Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Berdana dengan Pengertian : Bhikkhu Dhammajato

Berdana dengan Pengertian



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Dānañca dhammacariyā ca, ñātakanañca saṅgaho
Anavajjāni kammāni, etammaṅgalamuttamaṁ
Berdana, melakukan kebajikan, menyokong sanak saudara,
dan tidak melakukan pekerjaan tercela, itulah berkah utama.


(Maṅgala Sutta)
Tahun ini, Kaṭhina Dāna mulai dirayakan sejak tanggal 27 Oktober. Kaṭhina merupakan salah satu hari raya agama Buddha yang dirayakan tiga bulan setelah hari raya Āsāḷha atau setelah para bhikkhu mengakhiri masa vassa (berdiam di satu tempat selama tiga bulan).

Hubungan bhikkhu dan umat

Dalam Sigālovāda Sutta, umat Buddha memiliki lima kewajiban kepada para bhikkhu, sedangkan para bhikkhu memiliki enam kewajiban kepada umat. Kewajiban umat kepada para bhikkhu adalah berbuat dengan cinta kasih, berbicara dengan cinta kasih, berpikir dengan cinta kasih, membukakan pintu ketika para bhikkhu berkunjung ke rumah, dan menyokong kebutuhan hidup mereka. Sedangkan enam kewajiban para bhikkhu kepada umat adalah: mencegah mereka berbuat jahat, menganjurkan mereka berbuat baik, berpikir dengan cinta kasih, mengajarkan Dhamma yang belum pernah didengar, memperjelas Dhamma yang telah didengar, dan menunjukkan jalan untuk terlahir ke alam bahagia atau surga.
Ada sebuah tradisi dalam kehidupan samaṇa (bhikkhu), di mana pada saat mengakhiri masa vassa, para bhikkhu mengundang bhikkhu yang lain untuk memberikan nasehat atau teguran tentang apa yang dilihat, didengar, dan dicurigai. Tradisi ini disebut pavāraṇā. Setelah hari pavāraṇā adalah masa Kaṭhina yang berlangsung selama satu bulan. Selama satu bulan itu umat merayakan Kaṭhina dengan mempersembahkan catupaccaya atau empat kebutuhan pokok bhikkhu.


Cara Berdana yang Benar

Salah satu kewajiban umat Buddha kepada bhikkhu adalah menyokong kebutuhan hidup mereka. Pada saat Kaṭhina, kita dapat melihat umat Buddha mendatangi vihāra-vihāra yang mengadakan perayaan Kaṭhina untuk berdana empat kebutuhan pokok bhikkhu. Meskipun berdana merupakan perbuatan baik yang paling mudah dilakukan, namun apabila tidak dilandasi dengan pengertian benar, selain manfaat yang akan didapatkan kecil, berdana juga bisa menjadi sebab munculnya kotoran-kotoran batin yang baru. Berdana tidak hanya sekadar bisa memberi sesuatu kepada pihak lain, tetapi juga harus memperhatikan cara-cara bagaimana dana tersebut dapat memberikan manfaat yang besar, baik secara materi maupun secara mental. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam melakukan kebajikan berdana, yaitu:

1. Suciṁ deti, berdana barang yang bersih. Artinya cara mendapatkan barang yang akan kita danakan dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang bertentangan dengan Dhamma, misalnya; mencuri, menipu, merampok dan sebagainya.

2. Paṇitaṁ deti, berdana barang yang baik. Selain cara mendapatkannya benar, barang yang kita danakan, hendaknya juga masih dapat dipergunakan oleh penerima. Janganlah berdana barang yang kita sendiri sudah tidak bisa menggunakannya.

3. Kālena deti, berdana barang yang tepat waktunya. Misalnya ingin berdana makanan kepada para bhikkhu, maka waktu yang tepat adalah sebelum tengah hari.

4. Kappiyaṁ deti, berdana barang yang layak bagi penerima. Barang yang layak adalah bukan hanya barang itu baik, tetapi juga barang tersebut pantas digunakan oleh penerima. Misalnya berdana baju. Meskipun baju itu baru, tetapi kalau didanakan kepada para bhikkhu, baju tersebut menjadi barang yang tidak layak bagi penerima.

5. Viceyya deti, berdana barang dengan bijaksana, yaitu melihat manfaatnya bagi penerima. Artinya dana kita ini membuat orang tersebut maju atau malah mengalami kemerosotan.

6. Abhiṇhaṁ deti, berdana secara tetap. Berdana tidak hanya cukup dilakukan setahun sekali saja meskipun jumlahnya sangat besar. Berdana secara rutin atau tetap akan membuat keserakahan kita setiap saat berkurang. Ibarat sebilah pisau yang diasah setiap saat, maka pisau itu akan terbebas dari karat.

7. Dadaṁ cittaṁ pasādeti, berdana dengan pikiran yang tenang. Hendaknya berdana dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih, karena pamrih ini akan membuat pikiran kita gelisah.

8. Datvā attamano hoti, menjaga batin agar tetap gembira setelah berdana. Keadaan batin yang senang sebelum berdana, pada saat menyerahkan dana, dan setelah berdana akan mempengaruhi manfaat dari berdana tersebut. Meskipun tidak bisa mempertahankan dalam tiga kesempatan tersebut, jagalah agar batin tetap gembira setelah berdana. Jangan menyesal setelah berdana.


(Aṅguttara Nikāya IV. 243)
Memberi merupakan perbuatan mulia yang manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua belah pihak, apabila dilandasi dengan pengertian benar. Manfaat dari memberi ini akan dirasakan dalam kehidupan sekarang ini juga, yaitu orang yang gemar memberi dia akan memiliki sahabat yang banyak, berkurangnya keserakahan dan keterikatan, serta masih banyak manfaat yang lainnya. Oleh karena itu, pada saat Kaṭhina ini, marilah kita menumbuhkan sikap peduli pada orang lain bahkan makhluk lain yang membutuhkan bantuan kita dengan berlandaskan pengertian benar.
(04 November 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar