Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Belajar Mencintai dan Mengasihi : Bhikkhu Suhadayo

Belajar Mencintai dan Mengasihi


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Attānaṁ ce piyaṁ jaṭṭa rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
Tiṇṇaṁ aṭṭataraṁ yāmaṁ paṭijaggeyya paṇḍito

Apabila seseorang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Orang bijaksana seharusnya waspada dalam tiga periode kehidupannya (masa anak-anak, dewasa, dan masa tua)
(Dhammapada, XII:1)



Pendahuluan
Suatu hari Mr. A membaca koran dengan ekspresi dahi yang mengkerut dan berkomentar dengan sikap agak pesismis, ”jaman sudah gelap... jaman sudah gelap... .” Rupanya ia sedang membaca berita tentang korupsi, kriminalitas, pertikaian antarsesama serta berbagai opini yang bernada kritikan dan ketidakpuasan. Di mana-mana, ia membaca hanya berita yang buruk, jarang sekali ia membaca berita yang menceritakan tentang kemajuan, meningkatnya kemakmuran, berkurangnya pengangguran, dan lainnya.

Sementara itu, Mr. B sedang membaca koran malah tersenyum dengan kepala manggut-manggut, seolah-olah ia baru saja mendapat rejeki nomplok. Kemudian ia berkomentar dengan optimis, ”bintang terang... fajar yang indah... .” Rupanya ia sedang membaca di bagian Bisnis & Keuangan yang membahas mengenai kemajuan perusahaan tempatnya bekerja, meskipun harga BBM melonjak.

Berbeda dengan Mr. C, ia hanya diam penuh kearifan membaca berbagai berita tersebut, dan berucap singkat dalam hati, ”demikianlah adanya.”

Jika kita berdiri di sudut pandang Mr. A, sulit dipungkiri bahwa kehidupan di jaman ini memang lebih banyak ruang gelapnya. Telah terjadi krisis di mana-mana, mulai dari krisis ekonomi, krisis moral hingga krisis kedamaian. Benih-benih ketidaksabaran, amarah, niat buruk, kebencian, permusuhan, dan sejenisnya seakan-akan tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Terpojok di ruang gelap semacam ini, manusia semakin sering terjatuh ke dalam tindakan yang tidak terpuji. Celakanya, semuanya berujung pada simpul-simpul persoalan yang kian ruwet bagaikan benang kusut yang semakin kusut. Benih-benih cinta kasih dan kasih sayang, niat baik, kesabaran, kearifan dan sejenisnya seakan-akan sulit untuk tumbuh dan berkembang. Akhirnya, nyanyian riang di masa Taman Kanak-kanak berubah menjadi sumbang ”di sini panas, di sana panas, di mana-mana hati pun jadi panas”.

Belajar Mencintai dan Mengasihi
Bercermin dari kusutnya benang-benang kehidupan, kita diajak untuk berusaha lebih dekat dengan Dhamma. Dihadapkan pada kondisi krisis multidimensi, setiap individu masyarakat dipanggil untuk berperan dalam menciptakan kehidupan sosial yang rukun, tentram, harmonis dan damai sebagai kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. Cara untuk mendekatkan diri pada Dhamma adalah berusaha menuntun diri menuju arah yang benar sebagaimana yang dijelaskan di dalam Mahāmaṅgala Sutta, Khuddaka Nikāya. ATTASAMMĀ-PAṆIDHI CA, ETAMMAṄGALA-MUTTAMAṀ -menuntun diri ke arah yang benar adalah berkah utama. Menuntun diri ke arah yang benar berarti kita harus menghindarkan diri dari perbuatan buruk melalui pikiran, ucapan, dan tindakan badan jasmani. Senantiasa tekun mengembangkan perbuatan baik melalui pikiran, ucapan, dan tindakan badan jasmani.

Berbicara tentang menuntun diri ke arah yang benar, ijinkan saya memulai dari sudut yang mungkin agak berbeda. Dalam banyak kesempatan, kita telah sering mendengarkan tentang anjuran yang disampaikan oleh para bijaksanawan untuk saling mencintai dan mengasihi sesama. Tujuannya tiada lain agar tercipta kedamaian di masyarakat yang kini sudah semakin langka. Namun, sebelum mencintai dan mengasihi orang lain, seseorang terlebih dahulu harus dapat mencintai dan mengasihi DIRI SENDIRI. Menuntun diri ke arah yang benar merupakan wujud nyata dari pengembangan cinta kasih pada diri sendiri. Mencintai diri sendiri dengan cara yang benar niscaya akan menghasilkan manfaat yang besar dan pada gilirannya menyebar ke segenap atmosfir di mana kita berada. Berbicara tentang mencintai dan mengasihi diri sendiri ada baiknya kita simak sebuah kisah yang terdapat dalam Dhammapada Aṭṭhakathā berikut ini:

Kisah Bodhirajakumara
Suatu ketika Pangeran Bodhi membangun sebuah istana yang sangat indah untuk tempat tinggalnya. Ketika istana tersebut selesai dibangun, ia mengundang Sang Buddha untuk berdana makanan. Untuk acara istimewa ini, ia menghias bangunan dengan memberi pengharum ruangan empat macam wangi-wangian dan dupa. Juga, kain yang panjang dilembarkan di lantai untuk alas, mulai dari ambang pintu sampai ke dalam ruangan. Karena ia tidak mempunyai anak, pangeran membuat harapan dan tebakan yang sungguh-sungguh, dengan berkata dalam hati, ”Bila Sang Buddha berjalan di atas kain tersebut, semoga aku akan mempunyai anak!”

Ketika Sang Buddha tiba, Pangeran Bodhi dengan hormat memohon kepada Beliau sebanyak tiga kali untuk memasuki ruangan. Tetapi Sang Buddha tidak beranjak, hanya melihat pada Ananda. Ananda mengerti dan meminta kepada Pangeran Bodhi untuk memindahkan kain dari ambang pintu. Dan Sang Buddha pun masuk ke dalam istana.

Setibanya di dalam istana, pangeran mempersembahkan makanan yang enak dan terpilih kepada Sang Buddha. Selesai makan, pangeran bertanya, ”Bhante, mengapa Bhante tidak mau berjalan di atas kain alas?”

Sang Buddha bertanya balik kepada pangeran, ”Bukankah pangeran membentangkan kain itu dengan harapan agar dikaruniai anak apabila Aku berjalan di atas kain itu?” Pangeran membenarkan pertanyaan itu. Kepadanya Sang Buddha mengatakan bahwa ia dan istrinya tidak akan memperoleh anak akibat perbuatan jahat yang mereka lakukan di masa yang lampau. Sang Buddha kemudian menceritakan kisah masa lalu mereka.

Pada salah satu kehidupan mereka yang lampau, pangeran dan istrinya adalah dua orang yang selamat dari bencana kapal. Mereka terdampar pada pulau yang tidak berpenduduk. Mereka hidup dengan memakan telur-telur burung, anak-anak burung, dan burung, tanpa perasaan menyesal sepanjang waktu. Untuk perbuatan jahat itu, mereka tidak dikaruniai anak. Jika mereka mempunyai rasa sesal atas perbuatan mereka pada saat itu, mereka akan mempunyai seorang atau dua orang anak pada kehidupan sekarang.

Kembali kepada pangeran, Sang Buddha berkata, ”Seseorang yang mencintai dirinya sendiri harus menjaga dirinya sendiri dalam seluruh tingkat kehidupan, atau sedikitnya dalam satu tahap kehidupannya.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada syair 157 berikut: ”Bila orang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga dirinya dengan baik. Orang bijaksana selalu waspada selama tiga masa dalam kehidupannya.”

Bodhirajakumara mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Sumber: Dhammapada Aṭṭhakathā (Kisah-kisah Dhammapada) & Maṅgala Sutta
(27 Juli 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar