Check out the Latest Articles:

Senin, 18 April 2011

Menjadi Orang Bijaksana : Bhikkhu Indaguno

Menjadi Orang Bijaksana



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Udakaṁ hi nayanti nettikā, usukārā namayanti tejanaṁ
Dāruṁ namayanti tacchakā, attānaṁ damayanti paṇḍitā
Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak panah, tukang kayu melengkungkan kayu; orang bijaksana mengendalikan dirinya sendiri.


(Dhammapada, VI:5)
Dalam kehidupan sekarang, sangat sulit mencari orang yang bijaksana dan orang yang bisa menjadi suri tauladan bagi umat manusia, karena sekarang orang cenderung mencari kekayaan materi daripada kekayaan batin.

Menurut KBBI, bijaksana memiliki makna: 1) selalu menggunakan akal budinya, arif, tajam pikiran; 2) pandai dan hati-hati apabila menghadapi kesulitan. Sedangkan dalam tata bahasa Pāḷi, orang bijaksana disebut paitā. Orang bijaksana minimal harus mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya, baik masalah pekerjaan, keluarga, dan lain-lain. Sebagai umat Buddha, hendaknya kita mengkondisikan kebijaksanaan muncul dalam diri kita.

Dalam Aṭṭhakanipāta, Aṅguttara Nikāya dijelaskan bahwa ada delapan kondisi yang menyebabkan munculnya kebijaksanaan, yaitu: 

1. Menumbuhkan dalam diri akan rasa malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa). Mereka yang hiri dan ottappa mampu menjaga silanya dan memperlakukan orang lain dengan cinta kasih, suka mendatangi guru yang bijaksana;

2. Sering mendatangi guru yang bijaksana untuk mendapatkan penjelasan yang rinci sehingga kebingungan tentang hal-hal yang membingungkan menjadi terhapus;

3. Hidup dengan menarik diri dalam dua hal: menarik diri secara lahiriah dan batiniah;

4. Hidup melatih diri dan terkendali sesuai peraturan (pātimokkha), sempurna dalam tindakan dan pikiran, melihat bahaya pada kesalahan sekecil apapun;

5. Mengukuhkan pelajaran yang telah dipelajarinya itu, yaitu pelajaran yang baik pada awal, pertengahan, dan akhir; serta meneguhkan kehidupan suci yang sepenuhnya utuh dan murni;

6. Hidup bersemangat dengan mengarahkan diri untuk meninggalkan hal-hal buruk dan mengembangkan hal-hal bajik; mantap dan kuat dalam usahanya;

7. Hidup bebas dari pembicaraan yang tidak bermanfaat tetapi berbicara tentang Dhamma;

8. Hidup mengamati muncul dan lenyapnya lima kelompok kehidupan (pañcakhandhā) yang menjadi subjek kemelekatan.


Dalam Buku Abhidhammatthasaṅgaha dijelaskan bahwa terdapat tiga cara untuk mengembangkan kebijaksanaan, yaitu:

a. Sutamayapaññā, yaitu kebijaksanaan yang dikembangkan dengan cara mendengar dan belajar Dhamma, ia mengingat apa yang telah dipelajari, dan mengukuhkan apa yang telah dipelajarinya itu;

b. Cintāmayapaññā, yaitu kebijaksanaan yang dikembangkan dengan cara penyelidikan, penelitian, kemudian diserap dengan pengertian yang benar; dan

c. Bhāvanāmayapaññā, yaitu kebijaksanaan yang dikembangkan dengan cara melakukan Vipassanā Bhāvanā.

Seseorang yang mempraktikkan Vipassanā Bhāvanā dengan tekun akan memperoleh pengertian benar bahwa hidup ini terdiri dari batin dan jasmani, yang dicengkeram oleh tiga corak universal (Tilakkhaṇa), yaitu: ketidakkekalan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan tanpa aku (anatta). Mereka yang bijaksana akan memiliki batin yang kokoh dalam menghadapi persoalan hidup.
Orang bijaksana memiliki ciri-ciri, sebagai berikut:

1. Sering memberi nasehat, petunjuk, dan melarang apa yang tidak baik serta dicintai oleh orang yang baik dan dijauhi oleh orang jahat. (Dhammapada 77)

2. Hidup berbahagia dengan pikiran tenang. Selalu bergembira dalam Ajaran yang dibabarkan oleh Para Ariya. (Dhammapada 79)

3. Selalu mengendalikan diri sendiri. (Dhammapada 80)

4. Membuang kemelekatan terhadap segala sesuatu; tidak membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan nafsu keinginan. Dalam menghadapi kebahagiaan ataupun kemalangan, tidak menjadi gembira ataupun kecewa. (Dhammapada 83)

5. Tidak berbuat jahat demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain; tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar. (Dhammapada 84)

6. Apabila telah menyempurnakan pikiran dalam Faktor Penerangan, tanpa ikatan, bergembira dengan batin yang bebas dari kekotoran, bersinar, maka sesungguhnya telah mencapai Nibbāna dalam kehidupan ini juga. (Dhammapada 89)

Dalam Mahāmaṅgala Sutta, Sutta Nipāta - Khuddaka Nikāya dijelaskan bahwa orang bijaksana memiliki tiga ciri, yaitu: pikirannya bersih, ucapannya baik dan menyenangkan, dan perilakunya bermoral. Mereka yang pikirannya bersih memiliki pengertian yang dalam tentang kehidupan, memiliki pikiran baik, pikirannya selalu diliputi cinta kasih, memiliki pengendalian diri. Ucapan orang bijaksana juga terjaga dengan baik, tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar, selalu diucapkan dengan lemah lembut, selalu memberikan nasehat yang bermanfaat bagi pendengarnya. Perilakunya selalu terpuji, mampu menjalankan sila dengan baik.

Orang bijaksana yang patut dijadikan contoh bagi kita semua adalah Sang Buddha karena Beliau merupakan Guru yang telah mencapai kebijaksanaan dengan usaha-Nya sendiri. Kebijaksanaan Beliau dapat diketahui lewat ajaran-Nya. Kita sebagai pewaris Dhamma harus mampu menjadikan Beliau sebagai figur dalam kehidupan kita. Dalam Catukkanipāta, Aṅguttara Nikāya dijelaskan bahwa melalui percakapan, kebijaksanaan seseorang akan dapat diketahui. Mereka yang bijaksana mampu memeriksa, merumuskan, dan mengemukakan masalah. Apabila mereka berbicara Dhamma, maka mereka akan menjelaskan maknanya secara singkat dan rinci.

Banyak manfaat yang kita dapatkan apabila menjadi orang bijaksana, antara lain: mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, baik masalah pribadi, keluarga, usaha, pergaulan, dan lainnya; mengerti makna kehidupan ini, dapat bersikap tenang apabila menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak terlalu gembira apabila mendapat pujian; memiliki pikiran, ucapan, dan perilaku yang jernih; mampu memberikan nasehat yang bermanfaat bagi orang lain; tidak melakukan perbuatan yang tercela; memiliki cinta kasih kepada semua makhluk; dan mampu menembus hukum-hukum kebenaran (Cāttāri Ariya Saccāni, Tilakkhaṇa, Kamma, Punabbhava, Paiccasamuppāda). Jadi, sebagai pewaris Dhamma, hendaknya kita mempraktikkan ajaran Sang Buddha dengan sungguh-sungguh sehingga mendapatkan manfaat dan menjadi siswa Buddha yang bijaksana.
(17 Juni 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar