Dalam perjalanan menuju ke tempat ayahnya, dia berhenti sementara di samping orang-orang yang telah tiba untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha.

Ketika itu Sang Buddha mengetahui bahwa gadis penenun muda akan datang untuk mendengarkan khotbah-Nya; Beliau juga mengetahui bahwa sang gadis akan meninggal pada saat dia pergi ke tempat penenunan. Oleh karena itu, sangatlah penting baginya untuk mendengarkan Dhamma dalam perjalanan menuju tempat penenunan dan bukan pada saat dia kembali. Jadi, ketika gadis penenun muda itu muncul di antara kerumunan orang, Sang Buddha melihatnya. Ketika dia melihat Sang Buddha menatapnya, dia menjatuhkan keranjangnya dan dengan penuh hormat mendekati Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha memberikan empat pertanyaan kepadanya dan dia menjawab semua pertanyaan tersebut. Pertanyan dan jawaban tersebut adalah sebagai berikut:

Pertanyaan 1 : Dari mana anda datang?
Jawaban 1 : Saya tidak tahu.
Pertanyaan 2 : Kemana kamu akan pergi?
Jawaban 2 : Saya tidak tahu.
Pertanyaan 3 : Tidakkah kau tahu?
Jawaban 3 : Ya, saya tahu.
Pertanyaan 4 : Tahukah kamu?
Jawaban 4 : Saya tidak tahu, Bhante

Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun muda sangat tidak hormat. Kemudian, Sang Buddha meminta untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan dia pun menjelaskan.
”Bhante! Bhante tahu bahwa saya datang dari rumah saya; saya mengartikan pertanyaan pertama Bhante, Bhante bermaksud untuk menanyakan dari kehidupan yang lampau manakah saya datang? Karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu’.
Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang manakah akan saya tempuh setelah ini; oleh karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu’.
Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, ’Ya, saya tahu’.
Maksud pertanyaan terakhir, apakah saya tahu kapan saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu’.

Sang Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang yang hadir, ”Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan jelas maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun muda. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada syair 174 berikut: ”Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yangdapat melihat dengan jelas. Bagaikan sedikit burung-burung yang terhindar dari jeratan, demikian pula hanya sedikit orang-orang yang dapat melepaskan diri dari jeratan; demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.”
Gadis penenun muda tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penenunan. Ketika dia sampai di sana, ayahnya tertidur di atas kursi peralatan tenun. Saat ayahnya terbangun dengan tiba-tiba, dia dengan tidak sengaja menarik gulungan dan ujung gulungan menusuk tepat di dada sang gadis. Gadis penenun muda meninggal dunia di tempat itu juga, dan ayahnya sangat sedih. Dengan berlinangan air mata ayah gadis itu pergi menghadap Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha menerimanya sebagai bhikkhu. Kemudian, dia menjadi seorang bhikkhu, dan tidak lama setelah itu mencapai tingkat kesucian Arahatta.
(01 Juni 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar